• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V TEMUAN DAN INTERPRETASI DATA

5.1. Peranan Gerakan Sosial Forum PESONA (Peduli Samosir

Sebagaimana yang disampaikan oleh Handayani dkk bahwa gerakan sosial merupakan upaya kolektif dalam melakukan suatu perubahan melalui interaksi dan sosialisasi. Gerakan sosial tidak hanya muncul dari kesadaran kelas dan ideologi tertentu, namun karena identitas dan kesadaran serta perhatian terhadap persoalan, masalah dan atau fenomena yang sedang dihadapi oleh masyarakat luas. Handani dkk menyampaikan bahwa gerakan sosial berupaya menyatukan komponen- komponen dalam masyarakat untuk melakukan perubahan dan tujuan bersama

Gerakan sosial Forum PESONA (Peduli Samosir Nauli) merupakan gerakan yang didasari kesadaran identitas, perhatian terhadap persoalan yang terjadi di Kabupaten Samosir. Masyarakat yang tergabung dalam gerakan ini memiliki kesadaran dalam satu identitas yaitu mereka adalah bangsa Batak dan memiliki kesadaran akan menjaga ikon bangsa batak yaitu Danau Toba dan Lingkungan Hidup yang berada disekitarnya.

Untuk lebih jelasnya berikut hasil wawancara dengan salah satu informan tokoh masyarakat bapak Wilmar Simanjorang (Laki- laki, 60)

“Kehadiran Gerakan Forum PESONA dikarenakan adanya kesadaran masyarakat untuk mempertahankan Danau Toba sebagai warisan budaya dan Ciptaan Tuhan yang luar biasa. Kita sebagai bangsa Batak telah menerima anugerah ini dan kita berusaha menjaganya. Adanya tindakan penebangan hutan

di Tele ini harus kita lawan mengingat kondisi Danau Toba dan Hutan disekitarnya termasuk Hutan Tele sudah semakin rusak. Apalagi ditambah lagi dengan Penebangan Hutan yang dilakukan oleh PT. Gorga Duma Sari. Juga perusahaan – perusahaan lain seperti PT. TPL (Toba Pulp Lestari), PT. Aqua Farm sebetulnya harus kita tolak keberadaannya di kawasan Danau Toba ini.

Gerakan sosial erat kaitannya dengan perilaku kolektif, sebagaimana yang disampaikan dalam buku Kamanto Soekanto, gerakan sosial merupakan perilaku yang dilakukan bersama dengan sejumlah orang, tidak bersifat rutin, dan merupakan tanggapan dari rangsangan tertentu. Oleh karena itu, kejadian aksi yang dilakukan oleh Forum PESONA ini dapat diklasifikasikan sebagai gerakan sosial, karena berdasarkan hasil penelitian bahwa perilaku ini dilakukan dengan secara bersama- sama sebanyak dua kali yakni pada tanggal 8 April 2013 dan pada tanggal 10 Juni 2013 dengan keterlibatan massa lebih 1000 orang, yang dilaksanakan tidak bersifat rutin yakni hanya dua kali. Kejadian ini juga merupakan tanggapan dari ransangan tertentu, yakni tanggapan akan terjadinya tindakan penebangan hutan yang merugikan masyarakat dan lingkungan, adanya sikap pejabat pemerintah Kabupaten Samosir yang tidak mengutamakan kepentingan masyarakat dan alam, dan disebabkan perhatian masyarakat akan terjadinya degradasi kualitas ekosistem Danau Toba secara lebih komprehensif. Menurut informasi yang didapatkan penulis, bahwa masyarakat yang paling banyak melakukan aksi sosial adalah dari jemaat dari lembaga keagamaan dan masyarakat petani yang bergabung dalam Serikat Tani Kabupaten Samosir.

Menurut John Lofland, ada 17 variabel yang dapat berpengaruh terhadap gerakan sosial yaitu ketimpangan sosial, kesempatan politik, campur tangan

negara terhadap kehidupan warga, terjadinya deprivasi ekonomi, konsentrasi geografis, identitas kolektif, solidaritas antar kelompok, krisis kekuasaan, melemahnya kontrol kelompok dominan, pemfokusan krisis, sinergi gelombang penduduk, adanya pemimpin, jaringan komunikasi, integrasi jaringan diantara para penggerak, adanya situasi yang memudahkan para pembentuk potensial, dan kemampuan mempersatukan.

Dalam kejadian gerakan sosial Forum PESONA ini, penulis melihat ada 6 variabel yang paling menonjol mempengaruhi masyarakat untuk menuntut pemberhentian penebangan hutan Tele, akan dijelaskan sebagai berikut;

1. Kesempatan Politik

Negara Indonesia sebagai negara demokrasi yang memberikan jaminan bagi setiap warga negara untuk berserikat dan berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Hal ini termaktub dalam Undang- Undang Dasar Tahun 1945 pada pasal 28. Oleh karena itu, upaya masyarakat untuk menyatakan pendapat terkait adanya tindakan yang merugikan merupakan tindakan yang politis untuk memperjuangkan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan bersama adalah merupakan sebuah kesempatan dan jaminan yang diberikan oleh negara bagi rakyatnya.

Pemahaman masyarakat yang terbentuk sebagai alasan mengapa masyarakat turut ke jalan dan menghadap ke depan kantir bupati Kabupaten Samosir, mereka harus memiliki landasan berpikir dan bertindak. Oleh karena itu, penulis melihatnya bahwa masyarakat memegang sebuah nilai. Nilai untuk memperjuangkan alam karena manusia tidak bisa hidup apabila tidak didukung oleh alam yang harmonis pula. Alam Danau Toba merupakan aset yang memiliki

nilai budaya, nilai ekonomi, nilai energi dimana apabila hutan disekitar danau ini sebagai penyuplai debit air ke danau Toba menggundul maka danau ini akan semakin surut. Bapak Wilmar Simanjorang sebagai Ketua Lembaga Sosial Save Lake Toba Foundation (SLTF) (laki- laki, 60 tahun) mengatakan bahwa Hutan Tele merupakan imbuhan air sebagaimana yang disampaikannya sebagai berikut;

“Danau Toba memiliki nilai yang tidak terukur, artinya semua orang disekitar danau bahkan diluar dari kabupaten Samosir bergantung pada air di danau ini. Nah, bagaimana kalau tidak ada hutan sebagai sumber air untuk danau ini, maka yang terjadi adalah penyusutan debit air, tentu turbin yang ada di PLTA Sigura- Gura akan berhenti, demikian juga dengan permukaan daratan di sepanjang tepi pantai, yang tentunya masyarakat sangat bergantung pada kondisi permanen tepi pantai, apabila terjadi penyurutan permukaan danau toba maka pertanian dan kolam- kolam ikan akan ikut terancam. Oleh karena itu, kita harus mengajak semua elemen masyarakat untuk turun ke jalan bersama- sama berjuang menyuarakan jeritan hati rakyat ini kepada pemerintah supaya memberhentikan penebangan ini”.

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti melilhat bahwa lahirnya gerakan Forum PESONA karena adanya pemahaman dari masyarakat dan penggerak untuk memperjuangkannya tindakan politis ini kepada pemerintah lebih tepatnya kepada pemerintah kabupaten untuk mengeluarkan kebijakan dengan mengeluarkan instruksi pemberhentian operasi penebangan hutan yang dilakukan oleh PT. Gorga Duma Sari tersebut. Karena perusahaan ini menebang pohon- pohon di Hutan Tele yang dapat merugikan masyarakat kabupaten Samosir,

khususnya di Desa Hariara Pintu, dan dua kecamatan yang lain yang dibawahnya dataran ini yakni Kecamatan Harian dan Kecamatan Sianjur Mula- Mula.

2. Campur tangan negara terhadap kehidupan negara

Keberadaan negara sebagai sebuah institusi bertanggungjawab pada setiap warga negara yang berada di dalamnya. Artinya bahwa negara harus menjamin kelangsungan hidup warga negara dan bertanggungjawab atas kesejahteraan warga negara tersebut. Indonesia sebagai negara memuat sistem welfare state (Negara Kesejahteraan) dimana bahwa tercapainya kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia adalah cita- cita para pendiri negara ini.

Proses pembangunan yang hanya sebagian kecil dinikmati oleh sekelompok orang semakin menegaskan bahwa saat ini negara tidak mampu memberikan regulasi atas kehidupan warganya untuk tercapainya pemerataan. Para peneliti ekonomi kerakyatan berpandangan bahwa perekonomian Indonesia semakin jauh dari cita- cita perekonomian yang berkeadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Ini terjadi karena kebijakan pembangunan yang tidak berpihak kepada rakyat dan kecenderungan pada ekonomi pasar sehingga siapa yang kuat itu yang mampu mengakses sumber- sumber ekonomi produktif lebih banyak sedangkan rakyat lebih dianggap sebagai objek pembangunan

Secara lebih umum, kabupaten Samosir masih terbilang menjadi salah satu daerah yang PAD (Pendapatan Asli Daerah) – nya rendah yaitu berkisar 375 Milyar di keseluruhan kabupaten dalam skala nasional (Waspada Online, 2010). Kondisi inilah yang meyebabkan kebijakan Bupati Samosir, Ir. Mangindar

Simbolon, MM untuk memberikan izin pemanfaatan kayu (IPK) kepada beberapa perusahaan yakni PT. EJS, PT. Biranta Nusantara, dan PT. GDS untuk peningkatan pendapatan daerah melalui pajak dan pembukaan izin usaha. Hal ini disampaikan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Hoetaginjang Pusuk Buhit Eco- Tourism dalam bukunya “Illegal Logging atau Legalized Logging di Hutan Tele Samosir?”

Disatu sisi, secara makro bahwa negara tidak memberi ruang bagi masyarakat untuk produktif dengan peningkatan kapasitas masyarakat dalam pembangunan yang partisipatif, namun di sisi lain, pemerintah Kabupaten Samosir sebagai representatif negara memberikan pemilik modal untuk membuka usaha peternakan dan kebun bunga di kawasan hutan yang masih endemik dan belantara. Dengan pengertian bahwa hutan ini merupakan sumber mata air kehidupan mahluk hidup disekitarnya dan eksistensi hewan- hewan dan tumbuhan endemik akan tetap terjaga. Karena apabila hutan yang seluas 2.500 Hektar tersebut ditebangi secara terus menerus maka hewan- hewan tidak lagi memiliki tempat tinggal tentu akan bergeser ke lahan pertanian atau kepermukiman penduduk. Seperti pada gambar berikut ini, dimana monyet – monyet keluar dari hutan karena kondisi hutan semakin sempit (penyebabnya adalah kawasan hutan konsesi hutan PT. TPL dan PT. EJS Agro Mulia Lestari seluas 2.250 Ha)

Gambar 5.1. Peta Hutan Tele dan hewan- hewan yang bermigrasi

(Sumber: Dokumen SLTF - Save Lake Toba Foundation) 3. Deprivasi Ekonomi

Pengertian mendasar deprivasi ekonomi adalah sebuah situasi di mana kualitas hidup di bawah dari apa yang bisa diharapkan untuk tempat tertentu pada waktu tertentu. Sebagaimana letak fondasi dasar kabupaten Samosir pada saat awal ditetapkan sebagai salah satu kabupaten yang baru bersamaan dengan Kabupaten Serdang Bedagai pada tanggal 18 Januari 2004 adalah kabupaten yang harus Pro Growth (pro pada pertumbuhan ekonomi), Pro Poor (pro pada pengentasan kemiskinan). Pro Jobs ( pro pada peningkatan lapangan pekerjaan), dan Pro Green (pro pada lingkungan), sebagaimana hal ini tertuang dalam RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang) Kabupaten Samosir Tahun 2025 . Akan tetapi pada kenyataan setelah 10 tahun dimekarkan menjadi kabupaten, harapan- harapan tersebut belum menjadi kenyataan. Terbukti masih banyak pengangguran, kemiskinan, penurunan kualitas air, dan kebakaran hutan dan penebangan hutan dan tindakan korupsi para pejabat Kabupaten Samosir.

4. Konsentrasi Geografis

Letak geografis yang berdekatan akan memudahkan mobilisasi dan agitasi (perkiraan) massa untuk terpusat dalam menyampaikan aspirasi. Forum PESONA merupakan aliansi dari berbagai latar belakang organisasi, yakni organisasi keagamaan seperti GAMKI, PSE Caritas Keuskupan Medan, JPIC Kapusin Medan, HKBP Distrik VII Samosir, dan organisasi sosial seperti STKS (Serikat Tani Kabupaten Samosir), LSM Perintis, Save Lake Toba Fondation (SLTF), Hoetaginjang Pusuk Buhit Eco- Tourism Movement, KSPPM ( Kelompok Swadaya, Prakarsa, dan Pengembangan Masyarakat) dan organisasi budaya seperti Yayasan Raja Lintong Situmorang dan radio Samosir Green FM.

Untuk lebih jelasnya berikut hasil wawancara dengan salah satu informan Fernando Sitanggang (Laki- laki, 40 Tahun )

“Kejadian pada saat itu yakni massa yang tergabung dalam Forum PESONA melaksanakan demonstrasi ke depan Kantor Bupati Samosir sebanyak dua kali yaitu pada tanggal 8 April yang pertama dan pada tanggal 10 Juni 2013 yang kali kedua . Kami menggunakan segala transportasi yang ada. Banyak dari kami datang dengan menggunakan puluhan mobil truk, dan mobil pick up, selain itu ada juga yang membawa kreta (sepeda motor) masing- masing dengan iring- iringan sepanjang satu kilometer. Kami yang berkumpul kurang lebih 1000 orang pada saat itu.

Kondisi geografis memungkinkan gerakan massa untuk berkumpul. Faktor wilayah yang berdekatan, dalam hal ini masyarakat yang tergabung di dalam

Forum PESONA digerakkan masih memungkinkan karena masih dalam satu skala kabupaten dimana didukung juga dengan transportasi yang sudah memadai. 5. Identitas Kolektif

Benar apa yang disampaikan Gurr dalam buku Wahyudi, bahwa perilaku kolektif bisa disebabkan oleh rasa ketidaksenangan. Sedangkan rasa ketidaksenangan merupakan produk dari ketidaksesuaian antara kondisi objektif dan ide- ide tentang kondisi tersebut. Ketidaksenangan adalah produk kesenjangan antara kenyataan dengan keinginan. Selanjutnya Obershall menambahkan, ketidaksenangan juga dapat disebabkan oleh adanya rancangan struktur sosial yang menguntungkan kelompok tertentu, merugikan kelompok yang lain

Apa yang disampaikan Smelser dalam buku Wahyudi juga dibenarkan yakni apa yang menjadi penyebab terjadinya perilaku bersama (tindakan kolektif) hal ini karena disebabkan adanya faktor pemicu. Smelser mengatakan hal itu adalah sebuah kepercayaan umum. Kepercayaan yang secara universal dimiliki oleh basis massa yang melakukan upaya perlawanan. Oleh karena itu, kejadian dalam melakukan usaha penolakan pemanfaatan kayu yang dilakukan perusahaan PT. GDS ini merupakan kesadaran kolektif. Kesadaran akan satu identitas sebagai kesatuan dalam budaya, yaitu budaya batak, kesadaran dalam identitas daerah, yaitu dari daerah Samosir, kesadaran akan kepedulian terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup dan keberadaan hutan yang harus tetap dijaga kelestariannya..

6. Adanya Pemimpin

Gerakan Sosial sebagai gerakan yang berbasis massa tidak serta merta massa langsung menyatukan diri untuk melakukan perlawanan. Massa harus terorganisir dengan baik dan paham akan apa yang akan disuarakan, dan setiap anggota dari barisan massa harus tunduk pada pimpinan aksi. Kepemimpinan sangat diperlukan dalam melakukan gerakan sosial. Gerakan Sosial mampu menjadi kontrol dalam bagi sebuah kekuasaan yang sedang berjalan apabila pemimpin- pemimpin dalam sebuah gerakan itu memiliki kemampuan mengorganisir yang baik, kekuatan jaringan yang baik, dan kemampuan berargumentasi dengan baik.

Forum PESONA yang berlatarbelakang dari berbagai organisasi dan kelompok masyarakat untuk melakukan penolakan kehadiran perusahaan pemanfaatan kayu tersebut bersatu karena inisiatif pemimpin- pemimpin masing- masing organisasi. Pemimpin- pemimpin melakukan koordinasi dan membangun jaringan dengan menamakannya sebagai forum. Adapun ketua Forum ini adalah Rohani Manalu, salah satu staf dari organisasi swadaya masyarakat yaitu KSPPM (Kelompok Swadaya, Prakarsa, dan Pengembangan Masyarakat).

Gambar 5.2.

Wawancara Penulis dengan Sekretaris Forum PESONA Bapak Fernando S

Sumber: Data Primer, 2014

Dapat dilihat dengan wawancara dengan sekretaris Forum PESONA sebagai berikut, Fernando Sitanggang (laki – laki, 40 tahun)

“Sebelum kala itu melakukan aksi ke depan kantor Bupati Samosir, kami dari forum tersebut melakukan konsolidasi untuk menyatukan persepsi dan membahas apa- apa saja yang kami butuhkan. Salah satunya, Pada tanggal 10 Juni 2013 kami melakukan aksi tersebut, akan tetapi sebelumnya kami sudah mendiskusikan kira- kira berapa banyak orang yang harus kita ajak turun kejalan, bagaimana kesiapan logistik seperti pemasangan spanduk, bagaimana

kesiapan komsumsi, dan sebelum melaksanakan aksi di kantor Bupati, kami menentukan titik kumpul di Terminal Onan Baru Kecamatan Pangururan dan pada pukul 10. 30 WIB kala itu, kita baru arak- arakan ke kantor bupati kira- kira 4 kilo meter lagi dari lokasi itu”

5.1.2. Latar Belakang Gerakan Sosial

Pendapat Zanden dan Haberle bahwa bahwa gerakan sosial harus membawa perubahan fundamental terhadap tatanan sosial. Gerakan sosial lahir dari situasi dalam masyarakat karena adanya ketidakadilan dan sikap sewenang- wenang terhadap masyarakat. Dengan kata lain, gerakan sosial lahir dari reaksi terhadap sesuatu yang tidak diinginkan rakyat seperti misalnya kebijakan, tingkah laku pemimpin, dan penderitaan yang sedang dialami oleh masyarakat.

Adapun latar belakang mengapa Forum PESONA melakukan aksi adalah sebagai berikut;

5.1.2.1Regulasi yang berhubungan dengan izin perusahaan PT. Gorga Duma Sari untuk melakukan usaha di Hutan Tele bermasalah

a. Permasalahan terkait izin lokasi

Setiap perusahaan yang akan melakukan usahanya harus terlebih dahulu melengkapi segala bentuk regulasi untuk menjadi payung hukum kehadiran perusahaan tersebut. Profil PT. Gorga Duma Sari adalah perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan. Sebagaimana hasil wawancara dengan Bapak Wilmar Simanjorang, beliau menyampaikan bahwa PT. Gorga Duma Sari telah 8 tahun bergerak di bidang perkayuan. Sebelumnya perusahaan ini bekerjasama dengan PT. Toba Pulp Lestari. Kerjasama yang dibangun adalah hasil kayu hutan alam yang berada dikawasan PT. Toba Pulp Lestari dikelola oleh PT. Gorga

Duma Sari. Berhubung PT. Toba Pulp Lestari membutuhkan kayu ekauliptus bukan kayu- kayu alam sehingga kayu- kayu tersebut dikelola oleh PT. Gorga Duma Sari dengan mendirikan sawmill (sawmill adalah tempat pengelolaaan kayu untuk mengkapling kayu sesuai dengan jenis dan ukurannya di lapangan). Yang kemudian kayu – kayu ini diolah menjadi material bangunan untuk perumahan, dikelola menjadi perabot- perabot rumah juga. Adapun lokasi sawmill PT. Gorga Duma Sari tersebut berada di Desa Hutagalung Kecamatan Harian berada di dekat camp PT. Toba Pulp Lestari Sektor Tele

PT. Gorga Duma Sari merupakan milik Jonni Sihotang yang merupakan salah satu anggota DPRD Kabupaten Samosir yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD. Jonni Sihotang juga menjabat sebagai Direktur Utama perusahaan ini. Didalam Undang-Undang No 27/2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD dalam Pasal 378 ayat (2) disebutkan anggota DPR dilarang menyambi pekerjaan sebagai pejabat struktural di perusahaan, lembaga pendidikan swasta, akuntan publik, pengacara, dan pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan tugas dan wewenang DPR serta hak sebagai anggota DPR. Peraturan ini sangat jelas mengatur untuk mengantisipasi adanya anggota dewan yang menyalahgunakan wewenangnya yang berujung pada kepentingan kelompok dengan mengesampingkan kepentingan hidup orang banyak.

Selain itu, pada ketentuan perundang- undangan dalam Izin Pemanfaatan Kayu oleh sebuah perusahaan, disyaratkan dalam Pasal 6 ayat (2) dan Pasal 6 ayat (3) Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.14/ Menhut-II/ 2011 tanggal 10 Maret 2011 bahwa perusahaan harus menyertakan dokumen izin Prinsip Penanaman Modal, Izin Lokasi, dan Peta Lokasi hutan yang dimohonkan.

Akan tetapi, berdasarkan studi kepustakaan yang peneliti lihat dalam dokumen Save Lake Toba Foundation (SLTF), lembaga ini mendokumentasikan semua bentuk pelanggaran hukum yang terjadi di jajaran pemerintahan Kabupaten Samosir dan pelanggaran yang dilakukan oleh PT. Gorga Duma Sari. Peneliti menemukan bahwa surat izin lokasi atas tanah yang seluas 800 Hektar yang terletak di desa Hariara Pintu tersebut tidak sesuai pada peruntukannya.

Kehadiran PT. GDS dalam pengajuan alasan untuk penggunaan lahan seluas 800 hektar adalah untuk usaha perkebunan buah, umbi- umbian, dan peternakan, sebagaimana dalam tabel berikut.

Tabel 5.1

Rencana Usaha PT. Gorga Duma Sari/ tahun No. Produksi Jenis Barang Satuan Kapasitas

1. Perkebunan Jeruk Manis Ton 12. 144

2. Terong Belanda Ton 2.500

3. Ubi Taiwan Ton 5000

4. Peternakan Sapi Potong Ton 150

5. Daging Kambing Ton 25

6. Ayam Potong Ton 20

7. Ikan air tawar Ton 10

Sumber : Dokumen AMDAL PT. GDS, 2014

Adapun perlengkapan dalam dokumen AMDAL PT. GDS Operasional PT. GDS tersebut yakni; Dump Truck dengan jumlah 5 Unit, Logging Truck 12 Unit, Escavator 10 Unit, Chainsaw 26 Unit, dan mobil operasional 5 Unit. Penulis mengamati bahwa tidak ada hubungan yang sejalan antara hasil produksi usaha

PT. GDS dengan alat produksi yang digunakan di dalam dokumen AMDAL. Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa tujuan perusahaan itu adalah untuk memproduksi hasil pertanian holtikultura dan peternakan, tapi alat produksinya semata- mata hanya untuk keperluan penebangan kayu saja.

Gambar 5.3. Dokumen AMDAL PT. Gorga Duma Sari

Oleh karena itu, penerbitan Izin Prinsip Penanaman Modal oleh Badan Perizinan Kabupaten Samosir seperti tidak dikaji dengan matang. Atas penjelasan Wilmar Simanjorang, yakni selaku mantan Pejabat Sementara Bupati Kabupaten Samosir ketika pertama kali kabupaten ini dimekarkan, beliau menyampaikan bahwa beberapa perusahaan yakni PT. Biranta Nusantara dan PT. EJS Agro Mulia Lestari mengajukan Izin Prinsip Penanaman Modal dengan tegas mantan Pejabat Sementara Bupati Samosir ini menolak permohonan kedua perusahaan tersebut. Perusahaan ini berkedok untuk usaha pertanian, peternakan, dan perkebunan holtikultura akan tetapi sesungguhnya adalah untuk membabat dan

mengeksploitasi kayu- kayu alam yang terkandung di Hutan Tele. Mengingat daerah ini bukan Hutan Lindung sesuai dengan SK. 44 Peraturan Menteri Kehutanan tahun 2005. Oleh karena status hutan yang merupakan Areal Penggunaan Lain (APL) seyogyanya mengapa daerah tersebut merupakan APL adalah karena kebutuhan masyarakat lokal yang menggantungkan kehidupannya pada hutan Tele untuk kebutuhan dapur dengan menggunakan kayu hutan untuk memasak. Akan tetapi ditegaskan bahwa masyarakat di Desa Hariara Pintu tidak eksploitatif dalam memanfaatkan hutan Tele.

Oleh karena itu, terdapat kejanggalan. Alat produksi yang dimiliki oleh PT. GDS tidak memiliki keterkaitan dengan hasil produksi yang akan direncanakan. Sehingga muncul kecurigaan kehadiran perusahaan ini hanya untuk memanfaatkan kayu hutan mengingat perusahaan ini memiliki sawmill (tempat pengelolaan kayu untuk dikomersilkan). Apabila perusahaan untuk melakukan usaha peternakan atau perkebunan, mengapa tidak memakai lahan tidur di kecamatan yang lain, misalnya di daerah Ronggur Nihuta dan Onan Runggu yang memiliki banyak lahan tidur.

Kenyataannya bahwa kehadiran PT. Gorga Duma Sari setelah mendapat izin prinsip penanaman modal. Selanjutnya izin lokasi yang diterbitkan oleh Bupati Samosir cacat secara hukum. LSM Hoetaginjang Pusuk Buhit Eco- Tourism Movement menjelaskan dalam laporan dokumentasinya bahwa Bupati mengeluarkan Surat Keputusan Bupati Samosir Nomor 89 Tahun 2012 Tentang Pemberian Izin Atas Tanah yang terletak di Desa Hariara Pintu tersebut, tertulis “berdasarkan tata ruang” yakni pada diktum menimbang pada butir (b). Merupakan kebohongan publik, karena Dokumen Rencana Tata Ruang dan

Wilayah (RTRW) Provinsi Sumatera Utara sampai sekarang belum disahkan termasuk Kabupaten Samosir. Sampai saat ini, draft Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kabupaten Samosir masih dalam proses penyusunan. Tetapi, kenyataannya Pemerintah Kabupaten Samosir membetikan Surat Keputusan Pemanfaatan Tata Ruang kepada PT. Gorga Duma Sari ( lihat lampiran 5.1).Oleh karena itu, diktum yang dibubuhkan Bupati dalam izin atas tanah akan dikelola oleh PT. Gorga Duma Sari tersebut tidak layak menjadi dasar hukum karena belum disahkan oleh pemerintah Kabupaten demikian juga Pemerintah Provinsi, lihat lampiran 5.1. (sumber: dianalisis dari Dokumen LSM Hoetaginjang Pusuk Buhit Eco – Tourism Movement, 2014)

b. Peraturan yang terkait dengan aspek teknis bidang pengelolaan hasil hutan

Tterdapat kebingungan atas volume kayu, hasil survei potensi kayu di Hutan Tele, disampaikan dalam Surat Keputusan Kepala Dinas Kehutanan dan

Dokumen terkait