• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERJANJIAN KREDIT DAN KPR

A. Peranan dan Manfaat Asuransi Jiwa Terhadap Pelunasan

PELUNASAN HUTANG KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR)

Untuk mengetahui sejauh mana peranan dan manfaat asuransi jiwa terhadap pelunasan hutang Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada Bank, penulis terlebih dahulu menguraikan secara terperinci perjanjian yang diatur antara Bank dan debitur disatu pihak dengan Bank dan debitur dengan Perusahaan asuransi di lain pihak. Bentuk ikatan antara Bank dan debitur dikenal dengan perjanjian kredit. Di dalam skripsi ini yang relevan dengan asuransi jiwa yaitu dalam bentuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR), sedangkan bentuk ikatan perjanjian antara Perusahaan asuransi dengan Bank dan debitur, dituangkan dalam bentuk Polis asuransi.

Bentuk perjanjian kredit yang dibuat dan ditandatangani antara Bank atau biasa disebut kreditur dengan debitur, masing-masing Bank berbeda nama perjanjiannya. Ada yang menamakannya perjanjian kredit, dan yang penulis dapati dari hasil penelitian dan yang akan penulis uraikan pada bab ini dinamakan Pengakuan Hutang. Pada prinsipnya keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu merupakan kesepakatan antara Bank dengan debitur yang isinya mengatur tentang segala hal yang bertalian dengan pemberian dan penerimaan kredit dari Bank kepada debitur, terutama mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dapat diperoleh dan harus dijalankan oleh Bank dan debitur, termasuk mengatur

Afnida Novriani : Tinjauan Terhadap Manfaat Asuransi Jiwa Sebagai Jaminan Terhadap Pelunasan Hutang

pembatasan hak Bank dan debitur dalam menguasai, mengelola, menikmati aset yang sedang dikuasai Bank sebagai jaminan kredit.

Berikut penulis akan menguraikan/membahas isi/materi pengakuan hutang secara terperinci, terutama yang erat kaitannya dengan judul skripsi ini.

Pengakuan hutang yang disepakati oleh Bank dengan debitur dibuat dalam bentuk akte yang diresmikan dihadapan pejabat yang berwenang, yaitu Notaris. Dihadapan Notaris, masing-masing pihak mempunyai kedudukan yang berbeda. Debitur sebagai orang yang berhutang kedudukannya adalah sebagai pihak pertama, sedangkan Bank sebagai lembaga keuangan yang mempunyai piutang kedudukannya adalah sebagai pihak kedua. Masing-masing pihak sebagai penghadap harus memenuhi syarat-syarat formalitas dan prosedur yang diperlukan untuk sahnya akte yang disepakati, agar supaya akte pengakuan hutang yang ditandatangani dapat berlaku sebagai akte autentik dan mengikat kedua belah pihak.

Berdasarkan permohonan kredit yang diajukan debitur kepada Bank dan disetujui oleh Bank, Notaris menuangkan kesepakatan para pihak itu kedalam akte “Pengakuan Hutang”.

Bank memberikan pinjaman kepada debitur dalam bentuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga jumlah yang diperlukan untuk pembelian rumah berikut tanah tapak pekarangan tidak termasuk bunga, provisi dan biaya-biaya lain.

Pinjaman ini wajib dilunaskan oleh debitur dalam jangka waktu yang disepakati antara Bank dengan debitur menurut perhitungan dan daftar (schedule) angsuran Bank yang disetujui oleh debitur.

Afnida Novriani : Tinjauan Terhadap Manfaat Asuransi Jiwa Sebagai Jaminan Terhadap Pelunasan Hutang

Bank setuju untuk memberikan pinjaman kredit kepada debitur sebagaimana debitur setuju dan mengikatkan diri mempergunakan kredit untuk keperluan pembelian rumah berikut tanah tapak pekarangannya. Dan sekaligus menyetujui rumah berikut tanah tapak pekarangannya dijadikan sebagai jaminan hutang debitur pada Bank.

Ikatan perjanjian antara Bank dengan debitur yang terjadi merupakan kesepakatan diantara kedua belah pihak untuk mengikatkan diri menyetujui pemberian dan menerima Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Peruntukkan kreditnya harus ditegaskan dan tidak menyimpang yaitu untuk pembelian rumah berikut tanah tapak pekarangannya. Apabila menyimpang dari itu, Bank akan menolak permohonan kredit debitur.

Hutang/angsuran debitur pada Bank sebagaimana disepakati akan dicatat dalam rekening pinjaman debitur pada Bank menurut perhitungan Bank yang diakui dan disetujui oleh debitur.

Selain kewajiban untuk melunaskan hutangnya pada Bank, debitur juga diikat janjinya dengan kewajiban-kewajiban lain yang merupakan suatu risiko, yaitu berupa bunga tunggakan, denda angsuran dan termasuk biaya-biaya lain jika terjadi wanprestasi.

Menyimpang dari kesepakatan antara debitur dengan Bank tentang jangka waktu perjanjian kredit dan angsuran hutang debitur, jika terjadi kelalaian dikarenakan debitur tidak membayar tagihan-tagihan Bank, baik berupa bunga, provisi, pinjaman pokok, segala surat/dokumen serta pernyataan yang diberikan debitur tidak benar, debitur meninggal dunia, kekayaan debitur disita pihak lain atau terlibat suatu perkara, debitur tidak memenuhi ketentuan-ketentuan yang

Afnida Novriani : Tinjauan Terhadap Manfaat Asuransi Jiwa Sebagai Jaminan Terhadap Pelunasan Hutang

telah disepakati, debitur terlibat dalam suatu tindak pidana, fasilitas digunakan untuk maksud dan tujuan yang menyimpang dari perjanjian, terjadi suatu peristiwa yang mengakibatkan jaminan yang diberikan debitur menjadi tidak sah dan tidak mengikat lagi, termasuk terjadi kejadian apapun yang menurut pendapat Bank akan dapat mengakibatkan debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya pada Bank, maka debitur telah dikatakan lalai/wanprestasi.

Dalam hal kejadian seperti tersebut, dengan peringatan pertama dari Bank, Bank berhak sewaktu-waktu tanpa memperhatikan jangka waktu perjanjian kredit mengakhiri perjanjian kredit, dan seluruh hutang debitur pada Bank, baik hutang pokok, bunga, denda-denda, serta biaya-biaya lainnya, harus dibayar debitur dengan segera/seketika dan sekaligus, tanpa diperlukan lagi surat peringatan juru sita atau surat peringatan lainnya.

Kewajiban-kewajiban tersebut akan berakibat buruk bagi debitur ataupun keluarga debitur, manakala jaminan sebagai tempat tinggal disita oleh Bank guna melunaskan hutang debitur pada Bank. Debitur akan kehilangan tempat bernaung bersama keluarganya, terutama sekali bagi debitur yang tidak mempunyai tempat tinggal lain selain tempat tinggal yang dibelinya dari pinjaman Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tersebut. Tidak dapat dipungkiri, permasalahan ini merupakan satu risiko yang harus difikirkan secara matang, jauh sebelum debitur mengadakan transaksi akad kredit dengan Bank. Namun atas kesepakatan bersama, risiko ini tidak akan terjadi jika didalam akad kredit debitur mempertanggungkan jiwanya kepada Perusahaan asuransi. Jika debitur meninggal dunia, maka seluruh hutang debitur akan dilunaskan oleh pihak asuransi. Bank bertindak dengan dasar

Afnida Novriani : Tinjauan Terhadap Manfaat Asuransi Jiwa Sebagai Jaminan Terhadap Pelunasan Hutang

Jaminan pelunasan hutang oleh Perusahaan asuransi terhadap hutang debitur pada Bank, dicantumkan dalam perjanjian antara Bank dengan debitur dalam bentuk kewajiban lainnya bagi debitur. Debitur berjanji dan mengikatkan diri akan menutup asuransi jiwa kredit sebesar nilai pokok pinjaman, termasuk mengasuransikan harta kekayaan, dan jaminan yang diserahkan kepada Bank terhadap bahaya-bahaya yang layak dipertanggungkan, untuk jumlah dan syarat-syarat serta Perusahaan asuransi yang ditetapkan oleh Bank.

Premi asuransi tersebut ditanggung/dibayar oleh debitur dengan Banker’s

Clause Bank. Atas dasar kesepakatan antara Bank dengan debitur yang mungkin

dapat diterima debitur berdasarkan perjanjian dengan Perusahaan asuransi akan diperhitungkan dengan jumlah hutang debitur pada Bank. Dan dengan dasar kuasa yang diberikan debitur pada Bank, maka Bank dapat menerima klaim uang asuransi pada Perusahaan asuransi, dan selanjutnya dipergunakan untuk pelunasan hutang debitur pada Bank.

Dari pembahasan mengenai perjanjian kredit antara Bank dengan debitur tersebut diatas, jelas bahwa dengan mencantumkan kewajiban bagi debitur untuk menutup asuransi jiwa, sekaligus merupakan hak yang dimiliki oleh debitur atas uang asuransi, jika debitur meninggal dunia dan tentunya sangat bermanfaat bagi ahli waris debitur pada Bank, yang dalam pelaksanaanya diambil alih oleh Perusahaan asuransi. Dengan demikian ahli waris debitur terhindar dari risiko kehilangan tempat tinggal.

Afnida Novriani : Tinjauan Terhadap Manfaat Asuransi Jiwa Sebagai Jaminan Terhadap Pelunasan Hutang

Asuransi Jiwa Sebagai Jaminan Pelunasan Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

Perjanjian pokok yang mengatur kesepakatan antara Bank dengan debitur diuraikan didalam akte pengakuan hutang/perjanjian kredit yang dibuat dan ditanda tangani dihadapan Notaris yang ditunjuk dan disepakati oleh kedua belah pihak. Sebahagian besar dari isi perjanjiannya mengatur klausula tentang hak dan kewajiban yang dimiliki oleh Bank dan debitur serta pengaturannya. Beberapa pasal diantaranya mengatur ketentuan tentang asuransi antara Bank dengan debitur disatu pihak dan dengan perusahaan asuransi dilain pihak, sebagai dasar pembuatan perjanjian tambahan (assesoir) yang mengatur hak dan kewajiban Bank, debitur dan Perusahaan asuransi.

Salah satu fungsi perjanjian kredit sebagai perjanjian pokok artinya perjanjian kredit merupakan sesuatu yang menentukan batal atau tidak batalnya perjanjian lain yang mengikuti misalnya perjanjian pengikatan jaminan. Perjanjian asuransi sebagai bentuk perjanjian lain yang diatur dalam perjanjian secara tersendiri berlaku sah dan mengikat antara pihak yang terkait yaitu peserta asuransi (debitur), pemegang polis (Bank), atau pihak yang dihunjuk (Banker’s

Clause) dengan Perusahaan asuransi.

Sebelum debitur menyetujui masuk sebagai peserta asuransi, terlebih dahulu mengatahui dan memahami syarat-syarat suransi yang ditawarkan.

Perusahaan asuransi memberikan suatu penjelasan kepada peserta, bahwa maksud dari asuransi jiwa adalah merupakan suatu jaminan kepada Pemegang Polis atau yang dihunjuk berupa pembayaran uang pertanggungan, apabila peserta meninggal dunia dalam masa asuransi.

Afnida Novriani : Tinjauan Terhadap Manfaat Asuransi Jiwa Sebagai Jaminan Terhadap Pelunasan Hutang

Bank ditempat mana peserta mengikat perjanjian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) selaku pemegang Polis atau yang dihunjuk untuk dan atas nama serta mewakili peserta asuransi berdasarkan Banker’s Clause, mengajukan surat permintaan asuransi jiwa kredit kepada Perusahaan asuransi selaku penanggung. Perusahaan asuransi mendaftarkan nama Bank sebagai pemegang polis atau badan yang dihunjuk, dan nama debitur sebagai peserta asuransi. Di samping itu, didalam polis dicantumkan nama pemegang polis/Bank, nama peserta, jenis asuransi, mulai berlaku, sedangkan mengenai uang asuransi dan besarnya premi ditentukan dalam sertifikat yang bertalian dengan syarat umum, syarat-syarat khusus dan syarat-syarat-syarat-syarat tambahan polis asuransi.

Asuransi mulai berlaku bagi peserta dan mengikat Perusahaan asuransi sesuai tanggal yang dinyatakan dalam sertifikat dengan ketentuan premi telah dibayar lunas serta surat permintaan asuransi dan pertanyaan kesehatan yang asli serta dokumen pendukung lainnya telah diterima oleh Perusahaan asuransi, dan akan berakhir sesuai dengan tanggal yang dinyatakan dalam sertifikat, atau pada tanggal peserta meninggal dunia, atau pada tanggal peserta mengundurkan diri dari kepersertaan, atau pada tanggal asuransi dibatalkan, tergantung mana yang lebih dahulu terjadi.

Pada saat asuransi berakhir dikarenakan peserta meninggal, Perusahaan asuransi akan melakukan penelitian baik mengenai keterangan-keterangan, pernyataan-pertanyaan yang dimuat dalam surat permintaan asuransi dan pernyataan kesehatan asuransi jiwa kredit. Jika tidak terdapat hal-hal yang dapat membatalkan asuransi peserta, maka Perusahaan asuransi akan membayar uang pertanggungan sebesar sisa pinjaman debitur selaku peserta asuransi kepada

Afnida Novriani : Tinjauan Terhadap Manfaat Asuransi Jiwa Sebagai Jaminan Terhadap Pelunasan Hutang

pemegang polis atau badan yang dihunjuk, dengan asumsi bahwa debitur/peserta asuransi tidak ada tunggakan cicilan pada Bank. Perhitungan sisa pinjaman dimaksud diatur lebih lanjut dalam syarat-syarat khusus polis asuransi.

Di dalam syarat-syarat umum Polis yang disepakati antara pemegang polis atau pihak yang dihunjuk (Bank) dan peserta asuransi (debitur) dengan penanggung (Perusahaan asuransi), Pasal 8 dan Pasal 9 mengatur dengan tegas manfaat asuransi bagi debitur dan/atau ahli waris debitur selaku peserta asuransi atas uang asuransi (klaim) yaitu sebagai berikut :

1. Apabila Peserta meninggal dunia dalam masa asuransi dan kredit belum lunas, maka kepada Pemegang Polis akan dibayarkan Uang Pertanggungan sebesar sisa pinjaman pada Pemegang Polis pada saat Peserta meninggal dunia dengan asumsi tidak ada tunggakan cicilan.(Pasal 8)

2. Apabila Peserta meninggal dunia setelah pelunasan kredit sebagaimana dimaksud pasal 7 ayat 3, maka kepada yang ditunjuk sebagaimana yang tercantum dalam Sertifikat akan dibayarkan Uang Pertanggungan sebesar sisa pinjaman sesuai dengan perhitungan Penanggung.(Pasal 8) 3. Apabila Peserta mengundurkan diri dari kepesertaan asuransi, maka

Penanggung akan menghitung besarnya Nilai Tunai pada saat Peserta mengundurkan diri.(Pasal 9)

4. Apabila jumlah Nilai Tunai tersebut lebih kecil dari yang ditetapkan oleh Penanggung, maka Nilai Tunai tersebut tidak dapat dibayarkan, namun kepada Peserta tetap diberikan perlindungan Asuransi Jiwa sampai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan. Dalam hal

Afnida Novriani : Tinjauan Terhadap Manfaat Asuransi Jiwa Sebagai Jaminan Terhadap Pelunasan Hutang

demikian, Penanggung akan menyerahkan Sertifikat asli beserta dokumen-dokumen lainnya yang telah diterima dari Pemegang Polis kepada Peserta. (Pasal 9)

Dari ketentuan yang diatur dalam syarat-syarat umum di atas, ternyata hak atas uang asuransi (klaim) tidak hanya merupakan hak ahli waris dari debitur yang meninggal dunia, akan tetapi juga merupakan hak dan harus dibayarkan oleh Perusahaan asuransi kepada debitur sebagai peserta asuransi yang tidak meninggal dunia, dan bahkan debitur yang mengundurkan diri sekalipun mempunyai hak atas uang asuransi (klaim) dengan ketentuan hutang debitur telah dilunaskan dan masa asuransi masih berlaku serta mempunyai nilai tunai.

Perusahaan asuransi akan membayarkan uang asuransi (klaim) kepada badan yang duhunjuk (Bank) sebesar sisa pinjaman sesuai dengan perhitungan perusahaan asuransi.

Dengan demikian dalam kondisi apapun, baik peserta asuransi jiwa meninggal dunia atau tidak meninggal dunia dan termasuk mengundurkan diri sekalipun, ikut sebagai peserta asuransi jiwa, tetap bermanfaat dan menguntungkan debitur/ahli waris debitur.

Dari uraian tersebut di atas dengan dasar perjanjian kredit antara Bank dengan debitur dan perjanjian asuransi antara peserta suransi sekaligus sebagai debitur dengan Perusahaan asuransi, jelas memberikan suatu gambaran bahwa hak debitur/peserta asuransi dilindungi dan dengan memasukkan klausula asuransi didalam perjanjian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) adalah merupakan upaya yang positif bagi debitur dan/atau ahli warisnya dalam rangka menghindarkan suatu

Afnida Novriani : Tinjauan Terhadap Manfaat Asuransi Jiwa Sebagai Jaminan Terhadap Pelunasan Hutang

risiko yang dapat merugikan debitur dan/atau ahli waris debitur, dan bahkan Bank pun dapat juga terhindar dari kerugian yang mungkin diderita dikarenakan kredit yang diberikan kepada debitur macet.

Dokumen terkait