BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
C. Peran Pimpinan Cabang Muhammadiyah
Pimpinan Cabang Muhammadiyah merupakan organisasi soisal keagamaan yang memiliki berbagai amal usaha terutama dibidang pendidikan Islam dan bidang dakwah islamiyah. Organisasi ini
57
menghadirkan berbagai amal usaha dalam mengembangkan ajaran Islam di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali. Dan keberadaanya pun mempunyai peran yang besar dalam pengembangan pendidikan Islam.
Melalui beberapa Amal Usahannya Pimpinan Cabang Muhammadiyah Banyudono mengembangkan pendidikan Islam terutama melalui pendidikan formal, peran ini mengarah pada mengusahakan terwujudnya lembaga pendidikan Islam yang berkualitas dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Hal ini menjadikan masyarakat khususnya usia sekolah untuk benar-benar memahami dan mengamalkan ajaran Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana dalam hasil wawancara yang dilakukan kepada bapak Mujiyo Abdul Rohman selaku pengurus dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah, pada 27 februari 2015, 16.45 WIB sebagai berikut :
“ya peran nya banyak, Muhammadiyah banyak mendirikan sekolah Islam di Banyudono hampir setiap kelurahan mempunyai Madrasah Ibtidaiyah dibawah yayasan Muhammadiyah, trus ada satu SMP Muhammadiyah. Malah di Bendan itu SD Muhammadiyahnya
fullday. Disekolah-sekolah tersebut kan diajarkan agama islam yang lebih detail dari pada sekolah umum. Ya seperti di MIM kuwiran itu lho, banyak macamnya pelajaran agama Islam, seperti Al-Qur’an Hadist, BTQ, Aqidah Akhlak, Sejarah Islam. tidak seperti di Sd yang pelajaran Agamanya Cuma sedikit”.
Hal serupa juga diungkapkan oleh bapak Ihsan dalam wawancara pada 1 Maret 2015 pukul 16.15 WIB, dengan hasil wawancara :
“banyak banget perananya nuh mas, sekarang sudah banyak madrasah-madrasah yang bagus kualitasnya tidak kalah sama sekolah negeri mas. Contoh e MIM kuwiran kae mas, gedungnya sudah bertingkat, ada mushola nya, ekstrakurikulernya juga bagus. Sekarang banyak orang tua didaerah sini yang memilih menyekolahkan anaknya ke MIM daripada ke SD impres mas”
58
Bapak Ihsan merupakan warga desa Kuwiran, Banyudono. Beliau bukan warga Muhammadiyah aktif, akan tetapi semua anaknya dulu pernah bersekolah di salah satu Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah.
Selanjutnya amal usaha dari Pimpinan Cabang muhammadiyah juga berperan terhadap pendidikan Islam masyarakat dalam jalur non formal terutama soal pemahaman tentang ajaran agama Islam, termasuk membimbing dan mengarahkan masyarakat umum dalam menjalani ibadah agar sesuai dengan syariat Islam dan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Hal ini sesuai yang diutarakan bapak Sutardi dalam wawancara pada 1 Maret 2015 pukul 13. 23 WIB sebagai berikut :
“ Kalo untuk masyarakat umum ya banyak, pengajian seng bulanan ada, mingguan juga ada, walau itu tidak semua tercantumkan dalam program kerja Muhammadiyah tapi banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah yang berperan sentral disitu. Dengan adanya pengajian kan tokoh-tokoh Muhammadiyah memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam, biar warga lebih paham agama. Disitu juga diajarkan tentang ibadah yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad, biar terhindar dari praktek- praktek bid‟ah”.
Sejalan dengan bapak Tardi, bapak Wardoyo warga desa Kuwiran Banyudono, yang merupakan simpatisan dan sering aktif mengikuti pengajian yang diampu oleh tokoh Muhammadiyah, dalam wawancara pada 1 Maret 2015, pukul 20.10 WIB, yaitu juga mengatakan :
“ sepengaetahuan saya ya madrasah-madrasah itu sama pengajian- pengajian rutin. Pengajian yang keliling mushola itu bagus, ngajari bapak-bapak ngaji Qur’an yang dahulune belum bisa jadi bisa ngaji Qur’an. Kalo dah bapak-bapak kan malu kalo mau belajar ngaji sendiri, lha kalo pas pengajian dimushola itu kan rame-rame jadi ada temenya”
59
Pendapat lain juga diutarakan oleh Fajar Suryawan, warga Cangkringan Banyudono, yang merupakan warga umum pada 2 Maret pukul 20.30 WIB, yaitu :
“kae kan mbah Zuhri, pak Tardi kan orang Muhammadiyah. Kalo disini ya menjadi panutan warga. Mbah Zuhri kan mengisi pangajian rutin, pak Tardi jadi imam dimushola, kultum habis sholat tarawih dan khotib sholat jum’at setiap jum’at wage, kalau ada pengajian syukuran aqiqoh pa walimahan ya gitu beliau beliau sering ngisi mau‟idhoh hasanah-nya. Anaknya Pak Tardi yang pertama, mas Zarkasyi jadi guru agama di SD, mbak Ida juga guru di SD juga ngajar ngaji di TPA”
Lain halnya dengan penuturan diatas, ibu Umi Muslikhah, S.Ag menuturkan dalam wawancara pada 2 maret 2015 pukul 16.45 sebagai berikut :
“madrasah sekarang sudah bagus mas, sekolahnya masuknya sampai sore . TK nya juga bagus, permainanya banyak jadi anak- anak tidak rewel mas dan juga sudah diajari ngaji, doa-doa gitu. Jadi sejak kecil sudah dikenalkan dengan agama Islam, biar membekas mas. Kalo soal pengajian-pengajian agama yang di mushola-mushola juga bagus mas, tapi kan hanya buat bapak- bapak, saya ikutnya yang pengajian tiap bulan yang diadakan untuk keluarga dan pengajian Aisyiyah yang diadakan setiap bulan. Niku yang mengisi pengajian juga bapak-bapak e dari Muhammadiyah ”
Dapat dipahami dari hasil wawancara dengan Ibu Umi, bahwa disamping manfaat yang dirasakan oleh masyarakat umum, amal usaha Muhamadiyah juga berperan terhadap pembinaan anak usia dini. Dimana anak-anak sudah dibekali ilmu agama sejak awal. Dari hasil pengamatan peneliti, Pimpinan Cabang Muhammadiyah juga mengusahakan pembinaan anak usia dini, dimana telah didirikan berbagai lembaga
60
pendidikan anak usia dini yang berupa Taman Kanak-Kanak, Bustanul Athfal, Kelompok bermain dan Taman Asuh Anak yang dikelola oleh badan otonom Aisyiyah. Lembaga-lembaga tersebut tersebar hampir diseluruh wilayah Kecamatan Banyudono, dimana dari beberapa tempat tersebut ada yang merupakan hasil dari wakaf warga simpatisan Muhammadiyah dan masyarakat secara umum.
Pimpinan Cabang Muhammadiyah Banyudono juga berperan pada penyampaian dan pemberian pedoman kepada masyarakat Banyudono tentang ajaran agama Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Serta berperan dalam menjaga pemahaman masyarakat tentang ajaran agama Islam agar terhindar dari pemahaman yang sesat. Serta mengontrol ritual keagamaan (ibadah) masyarakat agar tidak mendekati prilaku tahayul, bid’ah, kurofat dan syirik. Hal ini juga terpapar seperti dalam wawancara dengan bapak Muh Damiri selaku Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bayudono, pada 26 Februari 2015 pukul 16.30 WIB sebagai berikut :
“pada dasarnya menghilangkan praktek-praktek kemusyrikan di masyarakat, terutama mengajarkan ajaran agama yang sesuai Al- Qur’an dan Sunnah Rasul. Baik lewat khutbah, ceramah, pengajian rutin maupun mencontohkan ibadah yang benar”
Sejalan dengan apa yang diutarakan bapak Muh Damiri, bapak Paiman mengutarakan dalam wawancara pada senin, 2 Maret 2015 pukul 18.30 WIB sebagai berikut :
“ya selama ini sudah baik, apalagi dalam memberikan informasi tentang ajaran agama Islam yang benar dan murni berdasarkan Al- Qur’an dan Sunnah, kan sering kita beribadah itu masih bercampur
61
dengan ajaran jawa yang diajarkan kakek-kakek kita dulu, lha dengan adanya muhammadiyah jadi lebih tau soal ibadah yang benar yang dituntunkan oleh kanjeng Nabi ”
Dari hasil observasi pada bulan Februari, peneliti juga melihat bahwa di dusun Kliwonan desa Cangkringan kecamatan Banyudono telah didirikan Pesantren Al-Qur’an At-Thohiryah Muhammadiyah. Pesantren ini merupakan pondok tahfids Al-Qu’an yang sebagian lahanya merupakan hasil wakaf dari KH Zuhri Musthofa yang dikelola oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Banyudono.
Kemudian hasil wawancara dengan Suwarno pada 1 Maret 2015 pukul 09.00 WIB sebagai berikut :
“yang saya rasakan ya saya sebagai orang yang sebelumnya awam tentang agama jadi lebih mengerti soal agama setelah ikut pengajian- pengajian, bagaimana shalat yang benar, ngaji yang benar. Jadi bisa saya terapkan dirumah. Bisa buat bekal mengajak anggota keluarga biar lebih baik dalam beribadah mas ”
Bisa dimaknai bahwa dari hasil mengikuti kegiatan pengajian, atau pendidikan agama Islam yang ada di lingkungan masyarakat, dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengarahkan dan membimbing keluarga. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengajian dan pendidikan agama tidak hanya berpengaruh terhadap pengikutnya tetapi juga secara tidak langsung berpengaruh terhadap keluarganya.
62
D. Realitas Penghambat dan Pendukung Pelaksanaan Peningkatan