Pembahasan ini menguraikan mengenai peran pendamping dan kader dalam kegiatan LKM Posdaya Sauyunan. Peran pendamping dan kader akan dilihat perannya dalam memfasilitasi, mendidik, dan membimbing. Pendampingan merupakan salah satu upaya pemberdayaan yang diberikan oleh P2SDM LPPM IPB bagi Posdaya yang berada di daerah Bogor baik yang mencakup wilayah kota maupun kabupaten. Tujuan dilakukannya pendampingan agar mampu mengembangkan dan memajukan Posdaya dari berbagai aspek, melalui monitoring yang dilakukan oleh pendamping dari beberapa mahasiswa sebagai pendamping. Dengan adanya pendamping diharapkan bagi pemangku kepentingan Posdaya memiliki kemauan dan kesadaran untuk memajukan Posdaya-Posdaya yang dimiliki. Sedangkan kader adalah orang yang berasal dari lingkungan internal yang secara aktif mengurus kegiatan agar berjalan lancar. Kader dapat dikatakan sebagai pendamping internal yang intens bertemu dengan anggota, karena kader memiliki fungsi untuk mengurus kegiatan yang berhubungan dengan bidang yang digelutinya. Peran pendamping dan kader yang diamati dalam penelitian ini adalah intensitas memfasilitasi, intensitas mendidik dan intensitas membimbing. Berikut peran pendamping dan kader akan dipaparkan satu persatu dalam pembahasan ini.
Intensitas Memfasilitasi
Peran pendamping dan kader dalam memfasilitasi dilihat berdasarkan intensitas pendamping dalam mengajak diskusi, menampung keluhan, memberi ide/saran maupun memberi semangat kepada anggota. Intensitas pendamping dalam memfasilitasi anggota dibagi menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah yang disajikan dalam Tabel 9.
Tabel 9 Jumlah dan presentase anggota LKM menurut intensitas pendamping dalam memfasilitasi Intensitas pendamping dalam memfasilitasi Jumlah anggota (orang) Persentase (%) Rendah 46 64.8 Sedang 21 29.6 Tinggi 4 5.6 Total 71 100.0
Tabel 9 menunjukkan bahwa sebagian besar merasakan pelaksanaan/ kinerja pendamping dalam memfasilitasi berada pada kategori rendah, yang ditunjukkan oleh presentase sebesar 64.8 persen, sementara sebesar 29.6 persen yang menyatakan peran pendamping dalam memfasilitasi berada kategori sedang dan sebesar 5.6 persen yang menyatakan bahwa peran pendamping dalam memfasilitasi berada pada kategori tinggi. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pendamping belum cukup berperan sebagai fasilitator dalam memfasilitasi
anggota dalam diskusi, menampung keluhan, memberi ide/saran maupun memberi semangat kepada anggota.
Peran kader sebagai fasilitator juga dibagi menjadi tiga kategori, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Berikut peran kader sebagai fasilitator disajikan dalam Tabel 10.
Tabel 10 Jumlah dan presentase anggota LKM menurut intensitas kader dalam memfasilitasi
Intensitas kader dalam memfasilitasi
Jumlah anggota (Orang) Presentase (%)
Rendah 1 1.4
Sedang 38 53.5
Tinggi 32 45.1
Total 71 100.0
Tabel 10 menunjukkan bahwa sebagian besar reponden merasakan pelaksanaan/kinerja kader dalam memfasilitasi berada pada kategori sedang, yaitu dengan presentase sebesar 53.5 persen dan sebesar 45.1 persen responden menyatakan merasakan pelaksanaan/kinerja kader dalam memfasilitasi berada pada kategori tinggi, sementara hanya 1.4 persen yang menyatakan merasakan pelaksanaan/kinerja kader dalam memfasilitasi berada pada kategori rendah. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kader sudah cukup berperan sebagai fasilitator dalam memfasilitasi anggota berdiskusi, menampung keluhan, memberi ide/saran maupun memberi semangat kepada anggota. Mengajak anggota untuk kumpul dan diskusi dilakukan oleh kader karena melalui berkumpul/diskusi segala keluhan, saran dan ide ditampung.
Peran pendamping dalam memfasilitasi di Posdaya Sauyunan dirasa kurang bagi responden, hal ini dikarenakan sebagian besar responden tidak mengetahui adanya pendamping di Posdaya Sauyunan. Mereka hanya mengetahui pembina dan kader yang mengurus kegiatan LKM. Berbeda halnya dengan peran kader dalam memfasilitasi anggota sudah cukup baik, hal ini dikarenakan seluruh responden mengetahui adanya kader di Posdaya Sauyunan. Kader aktif menemui anggota dalam mengurus kepentingan yang berkaitan dengan peminjaman, bahkan terkadang kader mengajak anggota untuk berkumpul/berdiskusi, memberikan ide dan saran, menampung keluhan anggota dan memberikan semangat kepada anggota agar memiliki kemauan dan kesadaran untuk mengembangkan usaha. seperti yang diungkapkan oleh salah satu responden berikut ini:
“Kalau pendamping si jarang mengajak untuk berdiskusi atau
kumpul-kumpul, tapi kalau kadernya sering neng. Kader LKM mah aktif neng, kalau ada rapat pagi-pagi udah keliling ngasih tau ke anggotanya untuk rapat. Tapi kalau pendamping lebih seringnya datang ke ketua, mungkin yang tahu sama pendamping cuma yang deket-deket sama sekretariat dan deket
Intensitas Mendidik
Tantangan yang harus dilakukan oleh para pendamping dan kader adalah mengajar atau memberikan pendidikan kepada anggota untuk menumbuhkan kesadaran dan memberikan pengetahuan yang mudah dipahami dan dipraktekkan oleh anggotanya. Seorang pendidik harus menguasai pengetahuan dan keterampilan yang membantu anggota memperoleh informasi lebih luas. Pendamping dan kader harus mampu memberi arahan dan masukan-masukan yang membangun kepada anggota melalui penyuluhan atau sosialisasi yang dilakukan. Peran pendamping dan kader dalam mendidik diamati melalui intensitas dalam memberikan penyuluhan, informasi dan arahan. Peran pendamping dan kader dalam mendidik dibagi menjadi tiga kategori, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Berikut peran pendamping dalam mendidik disajikan dalam Tabel 11.
Tabel 11 Jumlah dan presentase anggota LKM menurut intensitas pendamping dalam mendidik Intensitas pendamping dalam mendidik Jumlah anggota (orang) Presentase (%) Rendah 49 69.0 Sedang 22 31.0 Tinggi 0 0.0 Total 71 100.0
Berdasarkan Tabel 11, terlihat bahwa sebagian besar kinerja pendamping dalam mendidik berada pada kategori rendah yang dinyatakan sebesar 69.0 persen, sementara responden yang menyatakan kinerja pendamping dalam mendidik berada pada kategori sedang sebesar 31.0 persen, dan tidak ada satupun responden yang menyatakan bahwa kinerja pendamping dalam mendidik berada pada kategori tinggi. Hal ini dikarenakan sebagian besar responden tidak pernah merasakan adanya pendamping yang memberikan penyuluhan, arahan atau informasi. Kebanyakan dari responden tidak mengetahui adanya pendamping di Posdaya Sauyunan meskipun peneliti telah menanyakan sedetail mungkin untuk memancing pengetahuan responden mengenai pendamping. Mereka hanya mendapatkan penyuluhan dari ketua atau kader dan pembina Posdaya. Informasi dan pengarahan yang didapatkan langsung dari ketua atau kader dan dari pihak bank yang memberikan pinjaman pada saat pencairan dana. Seperti yang diungkapkan oleh ketua Posdaya:
“Kalau untuk penyuluhan biasanya diadakan sebelum pencairan dana sama pencairan dana. Kalau sebelum pencairan dana biasanya penyuluhan dilakukan oleh bank yang meminjamkan dan yang dibantu oleh kader, kemudian pada saat pencairan dana, penyuluhan dilakukan oleh kader. Tetapi kalau pendamping pernah dikenalkan kepada anggota, dan pernah juga memberikan penyuluhan namun penyuluhan yang diberikan secara menyeluruh mengenai Posdaya tidak spesifik ke LKM, sehingga anggota yang kurang memperhatikan penyuluhan yang diberikan oleh pendamping mereka tidak mengetahui siapa pendamping”
Selain pendamping, kader juga dilihat peranannya dalam mendidik. Berikut peran kader dalam mendidik disajikan dalam Tabel 12.
Tabel 12 Jumlah dan presentase anggota LKM menurut intensitas kader dalam mendidik Intensitas kader sebagai dalam mendidik Jumlah anggota (orang) Presentase (%) Rendah 1 1.4 Sedang 46 64.8 Tinggi 24 33.8 Jumlah 71 100.0
Berdasarkan Tabel 12, dapat dilihat bahwa lebih dari setengah jumlah responden yang menjadi subjek penelitian menyatakan peran kader dalam mendidik tergolong dalam kategori sedang yaitu sebesar 64.8 persen, sementara responden yang menyatakan peran kader dalam mendidik tergolong dalam kategori tinggi sebesar 33.8 persen dan hanya 1.4 persen yang menyatakan peran kader pada kategori rendah. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kader sudah cukup berperan sebagai pendidik dalam memberikan penyuluhan atau sosialisasi baik pada sebelum pencairan dana maupun saat pelaksanaan atau pencairan dana, mampu memberikan informasi dan memberikan pengarahan yang berkaitan dengan LKM kepada anggota LKM.
Intensitas Membimbing
Proses pemberdayaan masyarakat perlu melibatkan keahlian secara teknis guna meningkatkan kapasitas anggota melalui keterampilan yang dimiliki. Begitupula peran pendamping dan kader di Posdaya, sebagai pembawa perubahan pemberdayaan, pendamping dan kader harus memiliki keterampilan khusus untuk mendorong pemberdayaan masyarakat. Peran pendamping dan kader dalam membimbing dibagi menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi. Berikut peran pendamping dalam membimbing disajikan melalui Tabel 13.
Tabel 13 Jumlah dan presentase anggota LKM menurut intensitas pendamping dalam membimbing Intensitas pendamping dalam membimbing Jumlah anggota (orang) Presentase (%) Rendah 69 97.2 Sedang 2 2.8 Tinggi 0 0.0 Jumlah 71 100.0
Berdasarkan Tabel 13, dapat dilihat bahwa kenerja/pelaksanaan peranan pendamping dalam membimbing berada dalam kategori rendah yaitu dengan presentase sebesar 97.2 persen. Sedangkan responden yang mengatakan peran pendamping dalam membimbing berada dalam kategori sedang sebesar 2.8 persen dan tidak ada satupun responden yang mengatakan kinerja/pelaksanaan dalam membimbing pada kategori tinggi. Dengan demikian, peran pendamping dalam
membimbing belum termasuk kategori baik dalam hal membimbing anggota mengelola uang pinjaman, membuat laporan dan mengembangkan usaha. Beda halnya dengan peran kader yang memiliki fungsi membantu dan mengarahkan anggota dalam kegiatan LKM. Berikut peran kader dalam membimbing disajikan melalui Tabel 14.
Tabel 14 Jumlah dan presentasi anggota LKM menurut intensitas kader dalam membimbing
Intensitas kader dalam membimbing Jumlah anggota (orang) Presentasi (%) Rendah 8 10.7 Sedang 34 45.3 Tinggi 29 40.8 Jumlah 71 100.0
Berdasarkan Tabel 14, terlihat bahwa kenerja/pelaksanaan peranan kader dalam membimbing berada dalam kategori sedang yaitu dengan presentase sebesar 45.3 persen. Sedangkan responden yang mengatakan peran kader dalam membimbing berada pada kategori rendah sebesar 25.4 persen dan responden yang mengatakan kinerja/pelaksanaan kader dalam membimbing pada kategori tinggi sebesar 40.8 persen. Dengan demikian, kader sudah cukup baik memainkan perannya dalam hal membimbing anggota mengelola uang pinjaman, membuat laporan dan mengembangkan usaha.
Sebagian responden tidak pernah merasakan adanya bimbingan dari pendamping. Bimbingan hanya datang dari ketua/kader disaat peminjaman dan dikontrol ketika mengembalikan. Begitupula dengan pembimbingan pembuatan laporan keuangan/LKM. Laporan keuangan hanya dibuat oleh kader beserta ketua, namun hal berbeda diungkapkan oleh ketua Posdaya yang mengungkapkan bahwa pendampingan yang dilakukan sudah cukup bagus dan sering mendatangi Posdaya Sauyunan, seperti yang diungkapkan sebagai berikut:
“Sebenarnya pendampingan di Posdaya Sauyunan ini sudah cukup bagus. Memang untuk pendampingan sebelum pendampingan pada periode ini kurang bagus dan kurang aktif seperti pendamping sekarang. Tetapi saya akui, bahwa pendamping yang sekarang sudah cukup bagus mendampingi kami. Karena pendamping sering datang bahkan mengontak saya. Hanya saja saya jarang membalas SMS, karena saya takut mengganggu pendamping dan kamipun ingin lebih mandiri memajukan Posdaya tanpa bergantung pada pendamping secara terus menerus”.
Perbedaan Peran Pendamping dan Kader di Posdaya Sauyunan
Perbedaan jelas antara pendamping dan kader telah dijelaskan sebelumnya dibagian awal pembahasan peran pendamping dan kader. Pendamping dan kader dilihat peranannya dalam memfasilitasi, mendidik, dan membimbing. Untuk membedakan peran yang dimiliki oleh pendamping dan kader, penulis menggunakan uji beda (uji T), untuk melihat peran yang lebih dominan antara pendamping dan kader. Berikut hasil Uji beda disajikan dalam Tabel 15.
Tabel 15 Hasil uji T atau Paired Test antara peran pendamping dan peran kader dalam memfasilitasi, mendidik dan membimbing
Paired sample test
Paired differences T Df Sig. (2-
tailed) Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 Pmemfasilitasi – Kmemfasilitasi -1.028 -1.193 -0.863 -12.441 70 0.000 Pair 2 Pmendidik - Kmendidik -1.014 -1.191 -0.837 -11.450 70 0.000 Pair 3 Pmembimbing – Kmembimbing -1.268 -1.427 -1.108 -15.818 70 0.000
Keterangan : Pmemfasilitasi = peran pendamping dalam memfasilitasi Kmemfasilitasi = peran kader dalam memfasilitasi Pmendidik = peran pendamping dalam mendidik Kmendidik = peran kader dalam mendidik
Pmembimbing = peran pendamping dalam membimbing Kmembimbing= peran kader dalam membimbing Hipotesis yang diajukan dalam uji beda yaitu
Tolak Ho = peran pendamping dan peran kader berbeda nyata Terima Ho = peran pendamping dan peran kader tidak berbeda nyata
Untuk menjawab hipotesis yang disajikan, terdapat dua cara pengambilan keputusan yaitu berdasarkan perbandingan antara t hitung dengan t tabel dan berdasarkan nilai probabilitas. Apabila t hitung > t tabel, maka tolak Ho dan apabila probabilitas > α (0.05), maka tolak Ho. Terkecuali untuk nilai t hitung negatif, jika t hitung < t tabel maka tolak Ho.
Uji beda pertama yang dilakukan adalah uji beda antara peran pendamping dalam memfasilitasi dan peran kader dalam memfasilitasi. Berdasarkan Tabel 15, terlihat bahwa t hitung yang diperoleh adalah -12.441 dengan nilai probabilitas 0.000. Df (degree of freedom) atau derajat kebebasan adalah 71-1 = 70 dengan nilai α 0.05, t tabel yang diperoleh adalah 1.994. Oleh karena t hitung < t tabel dan probabilitas 0.000 < 0.05, maka tolak Ho, yang berarti terdapat perbedaan yang nyata antara peran pendamping dalam memfasilitasi dan peran kader dalam memfasilitasi. Pada output juga disertakan perbedaan mean sebesar -1.028 yang merupakan selisih nilai antara peran pendamping dalam memfasilitasi dengan peran kader dalam memfasilitasi. Nilai mean ini menunjukkan bahwa peran pendamping dalam memfasilitasi memiliki nilai yang lebih rendah dari peran kader dalam memfasilitasi.
Uji beda kedua yang dilakukan adalah uji beda antara peran pendamping dalam mendidik dan peran kader dalam mendidik. Berdasarkan Tabel 15, terlihat bahwa t hitung yang diperoleh adalah -11.450 dengan nilai probabilitas 0.000. Df (degree of freedom) atau derajat kebebasan adalah 71-1 = 70 dengan nilai α 0.05, t tabel yang diperoleh adalah 1.994. Oleh karena t hitung < t tabel dan probabilitas 0.000 < 0.05, maka tolak Ho, yang berarti terdapat perbedaan yang nyata antara peran pendamping dalam mendidik dan peran kader dalam mendidik. Pada output juga disertakan perbedaan mean sebesar -1.014 yang merupakan selisih nilai antara peran pendamping dalam mendidik dengan peran kader dalam mendidik.
Nilai mean ini menunjukkan bahwa peran pendamping dalam mendidik memiliki nilai yang lebih rendah dari peran kader dalam mendidik.
Uji beda ketiga yang dilakukan adalah uji beda antara peran pendamping dalam membimbing dan peran kader dalam membimbing. Berdasarkan Tabel 18, terlihat bahwa t hitung yang diperoleh adalah -15.818 dengan nilai probabilitas 0.000. Df (degree of freedom) atau derajat kebebasan adalah 71-1 = 70 dengan
nilai α 0.05, t tabel yang diperoleh adalah 1.994. Oleh karena t hitung < t tabel
dan probabilitas 0.000 < 0.05, maka tolak Ho, yang berarti terdapat perbedaan yang nyata antara peran pendamping dalam membimbing dan peran kader dalam membimbing. Pada output juga disertakan perbedaan mean sebesar -1.268 yang merupakan selisih nilai antara peran pendamping dalam membimbing dengan peran kader dalam membimbing. Nilai mean ini menunjukkan bahwa peran pendamping dalam membimbing memiliki nilai yang lebih rendah dari peran kader dalam membimbing.
Berdasarkan uji beda yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh dari ketiga uji tersebut menghasilkan nilai probabilitas < 0.05 dan nilai t hitung negatif < t tabel. Hal ini dapat disimpulkan bahwa yang memiliki peran lebih besar adalah kader Posdaya Sauyunan. Hasil ini sangat sesuai dengan kenyataan yang didapat peneliti dilapangan, bahwa yang lebih aktif dalam mengembangkan kegiatan LKM adalah kader, sementara pendamping kurang aktif dalam membantu kegiatan LKM.
Ikhtisar
Hasil penelitian memperlihatkan secara umum bahwa pendampingan di Posdaya Sauyunan belum dilakukan secara maksimal baik dalam memfasilitasi, mendidik maupun membimbing. Hasil ini dapat dilihat dimana responden menyatakan intensitas pendamping dalam memfasilitasi, mendidik dan membimbing berada pada kategori rendah. Peran kader dalam LKM Posdaya Sauyunan sudah tergolong cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari penilaian responden yang menyatakan bahwa intensitas pendamping dalam memfasilitasi, mendidik dan membimbing berada pada kategori sedang. Hasil ini didukung pula dengan uji beda atau uji T yang telah dilakukan. Uji ini memperlihatkan bahwa peran yang lebih dominan dilakukan oleh kader Posdaya Sauyunan, sementara Pendamping kurang memiliki peran dalam mengembangkan LKM di Posdaya Sauyunan.
Berdasarkan kenyataan yang diperoleh di lapang, hanya sedikit saja yang mengetahui adanya pendampingan dari P2SDM LPPM IPB. Kebanyakan dari mereka yang mengetahui adanya pendamping adalah mereka yang rumahnya dekat dengan ketua Posdaya, dekat dengan sekretariat Posdaya dan yang sering mengikuti kegiatan senam mingguan. Untuk itu pendamping perlu meningkatkan intensitas pertemuan atau perkumpulan lebih sering dan lebih bermasyarakat lagi agar anggota mengenal dan mengetahui kinerja dan adanya pendamping. Hasil dilapang juga menunjukkan bahwa seluruh responden mengetahui adanya kader di Posdaya Sauyunan. Kader lebih memiliki ikatan personalitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendamping. Kader sewaktu-waktu dapat menemui anggota karena masih berada dalam satu wilayah dan tidak menjadi kader di Posdaya lainnya. Beda halnya dengan pendamping yang memegang tanggung jawab tidak
hanya di satu tempat, melainkan memegang peranan di beberapa tempat sehingga intensitas pendamping dalam bertemu kepada anggota tidak maksimal.