• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Para Wali dalam Islamisas

Dalam dokumen Sejarah 2 Kelas 11 Triyono Suwito 2009 (Halaman 107-115)

Agama dan Kebudayaan Islam di Indonesia

BANGANNYA DI INDONESIA DALAM BIDANG AGAMA DAN PENDIDIKAN

2. Peranan Para Wali dalam Islamisas

Penyebar Islam yang terkenal di Indonesia, khususnya Jawa,

disebut Wali Sanga. Wali ini merupakan adalah dewan mubalig

di Jawa yang berbasis di Demak sebagai pusat kegiatan politik dan agama Islam. Tiap wali tersebut pernah menjadi imam pada waktu shalat berjamaah di Masjid Agung Demak. Apabila salah satu anggota dewan wali ini wafat, ia akan digantikan oleh wali lainnya berdasarkan musyawarah. Tiap-tiap wali dan panggantinya mempunyai tugas penyiaran agama Islam di Pulau Jawa. Mereka dipanggil dengan sebutan “sunan”, yang berasal dari kata “susuhunan”, kata bagi orang yang terpandang di masyarakat.

a. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

Maulana Malik Ibrahim berasal dari Persia (Iran), kemudian berkedudukan di Gresik, Jawa Timur, dan dikenal sebagai

Susuhunan atau Sunan Gresik, meninggal pada 1419 M. Ia yang diduga menyebarkan Islam di Jawa ketika Majapahit masih

memerintah. Ia dikenal dengan nama Maulana Magribi/Syekh

Magribi karena diduga berasal dari Magribi, Afrika Utara. Diperkirakan Sunan Gresik lahir sekitar pertengahan tahun 1350. Setelah dewasa ia menikah dengan seorang putri bangsawan

ternama Dewi Candrawulan, putri pertama Ratu Campa yang telah

menganut Islam (isteri Raja BrawijayaV Majapahit). Dakwahnya

yang simpatik dan arif menyebabkan penduduk lebih cepat menerima Islam.

b. Sunan Ampel atau Raden Rahmat

Sunan Ampel (Ngampel), berkedudukan di Ampel Denta di Giri, dekat Surabaya; dan dikabarkan berasal dari Campa, Vietnam (sama

dengan ibunya Raden Patah). Nama aslinya adalah Raden Rahmat,

putra Maulana Malik Ibrahim dari Dewi Candrawulan. Raden Rahmat dikenal sebagai perencana pertama kerajaan Islam di Jawa dan penerus cita-cita serta perjuangan ayahnya dan mendirikan pesantren di Ampel Denta di Jawa Timur. Ia berhasil mendidik

para pemuda Islam untuk menjadi tenaga dai atau ahli kotbah

(mubalig) yang akan disebar ke seluruh Jawa. Di antara pemuda yang dididik adalah Raden Paku (Sunan Giri), Raden Fatah (Sultan Demak), Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat), serta Maulana Ishak yang pernah diutus mengislamkan rakyat di daerah Blambangan.

Sunan Ampel cukup berpengaruh di kalangan istana Majapahit, bahkan isterinya pun berasal dari kalangan istana. Ia tercatat sebagai peletak dasar penyebaran politik Islam ke Nusantara. Ia juga ikut andil dalam mendirikan Masjid Agung Demak tahun 1479 bersama wali-wali yang lain.

Pada awal islamisasi di Jawa, Sunan Ampel menginginkan agar masyarakat menganut keyakinan yang murni. Ia tidak setuju kebiasaan masyarakat Jawa, seperti kenduri, selamatan, sesajen, dan sebagainya tetap hidup dalam Islam. Namun, wali-wali yang lain berpendapat, untuk sementara kebiasaan tersebut dibiarkan saja karena masyarakat sulit meninggalkannya secara serentak. Akhirnya Sunan Ampel setuju. Ia juga menyetujui ketika Sunan Kalijaga dalam usaha menarik penganut Hindu dan Buddha, mengusulkan agar adat-istiadat Jawa diberi warna Islam. Namun Sunan Ampel tetap khawatir adat-istiadat dan berbagai upacara

ritual Islam kelak menjadi bid’ah. Sunan Ampel wafat tahun 1481

c. Sunan Bonang

Nama aslinya Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Arti makhdum

adalah ulama besar yang harus dihormati. Ia putra Sunan Ampel

dari perkawinannya dengan Dewi Candrawati. Sunan ini

berkedudukan di Bonang, dekat Tuban. Sunan Bonang dianggap

sebagai pencipta gending untuk mengembangkan ajaran Islam di

pesisir utara Jawa Timur. Setelah belajar Islam di Pasai (Aceh) ia kembali ke Tuban, Jawa Timur untuk mendirikan pondok pesantren. Santri-santri yang belajar kepadanya datang dari berbagai pelosok Nusantara. Dalam menyebarkan agama Islam selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan Jawa. Ia menggunakan pertunjukan wayang sebagai media dakwahnya. Lagu gamelan wayang berisikan pesan-pesan ajaran agama Islam.

Setiap bait diselingi ucapan syahadatain (ucapan dua kalimat

syahadat). Kemudian dikenal dengan istilah sekatenan.

Sumber:Indonesian Heritage 9

Gambar 3.8

Sunan Ampel dan Sunan Bonang dalam wujud wayang kulit

Gambar 3.9

Gunungan nasi Lanang (pria) danGunungan Wadon

(wanita) yang biasa diarak pada saat acara sekatenan

Maulud, merupakan warisan Sunan Bonang dalam persebaran Islam melalui budaya

gunungan nasi lanang (pria)

gunungan nasi wadon (wanita)

Sumber:Indonesian Heritage 9

Dalam kegiatan dakwahnya Sunan Bonang menjadikan pesantrennya sebagai basis pendidikan agama Islam secara khusus dan mendalam. Catatan pendidikannya kemudian dibukukan

dalam buku Suluk Sunan Bonang atau Primbon Sunan Bonang.

Buku ini sekarang masih tersimpan di Universitas Leiden Belanda. Sunan Bonang wafat tahun 1525 dimakamkan di Tuban.

d. Sunan Drajat

Sunan Drajat adalah putra Raden Rahmat, berkedudukan di Drajat,

dekat Sedayu. Nama kecilnya Raden Kosim atau Syarifudin.

Disebut juga dengan Sunan Sedayu karena dimakamkan di daerah

Sedayu. Menurut silsilah Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel dari istri kedua bernama Dewi Candrawati.

Dalam musyawarah para Wali diputuskan, siapa yang mengganti Sunan Ampel untuk memimpin pesantren Ampel

Denta. Dan pilihan jatuh pada Sunan Drajat. Ia terkenal dengan

kepandaiannya membuat tembang Pangkur. Hal yang paling

menonjol dalam dakwah adalah perhatiannya terhadap masalah sosial. Ia mempunyai jiwa sosial yang tinggi dan berorientasi pada kegotong-royongan. Sunan Drajat wafat pertengahan abad ke-16 dimakamkan di Sedayu, Gresik.

e. Sunan Giri

Sunan Giri, murid Sunan Ampel, berkedudukan di Giri, dekat

Gresik. Nama kecilnya Raden Paku disebut juga Prabu Satmata

dan sering dijuluki Sultan Abdul Fakih. Ia putra Maulana Ishak

yang ditugasi Sunan Ampel menyebarkan agama Islam di daerah

Blambangan. Salah seorang saudaranya adalh Raden Abdul Kadir

(Sunan Gunung Jati). Pendidikannya adalah tamatan pesantren di Pasai (Aceh). Ketika beranjak dewasa, Raden Paku belajar di Pesantren Ampel Denta. Berkenalan dengan Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Keduanya bersahabatan hingga menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Selama di pesantren Pasai, Raden Paku menimba ilmu ketuhanan, keimanan, dan tasawuf. Tingkat terakhir adalah ilmu

laduni sehingga gurunya menganugerahi gelar Ain al-Yaqin dan

masyarakat menyebutnya dengan Raden Ainul Yakin. Sunan Giri

sangat berpengaruh terhadap jalannya roda-roda Kesultanan Demak Bintoro. Setiap keputusannya selalu disetujui oleh wali-wali lainnya. Sunan Giri wafat tahun 1600, dimakamkan di Bukti Giri, Gresik.

f. Sunan Muria

Nama kecilnya Raden Pratowo sedangkan nama aslinya Raden

Umar Said. Ia lebih dikenal dengan nama Sunan Muria karena kegiatan dakwahnya dilakukan di Gunung Muria (18 km sebelah Utara Kota Kudus). Sunan Muria dalam berdakwah memilih daerah pelosok terutama desa terpencil. Sistem dakwah yang disampaikan dengan memberi pendidikan singkat pada kaum pedagang, para nelayan, dan rakyat pedesaan. Cara berdakwah selalu

dengan menyisipkan tembang Sinom dan Kinanti yang bernafaskan

Islam. Sunan Muria wafat abad ke-16 dimakamkan di Bukit Muria, Jepara.

g. Sunan Kalijaga

Nama aslinya Joko Said, anak Bupati Tuban Raden Tumenggung

Wilwatikta. Ibunya bernama Dewi Nawang Rum, berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak; ia menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya dan sangat anti kekerasan; ia adalah menantu Sunan Gunung Jati.

Nama kecilnya Raden Mas Syahid (said) dan sering dijuluki

pelaksana yang suci. Berbeda dengan wali yang lainnya, Sunan Kalijaga dalam berdakwah selalu berkeliling dari daerah satu ke daerah lainnya. Isi yang disampaikan sangat intelektual dan nyata. Sehingga banyak masyarakat yang simpati terhadap Sunan Kalijaga. Karena jasanya dalam berdakwah, Suna Kalijaga diberi hadiah oleh Raden Fatah sebagai penguasa Kesultanan Demak Bintoro, berupa sebidang tanah di sebelah tenggara Demak. Tanah tersebut merupakan desa perdikan (desa yang dibebaskan pajak oleh sultan). Jabatan yang diberikan kepadanya adalah juru dakwah kerajaan.

Sunan Kalijaga sangat berjasa dalam perkembangan wayang purwa atau wayang kulit yang bercorak Islami seperti sekarang ini. Dia mengarang aneka cerita wayang secara Islami, terutama berkaitan dengan etika atau adab. Berdakwah melalui pertunjukkan wayang kulit inilah, masyarakat banyak yang tertarik dan masuk Islam. Sunan Kalijaga wafat pada pertengahan abad ke-15, dimakamkan di Kadilangu, Demak.

h. Sunan Kudus

Nama kecilnya Jafar Sadiq dengan panggilan Raden Undung

atau Raden Amir Haji karena jasanya memimpin rombongan haji

ke Mekah. Ayahnya bernama Raden Usman Haji yang

menyiarkan Islam ke daerah Jipang, Panolan, dan Blora. Menurut silsilah, Sunan Kudus masih keturunan Nabi Muhammad Saw. Ilmunya cukup tinggi dan ahli dalam ilmu fiqih, tauhid, hadis, tafsir, serta mantiq (logika atau filsafat). Karena itulah ia mendapat julukan sebagai Wali al-‘ilmi (orang yang ilmunya luas).

Sunan Kudus sangat berambisi menggulingkan Majapahit

secara militer, ialah yang sangat menentang ajaran Syekh Siti

Jenar yang cendering mistik; memiliki murid kesayangan yang

bernama Arya Penangsang dari Jipang; namun ia sangat

membenci Sunan Prawoto dari Demak. Sunan Kudus dikenal

juga sebagai panglima perang Kesultanan Demak, Bintoro yang tangguh dan dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus, sehingga ia menjadi pemimpin pemerintahan sekaligus pemimpin agama di daerah tersebut.

Ada cerita yang mengatakan bahwa Sunan Kudus pernah berlayar ke Baitul Maqdis di Palestina dan berjasa memberantas penyakit yang menelan banyak korban di sana. Atas jasanya, pemerintah Palestina memberi hadiah daerah kekuasaan di Palestina namun Sunan Kudus meminta agar hadiah tersebut di pindahkan ke Pulau Jawa dan oleh Amir (penguasa) permintaan itu dikabulkan. Sekembalinya ke Jawa ia mendirikan masjid di daerah Loran tahun 1549 dan masjid itu diberi nama Masjid Al Aqsa atau Al Manar artinya Masjid Menara Kudus. Daerahnya pun kemudian diganti menjadi Kudus yang artinya suci. Diambil dari nama sebuah kota di Palestina yaitu Al- Quds. Sunan Kudus wafat tahun 1550 dimakamkan di daerah Kudus.

Gambar 3.10

Batu nisan terukir dari makam Sunan Kudus

Sumber:Indonesian Heritage 1

i. Sunan Gunung Jati

Nama lainnya adalah Syekh Nuruddin Ibrahim atau Syarif

Hidayatullah, berasal dari Pasai, Aceh, lalu berkedudukan di Gunung Jati, Banten dan kemudian Cirebon untuk membentuk dinasti Islam di kedua tempat tersebut; ia menikahi saudara

perempuan Sultan Tranggana.

Menurut sumber lokal, nama kecilnya adalah Syarif

Hidayatullah yang merupakan cucu Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Dari perkawinan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang

Larang, lahir dua putra dan satu putri yaitu Raden

Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raja Senggara. Setelah ibunya wafat Raden Walangsungsang meninggalkan keraton untuk

belajar Agama Islam pada Syekh Datu Kahfi atau Syekh Nurul

Jati di Gunung Ngamparan Jati. Dan adik perempuannya Nyai Lara Santang menyusul belajar agama di tempat yang sama. Setelah tiga tahun menimba ilmu, keduanya menunaikan ibadah haji. Di

Mekah, Nyai Lara Santang mendapat jodoh yaitu Maulana Sultan

Mahmud (Syarif Abdullah), bangsawan Arab dari Bani Hasyim. Walangsungsang setelah ibadah haji kembali ke Jawa dan menjadi guru di Labuhan, Pasambangan, Cirebon. Sementara itu Nyai Lara Santang melahirkan anak, diberi nama Syarif Hidayatullah. Setelah dewasa Hidayatullah memilih berdakwah di Pulau Jawa. Ia kemudian bersilaturahim kepada

Walangsungsang yang bergelar Cakrabuana. Setelah pamannya

wafat, Hidayatullah melanjutkan perjuangan pamannya menyebarkan Islam di Cirebon dan Cirebon menjadi Kesultanan Islam yang bebas dari Pajajaran. Dari Cirebon ia kemudian menyiarkan agama Islam ke daerah-daerah Jawa Barat yang belum

memeluk agama Islam, seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Di Banten ia mendirikan kerajaan tahun 1525. Ketika kembali ke Cirebon, Kesultanan Banten diserahkan kepada putranya, Maulana Hasanuddin yang kemudian menurunkan raja-raja Banten.

Di tangan raja-raja Banten inilah kerajaan Hindu Pajajaran dapat dikalahkan dan rakyatnya memeluk Islam. Bahkan, Syarif Hidayatullah menggerakkan penyerangan ke Sunda Kelapa. Penyerangan itu dipimpin Faletehan (Fatahillah), panglima angkatan perang Demak. Fatahillah kemudian menjadi menantu Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah wafat tahun 1570 dimakamkan di daerah Gunung Jati, desa Astana, Cirebon. Maka ia dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati.

j. Para Wali Lainnya

Para wali memegang peranan yang besar dalam penyebaran Islam di Jawa. Dengan kesabaran dan kearifan, agama Islam disampaikan kepada masyarakat hingga diterima dan cepat berkembang di Jawa. Di samping Wali Sanga, banyak wali lainnya ikut andil dalam pengembangan Islam di Jawa, meski sebagian dibunuh dan tidak diakui oleh Wali Sanga, seperti:

(1) Syekh Subakir;

(2) Sunan Bayat atau Tembayat; (3) Sunan Geseng;

(4) Syekh Mojoagung; (5) Syekh Siti Jenar;

(6) Maulana Ishak dari Pasai, Aceh, mengislamkan rakyat Blambangan (Pasuruan dan sekitarnya) di Jawa Timur bagian timur;

(7) Syekh Jangkung; pernah berniat mendirikan masjid tanpa izin dan oleh Sunan Kudus akan dihukum mati namun diselamatkan oleh Sunan Kalijaga;

(8) Syekh Maulana; berasal dari Krasak-Malang, dekat

Kalinyamat, murid Sunan Gunung Jati; karena pernah mempermalukan dalam perdebatan tentang ilmu mistik ia dibunuh atas perintah Sunan Kudus.

Sumber:Indonesian Heritage 3

Gambar 3.11

Komplek makam Sunan Tembayat (Bayat) di Klaten, Jawa

Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang, berasal dari Cirebon yang terkenal dengan ajaran sufinya yang revolusioner sehingga oleh penguasa Demak dan para Wali ia dihukum mati karena ajarannya dianggap membahayakan stabilitas politik dan sosial Jawa Tengah ketika itu. Cerita lisan menyebutkan bahwa banyak pengikut Siti Jenar yang melakukan kerusuhan sosial dikarenakan mereka ingin segera meninggalkan alam dunia yang dianggapnya sebagai kehidupan neraka. Ajaran Syekh Siti Jenar banyak kesamaan dengan ajaran Al-Hallaj karena konon Syekh yang kontroversi ini pernah belajar agama di Persia, tempat Al -Hallaj hidup.

Dari Pulau Jawa, Islam lalu berkembang ke wilayah-wilayah lain di Indonesia. Islamisasi ke Kalimantan dilakukan oleh para ulama utusan Demak. Sedangkan Islam di Maluku, Ternate, dan

Tidore disebarkan oleh Sultan Ternate, Zainal Abidin, setelah

belajar ke Giri, Jawa Timur. Makassar diislamkan oleh para mubalig dari Sumatera dan Malaka (Malaysia). Kemudian, orang Makassar mengislamkan orang Lombok dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat antara tahun 1540-1550. Sementara itu, penduduk Flores di Nusa Tenggara Timur diislamkan oleh orang Bugis.

Agama Islam masuk ke Nusantara dengan jalur berlainan. Seperti di luar Jawa yakni Sulawesi, penyebar agama Islam di

Sulawesi bernama Dato’ri Bandang. Di Kutai, Kalimantan Timur

penyebar agama Islam adalah Dato Bandang dan Tuang Tunggang.

Peran seorang penghulu di Demak tidak kalah pentingnya dalam

penyebaran agama Islam, melalui pengajaran kepada Sultan

Suryanullah. Dan masih banyak lagi tokoh yang berperan syiar Islam ke seluruh Nusantara.

Proses islamisasi di Nusantara dapat dikatakan relatif mudah. Hubungan secara tidak langsung antara pedagang muslim antara lain, para mubaligh, ustadz, ahli-ahli tasawuf telah menerapkan ajarannya melalui kesepakatan perdagangan yang tidak berbelit- belit. Golongan penerima Islam juga melakukan tindakan yang sama, yakni menyebar ajarannya pada masyarakat sekitarnya. Bahkan jika ia seorang bangsawan atau pejabat keraton akan lebih memperlancar jalannya penyebaran tersebut. Berdirinya tempat peribadatan seperti langgar, masjid, majelis taklim, dan sebagainya digunakan juga sebagai syiar agama Islam.

Gambar 3.12

Masjid di Lombok yang terbuat dari dedaunan kering dan kayu; mungkin beginilah bentuk masjid di Indonesia pada awal islamisasi

Seni juga menjadi salah satu saluran proses islamisasi di Nusantara. Cabang-cabang seni yang lebih mudah penyentuh hati masyarakat sekitar adalah seni bangun, seni pahat, seni ukir, seni qasidah, dan sebagainya. Bukti-bukti perkembangannya adalah bangunan Masjid Agung, Demak, Cirebon, Bantem, Banda Aceh yang kemudian menjadi pusat kegiatan syiar Islam ke daerahnya. Di Keraton Cirebon juga kita temukan seni ukir yang bercorak Islami yaitu ukiran lafal ayat-ayat Al Qur’an.

C. PENGARUH ISLAM DALAM PRAKTIK AGAMA DAN

Dalam dokumen Sejarah 2 Kelas 11 Triyono Suwito 2009 (Halaman 107-115)