KEHADIRAN FREEPORT YANG MEREPOTKAN
3.7. Peran Para Kepala Suku dan Militer
Pada saat Freeport mulai beroperasi pada 1972, suku Amungne meninggalkan tanah leluhur di gunung–yang lalu dikuasai Freeport–dan kemudian pindah ke Agimugah (Aroa, Wa, Stjinggah, Oa dan Noema). Setelah itu, pada tahun 1980-an seluruh wilayah kesatuan suku Amungme dimasukkan ke dalam wilayah Taman Nasional Lorents. Dengan kenyataan ini, suku Amungme menjadi hidup di atas tanah milik orang lain. Tentu saja mereka menjadi marah.
Untuk memuluskan ekspansi pertambangan, Freeport meminta bantuan dari pemerintah pusat untuk mengendalikan perlawanan suku Amungme. Untuk itu, rezim Orde Baru memercayakan para kepala suku untuk menjadi orang kepercayaan pemerintah, sehingga kepala suku selalu dilibatkan dalam program-program pemerintah yang berhubungan dengan keberadaan orang Amungme.
Lambat-laun, warga Amungme tidak lagi memercayai kepala suku yang diangkat pemerintah. Di mata warga suku Amungme, mereka hanya sekadar kepanjangan tangan pemerintah dan militer. Para kepala suku yang seperti itu dianggap hanya bekerja demi kepentingan Freeport, khususnya dalam merampas tanah leluhur mereka. Bahkan, para kepala suku itu sering diidentifikasi sebagai calo tanah, karena dalam setiap pelepasan tanah, warga suku tidak pernah diajak bicara. Sebelum masuknya Freeport, kepala suku diangkat secara adat oleh orang-orang Amungme agar dapat melindungi mata pencaharian mereka. Namun, sekarang untuk menjadi kepala suku harus melalui kompetisi seperti pemilihan kepala desa di Jawa. Karena kedudukan kepala suku itu diperebutkan, yang menjadi masalah adalah kepala suku yang
diangkat oleh para pejabat pemerintah bekerja untuk kepentingan Freeport bukan untuk kepentingan orang Amungme.
Selain masalah pengangkatan kepala suku, dibangunnya kota-kota baru oleh Freeport ternyata telah merusak kultur suku setempat. Kota-kota baru tersebut dibangun untuk memfasilitasi pekerja tambang. Di kota-kota itu terjadi benturan kebudayaan di mana yang satu bergaya hidup Amerika dengan McDonald dan Coca-cola-nya, sedangkan yang lainnya–suku yang akan dilenyapkan–hidup dengan taraf hidup yang sangat miskin. Paling banter, Freeport hanya memberikan minuman keras yang lambat-laun membuat orang-orang Papua menjadi pecandu minuman keras. Namun, yang lebih menyakitkan, dengan keuntungan yang semakin besar, Freeport tidak berarti banyak bagi komunitas setempat. Bahkan, tahun 1997, ribuan warga Papua tewas akibat kelaparan di bumi mereka yang kaya. Ironisnya, bencana kelaparan ini terjadi hanya setahun setelah Freeport tercatat sebagai salah satu pembayar pajak terbesar.
Kalau kita bandingkan dengan Pulau Jawa, situasinya berbeda. Di Jawa terjadi diferensiasi di kalangan petani yang tidak punya tanah sehingga mereka menjadi proletariat atau menjadi buruh tani. Tetapi, di Papua, orang-orang Amungme, Dani, Moni, Komo, Ekari, Nduga dilenyapkan atau dibasmi oleh Freeport. Sebagaimana dituturkan dengan tepat oleh Tom Beanal, peradaban yang diciptakan oleh Freeport menciptakan perubahan yang tidak menentu bagi suku Amungme, sehingga tidak jelas, suku ini berada di tingkat perubahan yang mana. Yang jelas adalah suku ini telah mengalami masa transisi yang gawat karena mereka mengalami kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Mereka frustasi dan hidup dalam kebingungan.
Pendanaan atas operasi militer di Papua sejak Freeport aktif memproduksi bijih emas dan tembaga selalu dilakukan secara tertutup. Hal itu terjadi karena pejabat militer yang bertugas di Papua dengan cepat menuduh Organisasi Papua Merdeka (OPM) jika terjadi satu gejolak sosial-politik. Maka dari itu, pemberitaan media massa pun lebih menitikberatkan pada pemberantasan OPM itu ketimbang menelusuri latar belakang dari gejolak yang terjadi.
Sekarang, ketertutupan itu mulai tersingkap dengan terbongkarnya data-data tentang hubungan antara Angkatan Darat dan Freeport. Sebenarnya, militer mulai melakukan penjagaan terhadap pabrik Freeport, setelah orang-orang Amungme dan orang-orang Papua lainnya melihat bahwa Freeport telah mendatangkan berbagai persoalan bagi mereka, terutama pada
tahun 1975, saat Gunung Bijih Timur (GBT) secara terus-menerus dieksploitasi. Sementara itu, dengan alasan January Agreement, suku Amungme yang tinggal di sekitar Timika dan Tembagapura dilarang memasuki wilayah itu. Akibatnya, warga melancarkan protes beberapa kali. Untuk menghentikan rangkaian protes itu, pada Juni 1977, TNI-AD membombardir desa Akimuga yang mengakibatkan terbunuhnya sekitar 30 orang Amungme.
Tindakan TNI-AD itu, pada 23 Juli 1977 dibalas oleh orang-orang Amungme. Mereka menghancurkan pipa-pipa Freeport dan fasilitas lainnya yang mengakibatkan kerugian sekitar enam hingga sebelas juta dolar AS. Oleh karena itu, pada Agustus 1977, sekali lagi TNI-AD membombardir desa Akimuga. Akhir dari drama pergolakan itu, Freeport menawarkan
resettlement untuk 350 keluarga Amungme ke areal Kwaki Lama di bawah program Bantuan
Presiden (BANPRES). Aneh dan penuh dengan pertanyaan, mengapa untuk melakukan
resettlement itu harus menggunakan program BANPRES, padahal yang menawarkan resettlement
adalah Freeport. Sudah tentu ada kolaborasi antara pemerintah dan Freeport. Agar tidak mencolok, Freeport memberikan sejumlah dana kepada pemerintah daerah untuk kepentingan
resettlement tersebut.12
Berdasarkan laporan Tapol Bulletin No. 63, Mei 1984, pada 1982–1983, pemerintah Indonesia mendapatkan bantuan dari lembaga donor asing sebesar 64 juta dolar AS untuk membangun jalan bebas hambatan trans-Papua. Jalan itu ternyata semata-mata dibangun untuk keperluan AD dan melindungi Freeport. Sementara itu, pemerintahan Ronald Reagan (presiden AS pada waktu itu) tahun 1983 memandang pentingnya untuk meningkatkan bantuan militer kepada rezim Suharto untuk menjaga kepentingan perusahaan-perusahaan multinasional di Indonesia, termasuk Freeport. Untuk program penjualan persenjataan kepada militer Indonesia, Reagan menyetujui untuk anggaran fiskal 1983 dengan jumlah 50 juta dolar AS atau meningkat 25% dari anggaran fiskal tahun 1982. Untuk program bantuan militer 10 juta dolar AS dan program International Military Education and Training (IMET) sejumlah 21,778 juta dolar AS (Tapol Bulletin, No. 53 September 1982).
Pada September 1983, tanah adat suku Amungme yang terletak di sebelah selatan Timika dilepas untuk keperluan pembangunan proyek transmigrasi. Pelepasan tanah ini ditandatangani
oleh pemerintah dan kepala-kepala suku Amungme. Namun demikian, pelepasan tanah adat ini diprotes oleh perempuan-perempuan Amungme dengan aksi duduk. Menanggapi hal itu, militer melakukan operasi intelijen dengan melakukan penangkapan-penangkapan terhadap beberapa pemuka Amungme yang menentang proses itu.
Sebelumnya, pada Maret 1983, Jenderal L.B. Moerdani diangkat menjadi Panglima ABRI dan sekaligus menduduki panglima KOPKAMTIB (Komandan Operasi Keamanan dan Ketertiban). Pada periode ini, Jenderal Moerdani menurunkan 100 anggota Kopassus untuk melindungi Freeport.13 Satu tahun berikutnya, untuk lebih menjaga kepentingan Freeport, Jenderal Moerdani menambah personel Kopassus dengan jumlah 200 orang lagi atas permintaan Freeport. Tujuan penambahan pasukan adalah mengejar dan memaksa orang-orang Papua yang tinggal di gunung-gunung untuk ditempatkan di Timika. Sejak itu, operasi militer terus ditingkatkan, bahkan hingga tahun 1995 pasukan Kopassus dan Kostrad jumlahnya sudah mencapai 1.600 personel dengan target untuk mengejar orang-orang Papua yang anti- Freeport. Orang-orang yang anti itu diberi cap GPK-OPM (Pasific News Bulletin, Mach 1995).
Sejak tahun 1983 itu pula, militer melakukan pemeriksaan ke desa-desa sekitar Timika untuk memonitor aktivitas orang-orang Amungme. Berdasarkan laporan Antara, 30 Desember 1996, militer mendapatkan fasilitas yang menyenangkan dari Freeport. Selain itu, selama bertugas di sana, militer juga dapat beternak buaya untuk diambil kulitnya dan dijual ke Jakarta dengan harga ratusan ribu rupiah. Bukan itu saja, gaji seorang sersan yang menjaga keamanan di Freeport bisa mencapai Rp 5000.000 per bulannya. Gaji tersebut tidak dapat diperoleh di provinsi mana pun di Indonesia.
Sementara, bagi Freeport sendiri, kehadiran militer Indonesia di Timika sangat dibutuhkan dengan alasan pertumbuhan penduduk Papua di sekitar Timika semakin pesat. Bila 30 tahun yang lalu jumlah penduduk di sekitar Timika hanya 400 orang, sekarang jumlahnya telah mencapai sekitar 60.000 orang. Orang-orang Papua yang tinggal di sekitar Freeport tanpa mendapat pengawasan dari Angkatan Darat dan polisi akan mengganggu produksi Freeport. Dikhawatirkan, mereka akan menculik staf Freeport, seperti yang pernah dialami oleh para 12
Matt Richard, “Freeport In Indonesia Reconiling Developments And Andigeneous Right,” Development Dossier, XXXVI (July 1996).
13
ilmuwan, mahasiswa, dan pencinta lingkungan tahun 1994. Walaupun menurut laporan ACFOA yang disusun sendiri oleh orang Amungme, sebenarnya kasus penculikan itu merupakan skenario militer untuk lebih mendapatkan credit point di mata Freeport dan dunia internasional, sehingga mereka memunyai alasan untuk mengintimidasi orang-orang Amungme.14
Contoh intimidasi militer terhadap orang-orang Amungme adalah perampasan dokumen mengenai dukungan dari 2000 warga berbagai suku atas gugatan yang dilakukan LEMASA terhadap Freeport tanggal 12 Agustus 1996. Dokumen tersebut berisi tanda tangan dari perwakilan suku Amungme, Dani, Moni, Nduga, Kamoro dan Ekari yang jumlahnya 2.000 tanda tangan. Tanda tangan itu menyetujui pernyataan bahwa selama ini Freeport telah merampas hak orang-orang Papua, sehingga hampir 2.000 orang tidak memunyai rumah di sekitar Timika. Dokumen tersebut akan dikirim ke pengacara Martin Reagan yang berkedudukan di New Orleans, Amerika Serikat, sebagai bukti tindakan Freeport selama ini.15
Dari gambaran di atas, jelas tidak mungkin militer mengambil tindakan sendiri, tanpa adanya permintaan dari pihak Freeport untuk merampas dokumen tersebut. Jika tidak, masalah tuntutan orang-orang Papua akan menjadi ancaman bagi Freeport dan akan tampak sekali hubungan Freeport dan militer dalam melakukan intimidasi terhadap masyarakat Papua, terutama yang tinggal di sekitar Timika.
Berdasarkan penyelidikan Robert Weisman dan Russel Mokhiber dalam Corporate Watch, Mei 1998, sejak tahun 1996 penjagaan terhadap perusahaan Freeport oleh sekitar 2.000 personel dari kesatuan Kopassus dan Kostrad langsung di bawah perintah Presiden Soeharto. Imbalannya, Freeport memberikan dana kepada Soeharto sebesar 40 juta dolar AS. Freeport mau melakukan itu agar situasi di Papua stabil dan mereka dapat mengeduk emas lebih banyak lagi demi target mendapatkan superprofit. Sebaliknya bagi pemerintah, Freeport juga dianggap sebagai proyek vital nasional yang tidak boleh diganggu oleh orang-orang Papua.
14
“Eyewitness Accounts of West papuan Resistance to the Freeport-McMoran mina in Irian Jaya, Indonesia and Indonesia military repression” Report of the Australian Council for Overseas Aid. (June 1994 – February 1995).
15
Dalam perampasan dokumen itu, terlibat petugas dari Koramil dan Kodim Timika. Menurut Yosepha Alomang (salah seorang korban kekejaman dan Freeport pada akhir 1995), hingga kini dokumen tersebut masih berada di tangan Danramil dan tidak pernah dikembalikan kepada orang-orang Papua.
Konsekuensinya, jika orang Papua mengganggu atau menuntut Freeport, aparat akan melakukan tindakan.16
Sampai di sini, dapat kita katakan bahwa hubungan Freeport dan militer yang harmonis, sebenarnya dibiayai dari perampasan tanah, intimidasi, dan darah orang Amungmne serta orang Papua lainnya. Freeport bertindak bagai raja kolonial di Papua, di mana jutaan dolar dikeluarkan dari koceknya untuk militer agar memadamkan setiap perlawanan orang-orang Papua terhadap kelancaran usahanya.
Dari semua uraian di atas, terlihat sangat jelas bahwa operasi penambangan seperti yang dilakukan Freeport merupakan sebuah contoh yang paling baik untuk melihat hubungan yang harmonis antara militer yang menindas dengan investor asing atau MNC (multinational corporation) yang ingin terus-menerus meningkatkan produksinya. Hal itu terbukti dengan dijadikannya Timika menjadi Daerah Operasi Militer (DOM) Indonesia (Suara Pembaruan, 27 Desember, 1996). Bukti lain, ketika beberapa suku Papua melancarkan protes untuk mempertahankan tanah, kesehatan lingkungan, martabat dan hak-hak asasinya yang dirampas, militer segera menindas dengan keji. Penindasan tersebut dibiayai oleh perusahaan Amerika itu. Berdasarkan penelitian Eyal Press, orang Papua yang dibunuh secara brutal oleh militer selama 10 tahun terakhir, jumlahnya sudah mencapai 150.000 orang. Semua itu bisa dilaksanakan dengan lancar karena mendapatkan fasilitas dari Freeport.17
Tom Beanal, sebagai salah seorang saksi mata atas berbagai penindasan itu berkata, “Perusahaan itu telah mengambil tanah kita. Bahkan, gunung keramat yang kita anggap sebagai ibu kami pun telah diacak-acak oleh mereka, dan mereka tidak merasa sedikit pun bersalah. Lingkungan kita sudah tinggal puing-puing dan hutan serta sungai kita telah tercemar racun. Lebih lanjut, kita tak bisa diam. Kita protes dan kita marah, tetapi kita ditangkap, dipukul, dan dimasukkan ke dalam kontainer, kita disiksa, bahkan dibunuh. (Pidato Tom Beanal, 23 Mei 19 di Unversitas Loyola).
16
Bagaimana sikap aparat keamanan bisa dilihat dari pernyataan Kepala Direktorat Samapta Polda Papua ketika pelantikan Kepala Keamanan Pos Khusus Proyek Vital Tembagapura. Ia mengatakan bahwa Freeport adalah aset besar bagi negara dan hasil produksinya pun merupakan modal yang sangat besar bagi kelanjutan pembangunan. Maka dari itu, wajib dilindungi dari macam-macam hambatan, ancaman, tantangan maupun gangguan baik dari dalam maupun dari luar. Tentu saja yang maksudnya adalah melindungi Freeport dari suku Amungme atau suku lainnya di sekitar proyek pertambangan.
17
Pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh militer Indonesia di sekitar areal pertambangan Freeport bisa terjadi karena dukungan pemerintah atas keberadaan perusahaan pertambangan yang selalu dikatakan sebagai “aset vital nasional”. Tanpa persetujuan dan perlindungan pemerintah, tentu, Freeport dan aparat keamanan di pertambangan tidak berani mengambil tindakan sejauh itu. Freeport berani melakukan semua itu karena mereka memberi berbagai bentuk upeti, baik langsung maupun tidak langsung kepada para pejabat dan kalangan pengusaha di lingkaran keluarga Soeharto.
Keterlibatan militer yang menyokong perusahaan tambang semacam itu berasal dari orientasi ekonomi rezim Orde Baru yang digariskan dalam Tap MPRS/XXXIII/ mengenai Pembaruan Kebijaksanaan, Landasan Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan. Dalam rancangan ekonomi itu, peran para perwira militer sangat besar. Ketetapan No. XXXIII itu merinci tiga tahap program ekonomi, yaitu: Pertama, tahap penyelamatan. Tahap ini mencegah kemerosotan ekonomi yang terjadi agar tidak menjadi lebih buruk. Kedua, tahap stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi, yakni mengendalikan inflasi dan memperbaiki infrastruktur ekonomi.
Ketiga, tahap pembangunan ekonomi.
Dalam bidang-bidang tersebut, aktivitas ekonomi para perwira militer tampak sangat menonjol. Hal itu dapat dilihat dari dominasi mereka pada lembaga-lembaga ekonomi, termasuk badan-badan usaha, yang berkaitan dengan bidang-bidang tersebut di atas. Sementara itu, untuk memulihkan kepercayaan internasional dan membenahi ekonomi dalam negeri, Soeharto, dibantu oleh para penasihat militernya, menunjuk para teknokrat sipil. Para teknokrat itu didominasi oleh para ekonom dari Universitas Indonesia, yang sebelumnya sudah menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat. Para ekonom seperti Prof. Sadli, Prof. Soemitro Djojohadikusumo–yang merancang kontrak kerja Freeport dan perusahaan perusahaan asing lainnya–bersama-sama dengan para perwira militer, berlatar belakang pendidikan di Universitas Berkeley dan banyak dari mereka dibiayai oleh Ford Foundation. Mereka juga mengikuti seminar-seminar MIT yang diselenggarakan oleh CIA.18 Tujuan semua itu adalah melindungi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dan para sekutunya, termasuk Indonesia.
18
Tentang keterlibatan CIA serta hubungan antara militer dan kapitalisme di Dunia Ketiga termasuk Indonesia, agar ikut dalam proyek kapitalisme Amerika, juga bisa diperiksa dalam Allber Syamsanki The Capitailist State dan The Politics of Class (1978) hal. 266.
Dari sinilah kita seharusnya menjelaskan berbagai pembunuhan terhadap orang-orang Papua yang menentang perusahaan multinasional Freeport berhulu. Sebab, hal tersebut dilakukan untuk menjaga dan memberikan daya tarik pada perusahaan-perusahaan mulitinasional agar mendapatkan laba di Indonesia.
Awal Maret 1996, terjadi peristiwa yang mengejutkan ketika ribuan warga Papua mengepung pertambangan Freeport. Mereka terdiri atas perempuan, lelaki, dan anak-anak yang jumlahnya diperkirakan mencapai 3.000 orang. Dengan bersenjatakan tombak, panah, tongkat, dan batu, warga ingin menyerang para petugas keamanan yang menjaga Freeport. Namun, tindakan mereka dapat dicegah. Keesokan harinya, pada minggu pagi mereka menyerang aparat, merusak sekolah yang dibangun Freeport, pasar swalayan, serta merusak pintu-pintu rumah para karyawan. Mereka juga merusak file-file komputer dan menghancurkan mobil-mobil. Menanggapi peristiwa itu, James Robert Moffett, pemimpin Freeport, dengan kesalnya mengatakan bahwa mereka telah melawan Freeport dan pemerintah. Namun, para demonstran membalas Moffett dengan berteriak, “Kita berjuang karena hak kita tidak diakui, sumber alam kita telah dikuras, sementara kehidupan kita juga sudah diambil pula.” (Multinational Monitor, April 1996 Volume 17 Number 4).
Sebenarnya, yang menjadi pemicu pergolakan orang-orang Papua pada peristiwa itu adalah diusirnya warga dari tanahnya sendiri. Sekitar 2,6 juta hektare tanah yang dihuni oleh ribuan orang-orang Papua dicaplok oleh Freeport, tanpa memberikan kompensasi apa pun. Pihak Freeport hanya akan memberikan penggantian tempat baru di dekat kota Timika. Selain tanah, tempat mereka mencari nafkah–seperti bukit, gunung, dan sungai–selama ratusan tahun juga dicaplok. Menurut Jo-Mun Nerek, paitua suku Amungme, gunung-gunung yang dirampas oleh Freeport adalah semangat kehidupan orang-orang Amungme. Oleh sebab itu, mereka percaya bila gunung tersebut dihancurkan oleh Freeport, orang Amungme sudah tidak memunyai semangat hidup lagi.
Kata-kata kiasan yang dituturkan oleh Jo-Mun Nerek tersebut memunyai arti yang mendalam. Gunung tersebut adalah tempat mereka mendapatkan binatang buruan, terutama babi, dan di lereng-lereng gunung tersebut mereka bisa bercocok tanam. Tetapi, pihak ABRI dan pasukan keamanan Freeport tidak mau mengerti masalah tersebut. Yang mereka tahu, dengan
berkibarnya bendera OPM, orang-orang Papua telah menentang pemerintah dan Freeport, karena itu mereka harus dibasmi.
Dalam pertemuan seusai demonstrasi, komandan militer dari Tembagapura bertanya kepada perwakilan Amungme, “Mengapa 300 orang pemberontak mengibarkan bendera Irian Barat (West Papua)?” Kepala suku Tuwarek Narkime menjawab kepada Komandan sebagai berikut: “Saya hanya orang sipil biasa. Saya tidak mengetahui apa yang saudara bicarakan. Jika Anda (sebagai ABRI) melontarkan pertanyaan semacam itu, Anda tidak memunyai rasa hormat antara Anda dan saya, di mana saya bukan orang yang terdidik. Anda tentu menyadari bahwa kami orang sipil biasa yang sama sekali tidak mengetahui tentang apa yang dilakukan oleh tiga ratus orang itu. Anda (dan Freeport) adalah yang mengetahui apa yang dilakukan oleh 300 orang tersebut. Bagaimana beraninya kalian menuduh kami sebagai orang sipil biasa.”19
Sebenarnya, dialog tersebut terjadi antara pihak TNI dan perwakilan suku Amungme, sementara pihak Freeport lebih banyak diam. Ini berarti bahwa pergolakan tersebut dan pergolakan yang terjadi belakangan ini di Papua sebenarnya sudah direkayasa oleh pihak TNI dan Freeport. Sebab, mereka sudah mengetahui dengan jelas situasi yang sebenarnya terjadi di Papua. Tidak lain, orang-orang Papua senantiasa menentang perusahaan Amerika, Freeport McMoran Copper & Gold Inc, untuk keluar dari bumi Papua. Lalu, untuk mengalihkan pertentangan antara orang-orang Papua yang sudah tidak punya apa-apa dan perusahaan yang memiliki modal ini, pihak TNI dapat menyusun provokasi dengan mengibarkan bendera OPM. Hal itu dilakukan untuk membunuh orang-orang Papua yang menentang Freeport, sementara itu TNI mendapatkan imbalan uang dari Freeport.
Apa yang diungkapkan oleh Tuwarek Narkime, tetua suku Amungme bisa mewakili perasaan suku Amungme setelah kehadiran Freeport: “Saya selalu marah dan bertanya mengapa gunung yang begitu indah dan kaya ditempatkan di bumi ini, sementara kami tidak memperoleh apa pun selain masalah dari Freeport?”
19
BAB IV
KONFLIK DAN GEJOLAK