• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemborong padi merupakan pihak yang memiliki peran utama ketika masa panen tiba. Petani akan melakukan komunikasi dengan pemborong tentang bagaimana tanaman padi nantinya akan dipanen. Pada awalnya pemborong akan melakukan survei lahan padi milik petani yang akan dipanen untuk melihat kualitas padi, varietas dan luas lahan yang akan dipanen. Hasil dari survei lahan kemudian dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan harga borong padi disawah. Berikut merupakan pernyataan yang disampaikan oleh Pak Sabar:

“Diukur sawahe disek panjang kali lebare, kudu didelok barange kan kudu ngerti. Barange kui masuk sing super, kan ibarate kelas-kelasan to mas, enek sing kelas satu, kelas dua, kelas tiga, pertama niku. Sak umpama panjange pinten meter, lebare pinten meter terus dipengne, dijangkahi disek mas. Nek pari wayah ngeneki gak mungkin arep ketemu 8 ons, sak metere paling pitung ons wi wes paling banter sak

185

metere. Dadi sak hetare ketemu pitung ton, nek sing paling super, kelas A niku. Nek sing B nggih nem ton, sing C yo sekitar limang tonan ngoten niku.”

(diukur sawahnya terlebih dahulu panjang kali lebarnya, harus dilihat barangnya kan harus tahu. Barangnya itu masuk yang super kan ibaratnya kelas-kelasan to mas ada yang kelas satu, kelas dua dan kelas tiga pertama niku. Seumpama panjangnya berapa meter lebarnya berapa meter terus dikalikan dijajaki dulu mas. Kalau padi waktu seperti ini tidak mungkin mau dapat 8 ons, satu meternya paling 7 ons itu sudah yang paling besar. Jadi satu hektaranya dapat 7 ton, kalau yang paling supet itu kelas A. Kalau yang kelas B dapat 6 ton kalau yang c ya paling 5 ton seperti itu)

Menurut penuturan Pak Sabar dapat diketahui bahwa pemborong pada awalnya akan mengukur luas lahan yang akan di panen. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan perhitungan langkah kaki (njangkahi) dan pada akhirnya akan diketahui ukuran luas lahan yang akan di panen. Setelah diketahui luas lahan yang akan dipanen, selanjutnya pemborong akan melihat kualitas padi, melakukan prediksi hasil yang akan diperoleh dan menentukan besaran harga yang akan disepakati. Jika padi memiliki kualitas A (sangat baik) pada musim walikan maka diprediksi hasil panen akan mencapai 7 kg per meter perseginya atau 7 ton per Hektarnya. Padi dengan kualitas B (Baik) diprediksi akan menghasilkan gabah sebanyak 6 ons per meter atau sebanyak 6 ton per hektarnya.

Sementara itu, padi dengan kategori C (Cukup) diprediksi akan menghasilkan gabah sebanyak 5 kg per meternya atau 5 ton per hektarnya.

186

Dari berbagai pertimbangan tersebut pemborong akan melakukan tawar-menawar dengan pemilik lahan. Penawaran harga pada prinsipnya mengacu pada harga yang sedang berlaku di pasaran. Pemborong padi akan mengkalkulasi keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk proses pemanenan padi yang meliputi biaya operasional, biaya tenaga kerja, dan biaya transportasi. Pemborong akan memberikan penawaran harga setelah mengakumulasi total biaya yang dikeluarkan untuk proses pemanenan dengan harga beli padi yang kemudian akan dinegosiasikan dengan pemilik lahan. Jika harga telah disepakati maka selanjutnya tanggung jawab dan resiko proses pemanenan akan menjadi tanggung jawab pemborong.

Pemborong akan memanen padi yang sudah masuk usia panen, estimasi umur padi ketika panen berkisar antara 90-100 hari dari waktu tanam.

Terdapat 2 jenis mesin perontok padi yang umum digunakan untuk memamen padi di Desa Jenggrik yaitu mesin Combine Harvester dan mesin Power Threser. Setiap jenis mesin pemanen padi memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.

Secara umum keunggulan dan kelemahan mesin terletak pada jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, biaya, kualitas padi/gabah yang dihasilkan, dan waktu yang diperlukan. Berikut merupakan uraian mengenai proses pemanenan padi dibedakan berdasarkan penggunaan mesin:

187

a. Proses panen padi dengan menggunakan Mesin Combine Harvester

Combine Harvester merupakan mesin pemanen padi yang mampu memotong bulir tanaman yang masih berdiri, merontokan, dan membersihkan sekaligus. Seluruh proses tersebut dilakukan dalam waktu yang bersamaan sehingga waktu yang diperlukan menjadi lebih singat jika dibandingkan dengan tenaga manusia. Tenaga kerja kerja yang diperlukan untuk mengoperasikan mesin tersebut berkisar antara 3 hingga 4 orang saja. Namun, penggunaan alat ini memerlukan investasi dalam jumlah besar dan dibutuhkan tenaga terlatih untuk mengoperasikan mesin ini.

Mesin ini akan dapat beroperasi secara maksimal ketika masuk musim kemarau (ketigo). Namun ketika musim penghujan dan kondisi lahan dalam keadaan basah maka mesin ini tidak dapat dioperasikan karena mesin ini memiliki tonase yang besar sehingga daya tekan mesin terhadap tanah tinggi.

Produktivitasnya mencapai kurang lebih 15 ton dalam waktu 1 hari. Biaya yang diperlukan untuk menggunakan mesin Combine Harvester adalah sebesar Rp. 2.500.000,- per hektar.

188

b. Proses panen padi dengan menggunakan mesin perontok padi Power Threser

Mesin Power threser seringkali digunakan oleh pemborong padi yang memiliki modal/capital kecil, dan mesin ini dapat digunakan sepanjang tahun tanpa melihat kondisi lahan yang bersifat kering maupun basah. Namun, proses pemanenan padi menggunakan mesin threser ini memerlukan tenaga kerja dalam jumlah besar yaitu mencapai 30-40 orang. Produktivitas pemanenan dengan menggunakan mesin threser ini dalam satu hari rata-rata mencapai 10 Ton. Biaya yang diperlukan adalah sebesar Rp. 2.700.000,- untuk lahan seluas satu hektar.

Beberapa tahapan pemanenan padi menggunakan mesin trheser masih memerlukan tenaga manusia (manual), proses tersebut meliputi proses pemotongan batang padi, pengangkutan ke lokasi perontokan padi, proses perontokan padi kemudian proses pengemasan. Oleh karena itu, proses pemanenan padi menggunakan mesin threser masih perlu memanfaatkan tenaga manusia dalam jumlah besar jika dibandingkan dengan mesin Combine Harvester.

Setelah tanaman padi dipotong dan dipisahkan dari batangnya (damen) baik menggunakan mesin power threser maupun combine harvester kemudian padi tersebut akan dikemas dalam satuan karung agar memudahkan proses

189

pengangkutan. Pemborong padi kemudian akan berkomunikasi dengan pedagang atau tengkulak untuk proses penjualan kepada produsen beras.

Untuk memperjelas uraian tentang proses pemanenan tanaman padi sawah di Desa Jenggrik, dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.5 Proses Pemanenan Tanaman Padi berdasarkan Penggunaan Mesin

Mesin Panen Waktu yang

diperlukan Biaya Jumlah

tenaga kerja Kelebihan Kelemahan

Power Treser

8 Jam per Ha

Rp. 2.700.000

per Ha 30-40 Orang

Fleksibel dengan segala kondisi lahan dan tanaman

Perlu biaya tambahan jika lahan berada jauh dari jalan

Combine Harvester

3 Jam Per Ha

Rp. 2.500.000

per Ha 3-4 Orang

Cepat, Efisien dan harga jual padi menjadi lebih tinggi

Tidak dapat beroperasi ketika lahan basah atau curah hujan tinggi Sumber: Data lapang diolah, 2018

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa proses pemanenan tanaman padi sawah di Desa Jenggrik di bagi menjadi dua yaitu menggunakan mesin Power Threser dan mesin Combine Harvester. Pada prinsipnya kedua mesin tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika dilihat dari segi efisiensi biaya dan kecepatan maka mesin Combine Harvester mampu memberikan kecepatan dan efisiensi biaya yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan mesin Power Threser. Tenaga kerja yang dibutuhkan pun hanya sebanyak 3-4 orang saja. Namun mesin

190

ini tidak dapat beroperasi ketika lahan pertanian dalam keadaan basah. Sehingga pada musim rendeng atau musim penghujan mesin ini jarang digunakan.

Berbeda dengan mesin combine, pemanenan menggunakan mesin power treser membutuhkan tenaga kerja lebih banyak dan waktu yang lebih lama. Biaya yang dikeluarkan pun lebih besar. Namun, proses pemanenan dengan mesin ini tidak akan terkendala oleh kondisi lahan pertanian basah. Pada prinsipnya setiap petani memiliki preferensi tersendiri apakah pada akhirnya tanaman padi akan dipanen menggunakan mesin combine harvester maupun power threser.