• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Persepsi Karyawan Terhadap Peranan Auditor Internal

3. Peran Katalisator

Peran auditor internal sebagai katalisator dikelompokkan pada nomor 17-24. Peran auditor internal sebagai katalisator menggambarkan bahwa auditor internal di masa mendatang dimungkinkan untuk ikut berperan dalam menentukan tujuan perusahaan. Peran sebagai katalisator berkaitan dengan quality assurance sehinnga auditor internal diharapkan dapat membimbing manajemen dalam mengenali risiko-risko yang mengancam pencapaian tujuan organisasi. Quality assurance bertujuan untuk meyakinkan bahwa proses bisnis yang dijalankan telah menghasilkan produk/jasa yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Dalam peran katalisator, auditor internal bertindak sebagai fasilitator dan

agent of change. Pengaruh yang paling kuat dari peran katalisator bersifat

jangka panjang, terutama berkaitan dengan tujuan organisasi yang dapat memenuhi kepuasan pelanggan dan pemegang sahamHasil pengumpulan pendapat karyawan mengenai peran auditor internal sebagai konsultan

Tabel 16: Hasil Tanggapan Karyawan Terhadap Peran Auditor Internal Sebagai Katalisator

No. Hasil Tanggapan Karyawan Terhadap Peran Auditor Internal Sebagai Katalisator Jumlah Responden STS % TS % S % SS % 17 3 8,1 23 62,2 5 13,5 6 16,2 37 18 3 8,1 2 5,4 25 67,6 7 18,9 37 19 9 24,3 15 40,5 10 27 3 8,1 37 20 3 8,1 3 8,1 23 62,2 8 21,6 37 21 4 10,8 25 67,6 5 13,5 3 8,1 37 22 5 13,5 4 10,8 24 64,9 4 10,8 37 23 5 13,5 20 54,1 5 13,5 7 18,9 37 24 3 8,1 3 8,1 19 51,4 12 32,4 37 Total 35 95 116 50 296

Sumber: Data Primer Diolah

Keterangan:

STS : Sangat Tidak Setuju TS : Tidak Setuju

S : Setuju

SS : Sangat Setuju

Tabel diatas menunjukkan bahwa pada pernyataan nomor 17 sebanyak 3 orang atau 8,1% menjawab sangat tidak setuju, 23 orang atau 62,2% menjawab tidak setuju, 5 orang atau 13,5% menjawab setuju, dan 6 orang atau 16,2% yang menjawab sangat setuju terhadap pernyataan bahwa internal audit tidak mempunyai kewenangan untuk mengarahkan pelaksanaan kualitas manajemen agar sesuai dengan program dan tujuan rumah sakit. Pernyataan nomor 18 sebanyak 3 orang atau 8,1% menjawab sangat tidak setuju, 2 orang atau 5,4% menjawab tidak setuju, 25 orang atau 67,6% menjawab setuju, dan 7 orang atau 18,9% yang menjawab sangat setuju terhadap pernyataan bahwa internal audit memberikan penilaian dan usaha untuk meningkatkan kinerja rumah sakit dengan memberikan layanan kesehatan yang sebaik-baiknya kepada

semua pihak. Pernyataan nomor 19 sebanyak 9 orang atau 24,3% menjawab sangat tidak setuju, 15 orang atau 40,5% menjawab tidak setuju, 10 orang atau 27% menjawab setuju, dan 3 orang atau 8,1% yang menjawab sangat setuju terhadap pernyataan bahwa Internal Audit tidak dilibatkan dalam perencanaan untuk menentukan tujuan rumah sakit. Pernyataan nomor 20 sebanyak 3 orang atau 8,1% menjawab sangat tidak setuju, 3 orang atau 8,1% menjawab tidak setuju, 23 orang atau 62,2% menjawab setuju, dan 8 orang atau 21,6% yang menjawab sangat setuju terhadap pernyataan bahwa internal audit melakukan analisis risiko atas aktivitas operasional rumah sakit. Pernyataan nomor 21 sebanyak 4 orang atau 10,8% menjawab sangat tidak setuju, 25 orang atau 67,6% menjawab tidak setuju, 5 orang atau 13,5% menjawab setuju, dan 3 orang atau 8,1% yang menjawab sangat setuju terhadap pernyataan bahwa Internal Audit tidak memeberikan sumbangan dalam proses pengelolaan risiko dan pengendalian manajemen.

Pernyataan nomor 22 sebanyak 5 orang atau 13,5% menjawab sangat tidak setuju, 4 orang atau 10,8% menjawab tidak setuju, 24 orang atau 64,9% menjawab setuju, dan 4 orang atau 10,8% yang menjawab sangat setuju terhadap pernyataan bahwa internal audit membantu rumah sakit dalam mengidentifikasi perubahan lingkungan usaha dan persaingan dunia bisnis. Pernyataan nomor 23 sebanyak 5 orang atau 13,5% menjawab sangat tidak setuju, 20 orang atau 54,1% menjawab tidak setuju, 5 orang atau 13,5% menjawab setuju, dan 7 orang atau 18,9%

yang menjawab sangat setuju terhadap pernyataan bahwa Internal audit tidak melakukan analisa risiko terhadap pesaing yang potensial untuk merekomendasikan kepada pihak manajemen. Pernyataan nomor 24 sebanyak 3 orang atau 8,1% menjawab sangat tidak setuju, 3 orang atau 8,1% menjawab tidak setuju, 19 orang atau 51,4% menjawab setuju, dan 12 orang atau 32,4% yang menjawab sangat setuju terhadap pernyataan bahwa Internal Audit menganalisa masukan (feedback) dari pihak yang diaudit dan memberikan tanggapan yang positif terhadap masukan tersebut. Total pernyataan dengan jawaban sangat tidak setuju mendapat 35 tanggapan, 95 tanggapan untuk jawaban tidak setuju, 116 tanggapan untuk jawaban setuju, dan 50 tanggapan untuk pernyataan sangat setuju.

Tabel 17: Hasil Persepsi Karyawan Tentang Peranan Auditor Internal Tanggapan Bobot (1) Pengawas (2) Nilai (3) Konsultan (4) Nilai (5) Katalisator (6) Nilai (7) STS 1 41 41 23 23 35 35 TS 2 86 172 60 120 95 190 S 3 113 339 137 411 116 348 SS 4 56 224 76 304 50 200 Total 296 776 296 858 296 773

Sumber: Data Primer Diolah

Keterangan:

STS : Sangat tidak setuju

TS : Tidak setuju

S : Setuju

SS : Sangat setuju

Kolom (3) : Kolom bobot (1) x Kolom Pengawas (2) Kolom (5) : Kolom bobot (1) x Kolom Konsultan (4) Kolom (7) : Kolom bobot (1) x Kolom Katalisator (6)

Tabel 18: Hasil Ranking Persepsi Karyawan Tentang Peranan Auditor Internal

PIA (1)

Jumlah Nilai Total Setuju dan Sangat Setuju(2) Persentase (3) Ranking PIA (4) Nilai Rata- Rata Per Item (5) Pengawas 563 72.6% II 2.62 Konsultan 715 83.3% I 2.90 Katalisator 548 70.9% III 2.61

Sumber: Data Primer Diolah

Keterangan:

Kolom Persentase (3) : Kolom Jumlah Nilai Total Setuju dan Sangat Setuju (2)/2407 x 100%

Kolom Persentase (5) : Kolom Jumlah Nilai Peran Internal Auditor/8/37

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat karyawan yang setuju dan sangat setuju dengan peran auditor internal sebagai konsultan mendapat nilai tertinggi dengan 715 atau sebesar 72.6%. Nilai rata-rata per item pada peran auditor internal sebagai konsultan adalah 2.90 yang menunjukkan bahwa karyawan setuju dengan peran auditor internal sebagai konsultan karena nilainya mendekati 3 dari skala 1 smpai 4 yang berarti setuju. Ranking kedua adalah peran auditor internal sebagai pengawas dengan nilai 563 atau sebesar 72.6%. Nilai rata-rata per item pada peran auditor internal sebagai pengawas adalah 2.62 yang menunjukkan bahwa karyawan masih ragu-ragu dan belum bisa mengambil sikap serta menentukan peran auditor internal sebagai pengawas karena nilainya mendekati 2.5 dimana nilai tersebut merupakan titik tengah dari skala 1 smpai 4 yang berarti ragu-ragu. Dan di ranking ketiga peran auditor internal sebagai katalisator dengan nilai 548 atau sebesar 70.9%. Nilai rata-rata per item pada peran auditor

internal sebagai katalisator adalah 2.61 yang menunjukkan bahwa karyawan masih ragu-ragu dan belum bisa mengambil sikap serta menentukan peran auditor internal sebagai katalisator karena nilainya mendekati 2.5 dimana nilai tersebut merupakan titik tengah dari skala 1 smpai 4 yang berarti ragu-ragu. Pernyataan dari setiap peran auditor internal berjumlah 8 pernyataan untuk masing-masing peran dan total responden yang sama, yaitu 37 responden. Dengan melihat tabel 17 dan 18, maka dapat diketahui bahwa peranan auditor internal menurut persepsi karyawan adalah sebagai konsultan yang menunjukkan bahwa auditor internal membantu satuan kerja operasional, mengelola risiko dengan mengidentifikasi masalah dan menyarankan perbaikan yang memberi nilai tambah untuk memperkuat organisasi.

D. Pembahasan

Fungsi audit internal yang semakin berkembang, membawa pergeseran paradigma dari para pemakainya. Pada paradigma lama tentang peran auditor internal yaitu berfokus pada ditemukannya penyimpangan yang perlu dikoreksi serta lebih banyak dilakukan pemeriksaan pada tingkat kepatuhan para pelaksana pada ketentuan yang telah ditetapkan. Peran auditor internal sebagai pengawas sering dianggap sebagai pihak pencari kesalahan yang diutus oleh pimpinan rumah sakit. Seiring dengan berjalannya waktu, paradigma lama tentang peranan auditor internal mengalami pergeseran ke paradigma baru yang awalnya auditor internal berperan sebagai pengawas, kini beralih menjadi auditor

internal yang berperan sebagai konsultan dan diprediksikan di masa mendatang auditor internal berperan sebagai katalisator. Dengan peran sebagai konsultan, auditor internal lebih berfungsi sebagai mitra bagi klien yang merupakan bentuk pelayanan pada rumah sakit dalam rangka mencapai tujuan. Sedangkan di masa mendatang dimungkinkan auditor internal berperan sebagai katalisator yang akan ikut andil dalam menentukan tujuan rumah sakit.

Hasil dari persepsi karyawan tentang peran auditor internal di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro yang paling dominan dirasakan oelh karyawan yang bekerja pada bagian perencanaan dan anggaran, bagian akuntansi, bagian farmasi, bagian unit layanan pengadaan, dan bagian penunjang dan sarana adalah peran auditor internal sebagai konsultan yang menempati rangking I. Peran auditor internal sebagai konsultan, ketika dunia usaha mulai menyadari bahwa semua mengandung risiko, mulailah muncul kebutuhan untuk menerapkan audit internal berbasis risiko (risk based internal auditing). Sesuai definisi baru, kegiatan audit internal bertujuan untuk memberikan layanan kepada organisasi. Peran konsultan bukan hanya sebagai pemeriksa, tetapi juga sekaligus berfungsi sebagai mitra manajemen. Auditor internal berperan sebagai konsultan juga mempunyai tugas memberikan masukan berbagai masalah yang berhubungan dengan pengelolaan berbagai sumber daya yang terdapat dalam sebuah organisasi. Fokus utama auditor internal sebagai konsultan adalah membantu satuan kerja operasional, mengelola risiko dengan

mengidentifikasi masalah dan menyarankan perbaikan yang memberi nilai tambah untuk memperkuat organisasi.

Persepsi karyawan RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten yang menyatakan setuju dengan peran auditor internal sebagai konsultan menggambarkan bahwa auditor internal berfungsi baik sebagai mitra manajemen yang membantu satuan kerja operasional, mengelola risiko dengan mengidentifikasi masalah pada setiap bagian dan menyarankan perbaikan yang memberi nilai tambah untuk memperkuat organisasi. Jurnal yang ditulis oleh Denis Priantinah dan Megasari Chitra Adhisty (2012) menyebutkan bahwa peran auditor internal dalam pelaksanaan prosedur operasional pengadaan obat dan alat kesehatan lebih cenderung pada tindakan korektif pada karyawan, yang kemudian diikuti tindakan auditor internal sebagai konsultan lainnya seperti memberi jasa konsultasi dan memberikan kontribusi bagi rumah sakit, mengevaluasi kesesuaian aktivitas dengan hukum, regulasi, dan standar yang berlaku, menganalisis kecukupan dan efektivitas pengendalian yang berlaku, mengevaluasi perbaikan aktivitas yang berkesinambungan, dan mengevaluasi program dan kegiatan operasi apakah telah berfungsi sebagaimana mestinya dan memberikan hasil yang sesuai. Kecenderungan persepsi karyawan pada tindakan itu menunjukkan bahwa peran auditor internal sebagai konsultan dalam pelaksanaan prosedur operasional pengadaan obat dan alat kesehatan lebih pada pihak yang memberikan tindakan korektif yang tercermin dari rekomendasi yang diberikan. Didukung dengan teori

paradigma baru dalam Tampubolon (2005: 2) bahwa kegiatan audit internal bertujuan untuk memberikan layanan kepada organisasi. Peran konsultan bukan hanya sebagai pemeriksa, tetapi juga sekaligus berfungsi sebagai mitra manajemen. Auditor internal berperan sebagai konsultan juga mempunyai tugas memberikan masukan berbagai masalah yang berhubungan dengan pengelolaan berbagai sumber daya yang terdapat dalam sebuah organisasi. Fokus utama auditor internal sebagai konsultan adalah membantu satuan kerja operasional, mengelola risiko dengan mengidentifikasi masalah dan menyarankan perbaikan yang memberi nilai tambah untuk memperkuat organisasi. Rekomendasi dan saran yang diberikan lebih bersifat jangka menengah. Sesuai dengan redefinisi IAI pada tahun 1999 tentang peran audit internal menyatakan akan lebih efektif dan memberi nilai tambah bagi perusahaan jika auditor internal suatu perusahaan merancang aktivitas konsultasi, yang dimana aktivitas ini terkait dengan peran auditor internal sebagai konsultan.

Peran auditor internal sebagai pengawas mendapat rangking II. Persepsi karyawan RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten yang menyatakan setuju dengan peran auditor internal sebagai pengawas menggambarkan bahwa peran auditor tersebut masih dibutuhkan untuk mengevaluasi dan melihat apakah prosedur pelaksanaan prosedur operasional pengadaan obat dan alat kesehatan telah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh manajemen. Auditor internal berfokus pada audit kepatuhan dengan melihat kesesuaian aktivitas

dengan peraturan yang berlaku. Namun peran auditor internal sebagai pengawas juga dapat berimbas pada kenyamanan karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya. Jurnal yang ditulis oleh Denis Priantinah dan Megasari Chitra Adhisty (2012) menyebutkan bahwa peran auditor internal sebagai pengawas lebih cenderung pada tindakan auditor internal yang melakukan inspeksi dan pengawasan terhadap kepatuhan karyawan pada peraturan dan kebijakan yang ditetapkan, yang kemudian diikuti tindakan auditor internal sebagai pengawaslainnya seperti mencocokkan data transaksi dengan bukti-bukti, melakukan penghitungan ulang terhadap catatan angka-angka dan transaksi-transaksi yang terdapat dalam laporan keuangan, memeriksa fisik kas yang diterima dengan bukti penerimaan, dan melakukan penghitungan fisik terhadap uang kas. Didukung dengan teori paradigma lama dalam Tampubolon (2005: 1-2) yang menyatakan bahwa auditor internal sebagai pengawas lebih berperan sebagai mata dan telinga manajemen, karena manajemen membutuhkan kepastian bahwa kebijakan yang telah ditetapkan akan dilaksanakan oleh karyawan. Terkait dengan saran dan rekomendasi yang diberikan oleh auditor internal sebagai pengawas lebih bersifat jangka pendek dalam membantu pencapaian tujuan perusahaan.

Peran auditor internal sebagai katalisator mendapat rangking III. Peran auditor internal sebagai katalisator yang menduduki peringkat terakhir ini menunjukkan bahwa menurut persepsi karyawan peran ini merupakan peran yang paling sedikit dijalankan oleh auditor internal

RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dalam membantu pelaksanaan prosedur pengadaan obat dan alat kesehatan, walaupun perbedaannya dengan peran sebagai konsultan yang menempati peringkat I dan Peran sebagai pengawas yang menempati peringkat II tidak terlalu berbeda jauh. Persepsi ini timbul selain karena karyawan menganggap peran auditor internal yang paling dominan adalah sebagai konsultan atau mitra manajemen, tetapi juga karena auditor internal belum ikut berperan dalam menentukan tujuan rumah sakit di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Sesuai dengan teori dalam Harry Andrian Simbolon (2010: 1) yang menyatakan bahwa peran sebagai katalisator berkaitan dengan

quality assurance sehinnga auditor internal diharapkan dapat

membimbing manajemen dalam mengenali risiko-risko yang mengancam pencapaian tujuan organisasi. Quality assurance bertujuan untuk meyakinkan bahwa proses bisnis yang dijalankan telah menghasilkan produk/jasa yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Dalam peran katalisator, auditor internal bertindak sebagai fasilitator dan agent of

change. Auditor internal sebagai katalisator terlibat aktif dalam

melakukan penilaian risiko yang terdapat dalam proses bisnis perusahaan. Oleh karena itu diperlukan sikap proaktif dari pihak auditor internal dalam mengenali risiko-risiko yang dihadapi atau mungkin dihadapi manajemen dalam pencapaian tujuan perusahaan. Peran katalisator yang dijalankan auditor internal tidak saja terbatas pada tindakan perbaikan dan memberikan nasihat tetapi juga mencakup dalam system design and

development, review terhadap kompetensi sumberdaya manusia dalam

suatu fungsi organisasi, keterlibatan dalam penyusunan corporate

planning, evaluasi kinerja, budgeting, strategy formulation dan usulan

perubahan strategi. Rekomendasi dan saran yang diberikan lebih bersifat jangka panjang.

BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Peran auditor internal pada RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten menurut karyawan yang berkerja pada bagian perencanaan dan anggaran, bagian akuntansi, bagian farmasi, bagian unit layanan pengadaan, dan bagian penunjang dan sarana adalah sebagai konsultan dengan jumlah nilai total 715 atau nilai rata-rata per item 2,90, lebih besar daripada 2 peran lainnya yaitu peran sebagai pengawas dengan jumlah nilai total 563 atau nilai rata-rata per item 2,62 mendapat peringkat kedua dan peran sebagai katalisator dengan jumlah nilai total 548 atau nilai rata-rata per item 2,61 mendapat peringkat ketiga.

Dokumen terkait