DARI UU NO.19 TAHUN 2013 A. Kebijakan Pemerintah dalam menghadapi Pasar Bebas
B. Peran Pemerintah berdasarkan UU No. 19 Tahun 2013
Produk pertanian indonesia yang dihasilkan sangat bergantung pada iklim.
Indonesia dengan iklimnya yang tropis memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Kedua musim tersebut sangat berpengaruh sekali terhadap hasil pertanian. Bila cuaca mendukung, hasil pertanian akan sangat bagus dan bila cuaca tidak mendukung atau kemarau dan hujan yang berkepanjangan hal itu akanberpengaruh negatif terhadap hasil pertanian bahkan para petani berisiko untuk gagal panen. Selain itu, hal-hal lain yang berisiko terhadap pertanian adalah hama atau penyakit pertanian yang menyerang pertanian. Risiko yang dialami oleh petani ini ditanggung sendiri oleh petani dimulai dari pembelian bibit hingga
87 Sudirman .I. Wayan, Kebijakan Fiscal dan Moneter dan Empirikal Edisi ke-2, Jakarta;
Kencana.2014,hlm ,78.
risiko terhadap gagal panen ini dengan berhutang uang kepada rentenir, tengkulak dan pihak-pihak lainnya.
Pembayaran utang-utang tersebut dipastikan selalu ditambah dengan bunga yang pada kenyataannya hal ini membuat para petani berat dalam menghadapi keharusan membayar pengembalian utang beserta bunganya tersebut.Para petani sangatlah dirugikan oleh hal-hal yang disebutkan diatas.
Maka dalam hal ini diperlukan peran pemerintah dalam mengurangi kerugian petani dalam menanggulangi risiko tersebut. seperti yang kita ketahui bahwa sektor pertanian itu mempengaruhi hajat hidup orang banyak, dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat yang berbunyi:
“Untuk membentuk suatu Pemerintah NegaraIndonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilansosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Berdasarkan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat di atas bahwa diperlukan peran langsung pemerintah dalam menanggulangi risiko pertanian yang dampaknya berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak untuk mewujudkan kemajuan kesejahteraan umum seperti yang disebutkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat di atas.Untuk mewujudkan penanggulangan risiko pertanian tersebut, peran pemerintah sudah terlihat dengan adanya pengalihan risiko pertanian kepada Asuransi seperti yang tercantum dalam Pasal 37 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 Tentang
Perlindungan Dan Pemberdayaan Petani yang berbunyi: “ Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban melindungi Usaha Tani yang dilakukan oleh Petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dalam bentuk Asuransi Pertanian.”
Dari penjelasan Pasal 37 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani disebutkan bahwa Negara sebagai penguasa cabang produksi pertanian ikut bertanggungjawab terhadap risiko pertanian dengan memberikanfasilitas pembiayaan dan permodalan sebagai upaya ganti rugi kepada petani yang bersumber pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (yang selanjutnya disingkat APBN) sepertiyang tertera dalam Pasal 66 ayat (1) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani yang menyebutkan :“Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban memfasilitasi pembiayaan dan permodalan petani.”
Pada kenyataannya ganti kerugiantersebut di lapangan banyak sekali mendapatkan hambatan dikarenakan jumlah ganti rugi yang tidak sesuai atau mekanisme ganti rugi yang tidak sesuai dengan petani. Hal ini juga menjadi risiko negara dalam hal ganti rugi yang bersumber pada APBN. Untuk itu diperlukan penanggulangan risiko yang tidak menimbulkan kerugian langsung dari APBN.
Oleh karena itu, untuk meminimalkan penggunaan APBN dalam ganti rugi gagal panen ini diperlukan pihak lain yang dapat membantu menanggulangi masalah ini, yaitu pengalihan risiko kepada perusahaan asuransi.
Munculnya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (yang selanjutnya disebut UU Perlindungan dan
Pemberdayaan Petani) merupakan sebagian dari peran pemerintah dalam membantu petani dalam menghadapi permasalahan kesulitan memperoleh prasarana dan sarana produksi, kepastian usaha, resiko harga, kegagalan panen, praktik ekonomi biaya tinggi dan perubahan iklim seperti disebutkan dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang ini. Pengalihan risiko gagal panen sudah tercantum dalam Undang-Undang ini dalam Pasal 7 ayat (2) yang menyebutkan Strategi Perlindungan Petani dilakukan melalui :
a. prasarana dan sarana produksi pertanian;
b. kepastian usaha;
c. harga komoditas pertanian;
d. penghapusan praktik ekonomi biaya tinggi;
e. ganti rugi gagal panen akibat kejadian luar biasa;
f. sistem peringatan dini dan penanganan dampak perubahan iklim;dan g. asuransi pertanian.”
a). Prasarana dan sarana produksi pertanian
Prasarana Pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat(1) antara lain meliputi:
a. jalan Usaha Tani, jalan produksi, dan jalan desa;
b. bendungan, dam, jaringan irigasi, dan embung; dan c. jaringan listrik, pergudangan, pelabuhan, dan pasar.
Selain itu Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya bertanggung jawab menyediakan sarana produksi Pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf a secara tepat waktu dantepat mutu serta harga terjangkau bagi Petani.
b). Kepastian usaha
Untuk menjamin kepastian usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf b, Pemerintah danPemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannyaberkewajiban:
a. menetapkan kawasan Usaha Tani berdasarkan kondisidan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia,dan sumber daya buatan;
b. memberikan jaminan pemasaran hasil Pertania kepada Petani yang melaksanakan Usaha Tani sebagaiprogram Pemerintah;
c. memberikan keringanan Pajak Bumi dan Bangunanbagi lahan Pertanian produktif yang diusahakan secara berkelanjutan; dan
d. mewujudkan fasilitas pendukung pasar hasil Pertanian.
c). Harga komoditas pertanian
Pemerintah berkewajiban menciptakan kondisi yang menghasilkan harga Komoditas Pertanian yangmenguntungkan bagi Petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf c. Kewajiban Pemerintah menciptakan kondisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukandengan menetapkan:
a. tarif bea masuk Komoditas Pertanian;
b. tempat pemasukan Komoditas Pertanian dari luar negeri dalam kawasan pabean;
c. persyaratan administratif dan standar mutu;
d. struktur pasar produk Pertanian yang berimbang;dan e. kebijakan stabilisasi harga pangan.
d). Penghapusan praktik ekonomi biaya tinggi
Penghapusan praktik ekonomi biaya tinggi sebagaimanadimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf d dilakukan dengan menghapuskan berbagai pungutan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
e). Ganti rugi gagal panen akibat kejadian luar biasa
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan bantuan ganti rugigagal panen akibat kejadian luar biasa sebagaimanadimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf e sesuai dengankemampuan keuangan negara.
f). Sistem peringatan dini dan penanganan dampak perubahan iklim
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengankewenangannya membangun sistem peringatan dini dan penanganan dampak perubahan iklim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf f untuk mengantisipasi gagal panen akibat bencana alam.
g). Asuransi pertanian
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban melindungi Usaha Taniyang dilakukan oleh Petani sebagaimana dimaksuddalam Pasal 12 ayat (2) dalam bentuk AsuransiPertanian. Asuransi Pertanian sebagaimana dimaksud dilakukan untuk melindungi Petani dari kerugian gagal panen akibat:
a. bencana alam;
b. serangan organisme pengganggu tumbuhan;
c. wabah penyakit hewan menular;
d. dampak perubahan iklim; dan/atau
e. jenis risiko-risiko lain diatur dengan Peraturan Menteri.
Dalam Pasal 247 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (yang selanjutnya disebut KUHD)pun menyebutkan beberapa jenis asuransi yaitu asuransi kebakaran, asuransi jiwa, asuransi pengangkutan dan termasuk asuransi pertanian. Dalam Pasal 247 KUHD ini terdapat kata “ antara lain “ yang menurut Emmy Pangaribuan Simanjuntaksalah seorang pakar hukum Universitas Gadjah Mada menyatakan secara yuridis tidak membatasi atau menghalangi timbulnya jenis-jenis pertanggungan lain menurut kebutuhan masyarakat.Hal ini memungkinkan untuk mengadakan peralihan resiko menurut kebutuhan masyarakat,88
“(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban melindungi Usaha Tani yang dilakukan oleh Petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dalam bentuk Asuransi Pertanian.
karena dirasalahan pertanian membutuhkan penanggulangan kerugian atas resiko pertanian yang dialami.
Pemerintah dalam hal ini telah menjalankan program Asuransi Pertanian yang telah diwujudkan pada tahun 2014 ini, dalam hal ini diharapkan dapat menumbuhkan kemandirian petani sehingga apabila terjadi kerugian akibat gagal panen dapat ditanggulangi oleh klaim dari asuransi. Asuransi pertanian diIndonesia sudah tercantum dalam Pasal 37 Undang-Undang nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan Dan Pemberdayaan Petani(Selanjutnya disebut Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani) disebutyang menyebutkan :
88 Man Suparman Sastrawidjaja dan Endang. Hukum Asuransi Perlindungan Tertanggung Asuransi Deposito dan Usaha Perasuransian (Bandung: Alumni, 2010) hlm.46
.
Asuransi Pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk melindungi Petani dari kerugian gagal panen akibat:
a. bencana alam;
b. serangan organisme pengganggu tumbuhan;
c. wabah penyakit hewan menular;
d. dampak perubahan iklim; dan/atau
e. jenis resiko -resiko lain diatur dengan Peraturan Menteri.”
C.Upaya Pemerintah dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia Petani di