B. Kondisi Permintaan Ekspor
6) Peranan Peluang
Peluang ekspor komoditi udang Indonesia cukup bagus di pasar internasional. Adanya pertimbangan Indonesia sebagai negara yang memiliki luas laut dan kekayaan sumberdaya perikanan yang besar serta peran Indonesia sebagai salah satu eksportir udang terbesar di dunia setelah China dan Thailand dalam pasar-pasar ekspor dunia. Pada pasar ekspor Jepang misalnya udang merupakan salah satu makanan utama masyarakat Jepang karena selera masyarakatnya yang lebih menyukai jenis makanan seafood membuat Jepang menjadi pasar ekspor nomor satu Indonesia dengan pangsa pasarnya sekitar 60%. Salah satu peluang yang sangat bagus dari pasar ekspor Jepang yaitu mulai bulan Juli 2008, akan diberlakukan bea masuk 0% untuk produk udang dari Indonesia34.
Salah satu peluang yang sangat bagus yaitu ketika pasar ekspor udang AS menetapkan pengenaan anti dumping udang terhadap enam negara produsen yaitu Cina, Thailand, Vietnam, Ekuador, India dan Brazil pada tanggal 31 Desember 2003. Hal ini merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor udangnya ke AS karena berkurangnya persaingan dari negara-negara lain karena penetapan anti dumping tersebut. Tetapi kenyataannya Indonesia malah menjadi sasaran utama bagi negara-negara yang terkena petisi anti dumping AS untuk bisa memasukkan ekspornya ke AS dan Indonesia dikenai tuduhan transhipment, yaitu hasil ekspor udang Indonesia dituduh sebagai hasil impor Indonesia dari negara-negara yang terkena anti dumping.
34 Lin. 2008. “Bea Masuk Udang ke Jepang 0%”.
Berdasarkan hasil analisis dari Porter’s Diamond, terdapat keunggulan dan kelemahan pada komoditi udang Indonesia. Pada komponen sumberdaya alam Indonesia memiliki keunggulan dengan sumberdaya komoditi udang dan hasil perikanan lainnya yang melimpah ditambah dengan luas laut atau luas lahan yang mencukupi serta produksi udang yang cenderung meningkat setiap tahunnya.
Pada komponen sumberdaya manusia, industri udang Indonesia cukup banyak menyerap tenaga kerja karena terciptanya lapangan kerja yang dinamis dan dapat diproyeksikan bahwa penyerapan tenaga kerja pada sektor budidaya udang cenderung meningkat. Kemudian adanya keunggulan jumlah dan kualitas tenaga kerja di perusahaan PT Central Proteinaprima juga mendukung perkembangan sumberdaya manusia. Dapat disimpulkan bahwa Indonesia mempunyai keunggulan baik kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia pada sektor budidaya dan ekspor udang. Hal ini berbeda dengan komponen sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi dimana dominasi teknologi produksi budidaya udang masih sangat tradisional dan sedikit yang intensif yaitu hanya pada udang
vanname.
Pada komponen sumberdaya modal komoditi udang Indonesia memiliki keunggulan karena sudah adanya kerjasama antara pemerintah dengan lembaga-lembaga keuangan seperti bank-bank yang memberikan pelayanan kredit kepada pengusaha udang Indonesia. Begitu pula dengan komponen infrastruktur pada komoditi udang yaitu memiliki keunggulan karena telah tersedianya berbagai infrastruktur seperti yang diinvestasikan oleh eksportir udang terbesar Indonesia
yaitu PT Aruna Wijaya Sakti (Dipasena Citra Darmaja) di bawah perusahaan PT Central Proteinaprima.
Pada kondisi permintaan domestik, Indonesia sudah mampu mencukupi kebutuhan domestik komoditi udang. Begitu pula pada permintaan ekspor yang terlihat dengan peningkatan nilai ekspor udang dan masih diminatinya komoditi udang Indonesia di pasar-pasar dunia. Untuk komponen persaingan cukup bagus karena Indonesia menempati posisi kedua sebagai eksportir udang beku di bawah Thailand pada tahun 2007 (Tabel 5.4).
Pada struktur dan strategi, Indonesia masih didominasi oleh cabang-cabang perusahaan Chakroen Phokphand Group yang yang bersifat monopoli dan mayoritas ekspor udang Indonesia masih berupa bahan mentah yaitu ekspor udang beku. Selain itu para stakeholder budidaya udang belum dapat menciptakan strategi-strategi yang jitu untuk peningkatan daya saing udang di pasar dunia sehingga terdapat kelemahan dalam struktur dan strategi udang Indonesia. Begitu pula pada komponen industri pendukung dan terkait, kurang berperannya industri penyediaan benih dan industri pakan udang dalam ekspor udang Indonesia serta belum banyaknya industri-industri produk olahan udang yang berorientasi ekspor sehingga ekspor udang Indonesia hanya sebatas bahan mentah seperti udang beku dan tak beku yang kurang bernilai tambah.
Pada peranan peluang dan pemerintah, Indonesia masih mempunyai peluang dalam peningkatan daya saing udang di pasar dunia karena Indonesia masih diperhitungkan dalam pasar dunia sedangkan peran pemerintah sudah
cukup bagus dalam membuat regulasi-regulasi peningkatan mutu komoditi udang Indonesia.
Pada komponen-komponen dalam Porter’s Diamond Theory yang menunjukkan keunggulan-keunggulan dan kelemahan-kelemahan dalam komoditi udang Indonesia dapat dijelaskan pada Gambar 5.1. Untuk keunggulan akan diberi tanda (+) sedangkan untuk kelemahan pada komoditi udang Indonesia akan diberi tanda (-).
Gambar 5.1 Keunggulan dan Kelemahan Komoditi Udang Indonesia Hasil Analisis Porter’s Diamond Theory
Komponen Sumberdaya : 1. SDA (+) 2. SDM (+) 3. IPTEK (-) 4. Modal (+) 5. Infrastruktur (+) Peranan Pemerintah (+) Kondisi Permintaan : 1. Domestik (+) 2. Ekspor (+)
Industri Pendukung dan Terkait :
1. Industri Pendukung (-) 2. Industri Terkait (-)
Persaingan, Struktur dan Strategi : 1. Persaingan (+) 2. Struktur (-) 3. Strategi (-) Peranan Kesempatan (+)
5.3 Analisis Strategi-Strategi Peningkatan Daya Saing Komoditi Udang Indonesia
Berdasarkan ketiga metode analisis yang telah dijelaskan yaitu analisis keunggulan komparatif dengan Revealed Comparative Advantage Analysis, analisis keunggulan kompetitif dengan menggunakan Porter’s Diamond Theory, serta analisis faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing komoditi udang Indonesia dengan metode Ordinary Least Square (OLS) maka dapat ditentukan strategi yang dapat digunakan agar daya saing komoditi udang Indonesia mengalami peningkatan. Adapun strategi-strategi yang dapat dilakukan untuk peningkatan daya saing komoditi udang Indonesia yaitu :
1) Meningkatkan kualitas ekspor komoditi udang Indonesia dengan peningkatan ekspor produk-produk olahan udang yang dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan daya saingnya di pasar global.
2) Meningkatkan teknologi intensif (modern) pada budidaya udang serta menciptakan teknologi ekspor udang yang memadai.
3) Mendirikan tempat-tempat/balai penelitian udang yang memadai demi mendapatkan benih udang yang berkualitas.
4) Meningkatkan produksi budidaya udang vanname sebagai bibit unggul yang tahan terhadap penyakit.
5) Meningkatkan standarisasi ekspor udang Indonesia, seperti tidak menggunakan antibiotik pada produksinya, penggunaan pakan udang yang bermutu, serta peningkatan kebersihan dan kesehatan produksi udang yang bebas dari bakteri dan penyakit.
6) Mendiversifikasi pasar-pasar tujuan ekspor udang Indonesia ke arah yang lebih prospektif seperti pasar Jepang.