• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bebas dari Belenggu i

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Bebas dari Belenggu i"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Kata Pengantar

B

ulan September 2015 menandai kesepakatan dunia untuk program pembangunan yaitu “Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development” atau “Mengalihrupakan Dunia Kita: Agenda Tahun 2030. Dalam kesepakatan itu, ditetapkan Sustainable Development Goals atau SDGs, yang terdiri dari 17 gol, misi-misi ini diarahkan untuk menyelesaikan masalah dunia mulai dari pemberantasan kemiskinan dan kelaparan, penyediaan air bersih dan sanitasi, sampai pelestarian lingkungan. Salah satu bagian yang harus dicapai dan menjadi ukuran keberhasilan dari suatu negara adalah Goal ke 4 dan 5 yaitu Quality Education (Goal 4) dan Gender Equality (Goal 5).

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-4 untuk Indonesia terdiri dari target 4.1, yaitu Pendidikan Dasar dan menengah yang gratis, setara dan berkualitas.

Selanjutnya target 4.2 yaitu Perkembangan, Pengasuhan, dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Berkualitas. Kemudian pada target 4.3 terdapat Pendidikan Tinggi, Teknis dan Kejujuran yang Berkualitas dan Terjangkau. Keahlian Teknis dan Kejuruan yang Relevan menjadi salah satu tujuan prioritas 4.4. dan pada tujuan target 4.5, akses yang setara pada semua tingkatan pendidikan dan pelatihan bagi anak yang rentan. Tujuan target 4.6 yaitu kemampuan membaca dan matematika.

Hal ini dilihat dari kelompok penduduk dengan tingkat keaksaraan terendah adalah penduduk dari kuintil termiskin. Target tujuan yang terakhir, 4.7, ialah pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terus memperbarui komitmen internasional untuk pengentasan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan, dengan menciptakan sebuah lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, melalui lingkungan dan sistem akuntabilitas global yang mengutamakan kolaborasi, kerjasama, dan inovasi. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-4 secara khusus diarahkan untuk pengembangan pendidikan dan bertujuan untuk memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas yang setara dan juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua.

Begitupun halnya dengan Goal (tujuan) ke 5 yaitu Gender Equality yang didalamnya terdiri dari yaitu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam usia harapan hidup, pendidikan, jumlah pendapatan, serta GEM (Gender Empowerment Measure), yang mengukur kesetaraan dalam partisipasi politik dan beberapa sektor lainnya. Memiliki kesataran pendapatan, menerima pendidikan yang sama, atau Modul Perempuan Mandiri Berwawasan Gender

Bebas dari Belenggu

Penulis: Dr. Sardin Supriatna

Editor: Dr. Samto; Dr. Subi Sudarto, Betty Sinaga, Roslina Sinaga

Diterbitkan oleh: Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Ditjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020 vi+ 28 hlm + foto; 17 x 24 cm

Hak Cipta © 2020 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang-Undang

(4)

proporsi yang aktif dalam politik sama-sama 20 persen, maka angka GDI (Gender Development Index), dan GEM adalah 1, atau telah terjadi “perfect equality”.

Konsep kesetaraan kuantitatif (50/50) inilah yang diidealkan oleh UNDP (United Nations Development Programme), sehingga mengharapkan seluruh negara di dunia dapat mencapai kesetaraan yang demikian.

Dalam rangka dukungan terhadap tercapainya Goals tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dalam hal ini Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat berupaya secara maksimal untuk menciptakan sarana dan prasarana pembelajaran yang mumpuni. Di tahun 2019 ini sebanyak 15 modul terkait dengan Pendidikan Berkelanjutan dengan kekhususan yang berprespektif gender dengan melibatkan tim penyusun sesuai kepakarannya.

Modul ini sebagai bahan bacaan bagi perempuan atau individu yang peduli pada isu pemberdayaan perempuan sebagai aset bangsa. Modul ini berisi uraian materi yang bertujuan sebagai penyadaran kritis untuk perempuan yang memiliki potensi luar biasa untuk membangun keluarga dan komunitas yang sejahtera, damai, dan toleran. Membangun keluarga dan komunitas ini, perempuan diharapkan peka terhadap isu kemandirian ekonomi, akses sumber daya, keberlanjutan lingkungan, dan toleran dalam keragaman masyarakat Indonesia serta bijak dalam memilih konten-konten yang mempunyai manfaat tinggi.

Jakarta, Oktober 2020 Direktur Pendidikan Masyarakat

dan Pendidikan Khusus

Dr. Samto

NIP. 196506201992031002

Daftar Isi

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... v

BAB I Pendahuluan ... 1

BAB II Isu-isu Perempuan dalam Pembangunan ... 3

A. Kondisi Perempuan Saat Ini ... 3

B. Isu yang Terkait dengan Stereotip Gender ... 5

C. Isu-isu Perempuan di Indonesia ... 6

D. Peran Perempuan dalam Pembangunan ... 8

BAB III Pengembangan Karakter Diri Perempuan yang Responsif Gender ... 9

A. Perbedaan Konsep Gender dan Jenis Kelamin ... 9

B. Peran Gender ... 11

BAB IV Komunikasi Efektif Responsif Gender ... 13

A. Komunikasi Efektif Gender ... 13

B. Karakteristik Komunikasi Gender ... 15

BAB V Strategi Membangun Jejaring ... 19

A. Pengertian Membangun Jejaring ... 19

Rangkuman ... 22

Evaluasi (Kuis, Permainan, Penugasan, dll) ... 24

Umpan Balik dan Tindak Lanjut ... 27

Daftar Pustaka ... 28

(5)

Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan seringkali menjadi objek tindakan ke- kerasan akibat cara pandang yang diskriminatif terhadap perempuan. Di antara con- toh kekerasan terhadap perempuan adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), baik yang bersifat fi sik maupun non-fi sik, kekerasan seksual, perkosaan, termasuk perkosaan dalam perkawinan (marital rape), penyalahgunaan (abuse) dan ekspol- itasi seksual, pelecehan seksual di tempat kerja atau di sekolah, incest (hubungan seksual dengan orang yang memiliki pertalian darah atau ikatan keluarga), pelacuran paksa, dan penyalahgunaan seksual terhadap perempuan oleh penguasa, baik dalam keadaan konfl ik, keadaan darurat lainnya, maupun keadaan normal. Perempuan men- jadi pihak yang banyak menjadi korban diskriminasidan kekerasan berbasis gender karena ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan di masyarakat. Diskrimi- nasi yang dialami oleh perempuan dapat berbeda-beda baik karena status sosialnya, keadaan ekonominya, status kesehatannya, ras, etnis, pilihan keyakinan maupun ori- entasi seksualnya, dan sebagainya. Dengan demikian, situasi yang lebih berat akan dialami oleh perempuan yang menjadi korban kekerasan akibat diskriminasi yang ber- lapis, misalnya diskriminasi terhadap perempuan yang dialami oleh perempuan pen- yandang disabilitas, perempuan adat, dan perempuan dari kelompok minoritas.

Pengarusutamaan gender dalam pembangunan pada dasamya sudah dimulai sejak Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 tentang pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014, PUG mer- upakan salah satu arus utama yang harus dilaksanakan dalam pembangunan disamp- ing pengarusutamaan pembangunan yang berkelanjutan dan tata kelola pe merintahan

Pendahuluan

BAB

(6)

yang baik dan bersih. Untuk lebih mengoperasionalkan strategi PUG tersebut, telah dikeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mulai tahun 2009, yaitu PMK Nomor 119 Tahun 2009, PMK Nomor 104 Tahun 2010, PMK Nomor 93 Tahun 2011, PMK No- mor 112 Tahun 2012, dan PMK Nomor 94 Tahun 2013 tentang petunjuk pe nyusunan dan penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran K/L (RKA-KL) dan Penyu sunan, Pe- nelaahan, Pengesahan dan Pelaksanaan DIPA di tingkat Pusat. Peraturan ter sebut

A. Kondisi Perempuan Saat Ini

Berbagai kajian, ditemukan bahwa masalah kemiskinan tidak saja mengenai mas- alah ketidakadilan sosial ekonomi, tetapi juga masalah kesenjangan antara laki-laki dan perempuan. Atas dasar itulah, isu kemiskinan kemudian diperluas, tidak seke- dar persoalan teknis atau ekonomi. Dalam program pengentasan kemiskinan, pe- rempuan ditempatkan sebagai subjek sekaligus objek dalam rangka meningkatkan kemampuan, peranan, dan kedudukannya sebagai penyangga penghidupan dan kehidupan keluarga serta berperan dalam berbagai usaha kesejahteraan sosial.

Sosial ekonomi, keluarga fakir miskin, KAT, maupun pemberdayaan anak terlantar lebih banyak dipengaruhi faktor sosial budaya yang berkembang di masyarakat antara lain nilai dan sikap yang dianut oleh sebagian besar warga masyarakat.

Laki-laki masih dianggap sebagai penopang ekonomi keluarga dan pengambil keputusan, sedangkan perempuan sebagai ibu rumah tangga. Padahal jumlah perempuan sebagai kepala rumah tangga juga menunjukkan angka yang tinggi.

Perempuan sebagai pribadi memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapasitas terutama dalam peningkatan kesejahte raan sosialnya.

Dalam rangka meminimalisir kesenjangan antara laki-laki dan perempuan serta untuk mengarusutamakan gender dalam pembangunan kesejahteraan sosial, Ke- menterian Sosial telah merintis berbagai usaha, antara lain:

Isu-isu Perempuan dalam Pembangunan

BAB

menjadi dasar dalam menyusun Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG). PPRG ini merupakan strategi nasional percepatan pengarus uta maan gender yang telah dikukuhkan melalui Surat Edaran Bersama (SEB) antara empat Men- teri yaitu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas No 270/M.

PPN/11/2012, Menteri Keuangan dengan No: SE.33/MK.02/2012, Menteri Dalam Neg- eri No:050/4379A/SJ dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindung an Anak No SE 46/MPP-PA/11/2012 tentang Strategi Nasional Percepatan Pengarusutamaan Gender (PUG) melalui Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender.

sumber: voanews.com

Gambar 1. Perempuan seringkali menjadi objek tindakan kekerasan akibat cara pandang yang diskriminatif.

(7)

a. Mengeluarkan Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 36 tahun 1999 tentang Pola Pendataan Kesejahteraan Sosial terpilah berdasarkan jenis kelamin .

b. Membentuk focal point yang berfungsi memfasilitasi dan membantu peng arus- utamaan gender dalam sektor dan menjadi penanggungjawab bagi kepentingan gender di unit/kementerian. Walaupun tidak SK yang di ke luar kan, namun pe- nunjukan langsung secara informal telah dilakukan.

c. Mengeluarkan SK Menteri Sosial RI Nomor 07/PEGHUK/2002 tentang Pokja Pengarusutamaan Gender bidang Kesejahteraan Sosial

d. Mengeluarkan SK Kepala Balatbangsos Nomor 01/PPJ/KSM/I/Tahun 2002 tentang dibentuknya Tim Teknis Pokja Bidang Kesejahteraan Sosial

e. Melakukan analisis gender untuk Repeta 2003 pada Program Pengem bang an Potensi Kesejahteraan Sosial dan Pengembangan Sistem Informasi Ma salah-ma- salah Sosial.

Di Indonesia, kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk mewujudkan kese- taraan dan keadilan gender telah ditetapkan melalui GBHN 1999, UU Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas 2000-2004), dan dipertegas dalam instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarustamaan Gender (PUG). Disamping itu beberapa Undang Undang Lainnya juga mendukung kesetaraan gender, antara lain UU Nomor 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Kon- vensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan;

UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga;

dan UU Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagan- gan Orang. Pemerintah juga membuat Rancangan Undang-Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG) yaitu salah satu RUU yang dibahas dalam Pro- gram Legislasi Nasional (Prolegnas) 2009-2014, yang diharapkan mampu menja- di landasan hukum mengenai penetapan dan penyelenggaraan Kesetaraan dan Keadilan Gender oleh Lembaga Negara di Indonesia.

Kiprah perempuan dalam kegiatan pembangunan lebih mengacu kepada program yang sesuai dengan tuntutan pembangunan yang tertuang dalam program kerja organisasi yang harus dikembangkan sesuai dengna komitmen sutau organisa- si di tingkat nasional, regional, maupun intemasional yang disusun untuk periode tertentu. Peranan perempuan dalam pembangunan ditandai dengan partisipasi perempuan dalam mengisi pembangunan di semua bidang pembangunan. Keber- hasilan kiprah perempuan dalam pembangunan hanya terfokus dalam “kepenting- an kesejahteraan perempuan” saja (women’s welfare concems) karena bidang- bidang yang dikembangkan terbatas dalam upaya meningkatkan kesejahteraan perempuan dan akses mereka terhadap sumber dan manfaat. Dengan demikian program yang dilakukan belum dinilai sebagai ”proses pembangunan perempuan”

atau isu pembangunan perempuan. Para ahli justru cenderung menggunakan kon- sep “women’s empowerment” yaitu usaha peningkatan kemampuan perempuan.

B. Isu yang Terkait dengan Stereotip Gender

Kata stereotip berasal dari gabungan dua kata Yunani, yaitu stereos yang berarti padat-kaku dan typos yang bermakna model lebih jauh Amanda menjelaskan bah- wa stereotip sebagai pemberian sifat tertentu terhadap seseorang atau sekelom- pok orang berdasarkan kategori yang bersifat subjektif, hanya karena ia berasal dari suatu kelompok tertentu (in group atau out group) yang bisa bersifat posi- tif maupun negatif. Stereotip didasarkan pada penafsiran yang kita hasilkan atas dasar cara pandang dan latar belakang budaya kita. Stereotip juga dihasilkan dari komunikasi kita dengan pihak-pihak lain, bukan dari sumbemya langsung. Stereo- tip seringkali diasosiasikan dengan karakteristik yang bisa diidentifi kasi. Ciri-ciri yang kita identifi kasi sering kali kita seleksi tanpa alasan apapun. Artinya bisa saja kita dengan begitu saja mengakui suatu ciri tertentu dan mengabaikan ciri yang lain. Stereotip merupakan generalisasi dari kelompok kepada orang-orang di da- lam kelompok tersebut.

Teori skema gender (gender schema theory), saat ini merupakan teori kognitif gender yang diterima di mana-mana, menyatakan bahwa pengelompokan gen- der muncul ketika anak-anak secara bertahap mengembangkan skema gender tentang apa yang pantas dan apa yang tidak pantas menurut gender dalam bu- daya mereka. Skema adalah struktur kognitif, jaringan asosiasi yang membimbing persepsi satu individu. Skema gender mengatur dunia menurut perempuan dan laki-laki. Anak-anak termotivasi secara intemal untuk menerima dunia dan untuk bertindak sesuai dengan skema mereka yang mengalami perkembangan. Dalam menghadapi fenomena budaya yang ada di tanah air ini, kita perlu memberi infor- masi yang benar tentang berbagi hal yang berkaitan dengan ras, suku, agama, dan antar agama. Seringkali, keberadaan individu dalam suatu kelompok telah dikategorisasi. Menurut Myers (dalam Hanurawan & Diponegoro, stereotip adalah suatu bentuk keyakinan yang dimiliki oleh seseorang atau suatu kelompok ten- tang atribut personal yang ada pada kelompok tertentu. Menurut Sherif & Sherif dalam Sobur, stereotip adalah kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok terhadap gambaran tentang kelompok lain berikut anggota-anggotanya. Kecen- drungan dari seseorang atau kelompok untuk menampilkan gambar atau gagasan yang keliru (false idea). Menurut A. Samovar & E. Porter (dalam Mulyana,tereotip adalah persepsi atau kepercayaan yang dianaut mengenai kelompok atau individu berdasarkan pendapat dan sikap yang lebih dulu terbentuk. Narwoko & Suyanto stereotip adalah pelabelan terhadap pihak atau kelompok tertentu yang selalu be- rakibat merugikan pihak lain dan menimbulkan ketidakadilan.

(8)

C. Isu-isu Perempuan di Indonesia

Kesetaraan gender adalah tujuan kelima dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang ditentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk dilaporkan oleh sekitar 40 negara dalam bentuk Voluntary National Review. Tujuan kesetaraan gender yang berkaitan dengan masalah-masalah berikut ini :

1. Diskriminasi terhadap perempuan Berbagai bentuk diskrim-

inasi yang menimpa per- empuan dapat terjadi da- lam bentuk diskriminasi langsung dan diskriminasi tidak langsung. Diskrimi- nasi langsung terjadi keti- ka seseorang diperlakukan secara berbeda akibat per- ilaku atau sikap dari suatu peraturan, sedangkan diskriminasi tidak langsung terjadi karena suatu kebija-

kan atau peraturan yang berakibat hanya pada jenis tertentu. Diskriminasi ini dapat berlangsung dari berbagai ranah, baik pekerjaan, rumah tangga maupun lingkungan social.

Indonesia telah memiliki banyak kebijakan yang mendukung kesetaraan gen- der, seperti Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tang ga, Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Peng arusutamaan Gender, dan peraturan-peraturan yang diterbitkan ke pala daerah. Ironisnya, masih ban- yak produk hukum yang mendiskriminasi pere mpuan, seperti Undang-Undang No mor 1 Tahun 1974 ten tang Perkawin an dan peraturan-per aturan dae rah dis- kriminatif yang menghambat pemenuhan hak-hak pe rempuan.

2. Kekerasan terhadap perempuan, perdagangan orang dan eksploitasi seksual Kekerasan (violence) adalah serangan atau invasi (assault) terhadap fi sik mau- pun integritas mental psikologis seseorang. Kekerasan yang disebabkan oleh bias gender disebut gender-related violence. Pada dasamya kekerasan gender disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalam masyarakat.

Kekerasan berbasis gender adalah kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk fi sik maupun psikologis dikarenakan posisi pe rempuan yang tidak

menguntung kan. Bentuk ke kerasan dapat me lalui:

per kosaan, serangan fi sik be rupa penyiksaan, pros- titusi, traffi c king, pomogra- fi -pronoaksi, pemaksaan dalam KB, pelecehan sek- sual nyata maupun terse- lubung.

Tingkat kekerasan yang dialami oleh perempuan yang terus meningkat se-

olah menggambarkan bahwa perempuan masih mengalamidilema keaman an ba gi dirinya.

Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan mencatat jumlah ke- kerasan terhadap perempuan pada 2015 mencapai 321.752 kasus. Tragedi bocah perempuan Papua diperkosa, dibunuh, dan ditenggelamkan hidup-hid- up dalam lumpur menjadi deretan panjang peristiwa keji yang dialami YY dan anak-anak perempuan lain yang rata-rata dialami keluarga miskin. Perlindun- gan hukum dan lembaga-lembaga pelayanan di bawah Kementerian Pember- dayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di berbagai daerah tidak berfungsi efektif. Banyak aspek yang mesti dibenahi, terutama memprioritaskan penge- sahan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.

3. Praktek berbahaya pada perempuan Praktek berbahaya, se-

per ti perkawinan dini dan paksa serta sunat perem- puan. Dua isu ini masih kon troversial di Indonesia.

Bahkan perkawinan anak pe rempuan dilegitimasi oleh Undang-Undang Per- kawinan yang mengatur 16 tahun sebagai usia perem- puan dapat menikah. Kuat- nya pandangan konserva tif

dari masyarakat dan penegak hukum telah menggagalkan upaya menaikkan

sumber: kellerlawoffi ces.com

Gambar 3. Kekerasan terhadap perempuan

sumber: www.bizjournals.com

Gambar 2. Perbedaan perlakuan/diskriminasi

sumber: okezone.com

Gambar 4. Perkawinan dini

(9)

A. Perbedaan Konsep Gender dan Jenis Kelamin

Seringkali masyarakat salah mengartikan antara konsep gender dan jenis ke- lamin. Banyak orang mempunyai persepsi yang salah mengenai gender yang se- lalu diidentikkan dengan perempuan sehingga perjuangan gender identik dengan perjuangan hak kaum perempuan saja tanpa melibatkan partisipasi laki-laki atau mengesampingkan hak laki-laki dalam memperjuangkan hak-hak kaum perem- puan. Kesalahpahaman tentang konsep gender dan jenis kelamin ini dikarenakan belum dipahaminya secara utuh tentang kedua konsep tersebut. Dengar. kata lain, akibat kurangnya sosialisasi tentang konsep gender secara menyeluruh mengaki- batkan mislead di tataran masyarakat baik kaum elite maupun kaum akar rumput.

Akibat mislead yang ada di masyarakat, maka ada kerancuan gender dan koo- drati. Sering masyarakat berpikir bahwa peran gender bersifat kodrati, misalnya perempuan sebagai ibu rumahtangga dan laki-laki sebagai kepala keluarga. Sering masyarakat berpikir bahwa sifat-sifat tertentu adalah kodrati pada jenis kelamin tertentu, misalnya laki-laki rasional dan perempuan emosional. Sering masyarakat berpikir bahwa pekerjaan tertentu bersifat kodrati, misalnya laki-laki berhubungan dengan pekerjaan teknik dan mesin, sedangkan perempuan berhubungan dengan pekerjaan rumahtangga.

Secara bertahap dan berkesinambungan, kerancuan dan salah pengertian menge- nai gender dan kodrati harus segera diluruskan. Pengertian gender berbeda den-

Pengembangan Karakter Diri

Perempuan yang Responsif Gender

usia perkawinan yang diproses melalui peninjauan kembali di Mahkamah Kon- stitusi pada 2014. Hal serupa juga terjadi pada kasus sunat perempuan, yang dipertahankan atas nama keyakinan beragama. Tapi, temyata, di balik itu juga ter kuak motif bisnis. Di Kota Makassar terpampang spanduk penawaran jasa su nat perempuan dan peminatnya membeludak. Dalam konteks SDG, Indonesia semestinya membuat peta jalan penghapusan dua praktek berbahaya ter sebut, minimal dimulai dengan penyediaan data dan menerbitkan kebijakannya.

D. Peran Perempuan dalam Pembangunan

Peranan wanita dalam pembangunan adalah hak dan kewajiban yang dijalank- an oleh wanita pada status atau kedudukan tertentu dalam pembangunan, baik pembangunan di bidang politik, ekonomi, sosial budaya maupun pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan, baik di dalam keluarga maupun di dalam masyarakat.Sesuai dengan konsep gender atau peran gender sebagaimana telah dibahas di depan, mencakup peran produktif, peran reproduktif dan peran sosial yang sifatnya dinamis. Dinamis dalam arti, dapat berubah atau diubah sesuai den- gan perkembangan keadaan, dapat ditukarkan antara pria dengan wanita dan bisa berbeda lintas budayaPeranan wanita dalam pembangunan yang berwawasan gender, berarti peranan wanita dalam pembangunan Peranan wanita dalam pem- bangunan yang berwawasan gender, berarti peranan wanita dalam pembangunan.

Mengupayakan peranan wanita dalam pembangunan yang berwawasan atau ber- perspektif gender, dimaksudkan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gen- der atau kemitrasejajaran yang harmonis antara pria dengan wanita di dalam pem- bangunan. Karena, dalam proses pembangunan kenyataannya wanita sebagai sumber daya insani masih mendapat perbedaan perlakuan (diskriminasi). Teruta- ma, jika wanita ber gerak di sektor publik dirasakan banyak ketimpangan, meskipun ada pula ketimpangan gender yang dialami oleh pria. Untuk mewujudkan kemi- trasejajaran yang harmonis antara pria dengan wanita tersebut, perlu didukung oleh perilaku saling menghargai atau saling menghormati saling membutuhkan, saling membantu, saling peduli dan saling pe ngertian antara pria dengan wanita.

Dengan demikian, tidak ada pihakpihak (pria atau wanita) yang merasa dirugikan dan pembangunan akan menjadi lebih sukses.

Melalui peningkatan pendidikan, sosialisasi, serta kiprah kaum perempuan di- harapkan masyarakat akan memiliki komitmen, sikap, pandangan dan penghor- matanyang lebih baik terhadap peran wanita di berbagai bidang profesi dan pem- bangunan.

BAB

(10)

gan jenis kelamin. Namun, gender dan jenis kelamin memang sama-sama membic- arakan laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin (seks) secara umum dipergunakan untuk meng identifi kasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biolo- gis yang sudah kodrati. Adapun gender membicarakan perbedaan peran dan fung- si antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh masyarakat/budaya sejak ia dilahirkan dan bukan kodrati. Dalam hal ini, gender bukan hanya membicarakan tentang perempuan saja, namun juga membicarakan tentang laki-laki dalam kait- annya dengan kerjasama/partnership dan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan untuk mencapai suatu tujuan. Jadi gender membahas permasalahan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat.

lstilah gender dimunculkan oleh ilmuwan sosial untuk menjelaskan antara perbe- daan laki-laki dan perempuan yang bersifat kodrati atau bawaan sebagai ciptaan Tuhan dan hal-hal yang merupakan bentukan budaya yang ditun.mkan dan diso- sialisasikan oleh masyarakat yang berkaitan dengan non kodrati. Perbedaan per- an gender ini sangat membantu ilmuwan untuk memahami pembagian peran dan memikirkan kembali kebiasaan masyarakat yang telah melekat pada label manusia lakilaki dan perempuan.

Gender adalah perbedaan peran, fungsi, persifatan, dan hak perilaku laki-iaki dan perempuan yang dibentuk, dibuat, dan dikonstruksikan oleh masyaraka. Oleh kare- na itu, gender berhubungan dengan peran baik laki-laki maupun perempuan yang bersifat relatif, dapat berubah, dapat dipertukarkan sesuai dengan perkembangan

masyarakat dan kebutuhannya dan zamannya. Perubahan ciri dan sifat-sifat dari gender ini dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat lain (KPP, 2005).

Sifat-sifat laki-laki dan perempuan yang distrereotipekan di atas, seolah-olah diteri- ma sebagai kebenaran oleh masyarakat. Padahal dalam kenyataannya tidak selalu benar. Menurut teori personalitas, Sandra Bem menjelaskan karakteristik feminin (seperti lembut, manja, perasa, sensitif, penuh perhatian, penuh rasa cinta) yang sangat erat dengan perempuan dan karakteristik maskulin (seperti berkepribadian keras, tegas, kerja keras, senang berkompetisi, punya rencana yang sistematis, kurang sensitif) yang sangat erat dengan laki-laki. Namun demikian, kedua sifat tersebut bercampur di dalam setiap individu baik laki-laki maupun perempuan (Bem 1990).

Secara nyata di kehidupan manusia ditemukan sejumlah perempuan yang mem- punyai sifat berkuasa, dinamis, tegas dan dapat menjadi pemimpin yang kuat dan bijaksana. Ditemui pula di lapangan, bahwa ada sejumlah laki-laki yang sifatnya lembut, mudah terharu, plin-plan dan cerewet dan suka gosip. Dengan demikian, stereotipe di atas adalah pelabelan yang cenderung merugikan perempuan untuk dapat berperanserta di sektor publik. Jadi, sifat-sifat di atas bukan melekat secara kodrati pada perempuan atau lak:-laki saja, namun melekat pada diri seseorang apapun jenis kelaminnya.

B. Peran Gender

Berkaitan dengan gender, dikenal ada tiga jenis peran gender sebagai berikut:

1. Peran produktif adalah peran yang dilakukan oleh seseorang, menyangkut pe- kerjaan yang menghasilkan barang dan jasa, baik untuk dikonsumsi mau pun untuk diperdagangkan. Peran ini sering pula disebut dengan pe ran di sektor publik.

2. Peran reproduktif adalah peran yang dijalankan oleh seseorang untuk ke giat- an yang berkaitan dengan pemeliharaan sumber daya manusia dan pekerjaan urusan rumah tangga, seperti mengasuh anak, memasak, men cuci pakaian dan alat-alat rumah tangga, menyetrika, membersihkan rumah, dan lainlain.

Peran reproduktif ini disebut juga peran di sektor domestik.

3. Peran sosial adalah peran yang dilaksanakan oleh seseorang untuk ber- partisipasi di dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti gotong-royong dalam menyelesaikan beragam pekerjaan yang menyangkut kepen tingan ber- sama.

sumber: medium.com

Gambar 5. Perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan dibentuk oleh masyarakat/budaya sejak ia dilahirkan dan bukan kodrati.

(11)

A. Komunikasi Efektif Gender

Komunikasi menyentuh hampir di setiap sudut kehidupan manusia. Manusia memi- lliki gaya tersendiri dalam menyampaikan komunikasi sesuai dengan darimana ia berasal, dimana ia lahir, latar belakang pendidikan, usia dan gender.

Ketimpangan gender terjadi tidak hanya dalam masyarakat namun juga dalam me- dia sebagai konstruktor gender. Berbagai ketidakadilan gender terjadi dan kaum feminis mencoba untuk mendobrak budaya patriarki sejak abad 19 hingga kini.

Gerakan feminisme tidak membuat konstruksi perempuan oleh media berubah.

Ketimpangan gender yang terjadi hendaknya bisa diminimalisir dengan jumalisme sensitive gender. Artikel berikut mengupas secara singkat mengenai gender dan komunikasi beserta seluk beluknya. Tidak lupa juga manfaat yang akan kita per- oleh ketika kita mempelajari Gender dan Komunikasi

Model komunikasi yang terperinci, dengan unsur-unsur penting dalam pelatihan PUGARG tersebut yaitu : (1). Sumber mempunyai gagasan, pemikiran atau kes- an tentang PUGARG di Yogyakarta, (2). Gagasan diterjemahkan atau disandikan ke dalam kata-kata dan simbol-simbol verbal dan nonverbal, (3). Gagasan disam- paikan atau d ikirimkan dengan metode kepada penerima, (4). Penerima menang- kap simbol-simbol secara verbal dan nonverbal, (5). Simbol diterjemahkan kembali atau diartikan kembali menjadi suatu gagasan oleh peserta pelatihan, (6). Peneri- ma yaitu peserta pelatihan mengirimkan berbagai bentuk umpan balik kepada pen-

Komunikasi Efektif Responsif Gender

Peran gender berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain yaitu sebagai berikut:

a. Masyarakat Bali menganut sistem kekerabatan patrilineal, berarti hubungan keluarga dengan garis pria (ayah) lebih penting atau diutamakan dari pada hubungan keluarga dengan garis wanita (ibu).

b. Masyarakat Sumatera Barat menganut sistem kekerabatan matrilineal, berarti hubungan keluarga dengan garis wanita (ibu) lebih penting dari pada hubungan keluarga dengan garis pria (ayah).

c. Masyarakat Jawa menganut sistem kekerabatan parental/bilateral, berarti hubungan keluarga dengan garis pria (ayah) sama pentingnya dengan hubungan keluarga dengan garis wanita (ibu).

Peran gender dari waktu kewaktu terus berubah, berikut contoh-contoh peubahan gender:

a. Pada masa lalu, menyetir mobil hanya dianggap pantas dilakukan oleh pria, tetapi sekarang wanita menyetir mobil sudah dianggap hal yang biasa.

b. Jika wanita ke luar rumah sendiri (tanpa ada yang menemani) apalagi pada waktu malam hari, dianggap tidak pantas, tetapi sekarang sudah dianggap hal yang biasa. Contoh peran gender yang dapat ditukarkan antara pria de ngan wanita sebagai berikut. Mengasuh anak, mencuci pakaian dan lain-lain, yang biasanya dilakukan oleh wanita (ibu) dapat digantikan oleh pria (ayah).

c. Mencangkul, menyembelih ayam dan lain-lain yang biasa dilakukan oleh pria (ayah) dapat digantikan oleh wanita (ibu).

BAB

(12)

girim. Berbagai pertanyaan, tanggapan dan hasil post test menunjukkan adanya umpan balik.

Komunikasi merupakan sebuah proses penting yang digunakan oleh manusia da- lam pertukaran pengalaman dan ide dan hal itu menjadi pemicu penting bagi pen- yampaian pengetahuan dan persepsi dari berbagai hal (misalnya pembelajaran).

Karena itu komunikasi merupakan unsur inti dalam perubahan strategi untuk men- dorong perubahan (Leeuwis 2009). Secara etimologis, kata komunikasi atau com- munication dalam Bahasa Inggris berasal dari kata communis yang berarti ”sama.”

Komunikasi menyarankan bahwa pikiran, suatu makna atau pesan dianut secara sama (Mulyana 2001). Dengan demikian berkomunikasi artinya menyamakan makna atau pengertian dengan rekan komunikasi. Menurut Eff endy (1992) komu- nikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahukan atau mengubah sikap, pendapat atau perilaku baik secara langsung atau lisan maupun tidak langsung melalui media.

Komunikasi gender adalah salah satu bidang studi komunikasi yang menitikber- atkan pada bagaimana manusia sebagai makhluk gender berkomunikasi. Ivy dan Backlund mendefi nisikan komunikasi gender sebagai komunikasi tentang dan an- tara laki-laki dan perempuan (Gender communication is communication about and between men and women).

Proses komunikasi gender tidaklah sesederhana seperti yang dibayangkan. Salah satu cara agar kita mendapatkan deskripsi yang jelas mengenai komunikasi gen- der adalah dengan memahami berbagai teori komunikasi gender yang dirumuskan oleh para ahli komunikasi maupun ahli dari disiplin ilmu yang lain. Berikut adalah teori-teori komunikasi gender, yaitu :

1. Genderlect Theory – Deborah Tannen

Teori yang dirumuskan oleh Deborah Tannen ini memandang bahwa cara ter- baik untuk menggambarkan komunikasi gender adalah dalam bentuk komuni- kasi lintas budaya. Perempuan selalu “rapport talk” untuk membangun hubun- gan yang berarti dengan yang lainnya.

Sementara itu, laki-laki selalu menggunakan “report talk” untuk mendapatkan status dalam hubungannya dengan yang lain. Karena laki-laki dan perempuan menggunakan bahasa yang berbeda, Tannen menyatakan mereka berbicara dengan dialek atau logat yang berbeda atau disebut dengan “genderlects”. Tu- juan genderlect theory ini adalah untuk mengakui dan mengapresiasi bahasa yang digunakan oleh lawan jenisnya untuk mencapai penghormatan yang pen- gertian yang sama.

2. Standpoint Theory – Sandra Harding and Julia Wood

Pencetus teori ini menyatakan perbedaan laki-laki dan perempuan dalam hier- arki sosial mempengaruhi apa yang dilihat. Terdapat perbedaan antara perem- puan dan laki-laki dalam mempersepsikan apa yang dilihat. Menurut teori ini, perempuan berada di posisi yang paling rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Sandra Harding menyatakan bahwa setiap orang hanya memperoleh sebagian pandangan dari suatu kenyataan yang diperoleh. Perolehan tersebut sebagai hasil dari perspektif dimana masing-masing dari mereka berdiri dalam suatu hierarki sosial. Sementara itu, Julia Wood menyatakan bahwa berbagai kelom- pok sosial memiliki kekuatan yang sangat besar dalam membentuk apa yang kita alami dan ketahui sebagaimana kita memahami dan berkomunikasi de- ngan diri sendiri, orang lain dan dunia.

3. Muted Group Theory – Cheris Kramarae

Teori yang dikemukakan oleh Cheris Kramarae menyatakan bahwa perempuan tidaklah sebebas laki-laki dalam hal mengatakan apa yang mereka inginkan, apa dan kapan mereka menginginkan hal tersebut, karena kata-kata dan nor- ma-norma yang mereka gunakan dibentuk oleh kelompok dominan yaitu la- ki-laki.

sumber: www.tripsavvy.com

Gambar 6. Perempuan tidaklah sebebas laki-laki dalam hal mengatakan apa yang mereka inginkan

(13)

B. Karakteristik Komunikasi Gender

Komunikasi gender berkaitan erat dengan kebudayaan. Beberapa makna untuk maskulinitas dan feminitas, dan bagaimana mengkomunikasikan identitas gender sebagian besar ditentukan oleh budaya. Budaya terdiri dari sistem kepercayaan, nilai-nilai, dan perilaku yang membentuk ideologi atau sistem sosial tertentu. Cara manusia mengkomunikasikan identitas gender dipengaruhi oleh budaya, penafsir- an, pemahaman, penilaian, dan media yang menampilkan beragam peran gender.

Dewasa ini, media dipenuhi oleh banyak representasi dan ide mengenai laki-laki dan perempuan yang diakui atau tidak, memberikan pengaruh yang tidak sedikit.

Untuk memahami gender dan media, maka kita juga perlu memahami bagaimana feminisme, maskulinitas dan hubungan gender yang sedang dibangun saat ini ter- jadi di dunia yang penuh dengan perubahan yang sangat cepat. Dari perubahan hubungan gender, pengenalan teknologi media baru dan berbagai kontrol yang ada saat ini mempengaruhi bagaimana representasi gender yang dibuat oleh media.

1. Gaya Komunikasi Gender

Perbedaan-perbedaan dalam gaya komunikasi gender dapat dilihat dari baha- sa, tujuan berkomunikasi, pola bicara, dan komunikasi non verbal.

a. Bahasa

Penggunaan bahasa yang digunakan untuk merujuk pada gender yang dapat menimbulkan bias atau makna ganda. Oleh karena itu pemilihan ba-

hasa sangat penting dilakukan agar menghindari timbulnya bias dan juga makna ganda dalam suatu komunikasi yang efektif.

b. Tujuan berkomunikasi

Baik laki-laki maupun perempuan, seringkali memberikan intepretasi yang berbeda mengenai sesuatu hal yang dapat menyebabkan miskomunikasi.

Perbedaan ini dapat dilihat dari tujuan berkomunikasi. Pada perempuan, komunikasi bertujuan untuk membentuk hubungan relasional dengan orang lain. Sedangkan tujuan laki-laki berkomunikasi adalah untuk membangun individualitas.

c. Pola berbicara

Terdapat beberapa perbedaan pola berbicara antara feminine dan mas- kulin. Hal ini dapat dilihat dari tujuan dan karakteristiknya, yaitu :

1) Tujuan feminine adalah membina hubungan. Pada maskulin, tujuannya adalah untuk mencapai kemandirian.

2) Karakteristik feminine adalah kesetaran, mendukung, responsif, priba- di, tentatif.

3) Karakteristik maskulin adalah menularkan pengetahuan, tidak ada pendekatan pribadi, abstrak, langsung, kurang responsif.

4) Komunikasi non verbal

5) Dalam psikologi komunikasi dan komunikasi lintas budaya, disebutkan bahwa komunikasi non verbal berperan penting dalam menghasilkan makna tertentu.Dalam hubungannya dengan gender, terdapat 7 pesan non verbal yang berperan dalam komunikasi gender, yaitu :

(a) Artifaktual, seperti penggunaan pakaian dan kosmetika. Perem- puan menggunakan atasan dan rok serta kosmetika, sementara la- ki-laki menggunakan atasan dan celana panjang.

(b) Proksemik, atau penggunaan ruangan personal dan sosial – gen- der maskulin dipandang sebagai pihak yang memiliki posisi yang kuat dalam budaya kita. Laki-laki lebih banyak mengambil ruang, baik di rumah maupun kehidupan sosial dibandingkan dengan per- empuan.

(c) Kinesik atau gerak tubuh, laki-laki dan perempuan meng gu- nakan gerakan tubuh yang masing-masing memiliki arti. La ki-laki menggunakan gerak tubuh untuk sebagai tanda unt uk menunjukkan kekuatan dan kendali. Perempuan meng gunakan gerak tubuh se- bagai bentuk pendekatan dan ke ramahtamahan.

(d) Paralingustik atau suara, cara pengucapan pesan non verbal an- tara laki-laki dan perempuan tidak sama. Paraliguistik me rupakan

sumber: viva.co.id

Gambar 7. Perbedaan-perbedaan dalam gaya komunikasi gender dapat dilihat dari bahasa yang digunakan

(14)

A. Pengertian Membangun Jejaring

Jejaring Kerja (kemitraan) atau sering disebut partnership, secara etimologis ber- asal dari akar kata partner. Partner dapat diartikan pasangan, jodoh, sekutu atau kompanyon. Sedangkan partnership diterjemahkan persekutuan atau perkong- sian. Dengan demikian, kemitraan dapat dimaknai sebagai suatu bentuk perseku- tuan antara dua pihak atau lebih yang membentuk satu ikatan kerjasama di suatu bidang usaha tertentu atau tujuan tertentu sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih baik. Pendapat senada disampaikan Agung Sudjatmoko dalam bukunya yang berjudul Cara Cerdas Menjadi Pengusaha Hebat bahwa”kemitraan bisnis merupa- kan kerjasama terpadu antara dua belah pihak atau lebih, secara serasi, siner- gis, terpadu, sitematis dan memiliki tujuan untuk menyatukan potensi bisnis dalam mengahasilkan keuntungan yang optimal”

Membangun jejaring kerja (kemitraan) pada hakekatnya adalah sebuah proses membangun komunikasi atau hubungan, berbagi ide, informasi dan sumber daya atas dasar saling percaya (trust) dan saling menguntungkan diantara pihak-pihak yang bermitra yang dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman atau kesepaka- tan guna mencapai kesuksesan bersama yang lebih besar. Dari defi nisi di atas dapat dijelaskan bahwa membangun Jejaring Kerja (kemitraan) dapat dilakukan jika pihak-pihak yang bermitra memenuhi persyaratan berikut:

1. Membangun Jejaring Kerja bukan sekedar bertukar kartu nama dan berkena- lan. Jika sebagian besar orang merasa kurang berhasil membangun Jejaring Kerja (networking) karena mereka hanya berkenalan atau bertukar kartu nama.

Strategi Membangun Jejaring

alat yang paling cermat untuk menyampaikan pe rasaan kita kepada orang lain. Jika tidak hati-hati dalam penggunaanya dapat menim- bulkan miskomunikasi.

(e) Sentuhan, – Baik laki-laki atau perempuan sering menggunakan sentuhan ketika berkomunikasi dengan orang lain. Bagaimanapun juga terdapat perbedaan diantara keduanya. Laki-laki menggunakan sentuhan untuk menunjukan arah kepada yang lain. Perempuan menggunakan sentuhan untuk untuk menunjukkan kepedulian.

(f) Atribut fi sik, Atribut fi sik turut memberikan implikasi yang besar dalam gender. Laki-laki cenderung digambarkan sebagai makhluk yang bertubuh besar dan kuat. Perempuan digambarkan sebagai makhluk yang lebih kecil.

(g) Kebungkaman, Melihat sejarahnya, kebungkaman memberikan pengaruh yang besar dalam komunikasi gender. Perempuan

“dibungkam” dalam semua sistem kebudayaan yang ada di dunia.

BAB

(15)

Setelah tiba di rumah, kartu nama itu hanya memenuhi laci meja kerja dan sulit mengingat lagi siapa mereka. Sedangkan membangun kekuatan networking hanya bisa dikerjakan dengan cara yang terorganisasi.

2. Menjadi pendengar yang baik Pada umumnya, orang-orang lebih senang membicarakan tentang diri mereka sendiri. Mereka akan selalu berpikir, “Apa yang bisa saya peroleh?” atau “Apa keuntungan percakapan ini untuk diri saya sendiri?” Bila kita mampu menunjukkan ketertarikan terhadap apa yang me- reka pikirkan ataupun katakan secara tulus, tidak dibuat buat maka kita akan mendapatkan banyak keuntungan. Keuntungan menjadi pendengar yang baik adalah: Pertama: kita akan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya da- lam kesempatan pertemuan singkat tersebut, misalnya informasi tentang anak- anak, usaha/pekerjaan mereka dan hobi yang sedang mereka jalankan saat ini.

Informasi lebih banyak tentang diri pribadi mereka sangat penting guna mem- berikan perlakuan yang paling tepat, di sisi lain mereka juga pasti terkesan pada diri kita Kedua: ciptakan tujuan. Dengan menjadi pendengar yang baik kita akan mampu memvisualisasikan siapa saja yang harus kita dekati. Se- hingga tak perlu membuang waktu dengan mengikuti perkumpulan yang tidak berhubungan dengan target yang ingin kita capai. Karena kekuatan networking terletak pada kualitas dibandingkan kuantitas atau jumlahnya.

3. Mengupayakan dalam 72 jam kita harus berusaha menjalin komunikasi dengan calon partner kita agar mereka tidak melupakan kita begitu saja. Langkah yang bisa kita lakukan adalah mengirimkan kartu pos, mengi rim kan e-mail, surat, me- nelpon seraya mengungkapkan kebahagiaan kita mendapatkan kesempatan bertemu mereka atau menanyakan kabar ten tang anak-anak, usaha, maupun hobi yang sedang mereka kerjakan. Cara lain adalah mengirimkan sesuatu dan menyampaikan kesan men dalam sekaligus keinginan untuk bertemu mereka suatu saat nanti, dan lain se bagainya. Ciptakan berbagai langkah menciptakan jalinan komunikasi, karena hal itu akan membuat mereka lebih mengingat kita.

Sehingga apa bila suatu ketika kita menghubungi atau bertemu lagi, mereka akan dengan mudah mengingat dan menjalin keakraban dengan kita.

4. Bersikap sabar tetapi aktif dan proaktif dalam memberi. Memberi bisa dila kukan dalam berbagai cara entah dalam bentuk pelayanan atau kontri busi kepada perorangan maupun group. Milikilah nilai tersendiri bagi orang lain, dengan menciptakan kerjasama yang memberikan kemudahan dan berbagai nilai yang menguntungkan mereka.

5. Bersikap lebih cerdas dan selalu menyampaikan informasi yang akurat dan apa adanya. Caranya adalah dengan terus belajar banyak hal setiap ada kesem- patan (banyak membaca, mengikuti seminar, workshop, kompetisi, expo, dsb) sehingga kita akan lebih dikenal dibandingkan orang lain karena kelebihan ilmu pengetahuan yang kita miliki.

6. Kesinambungan komunikasi Kita harus selalu meluangkan waktu untuk me - lakukan komunikasi guna mengembangkan dan mempertahankan hu bungan yang sudah terbangun. Salah satu alasannya karena tak ada ja lan pintas da- lam mengembangkan dan mempertahankan networking ke cuali kesinambun- gan komunikasi. Joe Girald dalam bukunya The Greatest Salesman In The World, menyatakan bahwa kesinambungan komunikasi sudah dapat memper- luas networking. Ia berpendapat orang biasa pun memiliki sekurang-kurangnya 250 orang yang cukup dekat dalam ke hi dup an nya. Berdasarkan sebuah pene- litian, sebagian besar orang tidak akan pemah menyadari sedang memerlukan orang lain sebelum berkomunikasi dengan orang yang bersangkutan selama 8-10 kali.Jangan pula berkeinginan untuk menunda menjalin komunikasi den- gan orang lain, karena selain tak mendapatkan hubungan baru kita juga akan kehilangan semangat baru.

7. Menjadi anggota komunitas tertentu seperti forum HIPKI, HISSPI, HIPMI, Komunitas Entrepreneur dan sebagainya untuk menambah relasi dan mem- perluas wawasan

8. Peduli lingkungan Perlu memiliki rasa tanggung jawab (peduli) terhadap ke- hidupan masyarakat di lingkungan sekitamya. Ada banyak cara untuk me wujud- kannya seperti donor darah, menjaga kebersihan dan kesehatan lingkung an melalui kerja bakti dan penghijauan, pemberi beasiswa bagi

sumber: sembada.id

Gambar 8. Ada banyak cara untuk peduli terhadap ke hidupan masyarakat di lingkungan sekitar

(16)

Pengarusutamaan gender dalam pembangunan pada dasamya sudah dimulai sejak Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 tentang pelaksanaan Pengarusutamaan Gen- der (PUG) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014, hal tersebut didasari pada kejadian-kejadian yang terjadi pada perempuan menjadi korban diskriminasidan kekerasan berbasis gender karena ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan di masyarakat. Diskriminasi yang dialami oleh perempuan dapat ber- beda-beda baik karena status sosialnya, keadaan ekonominya, status kesehatannya, ras, etnis, pilihan keyakinan maupun orientasi seksualnya, dan sebagainya.

Isu yang berkembang pada saat ini perempuan ditempatkan sebagai subjek sekaligus objek dalam rangka meningkatkan kemampuan, peranan, dan kedudukannya sebagai penyangga penghidupan dan kehidupan keluarga serta berperan dalam berbagai us- aha kesejahteraan sosial.

Kiprah perempuan dalam kegiatan pembangunan lebih mengacu kepada program yang sesuai dengan tuntutan pembangunan yang tertuang dalam program kerja or- ganisasi yang harus dikembangkan sesuai dengan komitmen suatu organisasi di tingkat nasional, regional, maupun intemasional yang disusun untuk periode tertentu.

Peranan perempuan dalam pembangunan ditandai dengan partisipasi perempuan dalam mengisi pembangunan di semua bidang pembangunan. Keberhasilan kiprah perempuan dalam pembangunan hanya terfokus dalam “kepentingan kesejahteraan perempuan” saja (women’s welfare concems) karena bidang-bidang yang dikembang- kan terbatas dalam upaya meningkatkan kesejahteraan perempuan dan akses mereka terhadap sumber dan manfaat, tetapi pada kenyataannya isu-isu perempuan yang ma- sih berkembang pada saat ini di Indonesia adalah Berbagai bentuk diskriminasi yang menimpa perempuan dapat terjadi dalam bentuk diskriminasi langsung dan diskrimina- si tidak langsung. Diskriminasi langsung terjadi ketika seseorang diperlakukan secara berbeda akibat perilaku atau sikap dari suatu peraturan, sedangkan diskriminasi tidak langsung terjadi karena suatu kebijakan atau peraturan yang berakibat hanya pada jenis tertentu. Diskriminasi ini dapat berlangsung dari berbagai ranah, baik pekerjaan, rumah tangga maupun lingkungan social, Kekerasan terhadap perempuan, perdagan- gan orang dan eksploitasi seksual, dan Praktek berbahaya pada perempuan serta ke- jadian-kejadian lainnya

Isu-Isu yang terjadi pada perempuan tersebut mengharuskan Pengembangan Karak- ter Diri Perempuan yang Responsif Gender, melalui berbagai cara diantaranya mem-

Ra ngkuman

perbaiki komunikasi dimulai dari bahasa, tujuan berkomunikasi, pola bicara, dan komu- nikasi non verbal pengembangan karakter diri selanjutnya yaitu menjalin jejaring dari segala aspek kehidupan dengan strategi-strategi yang bias dilakukan seperti , menjadi pendengar yang baik, mengupayakan dalam berkomunikasi, bersikap sabar tetapi aktif dan proaktif dalam memberi, bersikap lebih cerdas dan selalu menyampaikan informa- si yang akurat dan apa adanya serta mengikuti forum-forum untuk membangun jejaring yang lebih luas.

Perempuan yang telah mengembangkan karakter dirinya dengan melakukan komu- nikasi efektif dan membangun jejaring kemitraan dari segala aspek kehidupan akan menjadi perempuan mandiri yang berwawasan gender dan dapat menghindari isuisu perempuan yang ada.

(17)

A. Pilihan Ganda

1. Apa yang menjadi perbedaan gender dan sex?

A. Keduanya sama saja

B. Keduanya sama sekali berbeda C. Keduanya tumpang tindih D. a dan b benar

2. Secara sosial pengertian jenis kelamin dan gender itu berbeda karena?

A. Kebudayaan dalam masyarakat yang berbeda B. Diskontruksi secara sosial dan budaya C. Perbedaan system sosial

D. Perbedaan kelas sosial

3. Siapa yang akan paling terkena akibat dari ketidaksamaan gender?

A. Perempuan di negara-negara paling miskin B. Anak-anak

C. Perempuan dan para gadis D. Laki-laki yang tidak bekerja

4. Apakah laki-laki dan perempuan memperoleh jumlah uang yang sama untuk pekerjaan yang sederajat?

A. Tidak, laki-laki mendapat lebih banyak.

B. Tidak, perempuan mendapat lebih banyak.

C. Sama banyak

D. Perempuan tidak memperoleh penghasilan.

5. Seringkali ketika laki-laki dan perempuan bekerja, ...

A. Mereka berbagi pekerjaan rumah tangga yang sama.

B. Ya, mereka mendapat sama banyak.

C. Laki-laki melakukan pekerjaan rumah tangga paling banyak.

D. Perempuan yang harus mengerjakan semua pekerjaan.

6. Strategi mana yang telah terbukti membantu perempuan lebih berdaya-guna secara sosial dan ekonomi?

A. Perempuan bekerjasama menentang diskriminasi gender B. Sumber-sumber pemasukan lebih banyak bagi perempuan C. Akses-akses yang diperbaiki untuk pendidikan.

D. Semua jawaban benar.

7. Bagaimana untuk menjadi perempuan mandiri berwawasan gender?

A. Melakukan komunikasi efektif B. Melakukan Diskriminasi C. Membangun jejaring D. a dan c

8. Bagaimana untuk menjadi perempuan mandiri berwawasan gender?

A. Menjalankan komunikasi efektif B. Melakukan Diskriminasi C. Membangun jejaring D. a dan c

9. Karakteristik melakukan komunikasi yang efektif, kecuali?

A. Bahasa B. Dua arah C. Pola bicara

D. Pembicaraan perempuan dalam hati

10. Salah satu syarat perempuan dalam menjalin jejaring adalah?

A. Mendapat pekerjaan B. Bebas diskriminasi

C. Melakukan komunikasi efektif D. Memiliki penghasilan yang besar

B. Uraian

1. Sebutkan peran perempuan dalam pembangunan!

...

...

...

2. Uraikan salah satu kasus ketimpangan gender, dan bagaimana cara mengatasi hal tersebut!

...

...

...

3. Apa yang harus dimiliki agar menjadi perempuan mandiri berwawasan gender?

...

...

...

4. Apakah setara itu berarti sama? Uraikan pendapat anda dilengkapi dengan contoh kasus!

...

...

...

Evaluasi (Kuis, Permainan, Penugasan, dll)

(18)

C. Permainan Role Playing

Judul : Peran Perempuan yang terbatas dalam ruang budaya Sub. Judul : penyampaian gagasan perempuan di ruang publik Pemeran :

Rama : seorang kepala rumah tangga yang bekerja sebagai buruh pabrik dengan latar pendidikan Sekolah Menegah Atas(SMA).

Rosma: Seorang istri yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Pemerintahan Daerah dan mempunyai kedudukan sebagai kepala bidang di lembaga tersebut.

Skenario :

Rama memiliki pemikiran jika perempuan itu hanya mengurus suami dan anak saja. Rosma yang lulusan perguruan tinggi diangkat menjadi PNS. Rama marah kepada istrinya

Pertanyaan :

1. Bagaimana persepsi suami mempunyai istri yang memiliki jabatan di ruang lingkup pemerintahan ?

...

...

...

...

2. Bagaimana seorang istri menyampaikan gagasannya agar tidak menyinggung suami?

3. Bagaimana perubahan keluarga yang memiliki seorang anak perempuan yang mandiri?

...

...

...

...

4. Bagaimana nilai profi t dan benefi t ketika seorang perempuan yang mandiri?

...

...

...

...

Komunikasi Efektif Altematif Jawaban Saya mampu menyakinkan

orang lain untuk menerima ide saya

Ya/Tidak

Apabila Tidak, Hambatan yang dialami:

Saya berani menemui orang- orang yang dianggap penting memberikan informasi

Ya/Tidak

Apabila Tidak, Hambatan yang dialami:

Saya bisa mengurus usaha sendiri

Ya/Tidak

Apabila Tidak, Hambatan yang dialami:

Saya bisa mengambil keputusan terbaik menurut saya sendiri

Ya/Tidak

Apabila Tidak, Hambatan yang dialami:

Saya bisa pergi sendiri untuk memenuhi kebutuhan pengem- bangan diri

Ya/Tidak

Apabila Tidak, Hambatan yang dialami:

Saya berani mengambil resiko terhadap keputusan yang saya ambil

Ya/Tidak

Apabila Tidak, Hambatan yang dialami:

Saya mampu membangun jejar- ing secara mandiri

Ya/Tidak

Apabila Tidak, Hambatan yang dialami:

Umpan Balik dan Tindak Lanjut

(19)

Daftar Pustaka

Ekonomi Pertanian fakultas Pertanian. Universitas Udayana.

Fakih, M. (1997). Analisis Gender & Trasformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pe- lajar Off set.

Fawaid, Ah. Pemikiran Perempuan tentang Mufasir Perempuan.

Hanurawan, Fattah. 2012. Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Bandung : PT Rema- ja Rosdakarya.

Handuko, waluyu. 2015. Isu Perempuan sebagai strategi kampanye politik kampa- nye calon dalam pilkada.

Inpres No. 9 Tahun 2000, Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasi- onal Republik Indonesia

Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 tentang pelaksanaan Pengarusutamaan Gen- der (PUG)

Jumal Perempuan. Perspektif Gender dalam Pendidikan.

Mulyana, Dedi. 2001. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Bandung:Remaja Ros- dakarya.

Eff endy, Onong Uchjana. 1992. Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek, Bandung:

PT.Remaja Rosdakarya

Nuraida, 2017. Pola Komunikasi gender dalam keluarga. Vol.12 no. 3.

Puspitawati, Herein. 2012.Gender dan keluarga : Konsep dan Realita di Indonesia.

PT IPB Press . Bogor.

Sudarta, wayan.2013. Peranan Wanita dalam Pembangunan berwawasan Gender.

Sosial

UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Catatan:

(20)

Catatan:

Gambar

Gambar 1. Perempuan seringkali menjadi objek tindakan kekerasan akibat cara pandang yang diskriminatif.
Gambar 3. Kekerasan terhadap perempuan
Gambar 5. Perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan dibentuk oleh masyarakat/budaya sejak ia dilahirkan dan bukan kodrati.
Gambar 6. Perempuan tidaklah sebebas laki-laki dalam hal mengatakan apa yang mereka inginkan
+3

Referensi

Dokumen terkait

“ Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan)

Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan, dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, baik anak laki-laki maupun anak perempuan,

Meskipun Islam telah memberikan kebebasan kepada laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang setara, namun Islam sangat mengatur ketat hubungan antara

Pada asumsi LFM, dimana dalam komputasinya menggunakan algoritma miring ini dan dengan menggunakan Tabel Mortalitas Indonesia (TMI) Tahun 2011 untuk laki- laki dan perempuan,

Untuk mengetahui ada dan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan bahasa Inggris anak laki-laki dan perempuan TK Merpati1.

Pada masyarakat Jawa, sistem patriarki merupakan halangan bagi kaum perempuan untuk mendapat status dan peran yang setara dengan laki-laki.. Kuat konsepsi tersebut dalam

[10] Berbeda dengan literatur yang ada, kami menemukan bahwa AGLSC yang lebih umum pada laki-laki daripada perempuan (59 laki-laki vs 46 perempuan) dengan laki- laki

PPKn lihatlah udin dan teman-teman setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan mereka semua berbeda - berbeda fisik laki – laki , perempuan , besar, kecil, tinggi, gemuk, kurus