• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pengalaman Ibu Primipara Yang Didampingi Suami

4. Peran pendamping

Peran pendamping persalinan pada setiap tahap/kala persalinan adalah sebagai berikut :

a. Pada kala I persalinan

1. Pendamping persalinan bisa membantu ibu mengalihkan perhatian dari rasa nyeri yang sudah mulai muncul. Misalnya menemani ibu jalan-jalan, bercerita atau menonton televisi.

2. Pendamping persalinan bisa membuat minuman segar yang nantinya berguna untuk memberi ekstra energi dan mencegah dehidrasi.

3. Pada saat nyeri atau kontraksi timbul, pendamping persalinan bisa mengajak ibu berbicara sambil memberi pujian bila ibu berhasil melewati setiap kontraksi yang terjadi.

4. Pendamping persalinan bisa membantu ibu untuk mengganti posisi tubuh ketika ibu mulai terlihat stres atau lelah.

5. Pendamping persalinan bisa memberi pijatan lembut di punggung atau pundak ibu.

b. Pada kala II persalinan

Pada kala I persalinan ini biasanya ibu sudah semakin merasa tidak nyaman dan sangat lelah sehingga dukungan pendamping persalinan sangat dibutuhkan. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pendamping persalinan pada kala II persalinan :

1. Pendamping persalinan bisa membantu ibu untuk tetap berada dalam posisi yang membuat ibu nyaman untuk melahirkan.

2. Pendamping persalinan mengajak ibu berbicara selama kontraksi dan pada saat mengejan serta memijat punggung ibu bila memang ibu menginginkannya.

3. Bila ibu menginginkan, ibu bisa meminta pendamping persalinan menyemprotkan air atau menyekah wajah ibu dengan kain basah untuk memberi rasa segar pada ibu.

4. Bila tindakan operasi tampaknya harus dilakukan, pendamping persalinan bisa menggantikan ibu untuk mencari informasi detail untuk mengetahui apakah memang benar tidak ada jalan lain selain tindakan operasi.

5. Saat bayi mulai terlihat keluar dari jalan lahir, pendamping persalinan bisa berkomunikasi dengan ibu melalui sentuhan lembut dari pada mengajak ibu berbicara.

c. Pada kala III persalinan

Pada kala III persalinan, ibu dan pendamping persalinan sudah bisa sama-sama menikmati kebahagian atas kelahiran si kecil di tengah-tengah keluarga. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pendamping persalinan pada kala III persalinan adalah :

1. Bila ibu tiba-tiba merasa lapar, dan sudah diperbolehkan untuk makan maka pendamping persalinan bisa menyuapi makanan kepada ibu.

2. Pendamping persalinan bisa menemani selama ibu menyusui bayi dan bisa mengumandangkan azan bagi bayi (untuk keluarga muslim).

5. Konsep Dukungan Suami Sebagai Penamping Persalinan

Dukungan suami saat melahirkan sangat dibutuhkan. Melahirkan adalah perjuangan yang membutuhkan dukungan suami. Suami dapat memberikan dukungan jauh sebelum saat kelahiran tiba, misalnya dengan mendampingi istri mengikuti senam hamil atau pelatihan persiapan melahirkan sehingga suami juga mengetahui apa yang dapat dilakukannya saat istrinya menjalani proses melahirkan (Musbikin, 2005)

Kehadiran suami menjelang saat melahirkan akan membuat istri lebih tenang. Apabila memungkinkan, suami sebaiknya mendampingi istri di ruang bersalin. Kehadiran suami, sentuhan tangannya, do’a dan kata-kata penuh motivasi yang diucapkannya akan membuat istri merasa lebih kuat dan tabah menghadapi rasa sakit dan berjuang untuk melahirkan bayinya.

Mendampingi istri saat melahirkan juga akan membuat suami semakin menghargai istri dan mengeratkan hubungan batin diantara suami istri serta bayi yang baru lahir.

Menurut Musbikin (2012), hadirnya seorang anak pasti dinanti-nantikan oleh setiap pasangan suami-istri. Inilah saat yang paling tepat bagi para calon ayah untuk mempersiapkan diri mendampingi sang istri selama masa kehamilan.

Hal yang dapat dirasakan oleh pasangan suami istri saat menghadapi proses persalinan adalah sebagai berikut :

1. Berbagi rasa, suka dan duka

Sikap suami yang dibutuhkan oleh istri pada saat menjelang persalinan bisa ditunjukkan dalam bentuk mendengarkan semua keluhannya. Wajar bila suami mengalami kecemasan karena ragu pada kemampuan dirinya untuk berperan sebagai seorang ayah. Apabila kecemasan itu sudah mulai memuncak sebaiknya suami dapat berbagi perasaan dengan istri tercinta. Komunikasi yang terbuka di antara keduanya dalam mengatasi kecemasan dan ketegangan akan dapat mempererat kedekatan di antara suami dan istri.

2. Antara bahagia dan cemas

Saat menjelang persalinan, ketika suami memberikan sentuhan dengan cara menempelkan telinga di perut istrinya maka akan terdengar suara jantung janin yang berdenyut dua kali lebih cepat dari denyut jantung orang dewasa yakni sekitar 120-160 kali per menit. Sehingga menimbulkan perasaan yang bercampur aduk, antara bahagia dan cemas menanti kehadiran bayinya.

3. Menanti kehadiran si kecil

Ketika hari-H persalinan sudah semakin dekat, ada perasaan cemas dan tegang yang terselip di hati suami dan istri. Di antara rasa bahagia karena si kecil

sebentar lagi akan berada di tengah mereka. Baik suami maupun istri akan sama-sama merasa cemas, takut dan tegang.

Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan para suami ketika berada di ruang bersalin:

1. Membantu istri untuk menghitung waktu kontraksi.

2. Memberikan ketenangan kepada istri yang sedang merasa takut dan cemas.

3. Melontarkan cerita-cerita lucu yang membuat terhibur atau mengajak istri bercanda.

4. Membantu istri melatih pernafasan.

5. Memberikan dukungan dan dorongan dalam bentuk kata-kata yang menyenangkan perasaannya.

6. Tidak boleh merasa tersinggung apabila istri menyalahkan suami terhadap semua rasa sakit yang sedang dirasakan, sebab pada umumnya apa yang dikatakan oleh istri tidak bermakna sebenarnya dan hanya merupakan luapan emosi dari kesakitan yang di rasakan.

7. Mengusap bagian belakang tubuh istri dengan lemah lembut untuk mengurangi perasaan tidak nyamannya.

8. Memberikan pujian atas semua usaha yang telah dilakukan istri untuk melahirkan bayinya serta berikan ucapan terima kasih.

E. Dampak Negatif Bila Suami Tidak Mendampingi Ibu Selama Persalinan

Setiap ibu yang akan memasuki masa persalinan maka akan muncul perasaan takut, khawatir ataupun cemas terutama pada ibu primipara. Perasaan takut dapat meningkatkan nyeri, otot-otot menjadi tegang dan ibu menjadi cepat lelah yang pada akhirnya akan menghambat proses persalinan. Hal ini sering dipengaruhi oleh psikologi ibu saat bersalin

(rasa takut dan berusaha melawan persalinan) serta ada tidaknya dukungan dari orang sekitar selama proses persalinan (Vitrya, 2013)

Penelitian membuktikan bahwa kecemasan berhubungan dengan peningkatan nyeri persalinan. Pengaruh persiapan terhadap persalinan, keyakinan dan nilai-nilai serta dukungan dari suami atau pendamping persalinan termasuk dalam penyebab nyeri persalinan. Yang perlu diingat bahwa kecemasan yang sangat dapat meningkatkan produksi rangsangan reseptor pada tingkat korteks serebral, dimana akan meningkatkan rangsangan reseptor pada daerah panggul karna penurunan aliran darah dan peningkatan tekanan otot terlebih kehamilan pertama. Tetapi bagi ibu yang pernah mengalami persalinan, ia sudah tahu apa yang bakal dihadapinya sehingga kecemasan itu tak begitu besar. Berarti dengan kata lain, jika tidak adanya peranan suami, tentulah kebutuhan itu tidak akan tercapai sepenuhnya (Sartika, 2011 dalam Vitrya, 2013).

F. Persalinan

1 . Pengertian Persalinan

Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu (Yanti, 2009).

Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal dalam kehidupan. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial bagi ibu dan keluarga. Peranan ibu adalah melahirkan bayinya, sedangkan peranan keluarga adalah memeberikan bantuan dan dukungna pada ibu ketika terjadi proses persalinan. Dalam hal ini peranan petugas kesehatan tidak kalah penting dalam memberikan bantuan dan dukungan pada ibu agar seluruh rangkaian proses persalinan berlangsung dengan sangat baik bagi ibu maupun bagi bayi yang dilahirkan (Sumarah, 2009, hlm. 1)

2. Tanda-tanda Persalinan

a. His persalinan:

Timbulnya his persalinan ialah his pembukaaan dengan sifat-sifatnya sebagai berikut:

1) Nyeri melingkar dari punggung memancar ke perut depan.

2) Makin lama makin pendek intervalnya dan makin kuat intensitasnya. 3) Kalau dibawa berjalan brtambah kuat.

4) Mempunyai pengaruh pada pendataran dan pembukaan serviks. b. Bloody show ( lendir disertai darah dari jalan lahir)

Dengan pendataran dan pembukaan, lendir dari canalis servikalis keluar disertai dengan sedikit darah. Perdarahan yang sedikit ini disebabkan karena lepasnya selaput janin pada bagian bawah segmen rahim hingga beberapa

capilaru darah terputus.

c. Pemature Rupture of Membrane

Adalah keluarnya ciran banyak dengan tiba-tiba dari jalan lahir. Hal ini terjadi akibat ketuban pecah atau selaput janin robek. Ketuban biasanya pecah kalau pembukaan lengkap atau hampir lengkap dan dalam hal ini keluarnya cairan merupakan tanda yang lambat sekali. Tetapi kadang-kadang ketuban pecah pada pembukaan kecil, bahkan terkadang selaput janin robek sebelum persalinan. Walaupun demikian persalinan diharapkan akan mulai dalam 24 jam setelah air ketuban keluar (Yanti, 2009).

3. Faktor-faktor yang Mempengruhi Persalinan

1. Faktor Power

Power adalah kekuatan yang mendorong janin keluar. Kekuatan yang medorong janin keluar dalam persalinan ialah his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma dan aksi dari ligamen, dengan kerjasama yang baik dan sempurna.

a) His (Kontraksi uterus)

His adalah kontraksi uterus karena otot-otot polos rahim bekerja dengan baik dan sempurna dengan sifat-sifat: kontraksi simetris, fundus dominan, kemudian diikuti relaksasi. Pada saat kontraksi otot-otot rahim menguncup sehingga menjadi tebal dan lebih pendek.

Cavum uteri menjadi lebih kecil mendorong janin dan kantong amnion

ke arah bawah rahim dan serviks. b) Tenaga mengejan

Setelah pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah tenaga yang mendorong anak keluar selain his, terutama disebabkan oleh kontraksi otot-otot dinding perut yang mengakibatkan peninggian tekanan intra

abdominal. Tenaga ini serupa dengan tenaga mengejan waktu kita

buang air besar tapi jauh lebih kuat lagi. Saat kepala sampai pada dasar panggul, timbul suatu refleks yang mengkontraksikan otot-otot perutnya dan menekan diafragmanya kebawah. Tenaga mengejan ini hanya dapat berhasil, bila pembukaan sudah lengkap dan paling efektif sewaktu ada his. Tanpa tenaga mengejan ini anak tidak dapat lahir, misalnya pada penderita yang lumpuh otot-otot perutnya,

persalinan harus dibantu dengan forcep. Tenaga mengejan ini juga melahirkan placenta setelah placenta lepas dari dinding rahim.

G.Penelitian Kualitatif Fenomenologi

Bogdan dan Taylor (1975) dalam Moleong (2010), mendefenisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisa dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif menggunakan pendekatan naturalistik untuk mencari dan menemukan pengertian dan pemahaman tentang fenomena dalam suatu latar yang berkonteks khusus. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya. Penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandangan mereka yang diteliti, dibentuk dengan kata-kata, dan gambaran holistik.

Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang terjadi.

Peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang berada dalam situasi-situasi tertentu. Fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka. Yang ditekankan dalam fenomenologi adalah aspek subjektif dan perilaku orang. Berusaha untuk masuk kedalam dunia konseptual para subjek yang diteliti sedemikian rupa sehingga mengerti apa dan bagaimana suatu

pengertian yang dikembangkan oleh mereka disekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari (Moleong, 2010)

Penelitian fenomenologi bersifat induktif. Pendekatan yang dipakai adalah deskriptif yang dikembangkan dari filsafat fenomenologi. Fokus filsafat fenomenologi adalah pemahaman tentang respon kehadiran atau keberadaan manusia, bukan sekedar pemahaman bagian-bagian yang spesifik atau perilaku khusus. Tujuan penelitian fenomenologi itu sendiri adalah menjelaskan pengalaman apa yang dialami oleh orang dalam kehidupan ini, termasuk interaksi dengan orang lain (Danim, 2003)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif fenomenologi yaitu suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang (Moleong, 2010). Desain ini sesuai tujuan peneliti untuk mengetahui bagaimana pengalaman ibu primipara yang didampingi suami saat menghadapi proses persalinan

B. Populasi dan Sampel

Istilah populasi tidak digunakan dalam penelitian kualitatif namun oleh Spradley dinamakan “sosial situation” atau sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu : tempat (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis. Tetapi sebenarnya obyek penelitian kualitatif, juga bukan semata-mata pada situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen tersebut, tetapi juga bisa berupa peristiwa alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, kendaraan, dan sejenisnya (Sugiyono, 2010).

Penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada situasi sosial tertentu dan hasil kerjanya tidak akan diberlakukan ke populasi, tetapi ditransferkan ketempat lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaan dengan situasi sosial pada kasus yang dipelajari. Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai narasumber, atau partisipan, informan, teman, dan guru dalam penelitian. Sampel dalam penelitian kualitatif juga bukan disebut sampel statistik, tetapi sampel teoritis.

Pada penelitian jenis ini, penelitian memasuki situasi sosial tertentu dengan melakukan observasi dan wawancara kepada orang-orang yang dipandang tahu tentang situasi sosial tersebut. Penentuan sumber data pada orang yang diwawancarai dilakukan dengan teknik purposive, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu. Hasil

penelitian tidak akan digeneralisasikan ke populasi karena pengambilan sampel tidak diambil secara random (Sugiyono, 2008).

Menurut Creswell (1998) dalam Wahyuni (2013), pada penelitian fenomenologi sampel yang diambil adalah sampel yang pernah mengalami substansi yang akan diteliti. Ukuran sampel tidak akan diarahkan pada jumlah tetapi ditentukan pada informasi berdasarkan azas kesesuaian dan kecukupan sampai mencapai saturasi data. Artinya, bahwa dengan menggunakan partisipan selanjutnya boleh dikatakan tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang berarti mengulang data yang sudah ada.

Umumnya penelitian fenomenologi menggunakan 10 atau kurang dari 10 sampel. Dengan sampel yang homogen, kurang dari 10 sampel mungkin cukup jika informasi dari masing-masing sampel diperoleh secara mendalam. Namun ketika sampel memiliki variasi yang banyak atau sampel heterogen akan dibutuhkan sampel yang lebih besar (Polit dan Hungler, 1999). Adapun sampel yang diambil memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Ibu primipara yang didampingi suami saat proses bersalin. 2. Bersedia untuk diwawancarai atau menjadi partisipan. 3. Ibu dapat berkomunikasi dengan bahasa indonesia.

C. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Klinik bersalin Sumiariani Kecamatan Medan Johor.

D. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai bulan februari 2014 sampai bulan Juni 2014. Waktu pengumpulan data dilakukan mulai bulan Maret sampai bulan Mei 2014.

E. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian, peneliti akan terjun langsung ke lapangan dimana peneliti akan berinteraksi langsung kepada masyarakat. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka peneliti berpegang teguh pada etika penelitian dengan cara peneliti mengajukan surat permohonan persetujuan penelitian kepada Ketua Jurusan Program Studi D-IV Bidan Pendidik untuk memperoleh persetujuan penelitian. Setelah memperoleh surat penelitian tersebut peneliti mengajukan surat permohonan kepada pihak klinik lalu peneliti akan mengajukan surat permohonan persetujuan penelitian yang dibagikan pada setiap partisipan dengan tetap menghormati hak setiap partisipan.

Kemudian peneliti memberikan penjelasan kepada partisipan bahwa maksud dan tujuan penelitian kepada setiap partisipan adalah untuk memperoleh informasi tentang bagaimana pengalaman ibu primipara yang di dampingi suami saat menghadapi proses persalinan. Setelah partisipan menyatakan bersedia menjadi partisipan maka peneliti akan memberikan surat persetujuan partisipan (informed concent), dan partisipan akan diminta untuk menandatanganinya. Jika partisipan menolak atau tidak bersedia menjadi partisipan maka peneliti akan tetap menghormati hak dan tidak memaksa partisipan.

Selanjutnya peneliti akan menjelaskan bahwa tidak akan ada efek negatif yang akan mengganggu kehidupan partisipan dimana peneliti akan tetap menjaga kerahasiaan identitas partisipan dengan cara tidak mencantumkan nama dan alamat partisipan pada lembar pengumpulan data (kuesioner data demografi) dan peneliti hanya menggunakan nomor kode sehingga semua kerahasiaan dapat terjaga dan seluruh informasi yang diperoleh hanya akan digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan sepenuhnya. Peneliti juga akan menghargai setiap jawaban-jawaban yang diberikan oleh partisipan dan tidak akan menyalahkan jika ternyata pendapat dari partisipan tidak sesuai.

F. Alat Pengumpulan Data

Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti merupakan alat pengumpul data utama yang bertemu langsung dengan sampel penelitian atau partisipan dengan menggunakan alat bantu tape recorder, panduan wawancara, dan field note. Sebagai alat, kemampuan peneliti sangatlah penting karena kemampuan wawancara yang baik akan menghasilkan data yang kaya (Irawan, 2006 dalam Wardani, 2009).

Peneliti sebagai instrumen penelitian tetap menjaga hubungan baik dengan partisipan. Jika didapati kondisi partisipan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan wawancara maka peneliti tidak memaksakan proses wawancara harus tetap berlangsung tetapi dapat dilakukan diwaktu lain dengan kondisi partisipan yang lebih baik dan berdasarkan kesepakatan bersama. Disamping itu peneliti menghargai setiap adat istiadat dan kebiasaan yang dijalankan oleh masing-masing partisipan. Lalu wawancara dilakukan secara mendalam (indepth interview) untuk mendapatkan informasi yang luas dari partisipan.

Untuk mendapatkan data demografi partisipan peneliti menggunakan kuesioner data demografi untuk mengetahui identitas secara umum yang berisi umur, agama, suku, pekerjaan, dan tingkat pendidikan.

G. Pengumpulan Data

1. Setelah mendapatkan izin dari Ketua Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan USU Medan dan izin Klinik Bersalin Sumi Ariani, peneliti melihat daftar ibu yang melahirkan diklinik bersalin tersebut.

2. Pada penelitian ini, peneliti mengadakan pilot study dan memperlihatkannya kepada pembimbing yang bertujuan untuk mengetahui proses wawancara, panduan wawancara, dan probing dalam wawancara kemudian melanjutkan penelitian.

3. Peneliti melakukan pendekatan kepada calon partisipan (prolong engagement) untuk dapat saling mengenal dan saling mempercayai. Untuk setiap partisipan yang diperoleh di Klinik Bersalin Sumiariani Kecamatan Medan Johor melakukan pendekatan sebanyak 1 sampai 2 kali dan kemudian melakukan wawancara kepada partisipan. Setelah tercapai kesepakatan antara peneliti dengan partisipan mengenai waktu wawancara , maka wawancara dilakukan sesuai waktu yang telah disepakati. 4. Setelah peneliti merasa cukup dekat dengan partisipan, peneliti memberikan

kuesioner data demografi untuk diisi oleh partisipan dan panduan wawancara yang berisi beberapa pertanyaan untuk terlebih dahulu dipahami oleh partisipan. Partisipan diberi waktu untuk memahami pertanyaan dan mengingat kembali peristiwa yang dialaminya sehingga pada waktu wawancara partisipan dapat mengungkapkan hal-hal yang dialaminya secara jelas.

5. Dalam melakukan wawancara, peneliti merekam hasil wawancara dengan menggunakan alat perekam suara.

6. Setelah selesai wawancara peneliti langsung membuat transkrip hasil wawancara, tanpa harus menunggu wawancara berikutnya kemudian melakukan analisis data. 7. Peneliti mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh dan

pengumpulan data selesai karena saturasi data telah diperoleh peneliti.

H. Analisa Data

Proses analisis data pada penelitian ini dilakukan oleh peneliti langsung setelah mengumpulkan data dari masing-masing partisipan. Setelah melakukan wawancara dengan partisipan, peneliti segera melakukan transkripsi hasil rekaman untuk selanjutnya di analisa. Peneliti membaca transkrip berulang-ulang kali dengan teliti, kemudian membuat Significan Statement yaitu proses mencari, mengidentifikasi dan menyusun

secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami.

I. Tingkat Keabsahan Data

Untuk menjaga derajat keabsahan data yang telah diperoleh dalam penelitian, peneliti berpegang pada tiga keabsahan data yakni :

1. Credibility

Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian ini adalah peneliti melakukan prolonged engagement yaitu pendekatan kepada calon partisipan sehingga partisipan dan peneliti saling mengenal dan mempercayai. Untuk itu peneliti melakukan pendekatan sebanyak 1 sampai 2 kali. Hal ini dilakukan agar peneliti dan partisipan semakin akrab, semakin terbuka, sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi. Kemudian peneliti melakukan member check yaitu proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.

2. Dependability

Prinsip ini dipenuhi dengan peneliti mempertahankan konsistensi tekhnik pengumpulan data, dalam menggunakan konsep dan membuat penafsiran atas fenomena.

3. Confirmability

Hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan, dengan

tujuan agar hasil dapat lebih objektif. Untuk memenuhi kriteria tersebut peneliti telah menginformasikan hasil penelitian kepada pembimbing.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini membahas tentang hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti yaitu mengenai karakteristik partisipan dan pengalaman ibu primipara yang didampingi oleh suami saat emnghadapi proses persalinan. Penilitian ini melibatkan 5 partisipan yang didampingi suami saat menghadapi proses persalinan di Klinik Sumiariani Kecamatan Medan Johor. Penelitian dilakukan dengan proses wawancara dengan menggunakan alat perekam suara.

A.Karakteristik Partisipan

Kelima partisipan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah partisipan yang memenuhi kriteria dan bersedia untuk diwawancarai serta menandatangani persetujuan menjadi partisipan sebelum wawancara di mulai. Dari kuesioner data demografi diperoleh bahwa kelima partisipan berusia yaitu 23-26 tahun. satu orang berusia 23 tahun, dua orang berusia 24 tahun, satu orang berusia 25 tahun, dan satu orang berusia 26 tahun. Pada

Dokumen terkait