• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Lingkungan terhadap Ketidakhadiran Ayah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Data Penelitian

5. Peran Lingkungan terhadap Ketidakhadiran Ayah

Tema peran lingkungan terhadap ketidakhadiran ayah dimunculkan karena tema ini sering muncul dalam data penelitian dan memberikan pengaruh pada responden.

a. Responden 1

Selain ibu, lingkungan memberikan edukasi mengenai nilai-nilai sosial, seperti pernyataan responden berikut ini :

Nilai moralnya yang diajarin lebih mengampuni orang. Kalau apa.. berbagi pun juga diajarin. Nilai-nilai kasih. Apa lagi ya? Nilai-nilai sosial yang kayak eee.. memiliki banyak teman. Memiliki banyak teman. Memiliki banyak teman maksudnya diajarkan untuk berhubungan baik dengan orang lain. Jadi memiliki banyak teman kan baik. Ya.. eee.. nilai-nilai untuk.. apa ya? Itu dulu aja sih. Agak bingung. Kalau nilai-nilai itu kamu pelajarin dari mana?Belajar dari keluarga.Ya dari kakak, kakek, nenek, ibu, tante, om, sepupu. (Fr1: 789-807)

Lingkungan seperti teman dan laki-laki dewasa juga turut memberikan responden edukasi mengenai peran-peran seorang laki-laki. Berikut ini pernyataan responden yang mendukung hal tersebut :

Ya melihat orang lain. Banyak orang yang kadang-kadang merasa gengsilah kalau ada orang yang membutuhkan, tidak dibantu. Dan aku ketemu orang-orang yang siap membantu, maksudnya siap menolong. Ee.. bersikap lemah lembut sama orang lain, maksudnya nggak kasar. Tapi kadang, juga nggak jarang maksudnya sering lihat orang-orang yang kasar. Yang di tempat tinggal aku yang dulu, yang di.. sebelum pindah ke Jalan Magelang itu, orang lain kasar-kasar ada. Yang apa.. pengertian ada. Ya aku cuma mencontoh apa yang baik aja. Maksudnya yang tidak baik itu tidak aku contoh atau aku buang. Orang lain tadi tuh seperti siapa? Ya.. seperti teman, ya seperti orang dewasa yang aku liat di jalan, atau liat orang lain besar secara umum.

(Fr2: 896-920)

b. Responden 2

Responden mendapatkan dukungan sosial berupa empati dari temannya karena ketidakhadiran ayah yang dialami. Demikian pernyataan responden :

Tadi kan temenmu nanya orang tuamu, lalalala. Terus kamu jawab. Gitu. Terus mereka responnya gimana ketika tahu.. Ya apa ya.. Ya prihatin gitu. He'e. Mereka misalnya bilang gimana? O gitu. Maaf ya. Gitu. (Rd2: 129-137)

Responden juga mendapatkan perhatian dari keluarga besar atas ketidakhadiran ayah. Berikut pernyataan responden :

Yang Rd inget sih dari Pakdhe Togar. Kebetulan kemarin pas nganterin Eyang ke sini, terus Rd sakit. Ya pokoknya waktu itu terus Rd sakit. Terus Pakdhe Togar apa.. Nyuapin teh gitu. (Tersenyum). Gimana rasanya waktu itu? Ya senenglah. (Rd2: 302-323)

c. Responden 3

Responden mendapatkan dukungan sosial dari lingkungannya, yakni teman-teman sekolah saat SMP. Dukungan sosial tersebut berupa penguatan melalui pendekatan rohani atas ketidakhadiran ayahnya. Berikut ini pernyataan responden terkait hal tersebut :

He'eh. He'eh. Karena memang ada istilahnya ya kumpul setiap hari Senin, Rabu, itu kumpul. Jadi kumpul, cerita-cerita, sharing-sharing. Waaa.. itu jadi kekuatan untuk saya gitu lho. Dan di situ ditekan, kamu tuh itu kan masalah orang tuamu, toh kamu sekarang masih sehat, masih segala sesuatunya orang tuamu masih bisa mencukupi. Dan ketika itu kan saya juga merasa bahwa saya diberi penguatan sama temen saya. (Rn1: 730-744) Selain itu, responden juga mendapatkan pengakuan atau sanjungan dari teman-temannya karena responden pandai dan menjabat posisi yang penting di organisasi sekolah seperti OSIS. Demikian pernyataan responden :

temen-temen SMP saya itu kan, ya.. ya ya ya ya yang namanya istilahnya jadi wakil ketua OSIS itu kan dibangga-banggakan. Waaa... jadi wakil ketua OSIS, pinter, dan segala macemnya.

(Rn1: 745-750)

Akan tetapi, responden juga memiliki lingkungan yang tidak terlalu mendukung. Salah satunya adalah lingkungan keluarga besar yang memiliki riwayat broken home sehingga responden cemas untuk membangun relasi dengan lawan jenis. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan responden berikut :

Kalau dari tetangga bilang itu hukum karma. Hukum karma karena simbah saya dulu itu mengkhianati simbah saya yang perempuan. Jadi karmanya kena ke anak-anaknya. Katanya. Katanya sih karma. Tapi katanya orang lain juga dosa warisan. Aku takut e kalau dosa warisan itu menakutkan. Saya nggak tahu apa-apa masa diwarisin dosa. Masa harus nanggung. Saya kan juga nggak mau kalau besok saya berkeluarga akhirnya ya seperti itu kan nggak mau.(Rn3: 1311-1327)

Lingkungan lain seperti tetangga juga menjadi salah satu lingkungan yang tidak mendukung responden. Hal ini ditunjukkan oleh hinaan yang diberikan tetangga responden seperti berikut :

Ya… singkat cerita gini. Kan eee.. tetangga itu ngejek segala

macem. Ini jujur-jujuran aja ya. Dulu saya waktu SMP itu tepuruk, sangat terpuruk. Saya masak itu pake kayu. Waktu itu tetangga pada ngejek. Wooo.. salahe dadi wong mlarat. Dia bilang gitu. Nah terus yang membuat kata-kata itu, dia ngatain ibu saya, salahe ra nduwe bojo. Waktu itu saya bilang, itu tetangga depan rumah saya. Tak onekke. Maaf ya ini kata-katanya kasar. Kowe nek nduwe cangkem(Rn3: 694-709)

Penilaian buruk yang diberikan lingkungan terhadap respoden justru mendorong responden untuk bersikap positif, seperti pernyataan berikut :

He’eh. Karena lingkungan yang buruk tuh pasti mengatakan

begini. Pasti lingkungan yang buruk itu men-judge saya sebagai anak yang seperti itu. Jadi katakanlah, katakanlah orang punya

ayah preman. Wah itu anak preman. Nah saya juga gitu. Wah itu anake orang nggak bertanggung jawab. Nah justru itu. Dari kata-kata mereka itu saya justru tahu. Oh gitu pandangan mereka terhadap ayah saya. Berarti kan saya harus bisa melakukan sebisa mungkin ee.. kebalikannya dari yang mereka katakan. Jadi gitu. Ya itu dari lingkungan yang buruk sebetulnya.(Rn3: 347-365)

Berikut ini tabel peran lingkungan terhadap ketidakhadiran ayah Tabel 4.10 Peran Lingkungan terhadap Ketidakhadiran Ayah

Responden 1 Responden 2 Responden 3

1. Keluarga besar memberikan edukasi mengenai nilai dan moral (Fr1: 789-807, 825-829)

2. Teman memberi edukasi mengenai nilai dan norma sehingga responden senang (Fr2: 659-666) 3. Teman memperluas wawasan umum responden sehingga responden senang (Fr2: 689-695) 4. Laki-laki dewasa memberikan contoh peran seorang laki-laki dewasa (Fr2: 900-920) 5. Perempuan dewasa memberikan contoh peran perempuan (Fr2: 975-981) 1. Lingkungan sebagai sumber informasi mengenai peran laki-laki. (Rd1:969-977) 2. Teman berempati terhadap ketidakhadiran ayah responden sehingga responden senang (Rd2: 127-137, 142-148, 149-158, 348-362) 3. Keluarga besar memberikan perhatian kepada responden sehingga responden senang (Rd1: 198-221, Rd2: 300-323) 1. Teman-teman memberikan dukungan dengan pendekatan rohani (Rn1: 714-744) 2. Teman-teman memberikan pengakuan positif atas prestasi responden (Rn1: 745-764) 3. Teman memberikan pengakuan positif terhadap ibu (Rn1: 1056-1075) 4. Laki-laki dewasa

berbagi nilai hidup dan pengalaman yang kemudian diteladani responden (Rn3: 70-83, 991-1004, 1022-1025, 1027-1037) 5. Lingkungan memberikan pandangan mengenai laki-laki (Rn3: 900-911) 6. Tetangga memberi hinaan karena keterbatasan

ekonomi keluarga sehingga responden melindungi keluarga (Rn2: 657-673, 694-750, 784-832) 7. Penilaian buruk dari

lingkungan mendorong responden menunjukkan sikap positif (Rn2: 475-494; Rn3: 341-365) 8. Latar belakang

keluarga besar yang

broken home

membuat cemas responden menjalin relasi dengan lawan jenis (Rn3: 1265-1327).

(Keterangan cara membaca: inisial responden_wawancara ke-… : nomor barisan verbatim)

6. Kesimpulan Seluruh Data Penelitian

Dokumen terkait