• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Lenin Dalam Revolusi Rusia Tahun 1917

Dalam dokumen PERANAN LENIN DALAM REVOLUSI RUSIA TAHUN 1917 (Halaman 107-120)

BAB II : LENIN DAN PERANNYA DALAM REVOLUSI

F. Peranan Lenin Dalam Revolusi Rusia Tahun 1917

Lenin atau yang mempunyai nama asli Vladimir Ilyich Ulyanov

merupakan seorang tokoh revolusioner yang sangat fenomenal di Rusia, bahkan

hingga ke seluruh negara-negara di dunia. Lenin adalah seorang yang menganut

ajaran Karl Marx dan berhasil mewujudkannya dalam bentuk tindakan politik

yang nyata. Lenin juga seorang pemimpin yang paling bertanggung jawab

terhadap tumbuh dan berkembangnya komunisme di Rusia. Sebagai penganut

Karl Marx yang revolusioner, Lenin berhasil mewujudkan dasar politik yang

hanya bisa dibayangkan oleh Karl Marx. Sejak bulan Oktober 1917, komunisme

dengan begitu cepatnya menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Dalam bulan Oktober 1917, terjadilah peristiwa yang cukup

menggemparkan dunia, yaitu berhasilnya Lenin menerapkan suatu teori revolusi

Marxis dan mendirikan negara pertama menurut ajaran Karl Marx, yaitu negara

sosialis (komunis) di Rusia. Peristiwa tersebut dianggap menggemparkan dunia

karena menurut ajaran Marx, revolusi mendirikan negara sosialis (komunis) baru

proletar sudah begitu kuat. Namun menurut kenyataannya, Rusia yang pada saat

itu masih berupa negara agraris yang mayoritas penduduknya adalah petani (dari

kira-kira 75 juta penduduknya, baru sekitar 3 juta yang hidup sebagai buruh dalam

industri) dapat dengan berhasil melaksanakan revolusi di Rusia. Lebih

menggemparkan lagi karena anggota partai Bolshevik, partai yang memimpin

revolusi di bawah Lenin, pada waktu revolusi dikobarkan, baru beranggotakan

200.000 orang.136

Berkobarnya Revolusi Oktober 1917 di Rusia tentunya tidak lepas dari

peranan Lenin di dalamnya. Sebagai seorang pekerja keras dan mengabdikan

seluruh hidupnya untuk tujuan-tujuan revolusi, ia selalu berusaha untuk

mewujudkan suatu revolusi di Rusia. Dengan segala pemikiran-pemikirannya dan

keterlibatannya dalam kancah perpolitikan di Rusia, Lenin ingin melakukan

segala perubahan di negaranya. Peranan Lenin dalam revolusi Rusia tahun 1917

sangat nampak sekali dalam dua bidang, yaitu bidang politik dan bidang sosial.

1. Bidang Politik

Lenin yang mengukuhkan dirinya sebagai Marxis kemudian mulai terlibat

dalam gerakan-gerakan perpolitikan di Rusia. Keterlibatan Lenin dalam bidang

politik diawali sejak tahun 1895, yaitu sejak Lenin bersama-sama kaum Marxis

lainnya, seperti Martov yang di kemudian hari menjadi pemimpin kelompok

Menshevik, berhasil membentuk organisasi yang bernama Union of The Struggle for the Liberation Working Class (Persatuan Perjuangan untuk Pembebasan Kelas Buruh). Tugasnya melakukan kegiatan menyebarkan pamflet-pamflet, koran

136

ilegal, juga mendukung pemogokan-pemogokan buruh dan menginfiltrasi kaum

buruh agar mereka dapat dididik dasar Marxisme. Namun pada bulan Desember

tahun 1895, para pemimpinnya ditangkap. Lenin di penjara selama 15 bulan dan

kemudian dihukum buang ke Shushenskoie di Siberia.137

Pasca pembuangan dari Siberia, Lenin kemudian pergi dan menetap di

Swiss karena ia dilarang tinggal di kota. Lenin akhirnya mengatur penerbitan

“Iskra” di Munich bersama Plekhanov dan Martov dengan Lenin menjadi redaktur

dan memimpin semua aktivitas Iskra. Terbitan artikel-artikel dari Iskra juga

diselundupkan sampai ke Rusia. Pada tahun 1901 dalam bukunya What is to be Done?, Lenin menjelaskan bahwa perlunya sebuah partai sebagai garda depan kaum proletar yang bertugas menyuntikkan kesadaran sosialis kepada diri kaum

proletar karena kaum proletar tidak akan secara spontan memiliki kesadaran

sosialis dan menjadi revolusioner. Perlu adanya partai yang ketat dan disiplin baja,

sehingga benar-benar dapat memimpin perjuangan buruh melalui revolusi.

Menurut Lenin, partai juga harus berpola sentralisme mutlak.138

Namun oleh Plekhanov, Martov dan Leon Trotsky, skema organisasi dan

disiplin partai yang dikemukakan Lenin tersebut cenderung membawa partai ke

arah “Jacobinisme”.139 Dalam Kongres I, Lenin kalah: 28 lawan 22, dengan 1

suara abstain.Tetapi ketika terjadi ketidak sepakatan mengenai topik lain dalam

Konggres, Lenin memaksa adanya pemungutan suara ulang dan berhasil

137

Edi Haryadi,op.cit.,hlm. 124

138

Ibid.,hlm.127

139

Jacobisnisme” adalah penindasan diskusi yang bebas dalam partai, sebuah kediktatoran atas kaum proletar, bukan kediktatoran oleh kaum proletar dan akhirnya akan membentuk kediktatoran satu orang.lihat Franz Magnis Suseno, Dalam Bayang-Bayang Lenin : Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin Sampai Tan Malaka, op cit., hlm 11.

mendapat keunggulan 24 suara. Kemenangan tersebut menjadikan kelompok

Lenin disebut sebagai kaum Bolshevik. Partai tersebut kemudian

memproklamasikan sebagai partai pekerja Sosial-Demokrat Rusia (Russion Social Democratic Workers Party, RSDWP). Sejak saat itu, Iskra ditetapkan sebagai organ sentral partai.140

Dalam Kongres Partai Bolshevik di Praha yang diadakan Lenin pada tahun

1912, perpecahan dalam tubuh RSDWP antara kaum Bolshevik dan Menshevik

menjadi selamanya. Ditambah lagi setelah pecah Perang Dunia I, tumbuhnya

nasionalisme di kedua belah pihak telah memecah belah kaum Sosial-Demokrat.

Sayap kiri, di antaranya Lenin, menuntut agar kaum sosialis menentang “perang

kaum kapitalis dan imperialis” dengan lebih mentransformasi “perang imperialis

menjadi perang sipil”. Tetapi pandangan Lenin ini hanya mendapat sedikit

dukungan. Bahkan tidak sedikit kaum Bolshevik yang mendukung perang. Pada

tahun 1914, setelah berhasil mencapai Swiss, Lenin bergabung dengan

sekelompok kecil imigran Bolshevik dan Menshevik yang anti perang.

Pada rentang tahun 1915 sampai tahun 1916, kaum sosialis anti perang

mengadakan pertemuan di Zimmerwald dan Kienthal, Swiss. Lenin gagal

mempengaruhi konferensi tersebut untuk mengadopsi prinsip

“mentransformasikan perang imperialis menjadi perang sipil”. Lenin dan para pendukungnya kemudian menjadi minoritas dalam kelompok sosialis anti perang.

Hingga tahun 1917 Lenin terus menetap di Swiss, baru setelah di Rusia terjadi

kekalahan perang dan keadaan ekonomi semakin hancur sehingga mengakibatkan

140

terjadinya revolusi Rusia pada bulan Februari 1917, Lenin baru kembali lagi ke

Rusia.

Revolusi Februari 1917 telah mengakibatkan jatuhnya kekuasaan

monarkhi di Rusia. Otokrasi Tsar Rusia di bawah Tsar Nikholas II berhasil

ditumbangkan. Mendengar hal itu, maka Lenin memutuskan untuk segera kembali

dari Swiss ke Rusia. Dengan bantuan Jerman lewat Swedia dan Finlandia, 32

orang sosialis (19 Bolshevik, 4 Menshevik) kembali ke Rusia. Di antara mereka

adalah Lenin.141 Sesampainya Lenin ke Rusia pada bulan April 1917, di Rusia

telah terdapat Pemerintahan Sementara (Vremennoye Pravitelstva) untuk mengisi kekosongan kekuasaan pasca Revolusi Februari 1917.

Pemerintahan Sementara tersebut terdiri dari dua kekuataan besar yang

saling bertentangan. Pertama adalah para politisi dari berbagai partai di Duma

yang membentuk Pemerintahan Sementara, yang terdiri dari kadet, Menshevik

dan Sosialis Revolusioner. Kedua adalah kaum proletar yang bersama-sama

dengan prajurit Petrograd membentuk soviet Petrograd. Lenin tidak mendukung

adanya Pemerintahan Sementara karena ia menganggap pemerintahan tersebut

sangat imperialis. Lenin kemudian menyakinkan Sentral Komite partai Bolshevik

agar menerima rencananya.

Rencana Lenin kemudian terkenal dengan sebutan “April These”. Pokok-pokoknya adalah penghancuran kapitalisme sebagai satu-satunya cara untuk

mengakhiri perang, tidak ada dukungan lagi untuk Pemerintah Sementara,

kekuatan soviet harus ditegakkan dan soviet harus didominasi Bolshevik, gagasan

141

G. Moedjanto, 1975, “Revolusi Rusia 1917 (lanjutan)”, dalam SPPS seri IV no. 10. Yogyakarta: USD, hlm. 5.

mendirikan republik parlementer harus ditiadakan, tanah dan bank harus

dinasionalisir, Soviet harus mengambil alih urusan produksi dan distribusi barang,

Internasionale III harus dibangun sebagai pengganti Internasionale II. Sebagian

besar tokoh Bolshevik menentang rencana tersebut dan mengganggapnya sebagai

khayalan orang gila.142 Dalam konferensi partai di bulan April tersebut akhirnya

menyetujui rencana dan kemudian membuat program: partai harus menarik

kembali dukungannya terhadap Pemerintahan Sementara dan memenangkan

mayoritas dalam Dewan Soviet. Begitu pemerintah soviet terbentuk, harus segera

dimulai negoisasi bagi perdamaian umum di semua front, semua tanah

dinasionalisasikan dan dibagi-bagi kepada para petani kecil dan pemerintah harus

menetapkan pengendalian yang ketat terhadap semua industri swasta demi

kepentingan kaum buruh.143

Lenin mencoba menggerogoti legitimasi Pemerintahan Sementara. Sebuah

percobaan pemberontakan sayap kiri partai Bolshevik pada bulan Juli gagal

karena tergesa-gesa. Menurut Lenin, pemberontakan pada tanggal 3 sampai 4 Juli

tahun 1917 merupakan suatu kesalahan. Pihak sayap kiri Partai Bolshevik tidak

akan dapat mengambil alih kekuasaan baik secara fisik maupun secara politik,

meskipun pada saat itu Petrograd berada di tangan pihak sayap kiri Partai

Bolshevik. Hal tersebut karena pada saat itu kaum pekerja dan kaum prajurit tidak

akan bersedia bertempur dan mati untuk Petrograd. Lenin juga menambahkan,

bahwa pada saat itu tidak ada kebuasan atau luapan kebencian kepada kaum

Kerensky. Rakyat masih belum marah oleh pengalaman atas penghukuman

142

Ibid., hlm.6.

143

terhadap kaum Boshevik, di mana kaum Sosialis-Revolusioner dan Menshevik

ikut terlibat144.

Akibatnya, pasca pemberontakan pada bulan Juli Lenin harus melarikan

diri ke Finlandia. Hingga bulan September 1917, kaum bolshevik tetap menjadi

minoritas. Baru pada saat Pemerintahan Sementara di bawah pimpinan Karensky

kehilangan dukunganya dan diadakan pemilihan umum untuk memilih

anggota-anggota Dewan Soviet Petrograd, Bolshevik baru meraih kemenangan mayoritas.

Akhir September 1917, Lenin kemudian kembali dari Finlandia ke Rusia.

Ia kemudian mengirimkan surat ke Petrograd yang isinya menyarankan kepada

Sentral Komite Partai untuk mengorganisasikan pengambil alihan kekuasaan

dengan bersenjata tanpa menunda-nunda lagi, namun ditolak. Lenin kemudian

mengadakan pertemuan rahasia dengan Sentral Komite Partai Bolshevik pada

bulan Oktober 1917 dan akhirnya berhasil memenangkan suara mayoritas anggota

Senat Komite untuk menyetujui dan mempersiapkan pengambil alihan kekuasaan

dengan senjata. Langkah selanjutnya adalah membentuk Komite Militer Revolusi

yang secara resmi diketuai oleh Pavel Lazimir, walaupun kenyataanya organisasi

ini berada di bawah kendali Trotsky.

Revolusi Oktober 1917 meliputi dua peristiwa penting. Pertama adalah

kudeta Petrograd. Pada tanggal 25 Oktober 1917 diumumkan adanya pemindahan

kekuasaan dari Pemerintahan Sementara ke Komite Militer Revolusioner

pimpinan Pavel Lazimir. Di umumkan pula tuntutan rakyat yang berisi

pembentukan perdamaian yang demokratis, penghapusan pemilik tanah oleh para

144

Vladimir Illyich Lenin, Marxisme dan Pemberontakan, dalam http: //www. marxists. org/ indonesia/ archive/ lenin/ 1917/ 09/ 13insur. htm.,op.cit..

tuan tanah, pengenalan kontrol pekerja atas produksi dan pembentukan

pemerintahan Soviet. Kedua adalah Kongres Dewan Soviet seluruh Rusia II yang

berlangsung dari tanggal 25 Oktober sampai dengan 27 Oktober1917. Dalam

kongres tersebut terbentuk Pemeritahan Soviet (Soviet Komisaris Rakyat) yang

diketuai oleh Lenin (Kepala Negara). Diusianya yang ke-47, mimpi Lenin

menjadi kenyataan.145

Dari rangkaian peristiwa yang telah dijabarkan tersebut, sangat jelas

terlihat bahwa Lenin sangat berperan, baik dalam persiapan revolusi maupun

dalam jalannya revolusi. Sebagai seorang yang terlibat dalam perpolitikan Rusia

dan sebagai pemimpin dari partai Bolshevik yang bersifat radikal, Lenin tidak

pernah berputus asa untuk selalu berusaha mewujudkan dan mendirikan

pemerintahan komunis melalui revolusi sosialis di Rusia. Sebagai pemimpin

partai Boshevik, Lenin selalu memberikan dorongan kepada kaumnya agar

menjadi partai yang dapat diandalkan guna mengobarkan revolusi di Rusia.

Bahkan di saat partai Bolshevik berada dalam kelompok minoritas, Lenin terus

memperjuangkan partai dan kaumnya hingga menjadi kelompok mayoritas untuk

kemudian mengobarkan revolusi di Rusia. Tanpa peranan Lenin, komunisme akan

menunggu bertahun-tahun untuk mempunyai kesempatan memegang kekuasaan di

Rusia, hingga ke seluruh penjuru dunia.

2. Bidang Sosial

Lenin merupakan tokoh utama pendukung ajaran-ajaran Karl Marx

(Marxisme), namun tidak semua pandangan Karl Marx ia terima. Lenin tetap

145

Franz Magnis Suseno, Dalam Bayang-bayang Lenin: Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin samapi Tan Malaka,op.cit., hlm. 17

melakukan penyempurnaan terhadap pandangan-pandangan Karl Marx,

khususnya mengenai pembentukan partai komunis dan peranannya, juga

mengenai peranan kaum petani dalam revolusi. Marxisme merupakan suatu ajaran

pembebasan, di mana diajarkan bahwa manusia dapat menentukan perjalanan

sejarah dan menghentikan segala penindasan dan segala penentangan kelas. Setiap

orang memberi sesuatu dengan kemampuannya dan menerima balas jasa sesuai

dengan kebutuhannya, dengan kata lain berlaku prinsip sama rata, sama rasa.

Tahap tersebut disebut Marx sebagai tahap tinggi masyarakat komunis. Pada tahap

ini, pembagian barang-barang hasil masyarakat tidak perlu ditentukan dengan

jumlah barang hasil yang harus diterima oleh masing-masing orang, tetapi

masing-masing orang akan mengambil dengan bebas menurut kebutuhannya.

Berbeda dengan tahap pertama masyarakat komunis, dalam tahap ini komunisme

masih belum dapat matang sepenuhnya di bidang ekonomi dan belum sepenuhnya

bebas dari tradisi-tradisi atau bekas-bekas kapitalisme146.

Berdasarkan dari ajaran-ajaran Karl Marx tersebut, Lenin mempunyai

ambisi untuk mewujudkan secara praktis teori revolusi Marxisme dan mendirikan

negara menurut ajaran Karl Marx, yaitu negara sosialis (komunis). Menurut Marx,

langkah-langkah yang bersifat politis maupun ekonomis untuk mewujudkan

cita-cita tersebut adalah dengan mencapai kemenangan politis terlebih dahulu, di mana

kaum buruh melancarkan revolusi untuk menghancurkan masyarakat kapitalis dan

menggantikannya dengan masyarakat komunis. Langkah selanjutnya adalah

mendirikan pemerintahan peralihan atau pemerintahan transisi, yaitu

146

pemerintahan Diktatur Proletariat. Setelah pemerintah Diktatur Proletariat berdiri,

maka segera malaksanakan proses menasionalisasi alat-alat produksi,

pembentukan norma-norma legal baru seperti milik pribadi dihapuskan.

Dilakukan juga pembersihan terhadap musuh-musuh revolusi, yaitu sisa-sisa

kaum kapitalis-reaksioner dalam segala bentuknya. Baru setelah itu, muncullah

tahap awal dari masyarakat komunis, di mana dalam tahap ini berlaku prinsip

ekonomi : setiap orang memberi menurut kemampuannya dan setiap orang

menerima sesuai dengan prestasinya. Singkatnya di sini berlaku prinsip besarnya

upah diukur dengan prestasi kerja. Melalui beberapa tindakan ekonomis yang

lebih terinci, maka sampailah pada fase terbentuknya masyarakat komunis penuh,

di mana berlaku prinsip ekonomi setiap orang memberi sesuai dengan

kemampuannnya dan memberi balas jasa sesuai dengan kebutuhannya (sama rata,

sama rasa)147.

Situasi di Rusia pada pasca Revolusi Februari 1917 memang cukup

menguntungkan Lenin dan kaum Bolshevik. Pemerintahan Sementara yang

dibentuk guna mengisi kekosongan pemerintahan pasca Revolusi Februari 1917,

di bawah Perdana Menteri Pengeran Lvov dan kemudian Karensky, ternyata

dianggap tidak menguntungkan rakyat banyak. Kebebasan individu yang dikenal

oleh orang-orang Barat, tidak dikenal di Rusia. Penindasan yang dilakukan

pemerintah atas tidak diimbangi dengan usaha untuk menaikkan taraf hidup

ekonomi rakyat Rusia. Penduduk yang sebagian besar adalah petani yang tak

bertanah, menginginkan adanya pembebasan.

147

Pada tahun 1917 Perang Dunia I sedang berlangsung. Rusia ikut ambil

bagian di pihak Sekutu melawan Jerman, Austria dan Turki. Tentara Rusia selalu

berada di pihak yang terdesak. Dalam situasi perang, pemerintah Rusia kurang

memperhatikan keperluan rakyat banyak. Akibatnya , bahaya kelaparan dirasakan

di mana-mana, di seluruh Rusia. Dengan sangat cerdik Lenin membaca

tanda-tanda zaman. Karena itu dipropagandakanlah semboyang : Perdamaian, Tanah, Kebebasan dan Roti148.

Propaganda Lenin tersebut merupakan daya tarik yang sangat kuat bagi

penduduk Rusia yang sebagian besar adalah petani dan buruh. Para tentara yang

telah ikut perang secara berkepanjangan mengalami kejenuhan karena melawan

tentara Jerman yang dalam banyak hal lebih unggul, kemudian tertarik dengan

propaganda Lenin karena menghendaki adanya perdamaian dan kebebasan. Para

petani yang haus akan tanah sangat tertarik untuk mendukung Lenin karena

mereka sangat mengharapkan tanah yang sebagian besar masih dikuasai oleh para

bangsawan feodal atau tuan tanah. Mereka yang tertindas, politisi dan kaum

terpelajar, tertarik pula akan propaganda Lenin tentang kebebasan yang selama

pemerintahan Tsar berkuasa tidak pernah mereka nikmati.

Sebenarnya pada awal setelah Revolusi Februari 1917, Menshevik

memiliki perwakilan terbesar di dalam Soviet-soviet yang disusul oleh sosialis

revolusioner. Bolshevik hanya memperoleh sepuluh persen dari jumlah kursi.

Namun, dengan semakin berakarnya slogan dan propaganda yang diajukan oleh

Lenin dan Bolshevik di hati para anggota Soviet-soviet, perimbangan kekuatan di

148

G. Moedjanto, “ Prinsip-prinsip Non-Marxist dalam Kepemimpinan Lenin dalam Revolusi Rusia Tahun 1917 “, op.cit.,hlm.20.

antara ketiga partai besar itupun berubah.149 Di bulan September 1917, Bolshevik

telah merebut lebih dari lima puluh persen kursi yang tersedia di dalam

Soviet-soviet150.

Segera setelah Bolshevik menduduki kelompok mayoritas, dibentuklah

Komite Militer Revolusi di bawah pimpinan Pavel Lazimir untuk mengobarkan

revolusi sosialis di Rusia. Proses revolusi di daerah-daerah berlangsung dengan

dua cara, yakni cara damai dan dengan kekerasan. Tercatat dari 97 kota besar di

Rusia, 79 direbut dengan cara damai, sementara sisanya diraih dengan kekerasan

dan pertumpahan darah. Salah satu kota yang melakukan perlawanan sengit

terhadap kekuatan Bolshevik adalah Moscow. Kota lain yang menolak

pemerintahan Bolshevik adalah Don dan Ural Selatan. Daerah ini secara

tradisional memang basis kekuatan bangsa Kosak, yang merupakan kelompok inti

dari pasukan elit yang selalu setia pada pemerintah. Untuk membendung kekuatan

Bolshevik membentuk tentara sukarela. Namun tentara yang dibentuk pada bulan

Oktober 1917 berhasil dilumpuhkan oleh kekuatan Bolshevik151.

Setelah Bolshevik mengambil alih kekuasaan, dibentuklah Dewan

Komisaris Rakyat di bawah pimpinan Lenin. Tindakan pertama yang segera

dilakukan Bolshevik adalah mengeluarkan dua dekrit (maklumat). Pertama adalah

maklumat tentang perdamaian, yang isinya pemerintah baru Rusia mengajak

negara yang berperang untuk mengadakan perdamaian , tanpa aneksasi dan ganti

rugi. Soviet juga menghapuskan semua diplomasi rahasia yang terjadi di masa

149

Partai-partai Politik Menjelang revolusi, lihat Lampiran 3,hlm. 207

150

Ken Budha Kusumandaru, 2004, Karl Marx, Revolusi dan Sosialisme, Yogyakarta, Resist Book, hlm. 252.

151

perang. Untuk itu Lenin menjanjikan diselenggarakannya persetujuan gencatan

senjata dengan musuh dalam waktu 3 bulan. Maklumat itu diakhiri dengan ajakan

kepada kelas pekerja Inggris, Perancis dan Jerman untuk mendukung politik

damai Rusia. Kedua adalah Maklumat tentang tanah, yang isinya menasionalisasi

semua tanah milik para feodal atau pemilik tanah. Maklumat tersebut juga

melarang penggunaan tenaga sewaan, melarang penjualan, penggadaian,

penyewaan dan pengasingan tanah. Nampaknya tindakan Lenin tersebut

merupakan pembaharuan agraria yang paling maju dalam sejarah Rusia152.

Perjuangan Lenin dalam mewujudkan secara praktis teori revolusi

Marxisme dan mendirikan negara menurut ajaran Karl Marx, yaitu negara sosialis

(komunis), bukanlah perjuangan yang mudah. Ia menghadapi berbagai macam

hambatan dan tantangan, bahkan kegagalan pada bulan Juli 1917 dalam

mengobarkan revolusi sosialis di Rusia. Keberhasilan Lenin dalam Revolusi

Oktober 1917 menunjukkan suatu kenyataan bahwa tanpa adanya peranan Lenin

di dalamnya, maka negara sosialis di Rusia tidak akan pernah terbentuk. Dengan

kata lain, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa peranan Lenin dalam Revolusi

Oktober 1917, khususnya di bidang sosial adalah Lenin berperan dalam

mewujudkan negara sosialis (komunis) dan ia merupakan pendiri negara sosialis

(komunis) pertama di Rusia.

152

106

Dalam dokumen PERANAN LENIN DALAM REVOLUSI RUSIA TAHUN 1917 (Halaman 107-120)