• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber sejarah berdasarkan sifatnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu: sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah kesaksian dari seorang saksi dengan mata kepala sendiri atau dengan panca indera yang lain atau dengan alat mekanik seperti telepon dan lain- lain untuk mengetahui suatu peristiwa.28 Louis Gottchalk juga menekankan bahwa sumber primer tidak perlu “asli” (asli yang dimaksudkan di sini adalah bahwa dari sumber yang ada dalam peristiwa tersebut) tetapi sumber primer itu hanya harus “asli” dalam artian kesaksiannya tidak berasal dari sumber lain melainkan berasal dari tangan pertama.29 Dengan demikian sumber primer harus dihasilkan oleh seseorang yang sejaman dengan peristiwa yang dikisahkan.30

Adapun dalam penulisan ini sumber primer yang dipakai adalah berupa sumber tertulis yang diperoleh melalui buku-buku dan artikel-artikel internet. Buku-buku dan artikel-artikel yang dimaksudkan penulis adalah sebagai berikut:

Mein Kampf (Perjuanganku) merupakan buku yang ditulis oleh Adolf

Hitler yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan terdapat dalam situs internet yaitu http://www.hitler.org/writings/mein_kampf. Buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Narasi pada tahun 2007. Buku ini terdiri dari dua volume. Volume pertama ditulis oleh Hitler pada saat ia dipenjara, yang menceritakan dari ia mulai lahir sampai ia masuk menjadi anggota Partai Buruh Jerman. Sedangkan volume kedua lebih menceritakan tentang filsafat dan kepartaian, negara, dan aturan tentang warga negara asing dan

28

Louis Gottschalk, 1969, Mengerti Sejarah, UI Press, Jakarta, hlm. 35.

29

Ibid., hlm. 36.

warga negara, yang ia tulis setelah ia memega ng pucuk pimpinan Partai Nazi. Kelak buku ini menjadi kitab suci bagi kaum Nazi di Jerman.

Artikel My Political Testament juga merupakan tulisan dari Adolf Hitler sendiri yang dapat dilihat pada situs internet http://www.hitler.org/writings/last_testament. Artikel My Political Testament ini merupakan tulisan terakhir Hitler sebelum dia meninggal. Tulisan ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama memuat tentang asal mula perang dan bagian kedua tentang pergantian kekuasaan setelah Hitler tiada dan panduan khusus bagi generasi masa depan Jerman.

The 25 Points of the NSDAP Program merupakan tulisan dari Adolf Hitler

dan Anton Drexler yang dapat dilihat dalam situs internet http://www.hitler.org/writings/programme. Artikel ini berisi tentang prinsip-prinsip dari NSDAP (Nazi). Program-program ini dikemukakan oleh Hitler pada tanggal 24 Februari 1920 kepada khalayak ramai sekitar 2000 orang dan setiap poinnya diterima oleh masyarakat dengan tepuk tangan yang meriah.

The Rise and Fall of the Third Reich A History of Nazi Germany merupakan buku yang ditulis oleh William L. Shirer pada tahun 1981 (pertama kali terbit tahun 1959) dan diterbitkan oleh A Touchstone Book. Isi dalam buku ini dimulai dengan penjelasan mengenai kelahiran Hitler sampai meninggalnya Hitler dan jatuhnya kekuasaan Third Reich di Jerman. Buku ini lebih banyak mengungkapkan peranan Hitler dalam dunia perpolitikan dan peranannya dalam Perang Dunia II sampai akhirnya dia meninggal yang berdampak bagi jatuhnya kekuasaan Third Reich yang dibangunnya itu.

Hitler’s War Directives 1939 – 1945 merupakan buku yang disusun oleh H.R. Trevor-Roper pada tahun 1966 dan diterbitkan oleh Pan Books Ltd London. Buku ini aslinya dipublikasikan di Jerman dengan judul Hitlers Weisungen für die

Kriegführung 1939 – 45, Dokumente des Oberkommandos der Wehrmacht. Buku

ini berisi surat-surat atau dokumen-dokumen perintah yang Hitler keluarkan selama Perang Dunia II berlangsung di mana dibagi menjadi 2 bagian yaitu bagian pertama merupakan kebijakan penyerangan peperangan Hitler. Sedangkan bagian kedua berisi kebijakan pertahanan perang Hitler. Buku ini penting bagi pembahasan dalam skripsi ini khususnya dalam melihat peranan Hitler dalam Perang Dunia II yang akan dibahas dalam bab III pada skripsi ini.

Buku Perang Eropa Jilid I ditulis oleh P.K. Ojong dan diterbitkan oleh Kompas pada tahun 2005. Buku ini mengkisahkan masa- masa permulaan pecahnya peperangan sampai dengan puncak kejayaan Jerman dan mulai terjadinya titik balik peperangan dengan kekalahan Jerman di Stalingrad serta Afrika Utara. Buku ini dimulai dengan serangan Jerman terhadap Polandia kemudian juga dibahas tentang Hitler pada masa muda dan pembahasan sampai pada pendaratan Sekutu di Afrika Utara yang mendesak Jerman. Buku ini dengan jelas membahas peranan Angkatan Laut, Darat dan Udara Jerman pada awal peperangan sampai kekalahannya di Afrika Utara.

Buku Perang Eropa Jilid III juga tetap ditulis oleh P.K. Ojong dan diterbitkan oleh Kompas pada tahun 2005. Buku ini merupakan pamungkas atau pentup dari dua jilid buku Perang Eropa sebelumnya. Buku ini dimulai dengan kisah pendaratan Sekutu di Pantai Normandia di Perancis tanggal 6 Juni 1944

yang dikenal dengan nama D-Day dan ditutup dengan menyerahnya Jerman Nazi pada awal Mei 1945. Buku ini dilengkapi dengan jatuhnya Berlin, saat-saat terakhir Hitler, dan kapitulasi Jerman Nazi yang dibahas dalam bab-bab tersendiri.

Selain sumber primer di atas, penulis menggunakan sumber sekunder yang mendukung bagi penulisan skripsi ini. Sumber sekunder adalah kesaksian dari siapa pun yang bukan merupakan saksi pandangan mata, yakni dari seseorang yang tidak hadir pada peristiwa yang dikisahkannya.31 Dapat dikatakan bahwa sumber sekunder merupakan sumber yang telah ditulis ulang oleh orang lain di mana orang (penulis) yang bersangkutan tidak hidup sejaman dengan peristiwa atau sumber yang diperolehnya. Ada pun sumber sekunder yang berupa buku-buku dan majalah dalam penulisan ini adalah:

Hitler A Study In Tyranny merupakan buku yang ditulis oleh Alan Bullock dan diterbitkan oleh Harper Torchbook pada tahun 1964. Buku ini lebih menceritakan riwayat hidup Hitler dari dia lahir sampai akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri. Buku ini penting untuk melihat riwayat hidup Hitler dan latar belakang Hitler mulai membangun negara Jerman.

Bangkit dan Djatuhnya Adolf Hitler merupakan terjemahan dari buku

William L. Shirer yang telah diterjemahkan secara bebas oleh Hamid Algadrie dan diterbitkan oleh Bhratara Jakarta pada tahun 1963, Buku ini menceritakan riwayat hidup Adolf Hitler dari dia lahir, mulai mendaki kekuasaan di Jerman, menaklukkan Jerman dan Eropa sampai keruntuhan Third Reich yang dibangunnya.

The Death of Adolf Hitler merupakan buku yang ditulis oleh Agustinus Pambudi dan diterbitkan oleh Narasi pada tahun 2006. Buku ini menceritakan riwayat hidup Adolf Hitler dari dia lahir sampai dia meninggal, namun buku ini lebih banyak mengulas mengenai kehancuran Adolf Hitler mulai dari pengkhianatan yang dilakukan oleh teman-temannya sendiri sampai pada meninggalnya Hitler.

Kedigdayaan Nazi Jerman (1933 – 1945) merupakan majalah salah satu

edisi Koleksi Angkasa yang diterbitkan pada No. XXX Mei 2006. Majalah ini banyak mengupas tentang organisasi Nazi mulai dari sejarah berdirinya Nazi, puncak kekuasaan Hitler, susunan organisasi Nazi, tokoh-tokoh yang berperan dalam Nazi, angkatan perang Jerman, persenjataan Jerman, peranan Nazi dalam Perang Dunia II, tokoh-tokoh di balik industri Jerman, keterlibatan Amerika dalam industri senjata Jerman, sampai kehancuran Nazi Jerman dan runtuhnya kekuasaan Third Reich Hitler.

E. Kajian Teori

Sebelum masuk dalam pembahasan skripsi yang berjudul Peranan Adolf Hitler dalam Perang Dunia II 1939 – 1945, maka perlu dijelaskan tentang beberapa konsep yang digunakan dalam penulisan ini. Konsep-konsep tersebut adalah peranan, nasionalisme, rasialisme, kepemimpinan, fasisme-totalitarisme, naziisme, dan perang. Penjelasan mengenai konsep-konsep ini sangat penting karena hal ini merupakan landasan berpikir dan pembatasan masalah dalam mengungkapkan tokoh Adolf Hitler dan peranannya dalam Perang Dunia II.

1. Peranan

Peranan adalah sesuatu yang menjadi bagian atau yang memegang pimpinan yang terutama (dalam terjadinya sesuatu hal atau peristiwa).32 Melihat pengertian peranan di atas maka dapat dilihat peranan Adolf Hitler dalam Perang Dunia II. Peran Adolf Hitler pada masa pasca PD I adalah pertama kali ia menjabat sebagai anggota Partai Buruh Jerman (DAP). Dengan jabatan tersebut ia berperan sebagai pemimpin gerakan pemberontakan terhadap republik Weimar yang dikenal dengan nama Munich Beer Hall. Kemudian ketika Hitler menjabat sebagai pemimpin Partai NSDAP (Nazi), ia berperan dalam penanaman dalam diri rakyat Jerman untuk kejayaan kembali negara Jerman. Hal ini membawanya ke posisi yang lebih tinggi lagi, yaitu Kanselir Jerman (Reichkanzler) yang mana dia melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Yahudi yang hidup di Jerman dan menghabisi lawan- lawan politiknya yang berselisih paham dengannya termasuk di dalamnya pasukan SA yang dulunya mendukung Hitler.

Kematian Presiden von Hindenburg memberi peluang bagi naiknya kekuasaan Hitler dalam pemerintahan. Dengan segera dia diangkat menjadi presiden menggantikan von Hindenburg. Sekarang Hitler menjadi penguasa tunggal di Jerman sebagai Kanselir Jerman (Reichkanzler) dan juga sebagai Presiden Jerman (Führer). Saat sebagai penguasa tunggal ini, Hitler telah membangun angkatan militer di Jerman. Setelah merasa siap dengan militernya, Hitler melakukan penyerbuan pertamanya ke daerah Sungai Rhine. Setelah berhasil menguasai daerah Sungai Rhine, berturut-turut Hitler berhasil mencaplok

32

W.J.S. Poerwadarminta, 1982, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, hlm.

daerah Austria, Sudenten, dan Cekoslowakia. Ketika Hitler berhasil menguasai daerah Polandia, dia telah menceburkan dunia ke dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Dunia II.

Dalam PD II peran Hitler sangat penting. Hitler dengan angkatan militernya berhasil melibas negara-negara Perancis, Denmark, Norwegia, Belgia, dan Belanda. Lebih dari itu Hitler dengan berani menyerang negara yang dapat dianggap sebagai negara superior dalam PD I yaitu Inggris dan Uni Soviet. Pertempurannya dengan Inggris dikenal sebagai pertempuran udara yang sangat mengagumkan yang sering disebut dengan Battle of Britain, sedangkan penyerbuannya ke Uni Soviet dikenal dengan Operasi Barbarosa. Semua serangan Jerman tersebut diprakarsai oleh Hitler sendiri walaupun pada perkembangannya nanti, kedua serangan tersebut mengalami kegagalan dan menjadi titik balik dari kejatuhan pemerintahan Hitler.

Selama melakukan penyerangan dan pendudukan ke negara-negara yang telah disebutkan di atas, Hitler menangkap prajurit-prajurit dan orang-orang Yahudi dari negeri tersebut untuk dikirim ke kamp-kamp konsentrasi. Lebih dari 60 juta jiwa yang tersebar di penjuru dunia tewas akibat dari PD II tersebut dan Hitler yang paling bertanggung jawab atas semua ini.

2. Nasionalisme

Menurut Hans Kohn, nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan.33 Dilihat dari sejarah perkembangannya, konsep negara bangsa atau nasionalisme

33

ini muncul di Eropa pada abad 18 dan 19. Nasionalisme yang muncul di berbagai negara di Eropa ini disebabkan oleh berbagai faktor mengikuti perkembangan negara masing- masing.34 Terbentuknya negara-negara bangsa di Eropa Barat yang hampir bersamaan dengan revolusi industri telah mendorong negara- negara bangsa berkembang cepat menjadi amat tangguh tidak hanya secara ekonomis, tetapi juga menjadi begitu nasionalistik secara politik dan kultural.35 Revolusi industri dengan sistem ekonomi liberal kapitalis pada abad ke 19 ini telah merubah sistem ekonomi Eropa Barat dari yang dahulunya sistem ekonomi agraris–perdagangan menjadi sistem ekonomi industrial. Hasil- hasil industri menjadi sektor yang vital dan berperan penting bagi perekonomian negara masing- masing.

Kaum kapitalis yang menguasai industri- industri telah memegang peranan penting dalam perekonomian nasional maupun internasional sehingga dari sana mereka dilindungi oleh negara. Celakanya kaum kapitalis masing- masing negara mengubah bangsanya menjadi bangsa yang sombong, rakus akan bahan mentah, pasar, dan kemakmuran material. Keterbatasan akan bahan mentah dalam negeri semakin memperburuk hubungan antar negara yang satu dengan negara yang lain, sebab adanya persaingan dalam ekspansi ke negara lain yang tujuannya mencari bahan mentah tersebut. Akibatnya hubungan yang terbentuk antara negara bangsa di Eropa tidak lagi dalam bentuk kemitraan tetapi dalam wajah perseteruan.

34 Munculnya nasionalisme/nation state baik itu faktor penyebabnya, bentuknya, dan dampaknya

dalam berbagai negara di Eropa Barat dapat dilihat pada artikel Sutarjo Adisusilo, “Dari Nation

State ke Regional State Studi Kasus Eropa Barat Pasca PD II”, Seri Pengetahuan dan

Pengajaran Sejarah, XXVI No. I, April 2002, Pendidikan Sejarah FKIP dan Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, hlm. 35 – 61.

35

Perseteruan dalam bidang ekonomi ini pada akhirnya berkembang tidak lagi hanya dalam bidang ekonomi saja tetapi juga dalam bidang militer. Hal ini sebab militer menjadi faktor pendukung bagi kemenangan suatu bangsa dalam persaingan ekonomi. Berawal dari sini nasionalisme liberal telah berubah menjadi nasionalisme militeristis. Hal ini sekaligus menjadi awal lahirnya negara bangsa yang cenderung bersifat chauvinistis. Perseteruan dalam bidang militer ini pada perkembangannya membawa dampak yang sangat menglobal, yaitu menjadi peperangan yang melanda seluruh dunia yang dikenal dengan nama Perang Dunia I. PD I adalah saksi sejarah tentang kerakusan negara bangsa yang kapitalistis yang hanya memikirkan diri sendiri sehingga saling menelan dan menghancurkan.36

Sesudah PD I perkembangan nasionalisme di Eropa menunjukkan sifat yang semakin chauvinistis. Ideologi yang dianut oleh seorang pemimpin negara telah dikemas dalam bentuk nasionalisme. Nasionalisme menjadi sarana memobilitas seluruh kekuatan bangsa dalam mengejar tujuan segelintir orang yang dipayungi oleh kepentingan seluruh bangsa. Terdapat dua wajah nasionalisme pasca PD I, yaitu nasionalisme liberal-demokratis yang menjunjung tinggi kebebasan warga bangsa dan pentingnya sebuah konstitusi yang demokratis liberal; serta nasionalisme “illiberal chauvinistis” yang berdasarkan pada keseragaman bangsa yang mengandalkan konstitusi populis otoritarian.37 Tipe pertama terlihat jelas pada bangsa Inggris, Perancis, dan Amerika, sedangkan nasiona lisme tipe kedua terlihat jelas dalam diri bangsa Jerman di bawah

36

Ibid., hlm. 53.

37

pemerintahan Hitler, Italia di bawah pemerintahan Musolini, dan Uni Soviet di bawah pemerintahan Stalin.38

Baik nasionalisme liberal-demokratis maupun nasionalisme illiberal

chauvinistis saling bertentangan satu dengan yang lain. Nazi dengan Hitlernya amat membenci liberalisme dan demokrasi. Hal yang sama dilakukan oleh Musolini dengan fasisme dan Stalin dengan komunismenya.39 Kebencian ideologi ini telah memunculkan perang yang melanda hampir seluruh bangsa di permukaan bumi untuk kedua kalinya, yang dikenal dengan nama Perang Dunia II.

Dalam pembahasan ini dikaji mengenai latar belakang nasionalisme Hitler dan bentuk dari nasionalisme dalam diri sang Führer ini. Masa kecil Hitler dihabiskan dengan membaca buku. Hitler kecil sangat menyukai pelajaran sejarah dan buku-buku filsafat.40 Buku-buku filsafat ini yang mempengaruhi jalan pikiran dan pandangan Hitler, yang kemudian menanamkan dalam diri Hitler rasa nasionalisme sempit yang bersifat chauvinistik. Berikut ini dikemukakan beberapa konsep nasionalisme yang mengilhami nasionalisme Hitler.

a. Johann Gottfried von Herder (1744 – 1803)

Johann Gottfried von Herder adalah seorang pewarta romantisme Jerman yang pada waktu itu memberi dasar-dasar penting bagi filsafat, politik, dan nasionalisme. Herder yang merupakan murid dari Rousseau telah mengembangkan teori tentang jiwa rakyat atau roh rakyat (Volksgeist) dan akar-akarnya dalam rantai panjang yang berupa tradisi nasional semenjak masa- masa

38 Ibid., hlm. 74. 39 Log. cit.. 40 Ibid., hlm. 81.

primitif.41 Maksudnya di sini yaitu bahwa Herder mengajarkan kebudayaan harus bersifat nasional dalam bentuk isi karena kebudayaan yang asli dan spontan dapat membangun dasar-dasar nasional. Bagi orang Jerman, Herder mempunyai pesan khusus bahwa mereka harus berhenti meniru kebudayaan dari bangsa lain dan harus mengembangkan kemampuan yang ada dan kecenderungan nasional, jika mereka berkeinginan menjadi unsur dalam pengembangan manusia yang bebas.42

Semangat bangsa sejati menurut Herder pada masanya ditemukan terutama pada bahasa asli dan karya literatur masa lalu, bahasa asli menurut Herder “dipenuhi oleh kehidupan dan darah nenek moyang”.43 Herder juga menjelaskan bahwa manusia teristimewa adalah anggota dari masyarakat- masyarakat nasionalnya; hanya secara itulah mereka bisa betul-betul kreatif, melalui perantaraan bahasanya dan tradisi-tradisinya. Nyanyian rakyat, cerita-cerita rakyat, yang sebelum itu sama sekali diabaikan, oleh Herder dianggap sebagai manifestasi- manifestasi agung dari jiwa kreatif yang masih murni.44

Dari penjelasan di atas nampak bahwa bahasa asli, literatur masa lalu, nyanyian rakyat, cerita-cerita rakyat harus dihargai di atas segala-segalanya jika bangsa tersebut ingin mencapai perkembangan maksimal. Pemikiran Herder ini telah mempengaruhi timbulnya nasionalisme Jerman. Ide- idenya telah mempengaruhi bangsa-bangsa di Eropa untuk melihat kembali kejayaan masa lalu bangsa mereka.

41 Hans Kohn, op. cit., hlm. 40.

42

Louis L. Synder, The Dynamics of Nationalism, van Nostrad, New York, hlm. 138.

43

Ibid., hlm. 139.

44

b. Johann Gottlieb Fichte (1762 – 1814)

Johann Gottlieb Fichte merupakan seorang filsuf Jerman. Meneruskan ide Herder, Fichte melihat dalam negara Prusia sebagai benteng kebudayaan dan kemerdekaan yang tertib. Ketika pada tahun 1806 Prusia ditundukkan oleh Napoleon maka pidato-pidato kepada bangsa Jerman dari Fichte yang diadakan olehnya di Berlin tahun 1807 dan 1808, tidak saja menyerukan kepada bangsa agar bangkit kembali sebagai bangsa akan tetapi juga supaya memimpin dunia di lapangan kebudayaan.45

Fichte sangat memuja keagungan bangsa Jerman di atas bangsa-bangsa yang lain di mana dia mengemukakan bahwa melalui bahasa, pikiran, dan sejarahnya, bangsa Jerman sajalah yang ditakdirkan untuk memegang peranan pimpinan itu. Di antara bangsa beradab Eropa hanya bangsa Jerman yang menggunakan bahasa yang murni. Tidak seperti bangsa Perancis, Inggris, Spanyol, atau Italia yang meskipun sebagian berasal dari suku bangsa Jerman, namun mereka itu telah memperlemah intelektualnya dengan mempergunakan bahasa pungutan atau pinjaman.

c. Ernst Moritz Arndt (1769 – 1860) dan Friedrich Ludwig Jahn (1778 –

1812)

Arndt merupakan salah satu tokoh nasionalisme Jerman lainnya. Menurut pendapatnya bangsa Jerman melebihi semua bangsa lainnya karena memiliki bahasa yang paling murni. Arndt sangat menekankan akan pentingnya bahasa sebagai faktor menyusun suatu bangsa, menurutnya semua rakyat yang

45

menggunakan bahasa Jerman harus dipersatukan dalam tanah air. Selain Arndt yang tidak kalah pentingnya dari dia adalah Friedrich Ludwig Jahn atau Father Jahn. Dia adalah penulis Deutsche Volkstum (Kerakyatan Jerman, 1810) di mana dia mengagung-agungkan keaslian rakyat Jerman, yang merupakan daya kreatif Ilahi. Jahn banyak pengaruhnya terhadap karakteristrik nasionalisme di Eropa Tengah dan Timur, pasukan-pasukan sukarela militer yang terdiri dari kaum patriot, dan perkumpulan mahasiswa yang bersemangat nasional menggelora.46

d. George Wilhelm Friederich Hegel (1770 – 1831)

G.W.F. Hegel merupakan seorang filsuf Jerman. Semua ahli sejarah filsafat menyetujui bahwa dia seorang raksasa di bidang filsafat.47 Dalam uraiannya mengenai filsafat sejarah material, ia membahas dunia Timur, dunia Yunani-Romawi, dan dunia Germania. Pembagian ini didasarkan atas trias Hegel yakni roh obyektif, roh subyektif, dan roh mutlak. Dalam dunia Timur, roh belum sadar diri, manusia masih berada dalam keadaan alami, sedangkan roh berkarya dan menyusun dalam obyektivitas (hukum alam). Baru dalam dunia Yunani- Romawi timbullah subyektivitas: roh menempatkan diri di luar dan berhadapan dengan apa yang secara obyektif ada. Tahap roh subyektif yang ada dalam dunia Yunani-Romawi ditandai oleh ciri subyektivitas, artinya refleksi diri dan individualitas. Akan tetapi roh subyektif yang ada dalam dunia Yunani-Romawi ini kurang memahami kenyataan obyektif. Baru dengan munculnya roh mutlak di dalam dunia Germania terjadi perukunan antara yang subyektif dan yang obyektif. Sintesis antara universalitas dan obyektivitas yang tercapai dalam dunia Germania

46

Ibid., hlm. 47 – 48.

47

P.A. van der Weij dan K. Bertens, 2000, Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia, Kanisius,

itu terwujud dalam “das konkrete universelle” seperti yang diistilahkan Hegel, yaitu universalitas yang diindividualkan.48

Lebih lanjut Hegel menjelaskan mengenai konsep negara yang sebenarnya dalam bukunya yang berjudul Grundlinien der Philosophie des Rechts (Garis-Garis Dasar Filsafat Hukum disingkat Grundlinien) tahun 1821. Dalam bukunya itu, Hegel mengemukakan “Negara adalah gerakan Allah melalui dunia”. Hal ini menunjukkan bahwa Hegel menekankan kekuasaan moral negara yang mutlak untuk mengatur segala moralitas dan kesadaran pribadi.49 Atas dasar ini Hegel berpendapat bahwa negara memiliki hak untuk memaksakan keinginannya kepada warganya. Karena negara mewakili keinginan umum, negara merupakan manifestasi dari sesuatu yang ideal dan universal.50

Dari penjelasan di atas nampak bahwa Hegel sangat menekankan pada negara. Negara menjadi sesuatu yang ideal dan universal yang melebihi masyarakat di dalamnya. Dan negara yang ideal dan sempurna ini menurut Hegel hanya terdapat pada negara Jerman yang mampu menggabungkan individualitas dan universal, di mana Hegel berkata universalitas yang diindividualkan. Hal ini menjadi dasar pijakan bagi terbentuknya konsep negara bangsa yang tanpa disadari oleh Hegel telah menuju ke arah nasionalisme yang chauvinistik.

Hegel tidak saja telah menciptakan konsep negara bangsa atau nasionalisme

Dokumen terkait