BAB IV USAHA-USAHA HUBUNGAN HARMONIS KAUM
B. Peran Organisasi Keagamaan
4. Peran Pemerintah
Negara atau pemerintah sebagai pemegang otoritas tertinggi
berkepentingan untuk melindungi segenap warga masyarakat, entitas yang ada dan menjadi bagian darinya. Negara dituntut mampu menyatukan ragam perbedaan yang ada dalam sebuah konsensus kenegaraan, kewarganegaraan berkenaan dengan cita-cita bersama. Karena cita-cita bersama itulah yang pada puncak abstraksinya paling mungkin mencerminkan kesamaan-kesamaan
132 M. Ridwan Lubis, Kerukunan Beragama dalam Cita dan Fakta, (Jakarta: PKUB, 2016), h. 14
kepentingan di antara sesama warga masyarakat yang dalam kenyataannya harus hidup di tengah pluralisme dan kemajemukan.
Fakta keragaman dan kemajemukan yang ada di Tuban, maka muatan penting yang harus ada dalam sebuah konstitusi negara adalah adanya jaminan dan pengakuan hak-hak warga negara. Prinsip ini cukup penting mengingat bahwa pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia pada dasarnya merupakan bagian dari prinsip perlindungan hukum terhadap warga negara yang sah. Prinsip ini menjadi bagian dari tugas negara sebagai upaya memberikan penghormatan terhadap manusia dalam rangka membangun rasa kemanusiaan antar sesamanya.
Negara Indonesia tidak identik dengan agama tertentu karena negara melindungi semua agama yang ingin dipeluk rakyatnya, demikian pula negara juga tidak melepaskan agama dari urusan negara. Negara bertanggungjawab atas eksistensi agama, kehidupan beragama dan kerukunan hidup beragama. Keterkaitan antara agama dan negara di Indonesia dapat dilihat dari lembaga-lembaga keagamaan, peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan agama atau kehidupan keagamaan, dan kebijakan-kebijakan lain yang
bertalian dengan kehidupan keagamaan.133
Di Indonesia terdapat beberapa regulasi yang secara normatif memberikan batasan terhadap pelaksanaan hak kebebasan beragama dalam rangka pembinaan kerukunan umat beragama, meski sebagian kalangan kerap menyebut bahwa dalam praktiknya regulasi tersebut justru kerap dianggap menjadi pembenar bagi mereka yang menganut paham sektarian yang selalu melihat kebenaran dari sudut pandang mereka sendiri dan menolak perspektif
133 Ahmad Sukardja, Piagam Madinah dan UUD 1945, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1995), h. 146.
lainnya sehingga paradoks dengan semangat kebebasan beragama yang dianut konstitusi.
Secara garis besarnya kerukunan terbagi dua, yaitu: kerukunan internum dan eksternum. Kerukunan internum adalah kerukunan yang meyakini secara absolut ajaran yang dianutnya dan tidak membuka diri mencari kebenaran yang lain. Eksternum adalah mengakui, menghormati, menghargai dan bahkan mendukung keberadaan penganut agama lain dan ikut menikmati hari besar
keberagamaan agama lain.134
Lazimnya dalam dunia pemerintahan mengambil peranan penting dalam menyongsong kehidupan harmonis antarwarga dan antaragama. Indonesia disebut sebagai Negara Religius—Demokratis ditunjukkan oleh adanya undang-undang dasar 1945 pasal 29 ayat (1 dan 2 ), pasal 28E dan 28I, yang berbunyi:
(1). Negara berdasar atas ketuhanan yang maha esa. (2). Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing berdasarkan kepercayaannya. (Pasal 29 ayat 1 dan 2 tentang agama).135
(1). Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. (1). Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran, dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut
134 M. Ridwan Lubis, Masa Depan Kebebasan Beragama di Indonesia: Tinjauan Teologis, Sosiologis dan Politis. Artikel disampaikan pada “Seminar Peringatan Sumpah
Pemuda, Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Uhsuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.” 28 Oktober 2015. Teater Fakultas Ushuluddin. Lt.4. h. 1.
adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan
apapun. (Pasal 28E dan 28I tentang hak dan kewajiban).136
Kedua pasal tersebut di atas sebetulnya memiliki poin yang sama, hanya saja ada sedikit perbedaan, karena pasal tersebut adalah pasal yang menegaskan bahwa hak beragama merupakan salah satu hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi, dibatasi, dihalang-halangi, atau dilarang dalam keadaan apapun (hak internum). Hak yang demikian disebut oleh M. Ridwan Lubis sebagai hak-hak yang tidak dapat dikurangi atau tidak dapat diganggu
gugat dalam keadaan apapun (non derogable right).137
Kebebasan beragama kemudian diatur dalam Pasal 22 UU dan Pasal 55 UU No. 39 Tahun 1999, serta Pasal 18 Internasional Convenant on Civil and Political Rights yang diartifikasi menjadi UU No. 12 Tahun 2005 Ayat (1) dan (2). Secara utuh berikut penulis kutip ulasan mengenai undang-undang convenan ini yang sudah dituangkan dalam undang-undang No. 39 tahun 1999.138
Pasal 1
1. Semua bangsa berhak untuk menentukan nasib sendiri. Berdasarkan hak tersebut mereka bebas untuk menentukan status politik mereka dan bebas untuk mengejar kemajuan ekonomi, sosial dan budaya mereka.
2. Semua bangsa, untuk tujuan-tujuan mereka sendiri, dapat mengelola kekayaan dan sumber daya alam mereka tanpa mengurangi kewajiban-kewajiban yang timbul dari kerjasama ekonomi internasional, berdasarkan
136 Puslitbang, Kompilasi Kebijakan Peraturan Perundang-Undangan Kerukunan
Umat Beragama, (Jakarta: Puslitbang, 2009), h. 119-120. Baca Ihsan Ali Fauzi, Samsu Rizal
Panggabean, Trisno S. Sutanto, dalam Budhy Munawar Rachman, Membela Kebebasan
Beragama, (Jakarta: LSAF, 2015), h. xvi-xvii.
137 M. Ridwan Lubis, Masa Depan Kebebasan Beragama di Indonesia: Tinjauan Teologis, Sosiologis dan Politis. Artikel disampaikan pada “Seminar Peringatan Sumpah
Pemuda, Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Uhsuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.” 28 Oktober 2015. Teater Fakultas Ushuluddin. Lt.4. h. 1.
138 https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/40261/uu-no-12-tahun-2005. Diakses 13 Maret 2021.
prinsip saling menguntungkan dan hukum internasional. Dalam hal apapun tidak dibenarkan untuk merampas hak-hak suatu bangsa atas sumber-sumber penghidupannya sendiri.
3. Negara Pihak pada Kovenan ini, termasuk mereka yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan Wilayah Tanpa Pemerintahan Sendiri dan Wilayah Perwalian, harus memajukan perwujudan hak untuk menentukan nasib sendiri, dan harus menghormati hak tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pasal 2
1. Setiap Negara Pihak pada Kovenan ini berjanji untuk menghormati dan menjamin hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini bagi semua orang yang berada dalam wilayahnya dan tunduk pada wilayah hukumnya, tanpa pembedaan apapun seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat lain, asal-usul kebangsaan atau sosial, kekayaan, kelahiran atau status lainnya.
2. Apabila belum diatur dalam ketentuan perundang-undangan atau kebijakan lainnya yang ada, setiap Negara Pihak dalam Kovenan ini berjanji untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan, sesuai dengan proses konstitusinya dan dengan ketentuan – ketentuan dalam Kovenan ini, untuk menetapkan ketentuan perundang-undangan atau kebijakan lain yang diperlukan untuk memberlakuka hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini.
3. Setiap Negara Pihak pada Kovenan ini berjanji:
(a) Menjamin bahwa setiap orang yang hak-hak atau kebebasannya diakui dalam Kovenan ini dilanggar, akan memperoleh upaya pemulihan yang efektif, walaupun pelanggaran tersebut dilakukan oleh orang-orang yang bertindak dalam kapasitas resmi;
(b) Menjamin, bahwa setiap orang yang menuntut upaya pemulihan tersebut harus ditentukan hak-haknya itu oleh lembaga peradilan, administratif, atau legislatif yang berwenang, atau oleh lembaga berwenang lainnya yang diatur oleh sistem hukum Negara tersebut, dan untuk mengembangkan segala kemungkinan upaya penyelesaian peradilan;
(c) Menjamin, bahwa lembaga yang berwenang tersebut akan melaksanakan penyelesaian demikian apabila dikabulkan.
Salah satu sikap pemerintah terhadap agama adalah semestinya tidak terlalu banyak mengintervensi persoalan agama, sebab negara jika terlalu masuk dalam urusan agama yang ada malah mendiskreditkan agama menjadi bahan politik praktis tanpa berkesudahan. Lebih-lebih kepada penganut kaum beragama akan merasa risih ketika negara mencampuri urusan yang sebetulnya ada di wilayah personal, kemudian diatur oleh negara. Sikap pemerintah atau negara terhadap agama tidak lebih hanya tertuang dalam pasal 29 ayat 2 yang berbunyi:
“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan
kepercayaaannya itu”.139
Badung menjadi kabupaten yang perkembangan keagamaannya mengalami kenaikan khususnya kaum Muslim. Sebagaimana ditunjukkan oleh data penelitian Prof. Dr. I Made Pasek Diantha, S.H., M.S dkk, atas kerjasama Kabupaten Badung dengan Fakultas Hukum Universitas Udayana Tahun 2017, dengan judul penelitian “Kajian Yuridis Tentang Perubahan Status Kelurahan menjadi Desa di Kabupaten Badung.” Menurut penuturan informan penulis pun demikian adanya, bahwa Kaum Muslim di Tuban, Badung menjadi pemeluk agama Islam mayoritas.
Pemerintah dalam hal ini Kabupaten Badung yang dipimpin oleh Bupati Giri Prasta, mengambil peranan dalam menjawab kebutuhan masyarakat dalam bernegara dan beragama sebagaimana lazimnya, Pemerintah Kabupaten Badung membantu pembangunan tempat ibadah baik tempat ibadah untuk agama Hindu, Islam, Katolik, Konghuchu dan Protestan serta Budha terus
dilakukan. Hubungan sosial keagamaan ini menurut Bupati Badung, Giri Prasta tidak lain adalah upaya untuk meringankan beban sosial seluruh masyarakat Badung dan itu adalah kewajiban pemerintah untuk mengayomi masyarakatnya. Itu berarti semua insan mendapat perlakuan sama tanpa memandang suku, ras, dan agama. Inilah andil pemerintah terhadap agama yang ada di Kabupaten Badung tercermin hubungan yang dinamis dan harmonis.
Melihat ralitas sosial masa lalu di era Orde Baru, muncul gejolak sosial kaitannya dengan problematika pendirian rumah ibadah. Dengan sigap pemerintah mengambil inisiatif dengan mengeluarkan kebijakan yang disebut Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri N0. 1Tahun 1969. SKB ini sebagai acuan dasar bagi setiap Kepala Daerah untuk menyusun kebijakan atau perumusan pemeliharaan kerukunan antarumat beragama dalam memahami kemajemukan sosial.
Nyatanya penerapan kebijakan SKB ini tidak semuanya seragam dalam setiap daerah. Untuk provinsi Bali sendiri menerapkan peraturan yang mengharuskan calon pengguna rumah ibadah menyiapkan 100 orang kepala keluarga (bukan penduduk), bila syarat ini terpenuhi maka pendirian rumah ibadah bisa dilakukan. Bila diakumulasikan dari 100 calon pengguna pendirian rumah ibadah ini, maka jumlah tersebut paling tidak bisa dua kali lipatnya (200 orang calon pengguna).
Dalam konteks Bali, karena alasan ke-khas-an adat dan agama, seperti dalam hal pawongan, palemahan, dan parahyangan, di Bali akhirnya memiliki ciri khusus dalam penerapan pendirian rumah ibadah, melampaui hukum formal di wilayah lain. Di Riau (sejak 1981) dan Bengkulu (sejak 1993) misalnya komunitas tertentu boleh mendirikan rumah ibadah dengan persyaratan minimal ada calon jemaah 40 Kartu Keluarga (KK) di sekitar
lokasi itu. Sementara di Sulawesi Tenggara, syaratnya lebih besar sedikit yakni harus memenuhi unsur 50 Kartu Keluarga (KK) untuk hal yang sama. Beda halnya dengan Bali, memberikan syarat yang cukup memberatkan dan menjadi satu-satunya syarat pendirian rumah ibadah terbesar di Indonesia, dengan catatan calon jemaah komunitas agama tertentu musti mempersiapkan Kartu Keluarga (KK) sebanyak 100 KK, sebuah jumlah yang tampak sukar untuk dipenuhi.140
Adanya peraturan yang ditetapkan secara komunal oleh Kementerian Agama dan Kementerian Dalam Negeri ini pada dasarnya merupakan titik simpul, titik kompromi, jalan tengah, yang berhasil diperoleh setelah melakukan negosiasi di kalangan kanwil-kanwil majelis agama selama kurang lebih 6 bulan. Lamanya proses negosiasi ini karena terjadinya tawar menawar menuju mufakat yang dilakukan oleh majelis-majelis agama seperti: MUI, PGI, KWI, WALUBI, dan PHDI. Pendirian rumah ibadah tidak mengalami hambatan dan problem serius manakala telah memberdayakan nilai-nilai kearifan lokal, sebagai tangga penyambung lidah masyarakat untuk terwujudnya kerukunan hidup harmonis antarumat beragama.
Selanjutnya pendirian rumah ibadah diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 9 Tahun 2006 dan No. 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Tempat Ibadah. Disebutkan dalam pasal berikut:
“Pasal 14 ayat 2 dalam pendirian rumah ibadah harus memenuhi persyaratan sebagai berikut, meliputi: (a). Daftar nama dan KTP calon pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 orang yang disahkan oleh pejabat
140 Balitbang Kementerian Agama, Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri
setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah. (b). Dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh lurah/kepada
daerah/kepala desa.”141
Meski demikian peraturan yang ada telah disepakati dan dipenuhi oleh masyarakat Bali dalam hal pendirian rumah ibadah. Namun untuk kasus rumah ibadah di Tuban, Badung, Bali tidak tergolong dan berpengaruh pada aturan SKB yang ada, sebab rumah ibadah yang disebut Tri Mandala di Desa Tuban, Badung, Bali sejak awal sudah difasilitasi oleh Pemerintah Angkasa Pura I (Bandara Ngurah Rai) Bali. Jadi masyarakat di Desa Tuban tidak perlu repot-repot memikirkan peraturan bersama menteri di atas. Peraturan itu tidak
berlaku di Desa Tuban, Badung, Bali.142 Tanahnya milik Angkasa Pura I dan
bangunan rumah ibadah milik masing-masing agama; Islam, Hindu dan Kristen.