119
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Obyek Penelitian 1. Geografi
Kecamatan Kedunggalar memiliki luas wilayah sebesar 12.182,67 ha, di mana sekitar 20,24 ha persen atau sekitar 2466,34 ha berupa lahan sawah dan 79,76 persen lahan bukan sawah atau sekitar 9.716,33 ha. Secara administrasi Kecamatan Kedunggalar terbagi ke dalam 12 desa. Secara geografis wilayah Kecamatan Kedunggalar terletak pada 70417’ Lintang Selatan dan 1110310’ Bujur Timur. Secara topografi wilayah Kecamatan Kedunggalar berupa dataran. Batas wilayah Kecamatan Kedunggalar adalah Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pitu, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Paron sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Jogorogo, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Widodaren.
2. Iklim
Jumlah curah hujan yang turun di Kecamatan Kedunggalar pada tahun 2017 adalah 2.348 mm3 dengan rata-rata jumlah hari hujan sebanyak 125 hari.
3. Pemerintahan
Kecamatan Kedunggalar terbagi menjadi 12 Desa, 70 Dusun, 78 RW, dan 506 RT. Sejak 1980 Kecamatan Kedunggalar telah dipimpin oleh 11 Camat. Seluruh Desa di Kecamatan Kedunggalar telah memiliki Kepala Desa namun tidak semuanya memiliki Sekretaris Desa dan Kepala Seksi.
120
4. Penduduk
Jumlah penduduk Kecamatan Kedunggalar pada akhir tahun 2017 adalah 74.662 jiwa, terdiri dari 37.649 penduduk laki-laki dan 37.013 penduduk perempuan, dengan rasio jenis kelamin/sex ratio sebesar 101,72 artinya bahwa setiap 100 orang penduduk perempuan terdapat sekitar 101 sampai 102 penduduk laki-laki Kepadatan penduduk Kecamatan Kedunggalar tahun 2017 adalah 613 jiwa/km2. Tingkat kepadatan penduduk tertinggi ada di desa Wonokerto (1.413 jiwa/km2 ) dan tingkat kepadatan terendah adalah desa Katikan (352 jiwa/km2 ).
5. Sosial
Jumlah tempat ibadah pada tahun 2017 terdiri dari 105 buah masjid, 374 mushalla dan 5 gereja. Hal ini sejalan dengan mayoritas penduduk Kecamatan Kedunggalar yang memeluk Islam yakni sebanyak 99,29 persen diikuti oleh pemeluk Kristen sebanyak 0,41 persen dan 0,25 persen pemeluk agama Katholik. Jumlah jamaah haji yang diberangkatkan dari Kecamatan Kedunggalar pada 2017 berjumlah 16 orang yang terdiri dari 6 orang jamaah laki-laki dan 10 orang jamaah perempuan.
Di Kecamatan Kedunggalar terdapat 14 pondok pesantren yang jumlah santrinya mencapai 766 orang. Jumlah SD Negeri di Kecamatan Kedunggalar adalah sebanyak 45 sekolah, dengan jumlah murid sebanyak 5.063 sedangkan SD swasta ada sebanyak 2 dengan jumlah murid mencapai 176 anak. Sementara itu untuk SMP sebanyak 3 SMP negeri dan 1 SMP swasta dengan jumlah murid masing-masing 1.771 dan 893 murid.
121
Sedangkan SMA ada sebanyak 1 sekolah negeri dan 1 swasta dengan jumlah murid masing-masing 565 dan 61 murid. Selain itu juga terdapat 4 SMK swasta dengan jumlah murid sebanyak 1.036 anak.
Untuk melayani penduduk Kecamatan Kedunggalar tersedia fasilitas kesehatan berupa 2 buah puskesmas dan 4 buah puskesmas pembantu. Selain itu juga terdapat beberapa tempat praktek dokter, praktek bidan, polindes dan posyandu yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Kedunggalar. Prevalensi penggunaan alat KB di Kecamatan Kedunggalar telah mencapai 70,97 persen dimana jumlah pasangan usia subur (PUS) adalah 16.594. Suntik menjadi alat/cara KB terbanyak yang digunakan oleh PUS di Kecamatan Kedunggalar yakni mencapai 5.919 PUS, diikuti oleh IUD (1.955 PUS) dan pil (1.842 PUS). Selama tahun 2017 setidaknya ada sebanyak 12 kasus tindak kriminal yang dilaporkan ke kantor Kepolisian Resor Kecamatan Kedunggalar di mana 5 di antaranya adalah kasus pencurian dengan pemberatan.
6. Pertanian
Pertanian merupakan sektor yang sangat berpengaruh di Kabupaten Ngawi begitupun pula di Kecamatan Kedunggalar. Hasil pertanian yang utama adalah padi dengan luas panen pada tahun 2017 mencapai 13.976 ha dengan hasil sebanyak 894.975 kuintal. Selain padi, jenis tanaman pangan lain yang banyak diusahakan adalah ubi kayu dengan total produksi mencapai 102.693 kuintal. Sedangkan tanaman perkebunan yang
122
dibudidayakan di Kecamatan Kedunggalar adalah kelapa, tebu, dan tembakau.
7. Perdagangan dan Industri
Kecamatan Kedunggalar memiliki 5 buah pasar permanen yang satu diantaranya adalah pasar hewan. Jenis industri yang paling banyak adalah industri makanan, minuman, dan tembakau. Di Kecamatan Kedunggalar juga terdapat kegiatan penggalian yang menghasilkan pasir, batu gebal, batu pecah, dan tanah urug.
8. Perhubungan dan Komunikasi
Di Kecamatan Kedunggalar pada tahun 2017 terdapat satu buah Kantor Pos Pembantu, 12 buah warnet dan kurang lebih 78 tempat pengisian pulsa.
9. Keuangan Daerah
Jumlah wajib pajak daerah untuk PBB di Kecamatan Kedunggalar pada 2017 adalah 46.806 wajib pajak dengan realisasi penerimaan mencapai 1,67 miliar rupiah. Realiasi penerimaan yang dicapai hanya 94,74 persen dari total target PBB sebanyak 1,76 miliar rupiah. Pendapatan transfer yang diterima Kecamatan Kedunggalar pada tahun 2017 mencapai 16,79 miliar yang terdiri dari 6,59 miliar rupiah dari alokasi dana desa (ADD) dan 10,20 miliar rupiah dana desa (DD).
10. Keadaan Tanah
Penggunaan tanah di Desa Jenggrik, yaitu tanah sawah seluas 471,375 ha, tanah fasilitas umum seluas 54,808 ha/m² dan tanah hutan
123
seluas 131,200 ha. Dari data tersebut diatas dapat dilihat bahwa luas tanah sawah di Desa Jenggrik cukup luas yaitu 471,375 ha. Hal tersebut dapat mendukung dan menunjang para pelaku usaha tani yang ada di Desa Jenggrik, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi karena ketersediaan lahan yang cukup luas menjadi sebuah keunggulan tersendiri.
4.2 Informan Penelitian
Penelitian ini pada prinsipnya banyak memerlukan informasi baik yang diberikan oleh para informan maupun dari kegiatan observasi. Untuk mengkaji dan mendalami permasalahan penelitian tentang pola dan transformasi usaha tani, maka penulis secara spesifik memilih beberapa informan diantaranya adalah pertama petani di Desa Jenggrik baik skala kecil maupun skala besar yang mampu mengungkapkan apa yang telah dilakukanya, apa yang difikirkanya sehubungan dengan lahan pertanian yang sedang mereka usahakan. Kedua adalah pada stakeholder yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam proses usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik diantaranya adalah ketua kelompok tani, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), Pemborong padi, dan Pedagang/Pengepul. Secara rinci para informan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut:
124
Tabel 4.1 Nama-nama Informan
Sumber: Data lapang di olah, 2018
Menurut tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara dengan beberapa informan di antaranya adalah petani selaku pelaku usaha tani, ketua kelompok tani, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), pemborong padi dan pedagang/pengepul. Beberapa informan tersebut diharapkan mampu memberikan informasi mengenai usaha tani padi sawah di Desa Jenggik dari berbagai sudut pandang. Oleh karena itu, harapanya hasil penelitian ini mampu menjadi sebuah kajian yang mendalam dan holistik.
Nama Usia
(Tahun) Hubungan Relasional Asal Keterangan
Pak Darmo 65 Ketua Kelompok Tani Dusun
Sidowayah
Petani, Ketua Kelompok Tani, memiliki lahan pribadi
Pak Karno 52
Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kecamatan Kedunggalar
Dusun Kaliwowo, Desa
Kedunggalar
-
Pak Selar 48 Petani, anggota kelompok tani
Dusun Sidowayah
Petani kecil dengan luas lahan 17 are, anggota
kelompok tani aktif
Pak Parni 72 Petani turun temurun Dusun
Sidowayah
Warga asli, lama berusaha tani, memiliki lahan pribadi
Pak Badi 45 Petani, bukan anggota kelompok tani
Dusun Ngarengan
Warga asli, Petani besar dengan luas lahan sebesar 4
Hektar Pak Saiun 69 Petani, bukan anggota
kelompok tani
Dusun Sidowayah
Warga asli, lama berusaha tani, memiliki lahan pribadi Pak Ipin 40 Petani, bukan anggota
kelompok tani
Dusun Sidowayah
Pendatang, Petani muda, memiliki lahan pribadi Pak Sutris 49 Petani, bukan anggota
kelompok tani
Dusun
Sidowayah Pendatang, lahan sewa Ibu
Wuryaningsih 50 Pedagang/Pengepul Dusun
Sidowayah
Pendatang, memiliki lahan pertanian, bukan anggota
kelompok tani Pak Sabar 52 Pemborong Padi Desa Sekaralas Pemborong padi dengan
mesin power tresher
125
4.3 Pola Usaha Tani Padi Sawah di Desa Jenggrik
Pada sub bab ini akan dibahas tentang bagaimana pola usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik. Fokus pembahasan pada sub bab ini adalah tentang sistem pengelolaan usaha tani padi sawah, pengaruh musim sebagai penentu keberhasilan usaha tani, cara usaha tani padi sawah dan pola distribusi padi pasca panen.
4.3.1 Pengelolaan Usaha Tani Padi Sawah di Desa Jenggrik
Petani di Desa Jenggrik dalam mengelola usaha tani memiliki beberapa alternatif jenis sistem pengelolaan. Secara umum sistem dibagi menjadi dua yaitu, sistem pengelolaan mandiri/dikelola oleh pemilik lahan sendiri dan sistem ke dua adalah dengan sistem bagi hasil.
Sistem pengelolaan bagi hasil sendiri kemudian dibagi menjadi dua yaitu sistem bagi hasil maro dan neloni. Perbedaaan antara keduanya terletak pada hak dan kewajiban antara pemilik lahan dengan penggarap. Berikut merupakan Gambar 4.1 yang menjelaskan tentang sistem pengelolaan usaha tani padi di Desa Jenggrik:
126
Gambar 4.1 Sistem Pengelolaan Lahan Padi Sawah di Desa Jenggrik
Sumber: Data lapang diolah, 2018
Berdasarkan Gambar 4.1 dapat diketahui bahwa terdapat beberapa sistem pengelolaan usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik yaitu sistem pengelolaan mandiri dan juga sistem pengelolaan bagi hasil. Sistem pengelolaan bagi hasil dibagi menjadi 2 yaitu sistem bagi hasil maro (setengah) dan neloni (sepertiga). Hal tersebut diungkapkan oleh Pak Darmo:
“Sistem pengelolaan lahan di sini itu bermacam-macam mas.
Ada telon, ada yang digarap sendiri, ada juga yang maro.
kalau petani di desa Jenggrik mayoritas digarap sendiri, hanya beberapa orang yang digarapke”
Sistem Pengelolaan
Lahan Pertanian
milik sendiri, membeli atau
menyewa
Bagi Hasil
Pemilik Penggarap
Kesepakatan
Lisan dan berdasarkan kebiasaan (adat
istiadat) Hasil Panen
Mandiri
127
(sistem pengelolaan lahan disini itu bermacam-macam mas.
Ada telon, ada yang dikerjakan sendiri dan ada juga yang maro. Kalau petani di Desa Jenggrik rata-rata dikerjakan sendiri hanya beberapa orang yang dikerjakan).
Menurut penuturan Pak Darmo terdapat beberapa sistem pengelolaan usaha tani yang biasa dilakukan oleh petani di Desa Jenggrik. Sistem pengelolaan yang pertama adalah sistem pengelolaan mandiri. Sistem pengelolaan mandiri merupakan sebuah sistem pengelolaan yang seluruh proses dan tahapannya dilakukan sendiri oleh pemilik lahan yang sekaligus bertindak sebagai penggarap. Pemilik lahan akan mengorganisir seluruh sumber daya yang ada baik lahan, tenaga kerja, modal dan sarana produksi pertanian untuk menghasilkan output maksimum dari usaha tani yang sedang dikelola.
Sistem pengelolaan yang kedua adalah sistem bagi hasil.
Sistem bagi hasil ini biasa diterapkan oleh pemilik lahan yang tidak mampu mengelola lahan yang dimilikinya secara mandiri. Berbagai kendala seringkali menjadi alasan mengapa pengelolaan usaha tani secara bagi hasil harus dilakukan diantaranya adalah keterbatasan pengetahuan, usia yang tidak produktif lagi hingga pemilik lahan yang sedang berada diluar wilayah atau keterbatasan domisili.
Sistem pengelolaan usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik yang paling dominan adalah dikelola sendiri/mandiri oleh pemilik lahan. Sistem pengelolaan mandiri biasanya dipilih oleh petani yang memiliki pengetahuan dan skill bertani. Keseluruhan proses akan
128
dikerjakan secara mandiri oleh petani, mulai dari persiapan benih, lahan, pemupukan, penyiangan, perawatan dan keseluruhan proses usaha tani secara umum.
Sumber pembiayaan sistem pengelolaan mandiri bersumber dari keuangan pribadi petani. Namun, jika pada perjalananya petani menemui kekurangan pembiayaan maka petani akan meminjam kepada lembaga keuangan Bank maupun non Bank (Koperasi, Kelompok Tani, Pegadaian atau Tengkulak). Adakalanya petani di Desa Jenggrik lebih memilih meminjam modal pada tengkulak/pengepul dikarenakan tidak perlu mempersiapkan proses adminitrasi dan juga tidak ada tambahan bunga pinjaman. Pola pembiayaan dari tengkulak/pengepul biasanya bersifat kerjasama, petani akan diberikan pinjaman untuk proses pertaninan. Ketika masa panen tiba petani sepakat untuk menjual hasil panennya kepada pengepul yang telah memberikan pinjaman.
Kemudian total penerimaan dari hasil panen akan dipotong sejumlah pinjaman pada saat masa panen tiba.
Pada prinsipnya pemilik lahan yang bertindak sekaligus sebagai penggarap harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup agar mampu mengelola usaha tani secara optimal. Petani harus memutuskan kapan waktu yang tepat untuk memulai proses usaha tani dan juga mengalokasikan seluruh sumber daya yang ada untuk memaksimalkan produksi. Luas lahan garapan merupakan faktor penentu apakah pada akhirnya petani akan merekrut tenaga kerja atau
129
tidak. Pasalnya petani dengan lahan garapan luas tidak akan mampu mengerjakan keseluruhan proses usaha tani secara mandiri, sehingga membutuhkan buruh tani untuk membantu mengerjakan berbagai proses tersebut. Di lain pihak petani kecil atau petani gurem akan memanfaatkan tenaga kerja keluarga untuk membantu proses usaha tani. Hal tersebut dilakukan guna menekan biaya produksi sehingga harapanya petani dapat menerima penghasilan dalam jumlah yang lebih besar.
Kelebihan dari sistem pengelolaan mandiri adalah petani mampu mengalokasikan sumberdaya yang ada tanpa harus terkendala oleh proses negosiasi dengan pihak lain, karena seluruh sumber daya baik modal maupun sarana produksi pertanian dapat dikelola sendiri.
Sementara itu, kelemahan dari sistem pengelolaan ini adalah petani memiliki keterbatasan waktu untuk aktivitas pekerjaan yang lainya.
Permasalahan terletak ketika para petani hanya memiliki lahan pertanian yang sempit maka mereka akan mendapatkan penghasilan yang sedikit pula. Persoalan luas lahan tersebut seringkali mengharuskan petani untuk ‘memutar otak’ mencari penghasilan lain diluar usaha tani. Jika hasil usaha tani berada pada titik terendah maka ekonomi keluarga petani pasti mengalami permasalahan.
Sistem pengelolaan lahan yang kedua adalah sistem bagi hasil.
Sistem bagi hasil biasanya diterapkan oleh petani yang tidak mampu mengelola usaha tani secara mandiri sehingga membutuhkan pihak lain
130
untuk mengelola lahan mereka. Berikut merupakan skema bagi hasil usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik:
Gambar 4.2 Skema Usaha Tani Bagi Hasil
Sumber: Data lapang diolah, 2018
Berdasarkan gambar 4.2 dapat diketahui bahwa pada mulanya kesepakatan kerjasama terjadi karena pemilik lahan memiliki keterbatasan yang mengharuskan menyerahkan pengelolaan usaha taninya kepada pihak lain. Keterbatasan tersebut diantaranya adalah pemilik lahan sudah berusia lanjut sehingga tidak lagi mampu mengelola usaha taninya secara mandiri sehingga perlu tenaga orang lain (penggarap) untuk mengerjakan seluruh proses usaha tani. Selain itu, ada beberapa kendala lain yang mengharuskan pemilik lahan menyerahkan pengelolaan lahanya kepada penggarap yaitu pemilik
Pemilik Lahan
Sistem Pengelolaan Bagi Hasil
Penggarap
Lahan Pertanian
Hasil Panen
131
lahan tidak memiliki pengetahuan bertani, dan pemilik lahan sedang berada didaerah lain atau kendala domisili.
Kendala-kendala tersebut menjadi alasan mengapa para pemilik lahan untuk mempercayakan lahan pertaniannya untuk dikelola oleh pihak lain. Usaha tani merupakan sebuah usaha yang bukan tanpa resiko, karena usaha tani juga memiliki berbagai kendala atau permasalahan yang memungkinkan terjadinya gagal panen. Oleh karena itu, sistem pengelolaan secara bagi hasil memang diperlukan sebagai upaya untuk memperkecil resiko gagal panen. Pemilik lahan perlu memilih orang/penggarap yang tepat agar usaha tani yang dikerjakan mampu mencapai produktivitas maksimum. Pada sistem bagi hasil ini sumber pembiayaan bersumber dari kedua belah pihak, sistem ini sering disebut dengan sistem maro (setengah).
Pada sistem bagi hasil maro penggarap dan pemilik lahan akan memiliki kesepakatan untuk untuk mengatur proporsi pembiayaan.
Secara umum penggarap akan menanggung biaya yang bersifat operasional seperti pengadaan pupuk dan pengairan. Sementara itu, pemilik lahan akan menanggung semua biaya faktor produksi seperti pengadaan benih, biaya tenaga kerja, hingga biaya pemanenan.
Pernyataan tersebut seperti diungkapkan oleh Pak Darmo:
“maro itu sistemnya satu banding satu. Jadi ragatnya yang garap pupuknya satu banding satu jadi seumpama dua kuintal pembagiannya masing-masing satu kuintal. Kalau biaya di luar pupuk itu ditanggung oleh penggarap.”
132
Menurut penuturan Pak Darmo dapat diketahui bahwa hasil panen akan dibagi antara pemilik lahan dan penggarap dengan proporsi yang sama yaitu masing-masing 50 persen dari total penerimaan. Tetapi pada perkembangannya para penggarap enggan menggunakan sistem ini karena dirasakan kurang efektif, karena ketika petani membutuhkan biaya input dengan segera atau sifatnya mendesak, petani penggarap sering terkendala pada proses penghitungan dan pembagian proporsi antara penggarap dan pemilik lahan. Di sisi lain, kelemahan sistem ini adalah proses usaha tani sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan pemilik lahan dengan penggarap. Jika tingkat kepercayaan pemilik lahan terhadap penggarap rendah maka akan berdampak terhadap produktivitas penggarap dalam menjalankan usaha tani. Hal yang serupa juga disampaikan oleh Pak Sutris:
“Nek nggarap sawah kui menak e menak neloni, dadi rupane opo-opo ki sing nduwe sawah diwei setelon, nek maro kabeh kan paro-paroan”.
(kalau mengelola sawah itu enaknya neloni, jadi warnanya apa- apa itu yang punya sawah dikasih sepertiga. Kalau maro semua kan separo-separo).
Menurut pemaparan Pak Sutris sistem bagi hasil neloni lebih dipilih oleh penggarap karena ada keleluasaan dalam mengelola usaha tani. Penggarap dapat mengatur seluruh alokasi sumberdaya sedemikian rupa agar menghasilkan produktivitas yang tertinggi. Pada sistem bagi hasil ini pemilik lahan akan memberikan kepercayaan penuh kepada penggarap, sehingga penggarap tidak terkendala oleh
133
proses pengambilan keputusan yang disebabkan oleh perbedaan pandangan antara penggarap dan pemilik lahan.
Sistem bagi hasil kedua yaitu sistem telon (sepertiga). Pada sistem ini pembiayaan sepenuhnya ditanggung oleh penggarap. Pemilik lahan hanya menyediakan lahan pertanian, dan seluruh biaya faktor produksi ditanggung oleh penggarap. Pembagian hasil panen untuk pemilik lahan adalah sebesar sepertiga bagian dari total penerimaan, dan duapertiga bagian untuk penggarap. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Pak Darmo:
“Neloni itu yang garap dapat bagian dua per tiga yang punya tanah dapat bagian sepertiga. Tetapi semua biaya ditanggung penggarap. itu pemilik lahan tidak dibebani biaya apapun hanya merohi (hanya tahu yang penting) panen. Jadi semua biaya mulai tenaga kerja, pupuk, dan lain sebagainya itu menjadi tanggungan penggarap.”
Menurut penuturan Pak Darmo dapat diketahui bahwa pada sistem bagi hasil neloni ini penggarap memiliki tanggung jawab penuh terhadap keseluruhan proses usaha tani. Tanggung jawab tersebut meliputi biaya pengadaan sarana produksi hingga seluruh biaya operasional hingga musim panen tiba di luar biaya pajak. Hasil dari usaha tani selanjutnya akan dibagi dengan proporsi sepertiga untuk pemilik lahan dan dua pertiga untuk penggarap. Oleh karena itu, sistem ini banyak dipilih oleh penggarap karena dirasa memberikan keleluasaan bagi penggarap dalam mengelola usaha tani. Berikut
134
merupakan tabel 4.2 yang menjelaskan tentang sistem pengelolaan usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik:
Tabel 4.2 Sistem Pengelolaan Usaha tani Padi Sawah di Desa Jenggrik
Sumber: Data lapang diolah, 2018
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa dalam mengelola usaha tani, petani di Desa Jenggrik memiliki beberapa sistem pengelolaan. Pertama, adalah sistem pengelolaan mandiri yaitu petani mengelola sendiri usaha taninya sehingga seluruh proses usaha tani dapat dikerjakan dan diatur sendiri oleh petani. Kedua, adalah sistem kerja sama atau bagi hasil yaitu pemilik lahan memberikan kepercayaan kepada penggarap untuk melaksanakan usaha tani di lahan yang dimilikinya. Ada dua jenis kerjasama yang biasa diterapkan oleh petani di Desa Jenggrik yang pertama adalah maro dan neloni.
Indikator Mandiri Bagi Hasil
Maro Neloni
Buruh/Tenaga Kerja
Memperkerjakan buruh dengan jumlah sesuai luas lahan
Dikerjakan sendiri oleh penggarap dan tenaga kerja keluarga
Dikerjakan sendiri oleh penggarap dan tenaga kerja keluarga
Penerimaan Penerimaan Penuh Setengah dari hasil panen
Sepertiga dari hasil panen
Trust - Relatif Kepercayaan Penuh
Pengambilan Keputusan
Langsung atau Tanpa persetujuan pihak lain
Harus berdasarkan hasil kesepakatan dengan pemilik lahan
Tanpa harus ada persetujuan dari pemilik lahan
Kewajiban Seluruh biaya operasional dan biaya input
Seluruh biaya operasional ditambah dengan setengah dari biaya pupuk
Seluruh biaya operasional dan biaya input
135
Pada dasarnya perbedaan sistem kerjasama maro dan neloni terletak pada proporsi total biaya yang dikeluarkan, pengambilan keputusan dan pembagian hasil yang diterima oleh kedua belah pihak.
Untuk melakukan efisiensi usaha tani penggarap biasanya tidak merekrut tenaga kerja atau buruh, tetapi penggarap akan mengerjakan seluruh proses pekerjaan secara mandiri dengan dibantu oleh tenaga kerja keluarga. Pada akhirnya penggarap mampu menekan biaya tenaga kerja serendah mungkin agar tingkat pendapatan yang diperoleh semakin meningkat.
Cara pandang tradisional dalam memonitor situasi ekonomi dalam konteks pertanian berkutat pada indikator-indikator dari nilai timbal balik dari faktor yang dilibatkan (factor reward). Hal tersebut berhubungan dengan keseluruhan faktor tetap (tanah, tenaga kerja, modal) yang melepas dari siapa yang memilikinya (direfleksikan sebagai Net Value Added). Dengan “memotong” upah bagi buruh, modal yang dipinjam, dan tanah yang disewa maka factor reward akan nampak sebagai milik petani dan anggota keluarga yang berburuh. Hal ini seringkali dianggap sebagai income yang didapat oleh petani dan anggota keluarga yang tidak dibayar di saat menggarap lahannya (Pratama dan Samudro, 2018: 25).
Penelitian sejenis juga menyatakan hal yang sama yaitu penelitian yang dilakukan oleh Mudakir pada tahun 2011 dengan judul penelitian “Produktivitas Lahan dan Distribusi Pendapatan Berdasarkan
136
Status Penguasaan Lahan Pada Usaha tani padi (Kasus di Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah)”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efesiensi dan tingkat produksi petani dengan sistem bagi hasil tidak lebih buruk dibandingkan dengan petani pemilik penggarap dan petani penyewa. Pada musim kemarau petani penyakap mempunyai tingkat produksi dan efesiensi yang relatif sama dengan petani pemilik penggarap. strategi yang digunakan petani penyakap untuk menutupi kelemahan dalam posisi ekonomi ketika harus meningkatkan tingkat produksi dan efesiensi ekonomi adalah dengan memakai tenaga keluarga yang banyak sehingga dapat menekan total biaya.
4.3.2 Usaha Tani Berdasarkan Musim Tanam
Usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik secara umum berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun. Setiap musim memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga hal tersebut mendorong setiap petani untuk mengambil keputusan secara tepat agar usaha tani dapat berjalan dengan optimal. Setiap petani harus memahami dinamika yang terjadi pada setiap musimnya, agar mampu mengantisipasi segala kemungkinan yang pada akhirnya berdampak pada stabililitas usaha tani dan tingkat output/hasil panen.
Musim tanam pertama berlangsung antara Bulan Oktober sampai dengan Bulan Maret, musim ini disebut musim rendeng atau musim penghujan 1. Musim tanam ke 2 berlangsung antara bulan Maret sampai Bulan Juni, musim ini disebut dengan musim walikan
137
atau musim penghujan 2. Musim tanam ke 3 berlangsung antara Bulan Juli sampai dengan Bulan Oktober, musim ini disebut dengan musim ketigo atau musim kemarau. Berikut merupakan pernyataan yang disampaikan oleh Pak Karno:
“Daerah Jenggrik itu rata-rata menanam padi setahun sebanyak tiga kali. Dadi nek padi itu kan musime rendengan atau MP satu nek MP dua niku walikan terus MK itu kemarau.
Nek sing lagi nyebar niki niku berarti MK, nek daerah mriku berarti taneme sekitar juli lah bulan tujuh, padi itu kan umur nya tiga bulan, empat bulan itu termasuk persiapan proses pembenihan dan lahan niku jadi proses itu satu bulan sendiri.
Jadi setahun dibagi tiga”.
(Daerah Jenggrik itu rata-rata menanam padi setahun sebanyak tiga kali. Jadi kalau padi itu kan musimya rendengan atau MP 1 kalau MP 2 itu walikan terus MK itu kemarau. Kalau yang baru nyebar ini itu berarti MK, kalau daerah itu berarti tanamnya sekitar juli lah bulan 7, padi itu kan umur nya 3 bulan, empat bulan itu termasuk persiapan proses pembenihan dan lahan niku jadi proses itu satu bulan sendiri. Jadi setahun dibagi 3)
Menurut Pak Karno usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik berlangsung sebanyak tiga kali dalam waktu satu tahun. Satu periode tanam padi membutuhkan waktu selama 3 bulan atau 90 hari.
Sementara itu, persiapan lahan dan pembenihan memerlukan waktu kurang lebih sekitar 1 bulan. Oleh karena itu, setiap satu musim tanam memerlukan waktu selama 4 bulan. Pada prinsipnya setiap musim memiliki karakteristik yang berbeda-beda, hal tersebut tentunya berdampak terhadap keberlangsungan usaha tani di Desa Jenggrik.
Berikut merupakan uraian usaha tani padi di Desa Jenggrik berdasarkan musim:
138
1. Karakteristik Usaha tani pada Musim Rendeng
Musim rendeng atau musim penghujan 1 memiliki karakteristik curah hujan yang tinggi, hal ini berpengaruh terhadap ketersediaan air bagi berlangsungnya proses usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik. Ketika intensitas hujan tinggi maka petani mampu menekan biaya pengairan lahan. Sumber daya air merupakan faktor produksi utama dalam proses usaha tani padi sawah. Hal tersebut diungkapkan oleh Pak Selar,
“Nek musim rendeng air’e mudah, banyune ki gampang tapi kendalane neng omone akeh wereng, potong leher, jamur barang”
(Jika musim rendeng atau musim penghujan 1 maka airnya mudah tetapi kendalanya ada di hamanya banyak hama wereng, hama potong leher, dan juga hama jamur)
Menurut Pak Selar musim rendeng memiliki kecenderungan bahwa petani terbantu oleh adanya intensitas hujan yang tinggi.
Hujan dengan intensitas tinggi pada musim tanam pertama dirasa menjadi sebuah berkah karena biaya pengadaan air mampu ditekan.
Musim rendeng memang identik dengan curah hujan yang tinggi, sehingga hampir sepanjang masa tanam lahan petani selalu di guyur oleh hujan. Air yang berasal dari hujan akan dimanfaatkan oleh petani untuk mengairi lahan pertanian baik yang mengalir di saluran irigasi ataupun residu air yang tertinggal di lahan yang sedang mereka usahakan. Hal senada juga disampaikan oleh Pak Ipin:
“Nek rendeng kui banyu akeh tapi panas kurang saiki kan penyakit akeh otomatis harga jatuh”
139
(Kalau musim rendeng itu air tersedia banyak tapi cuaca panas kurang sekarang kan banyak penyakit otomatis harga jatuh).
Menurut Pak Ipin jumlah air pada musim rendeng tersedia dalam jumlah yang melimpah, sehingga petani merasa dimudahkan dalam proses pengairan lahan. Mengingat petani biasa mengeluarkan biaya dalam jumlah besar untuk mengairi sawah jika hujan tidak segera turun. Namun disisi lain, intensitas hujan yang tinggi pada musim rendeng tidak serta membawa ‘berkah’ bagi petani namun juga membawa ancaman yang cukup serius yaitu meningkatnya jumlah hama dan penyakit tanaman yang menyerang tanaman padi milik petani.
Tingkat serangan hama yang tinggi memperbesar kemungkinan gagalnya usaha tani yang sedang diusahakan. Tingkat serangan hama yang tinggi disebabkan oleh rendahnya intensitas cahaya matahari sehingga membuat suhu udara cenderung lembab.
Suhu udara yang lembab akan menjadi pemicu berkembangnya hama dan penyakit tanaman. Ketika suhu udara lembab penyakit tanaman akan tumbuh menjadi lebih agresif dan berpotensi untuk menyerang tanaman padi milik petani. Hama yang seringkali ditemui oleh petani pada musim rendeng adalah wereng, potong leher dan juga jamur.
Hama wereng seolah menjadi ‘mimpi buruk’ bagi petani yang mana petani sulit untuk mencari jalan keluarnya. Ketika padi
140
telah terserang oleh hama wereng maka produktivitas akan menurun secara signifikan bahkan kemungkinan gagal panen menjadi sangat tinggi. Hama wereng dipandang sebagai hama padi utama, karena hama wereng merupakan serangga dengan genetik plastisitas yang tinggi sehingga mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan pada waktu yang relatif singkat. Hal tersebut terbukti dengan munculnya populasi baru yang dapat mengatasi sifat ketahanan tanaman atau hama tersebut menjadi resisten terhadap insektisida.
Sifat demikian sering menimbulkan guncangan yang cukup mengejutkan karena menurunnya produksi padi nasional secara drastis (Baehaki dan Widyarta, Tanpa Tahun: 348).
Hasil panen padi sawah di Desa Jenggrik pada musim rendeng seringkali mengalami fluktuasi. Antara musim rendeng tahun ini dan sebelumnya sangat mungkin terjadi peningkatan dan penurunan. Harga gabah juga seringkali sulit ditebak. Hal tersebut membuat petani menjadi cukup khawatir jika terjadi suatu fase dimana produksi menurun dan juga diikuti harga jual gabah. Hal tersebut disampaikan oleh Pak Sabar:
Nek rendeng niku sing bahaya rego gabah, soale regone jong jling tapi sok-sok ki oleh-olehane nglunjak. Nek masing- masing musim niku mempengaruhi kualitas, niki apitan niki golongan apik mas. Niki imbang-imbangane kaleh rendengan sami kok asline. Namung regane malah menang ndek rendeng kaleh saiki, rendeng kae sampek empat ribu lima ratus, la niki namung empat ribu dua ratus.
(kalau musim rendeng itu yang bahaya harga gabah, soalnya harga naik turun namun terkadang hasilnya juga melonjak.
141
Kalau masing-masing musim itu mempengaruhi kualitas.
Apitan ini termasuk golongan bagus mas. Ini bandingannya sama musim rendeng sama kok mas asline. Namun harganya masih menang kemarin musim rendeng ketimbang sekarang.
Rendeng kemarin sampai Rp. 4.500,- lha sekarang cuma Rp.
4.200,-).
Menurut penuturan Pak Sabar hasil usaha tani pada musim rendeng hampir sama dengan musim walikan. Salah satu hal yang tidak dapat diprediksi pada musim rendeng adalah harga jual gabah.
Harga jual gabah pada musim rendeng akan terus mengalami fluktuasi. Harga jual gabah antara musim rendeng tahun lalu dengan sekarang akan sangat mungkin mengalami perbedaan yang cukup signifikan. Lebih lanjut Pak Sabar mencontohkan harga gabah pada musim rendeng tahun lalu lebih baik jika dibandingkan dengan harga jual padi pada musim rendeng sekarang. Selisih harga antara musim rendeng tahun lalu dengan sekarang mencapai 300 rupiah per Kg nya. Jika diasumsikan biaya yang dikeluarkan sama maka petani akan menerima hasil yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Pada prinsipnya setiap musim memiliki pengaruh terhadap hasil produksi padi. Namun faktor harga seringkali membuat para pemborong dan pedagang lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Terlepas dari pengaruh musim terhadap hasil panen, fluktuasi harga bagi petani juga menjadi sesuatu yang cukup mengkhawatirkan. Jika harga jual gabah turun signifikan maka
142
petani akan menerima pendapatan yang lebih kecil dengan asumsi tingkat biaya yang dikeluarkan untuk produksi jumlahnya sama.
Selain faktor harga ada faktor lainnya yang seringkali menjadi kendala bagi petani, pemborong dan pedagang yaitu cuaca hujan pada saat panen. Pada saat padi dipanen dan cuaca sedang hujan maka hal tersebut akan menjadi sebuah persoalan yang sangat mengganggu. Hal tersebut disampaikan oleh Ibu Wuryaningsih:
“Kendalane nek udan, pari ambruk nek pari ambruk kan kualitase elek, nek udan kan basah, utowo dipangan omo.
Nek rendeng barang banyak, semua petani nanem padi tapi kebanyakan barange basah soale hujan”
(kendalanya kalau hujan tanaman padi ambruk, kalau tanaman padi ambruk kan kualitasnya jelek. Kalau hujan basah atau di makan hama. Kalau rendeng kan banyak semua petani menanam padi tetapi kebanyakan barangnya basah soalnya hujan)
Menurut Ibu Wuryaningsih kendala yang seringkali terjadi pada musim rendeng adalah tumbangnya tanaman padi. Ketika tanaman padi tumbang maka kualitasnya akan cenderung jelek.
Terlebih jika tanaman padi tumbang hingga bulir padi menyentuh tanah maka gabah akan rusak. Tidak hanya sampai di situ, ketika tanaman padi tumbang maka proses pemanenan akan menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Biaya yang dikeluarkan untuk proses panen pun menjadi lebih tinggi.
Tanaman padi yang tumbang seringkali disebabkan oleh hujan yang lebat dan disertai angin pada saat tanaman padi sudah berisi. Ketika hujan lebat disertai angin batang tanaman padi tidak
143
akan mampu lagi menopang berat bulir padi yang semakin meningkat akibat kadar air yang semakin tinggi serta ditambah oleh terpaan angin yang kencang. Hal tersebut membuat tanaman padi menjadi tumbang dan rusak. Ketika tanaman padi rusak maka harga jualnya akan menurun tajam.
Selain kualitas padi yang buruk akibat pengaruh cuaca, tingkat penawaran gabah yang tinggi juga turut mempengaruhi tingkat harga. Pada saat musim rendeng seluruh petani di Desa Jenggrik bahkan di seluruh wilayah Kabupaten Ngawi menanam padi. Oleh karena itu, ketika musim panen tiba khususnya panen raya jumlah penawaran gabah sangat melimpah. Ketika hal tersebut tidak diimbangi oleh jumlah permintaan maka harga gabah akan terus menurun.
Permintaan terhadap gabah salah satunya juga dipengaruhi oleh cuaca dan permintaan beras. Ketika cuaca bagus maka produsen beras akan membeli gabah dalam jumlah besar, namun jika cuaca sedang hujan maka produsen beras akan mengurangi jumlah pembeliannya. Bagi petani, pemborong, pedagang dan produsen beras cuaca terik pada saat panen merupakan sebuah
‘kabar baik’ yang nantinya akan mempengaruhi tingkat harga.
Namun, ketika cuaca sedang hujan maka berarti harga gabah akan turun. Hal tersebut dikarenakan gabah yang basah atau kadar air tinggi masuk dalam kategori gabah dengan kualitas buruk.
144
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa faktor yang dominan dalam usaha tani padi sawah pada musim rendeng di Desa Jenggrik adalah faktor cuaca dan hama tanaman. Cuaca memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik. Pada saat intensitas hujan tinggi maka akan berdampak pada potensi serangan hama, rusaknya tanaman padi dan menurunya harga jual padi saat panen. Namun, disisi lain juga terdapat berkah dari hujan yang diterima oleh petani yaitu dapat ditekanya biaya untuk pengairan lahan yang ketika tidak terjadi hujan maka petani harus ‘merogoh kocek lebih dalam’ untuk biaya pengairan lahan pada saat proses usaha tani.
2. Usaha tani pada masa transisi/perubahan musim penghujan menuju musim kemarau (walikan)
Musim penghujan dua atau yang seringkali disebut musim walikan berlangsung antara bulan maret sampai bulan juni. Musim walikan memiliki karakteristik intensitas hujan yang tinggi namun tidak setinggi pada musim penghujan 1 atau rendeng. Musim walikan merupakan transisi antara musim hujan menuju musim kemarau. Hal tersebut diduga menjadi penyebab tingkat serangan hama dan penyakit tanaman tinggi. Hal tersebut disampaikan oleh Pak Selar:
“Nek walikan meh podo yo kendalane neng omo sundep, pires kuning-kuning ngonokae, sundep barang.”
(Kalau musim walikan ya kendalanya di hama sundep, virus seperti kuning-kuning begitu, ya sundep tadi itu tadi juga)
145
Menurut penuturan Pak Selar pada musim walikan peluang tanaman untuk terserang hama juga masih tinggi. Hama yang mengganggu tanaman pada musim walikan adalah virus yang menyebabkan pertumbuhan tanaman padi terganggu. Hal senada juga disampaikan oleh Pak Darmo:
“Kalau yang rawan itu ya MP dua ini. Yang paling sering itu ya jamur itu. Kalau pas ngamati gitu petani sering kecolongan. Soale gak dilihat tiga hari gitu biasane kecolongan, tahu-tahu merah gitu padinya.”
(kalau yang rawan itu MP 2 ini, yang paling sering ya jamur itu. Kalau pas mengamati begitu petani seringkali kecolongan.
Soalnya tidak dilihat 3 hari gitu biasanya kecolongan, tahu- tahu merah gitu padinya)
Menurut Pak Darmo musim tanam padi yang paling mengkhawatirkan adalah musim walikan. Petani seringkali
‘kecolongan’ dan tidak mengetahui serangan hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman padi. Oleh sebab itu, kerawanan tersebut mengharuskan petani untuk melakukan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman padi. Sehingga setiap potensi serangan hama dan penyakit tanaman bisa segera ditangani atau dikendalikan. Lebih lanjut Pak Karno menjelaskan tentang hama pengganggu tanaman yang seringkali dijumpai oleh petani di Desa Jenggrik,
“Kendalane nek daerah kita i sundep, sundep i ki nek ijek tandur nek wes muncul malai ki dadi beluk wi penyebabe sama yaitu kaper. Kaper bertelur terus jadi ulat terus mlebu
146
neng untrenge tandur, dadi nek ditarik bludut ngono dadi iku beluk dadi koyok pari munggah kaji ngono kae putih-putih”
(kendalanya kalau di daerah kita itu sundep. Sundep itu kalau masih tanam kalau sudah muncul malai itu dadi beluk itu penyebabnya sama yaitu kaper. Kaper bertelur terus menjadi ulat kemudian masuk ke batangnya padi. Jadi kalau ditarik bludrut gitu jadi itu beluk jadi seperti padi naik haji seperti itu putih-putih)
Menurut Pak Karno hama sundep berasal dari hewan kaper atau hama penggerek batang. Gejala serangan hama penggerek tersebut sama, yaitu pada fase vegetatif yang disebut sundep (deadhearts) dengan gejala titik tumbuh tanaman muda mati. Gejala serangan penggerek pada fase generatif disebut beluk (whiteheads) dengan gejala malai mati dengan bulir hampa yang kelihatan berwarna putih. Gejala sundep sudah kelihatan sejak 4 hari setelah larva penggerek masuk. Larva penggerek selalu keluar masuk batang padi, sehingga satu ekor larva sampai menjadi ngengat dapat menghabiskan 6-15 batang padi (Baehaki, 2013: 2).
Hama tersebut memiliki tingkat serangan yang cukup masif yaitu dalam kurun waktu 4 hari mampu merusak sebanyak 6-15 batang padi. Ketika tanaman padi terserang oleh sundep tersebut maka pertumbuhan padi akan menjadi terganggu dan kurang optimal, petani seringkali menyebutnya dengan tanaman padi
‘munggah kaji’ dikarenakan tanaman padinya menjadi berwarna putih. Dalam menangani serangan hama tersebut petani akan
147
melakukan penyemprotan insektisida yang dapat diperoleh dari toko pertanian terdekat.
“Kalau pengendalian hama itu kan sejak awal sejak dini mulai dari pembenihan wes di kendalikan mungkin telur-telur sundepe di semprot atau secara manual di pletesi nek telaten, tapi yo rata-rata menggunakan obat semprotan”.
(Kalau pengendalian hama itu kan sejak awal sejak dini mulai dari pembenihan sudah dikendalikan mungkin telur-telur sundepnya di semprot atau secara manual di pletesi kalau telaten, tetapi ya rata-rata menggunakan obat semprotan) Menurut Pak Karno pengendalian hama sundep harus dilakukan sedini mungkin, ketika ada potensi serangan maka petani harus melakukan pengendalian baik secara manual maupun penyemprotan pestisida. Pengendalian secara manual adalah dengan cara menghancurkan setiap telur hama sundep yang telah menempel pada batang tanaman padi. Di samping itu, pengendalian hama sundep juga dapat dilakukan dengan cara menyemprotkan insektisida sesuai dengan kadar yang tertera pada petunjuk penggunaan obat.
Pada musim walikan hasil panen cenderung rendah jika dibandingkan dengan musim tanam lainnya. Berikut merupakan pernyataan Pak Sabar:
Paling elek dewe walikan. Paling nggur oleh nem, neng nem setengah ngonowi. Garek ndelok targete rego gabah, soale rego gabah niku kan mboten sami.
(paling jelek sendiri musim walikan. Paling cuma dapat sekitar 6 sampai 6 setengah begitu. Tinggal lihat harga gabah, soalnya harga gabah itu kan tidak sama)
148
Menurut Pak Sabar hasil panen padi pada musim walikan merupakan yang paling rendah jika dibandingkan dengan musim lainya. Rata-rata jumlah gabah yang dihasilkan adalah sebesar 6 ton hingga 6,5 ton per hektarnya. Harga jual gabah yang tinggi seolah menjadi satu-satunya harapan bagi petani untuk mendapatkan penerimaan yang cukup dari hasil usaha tani yang telah diupayakan.
Hal yang tidak jauh berbeda disampaikan oleh Ibu Wuryaningsih:
”Nek walikan ki kadang apik kadang elek, emang alam walikan ki yo ngeneki kadang elek kadang apik”
(kalau walikan itu kadang bagus kadang jelek, memang alam walikan itu ya seperti ini kadang jelek kadang bagus)
Menurut Ibu Wuryaningsih hasil panen pada musim walikan cenderung fluktuatif. Faktor cuaca dirasa menjadi faktor utama penyebab naik atau turunya hasil panen. Ketika cuaca bagus maka panen yang dihasilkan akan cenderung meningkat, namun jika cuaca kurang baik maka hasil panen juga akan mengalami penurunan.
3. Usaha tani pada musim ketigo atau musim kemarau
Usaha tani pada musim kemarau atau musim ketigo berlangsung antara bulan Juli sampai bulan oktober. Pada musim ini kecenderungan tingkat cuaca terik/panas sangat tinggi. Pada musim ini produktivitas hasil pertanian menjadi lebih tinggi jika dibandingkan kedua musim lainnya. Cuaca terik/panas tersebut dapat menunjang tanaman padi untuk tumbuh dengan baik. Namun di sisi lain, biaya untuk pengadaan air menjadi meningkat sangat tinggi. Hal tersebut disampaikan oleh Pak Selar:
149
“Nek musim ketigo kendalane neng air, banyune angel soale gak enek udan. Nek koyok aku ngeneki gak ndue sumur yo ndadak tuku, biasane aku tuku nggone mas yanto brawek sak jame slawe ewu. Nyedote kui meh mben minggu, dadi seminggu pisan. Nggonku biasane nek sibel e lek yanto telu nganti petang jam, yo menilaine kemaraune barang pertimbangane yo ndelok wareg orane”.
(kalau musim ketigo kendalanya ada di air, airnya susah soalnya tidak ada hujan. Kalau seperti saya ini tidak punya sumur ya harus beli. Biasanya saya itu beli ke mas yanto brawek satu jam nya Rp. 25.000,-. Mengairinya ya hampir setiap minggu jadi satu minggu sekali. Tempat saya biasanya kalau sibel nya Pak Yanto 3-4 jam, ya menilainya kemaraunya juga pertimbanganya ya melihat cukup atau tidaknya.
Menurut Pak Selar kendala yang cukup berarti pada musim ketigo adalah tidak tersedianya air dari alam atau hujan sehingga pengairan lahan harus dilakukan dengan menyedot dari sumber air tanah dengan mesin pompa elektrik jenis submersible. Terlebih Pak Selar merupakan petani yang tidak memiliki mesin pompa sendiri sehingga harus bergantung kepada petani lain dalam mengairi lahan sawah yang sedang diusahaan. Pak Selar harus membeli air dari petani lain yang memiliki mesin pompa elektrik dengan tarif per jam sebesar Rp. 25.000,-. Durasi yang diperlukan untuk mengairi sawahnya adalah selama 3-4 jam, tergantung pada tingkat panas tidaknya cuaca pada waktu pengairan. Jika cuaca terik dalam waktu yang lama maka durasi yang diperlukan untuk mengairi lahan juga akan semakin lama, tetapi jika cuaca tidak terlalu terik maka durasi pengairan yang diperlukan bisa dikurangi.
150
Pada musim kemarau air seolah menjadi faktor utama penentu keberhasilan dalam usaha tani padi sawah. Tanaman padi akan dapat tumbuh dengan optimal jika mendapatkan pengairan yang cukup. Namun, jika tanaman padi tidak mendapat pengairan yang cukup maka pertumbuhan tanaman padi akan menjadi terganggu. Meskipun demikian, kelebihan dari tanaman padi adalah dapat tetap hidup meskipun petani mengairi sawah secara berselang.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pak Karno:
“Nek dalam hal pertanian padi itu disebut tanaman yang butuh air tapi tidak harus selalu tergenang, jadi sebutane intermiten. Intermiten kui saiki iso di leb engko sat yo ditahan-tahan sampek pecah-pecah to istilahe. Ngko di leb neh kui jenenge intermiten atau pengairan berselang, tanaman yang butuh air tapi tidak perlu selalu tergenang.”
(kalau dalam hal pertanian padi itu disebut sebagai tanaman yang membutuhkan ait tapi tidak harus selalu tergenang atau bisa disebut intermiten. Interminten itu sekarang bisa diairi kalau sampek kering ya bisa ditahan-tahan sampai pecah- pecah tanahnya istilahnya gitu. Nanti diairi lagi itu namanya intermiten atau pengairan berselang, tanaman yang butuh air tapi tidak selalu tergenang)
Menurut Pak Karno tanaman padi merupakan sebuah tanaman yang dapat diairi secara berselang. Hal tersebut biasa dilakukan oleh para petani di Desa Jenggrik untuk mengairi lahan mereka pada musim ketigo, mengingat pada musim tersebut intensitas hujan sangat rendah. Di sisi lain, Pada musim kemarau tanaman padi akan mendapat paparan sinar matahari sepanjang musim hal tersebut membuat proses pertumbuhan padi menjadi lebih
151
optimal. Hal ini berdampak pada menurunya peluang serangan hama dan meningkatnya hasil usaha tani pada musim kemarau. Seperti pernyataan yang diungkapkan oleh Pak Darmo:
“Dari ketiga musim tersebut yang paling potensial itu adalah MK. Sebabnya adalah cuaca, kalau banyak panas padi itu malah bagus dan juga jarang hama”
(dari ketiga musim tersebut yang paling potensial adalah MK, penyebabnya adalah cuaca. Kalau intensitas panas tinggi pertumbuhan padi itu malah bagus dan juga jarang ada hama) Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh Pak Ipin:
“Baru musim kemarau itu bagus, operasional tinggi tapi harga juga bagus.”
(baru musim kemarau itu bagus, operasional tinggi tapi harga juga bagus)
Menurut Pak Darmo musim kemarau merupakan musim yang paling potensial untuk usaha tani padi sawah. Hal tersebut terjadi karena tingginya intensitas paparan sinar matahari dan jumlah serangan hama sangat rendah. Hal yang sama juga disampaikan oleh Pak Ipin yang menyatakan bahwa musim ketigo merupakan musim tanam yang terbaik jika dibandingkan dengan musim tanam lainya.
Meskipun biaya yang dikeluarkan untuk biaya operasional tinggi namun hasil yang diperoleh dan harga jual padi cenderung tinggi.
“Nek pari paling apik dewe niku wayah tigo mas, kadang iso entuk 9 barang aku ki, oleh 8 ton”.
(kalau padi itu paling bagus sendiri waktu ketigo mas, kadang bisa dapat 9 juga saya itu, dapat 8 ton)
152
Menurut Pak Sabar hasil usaha tani padi sawah yang paling tinggi adalah pada musim ketigo yaitu mencapai 8-9 ton per hektarnya. Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Ibu Wuryaningsih
“Tapi nek wayah tigo, kui musim apik gabahe apik, tapi tidak semua orang nanem padi kadang-kadang polowijo kedelei, kacang ijo”
(tapi kalau waktu ketigo, itu musim bagus harga gabahnya bagus. Tapi tidak semua orang menanam padi, terkadang palawija kedelai, kacang hijau)
Menurut Ibu Wuryaningsih musim ketigo merupakan musim yang bagus untuk usaha tani padi sawah. Namun sayangnya tidak semua petani menanam tanaman padi. Petani merasa enggan menanam padi pada musim ketigo karena tidak memiliki mesin pompa untuk mengairi lahan yang sedang mereka usahakan. Ketika kemarau panjang tiba maka resiko gagal panen juga menjadi lebih tinggi, bahkan petani yang memiliki sumur pompa sekalipun.
Kemarau panjang membuat permukaan air sumur menurun sehingga mesin pompa yang tidak mampu menjangkau permukaan air tidak akan mampu beroperasi dengan baik atau tidak mampu menyedot air menuju ke permukaan. Berikut merupakan klasifikasi usaha tani:
153
Tabel 4.3 Klasifikasi Usaha tani berdasarkan Musim Tanam Karakteristik Musim Rendeng Musim Walikan Musim Ketigo Periode Tanam Berlangsung antara
Oktober-Maret
Berlangsung antara Maret–Juni
Berlangsung antara Juni-Oktober
Intensitas Hujan
Tinggi (diguyur hujan sepanjang musim)
Sedang (hujan terjadi pada awal hingga pertengahan musim tanam)
Rendah (jarang terjadi hujan)
Hama dan Penyakit wereng, potong
leher dan jamur sundep
Kekurangan nutrisi/kresek
Biaya Pengairan Rendah Sedang Tinggi
Produktivitas Sedang, 7-8 ton/ha Fluktuatif 6-6,5
ton/ha Tinggi 8-9 ton/ha
Harga Jual Padi Cenderung rendah Fluktuatif Tinggi
Resiko
Tanaman padi roboh pada saat masa panen
Rawan terserang hama dan penyakit tanaman
Kekeringan dan permukaan air sumur menurun
Faktor Pendukung
Air tersedia dalam jumlah yang melimpah
Masa panen terjadi pada musim kemarau atau cuaca terik
Penyinaran matahari yang cukup
membantu proses pertumbuhan tanaman padi
Sumber: Data lapang di olah
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa usaha tani di Desa Jenggrik terbagi menjadi tiga musim setiap tahunnya. Musim tanam pertama disebut sebagai musim rendeng atau musim penghujan 1, musim tanam kedua disebut musim walikan atau musim penghujan 2 dan musim tanam ke 3 disebut sebagai musim ketigo atau musim kemarau. Setiap musim pada prinsipnya memiliki karakterisitik yang berbeda-beda sehingga hal tersebut mendorong petani untuk mengambil keputusan secara tepat agar usaha tani mampu memberikan output semaksimal mungkin. Produktivitas
154
usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik tertinggi terjadi pada musim kemarau (musim ketigo). Hal tersebut terjadi karena pada musim tersebut tanaman padi dapat tumbuh dengan optimal serta didukung oleh cuaca penyinaran matahari yang cukup, sehingga proses fotosintesis tanaman padi dapat berjalan secara optimal.
Kelemahan musim ketigo adalah biaya untuk pengairan sangat tinggi. Permasalahan terjadi ketika petani tidak memiliki sarana pengairan dengan mesin pompa elektrik. Hal tersebut mengharuskan petani untuk membeli kepada petani lain yang memiliki mesin pompa elektrik dengan tarif Rp. 25.000,- - Rp.
30.000,- per jam. Tetapi jika petani yang tidak memiliki mesin pompa elektrik memiliki keterbatasan biaya maka petani tersebut dapat melakukan kerjasama sistem pengairan borongan. Pada Sistem pengairan borongan ini penyedia air (pemilik pompa) akan bertanggung jawab penuh terhadap pengairan lahan mulai dari masa tanam hingga masa panen tiba. Balas jasa petani kepada pemilik pompa elektrik pada kerjasama sistem pengairan ini adalah pemilik pompa mendapatkan hak sepertiga dari total panen yang dihasilkan.
Resiko kekeringan pada musim ketigo juga memaksa pemilik mesin pompa untuk melakukan upgrade sarana pengairan.
Upgrade sarana pengairan harus dilakukan karena permukaan air tanah menurun secara signifikan sehingga mesin pompa milik petani tidak mampu lagi menjangkau sumber air tanah yang terus
155
mengalami penurunan. Oleh karena itu, biaya operasional usaha tani pun juga akan terus mengalami peningkatan seiring dengan dinamika yang terus terjadi pada setiap waktunya. Senada dengan temuan di lapangan, Handianto, dkk (2015: 7-8) mengungkapkan bahwa para petani arealan biasanya memiliki kelompok tertentu dalam hal pembagian air untuk irigasi pada sawah arealan. Bagi pemilik pipa memperoleh 1/5 bagian dari hasil panen sawah arealan, sedangkan sisanya merupakan bagian dari pemilik lahan. Sistem bagi hasil ini dilakukan dengan cara persetujuan dari masing-masing pihak. Hal ini dirasakan oleh petani cukup menguntungkan, karena dari segi kualitas dan kuantitas hasil dari sawah arealan lebih baik daripada sawah baku. Hal ini disebabkan oleh unsur hara yang terbawa oleh air sungai Bengawan Solo.
Penelitian sejenis juga menyatakan hal yang sama.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Suharyanto, dkk. pada tahun 2015 dengan judul penelitian “Analisis Risiko Produksi Usaha Tani Padi Sawah di Provinsi Bali”. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa Lebih tingginya risiko produksi padi sawah pada musim hujan dibandingkan pada musim kemarau diduga bahwa pada musim hujan tingkat serangan penyakit lebih tinggi dibandingkan dengan musim kemarau, selain itu pada musim hujan intensitas radiasi matahari juga lebih rendah dibandingkan musim kemarau yang tentunya kan berpengaruh terhadap proses fotosintesis.
156
4.3.3 Cara Usaha Tani Padi Sawah di Desa Jenggrik
Usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik secara umum memerlukan waktu selama 4 bulan atau 120 hari pada setiap musimnya. Setiap musim memiliki proses yang sama yaitu meliputi:
Gambar 4.3 Proses Usaha tani Padi Sawah di Desa Jenggrik
Sumber: Data lapang di olah
Berdasarkan Gambar 4.3 dapat diketahui bahwa usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik dapat dikelompokan menjadi 5 tahapan besar yaitu proses penyemaian benih, proses /persiapan lahan, proses penanaman benih, proses perawatan yang meliputi pemupukan, pengairan, penganggulan hama dan proses terakhir yaitu proses pemanenan. Berikut merupakan uraian setiap proses usaha tani padi sawah di Desa Jenggrik:
1. Pembenihan sebagai ‘cikal bakal’ tanaman padi
Pembenihan merupakan proses awal yang harus dilakukan petani sebelum berusaha tani. Kegiatan tersebut dimulai dari pemilihan benih padi berkualitas. Petani Desa Jenggrik biasanya membeli benih berkualitas dari toko pertanian, bantuan pemerintah atau membuat sendiri dari hasil panen sebelumnya.
Petani akan menentukan kapan masa tanam benih dan Penyemaian
Benih
Persiapan Lahan
Penanaman Benih
Perawatan Panen
157
menyesuaikan tahapan/proses pembuatanya. Berikut merupakan pernyataan yang disampaikan oleh Pak Selar:
“pinihan kui digawe sik proses e gawe dewe nyebar lah bahasane. Benih e tuku neng toko pertanian, cuma proses menyemaine kui yo aku dewe, varietas e aku mesti nandur ciherang. Regane sak pes (limang kilonan) sekitar seket nganti suidak ewu tergantung jenise opo soale kan macem e akeh serang ki. Winih kui siap ditanam antara umur rong puluh nganti selawe.”
(pembenihan itu dibuat terlebih dahulu prosesnya saya buat sendiri nyebar lah istilahnya. Benihnya itu beli ditoko pertanian, cuma proses menyemainya itu ya aku sendiri. Kalau varietas biasanya saya pasti menanam ciherang. Harganya 1 pack sekitar Rp. 50.000,- - Rp. 65.
000,- tergantung jenisnya apa soalnya kan jenisnya banyak ciherang itu. Benih itu siap ditanam antara umur 20-25 hari)
Menurut penuturan Pak Selar dapat diketahui bahwa tahapan pertama yang dilakukan dalam berusaha tani adalah membuat pinihan1. Proses penyemaian benih dilakukan sendiri oleh petani atau penggarap, durasinya berlangsung antara 20-25 hari. Namun, petani yang menggunakan mesin tanam transpanter hanya perlu merawat benih hingga umur 12 hari dari persemaian. Hal tersebut diungkapkan oleh Pak Darmo,
“Benih itu umur dua puluh sampai dua puluh lima hari siap ditanam. Itu kalau pakek cara yang manual, kalau saya memakai transplanter jadi umurnya ndak sampek
1 Pinihan atau persemaian yaitu merupakan bagian dari lahan petani yang digunakan untuk menaburkan benih padi atau gabah (penyemaian benih)
158
segitu, paling dua belas hari. Kalau yang manual umurnya sekitar segitu tadi”
(Benih itu umur 20-25 hari siap ditanam. Itu kalau pakek cara yang manual, kalau saya memakai tranpanter jadi umurnya ndak sampek segitu, paling 12 hari. Kalau yang manual umurnya sekitar segitu tadi)
Menurut penuturan Pak Darmo dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan dalam durasi penyemaian benih tanaman padi. Jika petani menggunakan cara tanam manual maka durasi yang diperlukan adalah selama 20-25 hari. Namun jika petani menggunakan mesin tanam maka persiapan benih hanya memerlukan waktu sebanyak 12 hari. Perbedaan durasi yang cukup panjang tersebut kemudian menjadi alasan mengapa petani yang menggunakan mesin tanam transpanter menjadi lebih efektif dan efisien. Hal tersebut dikarenakan mampu memangkas waktu persiapan benih hingga dua kali lipat lebih cepat dibandingkan dengan cara tanam manual.
‘Benih muda’ yang ditanam dengan mesin transplanter diyakini memiliki ‘anakan’ yang lebih banyak jika dibandingkan dengan benih yang sudah berumur diatas 20 hari. Namun, permasalahan yang seringkali menghambat petani adalah pertumbuhan rumput atau gulma pengganggu tanaman lebih cepat dibandingkan dengan benih padi muda.
Oleh karena itu, petani harus sering menyiangi tanaman padi muda untuk memastikan pertumbuhan tanaman padi tidak
159
terhambat oleh gulma serta nutrisi atau pupuk yang diberikan petani mampu diserap secara sempurna.
Lebih lanjut, seiring dengan berkembangnya teknologi, durasi yang diperlukan untuk persiapan benih menunjukan tren yang semakin cepat. Hal tersebut diungkapkan oleh informan berikut ini:
“Dadi tani ki penak saiki, nek jaman biyen wi gak kenek disengkakne, winih i nganti umur telung puluh nganti telung puluh limo”
(Jadi tani itu mudah sekarang, kalau zaman dulu itu tidak bisa dipercepat, benih itu sampai umur 30-35 [hari])
Menurut penuturan Pak Sutris dapat diketahui bahwa terjadi percepatan durasi yang diperlukan dalam proses persiapan benih. Perkembangan zaman yang diikuti oleh perbaikan teknik budidaya dan teknologi pertanian mendorong usaha tani menjadi semakin efektif dan efisien. Faktor teknik budidaya dan teknologi terbukti mampu ‘memangkas’ proses persiapan benih hingga dua kali lebih cepat. Lebih lanjut, upaya percepatan proses persiapan benih juga terus dilakukan oleh petani. Namun, upaya percepatan tersebut belum membawa keberhasilan. Hal tersebut diungkapkan oleh Pak Darmo:
“Tanam SRI benih ditanam umur lima sampai enam hari. Itu kesulitan saya waktu itu gagal karena tumbuhnya duluan rumputnya dari pada padinya.
Waktu itu jarak antar tanamnya 30 kali 30 sentimeter
160
jadi seperti tegel ini. Waktu itu saya hampir gagal soalnya kalah dengan suket (rumput), waktu itu belum ada penyemprotan herbisida seperti sekarang ini”
Menurut penuturan Pak Darmo percobaan tentang teknik budidaya baru pernah dilakukan, yaitu teknik tanam padi SRI atau System of Rice Intensification. Namun, teknik budidaya tersebut tidak cocok diterapkan di wilayah Desa Jenggrik. Pertumbuhan rumput yang lebih cepat dari pada tanaman padi membuat usaha tani dengan teknik tersebut nyaris gagal. Hal tersebut terjadi karena belum adanya sarana penunjang seperti penyemprotan herbisida dan teknik pengendalian gulma lainya.
Petani di Desa Jenggrik rata-rata menanam padi dengan Varietas Ciherang, IR64, 32, Malboro, dan Logawa.
Benih tersebut dirasa cocok dengan kondisi fisik wilayah Desa Jenggrik. Pada dasarnya keputusan petani dalam memilih benih sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan preferensi petani sendiri.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas pertumbuhan benih padi diantaranya adalah kualitas benih, cuaca, dan tingkat serangan hama. Kualitas benih pada prinsipnya memiliki peran utama terhadap pertumbuhan benih. Benih bersertifikat memiliki peluang yang lebih besar untuk tumbuh dengan baik jika dibandingkan dengan benih
161
yang tidak bersertifikat. Benih bersertifikat dapat diperoleh petani dari toko pertanian maupun bantuan dari pemerintah.
Benih bersertifikat mempunyai spesifikasi yang lebih akurat atas beberapa indikator di antaranya tingkat kadar air, benih murni, benih varietas lain, kotoran benih, daya berkecambah hingga jumlah biji gulma. Setiap indikator mempunyai peran terhadap keberhasilan proses pertumbuhan benih padi. Benih yang berkualitas tinggi memiliki kecenderungan mampu tumbuh dengan baik.
Preferensi petani di Desa Jenggrik dalam memilih jenis benih sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan isu yang berkembang antar petani. Ketika seorang petani memutuskan untuk menanam varietas tertentu dan panen yang dihasilkan sangat baik maka hal tersebut juga akan ikuti oleh petani lain disekitarnya. Berbeda dengan petani yang sudah memiliki pengalaman yang cukup panjang dengan varietas tertentu, maka mereka akan memutuskan untuk mempertahankan varietas yang sejak dahulu sudah mereka tanam.
Kendala yang seringkali muncul dalam proses pembenihan adalah gangguan hama dan penyakit tanaman.
Ketika benih terserang hama dan penyakit, maka pertumbuhannya akan menjadi kurang optimal. Petani di Desa Jenggrik akan melakukan serangkaian upaya untuk mengatasi