BAB II : LENIN DAN PERANNYA DALAM REVOLUSI
F. Peranan Lenin Dalam Revolusi Rusia Tahun 1917
Lenin atau yang mempunyai nama asli Vladimir Ilyich Ulyanov
merupakan seorang tokoh revolusioner yang sangat fenomenal di Rusia, bahkan
hingga ke seluruh negara-negara di dunia. Lenin adalah seorang yang menganut
ajaran Karl Marx dan berhasil mewujudkannya dalam bentuk tindakan politik
yang nyata. Lenin juga seorang pemimpin yang paling bertanggung jawab
terhadap tumbuh dan berkembangnya komunisme di Rusia. Sebagai penganut
Karl Marx yang revolusioner, Lenin berhasil mewujudkan dasar politik yang
hanya bisa dibayangkan oleh Karl Marx. Sejak bulan Oktober 1917, komunisme
dengan begitu cepatnya menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Dalam bulan Oktober 1917, terjadilah peristiwa yang cukup
menggemparkan dunia, yaitu berhasilnya Lenin menerapkan suatu teori revolusi
Marxis dan mendirikan negara pertama menurut ajaran Karl Marx, yaitu negara
sosialis (komunis) di Rusia. Peristiwa tersebut dianggap menggemparkan dunia
karena menurut ajaran Marx, revolusi mendirikan negara sosialis (komunis) baru
proletar sudah begitu kuat. Namun menurut kenyataannya, Rusia yang pada saat
itu masih berupa negara agraris yang mayoritas penduduknya adalah petani (dari
kira-kira 75 juta penduduknya, baru sekitar 3 juta yang hidup sebagai buruh dalam
industri) dapat dengan berhasil melaksanakan revolusi di Rusia. Lebih
menggemparkan lagi karena anggota partai Bolshevik, partai yang memimpin
revolusi di bawah Lenin, pada waktu revolusi dikobarkan, baru beranggotakan
200.000 orang.136
Berkobarnya Revolusi Oktober 1917 di Rusia tentunya tidak lepas dari
peranan Lenin di dalamnya. Sebagai seorang pekerja keras dan mengabdikan
seluruh hidupnya untuk tujuan-tujuan revolusi, ia selalu berusaha untuk
mewujudkan suatu revolusi di Rusia. Dengan segala pemikiran-pemikirannya dan
keterlibatannya dalam kancah perpolitikan di Rusia, Lenin ingin melakukan
segala perubahan di negaranya. Peranan Lenin dalam revolusi Rusia tahun 1917
sangat nampak sekali dalam dua bidang, yaitu bidang politik dan bidang sosial.
1. Bidang Politik
Lenin yang mengukuhkan dirinya sebagai Marxis kemudian mulai terlibat
dalam gerakan-gerakan perpolitikan di Rusia. Keterlibatan Lenin dalam bidang
politik diawali sejak tahun 1895, yaitu sejak Lenin bersama-sama kaum Marxis
lainnya, seperti Martov yang di kemudian hari menjadi pemimpin kelompok
Menshevik, berhasil membentuk organisasi yang bernama Union of The Struggle for the Liberation Working Class (Persatuan Perjuangan untuk Pembebasan Kelas Buruh). Tugasnya melakukan kegiatan menyebarkan pamflet-pamflet, koran
136
ilegal, juga mendukung pemogokan-pemogokan buruh dan menginfiltrasi kaum
buruh agar mereka dapat dididik dasar Marxisme. Namun pada bulan Desember
tahun 1895, para pemimpinnya ditangkap. Lenin di penjara selama 15 bulan dan
kemudian dihukum buang ke Shushenskoie di Siberia.137
Pasca pembuangan dari Siberia, Lenin kemudian pergi dan menetap di
Swiss karena ia dilarang tinggal di kota. Lenin akhirnya mengatur penerbitan
“Iskra” di Munich bersama Plekhanov dan Martov dengan Lenin menjadi redaktur
dan memimpin semua aktivitas Iskra. Terbitan artikel-artikel dari Iskra juga
diselundupkan sampai ke Rusia. Pada tahun 1901 dalam bukunya What is to be Done?, Lenin menjelaskan bahwa perlunya sebuah partai sebagai garda depan kaum proletar yang bertugas menyuntikkan kesadaran sosialis kepada diri kaum
proletar karena kaum proletar tidak akan secara spontan memiliki kesadaran
sosialis dan menjadi revolusioner. Perlu adanya partai yang ketat dan disiplin baja,
sehingga benar-benar dapat memimpin perjuangan buruh melalui revolusi.
Menurut Lenin, partai juga harus berpola sentralisme mutlak.138
Namun oleh Plekhanov, Martov dan Leon Trotsky, skema organisasi dan
disiplin partai yang dikemukakan Lenin tersebut cenderung membawa partai ke
arah “Jacobinisme”.139 Dalam Kongres I, Lenin kalah: 28 lawan 22, dengan 1
suara abstain.Tetapi ketika terjadi ketidak sepakatan mengenai topik lain dalam
Konggres, Lenin memaksa adanya pemungutan suara ulang dan berhasil
137
Edi Haryadi,op.cit.,hlm. 124
138
Ibid.,hlm.127
139
“Jacobisnisme” adalah penindasan diskusi yang bebas dalam partai, sebuah kediktatoran atas kaum proletar, bukan kediktatoran oleh kaum proletar dan akhirnya akan membentuk kediktatoran satu orang.lihat Franz Magnis Suseno, Dalam Bayang-Bayang Lenin : Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin Sampai Tan Malaka, op cit., hlm 11.
mendapat keunggulan 24 suara. Kemenangan tersebut menjadikan kelompok
Lenin disebut sebagai kaum Bolshevik. Partai tersebut kemudian
memproklamasikan sebagai partai pekerja Sosial-Demokrat Rusia (Russion Social Democratic Workers Party, RSDWP). Sejak saat itu, Iskra ditetapkan sebagai organ sentral partai.140
Dalam Kongres Partai Bolshevik di Praha yang diadakan Lenin pada tahun
1912, perpecahan dalam tubuh RSDWP antara kaum Bolshevik dan Menshevik
menjadi selamanya. Ditambah lagi setelah pecah Perang Dunia I, tumbuhnya
nasionalisme di kedua belah pihak telah memecah belah kaum Sosial-Demokrat.
Sayap kiri, di antaranya Lenin, menuntut agar kaum sosialis menentang “perang
kaum kapitalis dan imperialis” dengan lebih mentransformasi “perang imperialis
menjadi perang sipil”. Tetapi pandangan Lenin ini hanya mendapat sedikit
dukungan. Bahkan tidak sedikit kaum Bolshevik yang mendukung perang. Pada
tahun 1914, setelah berhasil mencapai Swiss, Lenin bergabung dengan
sekelompok kecil imigran Bolshevik dan Menshevik yang anti perang.
Pada rentang tahun 1915 sampai tahun 1916, kaum sosialis anti perang
mengadakan pertemuan di Zimmerwald dan Kienthal, Swiss. Lenin gagal
mempengaruhi konferensi tersebut untuk mengadopsi prinsip
“mentransformasikan perang imperialis menjadi perang sipil”. Lenin dan para pendukungnya kemudian menjadi minoritas dalam kelompok sosialis anti perang.
Hingga tahun 1917 Lenin terus menetap di Swiss, baru setelah di Rusia terjadi
kekalahan perang dan keadaan ekonomi semakin hancur sehingga mengakibatkan
140
terjadinya revolusi Rusia pada bulan Februari 1917, Lenin baru kembali lagi ke
Rusia.
Revolusi Februari 1917 telah mengakibatkan jatuhnya kekuasaan
monarkhi di Rusia. Otokrasi Tsar Rusia di bawah Tsar Nikholas II berhasil
ditumbangkan. Mendengar hal itu, maka Lenin memutuskan untuk segera kembali
dari Swiss ke Rusia. Dengan bantuan Jerman lewat Swedia dan Finlandia, 32
orang sosialis (19 Bolshevik, 4 Menshevik) kembali ke Rusia. Di antara mereka
adalah Lenin.141 Sesampainya Lenin ke Rusia pada bulan April 1917, di Rusia
telah terdapat Pemerintahan Sementara (Vremennoye Pravitelstva) untuk mengisi kekosongan kekuasaan pasca Revolusi Februari 1917.
Pemerintahan Sementara tersebut terdiri dari dua kekuataan besar yang
saling bertentangan. Pertama adalah para politisi dari berbagai partai di Duma
yang membentuk Pemerintahan Sementara, yang terdiri dari kadet, Menshevik
dan Sosialis Revolusioner. Kedua adalah kaum proletar yang bersama-sama
dengan prajurit Petrograd membentuk soviet Petrograd. Lenin tidak mendukung
adanya Pemerintahan Sementara karena ia menganggap pemerintahan tersebut
sangat imperialis. Lenin kemudian menyakinkan Sentral Komite partai Bolshevik
agar menerima rencananya.
Rencana Lenin kemudian terkenal dengan sebutan “April These”. Pokok-pokoknya adalah penghancuran kapitalisme sebagai satu-satunya cara untuk
mengakhiri perang, tidak ada dukungan lagi untuk Pemerintah Sementara,
kekuatan soviet harus ditegakkan dan soviet harus didominasi Bolshevik, gagasan
141
G. Moedjanto, 1975, “Revolusi Rusia 1917 (lanjutan)”, dalam SPPS seri IV no. 10. Yogyakarta: USD, hlm. 5.
mendirikan republik parlementer harus ditiadakan, tanah dan bank harus
dinasionalisir, Soviet harus mengambil alih urusan produksi dan distribusi barang,
Internasionale III harus dibangun sebagai pengganti Internasionale II. Sebagian
besar tokoh Bolshevik menentang rencana tersebut dan mengganggapnya sebagai
khayalan orang gila.142 Dalam konferensi partai di bulan April tersebut akhirnya
menyetujui rencana dan kemudian membuat program: partai harus menarik
kembali dukungannya terhadap Pemerintahan Sementara dan memenangkan
mayoritas dalam Dewan Soviet. Begitu pemerintah soviet terbentuk, harus segera
dimulai negoisasi bagi perdamaian umum di semua front, semua tanah
dinasionalisasikan dan dibagi-bagi kepada para petani kecil dan pemerintah harus
menetapkan pengendalian yang ketat terhadap semua industri swasta demi
kepentingan kaum buruh.143
Lenin mencoba menggerogoti legitimasi Pemerintahan Sementara. Sebuah
percobaan pemberontakan sayap kiri partai Bolshevik pada bulan Juli gagal
karena tergesa-gesa. Menurut Lenin, pemberontakan pada tanggal 3 sampai 4 Juli
tahun 1917 merupakan suatu kesalahan. Pihak sayap kiri Partai Bolshevik tidak
akan dapat mengambil alih kekuasaan baik secara fisik maupun secara politik,
meskipun pada saat itu Petrograd berada di tangan pihak sayap kiri Partai
Bolshevik. Hal tersebut karena pada saat itu kaum pekerja dan kaum prajurit tidak
akan bersedia bertempur dan mati untuk Petrograd. Lenin juga menambahkan,
bahwa pada saat itu tidak ada kebuasan atau luapan kebencian kepada kaum
Kerensky. Rakyat masih belum marah oleh pengalaman atas penghukuman
142
Ibid., hlm.6.
143
terhadap kaum Boshevik, di mana kaum Sosialis-Revolusioner dan Menshevik
ikut terlibat144.
Akibatnya, pasca pemberontakan pada bulan Juli Lenin harus melarikan
diri ke Finlandia. Hingga bulan September 1917, kaum bolshevik tetap menjadi
minoritas. Baru pada saat Pemerintahan Sementara di bawah pimpinan Karensky
kehilangan dukunganya dan diadakan pemilihan umum untuk memilih
anggota-anggota Dewan Soviet Petrograd, Bolshevik baru meraih kemenangan mayoritas.
Akhir September 1917, Lenin kemudian kembali dari Finlandia ke Rusia.
Ia kemudian mengirimkan surat ke Petrograd yang isinya menyarankan kepada
Sentral Komite Partai untuk mengorganisasikan pengambil alihan kekuasaan
dengan bersenjata tanpa menunda-nunda lagi, namun ditolak. Lenin kemudian
mengadakan pertemuan rahasia dengan Sentral Komite Partai Bolshevik pada
bulan Oktober 1917 dan akhirnya berhasil memenangkan suara mayoritas anggota
Senat Komite untuk menyetujui dan mempersiapkan pengambil alihan kekuasaan
dengan senjata. Langkah selanjutnya adalah membentuk Komite Militer Revolusi
yang secara resmi diketuai oleh Pavel Lazimir, walaupun kenyataanya organisasi
ini berada di bawah kendali Trotsky.
Revolusi Oktober 1917 meliputi dua peristiwa penting. Pertama adalah
kudeta Petrograd. Pada tanggal 25 Oktober 1917 diumumkan adanya pemindahan
kekuasaan dari Pemerintahan Sementara ke Komite Militer Revolusioner
pimpinan Pavel Lazimir. Di umumkan pula tuntutan rakyat yang berisi
pembentukan perdamaian yang demokratis, penghapusan pemilik tanah oleh para
144
Vladimir Illyich Lenin, Marxisme dan Pemberontakan, dalam http: //www. marxists. org/ indonesia/ archive/ lenin/ 1917/ 09/ 13insur. htm.,op.cit..
tuan tanah, pengenalan kontrol pekerja atas produksi dan pembentukan
pemerintahan Soviet. Kedua adalah Kongres Dewan Soviet seluruh Rusia II yang
berlangsung dari tanggal 25 Oktober sampai dengan 27 Oktober1917. Dalam
kongres tersebut terbentuk Pemeritahan Soviet (Soviet Komisaris Rakyat) yang
diketuai oleh Lenin (Kepala Negara). Diusianya yang ke-47, mimpi Lenin
menjadi kenyataan.145
Dari rangkaian peristiwa yang telah dijabarkan tersebut, sangat jelas
terlihat bahwa Lenin sangat berperan, baik dalam persiapan revolusi maupun
dalam jalannya revolusi. Sebagai seorang yang terlibat dalam perpolitikan Rusia
dan sebagai pemimpin dari partai Bolshevik yang bersifat radikal, Lenin tidak
pernah berputus asa untuk selalu berusaha mewujudkan dan mendirikan
pemerintahan komunis melalui revolusi sosialis di Rusia. Sebagai pemimpin
partai Boshevik, Lenin selalu memberikan dorongan kepada kaumnya agar
menjadi partai yang dapat diandalkan guna mengobarkan revolusi di Rusia.
Bahkan di saat partai Bolshevik berada dalam kelompok minoritas, Lenin terus
memperjuangkan partai dan kaumnya hingga menjadi kelompok mayoritas untuk
kemudian mengobarkan revolusi di Rusia. Tanpa peranan Lenin, komunisme akan
menunggu bertahun-tahun untuk mempunyai kesempatan memegang kekuasaan di
Rusia, hingga ke seluruh penjuru dunia.
2. Bidang Sosial
Lenin merupakan tokoh utama pendukung ajaran-ajaran Karl Marx
(Marxisme), namun tidak semua pandangan Karl Marx ia terima. Lenin tetap
145
Franz Magnis Suseno, Dalam Bayang-bayang Lenin: Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin samapi Tan Malaka,op.cit., hlm. 17
melakukan penyempurnaan terhadap pandangan-pandangan Karl Marx,
khususnya mengenai pembentukan partai komunis dan peranannya, juga
mengenai peranan kaum petani dalam revolusi. Marxisme merupakan suatu ajaran
pembebasan, di mana diajarkan bahwa manusia dapat menentukan perjalanan
sejarah dan menghentikan segala penindasan dan segala penentangan kelas. Setiap
orang memberi sesuatu dengan kemampuannya dan menerima balas jasa sesuai
dengan kebutuhannya, dengan kata lain berlaku prinsip sama rata, sama rasa.
Tahap tersebut disebut Marx sebagai tahap tinggi masyarakat komunis. Pada tahap
ini, pembagian barang-barang hasil masyarakat tidak perlu ditentukan dengan
jumlah barang hasil yang harus diterima oleh masing-masing orang, tetapi
masing-masing orang akan mengambil dengan bebas menurut kebutuhannya.
Berbeda dengan tahap pertama masyarakat komunis, dalam tahap ini komunisme
masih belum dapat matang sepenuhnya di bidang ekonomi dan belum sepenuhnya
bebas dari tradisi-tradisi atau bekas-bekas kapitalisme146.
Berdasarkan dari ajaran-ajaran Karl Marx tersebut, Lenin mempunyai
ambisi untuk mewujudkan secara praktis teori revolusi Marxisme dan mendirikan
negara menurut ajaran Karl Marx, yaitu negara sosialis (komunis). Menurut Marx,
langkah-langkah yang bersifat politis maupun ekonomis untuk mewujudkan
cita-cita tersebut adalah dengan mencapai kemenangan politis terlebih dahulu, di mana
kaum buruh melancarkan revolusi untuk menghancurkan masyarakat kapitalis dan
menggantikannya dengan masyarakat komunis. Langkah selanjutnya adalah
mendirikan pemerintahan peralihan atau pemerintahan transisi, yaitu
146
pemerintahan Diktatur Proletariat. Setelah pemerintah Diktatur Proletariat berdiri,
maka segera malaksanakan proses menasionalisasi alat-alat produksi,
pembentukan norma-norma legal baru seperti milik pribadi dihapuskan.
Dilakukan juga pembersihan terhadap musuh-musuh revolusi, yaitu sisa-sisa
kaum kapitalis-reaksioner dalam segala bentuknya. Baru setelah itu, muncullah
tahap awal dari masyarakat komunis, di mana dalam tahap ini berlaku prinsip
ekonomi : setiap orang memberi menurut kemampuannya dan setiap orang
menerima sesuai dengan prestasinya. Singkatnya di sini berlaku prinsip besarnya
upah diukur dengan prestasi kerja. Melalui beberapa tindakan ekonomis yang
lebih terinci, maka sampailah pada fase terbentuknya masyarakat komunis penuh,
di mana berlaku prinsip ekonomi setiap orang memberi sesuai dengan
kemampuannnya dan memberi balas jasa sesuai dengan kebutuhannya (sama rata,
sama rasa)147.
Situasi di Rusia pada pasca Revolusi Februari 1917 memang cukup
menguntungkan Lenin dan kaum Bolshevik. Pemerintahan Sementara yang
dibentuk guna mengisi kekosongan pemerintahan pasca Revolusi Februari 1917,
di bawah Perdana Menteri Pengeran Lvov dan kemudian Karensky, ternyata
dianggap tidak menguntungkan rakyat banyak. Kebebasan individu yang dikenal
oleh orang-orang Barat, tidak dikenal di Rusia. Penindasan yang dilakukan
pemerintah atas tidak diimbangi dengan usaha untuk menaikkan taraf hidup
ekonomi rakyat Rusia. Penduduk yang sebagian besar adalah petani yang tak
bertanah, menginginkan adanya pembebasan.
147
Pada tahun 1917 Perang Dunia I sedang berlangsung. Rusia ikut ambil
bagian di pihak Sekutu melawan Jerman, Austria dan Turki. Tentara Rusia selalu
berada di pihak yang terdesak. Dalam situasi perang, pemerintah Rusia kurang
memperhatikan keperluan rakyat banyak. Akibatnya , bahaya kelaparan dirasakan
di mana-mana, di seluruh Rusia. Dengan sangat cerdik Lenin membaca
tanda-tanda zaman. Karena itu dipropagandakanlah semboyang : Perdamaian, Tanah, Kebebasan dan Roti148.
Propaganda Lenin tersebut merupakan daya tarik yang sangat kuat bagi
penduduk Rusia yang sebagian besar adalah petani dan buruh. Para tentara yang
telah ikut perang secara berkepanjangan mengalami kejenuhan karena melawan
tentara Jerman yang dalam banyak hal lebih unggul, kemudian tertarik dengan
propaganda Lenin karena menghendaki adanya perdamaian dan kebebasan. Para
petani yang haus akan tanah sangat tertarik untuk mendukung Lenin karena
mereka sangat mengharapkan tanah yang sebagian besar masih dikuasai oleh para
bangsawan feodal atau tuan tanah. Mereka yang tertindas, politisi dan kaum
terpelajar, tertarik pula akan propaganda Lenin tentang kebebasan yang selama
pemerintahan Tsar berkuasa tidak pernah mereka nikmati.
Sebenarnya pada awal setelah Revolusi Februari 1917, Menshevik
memiliki perwakilan terbesar di dalam Soviet-soviet yang disusul oleh sosialis
revolusioner. Bolshevik hanya memperoleh sepuluh persen dari jumlah kursi.
Namun, dengan semakin berakarnya slogan dan propaganda yang diajukan oleh
Lenin dan Bolshevik di hati para anggota Soviet-soviet, perimbangan kekuatan di
148
G. Moedjanto, “ Prinsip-prinsip Non-Marxist dalam Kepemimpinan Lenin dalam Revolusi Rusia Tahun 1917 “, op.cit.,hlm.20.
antara ketiga partai besar itupun berubah.149 Di bulan September 1917, Bolshevik
telah merebut lebih dari lima puluh persen kursi yang tersedia di dalam
Soviet-soviet150.
Segera setelah Bolshevik menduduki kelompok mayoritas, dibentuklah
Komite Militer Revolusi di bawah pimpinan Pavel Lazimir untuk mengobarkan
revolusi sosialis di Rusia. Proses revolusi di daerah-daerah berlangsung dengan
dua cara, yakni cara damai dan dengan kekerasan. Tercatat dari 97 kota besar di
Rusia, 79 direbut dengan cara damai, sementara sisanya diraih dengan kekerasan
dan pertumpahan darah. Salah satu kota yang melakukan perlawanan sengit
terhadap kekuatan Bolshevik adalah Moscow. Kota lain yang menolak
pemerintahan Bolshevik adalah Don dan Ural Selatan. Daerah ini secara
tradisional memang basis kekuatan bangsa Kosak, yang merupakan kelompok inti
dari pasukan elit yang selalu setia pada pemerintah. Untuk membendung kekuatan
Bolshevik membentuk tentara sukarela. Namun tentara yang dibentuk pada bulan
Oktober 1917 berhasil dilumpuhkan oleh kekuatan Bolshevik151.
Setelah Bolshevik mengambil alih kekuasaan, dibentuklah Dewan
Komisaris Rakyat di bawah pimpinan Lenin. Tindakan pertama yang segera
dilakukan Bolshevik adalah mengeluarkan dua dekrit (maklumat). Pertama adalah
maklumat tentang perdamaian, yang isinya pemerintah baru Rusia mengajak
negara yang berperang untuk mengadakan perdamaian , tanpa aneksasi dan ganti
rugi. Soviet juga menghapuskan semua diplomasi rahasia yang terjadi di masa
149
Partai-partai Politik Menjelang revolusi, lihat Lampiran 3,hlm. 207
150
Ken Budha Kusumandaru, 2004, Karl Marx, Revolusi dan Sosialisme, Yogyakarta, Resist Book, hlm. 252.
151
perang. Untuk itu Lenin menjanjikan diselenggarakannya persetujuan gencatan
senjata dengan musuh dalam waktu 3 bulan. Maklumat itu diakhiri dengan ajakan
kepada kelas pekerja Inggris, Perancis dan Jerman untuk mendukung politik
damai Rusia. Kedua adalah Maklumat tentang tanah, yang isinya menasionalisasi
semua tanah milik para feodal atau pemilik tanah. Maklumat tersebut juga
melarang penggunaan tenaga sewaan, melarang penjualan, penggadaian,
penyewaan dan pengasingan tanah. Nampaknya tindakan Lenin tersebut
merupakan pembaharuan agraria yang paling maju dalam sejarah Rusia152.
Perjuangan Lenin dalam mewujudkan secara praktis teori revolusi
Marxisme dan mendirikan negara menurut ajaran Karl Marx, yaitu negara sosialis
(komunis), bukanlah perjuangan yang mudah. Ia menghadapi berbagai macam
hambatan dan tantangan, bahkan kegagalan pada bulan Juli 1917 dalam
mengobarkan revolusi sosialis di Rusia. Keberhasilan Lenin dalam Revolusi
Oktober 1917 menunjukkan suatu kenyataan bahwa tanpa adanya peranan Lenin
di dalamnya, maka negara sosialis di Rusia tidak akan pernah terbentuk. Dengan
kata lain, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa peranan Lenin dalam Revolusi
Oktober 1917, khususnya di bidang sosial adalah Lenin berperan dalam
mewujudkan negara sosialis (komunis) dan ia merupakan pendiri negara sosialis
(komunis) pertama di Rusia.
152
106