KEHADIRAN FREEPORT YANG MEREPOTKAN
3.2 Perluasan Freeport yang Menggunakan Tanah Warga
Segera setelah kontrak karya pertama disahkan pemerintah Indonesia, Freeport segera membangun infrastruktur pertambangan. Kebijakan kontrak karya didasarkan pada ayat 3 Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang mengatakan, “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.” Bersumber dari amanat Undang-Undang Dasar 1945 itulah semua peraturan tentang pertambangan diderivikasi. Akan tetapi, yang harus diperjelas adalah kata “menguasai” yang tidak identik dengan kata “memiliki”. Dalam sebuah diskusi di Sekretariat Negara sekitar sepuluh tahun yang lalu, pemerintah bertekad untuk mengurangi kesan kepemilikan. Pada saat itu, yang mencuat adalah penguasaan demi kepentingan pemasukan negara, kesempatan kerja, dan mengurangi kesenjangan dengan memakai aset yang dikuasai oleh negara.
Untuk memperoleh suatu kontrak karya pertambangan (PMA), kontraktor yang berminat harus mengajukan aplikasi yang disertai surat keterangan konfiditas dari duta besar Republik Indonesia di negara asalnya. Kemudian, dilakukan perundingan tentang jangka waktu berlakunya kontrak karya dengan pemerintah, dalam hal ini Departemen Keuangan, Departemen Pekerjaan Umum, dan Departemen Kehutanan. Setelah tahap ini dilalui, rancangan kontrak diajukan kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan DPR. Lalu, atas rekomendasi DPR dan BKPM, kontrak diajukan kepada presiden. Kalau disetujui, presiden memberikan persetujuan dalam bentuk surat persetujuan dan sekaligus menunjuk Menteri Pertambangan dan Energi untuk menandatangani kontrak karya tersebut. Seluruh proses ini sedikitnya memakan waktu satu setengah tahun. Karena waktu tunggu yang sangat panjang itulah, pemerintah biasanya mengeluarkan Izin Prinsip Kepada Kontraktor, disertai surat izin penelitian pendahuluan (SIPP) agar kontraktor sudah bisa melakukan berbagai pekerjaan persiapan sambil menunggu keluarnya kontrak karya.
Kontrak karya generasi pertama hanya diberikan kepada satu perusahaan, yaitu PT Freeport Indonesia Company, pada 1967 untuk memulai penambangan tembaga di Ertsberg, Papua. Dalam kontrak karya generasi pertama itu, Freeport diizinkan mengimpor seluruh peralatannya, tanpa dikenal penjadualan untuk melakukan nasionalisasi saham dengan masa konsesi tiga puluh tahun. Dalam Kontrak Karya I ini, Freeport juga diberi fasilitas tax holiday dan keringanan pajak selama tiga tahun, tidak dibebani biaya pembebasan atas tanah, serta tidak memiliki kewajiban untuk menunjang pembangunan dan kesejahteran daerah.1 Dalam seluruh proses kontrak karya itu, tak satu pun orang Amungme diajak berunding, baik oleh pemerintah maupun oleh Freeport.
Segera setelah persetujuan KK ditandatangani, Freeport mengontrak Bechtel, perusahaan konstruksi terkemuka asal Amerika Serikat, untuk membangun seluruh infrastruktur yang dibutuhkan untuk keperluan penambangan. Bechtel kemudian membuat jaringan jalan darat sepanjang 74 mil mulai dari pantai ke tempat pertambangan pada ketinggian 3.700 meter dpl. Selain itu, mereka juga membuat jalan sepanjang 1.100 m melalui pegunungan Cartenzs dan lintasan kawat trem untuk membawa batu yang mengandung mineral ke lokasi pengolahan yang
1
. Mengenai kemudahan-kemudahan ini lebih jauh lihat Ross Garnaut dan Chris Manning, Perubahan Sosial Ekonomi di Irian Jaya, (Jakarta: Gramedia, 1998) hlm. 90-91.
berada di ketinggian 2.800 meter dari permukaan laut. Bechtel juga membuat sambungan pipa untuk membawa konsentrat tembaga dari pabrik ke pelabuhan Amamapare di Laut Arafuru.
Selain itu, Freeport mendirikan kota dengan kapasitas 1.500 jiwa dan sebuah lapangan terbang yang berjarak 22 mil dari pelabuhan laut. Untuk para pekerjanya, Freeport mendirikan sarana permukiman di lokasi yang berjarak 10 km dari pertambangan. Saat ini lokasi tersebut dikenal dengan nama Tembagapura.
Selama pendirian berbagai infrastruktur tersebut, Freeport sama sekali tidak melibatkan suku Amungme. Bahkan, semua pekerja Freeport, mulai dari pimpinan, manajer sampai buruh kasar berasal dari luar Timika. Begitu pula dengan berbagai material yang digunakan untuk pembuatan infrastruktur, konstruksi pertambangan, dan bangunan. Semua mesin dan peralatan diimpor dari Amerika Serikat dan Jepang. Bahkan, bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari para pekerja dan staf ahli Freeport pun didatangkan dari Singapura dan Australia. Kelihatannya sejak awal Freeport memang didesain untuk menjadi enclave asing di tengah-tengah suku Amungme.
Sejak 1967, saat dimulainya kegiatan penambangan secara resmi, demi pembangunan dan perluasan Freeport, suku Amungme dan Kamoro telah kehilangan secara berturut-turut tanah ulayatnya seluas 100.000 hektare. Beberapa tahun kemudian, antara tahun 1983–1985, mereka kembali kehilangan tanah seluas 7.000 hektare untuk pendirian kota Timika. Kemudian, tanah seluas 25.000 hektare kembali “hilang” untuk pendirian kota Kuala Kencana–yang telah diresmikan oleh Presiden Soeharto tahun 1997. Lebih mengerikan lagi adalah berpindahtangannya satu juta hektare lahan suku Amungme untuk kepentingan para pendatang yang didatangkan dari luar Papua atas nama program transmigrasi.
Dari semua itu, kehilangan akses terhadap tanah yang paling besar adalah setelah pengesahan kontrak karya Freeport pada 1991. Pada kontrak karya tersebut, pemerintah–atas nama pembangunan dan demi kesejahteraan rakyat Papua–menyatakan persetujuannya untuk memberikan konsesi tanah untuk keperluan pertambangan kepada Freeport seluas 2,6 juta hektare.
(AWAL) BOX
Masuknya Para Kroni
Pada Maret 1995, A. Latief Corporation, bekerja sama dengan P & O Development Company, mengambil alih pengembangan dan pengoperasian pelabuhan khusus PT Freeport Indonesia Company di Amamapere, Irian Jaya (Kompas, 23 Maret 1995). Pengambilalihan ini menelan biaya sekitar 100 juta dolar AS yang didanai oleh sindikasi tujuh bank dengan Commonwealth Bank of Australia dan HSBC Investment Bank Asia Ltd sebagai arranger.
Pada November 1995, setelah proyek pelabuhan di Amamapare tersebut, Freeport kembali melepaskan asetnya kepada A. Latief Corporation untuk bidang perumahan dan perhotelan. Lapangan terbang Timika asetnya dilepas kepada PT Airfast Aviation Facilities & Co, sedangkan pembangkit listrik diserahkan pada PT Puncak Jaya Power. Pelepasan sejumlah aset PT Freeport Indonesia ini menurut Direktur Utamanya, Hoediatmo Hoed, disebabkan kegiatan Freeport–yang mendapatkan kontrak karya selama 30 tahun yang dimulai tahun 1991−akan berfokus pada penambangan dan eksplorasi. Lebih lanjut, dia juga menegaskan bahwa prospek bisnis tembaga masih menjanjikan hasil yang cukup bagus, meskipun berfluktuasi, dan kecenderungan kebutuhan tembaga dunia masih terus meningkat. (Republika, 17 November 1995).
Namun, yang menjadi masalah adalah semua transaksi di atas dilakukan tanpa keterbukaan. Tanpa keterbukaan, tentu saja segala proses yang terjadi dalam transaksi tersebut tidak bisa dimonitor dan dievaluasi. Artinya, masyarakat tidak bisa menilai apakah prosesnya sesuai aturan, fair dan menguntungkan negara atau malah sebaliknya, justru merugikan negara dan masyarakat serta hanya menguntungkan segelintir orang. Selain itu, pemilik perusahaan yang terlibat dalam transaksi dengan Freeport itu dikenal dekat dengan Presiden Soeharto. A. Latief sendiri pernah dikaitkan dengan kasus korupsi dana Jamsostek semasa menjabat Menteri Tenaga Kerja pada masa Soeharto, yang hinggi kini tidak jelas penyelesaiannya. 2
2
Lihat Kompas, 17 Oktober 2002. Pada berita berjudul “Abdul Latif Bisa kembali Diperiksa dalam Kasus Jamsostek,” disebutkan bahwa Kejaksaan Agung bisa kembali memeriksa A. Latief apabila keterangannya
(AKHIR) BOX