BAB II LANDASAN TEOR
B. Kajian Teoritik
3. Peran Perempuan Menurut Al-Quran dan Hadis
Menurut Samuel P. Huntington, guru besar ilmu politik Harvard
University, dalam tulisannya The Class of Civilization (Woshington Pos, 1993) dalam Djawas, 1996: 96), mengemukakan bahwa era masa depan, konflik yang fundamental tidak lagi ekonomis dan ideologis, melainkan lebih disebabkan oleh konflik peradaban. Masa depan barat akan berhadapan dengan Islam, sebab Islam merupakan Agama diluar agama Kristen yang paling berpengaruh. Salah satu ekspektasi barat yaitu mempropogandakan emansipasi wanita. Sedangkan emansipasi wanita dalam Islam yang tertuang dalam Al-Quran adalah bukan rekayasa tangan-tangan manusia dan berbeda jauh dengan yang dibudayakan di dunia barat. Islam menganjurkan laki-laki dan perempuan agar berlomba-lomba dalam beramal saleh untuk meraih prestasi yang ingin dicapai sesuai dengan profesi dan kemampuan yang dimiliki, namun harus disesuaikan juga dengan kodratnya masing-masing sesuai dengan perintah Allah bukan emansipasi yang diartikan persaingan dengan kaum laki-laki dalam segala bidang kehidupan (Tangngareng, 2015). Sebagaimana firman Allah SWT,
ِث َُو ش ٍْؤََ ۚ ضْعَث ءبَُِىْوَأ ٌْ ه ضْعَث دبٍَِْْؤ َْىاَو َُى ٍِْْؤ َْىاَو
ِشَنْْ َْىا َِِع َُْىَهَََْْو ِفو شْعََْىب
ََّاللّ َُِّإ ۗ َّاللّ ٌ ه ََحْشََُس َلِئََٰىو أ ۚ هَىى سَسَو َ َّاللّ َُى عُِط ََو َحبَمَّضىا َُى رْؤ ََو َح َلََّصىا َُى َُِق ََو
ضَِضَع
ٌُِنَح
Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagianmereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah dan
rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. At-Taubah [9]: 71).
Dewasa ini banyak perempuan Indonesia yang masuk dalam dunia kerja di sektor publik, baik karena semakin banyaknya perempuan yang lulus dari perguruan tinggi maupun desakan ekonomi yang semakin sulit jika suatu keluarga hanya bergantung pada satu sumber pemasukan. Peran perempuan tidak hanya dalam di rumah tangga, tetapi juga ditempat kerja (Kurniawan, 2011: 178-182). Al-Quran memberi peluang yang sama kepada kaum perempuan dan kaum laki-laki untuk melakukan berbagai kebijakan yang tentu saja sesuai dengan kodratnya masing-masing sepeti tertuang dalam firmal Allah berikut:
بَخ سبَهَّْ ْلْا بَهِزْحَر ٍِِْ ٌِشْجَر دبََّْج ِدبٍَِْْؤ َْىاَو ٍَُِِِْْؤ َْىا َّاللّ َذَعَو
بَهُِف ََِِذِى
ٌُِظَعْىا صْىَفْىا َى ه َلِى ََٰر ۚ شَجْمَأ ِ َّاللّ ٍَِِ ُاَىْضِسَو ۚ ُْذَع ِدبََّْج ٍِفًخَجَُِّط َِِمبَسٍََو
Artinya: “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin, lelaki danperempuan akan mendapat surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya dan mendapat tempat- tempat yang bagus di surga Adn) yaitu tempat tinggal (Dan keridaan Allah adalah lebih besar) lebih agung daripada kesemuanya itu (itu
adalah keberuntungan yang besar”. (Q.S. At-Taubah [9] :72).
ًْىَق ُآََْش ٌْ نٍََِّْشْجََ َلََو ۖ ِظْسِقْىبِث َءاَذَه ش ِ َّ ِلِلّ ٍَُِِاَّىَق اى ّى م اى ٍَْآ ََِِزَّىا بَهََُّأ بََ
ْعَر َّلََأ ًََٰيَع
َُى يََْعَر بََِث شُِجَخ َ َّاللّ َُِّإ ۚ َ َّاللّ اى قَّراَو ۖ َٰيَىْقَّزيِى ةَشْقَأ َى ه اى ىِذْعا ۚ اى ىِذ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang
yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Maidah [5] :8).
Menurut Sajogyo (1984 :xi) dalam buku berjudul Peranan Perempuan
dalam Perkembangan Ekonomi, dikemukakan bahwa pembangunan sosial ekonomi dalam masyarakat menimbulkan gejala disintegrsi dalam pembagian kerja tertentu antara laki-laki dan perempuan yang telah mengakar secara tradisional. Peran perempuan sebagai ibu rumah tangga perlu mendapat wawasan karena sejalan dengan pikiran-pikiran yang tertuang dalam Garis- garis Besar Haluan Negara (GBHN) bahwa perempuan dan laki-laki sama- sama mempunyai kesempatan untuk memperoleh kedudukan yang sama dalam kegiatan perkembangan pembangunan. Dalam Al-Quran dijelaskan kisah kepemimpinan wanita di peringkat tertinggi, yaitu ratu Balqis seorang pemimpin wanita tertinggi negara yang berwibawa serta mampu membawa kaumnya kepada kebaikan dunia akhirat. Tertuang dalam Firman Allah SWT berikut ini:
ُِو ذَهْشَر ًََّٰزَحاًشٍَْأ ًخَعِطبَق ذْْ م بٍَ ٌِشٍَْأ ٍِف ٍِّى زْفَأ َلَََْىا بَهََُّأ بََ ْذَىبَق
َو ذَ ِذَش ط ْؤَث ْا ى ى ْو أ َو ح َّى ق ْا ْى ى ْو أ ِْحَّ اْى ى َبق
ش ظّ آَف ِلَُْىِإ شٍْ َلْْا آ
َد اَرِإ َك ْى ي َْىآ َُِّإ ْذَى بَق ,ََِ ِش ٍ ْؤَر اَر بٍَ ي
َو بَه و ذَسفَأ ًخََ ْشَق ْا ى يَخ
َُ ى يَعْفََ َلِى اَزَم َو ًخَّىِرَأ آَهِيْهَأ َح َّضِعَأ ْآى يَعَج
Artinya: Berkata dia (Balqis): "Hai para pembesar berilah aku pertimbangandalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)". Mereka
menjawab: “kita adalah orang-orang yang memilki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yantg sangat (dalam peperangan), dan keputusan ada ditanganmu: maka petimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkah. Dia berkata: “sesungguhnya raja-raja apabila
memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat (Q.S. Al-Naml [27] :32-34).
Dengan mengikuti petujuk Allah, nabi Muhammad membimbing umat Islam untuk memuliakan perempuan. Norma ideal tentang kesetaraan perempuan dengan laki-laki, dan bagaimana seharusnya relasi antar keduanya, serta kewajiban mereka terhadap Tuhan dan sesama manusia, telah diajarkan oleh Allah, sebagaimana terkandung dalam Al-Quran. Islam menegaskan bahwa diskriminasi peran dan relasi gender adalah salah satu pelanggaran hak asasi manusia yang harus dihapus.
Al-Quran mengajarkan bahwa Islam datang untuk memberikan kenyamanan, kedamaian hidup (rahmatan lil „alamin). Di masa periode awal Islam, Rasulullah sangat menjunjung tinggi harkat martabat perempuan. Beberapa argumen yang sudah ditawarkan mungkin memberi kejelasan akan dampaknya kesetaraan gender dalam Islam antara lain oleh Nasaruddin Umar lewat tulisannya Argumen kesetaraan gender (Malisi, 2012: 94). Ada beberapa variabel yang dapat digunakan sebagai standar dalam menganalisa prinsip- prinsip kesetaraan gender dalam Al-Quran yakni:
a. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba (Q.S. Az-Zariyat [51]: 56).
b. laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki potensi untuk menjadi hamba yang ideal (Muttaqun) (Q.S. Al-Hujurat [49]: 13).
c. Laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di bumi. (Q.S. Al-An‟am [6]: 165); (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30), kata khalifah tidak menunjuk kepada salah satu jenis kelamin atau kelompok etnis tertentu.
d. Laki-laki dan perempuan menerima perjanjian Primordial. (Q.S. Al-A‟Raf [7]: 172).
e. Adam dan Hawa, terlibat secara aktif dalam drama kosmis. (Q.S. Al- Baqarah [2]: 35).
f. Laki-laki dan perempuan berpotensi meraih prestasi. (Q.S. Ali „Imran [3]: 195).
Al-Quran adalah kitab yang membawa pembaruan pada perempuan ditengah kejolak pola pikir kebanyakan peradaban dunia tentang perempuan (Siauw, 2013 :12).
Beberapa ayat dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai keistimewaannya masing-masing dihadapan Allah SWT.
بَهََُّأ بََ
طبَّْىا
بَِّّإ
ٌْ مبَْْقَيَخ
ٍِِْ
شَمَر
ًَثّْ أَو
ٌْ مبَْْيَعَجَو
بًثى ع ش
َوِئبَجَقَو
اى فَسبَعَزِى
َُِّإ
ٍََشْمَأ
ٌْ ن
َذِْْع
َِّاللّ
ٌ مبَقْرَأ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal” (Q.S. Al- Hujurat [49]: 13).
ۖ اى جَسَزْما بٍََِّ تُِصَّ ِهبَجِّشيِى ۚ ضْعَث ًََٰيَع ٌْ نَضْعَث ِهِث َّاللّ َوَّضَف بٍَ اْىََََّْزَر َلََو
بًَُِيَع ءٍَْش ِّو نِث َُبَم َ َّاللّ َُِّإ ۗ ِهِيْضَف ٍِِْ َ َّاللّ اى ىَؤْساَو ۚ َِْجَسَزْما بٍََِّ تُِصَّ ِءبَسِّْيِىَو
Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan.”
(Q.S. Al-Nisa‟ [4]: 32).
Menurut Sukri (2005: xi-xiii) islam telah mendorong perempuan untuk berpikir dan bersikap kritis, sehingga paradigma budaya “okol” (kekuatan fisik) yang diunggulkan masa jahiliyah, berganti dengan budaya “akal” yang mengedepankan kekuatan rasio dan moralitas. Nurhasanah (2013: 107) mengungkapkan bahwa perempuan juga berhak ikut andil dalam rana publik seperti Hadis Rasulullah SAW,
َِّ نِجِئ اَىَحِى َِْج ذْخَر َُْأ َِّ نَى َُِرَأ ْذَق
Artinya: “Allah telah mengijinkan kalian untuk keluar rumah gunamenunaikan hajat kalian (Muttafaqun „alahi).
Hadis lain yang memperkuat Hadis di atas adalah yang artinya:
Dari Abdullah Bin Umar dia berkata, Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang perempuan di antara kamu minta izin
(untuk berjama‟ah di masjid) maka janganlah mencegahnya” (H.R. Al-
Bukhari dan Muslim).
Ketika perempuan mulai mengembangkan karir dan bekerja di luar rumah, terjadi tarik menarik wacana atas perempuan karir. Kajian yang sistematis, integral dan komprehensif atas eksistensi perempuan karir perlu dilakukan di era globalisasi. Tujuannya agar mendapatkan solusi yang tepat
atas fenomena perempuan mutakhir yang mempunyai peran sebagai ibu rumah tangga dan meniti sebagai perempuan karir (Baswedan, 2015).