• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Kelembagaan Petani

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Peran LSM dalam Pendampingan Petani

1. Kegiatan Budidaya

Kegiatan budidaya tanaman merupakan suatu proses dalam menghasilkan produk. Budidaya padi organik merupakan suatu proses untuk menghasilkan beras organik. Kegiatan budidaya padi organik di Desa Tawangsari selain dilakukan oleh petani tetapi juga mendapat dukungan dari pihak lain khususnya LSM. LSM memainkan perannya

commit to user

LXX

sebagai pendamping petani dalam kegiatan budidaya adalah sebagai berikut :

Tabel 5.1 Peran LSM dalam Kegiatan Budidaya Padi Organik

No Kegiatan

budidaya

Peran LSM Keterangan

1 Pembibitan LSM memberikan pelatihan terkait dengan pembibitan, yaitu dari proses pembenihan sampai bibit siap tanam

Benih lokal langsung diambil dari lahan petani setempat

Tidak ada standart penggunaan pupuk dari LSM.

tidak ada batasan dalam penggunaan air, tergantung dari kondisi lahan. Tidak ada standart penggunaan pestisida organik dari LSM

Tidak ada standart penggunaan pupuk dari LSM. Ada aturan tersendiri dalam pengangkutan hasil panen

2 Pengolahan tanah LSM memberi pelatihan dengan membajak sawah dan menggarunya serta pupuk kandang sebagai pupuk dasar.

3 Pengairan LSM memberi pengetahuan tentang pengairan yang dilakukan selama satu minggu sekali dengan melihat kondisi tanah.

4 Pengendalian hama penyakit

LSM memberikan pelatihan dalam pengendalian hama penyakit yang dilakukan dengan menggunakan pestisida organik yang terbuat dari bahan-bahan tanaman disekitarnya 5 Pemupukan LSM memberikan pelatihan

pemupukan yang dilakukan melalui dua tahap, pemupukan dasar dan pemupukan susulan. Yang semuanya menggunakan bahan organik

6 Panen LSM memberi pengetahuan tentang panen yaitu pada saat panen dan pengangkutannya

7 Pasca panen LSM memberi SOP terkait pasca panen. Didalam SOP tersebut ada cara-cara dalam penanganan pasca panen padi organik.

LSM tidak memberikan pelatihan dalam pasca panen. 8 Pemasaran LSM membantu petani dalam

memasarkan dengan memberi informasi pasar kepada petani dan juga mempromosikan produk petani keluar. Belum ada sertifikasi produk sehingga produk masih dianggap sama apabila beredar di pasar umum.

commit to user

LXXI

Berdasarkan tabel 5.1 LSM di Desa Tawangsari dalam perannya sebagai lembaga swadaya masyarakat memberikan dampingan kepada petani dalam kegiatan budidaya, akan tetapi pelatihan yang diberikan kepada petani hanya dari pembibitan sampai dengan panen. Pelatihan tersebut diberikan LSM pada tahun 2009, yaitu diawal-awal beberapa petani mengenal pertanian organik. Pelatihan tersebut diadakan disalah satu lahan petani selama satu musim tanam penuh, dari mulai pembibitan sampai dengan panen. Pertemuan pelatihan dilakukan sebanyak 12 kali dalam satu musim tanam1. Seluruh biaya pelatihan ditanggung oleh LSM sebagai pihak penyelenggara. Pada pelatihan tersebut LSM tidak memberikan standard penggunaan saprodi, akan tetapi diserahkan kepada setiap petani untuk jumlah dan intensitas penggunaan saprodinya karena setiap lahan dari setiap petani mempunyai karakteristik tanah dan kesuburan yang berbeda-beda. Tahap pasca panen belum diadakan pelatihan akan tetapi LSM memberikan SOP kepada pengurus tempat penggilingan padi (rice mill) untuk penanganan pasca panen padi organik sampai menjadi beras dan siap jual. Dari hasil pelatihan yang diberikan oleh LSM dalam tahap budidaya, para petani melakukan proses budidaya sebagai berikut: 1) Pembibitan

Pembibitan merupakan langkah awal dalam sebuah budidaya padi organik, dalam pembibitan ini ada beberapa tahapan yaitu pemilihan benih, persiapan tempat persemaian dan lahan persemaian. Benih yang diambil oleh petani di Desa Tawangsari adalah benih lokal, yaitu dari tanaman yang telah ditanam dilahan yang ada di desa2. Benih tersebut juga berasal dari tanaman padi

1

. Bapak Ragil, ketua Gapoktan Marsudi Mulyo, wawancara pada tanggal 19 November 2010, pukul 10.00 WIB di Desa Tawangsari “LSM memberikan pelatihan kepada petani diawal,pelatiahn diadakan dilahan petani dalam satu musim tanam penuh, untuk pengembangan diserahkan kepetani dan pengawasan dilakukan oleh ICS”.

2

Bapak Harjono, petani padi organik, wawancara tanggal 21 November 2010 pukul 17.00 di Desa Tawangsari “Pembibitan dilakukan dilakukan dengan benih lokal, yaitu benih yang sudah ditanam dilahan di Tawangsari yang dikelola secara organik. pupuk yang diberikan di lahan pembibitan yaitu pupuk kandang

commit to user

LXXII

yang diperlakukan secara pertanian organik selama satu musim baik dari pembibitan sampai panen. Benih yang dipilih harus dari indukan yang mempunyai syarat-syarat tertentu, syarat tersebut antara lain indukan berada di tengah-tengah lahan, bentuk fisik indukan harus bagus (perakaran bagus ditandai dengan tanaman yang kokoh, daun berwarna hijau cerah, jumlah malai banyak dan berisi serta besar-besar) dan jumlah rumpunnya banyak. Benih tersebut diambil 2 minggu sebelum waktu panen tiba, setelah itu benih-benih tersebut dipukulkan sebanyak dua kali (digepyok) pada alat khusus, bulir padi yang jatuh tersebut diambil untuk dijadikan benih.

Selain itu dipersiapkan juga lahan untuk persemaian yang luasnya tergantung dari jumlah benih yang akan ditebar, untuk lahan 3500m2 membutuhkan benih sejumlah 10 kg dan luas lahan persemaiannya seluas 40m2.Lahan untuk persemaian sengaja dibuat luas karena agar pertumbuhan benih lebih besar dan perakaran juga lebih bagus. Sebelum benih ditebar, lahan persemaian diberi pupuk kandang dan pada umur benih 10 hari disemprotkan urine sapi kelahan persemaian. Pada umur 20 hari benih sudah siap ditanam dilahan.

2) Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah merupakan proses pemecahan bongkah tanah yang dilakukan dengan membajak tanah. Petani di Desa Tawangsari melakukan pengolahan tanah untuk padi organik juga membajak dengan menggunakan traktor, setelah itu tanah digaru menggunakan alat yang bernama garu. Proses pengolahan tanah ini berhubungan dengan proses pemupukan karena pupuk kandang (kotoran sapi) diberikan petani disaat sebelum atau sesudah tanah digaru, akan tetapi lebih bagus apabila pupuk kandang tersebut dsebelum benih ditebar dan urine sapi yang disemprotkan setelah bibit berumur 10 hari. Bibit yang sudah berumur 20 hari sudah siap ditanam dilahan.

commit to user

LXXIII

diberikan sebelum tanah digaru karena dengan digaru maka pupuk kandang dengan tanah akan tercampur merata. Setelah digaru lahan dialiri air agar sedikit tergenang, dan lahan sudah siap untuk ditanami. Disela-sela tanaman yang sudah ditanam ada petani yang memberikan pelepah pisang yang dimasukkan dalam tanah, yang ditujukan agar tanah dapat menyimpan air dengan baik dan dapat untuk menambah bahan organik dalam tanah.

3) Pengairan

Pengairan merupakan salah satu perawatan tanaman dengan mengatur keluar masuknya air pada lahan. Petani di Desa Tawangsari melakukan pengairan pada lahannya seminggu sekali sampai sebelum panen, dan untuk lahan pada padi organik lebih banyak membutuhkan banyak air di awal peralihan dari padi biasa menjadi padi organik. Hal ini bertujuan agar penguraian bahan- bahan organik yang ada ditanah lebih cepat terurai sehingga bisa terserap oleh tanaman lebih cepat. Pada musim-musim tanam selanjutnya air yang diperlukan tidak terlalu banyak karena tanah lebih bisa menahan atau mengikat air supaya tidak cepat menguap. Petani juga menerapkan sistem pengairan buka tutup pada lahannya, yaitu dengan menggenangi lahan selama tujuh hari dan lima hari dikeringkan3. Hal ini bertujuan untuk menghindari virus atau bakteri yang berasal dari tanah dapat mati, selain itu genangan juga bertujuan untuk menhindari dan mencegah pertumbuhan rumput yang mengganggu tanaman padi.

4) Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama penyakit dilakukan dengan menggunakan musuh alami, pergiliran tanaman, pemilihan varietas dan penggunaan pestisida organik. Petani di Desa Tawangsari

3

Bapak Suradi, PPL Desa Tawangsari, wawancara pada tanggal 18 November 2010, pada pukul 11.00 WIB di Desa Tawangsari “Pengairan diberikan petani seminggu sekali dengan digenangi selama tujuh hari dan dikeringkan dikeringkan selama lima hari.”

commit to user

LXXIV

melakukan pengendalian hama penyakit yang ada di lahannya dengan pestisida organik. Pestisida organik yang digunakan petani adalah pestisida yang terbuat dari air perasan gadung dan rendaman tembakau. Gadung diparut dan diperas, sedangkan untuk tembakau yang digunakan adalah tembakau sisa atau tembakau yang tidak terpakai yang dicampur dengan air dan diperas. Perbandingan takaran yang digunakan petani adalah satu gelas air perasan gadung dicampur dengan satu gelas air perasan tembakau. Satu tangki sprayer membutuhkan tiga gelas campuran tersebut. Pestisida organik ini bisa disemprotkan diawal pertumbuhan yaitu tanaman menginjak umur 10 atau 14 hari setelah tanam, hal ini dilakukan untuk melakukan pencegahan penyerangan virus, bakteri dan hama4. Selain itu dilakukan juga pengamatan dahulu dilahan apabila ada tanda-tanda serangan virus, bakteri dan hama baru pestisida tersebut disemprotkan.

Penanganan pada rumput pengganggu atau gulma dilakukan dengan menggunakan sorok atau menggunakan tangan secara manual dicabuti. Petani tidak menggunakan herbisida kimia untuk mengendalikan gulma yang ada dilahannya karena untuk menjaga keutuhan perlakuan secara organik kepada tanaman.

5) Pemupukan

Hal pembeda yang paling mencolok dari sebuah pertanian organik dengan pertanian biasa adalah dalam hal pemupukan. Proses pemupukan merupakan proses penambahan unsur hara yang ada ditanah. Petani melakukan dua tahapan pemupukan, yang pertama pemupukan dasar dilakukan ketika mengolah tanah (sebelum lahan ditanami) yaitu dengan menggunakan pupuk

4

Bapak Suparmo, petani padi organik, wawancara pada tanggal 18 November 2010 pada pukul 09.00 di sekertariat Gapoktan Marsudi Mulyo di Desa Tawangsari “Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menyemprotkan pestisida organik, yaitu terbuat dari air rendaman tembakau dan gadung dicampur. tiap 1 gelas dicampur dengan 14 liter air. pestisida ini disemprotkan diawal pertumbuhan yaitu mulai minggu ke 2, hal ini dilakukan untuk melakukan pencegahan pertumbuhan hama dan penyakit.”

commit to user

LXXV

kandang yang berbahan kotoran sapi tanpa difermentasi. Petani tidak melakukan fermentasi kotoran sapi karena untuk benar-benar menjaga pupuk dari zat kimia dari pabrik. Selain pemupukan dasar juga dilakukan pemupukan susulan, pemupukan ini dilakukan setelah padi berumur dua minggu sampai dua minggu sebelum panen. Pemupukan susulan ini menggunakan urine sapi yang disemprotkan kelahan, penyemprotan dilakukan seminggu sekali. Urine sapi yang disemprotkan merupakan urine murni tanpa dicampuri dengan air atau bahan yang lain.

6) Panen

Proses panen pada padi organik sama dengan panen pada padi biasa, yaitu dengan menggunaan sabit sebagai alat pemotongnya kemudian dirontok. Petani di Desa Tawangsari juga menggunakan sabit sebagai pemotong padi dan hasil panen padi dari petani kemudian ditleser agar hanya tinggal gabah yang tersisa dan diangkut. Sebelum digunakan untuk padi organik, mesin tleser harus dicuci dahulu dengan padi organik, hal ini untuk memastikan padi organik tidak tercampur dengan padi biasa dan kotoran-kotoran yang ada dimesin. Setelah proses pencucian baru mesin tleser digunakan untuk memproses padi organik hingga menjadi gabah. Gabah dibawa petani ke tempat penggilingan padi untuk diproses lebih lanjut. Pada saat pengangkutan produk ditutup dengan terpal agar tidak tercemar dengan zat-zat lain.

7) Pasca Panen

Proses pasca panen merupakan proses penanganan padi setelah panen, yaitu proses merubah gabah menjadi beras yang siap dipasarkan. Proses pasca panen yang dilakukan di Desa Tawangsari dalam pengelolaan padi ditangani langsung oleh pengurus gapoktan. Pengurus tersebut sudah dibekali SOP oleh LSM dalam penanganan pasca panen padi organik, sehingga kualitas dari padi tersebut tetap

commit to user

LXXVI

terjaga5. Gabah dari petani dijemur di tempat penjemuran rice mill, penjemuran gabah tidak dilakukan langsung di lantai akan tetapi dilapisi terpal sehingga gabah tidak tercampur dengan kotoran, gabah tersebut juga diberikan ditempat yang terpisah dari gabah- gabah lain agar tidak tercampur dan terlindas oleh kendaraan.

Gabah yang kering digiling dengan mesin penggiling pertama untuk memecah kulit gabah, kemudian digiling lagi agar menjadi beras. Pada penggilingan gabah dengan mesin tersebut, sebelumnya mesin dicuci dahulu dengan menggunakan gabah awal sehingga keaslian produk organik tetap terjaga6. Setelah menjadi beras masih tetap dilakukan pembersihan beras dari kotoran-kotoran selama proses penjemuran dan penggilingan. Pembersihan tersebut dilakukan secara manual yaitu dengan membuang kotoran satu persatu dari beras, hal tersebut ditujukan agar beras yang dijual kepasaran tetap terjaga kebersihan dan kualitasnya. Setelah beras benar-benar bersih kemudian di packing setiap 5 kg dan di press. Beras yang sudah di packing siap didistribusikan ke Pasar Tani untuk dipasarkan kekonsumen.

8) Pemasaran

Pemasaran beras organik tersebut dilakukan oleh pihak Pasar Tani, harga yang di tawarkan ke konsumen merupakan harga yang juga sudah disesuaikan dengan harga operasional petani tiap musim tanam. Rata-rata harga beli yang ditawarkan Pasar Tani ke

5

Bapak Ragil, ketua Gapoktan Marsudi Mulyo, wawancara pada tanggal 19 November 2010, pukul 10.00 WIB di Gudang Gapoktan Marsudi mulyo di Desa Tawangsari “Hasil panen diserahkan ke Gapoktan untuk diolah menjadi beras. Ada standard untuk pengolahan pasca panen dari LSM dan standard tersebut dilakukan oleh pengelola tempat penggilingan padi”.

6

Bapak Dwi, petani padi organik, wawancara pada tanggal 17 November 2010, pada pukul 15.00 WIB di Rumah Bapak Dwi di Desa Tawangsari “Pasca panen pada padi organik dilakukan dengan sedikit berbeda, yaitu pada saat perontokkan menjadi beras. pada saat itu 10 kg awal tidak dimasukkan sebagai produk karena 10kg tersebut untuk mencuci mesin dari kotoran dan padi biasa. Pada penjemuran juga sedikit berbeda yaitu tidak langsung dijemur dilantai akan tetapi dilapisi terpal biar produk tidak tercampur dengan kotoran.”

commit to user

LXXVII

Gapoktan adalah Rp8500,-/kg7. LSM dalam proses ini berperan dalam pemberian informasi kapada petani mengenai harga dan peluang pasar. Sehingga petani memperoleh informasi yang terbaru. Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa LSM memberikan pelatihan kepada petani terkait dengan budidaya padi organik. Akan tetapi dari pendampingan petani dalam pelatihan tersebut LSM tidak melakukan pelatihan pada pasca panen dimana ada penanganan produk organik, tidak ada pergiliran tanaman dalam satu masa tanam sehingga hama penyakit tidak dapat dicegah serta pupuk kandang yang tanpa fermentasi sehingga bisa berbahaya bagi kelangsungan kehidupan tanaman. Hal tersebut dapat dikatakan pelatihan yang diberikan oleh LSM belum optimal.

2. Perkreditan

Peran LSM dalam perkreditan yaitu dalam peminjaman modal untuk petani dan diikuti dengan adanya pengawasan dan bimbingan dari LSM dalam penggunaan modal tersebut. LSM yang ada di Desa Tawangsari memberikan kredit dalam bentuk uang kepada petani yaitu sebesar Rp12.000.000,-. Pinjaman sebesar Rp12.000.000,- tersebut diperuntukkan kepada petani yang menanam padi organik dilahannya. selain itu ada juga persyaratan lain yang harus dipenuhi petani agar dapat mengakses pinjaman tersebut adalah :

1) Membentuk kelompok kecil yang berjumlah 7 sampai 10 petani 2) Petani yang mengusahakan padi organik di lahannya

3) Memberikan fotokopi KTP

4) Bersedia membayar pada saat jatuh tempo8.

7 Bapak Triyono, petani padi organik, wawancara pada tanggal 21 November 2010, pada pukul 09.30 WIB di

Rumah Bapak Triyono di Desa Tawangsari “Beras yang sudah siap jual kemudian didistribusikan ke Pasar Tani melalui gapoktan untuk dipasarkan ke konsumen.harga per kilogramnya yaitu Rp8500 sampai 9000,- LSM dalam proses ini berperan dalam pemberian informasi kapada petani mengenai harga dan peluang pasar.”

8

Bapak Rajiman, petani padi organik, wawancara dilakukan pada tanggal 20 November 2010 pada pukul 09.00 WIB di Gudang Gapoktan Marsudi mulyo di Desa Tawangasari “LSM memberikan bantuan berupa kredit kepada petani yaitu memberikan kredit dengan jumlah 12 juta kepada kelompok yang beranggotakan 7-10 orang, batas waktu pengembalian adalah 2 thun dengan bunga 10% pertahun. syarat yang diberikan

commit to user

LXXVIII

Proses perkreditan yang dilakukan oleh petani adalah sebagai berikut: Tabel 5.2 Prosedur dan Peran LSM dalam Perkreditan

No Prosedur Perkreditan Peran LSM Kendala 1 Pembentukan kelompok peminjam LSM memberikan syarat- syarat peminjam dan menyerahkan pemebntukan kelompok kepada petani

Petani tidak mempunyai kendala pembentukan kelompok 2 Pelengkapan syarat-syarat peminjam LSM mengecek kelengkapan syarat yang diajukan kelompok

Syarat peminjam sangat mudah sehingga tidak ada kendala dalam pelengkapan syarat peminjam

3 Pencairan dana

LSM mentransfer uang kredit ke rekening yang dibuat untuk kelompok

Tidak ada kendala dalam pencairan dana

4 Pengontrolan laporan

LSM mengontrol laporan kelompok setiap musim tanamnya

Pengurus kelompok tidak bisa mengawasi kegiatan budidaya petani setiap harinya

Sumber : Analisis hasil wawancara

Berdasarkan tabel 5.2 prosedur kredit yang dilakukan oleh petani di adalah pembentukan kelompok yang dilakukan oleh petani, pelengakapan syarat-syarat mengambil kredit yang dicek oleh LSM sebagai pihak yng memberi kredit, pencairan dana dan pengontrolan laporan. Pada pengontrolan laporan, LSM mengontrol laporan budidaya petani selama satu musim yang dibuat pengurus kelompok peminjam, hal tersebut menjadi kendala karena pengurus kelompok tidak bisa mengawasi seluruh petani yang ada.

Jangka waktu pengembalian pinjaman tersebut adalah enam bulan, setelah enam bulan maka petani wajib mengembalikan seluruh pinjamannya dengan bunga 0,6% per bulannya. Sedangkan untuk masa tenggang dalam pengembalian adalah satu bulan, apabila dalam satu cukup mudah yaitu kredit diperuntukkan bagi petani yang sudah menanam padi organik dan syarat lain adalah dengan menyerahkan fotokopi KTP maka uang akan cair.”

commit to user

LXXIX

bulan petani tidak bisa mengembalikan maka untuk periode selanjutnya petani tersebut tidak bisa lagi meminjam. Kelompok kecil yang beranggotakan 7-10 orang tersebut dapat memanfaatkan pinjaman tersebut selama 2 tahun, setelah 2 tahun selesai maka pinjaman akan diberikan pada kelompok-kelompok lain.

Pada saat ini petani baru membentuk satu kelompok yang terdiri dari 7 orang untuk melakukan pinjaman tersebut. Peminjamn tersebut baru berjalan empat bulan pada bulan desember ini, sehingga sampai saat ini petani belum mengembalikan pinjamannya. Daftar ketujuh petani peminjam tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 5.3 Daftar Petani Peminjam Bantuan Kredit dari LSM

No Nama Petani Jumlah

1 Dwi Sumino Rp.1.700.000,- 2 Wiyono Rp.1.700.000, 3 Rajiman Rp.1.700.000, 4 Rubadi Prayitno Rp.1.700.000, 5 Suparmo Rp.1.700.000, 6 Harjono Rp.1.700.000, 7 Wiro Wardi Rp.1.700.000,

Sumber : Data Kelompok Peminjam

Berdasarkan tabel 5.3 dapat dilihat bahwa dari semua petani peminjam semuanya mendapatkan uang kredit dengan jumlah yang sama. Dapat dilihat juga bahwa tidak semua petani organik yang ada di desa mengakses perkreditan dari LSM karena kemampuan setiap petani berbeda-beda, sehingga ada petani yang sudah mampu tanpa meminjam kredit dari LSM.

3. Penguatan Kapasitas Petani

Penguatan kapasitas adalah proses peningkatan kemampuan individu, kelompok, organisasi dan kelembagaan yang lain untuk memahami dan melaksanakan pembangunan dalam arti luas dan berkelanjutan. Penguatan kapasitas dapat berupa pelatihan dan pendidikan, LSM di Desa Tawangsari melakukan penguatan kapasitas

commit to user

LXXX

petani melalui beberapa kegiatan. Hal tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 5.4 Peran LSM dalam Penguatan Kapasitas Petani

No Ranah

Penguatan Kapasitas

Peran LSM Keterangan

1 Individu a) Pelatihan teknik budidaya padi organik selama satu musim tanam di lahan petani dalam 12 kali pertemuan

b) Pembekalan petani terkait dengan SOP dalam mengusahakan padi organik

Pelatihan yang diberikan oleh LSM juga digunakan petani untuk mengontrol antar petani satu dengan yang lain.

2 Kelompok LSM membentuk satu kelompok baru yang merupakan kumpulan dari petani organik di desa yaitu Marsudi Mulyo Lestari.

Pembentukan kelompok baru untuk mempermudah koordinasi dan penyampaian informasi. 3 Organisasi a) Pemberian bantuan berupa dua

ekor sapi

b) Pemberian informasi terkait dengan bantuan pemerintah.

Pemberian bantuan dan informasi tersebut secara tidak langsung menunjang usahatani padi organik

Sumber : Analisis hasil wawancara

Berdasar tabel 5.4 LSM melakukan penguatan kapasitas petani melalui pelatihan-pelatihan, akan tetapi pelatihan tersebut diberikan kepada petani yang mempunyai minat untuk mengelola lahan sawahnya secara organik saja sehingga diharapkan dari beberapa orang tersebut dapat memberikan bukti dan contoh kepada petani yang lain agar mengikuti cara pengelolaan lahan sawah secara organik.

1) Individu

Peningkatan kemampuan manusia sebagai individu dapat dilakukan melalui pendidikan, peningkatan ketrampilan dan perilaku yang membangun Penguatan kapasitas petani yang diberikan oleh LSM di Desa Tawangsari adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan kepada petani, akan tetapi petani yang diberikan pelatihan oleh LSM adalah petani yang mempunyai keinginan untuk mengelola lahan sawahnya secara organik. Pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada petani tersebut berupa

commit to user

LXXXI

pelatihan teknis budidaya padi secara organik. Pelatihan tersebut diberikan LSM pada tahun 2009, yang dilakukan selama satu musim tanam penuh bertempat disalah satu lahan milik petani peserta pelatihan, sehingga pelatihan dilakukan dari mulai pembibitan sampai dengan panen. Pelatihan dilakukan sebanyak 12 kali pertemuan, dalam setiap pertemuan petani diberikan materi- materi terkait dengan perlakuan-perlakuan untuk tanaman pada beberapa umur tanaman. Pelatihan tersebut juga memberikan pengetahuan kepada petani tentang bagaimana cara pembuatan pupuk dan pestisida organik bersama dengan cara penerapannya. Pada pelatihan tersebut, pihak LSM tidak memberikan standart dalam penggunaan pupuk atau pestisida organiknya karena disadari bahwa kondisi tanah dan tanaman serta perairan dari tiap lahan

Dokumen terkait