BAB III HUBUNGAN SOSIAL KEAGAMAAN MUSLIM
C. Hubungan dengan Pemerintah
2. Pernikahan Beda Agama
Indonesia berbasis negara hukum. Persoalan yang menyangkut tentang ketatanegaraan akan selalu tercatat rapi dalam pembukuan negara. Salah satunya kaitannya dengan perkara nikah atau perkawinan masyarakat
95 Sumber didapat dari https://www.pwnubali.or.id/2020/03/pc-gp-ansor-kabupaten-badung-adakan-konferensi-cabang-ke-iii/. Diakses 29 Desember 2020.
Indonesia maka dalam hal perkawinan akan merujuk pada Undang-Undang
No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.96 Menurut undang-undang tahun 1974
bab I, Pasal 1 disebutkan bahwa:
“Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pasal 2, Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Sedangkan bunyi pasal 3, Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Sementara undang-undang tahun 1974 tersebut sudah diuji dan direvisi dengan Undang-undang terbaru tentang perkawinan nomor 16 tahun 2019. Adapun bunyi pada Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, menyatakan bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun. Azaz ini kemudian diadakan perubahan norma dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ini menjangkau batas usia untuk melakukan perkawinan, perbaikan norma menjangkau dengan menaikkan batas minimal umur perkawinan bagi wanita. Dalam hal ini batas minimal umur perkawinan bagi wanita dipersamakan dengan batas minimal umur perkawinan bagi pria, yaitu 19 (sembilan belas) tahun.97 Batas usia dimaksud dinilai telah matang jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang sehat dan berkualitas.
96 https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/47406/uu-no-1-tahun-1974. Diakses 5 Februari 2021.
97 Lihat Undang-undang tentang pernikahan tahun 2019 SK No 006273 A. Telusuri https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/122740/uu-no-16-tahun-2019. Diakses 5 Februari 2021.
Melihat dari perspektif sejarah, masyarakat Hindu dan Muslim di Tuban, Badung, Bali, mayoritas dari Madura dan Jawa. Kebanyakan dari mereka bermata pencaharian pedagang, tetapi beberapa di antaranya adalah aktif sebagai tenaga pendidik dan aktif masuk dalam struktural pengurus NU misalnya Ketua PCNU Kabupaten Badung diketuai oleh H. Aap Syafruddin yang berasal dari Jawa. Oleh karenanya jauh sebelum H. Aap memimpin NU di Kabupaten Badung, telah lebih dulu kaum Muslim yang berdiam di Tuban, Badung, Bali. Dengan demikian beranak-pinak dengan sesama kelompok Muslim atau pun memilih jalan berbeda dengan menikahi perempuan lokal beragama Hindu.
Perkawinan merupakan suatu hal yang religius di mana suatu hubungan antara dua insan manusia yaitu laki-laki dan perempuan yang telah dewasa memiliki hasrat untuk bersatu dan berjanji dalam ikatan yang suci sebagai suami isteri untuk membentuk keluarga yang bahagia serta memperbanyak
keturunan.98 Pada dasarnya manusia bebas memilih dan menentukan siapa
yang akan dijadikan pasangan hidupnya kelak. Tradisi agama-agama ada yang membolehkan menikah beda agama dan ada yang melarang menikah dengan beda agama.
Menurut Hukum Hindu, perkawinan (wiwaha) adalah ikatan antara seorang pria dan wanita sebagai suami isteri untuk mengatur hubungan seks yang layak guna mendapatkan keturunan anak pria yang akan menyelamatkan arwah orangtuanya dari neraka Put, yang dilangsungkan dengan upacara ritual, menurut agama Hindu Weda Smrti, jika perkawinan tidak dilangsungkan dengan upacara menurut Hukum Hindu maka perkawinan itu tidak sah (perhatikan G. Pudja, 1974:9).99
Pernikahan tidak dapat dihindari oleh siapa pun, kecuali memang memilih jalan untuk samasekali menyendiri (membujang) seumur hidupnya. Tak
98 Boedi Abdullah,M.Ag., Perkawinan Dan Perceraian Keluarga Muslim, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), h. 20.
99 Hardikusuma Hilman, Hukum Perkawinan Indonesia menurut Perundangan,
terkecuali pernikahan lintas iman yang marak terjadi dari dulu hingga sekarang. Pernikahan antar beda agama terjadi juga di Bali, agama bukan menjadi alasan untuk mengejar cita dan cinta. Kekuatan cinta mampu menembus tembok kokoh, sehingga setebal apa pun tembok keyakinan seseorang terhadap agamanya akan terkalahkan oleh power of love.
Sekadar perbandingan bahwa di Lombok terkenal dengan tradisi “merariq” (melarikan diri membawa calon pasangan hidup). Untuk meminang perempuan musti dilakukan dengan tradisi merariq. Tradisi ini tidak menjadikan kedua calon dihukumi sanksi sosial. Melainkan sudah menjadi adat bersama di Lombok untuk proses peminangan wanita. Tahapan-tahapan merariq ada tiga cara, yakni: pertama, kedua pasangan memutuskan untuk bertemu disebuah lokasi yang akan dijadikan tempat untuk pelarian diri. Kedua, melalui perantara (biasanya keluarga laki-laki) atas nama laki-laki yang akan melakukan pelarian diri dan merancang pertemuan di suatu tempat. Ketiga, pelamar laki-laki menggunakan magis (doa-doa pemikat wanita) untuk menarik perempuan ke sebuah tempat di mana ia akan melarikan diri. Konon
praktik ini dipinjam oleh orang Lombok dari tradisi orang Bali.100
Sementara Islam berpandangan lain tentang pernikahan. Pernikahan dalam Islam merupakan perjanjian kontrak. Belakangan dianggap sebagai perjanjian suci (sacred contrak) terletak di antara sakral dan sebagai kontrak.101 Ali Engineer menagatakan bahwa laki-laki tidak memiliki hak istimewa di atas
100 John Ryan Bartholomew, Alif Lam Mim: Kearifan Masyarakat Sasak, (ed) Imron Rosidi, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), Cet. 1. h. 195-196. Baca Clifford Geertz,
Negara: The Theater State in Nineteeth Century Bali, (Princeton: Princenton University
Press, 1992), h. 12. James Boon, “The Balinese Marriage Predicament: Individual, Strategical, Cultural.” Dalam American Ethnologist, Vol. 3 No. 2. 1976. H. 191-214.
101 Tahir Mehmood dalam Gajendragadkar Memorial Lectures yang berasal dari Bombay University tahun 1984, menggambarkan pernikahan dalam Islam bukan hanya sebagai perjanjian kontrak, namun sebagai perjanjian suci, sakral sekaligus sebagai kontrak. Baca Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Cet. V, h. 239.
wanita, dan wanita juga tidak memiliki hak istimewa di atas laki-laki, keduanya sederajat dalam kemanusiaan. Secara kebutuhan praktis, misalnya wanita tidak dipenuhi haknya oleh seorang suami, maka disitulah hak wanita dapat diterima, yaitu hak untuk bercerai dengan catatan bila perempuan diperlakukan tidak adil oleh laki-laki. Sejauh pengetahuan penulis tidak ada hak yang begitu memihak kepada wanita dalam agama lain selain dalam Islam.
Kondisi pernikahan lintas agama yang terjadi pada masyarakat Bali disebabkan oleh tiga hal yakni: pertama, Hindu menjadi Muslim, kedua, Muslim menjadi Hindu, ketiga, Muslim tetap Muslim dan Hindu tetap Hindu. Persoalan yang pertama dalam Islam dibolehkan menikah dengan calon pengantin yang sudah memeluk agama Islam. Dalam tradisi Hindu bagi sanak saudara yang hendak lepas dari keyakinan awalnya maka perlu mengikuti aturan adat yang disebut “mepamit” dengan menghadirkan saksi dari adat (kelian adat, bandesa adat, kelian dinas, dan pihak keluarga). Setelah melalui proses ritual pelepasan dari agama Hindu untuk pindah keagama lain maka seseorang yang hendak masuk Islam baru diperbolehkan memeluk keyakinan barunya. Meski sudah berganti agama tetapi seseorang yang telah lepas dari keyakinan awalnya tetap diakui sebagai bagian dari keluarga utuh dan
merupakan sebuah penghormatan kepada keluarga asli.102 Bila calon pengantin
sudah masuk Islam maka pernikahan pun diberlangsungkan.
Kasus kedua di atas, Ketika seorang Muslim keluar dari Islam, dia disebut murtad. Non Muslim atau murtad tentu dalam Islam tidak dikenai taklif (pembebanan hukum). Oleh sebab itu, secara hukum fikih, orang yang sudah keluar dari Islam lalu menikah, maka pernikahannya tidak lagi menjadi persoalan dalam Islam. Artinya, sah atau tidaknya pernikahan orang tersebut tidak lagi dikaitkan dengan hukum fikih. Karena fikih menghukumi atau
membebani hukum kepada seorang Muslim. Untuk kasus ketiga penulis belum menemukan kasus pernikahan yang utuh atau pun hubungan sementara dari pasangan pengantin beda agama di Bali.
Lebih lanjut dalam tradisi Bali seorang Muslim yang hendak menikahi perempuan Bali diharuskan terlebih dahulu calonnya tersebut wajib melaksanakan Sudi Widani. Sudi Widani adalah proses upacara dimana yang bersangkutan resmi menyatakan diri sebagai umat Hindu. Kalau dalam versi Islamnya melakukan ritual syahadat terlebih dahulu sebelum pernikahan. Setelah itu, barulah upacara pernikahan dapat dilaksanakan secara sah menurut agama Hindu. Tidak ada pelarangan secara eksplisit dalam agama Hindu soal nikah beda agama. Namun, melihat dari rangkaian adat pernikahan, di mana upacara tersebut sempurna dan sah jika melalui proses Sudi Widani, pengakuan
menjadi Hindu terlebih dahulu.103
Sekadar perbandingan atas penelitian yang dilakukan oleh Dra. Anik Farida, M.Hum, dkk, “Perempuan dalam Sistem Perkawinan dan Perceraian di Berbagai Komunitas dan Adat”, penelitian ini difokuskan pada pernikahan
komunitas Sayyid104 masyarakat Cikoang (Makassar). Lebih jauh Anik Farida
menjelaskan, bahwa Sayyid dibolehkan memilih jodohnya sendiri, yang bukan dari keturunan Sayyid pula, dengan catatan sudah pernah menikah dengan
103 https://republika.co.id/berita/nasional/umum/14/09/15/nbxsyw-pernikahan-beda-agama-sulit-diterima-umat-hindu. Diakses 8 Februari 2021.
104 Kata Sayyid berasal dari bahasa Arab yang berarti Tuan. Sayyid juga bermanka gelar yang diperuntukkan kepada laki-laki, sementara perempuan mendapat julukan Syarifah. Sayyid biasanya identik dengan orang Arab, khususnya yang mengklaim diri sebagai keturunan Nabi Muhammad, melalui garis keturunan Cucu Nabi yang bernama Hosein. Sementara Sayyid yang ada di Indonesia berasal dari Hadromaut (Yaman Selatan). Di antara nama klan orang Arab yang ada di Indonesia adalah Al-Aidid, Al-Jufri, Al-Idrus, As-seggaf dan Al-Attas.
Syarifah pada pernikahan pertamanya, sebab Sayyid identik dengan patrilineal
(pewaris keturunan dari nama klan bapak).105
Kebolehan Sayyid menikahi perempuan diluar klan adat Sayyid ditunjukkan oleh dasar supaya dapat berasimilasi dengan masyarakat yang dinikahi. Sebab posisi Syarifah (perempuan Sayyid) tidak boleh memilih laki-laki untuk jodohnya, melainkan dipilihkan oleh keluarga dan orang tua. Kebebasan memilih jodoh bagi perempuan Sayyid tidak legal. Untuk itu supaya tetap dalam strata ke-Sayyidan-nya maka Syarifah hanya boleh memilih dan menikah dengan dan dari golongan Sayyid saja.