• Tidak ada hasil yang ditemukan

CYFRA 21-1, CEA, NSE,

2.6. Peran Tumor Marker Dalam Deteksi Awal Kanker Paru

Dalam hal skrining, tidak ada laporan yang menunjukkan kegunaan satu jenis atau kombinasi dari tumor marker dalam mendiagnosis kanker paru pada popolasi yang tanpa gejala ataupun pada populasi resiko tinggi seperti pada perokok. P.P. Mumbarkar dkk, melaporkan terjadi peningkatan dari NSE pada KPKSK. CEA meningkat pada adenocarcinoma dan skuamus sel karsinoma, dan Cyfra 21-1

meningkat pada adenocarcinoma, skuamus sel karsinoma dan KPKBSK. (P.P. Mumbarkar et al, 2006)

Dalam hal diagnostik, tumor marker dipertimbangkan dalam hal diagosa banding dan jenis sel kanker, terutama pada kanker paru yang tidak diketahui asalnya. Terutama pada populasi tanpa kanker atau overlap dengan patologi jenis sel jinak, tingginya CEA, Cyfra 21-1, NSE meningkatkan kecurigaan kita terhadap keganasan. Dari profil tumor marker, tumor marker yang paling meningkat memberikan kemungkinan jenis histologi yang berbeda, seperti CEA pada adenocarcinoma, Cyfra 21-1 dan SCC meningkat pada kanker paru jenis sel skuamus, Cyfra 21- dan NSE pada kanker paru jenis sel bukan sel kecil, NSE dan ProGRP pada kanker paru sel kecil. Tetapi walau nilai yang normal atau meningkat sedikit dari tumor marker tidak mengeksklusikan penyakit tumor dan progresivitasnya. Berdasarkan keterbatasan ini. Penilaian tumor marker pada diagnosa awal mungkin berguna dengan beberapa alasan berikut:

 Pola pelepasan tumor marker berdasarkan histologi tumor dan dapat mengungkap kombinasi dari beberapa komponen histologi.

 Tumor marker diekspresikan dan dilepaskan pada diagnosis awal menjadi marker yang sesuai untuk follow-up monitoring

 Cyfra 21-1, CEA, NSE, adalah faktor prognostik bebas dari KPKBSK, sama seperti Cyfra 21-1, NSE pada KPKSK.

 Tingkat dan penurunan yang luas dari marker postoperative (post pembedahan) memberikan informasi yang berguna dalam menilai tumor yang tersisa dan keefektifan dari terapi.

Pada semua tipe KPKBSK termasuk kanker paru jenis sel skuamus, sensitivitas diagnostik paling tinggi dilaporkan oleh Cyfra 21-1. Jika CEA >10 μg/L dan CA125 >100 U/mL, menunjukkan adenocarcinoma dan kanker paru jenis sel bukan sel kecil. Berdasarkan sensitivitas diagnostik tambahan dari CEA dan Cyfra 21-1, kombinasi keduanya berguna dalam diagnostik KPKBSK. (Petra Stieber et al, 2006: P.P. Mumbarkar et al, 2006)

2.6.1. Peran Tumor Marker Dalam Diagnostik

Beberapa penelitian melaporkan nilai prognosis dari satu atau beberapa tumor marker dalam hubungannya terhadap keadaan klinis dan parameter laboratorium. Walaupun demikian, membandingkan penelitian ini cukup sulit karena: a) beragamnya jenis populasi yang dipakai ( stadium awal dan akhir bercampur, begitu juga dengan jenis histologi), b) mengunakan analisa univariat atau multivariate, c) gagal membandingkan parameter tunggal dalam menentukan parameter diagnostik, terutama status klinis, d) gagal dalam menentukan bagaimana memaksimalkan level cut off yang dipilih dan kadang mengunakan metode yang berbeda dalam memilih nilai cut off investigasi. Hal ini menjadi keinginan yang tinggi dalam mengindentifikasi tumor marker yang paling baik dalam hal membandingkan faktor

diagnostik yang potensial pada pasien. (Petra Stieber et al, 2006: D. Ferrigno et al,1994)

Dari semua tumor marker yang mengevaluasi KPKBSK, Cyfra 21-1 menjadi marker yang memiliki nilai prognostik pada pasien ini, baik pasien dengan stadium awal yang operatif maupun pasien dengan stadium lanjut. (D. Ferrigno et al,1994; Kostas D.Hatzakis et al,2002)

Perawatan post operatif, efekasi kontrol terapi dan pendeteksian rekurensi penyakit adalah indikasi pemeriksaan tumor marker dalam menentukan kanker paru.Perawatan post bedah, kecepatan dan kelengkapan penurunan nilai dari tumor marker yang menunjukkan outcome lebih lanjut dari pasien. Setelah peningkatan jangka pendek yang segera setelah terapi intervensi, berdasarkan pelepasan marker yang berasal dari kerusakan post operatif dan dari jaringan tumor, penurunan marker ini tergantung waktu paruh marker biologi (half life) dan sel tumor sisa. Pada disfungsi ginjal dan renal dapat memperpanjang waktu paruh dari tumor marker, lamanya klirens marker dan/atau stabilnya nilai tumor marker mengindikasikan adanya sisa tumor sel dan memprediksikan rekurensi tumor. (Petra Stieber et al, 2006; Bo jin et al, 2010)

Kontrol dari terapi sistemik. Ketika mengamati efekasi kemoterapi dan radioterapi dengan tumor marker, penurunan sebagian sering berkorelasi dengan respon terapi dimana peningkatan atau penurunan berhubungan dengan progresivitas penyakit. Pada KPKBSK, Cyfra 21-1 memiliki nilai korelasi yang paling baik terhadap tumor. Untuk mendeteksi progresivitas penyakit marker ini memiliki

sensitivitas 52% dan spesifisitas 100%, tetapi korelasi terhadap remisi cukup rendah. Perubahan awal Cyfra 21-1 setelah kemoterapi siklus pertama telah dilaporkan memiliki nilai prediktif yang baik. (Petra Stieber et al, 2006; Bo jin et al, 2010)

Tumor marker sebelum dan sesudah kemoterapi dapat menolong klinisi dalam mengevaluasi respon klinis, pemilihan terapi lanjutan dan prognosis penyakit, terutama pada pasien yang sulit dinilai melalui radiologi. Meningkatnya nilai tumor marker mengindikasikan progresifnya penyakit dan sebagai terapi lanjutan ,regimen kemoterapi harus diganti. (Petra Stieber et al, 2006; Bo jin et al, 2010)

2.6.2. Deteksi dari rekurensi penyakit

Pada pengawasan post terapi keadaan tumor marker adalah indikator yang sensitif pada rekurensi penyakit, dimana nilai marker ini di bandingkan dengan gambaran x-ray. Pada KPKBSK, Cyfra 21-1 memberikan sensitivitas 79% yang lebih lanjut meningkat menjadi 100% pada pasien post operasi level Cyfra 21-1 >3.3 μg/L waktu paruh antara 2 sampai 5 bulan. (Petra Stieber et al, 2006, Ljiljana Vasic,2007))

2.6.3. Pertimbangan atas kegunaan tumor marker:

 Tumor marker tunggal, seperti Cyfra 21-1, CEA, NSE sebaiknya tidak digunakan dalam keperluan skrining baik pada populasi yang tanpa gejala atau pada populasi resiko tinggi ( misalnya pada perokok)

 Berdasarkan pada jenis histology, penentuan Cyfra 21-1, CEA, NSE berguna pada kanker paru terutama pada terapi awal, dimana tidak ada jenis histologi

yang diperoleh sebelum operasi, pada penilaian dari tumor marker ini cukup penting menentukan jenis mana yang paling meningkat

 Mem follow-up asimptomatik pasien setelah terapi awal dari kanker paru cukup kontroversial. Serial tumor marker dapat membantu dalam menilai keberhasilan pengangkatan tumor dan menunjukkan tanda-tanda rekurensi.

 CEA dan Cyfra 21-1 dapat dihitung selama terapi sistemik pada KPKBSK dan NSE pada KPKSK dalam menilai respon terapi dan menilai progresivitas penyakit. Walau penelitian yang lebih lanjut masih diperlukan

 Perhatian yang hati-hati terhadap sampel yang diperiksa sangat diperlukan. Karena setiap tumor marker memiliki perlakuan yang berbeda-beda sebelum pemeriksaan.

Pemeriksaan serial sebaiknya dilakukan dan dengan alat tes yang sama, dimana hasil ini dapat dijadikan laporan laboratorium yang baik pada rekam medis pasien. (Dangfang yu et al, 2013; Bo jin et al, 2010)

2.6.4. Interpretasi Tumor Marker

Objektif dari tes ini adalah untuk mendeteksi Cytokeratins Cyfra 21-1, Neuron Spesific Enolase (NSE) dan Carcino Embryonic antigen (CEA) pada serum pasien dengan tumor paru dan kemampuan memprediksi prognostik pasien terhadap tipe histologi tumor paru dan dan stadium patologinya.

 Cyfra 21-1, fragment dari citokeratin 19, nilai normal <3,3ng/mL, meningkat pada beberapa penyakit akut dan kronis dan juga pada efusi pleura (<7ng/mL), dan penyakit hati.

Implikasi klinik : utuk menilai keganasan epiteal, mesitelioma, lymphoma dan sarkoma

Neuron Spesific Enolase (NSE), gamma dimer dari enolase enzim, nilai normal <25mg, meningkat pada penyakit hati dan paru, pendarahan cerebral Implikasi klinik : untuk menilai KPKSK, tumor carcinoid, neuro blastoma, wilms tumor.

Carcino Embryonic antigen (CEA), salah satu jenis glycoprotein, nilai normal <5ng/mL, meningkat pada 5 % perokok, beberapa tumor jinak (<15ng/mL) Implikasi klinik : untuk menilai keganasan epiteal pada keganasan pada saluran cerna dan paru. (Petra Stieber et al, 2006; Bo jin et al, 2010)

Dokumen terkait