• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEOR

A. PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 1 Pengertian Peran

Peran berarti tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa (Depdiknas, 2007:854). Peran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah identik dengan andil, partisipasi, tugas dan konstribusi sebagai guru pendidikan agama Islam.

2. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam

Guru adalah seseorang yang memiliki tugas sebagai fasilitator sehingga siswa dapat belajar dan atau mengembangkan potensi dasar dan kemampuannya secara optimal, melalui lembaga pendidikan sekolah, baik yang didirikan oleh pemerintah ataupun oleh masyarakat atau swasta (Suparlan, 2005:12-13). Sedangkan pengertian guru menurut Uno merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar pendidikan (Uno, 2011:15). Menurut dua pengertian di atas dapat dikatakan bahwa guru sebagai pendamping peserta didik dalam belajar dan seorang guru dalam menjalankan profesinya sebagai pengajar dan pendidik haruslah mempunyai keahlian khusus sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. Jadi seorang guru lulusan Pendidikan Agama Islam sebaiknya mengajar mata pelajaran agama Islam, bukan mata pelajaran lain, begitu pula dengan mata pelajaran yang lain.

Guru bukan hanya sebagai pengajar atau pemberi materi pelajaran dalam kelas, tetapi juga mampu mendidik dan menjadikan peserta didik mempunyai moral yang mulia. Pengetian guru sebagai pendidik moral peserta didik sesuai dengan pengertian guru menurut Djamarah, guru adalah spiritual father atau bapak rohani bagi seorang anak didik yaitu memberikan santapam jiwa dengan ilmu, pendidikan akhlak, dan membenarkannya, maka menghormati guru adalah menghormati anak didik kita, menghargai guru berarti memberikan penghargaan terhadap anak-anak kita, dengan guru itulah mereka hidup dan berkembang, sekiranya guru itu melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya (Djamarah, 1997:42).

Pendidikan pada dasarnya adalah suatu proses untuk menciptakan kedewasaan pada manusia. Proses yang dilalui untuk menciptakan kedewasaan tersebut membutuhkan waktu yang lama, karena aspek yang ingin dikembangkan bukanlah hanya kognitif semata-mata melainkan mencakup semua aspek kehidupan, termasuk didalamnya nilai-nilai ketuhanan (Muslich, 2010:23). Pendidikan dalam buku falsafah pendidikan Islam secara khusus diartikan sebagai rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan belajar, sehingga terjadilah perubahan dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individu, sosial dan dalam hubungannya dengan alam sekitar berada dalam nilai Islam, yakni norma-

Pengertian Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang materi bahasanya berkaitan dengan keimanan, ketakwaan, akhlaq, dan ibadah kepada Tuhan. Dengan demikian pendidikan agama berkaitan dengan pembinaan sikap mental-spiritul yang selanjutnya dapat mendasari tingkah laku manusia dalam berbagai bidang kehidupan (Nata, 2007:195). Menurut pengetian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian pendidikan agama Islam adalah suatu proses untuk membimbing dan mengarahkan peserta didik agar selalu berprilaku sesuai dengan nilai-nilai dalam Islam yaitu akhlak mulia yang tercermin pada kehidupan keseharian melaui pendidikan yang didalamnya mengandung materi tentang nilai-nilai keislaman, seperti keimanan, ketakwaan, akhlaq, dan ibadah kepada Tuhan.

Guru pendidikan agama Islam adalah seseorang yang berprofesi sebagai pendidik dan pendamping peserta didik dalam proses membimbing dan mengarahakan peserta didik untuk mengetahui, memahami dan mampu mengamalkan ajaran-ajaran Islam, seperti keimanan, akhlaq dan cara berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan ajaran Islam dalam kehidupan kesehariannya.

3. Peran Guru Pendidikan Agama Islam

Pada dasarnya peran guru pendidikan agama Islam dan guru pada mata pelajaran lain tidak ada perbedaan. Seorang guru dapat berperan sebagai pembimbing, pengajar, dan sekaligus pelatih dengan kadar profesional tertentu (Samana,1994:79). Sebagai seorang pengajar sekaligus

pendidik seorang guru tidak hanya pandai menguasai materi pelajaran, tetapi mampu menyampaikan dan menerapkan dalam keseharian peserta didik.

Guru dalam mendidik dan membimbing para siswanya tidak hanya dengan bahan yang disampaikan atau metode-metode penyampaian yang sesungguhnya, tetapi dengan seluruh kepribadiannya (Isjoni, 2006:78). Penyampaian materi tidak selamanya menggunakan metode- metode pengajaran yang ada dalam dunia pendidikan, tetapi juga memerlukan kepribadian baik dari seorang guru sebagai teladan dalam menanamkan akhlaq terpuji pada peserta didik. Kepribadian guru sangat mempengaruhi perannya sebagai pembimbing dan pendidik. Guru merupakan mitra anak didik dalam kebaikan, sehingga guru berperan dalam memberi contoh teladan terhadap peserta didiknya.

Pendidikan rohani untuk membentuk kepribadian peserta didik lebih dipentingkan. Peserta didik yang berilmu dan berketrampilan belum tentu berakhlak mulia. Cukup banyak orang berilmu dan berketrampilan, tetapi karena tidak mempunyai akhlak yang mulia, mereka terkadang menyalahgunakan ilmu untuk hal-hal yang negatif. Namun demikian bukan berarti orang yang berilmu dan berketrampilan tidak diharapkan, tetapi yang lebih diperlukan adalah orang yang berilmu dan berketrampilan serta berakhlak mulia (Djamarah, 1997:31).

Kegiatan proses belajar tidak lain adalah menanamkan sejumlah norma ke dalam jiwa peserta didik. Semua norma yang diyakini

mengandung kebaikan perlu ditanamkan ke dalam jiwa anak didik melalui peranan guru dalam pengajaran (Djamarah, 1997:31). Guru dalam mengajar tidak hanya sekedar menyalurkan materi pelajaran agar peserta didik tahu tentang ilmu pengetahuam secara teori, tetapi juga menanamkan kedalam jiwa peserta didik, sehingga mampu diamalkan dalam hidup keseharian. Guru Pendidikan Agama Islam sebagi guru yang mengajar pengetahuan tentang agama yang didalamnya ada materi tentang norma- norma Islam dan akhlaq terpuji, berperan untuk menanamkan kedalam hati peserta didik mengenai pengetahuan yang telah disampaikan dalam materi pelajaran. Guru Pendidikan Agama Islam harus mampu melatih peserta didik untuk selalu bersikap dan bertingkah laku sesuai ajaran agama Islam

Guru sebagai ujung tombak pendidikan, memiliki peran yang sangat sentral dalam membangun peserta didik yang berkarakter. Peran guru bukan hanya menyampaiakan materi pelajaran, juga dituntut agar patut untuk ditiru dan digugu. Sebagaimana orang jawa menganggap guru adalah digugu lan ditiru. Seorang guru harus dapat menanamkan moral, nilali-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya kepada peserta didik.

Peran guru dalam peraturan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang tugas utama guru yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Redaksi Sinar Grafika,2006: 2).

Salah satu tugas guru yaitu memberikan materi dalam ruang kelas. Dalam ruang kelas, suatu pendekatan komprehensif menuntut guru untuk:

a. Bertindak sebagai model, mentor, memperlakukan para siswa dengan cinta dan penghargaan, menjadi contoh baik, mendukung perilaku prososial, dan mengkoreksi tindakan-tindakan yang menyakiti.

b. Menciptakan sebuah komunitas moral di kelas, membantu para sisiwa untuk saling kenal, menghargai dan peduli antara siswa yang satu dengan lainnya, dan merasakan keanggotaan yang berharga dalam kelompok.

c. Mempraktikkan disiplin moral, menggunakan penciptaan dan penegakan aturan-aturan sebagai peluang untuk menumbuhkan penalaran moral, kontrol diri, dan penghargaan terhadap orang lain. d. Menciptakan sebuah lingkungan ruang kelas yang demokratis,

melibatkan para siswa dalam putusan-putusan dan berbagi tanggungjawab untuk membuat ruang kelas menajdi tempat yang baik untuk berada dan belajar.

e. Mengajarkan nilai-nilai melalui kurikulum, menggunakan mata pelajaran sebagai wahana untuk mengkaji isu-isu etis.

f. Menggunakan pembelajaran kooperatif untuk mengajari anak-anak dengan watak dan ketrampilan tolong menolong dan berkerja sama. g. Mendorong refleksi moral melalui kegiatan membaca, menulis, diskusi,

h. Ajarkan pemecahan konflik agar para siswa memiliki kapasitas dan komitmen untuk memecahkan konflik dengan cara yang tidak memihak dan tanpa kekerasaan (Kesuma, 2011:81).

Secara garis besar guru dalam mengajar di kelas mempunyai peran untuk mendidik peserta didik menjadi individu yang mampu mandiri, saling menghargai, disiplin, tanggungjawab, peduli terhadap orang lain dan tolong menolong, disamping tugas utamanya memberikan materi pelajaran sesuai dengan jurusan kependidikannya.

Guru mempunyai peran dan fungsi yang menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang pengajar dan pendidik. Guru memiliki satu kesatuan peran dan fungsi yang tidak terpisahkan, antara kemampuan mendidik, membimbing, mengajar dan melatih. Berdasarkan tanggung jawab yang diembannya, pengertian guru dapat dibedakan menjadi beberapa macam, seperti: guru kelas, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, guru pustakawan, dan guru ekstrakurikuler. Semua guru tersebut mempunyai peran sebagai berikut:

a. Sebagai pendidik, guru lebih banyak menjadi sosok panutan yang memiliki nilai moral dan agama yang patut ditiru dan diteladani oleh siswa. Contoh dan keteladanan itu lebih merupakan aspek-aspek sikap dan perilaku, budi pekerti luhur, akhlaq mulia seperti jujur, tekun, amanah dan sopan santun. Dalam konteks ini makna sikap dan perilaku guru menjadi semacam bahan ajar secara tidak langsung yang dikenal dengan hidden curriculum.

b. Sebagai pengajar, guru diharapkan memiliki pengetahuan yang luas tentang displin ilmu yang harus diampu untuk ditransfer kepada siswa. c. Sebagai pembimbing, guru juga perlu memiliki kemampuan untuk

dapat membimbing siswa, memberikan dorongan psikologi agar siswa dapat mengesampingkan faktor-faktor internal dan eksternalyang akan mengganggu proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar.

d. Sebagai pelatih, guru perlu memberikan sebanyak mungkin kesempatan kepada siswa untuk dapat menerapkan konsepsi atau teori ke dalam praktik, yang akan digunakan langsung dalam kehidupan (Suparlan, 2005:25-29)

Guru juga mempunyai peran kepedulian, keadilan dan rasa hormat. Kepedulian merupakan sebuah istilah yang luas. Satu studi mendefinisikan kepedulian sebagai suatu tindakan yang menonjolkan hal- hal terbaik yang ada pada para murid, melalui penegasan dan penyemangatan. Jelas, karakteristik kepedulian sungguh melampaui mengenal para murid, yang meliputi kualitas-kualitas seperti kesabaran, kepercaya dan keberanian. Selain mendemostrasikan kepeduliam, guru efektif membangun hubungan harmonis dan kredibilitas bersama para murid dengan menitikberatkan, mencontohkan, dan mempraktikkan keadilan dan rasa hormat (Stronge, 2013:26-29). Guru menjalankan perannya dengan menerapkan pribadi yang peduli, memiliki sifat adil dan rasa hormat akan memberikan teladan bagi peserta didik. Peserta didik dapat mencontoh peran guru sebagai pribadi yang peduli, mempunyai rasa

adil dan rasa hormat tersebut dan hal itu baik bagi perkembnangan moral peserta didik.

Dari sisi lain, guru sering dicitrakan memiliki peran ganda yang dikenal dengan sebagai EMASLIMDEF (educator, manager, administrator, Supervisor, leader, inovator, motivator, dinamisator, evaluator dan facilitator).

a. Educator

Peran ini lebih tampak sebagai teladan bagi peserta didik, sebagai role model, memberikan contoh dalam hal sikap dan perilaku, dan membentuk kepribadian peserta didik.

b. Manager

Pendidik memiliki peran untuk menegakkan ketentuan dan tata tertib yang disepakati bersama di sekolah, memberikan arahan atau rambu- rambu ketentuan agar tata tertib di sekolah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh warga sekolah.

c. Administrator

Guru memiliki peran untuk melaksanakan administrasi sekolah. d. Supervisor

Peran guru supervisor terkait dengan pemberian bimbingan dan pengawasan kepada peserta didik, memahami permasahan yang dihadapi peserta didik, menemukan permasalahan yang terkait dengan proses pembelajaran, dan akhirnya memberikan jalan keluar pemecahan masalahnya.

e. Leader

Guru memberikan kebebasan secara bertanggung jawab kepada peserta didik.

f. Inovator

Seorang guru harus memiliki kemauan belajar yang cukup tinggi untuk menambah pengetahuan dan ketrampilanya sebagai guru.

g. Motivator

Untuk meningkatkan semangat dan gairah belajar yang tinggi, siswa perlu memiliki motivasi yang tinggi, baik motivasi dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar, yang utamanya berasal dari gurunya sendiri. h. Facilitator

Memberikan bantuan teknis, arahan, atau petunjuk kepada peserta didik (Suparlan, 2005:29-32 ).

B.KARAKTER ANTI KORUPSI