BAB IV PENYAJIAN DATA
4.2. Peranan Badan Permusyawaratan Desa Dalam Penetapan
Eko Tri Utami : Peranan Badan Permusyawaratan Desa Dalam Perencanaan Pembangunan Desa (Suatu Studi Deskriptif Tentang Proyek Desa Melalui APBD Di Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan), 2007.
USU Repository © 2009 Rencana Desa
1. Peranan Badan Permusyawaratan Desa dalam Penetapan Rencana Induk Desa Rencana induk desa merupakan suatu rencana yang memuat tentang peruntukan bumi, air dan ruang angkasa yang akan menjadi petunjuk dan pedoman bagi perkembangan suatu desa dan wilayah sekitarnya untuk keperluan penghidupan. Jadi rencana induk desa merupakan rencana menyeluruh tentang suatu desa yang mengerti patokan untuk pembangunan desa di masa depan.
Rencana induk desa di desa Sampali sampai saat sekarang ini belum ada. Karena sampai saat ini belum ada suatu rancangan umum yang memuat tentang rancangan pemerintahan bumi serta air di desa tersebut. Jadi penduduk bebas untuk memanfaatkan lahan miliknya tanpa adanya panduan yang dibuat oleh pemerintahan.
Menurut Ketua Badan Permusyawaratan Desa dalam suatu kesempatan wawancara dengan penulis menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada direncanakan untuk membuat rencana umum atau rencana induk desa di desa tersebut. Memang seharusnya menurut ketua Badan Permusyawaratan Desa rancangan ini merupakan tugas dari Badan Permusyawaratan Desa. Merekalah yang seharusnya menyusun rancangan umum desa dengan memperhatikan potensi desa semaksimal mungkin.
Bagi Badan Permusyawaratan Desa menyusun suatu rencana induk desa yang sangat menyeluruh bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, karena terlalu banyak tantangan yang akan dihadapi. Misalnya dalam hal merancang pemerintahan desa dengan menunjukkan batas-batas yang jelas. Mengatur hal ini bukanlah hal yang
Eko Tri Utami : Peranan Badan Permusyawaratan Desa Dalam Perencanaan Pembangunan Desa (Suatu Studi Deskriptif Tentang Proyek Desa Melalui APBD Di Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan), 2007.
USU Repository © 2009
mudah. Mereka harus berhadapan dengan penduduk pemilik lahan. Sangat tidak mungkin di desa ini, aparatur desa dengan Badan Permusyawaratan Desa melarang penduduk membangun di atas tanahnya dengan alasan tidak sesuai dengan peruntukan lahan yang ada. Penduduk tentu tidak akan bisa menerima karena mereka merasa itu adalah lahannya sendiri yang bebas mereka pergunakan untuk keperluan apa yang menurut mereka penting.
Apabila aparatur desa dan anggota Badan Permusyawaratan Desa tetap memaksakan membuat rencana induk desa dikhawatirkan hal ini bisa menimbulkan konflik vertikal diantara aparatur desa dengan penduduk. Bila konflik sampai terjadi tentu akan sangat merugikan bagi pembangunan desa secara keseluruhan. Partisipasi penduduk dalam pembangunan desa akan menjadi tidak ada.
Jadi belum ada suatu rencana induk desa yang memuat rencana desa secara menyeluruh. Bahkan rencana induk desa ini pun belum ada dalam program Badan Permusyawaratan Desa dan aparatur desa Sampali.
2. Peranan Badan Permusyawaratan Desa dalam Penetapan Rencana Terperici Desa Sebenarnya rencana terperinci merupakan pengisian dari rencana induk desa. Apabila rencana induk desa memang belum ada, maka rencana terperinci merupakan rencana pembangunan lingkungan atau sebagaian lingkungan.
Eko Tri Utami : Peranan Badan Permusyawaratan Desa Dalam Perencanaan Pembangunan Desa (Suatu Studi Deskriptif Tentang Proyek Desa Melalui APBD Di Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan), 2007.
USU Repository © 2009
Di desa Sampali rencana induk desa yang berisi petunjuk tentang pembangunan desa secara menyeluruh belumlah ada. Tidak ada rencana terpirinci yang dibuat oleh aparatur desa ataupun anggota Badan Permusyawaratan Desa secara sektoral.
Sama halnya dengan rencana induk desa, penyusunan rencana terperinci desa pun sangat sukar untuk dibuat oleh Badan Permusyawaratan Desa dan Perangkat Desa terutama untuk sektor-sektor tertentu, yaitu yang berkaitan langsung dengan lahan penduduk. Seperti yang disebut di atas penataan letak bangunan untuk dapat terjamin keamanan pembangunan desa dan kekayaan lingkungan merupakan suatu hal yang mustahil dilakukan. Dengan alasan kepemilikan lahan dan mereka merasa berhak menggunakan lahan tersebut untuk keperluan pribadi. Membuat pelaksanaan pola tata guna tanah tidak mungkin dilaksanakan.
Selain itu tidak mungkin dibuat suatu jalur hujan atau pertanaman desa diareal tertentu. Tanah yang ada sekarang keseluruhannya merupakan tanah milik pribadi masyarakat. Sangat tidak mungkin tanah milik pribadi direlakan secara cuma-cuma untuk kepentingan pertanaman. Tanah merupakan komoditas yang paling berharga dan luasnya kepemilikan lahan berpengaruh kepada status sosial.
Dalam rencana terperinci desa, sektor yang biasa dibuat oleh Badan Permusyawaratan Desa dalam program perencanaan hanyalah pembangunan fasilitas desa terutama untuk fasilitas jaringan jalan desa dan jaringan utilitas umum desa serta fasilitas sosial dan fasilitas spiritual.
Program perencanaan pembangunan fasilitas desa, dilakukan dengan cara bertahap. Seperti itulah prosedur perencanaan pembangunan untuk fasilitas sosial
Eko Tri Utami : Peranan Badan Permusyawaratan Desa Dalam Perencanaan Pembangunan Desa (Suatu Studi Deskriptif Tentang Proyek Desa Melalui APBD Di Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan), 2007.
USU Repository © 2009
desa. Aspirasi masyarakat tentang program perencanaan pembangunan merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh anggota Badan Permusyawaratan Desa. Untuk pembangunan fasilitas desa biasanya antusias masyarakat begitu tinggi. Misalnya untuk perbaikan jalan desa, masyarakat akan membantu baik dari dana ataupun tenaga untuk keperluan jalan desa, asalkan jalan desa dipemukimannya dapat dibangun, paling tidak berupa jalan semen. Untuk pembangunan jalan desa ini Badan Permusyawaratan Desa desa Sampali sudah memiliki rencana-rencana yang terperinci untuk pembangunannya. Mereka sudah memiliki gambaran jalur-jalur mana yang sangat mendasar untuk dibangun serta yang mendesak untuk diperbaiki.
Program perencanaan pembangunan fasilitas sosial dan fasilitas spiritual tidak berada ditangan Badan Permusyawaratan Desa sepenuhnya. Perencanaan pembangunan disektor ini merupakan tanggung jawab dewan kepengurusan dari masing-masing sektor. Misalnya untuk fasilitas sosial berupa lapangan olah raga. Program perencanaan pembangunan disektor ini merupakan tanggung jawab dari Karang Taruna, karena merekalah yang berhak membuat program perencanaan pembangunan disektor ini. Anggora karang taruna hanya meminta saran dari anggota Badan Permusyawaratan Desa, karena rancangannya telah mereka susun sebelumnya. Selain ini karang taruna juga diwajibkan melapor hasil rancangan mereka ini kepada Badan Permusyawaratan Desa untuk meminta persetujuan.
Demikian juga dalam hal program perencanaan pembangunan disektor pendidikan sebagaimana disebutkan pada Bab II di desa Sampali masing-masing satu sekolah untuk Tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan
Eko Tri Utami : Peranan Badan Permusyawaratan Desa Dalam Perencanaan Pembangunan Desa (Suatu Studi Deskriptif Tentang Proyek Desa Melalui APBD Di Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan), 2007.
USU Repository © 2009
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas yang dikelola oleh desa. Kepala sekolah berhak membuat sendiri program perencanaan pembangunan disekolah yang ia pimpin. Mereka hanya berkewajiban memberikan laporan yang terperinci kepada Badan Permusyawaratan Desa terhadap program yang mereka buat.
Untuk pembangunan fasilitas peribadahan dari ke-19 mesjid yang ada di desa Sampali sudah memiliki kenaziran tersendiri. Merekalah yang berhak untuk membuat program perencanaan pembangunan mesjid yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Kewajiban mereka hanyalah melaporkan program perencanaan yang mereka buat kepada Badan Permusyawaratan Desa untuk mendapatkan persetujuan.
Biasanya program perencanaan pembangunan yang disusun oleh penanggung jawab dimasing-masing sektor ini akan disetujui oleh Badan Permusyawaratan Desa apabila memang perencanaan yang dibuat masuk akal.