BAB III KONSEP HIJRAH DALAM AL-QUR ’ AN
A. Peran Hijrah dalam Al-Qur ’ an
Hijrah memiliki posisi penting dalam ajaran agama Islam. Ia merupakan suatu pilar keberhasilan dalam mengembangkan dan memperluas lahan dakwah juga sebagai pijakan utama dalam menampilkan suatu kebenaran yang datangnya dari Allah swt. Jaminan keberhasilan hijrah itu didasari oleh desakan kekuatan dari dalam yang diikuti siraman keikhlasan akan melahirkan suatu titik keberhasilan dan jaminan keselamatan yang abadi dari sang pencipta.
Al-Qur’an mengetengahkan posisi penting dalam hijrah ini sebagai upaya
penyelamatan keimanan, menjaga keimanan serta membebaskan diri dari berbagai belenggu dan kesengsaraan yang mengakibatkan hinaan dan intimidasi dan selanjutnya berujung kepada tekanan-tekanan moral dan materil. Keimanan yang dimiliki oleh Muhajirin tak terpengaruh oleh berbagai tindakan intimidasi yang pada akhirnya membuktikan keimanannya dengan rela meninggalkan segalanya demi mempertahankan keyakinannya.
Pengalaman pahit yang dihadapi mereka tak akan berakhir jika mereka tidak meninggalkan tempat dimana mereka dilahirkan, dibesarkan yaitu pindah dan berjuang dalam rangka mencari nilai keimanan yang benar serta mengharap ridha Allah swt.
Keberhasilan posisi dan strategi hijrah menurut kondisi waktu merupakan suatu keajaiban. Ia telah merealisasikan berbagai sarana. Sasaran yang dicapainya menunjukkan bahwa hijrah memang pantas dianggap sebagai titik awal bagi sejarah
Islam, apalagi didasari dan dimotori oleh dorongan al-Qur’an yang memberikan
motivasi penuh demi tercapainya suatu keberhasilan dalam tatanan dunia baru serta
merealisasikan nilai-nilai kandungan al-Qur’an. Semua elemen yang ada dalam
al-Qur’an yang merupakan perangkat keberhasilan harus senantiasa diperhatikan dan
ditanamkan dalam hati sebagai pondasi keyakinan sehingga mampu berdiri kokoh dalam segenap dimensi ruang dan waktu.
a. Peran Hijrah dalam Menanamkan Jiwa Sabar
Merealisasikan jiwa yang sabar dalam melaksanakan hijrah merupakan nilai utama dan tonggak dasar untuk meraih keberhasilan. Tanpa didasari jiwa tersebut, seorang muhajir tidak akan sanggup merealisasikan hijrah yang sesungguhnya, yaitu hijrah yang didasari karena Allah, menolong agama yang mereka yakini kebenarannya serta diawali pula kesabaran besar dalam menghadapinya. Keteguhan hati serta konsisten terhadap niat yang lahir dalam hati akan membawa kepada kesejahteraan dan keselamatan di dunia dan di akhirat.
Hijrah sesungguhnya dalam Islam memiliki tempat dan posisi mengagungkan.
Lahan dan tempatnya sangat signifikan dalam al-Qur’an. Al-Qur’an telah
memerintahkan dengan lafadz dan gaya bahasa tertentu, bentuk kata yang berbeda-beda serta uslub yang beragam. Dari satu sisi dengan bentuk perintah yang tegas, di
sudut lain berbentuk berita, dan kadang berupa janji serta ancaman. Hal tersebut
adalah bukti tentang perhatian al-Qur’an tentang masalah hijrah dan penegasannya.
Sabar merupakan salah satu posisi pilar dalam hijrah yang diketengahkan
al-Qur’an karena merupakan elemen serta rangkaian yang dapat memacu keberhasilan
dalam berhijrah. Kesabaran merupakan bekal utama seorang muhajir dalam menghadapi fitnah dan tekanan-tekanan yang terjadi sebelum melakukan hijrah yang juga akan menjadi nilai utama keberhasilan. Allah swt berfirman:
ﱠﻠِﻟ ﻚﺑﺭ ﻥِﺇ ﻢُﺛ
ﺎﻫِﺪﻌﺑ ﻦِﻣ ﻚﺑﺭ ﻥِﺇ ْﺍﻭﺮﺒﺻﻭ ْﺍﻭﺪﻫﺎﺟ ﻢُﺛ ْﺍﻮﻨِﺘُﻓ ﺎﻣ ِﺪﻌﺑ ﻦِﻣ ْﺍﻭﺮﺟﺎﻫ ﻦﻳِﺬ
ﺭﻮُﻔَﻏ
ﻢﻴِﺣﺭ
Artinya: Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah
sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S. an-Nahl [16]:110).
Al-Mubârakfûrî mengatakan bahwa ini merupakan bukti tentang orang-orang
yang lemah (mustadh’afîn) yang menetap di kota Mekkah, yang dihina dan
dikucilkan oleh kaumnya lalu diuji oleh berbagai fitnah, kemudian dengan keadaan ikhlas mereka hijrah meninggalkan negeri, keluarga dan seluruh harta kekayaan mereka, mencari dan mengharap ridha Allah, ampunan-Nya, lalu bergabung di jalan orang-orang beriman, berjuang (mempertahankan keyakinan mereka) di tengah-tengah orang-orang kafir, lalu sabar dalam setiap keadaan, selain jaminan
keselamatan atas mereka juga ampunan akan diraih di sisi-Nya.1
1 Shafiyyu al-Rahman al-Mubârakfûrî, al-Mishbâh al-Munîr fî Tahdzîb Tafsîr Ibn Katsîr
Kesabaran adalah wasiat dari Allah swt. untuk seluruh Rasul-rasul-Nya dan merupakan wasiat untuk para mukmin yang disampaikan melalui rasul-Nya sebab tidak mungkin dakwah akan terealisasi kecuali ditunjang oleh kesabaran. Sabar merupakan perisai dan senjata, tempat berlindung, perjuangan jiwa, dorongan syahwat dari berbagai penyimpangan-penyimpangan yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan. Kesabaran juga merupakan perjuangan melawan musuh-musuh yang tujuannya menghancurkan sarana dakwah yang meliputi tekanan dan tipu daya serta intimidasi. Semuanya ini tidak akan dapat ditekan dan dihancurkan kecuali
dengan kesabaran.2
Kalau diamati secara saksama maka kesesuaian hijrah dan sabar tidak dapat dipisahkan seperti yang disebutkan pada ayat di atas. Pasalnya, manusia ketika hijrah meninggalkan keluarga dan seluruh hal yang berkaitan dengan duniawi. Mereka harus didukung oleh kesabaran sebab manusia diibaratkan sebagai musafir dimana dalam perjalanannya ditemukan berbagai hal yang mengganggu serta dihadang oleh berbagai kendala yang suatu saat akan menenggelamkan jikalau tidak dihadapi dengan kesabaran.
Kesabaran manusia memiliki batas kewajaran yang harus diperhatikan. Jikalau tekanan dan intimidasi serta penganiayaan sudah mengarah kepada ancaman jiwa dan keimanan, maka harus dicari solusi tepat sehingga ancaman tersebut dapat selamat dari berbagai bentuk kerusakan serta mencari sarana lain sehingga kekurangan-kekurangan yang ada dapat terhindarkan, apalagi menyentuh batas
2
kewajaran di dalam melaksanakan kewajiban dalam hidup, kewajiban dalam berdakwah kepada Allah swt. Hal tersebut didasari oleh karena hijrah merupakan perjuangan di jalan Allah swt sekaligus sebagai panji untuk membebaskan manusia dari berbagai tindakan intimidasi dan tekanan umat kafir dan fasiq di kota Mekkah, dan jalan yang kokoh yang seharusnya ditingkatkan dalam gerakan pertahanan dalam
Islam.3
Hijrah memiliki makna global yang berarti juga sebagai hijrahnya jiwa orang-orang mukmin dari seluruh dosa-dosa yang dilakukan menuju petunjuk, taqwa, perbaikan diri serta kesabaran dalam menghadapi berbagai cobaan. Atas dasar itu, seorang mukmin juga hijrah (meninggalkan) seluruh apa yang dilarang oleh Allah swt. sebagaimana sabda Rasulullah:
ﻪﻨﻋ ﺍ ﻰﳖ ﺎﻣ ﺮﺠﻫ ﻦﻣﺮﺟﺎﻬﳌﺍ
Artinya : Muhajir adalah orang yang meninggalkan (hijrah) apa yang dilarang oleh
Allah.4
Keutamaan sabar di dalam al-Qur’an memiliki posisi penting sebagaimana
yang diutarakan oleh Imam al-Razî. Allah swt. menyebutkan kata-kata sabar dengan
panggilan yang terpuji, dimana penyebutannya dalam al-Qur’an lebih dari tujuh puluh
kali di beberapa tempat, antara lain disandarkan banyak kebaikan serta di dalam menegakkan kebenaran sebagaimana firman Allah swt:
3
Ahzâmi Samîun Jazûli, Al-Hijrah fî al-Qur’ân al-Karîm, h. 45.
4 Lihat: Shahîh Bukharî, (Kitâb al-Imân No. 10), (Kitâb al-Riqâq No. 6484), Abû Dâûd, (Kitâb al-Jihâd, No. 2481), (Sunan an-Nasâî, No. 2481), (CD Room. Kutub Tis’ah)
ِﺋَﺃ ﻢﻬﻨِﻣ ﺎﻨْﻠﻌﺟﻭ
ﻥﻮﻨِﻗﻮﻳ ﺎﻨِﺗﺎﻳﺂِﺑ ﺍﻮُﻧﺎَﻛﻭ ﺍﻭﺮﺒﺻ ﺎﻤَﻟ ﺎَﻧِﺮﻣَﺄِﺑ ﻥﻭﺪﻬﻳ ًﺔﻤ
Artinya: Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin yang memberi petunjuk
dengan perintah kami ketika mereka sabar.(Q.S. as-Sajadah [32]: 24)
Dan firman Allah:
ﺎﻨْﺛﺭﻭَﺃﻭ
ُﺔﻤِﻠَﻛ ﺖﻤَﺗﻭ ﺎﻬﻴِﻓ ﺎﻨْﻛﺭﺎﺑ ﻲِﺘﱠﻟﺍ ﺎﻬﺑِﺭﺎَﻐﻣﻭ ِﺽﺭَﺄْﻟﺍ َﻕِﺭﺎﺸﻣ ﻥﻮُﻔﻌْﻀَﺘﺴﻳ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ ﻡﻮَﻘْﻟﺍ
ﺍﻮُﻧﺎَﻛ ﺎﻣﻭ ﻪﻣﻮَﻗﻭ ﻥﻮﻋﺮِﻓ ﻊﻨﺼﻳ ﻥﺎَﻛ ﺎﻣ ﺎَﻧﺮﻣﺩﻭ ﺍﻭﺮﺒﺻ ﺎﻤِﺑ َﻞﻴِﺋﺍﺮﺳِﺇ ﻲِﻨﺑ ﻰَﻠﻋ ﻰﻨﺴﺤْﻟﺍ ﻚﺑﺭ
ﻌﻳ
ﻥﻮﺷِﺮ
Artinya: Dan telah sempurnalah perkatahan tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk
Bani Israil disebabkan kesabaran mereka”. (Q.S. al-A’râf [7]: 137).
Begitu pula janji Allah swt. yaitu bersama mereka sebagaimana firman-Nya:
ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻥِﺇ ﺍﻭﺮِﺒﺻﺍﻭ
ﻦﻳِﺮِﺑﺎﺼﻟﺍ ﻊﻣ
Artinya: Bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (Q.S.
al-Anfâl [8]: 46)
Janji pertolongan bagi yang sabar sebagaimana firman-Nya:
ﻢُﻛﺩِﺪﻤﻳ ﺍَﺬﻫ ﻢِﻫِﺭﻮَﻓ ﻦِﻣ ﻢُﻛﻮُﺗْﺄﻳﻭ ﺍﻮُﻘﱠﺘَﺗﻭ ﺍﻭﺮِﺒﺼَﺗ ﻥِﺇ ﻰَﻠﺑ
ِﺔَﻜِﺋﺎَﻠﻤْﻟﺍ ﻦِﻣ ٍﻑﺎَﻟﺍﺀ ِﺔﺴﻤَﺨِﺑ ﻢُﻜﺑﺭ
ﲔِﻣﻮﺴﻣ
Artinya: ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka datang
menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.” (Q.S. Ali ‘Imrân [3]: 125).5
5
Begitu pula hubungan hijrah dengan beberapa bentuk lain tentang cobaan yang membutuhkan jiwa sabar dalam menghadapinya, sebagaimana firman Allah swt.:
َﺫ ﻦِﻣ ﻢُﻜﻨِﻣ ٍﻞِﻣﺎﻋ َﻞﻤﻋ ﻊﻴِﺿُﺃ ﺎَﻟ ﻲﱢﻧَﺃ ﻢﻬﺑﺭ ﻢﻬَﻟ ﺏﺎﺠَﺘﺳﺎَﻓ
ﻦﻳِﺬﱠﻟﺎَﻓ ٍﺾﻌﺑ ﻦِﻣ ﻢُﻜُﻀﻌﺑ ﻰَﺜْﻧُﺃ ﻭَﺃ ٍﺮَﻛ
ﻢِﻬِﺗﺎَﺌﻴﺳ ﻢﻬﻨﻋ ﻥﺮﱢﻔَﻛُﺄَﻟ ﺍﻮُﻠِﺘُﻗﻭ ﺍﻮُﻠَﺗﺎَﻗﻭ ﻲِﻠﻴِﺒﺳ ﻲِﻓ ﺍﻭُﺫﻭُﺃﻭ ﻢِﻫِﺭﺎﻳِﺩ ﻦِﻣ ﺍﻮﺟِﺮﺧُﺃﻭ ﺍﻭﺮﺟﺎﻫ
ﻦِﻣ ﺎﺑﺍﻮَﺛ ﺭﺎﻬْﻧَﺄْﻟﺍ ﺎﻬِﺘﺤَﺗ ﻦِﻣ ﻱِﺮﺠَﺗ ٍﺕﺎﻨﺟ ﻢﻬﻨَﻠِﺧﺩُﺄَﻟﻭ
ِﺏﺍﻮﱠﺜﻟﺍ ﻦﺴﺣ ﻩﺪﻨِﻋ ﻪﱠﻠﻟﺍﻭ ِﻪﱠﻠﻟﺍ ِﺪﻨِﻋ
Artinya: Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." (Q.S. Âli ‘Imrân [3]: 195)
Ibn Abbas mengatakan bahwa kalimat fa al-ladzîna hâjaru yaitu hijrah
setelah hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah.6 Syaikh Muhammad Rasyid Ridha
mengemukakan tentang kandungan ayat ini bahwa beginilah Allah swt. menyebutkan sifat orang-orang beriman, mempertahankan keimanan dan keyakinannya dengan cara hijrah kepada Allah walaupun berhadapan dengan berbagai tekanan dan intimidasi, mereka konsisten mempertahankan serta memperjuangkan dengan penuh kesabaran
6 Fairuzâbâdi, Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs, (Cairo: al-Maktab al-Tijâri al-Kubrâ, t.th), h. 63.
bahwa kalimah Allah maha tinggi, sedangkan kalimah bathil adalah yang paling
rendah.7
Menegakkan kalimah Allah sebagai yang paling tertinggi sedangkan kalimah bathil adalah terendah. Untuk sampai kepada tujuan yang sesungguhnya sangatlah susah dan membutuhkan kesabaran. Adapun sabar merupakan ketetapan tuhan yang tidak akan mungkin dapat mewujud kecuali atas ridha-Nya. Firman Allah:
ِﺒﺻﺍﻭ
ﻥﻭﺮُﻜﻤﻳ ﺎﻤِﻣ ٍﻖﻴَﺿ ﻲِﻓ ﻚَﺗ ﺎَﻟﻭ ﻢِﻬﻴَﻠﻋ ﻥﺰﺤَﺗ ﺎَﻟﻭ ِﻪﱠﻠﻟﺎِﺑ ﺎﱠﻟِﺇ َﻙﺮﺒﺻ ﺎﻣﻭ ﺮ
Artinya: Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan
pertolongan Allah. (Q.S. an-Nahl [16]: 127).
Allah swt. memerintahkan kepada Rasulullah saw. untuk bersabar sebagaimana kesabaran yang dimiliki oleh rasul-rasul Allah yang tergolong ulul
‘azmi dan telah berhijrah dengan penuh kesabaran menjalani ketetapan Allah atas
mereka. Firman Allah:
ِﻣ ِﻡﺰﻌْﻟﺍ ﻮُﻟﻭُﺃ ﺮﺒﺻ ﺎﻤَﻛ ﺮِﺒﺻﺎَﻓ
ﺎﱠﻟِﺇ ﺍﻮُﺜﺒْﻠﻳ ﻢَﻟ ﻥﻭﺪﻋﻮﻳ ﺎﻣ ﻥﻭﺮﻳ ﻡﻮﻳ ﻢﻬﱠﻧَﺄَﻛ ﻢﻬَﻟ ْﻞِﺠﻌَﺘﺴَﺗ ﺎَﻟﻭ ِﻞﺳﺮﻟﺍ ﻦ
ﻥﻮُﻘِﺳﺎَﻔْﻟﺍ ﻡﻮَﻘْﻟﺍ ﺎﱠﻟِﺇ ﻚَﻠﻬﻳ ْﻞﻬَﻓ ٌﻍﺎَﻠﺑ ٍﺭﺎﻬَﻧﻦِﻣ ًﺔﻋﺎﺳ
Artinya: Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan
hati dan rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari dimana mereka melihat azab yang dicamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari (inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasiq. (Q.S. al-Ahqâf [46]: 35).
7
Menurut hemat penulis, sesungguhnya kesabaran merupakan modal utama dalam melakukan hijrah. Hal tersebut dipicu oleh tantangan dan hambatan yang akan dihadapi sehingga hijrah yang dilakukan tanpa didasari dengan kesabaran hanya akan melahirkan jiwa dan perilaku yang bertentangan dengan hijrah yang sesungguhnya.
Begitu juga peran hijrah dalam al-Qur’an sangat begitu besar dan signifikan.
Kitab samawi terakhir ini menjelaskan dan mengetengahkan hijrah sebagai suatu
sarana penunjang untuk sampai kepada inti gagasan dan sasaran. Dorongan al-Qur’an
terhadap jiwa sabar untuk menghadapi berbagai hal yaitu dengan cara meninggalkan sesuatu dengan cara-cara yang baik, dengan mengacu pada petunjuk Allah swt. dan tuntunan Nabi saw. Allah berfirman:
ﺎًﻠﻴِﻤﺟ ﺍﺮﺠﻫ ﻢﻫﺮﺠﻫﺍﻭ ﻥﻮُﻟﻮُﻘﻳﺎﻣ ﻰَﻠﻋ ﺮِﺒﺻﺍﻭ
ِِِ
Artinya: Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka
dengan cara yang baik.(Q.S. al-Muzzamil [73]: 10)
.
b. Peran Hijrah dalam Menanamkan Jihad
Al-Qur’an memberikan posisi yang sangat besar terhadap jihad kepada Allah
swt. Suatu keberhasilan tidak akan diraih begitu saja karena mesti melalui jenjang perjuangan dan kesungguhan. Tanpa kesungguhan tersebut segala keberhasilan yang ada di depan mata tidak akan mungkin mewujud.
Hijrah kepada Allah swt. dan Rasul-Nya merupakan bagian dari jihad. Hijrah adalah berjuang mempertahankan diri, dan keyakinanan kepada Allah swt. agar dapat lebih bebas dan konsisten dalam menjalankan ajaran agama serta dapat lebih tenang merealisasikan segala perintah Allah swt. serta meninggalkan segala larangan-Nya.
Allah swt. telah memerintahkan untuk berjihad secara sungguh-sungguh yaitu berjihad mempertahankan aqidah dan keyakinan sesuai dengan perintah agama
(syar’i) dengan cara menghadapi orang-orang kafir dengan tujuan memberikan
pertolongan terhadap agama Allah swt. Hal ini ditafsirkan oleh Rasulullah saw.
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibn Abbas ra.: “Seorang
laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan
Islam?” Rasulullah menjawab, “Menyelamatkan hatimu dari hal-hal yang tercela dan dosa kepada Allah swt. serta seorang muslim menyelamatkan lidah dan tangannya”. Lalu bertanya kembali, “Yang mana yang paling afdhol?”, Lalu Nabi
berkata, “Al-Iman”, Kemudian bertanya lagi, “Apakah yang dimaksud dengan
iman?” beliau menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul dan hari kebangkitan setelah mati”. Lantas dia pun bertanya, “Iman mana yang lebih utama?”
dijawab, “Hijrah”, Selanjutnya, “Apa yang dimaksud dengan hijrah? Dijawab,
“Berperang melawan orang-orang kafir di saat engkau bertemu”, Kemudian, “Jihad manakah yang paling utama?” Ia menjawab, “Dengan cara menumpahkan darah”.8
Lafadz jihad yang digunakan tidak terbatas pada jihad mengorbankan atau mempertahankan dengan diri, senjata atau jiwa, tetapi menghadapi orang-orang kafir yang tujuan dan sasarannya adalah untuk menegakkan panji-panji agama Allah.
Sebagaimana hadits Rasulullah saw.: “Seorang mujahid adalah orang yang
8 Ahmad Ibn Hanbal, Musnad al-Imâm Ahmad, (Cairo: Nasyr Dâr al-Ma’ârif, t.th), Juz IV, h. 114.
bersungguh-sungguh dalam mentaati Allah swt., sedangkan muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah swt”.
Posisi jihad sangatlah penting dalam al-Qur’an yang tersurat dalam beberapa
ayat. Firman Allah swt.
ﺭﻮُﻔَﻏ ﻪّﻠﻟﺍﻭ ِﻪّﻠﻟﺍ ﺖﻤﺣﺭ ﻥﻮﺟﺮﻳ ﻚِﺌَﻟﻭُﺃ ِﻪّﻠﻟﺍ ِﻞﻴِﺒﺳ ﻲِﻓ ْﺍﻭﺪﻫﺎﺟﻭ ْﺍﻭﺮﺟﺎﻫ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍﻭ ْﺍﻮﻨﻣﺁ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ ﻥِﺇ
ﻢﻴِﺣﺭ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan
berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Baqarah [2]: 217)
Dari petunjuk ayat ini, dapat dirasakan tentang signifikansi hijrah dan jihad dalam merealisasikan harapan dan sasaran bertujuan menyelamatkan aqidah dan keyakinan dari berbagai hal, sehingga agama dan keyakinan itu dapat terjaga dari berbagai kerusakan.
Syaikh Ibn ‘Asyûr mengemukakan pengulangan isim maushûl pada ayat ini
bahwa pengulangannya menandakan kedua kata tersebut memiliki kaitan makna yang besar. Lalu keduanya berdiri sendiri dalam merealisasikan harapan dan cita-cita.
Adapun isim isyârah pada ayat ini (ulâ’ika) menunjukkan harapan mereka terhadap
rahmat Allah swt. disebabkan oleh keimanan, hijrah dan jihadnya.
Tentang pengulangan penyebutan isim maushûl:wa alladzîna âmanû dan wa
alladzîna hâjarû, setiap penggunaan kalimat dalam Al-Qur`an pasti ada tujuannya.
Digunakannya alladzîna yang pertama dan kedua yaitu pada wa alladzîna hâjarû dan
mempunyai kemandirian (istiqlaliyah) sendiri-sendiri. Jadi, masing-masing mempunyai eksistensi tersendiri dan keduanya bisa mendatangkan rahmat dan
harapan (ar-rajâ’) kepada Allah swt.9
Iman al-Alûsi menyebutkan bahwa penyebutannya dikarenakan memiliki
tujuan dan sasaran yang sama (al-murâdu minha wâhid) yang intinya bertujuan
menampakkan kebesaran dan keagungan-Nya sehingga seakan-akan merupakan
syarat mendapatkan keimanan yang benar.10
Iman, hijrah dan jihad tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam al-Marâghî bahwa seorang mukmin yang memiliki keimanan yang benar (di masa Rasulullah saw. hidup) mereka itu orang yang beriman dan hijrah bersama Rasulullah saw, berhijrah guna menegakkan dan menolong agama Allah dan menegakkan kalimat Allah serta mengarahkan seluruh kemampuannya guna melawan dan menentang kaum kafir dan demi mempertahankan keimanan
kepada Allah swt.11
Al-Qur’an memberikan pemilahan terhadap orang-orang yang beriman dan
ikut serta dalam hijrah dan orang beriman yang tidak turut berhijrah. Terhadap yang pertama, yaitu orang yang beriman dan berhijrah. Mereka telah melalui perjuangan yang besar untuk berhijrah, berusaha memberikan yang terbaik dan menolong agama
Allah. Mereka itulah para Muhajirun dan di tengah–tengah mereka terdapat
orang-orang yang mau memberikan bantuan ketika mereka dalam kesusahan yaitu kaum
9
Muhammad Thahir Ibn ‘Asyur, At-Tahrir wa at-Tanwîr, Juz II, h. 338.
10 Al-Alusi, Ruh al-Ma’ânî, Juz II, h. 111.
11
Anshar. Mereka memberikan hak perwalian terhadapnya dan saling mewarisi, mempererat hak kekerabatan sampai datangnya ayat Allah yang menasakh (menghapus hukumnya berganti dengan hak kekerabatan). Lain halnya dengan posisi yang kedua yaitu mereka yang sama sekali tidak memiliki keistimewaan serta derajat
di sisi Allah swt.12
Ayat hijrah dan jihad yang kedua yaitu mengetengahkan seputar derajat orang-orang Muhajirin dan Muhajidin, sebagaimana firman Allah:
ِﻪّﻠﻟﺍ ﺪﻨِﻋ ًﺔﺟﺭﺩ ﻢَﻈﻋَﺃ ﻢِﻬِﺴُﻔﻧَﺃﻭ ﻢِﻬِﻟﺍﻮﻣَﺄِﺑ ِﻪّﻠﻟﺍ ِﻞﻴِﺒﺳ ﻲِﻓ ْﺍﻭﺪﻫﺎﺟﻭ ْﺍﻭﺮﺟﺎﻫﻭ ْﺍﻮﻨﻣﺁ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ
ﻥﻭﺰِﺋﺎَﻔْﻟﺍ ﻢﻫ ﻚِﺌَﻟﻭُﺃﻭ
Artinya: Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah
dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. at-Taubah [9]: 20)
Janji dari Allah swt. kepada orang-orang yang berhijrah meninggalkan segala kesenangan dunia demi mempertahankan aqidah dan keyakinannya serta orang-orang yang berjihad dengan sebenar-benarnya akan mendapatkan kemenangan di sisi-Nya.
Menurut hemat penulis, janji Allah swt. yang ditegaskan pada ayat ini adalah benar, yaitu mereka dapat merealisasikan hijrah dan jihad tersebut sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Allah swt. tidak akan pernah menyalahi janji-Nya dan ketetapan-Nya tak satu pun yang dapat menolaknya. Jaminan kemenangan dunia dan akhirat serta derajat yang paling tinggi di sisi-Nya akan diraih oleh orang-orang yang berhijrah dan berjihad.
12
Ketika Allah mensifati kaum Muhajirin dengan kemenangan, maka jelaslah
bahwa al-Qur’an memberikan perhatian penuh terhadap persoalan ini. Apalagi
seluruh manusia menginginkan kehidupan seluruhnya berada dalam kemenangan dan keberuntungan. Manusia tidak mengetahui cara menemukan kebahagiaan dan keberuntungan itu ataukah mereka telah sampai keberuntunga, akan tetapi bukan keberuntungan yang hakiki. Adapun yang akan mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan yang sesungguhnya serta derajat yang paling besar di sisi-Nya adalah orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah swt.
c. Peran Hijrah dalam Mengikuti Perintah Rasulullah
Mengikuti perintah Rasulullah adalah hal yang mutlak dan wajib dilaksanakan sebab tidak ada arti ibadah yang dilakukan tanpa mengikuti tuntunan-Nya. Begitupula hijrah yang dilaksanakan oleh para sahabat dari Mekkah ke Madinah harus melalui tuntunan dan ajaran dari Rasulullah saw.
Di dalam al-Qur’an, hijrah memiliki peran dan tempat yang besar. Allah swt.
memberikan sifat kepada orang-orang Muhajirin dan Anshar bahwa mereka itulah orang yang telah membuktikan keyakinannya dengan ikut serta berhijrah dan memberikan pertolongan serta mengikuti langkah-langkah Rasulullah. Allah swt. berfirman:
ﺩﺎَﻛ ﺎﻣ ِﺪﻌﺑ ﻦِﻣ ِﺓﺮﺴﻌْﻟﺍ ِﺔﻋﺎﺳ ﻲِﻓ ﻩﻮﻌﺒﱠﺗﺍ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ ِﺭﺎﺼﻧَﻷﺍﻭ ﻦﻳِﺮِﺟﺎﻬﻤْﻟﺍﻭ ﻲِﺒﻨﻟﺍ ﻰَﻠﻋ ﺍ ﺏﺎﱠﺗ ﺪَﻘَﻟ
ﻢﻴِﺣﺭ ﻑﻭﺅﺭ ﻢِﻬِﺑ ﻪﱠﻧِﺇ ﻢِﻬﻴَﻠﻋ ﺏﺎَﺗ ﻢُﺛ ﻢﻬﻨﻣ ٍﻖﻳِﺮَﻓ ﺏﻮُﻠُﻗ ُﻎﻳِﺰﻳ
ِ
Artinya: Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah
menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. (Q.S. at-Taubah [9]: 117).
Imam al-Râzi mengatakan bahwa Allah swt. menggabungkan penyebutan Rasullah saw. bersama dengan penyebutan mereka (Muhajirin dan Anshar) mengindikasikan bahwa mereka memiliki derajat dan tingkatan yang besar dalam agama. Mereka telah sampai kepada satu titik yang sangat mereka harapkan disebabkan mereka mengikuti Rasulullah dalam berbagai hal. Selain itu, mereka disandingkan dengan Rasulullah dalam hal (keistimewaan dari Allah) yaitu
diterimanya taubat-taubat mereka.13
Mengikuti perintah Rasulullah adalah menunjukkan hakikat keimanan, hakikat dari agama, yang mampu memilah antara iman dan kufur. Ini juga merupakan bukti kecintaan kepada Allah swt. yang bukan hanya dengan ucapan lidah atau dengan bisikan hati, tetapi harus diiringi dengan kecintaan kepada Rasulullah saw.
dengan menjalankan petunjuknya yang terealisasikan dalam manhaj kehidupan.
Alasannya, iman itu bukanlah ucapan belaka dan bukan pula suatu rasa yang menggelora serta hanya perasaan yang muncul, akan tetapi keimanan itu adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan segala petunjuk-Nya. Allah berfirman:
ﻢﻴِﺣﺭ ﺭﻮُﻔَﻏ ﻪﱠﻠﻟﺍﻭ ﻢُﻜﺑﻮُﻧُﺫ ﻢُﻜَﻟ ﺮِﻔْﻐﻳﻭ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻢُﻜﺒِﺒﺤﻳ ﻲِﻧﻮﻌِﺒﱠﺗﺎَﻓﻪﱠﻠﻟﺍ ﻥﻮﺒِﺤُﺗ ﻢُﺘﻨُﻛ ﻥِﺇ ْﻞُﻗ
Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya, Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. ”Allah maha pengampun lagi maha penyayang.(Q.S. Âli Imran [3]: 31).
Menurut Imam Ibn Katsir, ayat ini menetapkan seluruh orang yang cinta
kepada Allah bukan atas dasar tharîqah Muhammadiyyah. Mereka telah mendustakan
13
dirinya sampai ia cinta kepada Allah melalui ajaran dari Rasulullah pada seluruh perkataan dan perbuatan sebagaimana yang ditetapkan Nabi dalam sabdanya:
ﻪﻴﻠﻋ ﺲﻴﻟ ﻼﻤﻋ ﻞﻤﻋ ﻦﻣ
ﺩﺭ ﻮﻬﻓ ﺎﻧﺮﻣﺃ
Artinya: Barang siapa yang melakukan suatu perbuatan bukan melalui petunjukku,
maka tertolak.14
Pada ayat selanjutnya, Allah swt. mengisyaratkan dengan mengatakan (qul
athî’u Allah wa ar-rasûl fa in tawallaytum). Maksudnya, taatilah Allah dan rasul-Nya dengan sepenuh hati, janganlah menyalahi segala perintah-Nya. Allah swt. tidak menyukai golongan yang menyalahi perintah Allah (yaitu orang-orang kafir) karena
thariqah al-kufr (jalur kekufuran) itu merupakan jalan orang-orang yang menyalahi, sedangkan barang siapa yang diberikan sifat itu, maka ia telah menyia-nyiakan dirinya serta membuat kerusakan pada dirinya dan jauh dari cinta kepada Allah dan
rasul-Nya.15 Ia akan mendapatkan kebinasaan dan kesengsaraan di dunia maupun di
akhirat.
Para Muhajirin dan Anshar merupakan hamba yang membuktikan kecintaannya kepada Rasulullah saw. dengan rela berkorban meninggalkan harta dan segala kesenangan dunia demi apa yang diinginkan oleh Rasulullah saw. Selain itu, kecintaannya juga terbukti melalui perkataan, perbuatan walaupun dalam waktu sesulit apapun mereka tetap melaksanakan dan mengamalkan ajaran Rasulullah saw. Hal ini membuktikan bahwa mereka itulah orang-orang yang layak mendapatkan derajat yang besar dan taubat yang diterima oleh Allah swt.