DAN LINGKUNGAN (B3)
PERAN KELEMBAGAAN DALAM PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT
(Institutional Role in the Development of Community Forests in Bogor District)
Hardjanto, Yulius Hero, Sri Rahaju Dep. Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB
ABSTRAK
Hutan rakyat sejak lama memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan kayu masyarakat pedesaan di Pulau Jawa, sebesar 70% dari kebutuhan kayu masyarakat di Pulau Jawa dipenuhi dari kayu yang berasal dari hutan rakyat. Bogor Barat merupakan wilayah potensial pengembangan hutan rakyat di Kabupaten Bogor. Perkembangan usaha hutan rakyat juga diikuti dengan perkembangan berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders) terhadap pengelolaan hutan rakyat dengan berbagai bentuk perilaku (behavior) dan kepentingannya masing-masing. Tujuan penelitian, meliputi: menganalisis para pihak (stakeholders) yang terlibat dan perannya serta menganalisis perilaku (behavior) para pihak yang terlibat (stakeholders) dengan kepentingan dan kekuasaannya serta stakeholders dominan dalam pengembangan hutan rakyat di Bogor Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan pendekatan kelembagaan adalah menggunakan pendekatan Situation-Structure-Behavior-Performance. Hasil penelitian menunjukkan ada 17 pelaku (stakeholders) yang berhubungan dengan pengembangan hutan rakyat di wilayah Bogor Barat. Analisis perilaku (behavior) menunjukkan bahwa sebagian besar petani pemilik hutan rakyat (di luar kelompok tani) menilai baik/setuju (Persepsi), memutuskan mau terlibat/setuju (Sikap) dan akan mewujudkan tindakan/ setuju (Tindakan) terhadap pengembangan hutan rakyat dalam bentuk Kelompok Tani. Stakeholders Key Players, meliputi: petani pemilik, petani penggarap (lahan milik luar desa), pedagang perantara, dan industri rental. Sementara Context Setters adalah Peme-rintah Desa. Hasil analisis jalur (path analysis) menunjukkan bahwa stakeholder dominan di Kecamatan Leuwiliang adalah industri rental, sementara di Kecamatan Rumpin adalah pedagang perantara. Hal ini berhubungan dengan akses petani pemilik hutan rakyat ke industri rental. Secara keseluruhan, petani pemilik lebih suka menjual hasil kayunya kepada industri rental.
Kata kunci: hutan rakyat, kelembagaan, kemitraan, perilaku. ABSTRACT
The community forest business growth is also followed by several important stakeholders growth on community forest management with stakeholders various behavior and interest. Research objectives cover analyzing involved stakeholders and their roles, analyzing the behavior of involved stakeholders with their interest and power, and dominant stakeholders in the development of local forest in West Bogor. The method used in this research is based on organizational approach with Situation-Structure-Behavior-Performance approach. Research result shows there are 17 stakeholders who are related to the development of community forest in West Bogor area. The behavior analysis suggests that most of the farmers who own community forest (outside the farmer’s group) agreed (Perception) and will realize actions/agree (Action) on the development of community forest in the Farmers Group. Stakeholders Key Players include owner farmers, tenant farmers (land owned by external villages), a local trader and rental industry. Whereas Connect Setters are the Village Government. Path analysis shows that dominant stakeholders in Leuwiliang are rental industries, whereas in Rumpin
are the local trader. This is related to the access of community forests’ owner farmers to the rental industries. Overall, owner farmers prefer to sell their woods to the rental industries.
Keywords: behavior, community forest, organization, stakeholders.
PENDAHULUAN
Hasil penelitian Hardjanto et al. (2003) menunjukkan bahwa hutan rakyat telah memberikan peran penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat di Pulau Jawa. Hutan rakyat sejak lama memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan kayu masyarakat pedesaan di Pulau Jawa, di mana 70% dari kebutuhan kayu masyarakat di Pulau Jawa dipenuhi dari kayu yang berasal dari hutan rakyat.
Kabupaten Bogor merupakan wilayah potensial pengembangan hutan rakyat dan sentra industri kecil pengolahan kayu rakyat. Data Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor tahun 2009 mencatat luas hutan rakyat di wilayah ini sekitar 10.642,66 ha yang tersebar di 40 kecamatan. Luas hutan rakyat ini mencapai 40% dari total luas wilayah Kabupaten Bogor. Kayu yang dihasilkan dari hutan rakyat sudah mampu memenuhi seluruh kebutuhan bahan baku kayu untuk sentra industri kecil pengolahan kayu yang ada di Bogor, sehingga tidak perlu mendatangkan bahan baku kayu dari luar Bogor.
Perkembangan usaha hutan rakyat juga diikuti dengan perkembangan berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders) terhadap pengelolaan hutan rakyat dengan berbagai bentuk perilaku (behavior) dan kepentingannya masing-masing. Kajian perilaku (behavior) merupakan obyek dari penelitian kelemba-gaan. Oleh karena itu, perlu kajian “Peran Kelembagaan Dalam Pengembangan Hutan Rakyat di Kabupaten Bogor” untuk memahami, mengendalikan dan mengatur perilaku (behavior) individu (orang) dan/atau kelompok orang (organisasi) melalui kebijakan (policy) agar kelembagaan hutan rakyat menjadi kuat dan mantap, sehingga orang dan/atau organisasi stakeholders dapat berperi-laku baik dan memberikan peran positif dalam pengembangan hutan rakyat di Kabupaten Bogor.
Tujuan penelitian, meliputi: Kajian para pihak (stakholders) yang terlibat dan perannya dalam pengelolaan hutan rakyat, kajian perilaku (behavior) para pihak yang terlibat (stakholders), dan masukan kebijakan berupa regulasi dan aturan main dalam pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Bogor.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan pendekatan kelembagaan adalah menggunakan pendekatan
Situation-Structure-Behavior-Performance (Schmid 1987). Penelitian “Peran Kelembagaan Dalam
Pengem-bangan Hutan Rakyat di Kabupaten Bogor” merupakan bagian dari sub sistem kelembagaan dalam sistem pengelolaan hutan rakyat. Rangkaian penelitian sub sistem produksi, pengolahan, dan pemasaran serta kelembagaan yang telah dilakukan sudah menghasilkan rekayasa sosial pengembangan usaha hutan rakyat. Penelitian unggulan sesuai mandat divisi ini diharapkan dapat memberikan bahan masukan untuk perumusan kebijakan berupa regulasi atau aturan main dalam pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Bogor.
Ruang lingkup penelitian berdasarkan pendekatan kelembagaan meng-gunakan pendekatan Situation-Structure-Behavior-Performance (Schmid 1987), meliputi: 1) Melakukan kajian para pihak (stakholders) yang terlibat dan perannya dalam pengelolaan hutan rakyat; 2) Melakukan kajian peraturan perundangan dan aturan main dalam pengelolaan hutan rakyat; 3) Melakukan kajian perilaku para pihak yang terlibat (stakholders) dalam pengelolaan hutan rakyat; dan 4) Membe-rikan bahan masukan kebijakan berupa regulasi dan aturan main dalam pengelo-laan hutan rakyat di Kabupaten Bogor.
Pendekatan penelitian ini selengkapnya disajikan dalam bentuk diagram alir pada Gambar 1.
Gambar 1 Rencana kegiatan penelitian peran kelembagaan dalam pengembangan hutan rakyat.
HASIL DAN PEMBAHASAN