Berbicara mengenai peranan Adolf Hitler dalam Perang Dunia II maka yang akan dijelaskan adalah tentang keterlibatan Hitler, dalam hal ini kebijakan-kebijakan yang diambil olehnya, baik itu yang menjurus ke Perang Dunia II maupun kebijakan-kebijakan selama perang berkobar. Peranan Hitler sangatlah krusial bagi terjadinya Perang Dunia II sebab kebijakannya untuk menyerang Polandia telah menyebabkan berkobarnya Perang Dunia II.
Sebelum membahas tentang peranan Hitler dalam Perang Dunia II ada baiknya melihat terlebih dahulu hubungan antara perang dengan hubungan internasional atau politik luar negeri suatu negara. Penjelasan ini menjadi penting sebab Hitler sebagai Führer dan Reich Kanzler di samping sebagai Panglima Tertinggi Semua Angkatan Bersenjata, walaupun dia tidak terlibat langsung dalam kancah peperangan, namun dia menjadi penentu bagi terjadinya Perang Dunia II. Dari sana hal ini menjadi landasan untuk melihat peranan Adolf Hitler dalam Perang Dunia II. Dengan mengetahui hubungan antara perang dengan hubungan internasional atau politik luar negeri maka dapat dilihat bagaimana segala kebijakan Hitler sebagai Führer dan Reich Kanzler yang ekspansionis telah menyeret Jerman dan dunia ke dalam kancah peperangan.
Sama seperti manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk berinteraksi, maka negara pun menjalin hubungan dengan negara lainnya. Hubungan yang terbentuk antar negara yang satu dengan cara lain sering
dikenal dengan nama hubungan internasional atau dalam istilah politik yaitu politik luar negeri. Menurut Budiono Kusumohamidjojo, sasaran politik luar negeri pada hakikatnya ialah mewakili, menegakkan, membela, memperjuangkan, dan memenuhi kepentingan nasional dalam forum hubungan internasional yang tidak lain adalah forum interaksi masyarakat internasional.412
Dalam proses sosial yang terjadi dalam hubungan antar negara untuk memenuhi sasaran politik luar negeri seringkali dapat menimbulkan konflik. Menurut Dahlan Nasution, sumber konflik yang ada dalam hubungan negara-negara kebangsaan dilandasi oleh egosentrisme yaitu aspirasi untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan serta kedudukan negara dalam hubungannya dengan negara lain.413 Dari hal ini sumber konflik dalam hubungan internasional adalah bahwa masing- masing negara berusaha untuk membela dan memperjuangkan kepentingan negaranya dalam hubungannya dengan negara lain. Dalam usahanya tersebut terdapat perbedaan kepentingan masing- masing negara, dan ketika perbedaan tersebut tidak mencapai titik temu maka timbullah konflik.
Konflik yang ada jika tidak diselesaikan maka lama-kelamaan dapat berkembang menjadi perang. Jadi sumber perang adalah konflik yang tidak terselesaikan. Hal ini memang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Budiono Kusumohamidjojo. Mengutip pendapat dari Jenderal Carl van Clausewitz dari Prussia, Budiono Kusumohamidjojo berpendapat bahwa perang adalah kelanjutan belaka dari politik dengan cara lain. Menurutnya dalam pembicaraan mengenai alternatif dan batas penyelenggaraan politik luar negeri, hal itu berarti penggunaan
412
Budiono Kusumohamidjojo, 1987, Hubungan Internasional Kerangka Studi Analitis, Bina
Cipta, Jakarta, hlm. 35.
413
bersenjata atau dalam hal ini perang merupakan alternatif yang terakhir bila penyelenggaraan politik dengan cara lain sudah macet sama sekali.414
Menilik pendapat di atas dapat dikatakan bahwa perang terjadi akibat konflik di antara kedua belah pihak (dalam hal ini negara) tidak menemukan cara penyeselaian yang tepat sehingga perang menjadi alternatif terakhir untuk menyelesaikannya. Namun sebenarnya apa sumber atau penyebab perang itu terjadi. Menurut Dahlan Nasution, perang biasanya tidak disebabkan oleh perselisihan hak dari mereka yang saling bermusuhan, melainkan bersumber dari benturan kepentingan. Motif negara dalam peperangan biasanya bersifat politis.415 Pendapat Dahlan Nasution mengenai penyebab perang ini masih terla lu umum dan kurang spesifik. Perlu adanya definisi yang lebih sempit lagi untuk menjelaskan apa yang menjadi penyebab perang.
Sebab-sebab perang yang lebih spesifik dapat ditemukan dalam apa yang dikemukakan oleh Adnil Hasnan Habib. Menurutnya sebab perang dapat terjadi dipengaruhi oleh tujuh faktor utama atau dikenal sebagai kondisi penyebab perang, yaitu: (1) agresivitas manusia; (2) fatalisme dan persepsi keliru; (3) konspirasi; (4) imperialisme ekonomi; (5) nasionalisme ekspansionik dan iredentis; (6) kelemahan sitematik; dan (7) siklus umum sejarah.416
1. Agresivitas manusia
Menurut banyak ahli biologi khususnya di bidang etologi (studi mengenai perangai binatang) dan biologi sosial menyebut manusia sebagai makhluk yang
414 Budiono Kusumohamidjojo, op. cit., hlm. 47.
415
Dahlan Nasution, op. cit., hlm. 54.
416
Adnil Hasnan Habib, 1997, Kapita Selekta Strategi dan Hubungan Internasional, CSIS,
selalu mencari saluran pelampiasannya. Ia menemukan saluran itu dalam situasi-situasi persaingan atau ancaman. Berbagai pakar menyatakan bahwa manusia cenderung untuk bertindak secara berlebihan, tidak jarang dengan penuh kebencian yang kadang tidak rasional lagi terhadap segala sesuatu yang mengancam keselamatan atau miliknya. Manusia terbiasa untuk menyelesaikan konflik secara agresif. Teknologi perang yang semakin canggih, daya pemusnah senjata yang hebat, dan senjata nuklir sebagai puncak kehebatannya, semakin mendukung agresivitas manusia untuk menyelesaikan konflik.417 Dari sana perang dapat kapan saja berkecamuk.
2. Fatalisme dan persepsi keliru
Teori ini mengatakan apabila muncul persepsi di kalangan kaum elit dan masyarakat banyak bahwa perang akan meletus dan tidak bisa dihindari maka ia akan benar-benar menjadi kenyataan (self-fulfilling prophecy). Para pengambil keputusan luar negeri pada khususnya dan publik pada umunya akan memulai proses perencanaan dan persiapan sumber daya untuk menghadapi perang yang dipersepsikan tersebut. Self-fulfilling prophecy mengenai perang yang tidak dapat dihindarkan itu sering kali diperkuat oleh persepsi kaum elit dan masyarakat tentang gambaran agresif dan keliru dari ras atau bangsa tertentu.418
3. Konspirasi sekelompok kecil manusia
Teori lainnya adalah teori konspirasi. Teori konspirasi ini telah mengundang berbagai kontroversi. Intinya adalah sekelompok kecil pejabat pemerintah atau semi pemerintah merencanakan sesuatu yang akan mencetuskan
417
Ibid., hlm. 213 – 214.
418
konflik bersenjata.419 Dengan kata lain teori ini menyoroti tentang pelaku perang di mana konspirasi dari sekelompok kecil manusia dalam hal ini pejabat pemerintah menghendaki terjadinya perang atau dapat dikatakan bahwa perang terjadi akibat konspirasi pejabat pemerintah yang menghendaki terjadinya konflik bersenjata.
4. Imperialisme ekonomi
Menurut banyak ahli yang bergelut tentang hubungan internasional, imperialisme ekonomi menjadi penyebab perang yang paling meyakinkan di samping nasionalisme ekspansionistik. Motif ekonomi ini intinya ialah bahwa ketamakan manusia adalah akar dari perang dan motif memperoleh profit adalah katalisatornya. Perlombaan untuk mendapatkan pasar baru atau menguasai sumber-sumber baru bahan mentah untuk memenuhi tuntutan para industriawan, mendorong negara-negara melakukan petualangan imperialistik yang mencetuskan konflik-konflik bersenjata dan melahirkan era kolonialisme/imperialisme. Pemerintah pada dasarnya hanyalah agen-agen saja dari kepentingan komersial para pengusaha. Perang baik perang terhadap negara-negara kolonial pesaing adalah akibat dari imperialisme ekonomi itu.420
5. Nasionalisme ekspansionistik dan iredentis.
Teori nasionalisme ekspansionistik menunjuk kepada ambisi suatu negara untuk menguasai negara lain berdasarkan motivasi nasionalisme. Penguasaan wilayah-wilayah lain itu tidak hanya didorong oleh motif profit menguasai pasar dan sumber-sumber baru bahan mentah seperti pada teori imperialisme ekonomi,
419
Ibid., hlm. 215.
420
tetapi akarnya lebih dalam lagi, yakni untuk memenuhi sederetan kebutuhan fisik dan non- fisik, mencakup kebutuhan-kebutuhan ipoleksosbudhankamnas. Dengan kata lain demi kebesaran kejayaan negaranya.421 Hal serupa dikemukakan oleh Dahlan Nasution. Menurutnya nasionalisme dan teknologi merupakan dua kekuatan yang besar pengaruhnya terhadap politik internasional dan telah mengubah arti perang sebagai alat pengatur dan penyesuaian. Kalau sebelumnya perang merupakan usaha pembentukan balance atau keseimbangan, maka kini nasionalisme telah menjadikan perang sebagai usaha mencapai hegemoni.422
Penyebab lain di samping nasionalisme ekspansionistik adalah iredentisme. Iredentisme ialah hasrat kuat untuk merebut kembali wilayah atau bagian wilayah yang hilang dirampas oleh negara lain sebelumnya, meskipun sering klaim itu tidak dapat dibuktikan secara konkret dan meyakinkan.423 Dari sini dapat dikatakan bahwa iredentisme merupakan hasrat dari suatu negara yang mengklaim bahwa suatu wilayah adalah wilayah yang pernah didudukinya sehingga hal ini tentu saja dapat membuat perang baik itu dengan wilayah yang ingin didudukinya ataupun dengan negara lain yang menduduki wilayah itu sekarang.
6. Kesalahan Sistematik
Menurut sejumlah pakar hubungan internasional, dengan tidak adanya lembaga- lembaga dunia yang efektif untuk mengatur hubungan antar negara, sistem internasional mudah didorong oleh kebijakan negara-negara bangsa ke arah perang.424 Menurut teori ini penyebab perang adalah lembaga dunia dalam hal ini
421 Ibid., hlm. 217.
422
Dahlan Nasution, op. cit., hlm. 56 – 57.
423
Adnil Hasnan Habib, op. cit., hlm. 217.
424
PBB tidak mempunyai kekuatan yang besar atau dengan kata lain yaitu bahwa kekuasaan negara-negara kebangsaan lebih besar dibanding kekuatan PBB sehingga perbedaan kepentingan nasional dan politis antar negara dapat menyebabkan peperangan.
7. Siklus Umum Sejarah
Menurut teori ini peperangan itu telah menjadi siklus umum dari sejarah. Jadi peperangan itu pastilah terjadi pada satu kurun waktu tertentu. Teori ini mengatakan bahwa permulaan runtuhnya peradaban dapat dilihat dari melunturnya aspek-aspek normatif budaya dan munculnya gangguan-gangguan ketertiban sipil. Banyak penulis buku tentang bangun jatuhnya negara- negara besar melihatnya dari sudut siklus sejarah itu. Ada pula yang berpendapat bahwa perang antar bangsa atau negara sering terjadi karena proses memburuk dan runtuhnya peradaban.425
Setelah mengetahui penyebab perang dan keterkaitan antara politik luar negeri dan perang, maka penting untuk mengetahui pelaksanaan politik luar negeri atau dengan kata lain pemimpin yang mengambil kebijakan perang. Menurut Budiono Kusumohamidjojo yang dimaksud dengan istilah pelaksana politik luar negeri adalah semua pejabat dan badan administratif dalam suatu pemerintahan yang langs ung atau tidak langsung menyiapkan pembuatan dan pelaksanaan berbagai keputusan yang berkenaan dengan politik luar negeri. Pelaksana politik luar negeri ini tidaklah sama susunannya di setiap negara namun pada umumnya pelaksana politik luar negeri mengenal susunan sebagai berikut:
425
1. Pimpinan eksekutif tertinggi: tergantung dari sistem pemerintahan yang dianut. Dapat merupakan presiden (Indonesia, Perancis, Amerika) atau perdana menteri (Malaysia, Republik Federal Jerman, Jepang, dan Inggris). 2. Para pejabat tinggi di bidang politik luar negeri: menteri luar negeri, menteri
pertahanan, menteri perdagangan, kepala dinas intelejen.
3. Lembaga-lembaga negara (komisi luar negeri dalam parlemen) dan lembaga-lembaga pemerintahan (departemen luar negeri, departemen pertaha nan, departemen perdagangan, dinas intelejen).426
Mereka ini semua terutama pimpinan eksekutif tertinggi yang menentukan kebijakan luar negeri atau dengan kata lain pemimpin eksekutif yang menentukan apakah negaranya akan berperang atau tidak.
Melihat penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perang mempunyai keterkaitan dengan politik luar negeri, yakni perang menjadi sarana atau alternatif terakhir bila penyelenggaraan politik luar negeri dengan cara lain sudah tidak ada lagi. Biasanya negara berperang akibat perbedaan kepentingan politis negaranya, misalnya perbedaan ideologi, untuk kepentingan imperialisme, nasionalisme yang ekspansionis, dan lain- lain. Negara berperang itu sebenarnya untuk menunjukkan kekuasaan atau mencapai hegemoni. Dari sana dapat dilihat bahwa perang merupakan salah satu kebijakan dalam politik luar negeri. Pelaksana politik luar negeri adalah pimpinan eksekutif tertinggi misalnya presiden atau perdana menteri, pejabat tinggi di bidang politik luar negeri misalnya menteri luar negeri, dan lembaga-lembaga negara komisi luar negeri
426