KAJIAN TEORI
A. Peranan Guru Aqidah Akhlak 1. Peranan Guru
Peranan guru menurut Moh. Uzer Usman (2000:4) adalah tercapainya serangkaian tingkahlaku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuaan perubahan tingkahlaku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuan. Dengan kata lain peranan guru dapat dikatakan tugas yang harus dilaksanakan oleh guru dalam mengajar siswa untuk kemajuan yaitu perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa.
Peranan guru yang terpenting adalah pertama, guru sebagai pemberi pengetahuan yang benar kepada muridnya. Kedua, guru sebagai pembina akhlak yang mulia, karena akhlak yang mulia merupakan tiang utama untuk menompang kelangsungan hidup suatu bangsa. Ketiga, guru memberi petunjuk kepada muridnya tentang hidup yang baik, yaitu manusia yang tahu siapa pencipta dirinya yang menyebabkan ia tidak menjadi orang yang sombong, menjadi orang yang tahu berbuat baik kepada Rasul, kepada orang tua, dan kepada orang lain yang berjasa kepada dirinya (Abudin Nata, 1997 :69-70).
Untuk mewujudkan peran guru, maka seorang guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu Kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik mengenai pengembangan
21
wawasan, perencanaan pembelajaran, pemahaman teknologi pembelajaran. Kompetensi kepribadian, guru sebagai pendidik harus memiliki kepribadian yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, menjadi teladan bagi peserta didik. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat meliputi menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan dan semangat kebersamaan, bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. Kompetensi profesional meliputi penguasaan guru tentang materi, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendasari mata pelajaran yang diampu (Syukur, 2014: 12).
2. Aqidah Akhlak
Sebelum dibahas lebih lanjut tentang guru aqidah akhlak maka perlu dikemukakan pengertian guru itu sendiri, diantaranya:
a. Menurut Hamzah (2008:15), yang dimaksud guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar dan membimbing peserta didik.
b. Menurut Usman (1991:4), guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru.
c. Menurut Abuddin nata (2010: 160), guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
22
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan guru adalah orang yang mendidik, membimbing dan ikut bertanggung jawab dalam membantu membentuk kepribadian anak. Guru bukanlah sekedar orang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan meteri pengetahuan tertentu, akan tetapi merupakan anggota masyarakat yang harus aktif dan kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya menjadi dewasa dan bertanggung jawab.
Orang yang menerima amanat orang tua untuk mendidik anak itu di sebut guru. Namun guru bukan hanya penerima amanat dari orang tua untuk mendidik anaknya, melainkan dari setiap orang yang memerlukan bantuan untuk dididiknya. Sebagai pemegang amanat, guru bertanggung jawab atas amanat yang diserahkan kepadanya. Allah swt menjelaskan dalam QS. An-nisa :58
ىَلِإ ِتاَناَملأا اوُّدَؤُت ْنَأ ْمُكُرُمْأَي َ َّاللَّ َّنِإ
ِلْدَعْلاِب اوُمُكْحَت ْنَأ ِساَّنلا َنْيَب ْمُتْمَكَح اَذِإَو اَهِلْهَأ
اًريِصَب اًعيِمَس َناَك َ َّاللَّ َّنِإ ِهِب ْمُكُظِعَي اَّمِعِن َ َّاللَّ َّنِإ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat” (QS. An-nisa:58)
Guru merupakan penerima amanat yang di serahkan orang lain kepadanya untuk mendidik anaknya. Tanpa amanat itu, seseorang tidak akan disebut guru. Sebagai pemegang amanat, guru bertanggung jawab atas amanat yang diserahkan kepadanya.
23
Aqidah menurut bahasa berasal dari berasal dari aqada-ya’qidu aqdan atau aqidatan yang berarti mengaitkan. Bentuk jama’ aqidah adalah aqaid yang berarti simpulan atau ikatan (Abudin Nata, 1993 :29). Dan ikatan yang dimaksudkan adalah ikatan janji, jadi bila seseorang berjanji maka harus menepati. Menepati janji adalah akhlak mahmudah yang harus dimiliki oleh orang beriman. Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah aqidah yang benar terhadap Allah. Aqidah yang benar merupakan contoh perilaku yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari .
Akhlak adalah sebuah sistem yang lengkap yang terdiri dari karakteristik-karakteristik akal atau tingkah laku yang membuat seseorang menjadi istimewa (Mahmud, 2004: 22-27)
Aqidah akhlak adalah satu mata pelajaran yang masuk dalam Pendidikan Agama Islam. Pendidikan akhlak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Pendidikan agama islam. Pendidikan agama islam menurut Ahmadi (29: 2005) adalah usaha yang lebih khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagamaan (religiousitas) agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran islam.
Upaya tersebut dilakukan untuk mendidik anak agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara aktif, dengan dibekali kekuatan spiritual keagamaan agar anak didik mempunyai akhlak mulia untuk dapat mengendalikan diri ketika mengahadapi hal-hal yang dapat merugikan dirinya dan orang lain. Agar anak didik memiliki akhlak
24
mulia yang dapat berguna bagi dirinya dan orang lain. Serta anak dibekali keterampilan yang diperlukan agar dapat mengelola apa yang ada disekitarnya dengan baik dan tepat guna dengan kecerdasan yang dimilikinya.
Peranan guru aqidah akhlak dalam proses pengubahan sikap dan tingkah laku anak didik sangat dibutuhkan agar anak didik mendapat pengajaran untuk menuju kedewasaan dengan kepribadian yang mulia. Sehingga diperlukan usaha secara sadar untuk mewujudkan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik dan sesuai dengan usianya. 3. Syarat Menjadi Guru
Menurut (Muhammad Athiyah al-Abrasyi,169) ada beberapa syarat seorang guru yang perlu diperhatikan guru yaitu :
a. Adanya komunikasi yang aktif antara pendidik dan peserta didik. b. Memperhatikan kemampuan dan kondisi peserta didik.
c. Mempunyai sifat keadilan.
d. Sehat jasmani dan rohani serta mempunyai kepribadian yang kuat, tanggung jawab, dan mampu mengatasi problem peserta didik.
Soejono menambahkan syarat yang dikutib oleh (Ahmad Tafsir, 83) adalah : umur harus sudah dewasa, tentang kemampuan mengajar, ia harus ahli, dan harus berdedikasi tinggi.
Sebagaimana pula dijelaskan pada peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang kompetensi yang harus dimiliki guru
25
meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan dan ketrampilan guru yang berkaitan dengan interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa dalam kelas. Kompetensi pedagogik meliputi:
a) Pemahaman wawasan merupakan kemampuan intelekual dalam penguasaan materi, pengetahuan tentang belajar, tingkah laku individu, pengetahuan tentang bimbingan menyeluruh serta pengetahuan umum. b) Pengembangan kurikulum merupakan tugas guru dalam melaksanakan
pembelajaran seperti halnya dalam merumuskan bahan yang sesuai dengan isi kurikulum,merumuskan bentuk kegiatan belajar yang memberikan pengalaman belajar bagi peserta didik dalam melaksanakan apa yang telah diprogramkan.
c) Pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan mengorganisasikan ruang, waktu, bahan dan perlengkapan dalam pelaksanaan pembelajaran. d) Pemanfaatan teknologi pembelajaran sebagai sarana informasi.
e) Evaluasi hasil belajar atau kemampuan melaksanakan penilaian prestasi belajar peserta didik berdasarkan tujuan.
f) Pengembangan peserta didik dilakukan untuk menumbuhkan terbentuknya nilai-nilai yang luhur dari diri peserta didik sehingga mengembangkan sikap yang baik.
26
Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan dan karakteristik personal yang mencerminkan sikap dan perilaku guru dalam melaksanakan tugas dalam kehidupan sehari-hari. kemampuan pribadi meliputi: kewibaan sebagai pribadi pendidik, kearifan dalam mengambil keputusan, memberikan contoh yang baik dalam bersikap dan berperilaku atau berakhlak mulia,serta kemampuan mengendalikan diri dari berbagai situasi dan kondisi.
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk memperlakukan peserta didik secara baik agar tercapai optimalisasi potensi pada diri peserta didik. Guru harus mampu berinteraksi sosial baik dengan murid, guru dan masyarakat. Kompetensi sosial yang dimiliki seorang guru meliputi:
a) Berkomunikasi lisan, tulis dan isyarat secara santun dengan peserta didik dan lingkungan.
b) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. c) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik.
d) Bergaul secara santun, dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku.
27
Kompetensi professional adalah seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru agar dapat melaksanakan tugas mengajar dengan berhasil. Kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya sekurung-kurangnya meliputi penguasaan :
1) Materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan mata pelajaran yang akan diampu.
2) Konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang berhubungan dengan program satuan pendidikan dan mata pelajaran.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa seorang guru diharapkan memiliki syarat-syarat, ada beberapa syarat yang harus dimiliki seorang guru, diantaranya kemampuan dalam mengajar siswa, karena jika guru tidak memiliki kemampuan dalam mengajar siswa dikhawatirkan akan menjerumuskan siswa kepada hal-hal negatif. Guru diharapkan mempunyai sifat kasih sayang terhadap siswa, karena sifat kasih sayang ini pada akhirnya akan melahirkan keakraban dan ketentraman belajar selain itu harus memiliki kompetensi guru menurut Undang-undang No 14 tahun 2005 yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, professional dan sosial.
28 4. Tugas dan Peran Guru
a. Tugas Guru
Menurut Hamzah tugas guru sebagai pendidik profesional dalam proses pembelajaran menekankan pada pentingnya proses belajar, karena itu guru memiliki tugas diantaranya adalah : menguasai cara belajar yang efektif, mampu menjabarkan bahan pelajaran ke dalam berbagai bentuk cara penyampaian, memiliki sifat yang positif terhadap tugas profesinya sehingga berupaya untuk meningkatkan kemampuan dan melaksanakan tugas sebagi guru.
Tugas guru menurut Uzer Usman (1991:4) ada 3 kelompok yaitu: 1) Dalam bidang profesi
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa serta penerapannya.
2) Dalam bidang kemanusiaan
Tugas guru dalam bidang kemanusiaan meliputi bahwa guru disekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapun yang diberikannya, hendaknya dapat menjadikan motivasi bagi siswanya dalam belajar.
29
Sebagai tugas kemanusiaan, seorang guru harus terpanggil untuk membimbing, melayani, mengarahkan, menolong, memotivasi, dan memberdayakan sesama, khususnya anak didiknya, sebagai sebuah keterpanggilan kemanusiaan dan bukan semata-mata terkait dengan tugas formal atau pekerjaannya sebagai guru (Marno dan Idris, 2010:20).
3) Dalam bidang kemasyarakatan
Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya karena seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Tugas dan peran guru tidaklah terbatas di dalam masyarakat, bahkan guru pada hakikatnya merupakan komponen strategis yang memiliki peran penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa.
Guru juga mengemban tugas kerasulan, yaitu menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada umat manusia. Secara lebih khusus, tugas Nabi dalam kaitannya dengan pendidikan (Marno dan Idris,2010:19). Sebagaimana tercantum dalam QS Al-Jumu’ah: 2
ُمُهُمِّلَعُيَو ْمِهيِّكَزُيَو ِهِتاَيآ ْمِهْيَلَع وُلْتَي ْمُهْنِم لاوُسَر َنيِّيِّملأا يِف َثَعَب يِذَّلا َوُه
َةَمْكِحْلاَو َباَتِكْلا
ٍنيِبُم ٍللاَض يِفَل ُلْبَق ْنِم اوُناَك ْنِإَو
Artinya:
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
30
Ayat diatas menggambarkan bahwa tugas Rosul adalah untuk mengajarkan dan menyuruh umat manusia untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an, itu juga yang diemban oleh guru yaitu mengajarkan dan membimbing siswa dan siswinya.
Tugas guru menurut Soejono (2008: 68) adalah:
1) Wajib menemukan pembawaan yang ada pada anak didik dengan berbagai cara melalui observasi, pergaulan, dan wawancara.
2) Berusaha menolong anak didik mengembangkan pembawaan yang baik dan menekan perkembangan pembawaan yang buruk agar tidak berkembang.
3) Mengadakan evaluasi setiap waktu untuk mengetahui perkembangan anak didik agar berjalan dengan baik.
4) Memberikan bimbingan dan penyuluhan apabila anak didik menemui kesulitan dalam mengembangkan potensi.
b. Peran Guru
Menurut Mukhtar (2003:93-94), peran guru dalam pembentukan akhlak lebih di fokuskan pada tiga peran, yaitu :
1) Peran pendidik sebagai pembimbing
Peran pendidik sebagai pembimbing sangat berkaitan erat dengan praktik keseharian. Untuk dapat menjadi seorang pembimbing, seorang pendidik harus mampu memperlakukan para siswa dengan menghormati dan menyayangi (mencintai). Ada
31
beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang pendidik yaitu, meremehkan/ merendahkan siswa, memperlakukan sebagai siswa secara tidak adil, dan membenci sebagian siswa.
Perlakuan pendidik sebenarnya sama dengan perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya yaitu penuh kasih sayang dan memberikan perlindungan. Sehingga semua siswa merasakan senang untuk sama-sama menerima pelajaran dari pendidiknya tanpa ada paksaan dan tekanan yang akan menjadikan siswa dapat merasa percaya diri bahwa di sekolah/madrasah, ia akan sukses belajar lantaran ia merasa dibimbing, didorong dan diarahkan oleh pendidiknya dan tidak dibiarkan tersesat. Bahkan dalam hal-hal tertentu pendidik harus bersedia membimbing dan mengarahkan satu persatu dari seluruh siswa yang ada.
2) Peran pendidik sebagai model (contoh)
Peranan pendidik sebagai model pembelajaran sangat penting dalam rangka membentuk akhlak mulia bagi siswa yang diajar. Karena gerak gerik guru selalu di perhatikan oleh setiap murid. Tindak tanduk, perilaku, bahkan gaya guru dijadikan cermin (contoh) oleh murid-muridnya. Kedisiplinan, kejujuran, keadilan, kebersihan, kesopanan, ketulusan, ketekunan, kehati-hatian akan selalu direkam oleh murid-muridnya dan pada batas-batas tertentu akan diikuti oleh murid-muridnya. Demikian pula sebaliknya, kejelekan-kejelekan gurunya akan direkam oleh muridnya dan
32
biasanya akan lebih mudah dan cepat diikuti oleh murid-muridnya. Semuanya akan menjadi contoh bagi murid, karena guru harus bisa menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya. Guru juga menjadi figur secara tidak langsung dalam pembentukan akhlak siswa dengan memberikan bimbingan tentang cara berpenampilan, bergaul dan berperilaku yang sopan.
3) Peran Pendidik Sebagai Penasehat
Seorang pendidik memiliki jalinan ikatan batin atau emosional dengan para siswa yang diajarnya. Dalam hubungan ini pendidik berperan aktif sebagai penasehat. Peran pendidik bukan hanya sekedar menyampaikan pelajaran di kelas lalu menyerahkan sepenuhnya kepada siswa dalam memahami materi pelajaran yang disampaikannya tersebut. Guru juga harus mampu memberi nasehat bagi siswa yang membutuhkannya, baik diminta ataupun tidak (Mukhtar, 95-96).
Setiap guru utamanya Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) hendaknya menyadari bahwa guru bukanlah sekedar mentransfer pengetahuan agama dan melatih ketrampilan anak-anak dalam melaksanakan ibadah atau hanya membangun intelektual dan menyuburkan perasaan keagamaan saja, akan tetapi pendidikan agama lebih luas daripada itu. Pendidikan agama Islam berusaha melahirkan siswa yang beriman, berilmu, dan beramal saleh. Sehingga dalam suatu pendidikan moral, PAI tidak hanya
33
menghendaki pencapaian ilmu itu semata tetapi harus didasari oleh adanya semangat moral yang tinggi dan akhlak yang baik (Mukhtar, 95-96). Untuk itu seorang guru sebagai pengemban amanah pembelajaran PAI haruslah orang yang mempunyai pribadi saleh.