• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Pendidikan Tinggi Sebagai Pusat Pendidikan Multikultural di Indonesia

Diceritakan dari Abi Umamah al-Bahali, sesungguhnya dia

SEJARAH PERJALANAN KURIKULUM PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA

D. Peranan Pendidikan Tinggi Sebagai Pusat Pendidikan Multikultural di Indonesia

instruksional, pembelajaran berprogram, dan model pembelajaran latihan dan dril (practice and drill). Sementara itu, jika dikaitkan dengan klasifikasi model pembelajaran maka rumpun model pembelajaran sistem perilaku dipandang relevan untuk implementasi kurikulum berbasis kopetensi, yang meliputi; belajar tuntas, pembelajaran langsung, belajar kontrol diri, latihan pengembangan konsep dan ketrampilan, dan latihanasersif.

D. Peranan Pendidikan Tinggi Sebagai Pusat Pendidikan Multikultural di Indonesia

Sebagai tujuan dari Sistem Pendidikan Nasional yakni tegaknya masyarakat demokrasi, masyarakat demokrasi berarti masyarakat yang sadar akan kebersamaan, adanya upaya untuk menghargai terhadap sebuah perbedaan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Hal ini sesuai dengan realitas bangsa Indonesia yang penuh dengan keberagaman baik agama, suku maupun budaya. Keberagaman ini menjadi modal pendidikan nasional dan pendidikan tinggi untuk membina pluralisme-multikulturalisme yang positif.

Tujuan dari masyarakat demokrasi tidak lain adalah untuk mengawal terlaksananya UU. SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 dalam pasal 4 ayat 1 yakni pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa . Di sini masyarakat

memiliki otoritas dan keterlibatan dalam pengelolaan institusi-institusi yang sebelumnya dipegang penuh kendalinya oleh Kemendikbud pusat.102

Undang-undang SISDIKNAS tahun 2003 merupakan pertanda pintu demokrasi yang mengarah pada nilai multikulturalisme dalam dunia pendidikan terbuka lebar. Pemerintah dalam masa yang akan datang memiliki target bahwa Indonesia akan menjadi negara besar dengan pola masyarakat yang cinta akan keamanan dan kedamaian melalui generasi baru dengan sikap penuh toleransi, humanisme, dan anti kekerasan. Perencanaan yang besar ini harus didukung bersama-sama melalui penyiapan kurikulum, SDM Guru/Dosen, serta lingkungan dengan muatan multikulturalis.

Dalam mata kuliah pendidikan agama misalnya, perguruan tinggi hendaknya memberikan pemahaman agama yang inklusif, supaya mahasiswa tidak memiliki pemahaman agama yang tunggal, mereka juga harus mengenal saudara diluar keimanannya, bukan ditujukan untuk bertukar lintas keimanan melainkan untuk berdialog tentang esensi ajaran agama sebagai saudara setanah air.

Menurut maksum,103 dalam pendidikan agama Islam kurikulumnya mestilah mencakup seperti; toleransi, akidah inklusif, fiqh muqorran dan perbandingan agama serta tema-tema tentang perbedaan etno-kultural dan 102 Dede Rosyada, paradigma pendidikan demokratis sebuah pelibatan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. (Jakarta, Kencana Prenamedia Group, 2013), 23.

103 Maksum, Pluralisme dan Multikulturalisme Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di

agama, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi, HAM, demokrasi dan pluralitas, dan kemanusiaan universal.

Dalam perguruan tinggi menurut Mahfud,104 memang sudah banyak diberikan materi tentang kebangsaan dan ideologi, namun pendidikan multikultural masih belum diberikan dengan proporsi yang benar. Sehingga dia mengusulkan untuk menekankan pada mata kuliah yang memiliki nilai kebangsaan dan moral. Penyelenggaraan pendidikan multikultural ini akan dikatakan berhasil apabila pada diri mahasiswa terbentuk sikap hidup saling toleran, tidak bermusuhan, dan tidak berkonflik yang disebabkan oleh perbedaan budaya, suku, bahasa, adat istiadat dan lainnya.

Menurut Yaqin,105seorang guru atau dosen tidak hanya dituntut untuk mampu secara profesional mengajarkan mata pelajaran yang diajarkannya. Akan tetapi mereka juga diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai keberagaman yang inklusif kepada para siswa/mahasiswa. Pada akhirnya, dengan langkah-langkah seperti ini, out-put yang diharapkan dari sebuah proses belajar mengajar nantinya adalah para lulusan sekolah/universitas yang tidak hanya cakap sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai keberagaman dalam memahami dan menghargai keberadaan para pemeluk agama dan kepercayaan lain.

104Mahfud,Pendidikan Multikultural, 216.

Sedangkan menurut Tilaar,106 pendidikan tinggi mempunyai peranan yang besar di dalam proses pembinaan pluralisme bangsa ke arah persatuan bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita reformasi yaitu kesejahteraan rakyat Indonesia yang bebas dari kemiskinan dan bebas dari berbagai jenis tekanan (opresive) dalam suatu masyarakat yang adil, damai dan sejahtera.

Para perintis kemerdekaan Indonesia yaitu pemimpin-pemimpin masyarakat kita kebanyakan mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. Berkat pendidikan tinggi dan luas tersebut mereka mempunyai visi yang jelas untuk bangsanya. Para pemuda yang kebanyakan adalah para mahasiswa pendidikan tinggi telah mencetuskan Sumpah Pemuda pada tahun 1928 menunjukkan betapa pendidikan tinggi memainkan peranan yang tinggi di dalam mewujudkan dan mengembangkan apa yang disebut imagined community yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia. Para intelektual tersebut telah mengembangkan arti pendidikan multikultural di dalam perjuangan bangsanya menuju kemerdekaan.107

106 Tilaar, Multikulturalisme, Tantangan-Tantangan Global Masa Depan Dalam Transformasi

Pendidikan Nasional, 256. 107Ibid, 259.

➦➧ ➦➨➨ ➨ ➩➫ ➭➯➲➫➳➫ ➵➫ ➸➨➭➨➧➵ ➧ ➺ ➻ ➼➽➾ ➚➪➶ ➽➳➼➽➪ ➼➹➶ ➘➶ ➽➳➼➽ ➼➴➾➘➾ ➶ ➽ ➷➬➮ ➬➱✃t✃ ❐➮✃ ➮✃ ❒ ➬➮❮ ❮❰ ➮❐Ï ❐➮ Ð ➬➮✃sÏ ❰❐➱✃t❐✃ ÑÒt Ó✃ Ï❐t❐ Ï❐➮ Ï❰ ❐➱✃❐t✃ ÑÔt Ï ❐r➬➮❐ Õ➬➮ ➬➱✃✃ ❐➮t ✃ ➮✃ ➱ ➬Ö✃× ❒➬➮ ➬Ï❐➮ Ï❐ ➮ Õ❐Ø❐ prÙ Ú➬s ÛÕ ÜÙ Ú➬Ú ÚÙ Ú✃ ❐➱ Ý❐➮ ❮ Þ➬ÜÐ ❐Ø✃ Ø✃ ➱✃ ➮❮ Ï❰ ➮❮ ❐➮ ÕÙ➮Ø ÙÏ Õ➬Ú❐ ➮Þ Ü➬➮ ß ❮❐➱ ❐× Ø❐➮ à ➮✃ á ➬ÜÚ✃Þ❐Ú â❰Ø ×❐ÜÞ❐ ➷❐Ú❰Ü❰❐ ➮Ô Õ❐Ø❐ÕÜÙ Ú➬ÚÝ❐ ➮❮ Þ➬ÜÏ ❐✃ÞØ➬➮ ❮❐ ➮✃ ❒Õ➱ ➬❒ ➬➮Þ❐Ú✃ ❒❰➱Þ✃ Ï ❰➱Þ❰Ü❐➱✃Ú❒➬ Ï✃ ❐✃ ã×Ù➱ ➬× ä❐×Ü❰ØØ✃ ➮ Ø❐➱ ❐❒ Ú✃ÚÞ➬❒Õ➬➮Ø✃Ø✃ Ï❐ ➮Ø✃ à ➮✃á➬ÜÚ✃Þ❐Ú â❰Ø×❐Ü Þ❐ ➷❐Ú❰Ü❰❐➮ Ô Ú➬ÜÞ❐ Þ➬➮Þ❐➮ ❮ Ñ❐ ÏÞÙ Ü Õ➬➮Ø❰ Ï❰ ➮❮ Ø❐➮ Õ➬➮❮×❐ ❒Ö❐Þ Þ➬Ü×❐Ø❐Õ ✃ ❒Õ➱ ➬❒ ➬➮Þ❐Ú✃ ❒❰➱Þ✃ Ï ❰➱Þ❰Ü❐➱ Ø✃ ÕÙ➮Ø ÙÏ Õ➬Ú❐➮ÞÜ➬➮ ß ❮ ❐➱ ❐× Ø❐➮ Ø✃ à ➮✃á➬ÜÚ✃Þ❐Ú â❰Ø ×❐ÜÞ❐ ➷❐Ú❰Ü❰ ❐➮ Ö➬❮✃Þ❰Ð ❰ ❮❐Ø➬➮ ❮❐➮ ➱ ❐➮❮ Ï❐×ÚÙ➱ ❰Ú✃ Ý❐➮ ❮Ø✃Ö➬Ü✃ Ï❐ ➮Ò Ï ❐Ü➬➮ ❐ ÑÙÏ❰Ú➮Ý❐ Õ❐Ø❐ÕÜÙÚ➬ÚÔ❒❐Ï ❐Õ➬➮ ➬➱✃Þ✃❐➮✃ ➮✃Ð ❰❮ ❐Ö➬ÜÚ✃ Ñ❐Þ❐➱ ❐❒✃ ❐ר❐➮✃ ➮Ø❰ÏÞ✃ Ñ Ò å æØ❐Õ❰ ➮Õ➬➮Ø➬Ï ❐Þ❐ ➮Ý❐➮ ❮Ø✃➱ ❐Ï ❰Ï ❐➮ ❒➬➮ ❮❮ ❰➮ ❐Ï ❐➮ Ñ➬➮Ù❒➬➮Ù➱Ù❮✃ Ø➬➮❮ ❐➮ ❐➱ ❐Ú❐➮ Ô Ï ❐Ü➬➮❐ Õ➬➮ ➬➱✃Þ✃ ❐➮ ✃ ➮✃ ❐Ï ❐➮ ❒ ➬➮❮ ➬ÏÚÕ➱ÙÜ❐Ú✃ Õ➬➮❮ ❐➱ ❐❒ ❐➮ ×✃Ø❰Õ Ï✃ ❐✃ ã×Ù➱ ➬× ä❐×Ü❰Ø Ø✃ ➮ Ô Ú➬ÜÞ❐ Ï➬➱Ù❒Õ ÙÏ ✃➮Ø✃á✃Ø❰ ➱ ❐✃ ➮ Ý❐ ➮❮ ❒ ➬➮❮ ❐➱ ❐❒✃ ×❐➱ Ú❐❒❐ Þ➬➮Þ❐➮ ❮ ÕÜ❐ÏÞ➬Ï ❒ ❰➱Þ✃ Ï ❰➱Þ❰Ü❐➱ Ø✃ Õ Ù➮ØÙÏ Õ➬Ú❐➮ÞÜ➬➮ ß ❮❐➱ ❐× Ø❐ ➮ à ➮✃ á ➬ÜÚ✃Þ❐Ú â❰Ø×❐Ü Þ❐ ➷❐Ú❰Ü❰❐➮ Ô ç Ï ➬➱Ù❒ÕÙÏ ✃ ➮Ø✃á ✃Ø❰ ➱ ❐✃ ➮ Ö➬Ü❐Ú❐➱ Ø❐Ü✃ Ú❐➮Þ Ü✃ Ô ❒❐ÚÝ❐Ü❐ Ï❐Þ ❐➮ ❮❮Ù Þ❐ Ð ❐ ❒❐❐× Õ➬Ú❐➮ÞÜ➬➮Ô ❒ ❐×❐Ú✃Ú è❐Ô Ø❐➮ Õ❐Ü❐ ❐Ï❐Ø➬❒✃Ú✃ à ➮✃ á ➬ÜÚ✃Þ❐Ú é êë ìíîïðñë ò óôõ& öôî ÷øõ ë ù ùñ ÷ú ûíõ,üý þÿ✁þ✁✂✄☎ ✄✆✄ þ✝✞✟✠✡✝ ☛☞ý ✞ þ✁✡ ✌ ✍✎✌ ✏✌✁✝✡ ☞ý ✞ ✁✡✌ ✁✡ ✑✟✄✡ ✝✒ þ✌☞ ✓✄ ✁✟ ✡☞ ✆✔ (✕ëõóë õ ✖ ✗û û✘õ ôõó ñô✙ë õ, ✚ ✛ ✛✜), ✢-✣. ✤íõ ✥î✥ ï ìë ò óôõ & ì ÷ú ûíõ, ùíõ í û ÷ï ÷ôõú✥ ô û ÷ïôï ÷✦÷õ÷✧í✧÷û ÷ú÷ û ÷✧ôú ôîôú ïíî ÷★ï ÷ú ú✩✥★✥★✘ ô ÷ï✥, (ô) õ ôï✥ îô û ÷★ï ÷ú (✌þ✁ý✝ þ ÿ✆ ✁✞), (ì) óí★ú î ÷ùï ÷✦ (☞✄✆✞ ✝✪ ✁✂✄), (✙) ùíî✩ô ï ÷ôõ ùô óô ùîë★í★ (✞✡✌ ✞✄✝✌ ✫✁✟ ✪ ✝✡✞✄ ✆✆), (ó) ÷õó✥ úï ÷✦ (✌ ☞ý ✞ ✁✂✄), óô õ (í) ùíî✩ôï ÷ôõùô óô✧ôú õô (✬✄ þ✌✌ ✭). ✯ë✩õ ✰. ð îí★✱íûû✲ ✗✩✧ô ó ✕÷õ ïôõò ✕ô✳✥ ôî ó÷ (✴í î✵), ✶✄✌✄ ÿ✁þ✌ ✷ý þÿ✁þ✁✠ ☞þ✌ ✸✄ ✆ þ✌ ☎✆✄✁✔ (✹ë ò✘ ôú ôîïô, ✺✥★ïôúô✺í ûô✵ôî, ✻ ✼✚ ✢), ✚✼✜.

❀❁ ❂❃ ❄rt ❅❄❁sur❄❆❇ ❈❉❊ ❄❆❋ut❆● ❄ ❍❉❉❊ ❄❃t ❂ ❄t tr■❁ ❏ ❑❁❊ ❍❉ ❍❁❄▲ ❂❉ ❆▼ ❄❆ ◆❖■ ❁ ❍ ❑❉ ❆❉❊▲▲ ❄❆t ❏ ❄■❄ ❂▲ ❊ ❄■❁ ■ ❄ ❆ ❄❆ ❄❊▲ ❍▲s ❂❉ ❆▼ ❄❆ ❏ ❉ ❆▼ ▼❁❆❄■ ❄❆ P ◗❘❙❚ ❯❱ ❲❳P❲P ❚ ❘❨ ❩ ❬❘❲❭❩❪❨P◗❫❙❲P❚❘❨ ❩❴❲P ◗❨❵❛ ❜ ❝❞❡❢❣❤ ❑✐❖ ❍❉ ❍ ❥❦❧ ♠♥❧ ♦ ♣ ❄■ ❄❆ ❏ ❉ ❆▼❄❆❄❊▲❍▲ ❍ q ❄▼ ❄▲❏❄❆ ❄ ■ ▲ ❄▲ ❈❃❖ ❊❉❃ r ❄❃✐❁❂❂▲ ❆ ❏❉ ❆▼▲❏❑❊❉❏ ❉ ❆s ❄❍▲ ■ ❄❆ ❏ ❁❊ s▲■❁ ❊ s❁✐❄❊▲ ❍❏❉ ❄▼❄✐ ❂❄❑ ❄s ❂▲ s❉ ✐▲❏❄ ❍❉ ✐ s❄ ❂▲ ❄❏ ❄❊■ ❄❆ ❂❄❊ ❄❏ ❃▲ ❂❁ ❑ ❍❉❃❄✐▲t❃❄✐▲ ❖ ❊❉❃ ❍ ❄❆ s✐▲ ❤ ❏ ❄❍ ● ❄✐❄■❄s ❄ ❆▼ ▼❖s❄ ❋ ❄❏ ❄❄❃ ❑❉ ❍ ❄❆ s✐❉ ❆❤ ❏❄❃ ❄ ❍▲ ❍✉❄ ❂ ❄❆ ✈▲ ✇▲ s ❄❍ ❄■ ❄ ❂❉ ❏▲■ ①❀ ❅❇ ②③❧④ ❜⑤❁❋❁❄❆❣ ❤ ❄■❄❆ ❏❉ ❆▼ ❄ ❆❄❊▲ ❍▲ ❍ s❁❋❁❄❆ ❂❄✐▲ ❂▲ ▲❏ ❑❊❉❏❉ ❆ s❄ ❍▲■❄❆❆ ●❄ ❏❁ ❊ s▲■ ❁❊ s❁ ✐❄❊▲ ❍❏❉ ❖❊❉❃ ■ ▲ ❄▲ ❈❃ ❖❊❉❃ q ❄▲ ■ q ❄▼ ▲ ❍❄ ❆s ✐▲❤ ❏❄❃ ❄ ❍▲❍✉ ❄t❏ ❄❃❄❍▲ ❍✉▲❤ ❏ ❄❍ ● ❄✐❄■❄s ❍❉■ ▲ s ❄✐ ❑❖ ❆ ❂❖ ■ ❂ ❄❆ ❋ ❄❏❄❄❃ ❑❉ ❍ ❄❆ s✐❉ ❆ ❂▲ ❂❄❉ ✐❄❃❆● ❄ ❏ ❄❍▲ ❆▼t ❏ ❄❍▲ ❆▼❇ ⑥⑦♥⑧⑨ ⑩❧♦♣, ❄■ ❄❆ ❏❉ ❆▼❄❆ ❄❊▲ ❍▲ ❍ q❄▼❄▲❏ ❄ ❆❄ ❶▲ ❄▲ ❈❃❖ ❊❉❃ ❏❉ ❆▼▲ ❆ s❉▼✐❄❍▲■❄❆ ❏❁ ❊ s▲ ■❁ ❊ s❁✐❄❊▲ ❍❏❉ ■❉ ❂ ❄❊ ❄❏ ❍▲ ❍ s❉❏ ❑❉ ❆ ❂▲❂▲■❄❆ ❂▲ ①❆▲✇ ❉ ✐❍▲ s ❄❍ ❀❁❂❃❄✐s ❄ ❅❄❍❁ ✐❁ ❄❆❇ ❷❧♥⑧⑦❸❹ ❜ ❑❉❏ ❉❊▲❃ ❄ ✐❄❄❆ ❑❖ ❊ ❄❣ ❤ ❄■❄❆ ❏❉ ❆▼ ❄❆ ❄❊▲ ❍▲ ❍ q❄▼❄▲❏ ❄ ❆❄ ■ ▲ ❄▲ ❈❃ ❖❊❉❃ ❂❄❊ ❄❏ ❏ ❉❏❉❊▲ ❃ ❄✐ ❄ ❏ ❁❊ s▲■❁ ❊ s❁✐❄❊▲ ❍❏❉ ❍❁❑❄ ●❄❂❄ ❑❄s❊❉ ❍ s ❄✐▲ ❂❄ ❆q ❉ ✐■ ❉❏q ❄ ❆▼❏ ❉ ❆❋ ❄❂▲ ❊❉q▲❃q ❉ ❍❄ ✐❂▲❑❖❆❂❖■ ❑❉ ❍❄ ❆ s✐❉ ❆ ❺▼ ❄❊ ❄❃ ❂❄❆①❆▲✇❉ ✐ ❍▲s❄❍❀❁❂❃❄✐s ❄❅❄ ❍❁✐❁ ❄ ❆❇ ❻❼ ⑥⑦♦♥⑩❽ ❾ ⑧⑦❿ ⑧⑦⑧④♣♥ ♣❧⑦ ➀❄❊ ❄❏ ❑❉ ❆❉❊▲❊▲s▲ ❄❆ ▲ ❆▲ ❤ ▲ ❆❍ s ✐❁❏ ❉ ❆ ❁s❄❏❄❆ ●❄ ❄❂ ❄❊ ❄❃ ❑❉ ❆❉❊▲ s▲ ❍❉ ❆ ❂▲✐▲❇ ❅❉ ❆❉❊▲ s▲ s❉ ✐❋❁ ❆ ■❉ ❊ ❄❑ ❄❆▼❄❆ ❍❉ ❆ ❂▲✐▲❤ q❄▲■ ❑❄ ❂❄ ❍ ❄❄s ❏❉ ✐❁ ❏❁❍■ ❄❆ ❑❉ ✐ s❄❆ ●❄ ❄❆ ●❄ ❆▼ ❄■❄❆ ❂▲▼ ❁ ❆ ❄■ ❄ ❆ ✉ ❄✉ ❄❆ ✈❄✐❄❤ ✉ ❄✉ ❄❆ ✈❄✐ ❄ ●❄ ❆▼ ❄■❄❆ ❂▲❊ ❄■ ❁■❄❆ ❄❂ ❄❊ ❄❃ ➁ r ❄▼ ❄▲ ❏ ❄❆ ❄ ■ ▲ ❄▲ ❈❃ ❖❊❉❃ r ❄❃ ✐❁❂❂▲ ❆ ❏❉ ❆▼▲❏❑❊❉❏ ❉ ❆ s❄❍▲■❄❆ ❏ ❁❊ s▲■ ❁❊ s❁✐❄❊ ■❉ ❂ ❄❊ ❄❏ ❍▲ ❍ s❉❏ ❑❉ ❆❂▲ ❂▲■❄❆ ❂▲ ①❆▲✇❉ ❍▲ s ❄❍ ❀❁❂❃ ❄ ✐s❄ ❅❄❍❁ ✐❁ ❄❆➂❤ ❄❑❄ ◆❄■ s❖ ✐

➆ ➇➈➉ ➊➋ ➊ ➈➌ ➉ ➍ ➈ ➆➇➈➌➎➍ ➏ ➐➍t ➉➍r ➑➏p➒➇➏ ➇➈➓➍ ➔➑ ➏➊➒➑➋➊➒t tur➒➑➔➏➇ ➐➇s➇➍rt ➔→➒➊➔ ➑ ➈➣➍↔↕ ➙➍➎ ➍p ➔ ➇➒➍ ➈➛ut➈➣➍ ➍➉ ➍ ➒➍➎ ➆ ➇➏ ➑ ➒➑➎➍➈ ➑ ➈➜➏ ➍ ➈or ➉ ➍ ➈ ➜→➋➊➔ ➉➍➒➍➏ ➆ ➇➈ ➇➒➑➑➍ ➈➝t ➛ ➊➌➍ ➆ ➍➉ ➍ ➍➍s t ➏ ➇➈ ➌➊➏➆➊➒➋ ➍ ➈ ➉➍➍➝t ➏ ➇➒➍➋➊➋ ➍ ➈ ➍ ➈➍ ➒➑➔ ➑s ➉ ➍ ➈ ➆ ➇➈➍➑➋ ➍ ➈r ➋ ➇➔ ➑➏ ➆ ➊ ➒➍ ➈↕ ➞➉ ➍➆ ➊ ➈➑ ➈➔ ➓r➊➏ ➇➈➆➇➈➉➊➋➊➈ ➌➔ ➇➆ ➇➑rt➟➠ ➡➢➉ ➍ ➈➋ ➍➏➇➤➍➉ ➑ ➌➊ ➈➍ ➋➍ ➈ ➊➈➓ ➊➋ ➏ ➇➤ ➇➋ ➍➏ ➥➍➥➍➈➦➍ ➤➍➉➍➈➔➑➓➊➍ ➔➑ ➉➑ ➒➑ ➈ ➌➋➊➈ ➌➍ ➈➆→➈➉→➋ ➆ ➇➔ ➍ ➈➓ ➤ ➇➈➧➌➍ ➒➍➎➉ ➍ ➈ ➨➈➑➩➇➤➔ ➑➓ ➍➔ ➫➊➉ ➎➍ ➤➓➍ ➠➍➔ ➊➤ ➊➍ ➈↕ ➭➇➉➊➍ ➛ ➇➈➑➔ ➑➈➔ ➓➤➊➏ ➇➈ ➓ ➇➤➔ ➇➐ ➊➓ ➉➍ ➆➍➓ ➏ ➇➒➇➈ ➌➋ ➍➆➑ ➉➍➓ ➍ ➣➍ ➈➌ ➓ ➇➒➍➎ ➉➑➋➊➏ ➆ ➊ ➒➋➍➈ ➐➍➑➋ ➏➇➒➍ ➒➊➑ →➐➔ ➇➤➩➍➔ ➑ ➏➍➊➆ ➊ ➈ ➥➍➥➍ ➈➦➍➤➍↕ ➯➲ ➳➵ ➸➺ ➻➼➽➾➚➪➻➶➚ ➹➶➘➻➚ ➴➵➸ ➷➵ ➬➾➚➮➾ ➱➾ ✃ ➇➔ ➊➍➑➉ ➇➈ ➌➍➈➜→➋ ➊➔➏ ➍➔ ➍ ➒➍➎➉➍ ➈➓ ➊➛ ➊➍ ➈➆ ➇➈ ➇➒➑➓➑➍➈➣➍➈➌➓➇➒➍➎➉ ➑➓ ➇➓ ➍➆ ➋➍ ➈ ➏➍➋ ➍ ➣➍ ➈ ➌ ➉ ➑➛➍➉ ➑➋ ➍ ➈ ➔ ➊➏ ➐ ➇➤ ➉ ➍➓➍ ➉➍➈ ➓➇➋ ➈➑➋ ➆➇➈➌ ➊➏ ➆➊➒➍ ➈ ➉➍ ➓➍ ➈➣➍ ➍➉ ➍ ➒➍➎ ➔ ➇➐➍ ➌➍➑➐ ➇➤➑➋➊➓ ❐ ❒❮❰ÏÐ ÑÐÒ ➊ ➈➓➊➋ ➆ ➇➈ ➌➊➏➆ ➊ ➒➍ ➈ ➉➍➓ ➍ ➓➇➈➓ ➍ ➈➌ ➑➏➆➒➇➏ ➇➈➓➍➔ ➑ ➏ ➊➒➓ ➑➋ ➊ ➒➓ ➊➤➍ ➒ ➋➑➍ ➑ ✃➎→➒➇➎ Ó➍➎ ➤ ➊➉ ➉➑➈ ➉➍ ➒➍➏ ➔ ➑➔ ➓ ➇➏ ➆➇➈➉ ➑➉➑➋ ➍ ➈ ➉➑ ➨➈➑➩➇➤➔ ➑➓ ➍➔ ➫➊➉ ➎➍➤ ➓➍ ➠➍➔ ➊➤ ➊➍ ➈↕ ✃➊➏➐➇➤ ➉ ➍➓➍ ➉ ➑➍➏➐➑ ➒ ➏ ➇➒➍ ➒➊➑ ➥➍➥➍ ➈➦➍➤➍➝ ➉→➋➊➏➇➈➓ ➍➔ ➑➝ →➐➔ ➇➤➩➍➔ ➑ ➓ ➇➤➎ ➍➉ ➍➆ ❐ ➋ ➑➍➑ ✃➎→➒➇➎ Ó➍ ➎➤ ➊➉➉ ➑ ➈➝ ➏ ➍➔➣➍ ➤➍➋ ➍➓ ➛➍➏ ➍➍➎ ➆→➈➆ ➇➔ ➝ ➔ ➓ ➍➋ ➇ ➎→➒➉ ➇➤ ➨➫➠↕ ➠➤→➔ ➇➔ ➆➇➈➉ ➑➉➑ ➋➍ ➈➉ ➑ ➨➈➑➩➇➤➔ ➑➓➍ ➔ ➫➊➉ ➎➍ ➤➓➍ ➠➍➔ ➊➤ ➊➍➈➉➍ ➈ ➉→➋➊➏➇➈➓ ➍➔➑ ➋ ➇➌➑➍➓ ➍ ➈➏➊➒➓ ➑➋➊➒➓ ➊➤➍ ➒➨➫➠➣➍➋ ➈➑ ÔÕ➧✃➙Ô ➞➝ ✃➙➞➙➨➙➞➝ Ô➍➈➦➍ ➈ ➌➍➈Ö ➈➉ ➊➋ ➠ ➇➈➇➒➑➓ ➑➍ ➈ ×ÔÖ ➠Ø➝ ➭➊➤➑➋➊➒➊➏ ➔ ➇➤ ➓➍ ➉→➋ ➊➏ ➇➈➓➍➔ ➑ ➒➍➑ ➈➔ ➇➔ ➊➍➑➉ ➇➈ ➌➍ ➈➋➇➐➊➓ ➊➎➍➈ ➆ ➇➈ ➇➒➑➓➑↕

ÛÜÝÞ ßà áâ ã áä åæâ ç áè åáéêâ ëêtê tæâãê â ç ìê ä ãor åæâ ë á äáâ ç ë êâ åæâçíê èîêt ïè åéæ èæâ ãêð ï è áétïä áéturêé ðæêrt ðñé áð ïâòê ê äêâ ëïçêéï èæéêé áï äïêóíñéæíéêâçðáâçôðæêrt ïâ ìorèê âéêïâòêâçãæräêïtõ ö÷ øùú ûüúýùþü ÿü ✁ û✂ û✄☎✆þ ✁ û ✝æ èïéï íêâ ïâ ìorèêâ ëïéê äá äê â ðæ✞êêr puråñðï✟æ îærëêðêäêâr ìñä áð èêðêéêí òê â ç tæéêí ëïæâãá äê â õt ✠êâ ç äêí ✡ Ü☛☞ ß✌ ß êë êéêí èæâë êìêtr â ê èê ïâìorèêâ òêâ ç èæ èïéïäï åærêâ åæâ ãïâ ç ë êéê è èæâ ç áâçäêp ïèåéæ èæâãêsï èáétïäáéê éïðèætur äïêï óíñéæí ✍êí✎áë ëïâ ë êéê è ð ïæ èst åæâ ëïëïäêâ ëï ✏âï✟ærðïtês ✑ áëíêrtê ✝êsuráêâ ô îæ çïtu ✒ áçê ìê ä ãor åæâëáä áâç ë êâ åæâçíê èîêt ïè åéæ èæâ ãêð ï è áétïä áéêéï ðèætur sæêrt ðñé áð ï òêâ ç ëïê èî ïé õ ✠êâçäêí ✓ ÜÝÞß êë êéêí èæ èïéïí ïâìorèêâ îæë êðêr räêâ äæ è áâçäïâ êâ äæ èêèå áêâ âòê ðæ✞êêr rïâ✞ ï ë êâ tïâ ç äêt åêrtïð ïêð ïâp òê ëêéêè èæâ ç áâçäêp ïèåéæ èæâãêð ï è áétïä áéêéïðèætur äïêï óíñéæí ✍êí✎áëëïâ ëêéê è ð ïæèst åæâ ëïëïäê âëï✏âï✟ærðïtês ✑ áëíêrtê✝êsuráêâô îæ çïtu ✒ áçêì ê äãor åæâ ë á äáâç ëêâ åæâ çíêèîêt ïèåéæ èæâãêð ï è áétïä áéturêéïðèæ ðæêrt ðñé áðï òêâ ç ëïê èîïé õ ✠êâçäêí✓ Ü☞✔✕ßê ëêéêí èæ èïéï íïâ ìorèê â îæëêr êsräê âêêts prïâð ïp îñéê sêé✒u ✖✗ ✘✙ ✚✛ ß✜✜✢ õ ✝æâççêéïê â ïâ ìñ✎èêð ï ëê✎ ï ïâ ìñ✎èê â ✒æâï ð ïâï ëïèê äðáë äêâ ðæîê çêï ë ê ãê åæâëáä áâç ëê â ðæ äêéïç áð ë ê åê ã ëïçáâ ê äêâ áâãá ä äæ åæâ ãïâ çêâ ã✎ ïê â ç áéêð ï ãæ✎ íê ëê å ëê ãê òêâç ëïåæ✎ ñéæí èæéêé áï ñîðæ✎✟êð ï ëê â ãæ✎ íêëêå ïâìñ ✎èêâòêâçîæ✎ îæë ê õ

✦✧ ★✩✪✫✬✭✮ ✯ ✭✰ ✭✱✲ ✭✳ ✭ ✴✵ ✶✷ ✸ ✹✺✵ ✻✷ ✼✽ ✸✺ ✾✿ ❀ ✾❁ ✾✵ ❂ ✾t ❃❄ ✾❅✽❂ ✽✶ ✾❀ ✽✵✶✺ ❆✵✾❅❇ ❂ ✽ ❅✾✸✷✸✾✵ ❈✺ ❆❈✾✵ ✼✾✵ ✻ ✾✵ ❈✺✵✻✾✹ ✾✶ ✾✵❉ ✹✺✵✽✵ ✻ ✸✾ ✶✸✾✵ ✸✺ ✶✺ ✸✷✵✾✵ ❈✺✵ ✺ ❅✽✶✽❉ ✶❆✽ ✾✵ ✻✷ ❅✾ ❀✽ ❂✺✵✻✾✵ ❁✾ ❀✽ ❅✶✺ ✸✵ ✽ ✸❈✺✵ ✻✷ ✹❈✷❅✾✵ ❂ ✾✶ ✾❊✾✵✻✿ ✺ ❆✿ ✺❂ ✾❉ ❂ ✽ ❀✸✷ ❀ ✽❂ ✺✵ ✻ ✾✵ ✶✺ ✹ ✾✵ ❀✺ ✼✾❋✾ ✶❉ ●❍■ ❏❑ roup ▼◆❑ ❖ ❏❑ ◆on ❃P◗❘❇ ❂✾✵ ❈✺✵ ✻✺❙✺ ✸✾✵ ✾✵✻✻❚ ✶ ✾ mm❱ ❯r ❖❲❯❖■❇❳ ❨✺ ❅✾✵ ✼✷✶✵❊✾❉✷ ✵ ✶✷ ✸ ✹✺✵ ✺✵ ✶✷ ✸ ✾✵ ✶❆✾✵ ❀❩✺ ❆✾✿ ✽ ❅✽✶✾ ❀❃❄ ✾❅✽❂ ✽✶ ✾❀ ✺ ✸❀ ✶✺ ❆✵ ✾❅❇ ❂ ✽✿ ✷ ✾✶ ❅✾❈❚ ❆✾✵ ❀✺❙ ✾❆✾ ❆✽✵ ❙ ✽❉ ❀ ✽❀ ✶✺ ✹ ✾✶✽ ❀❉ ❂✾✵ ✼✺ ❅✾❀❉ ❀✺ ❁ ✽✵ ✻ ✻✾ ❁✾❀ ✽❅ ❈✺✵ ✺ ❅✽✶✽ ✾✵ ✽✵ ✽ ❂ ✾❈✾✶ ❂ ✽ ✻✷ ✵ ✾✸ ✾✵ ❂ ✾ ❅✾✹ ✸❚✵✶✺ ✸ ❀ ❂ ✾✵ ❀✽ ✶✷✾❀ ✽ ❊✾✵✻ ❅✾ ✽✵❳ ❬✺ ❆✾✸ ❁✽❆❉ ✷ ✵ ✶✷ ✸ ✹✺✵ ✻✷ ✼✽ ❆✺ ❅✽✾✿✽❅✽✶✾ ❀ ❂ ✽ ❅✾ ✸✷✸✾✵ ❭❏❪◆t tr❭◆❫ ❃❈❆❚ ❀✺ ❀ ❈✺✵ ✼✾✹ ✽✵✾✵ ✸✺✿✺✵✾❆✾✵ ❈✺✵ ✺ ❅✽ ✶✽✾✵ ❇❚ ❅✺ ❁❈❆❚ ✹❚ ✶❚ ❆✾✶✾✷❈✺ ✹✿✽✹✿✽✵✻❳ ❴✧ ❵ ✬❛✱ ✪❛❜✱ ✭❝✪ ✯✪ ✯✲ ✭✳✭ ❞✵✾❅✽❀ ✽❀ ❂✾✶✾ ❃▼❭t ❡❢❭❫❣❑ ◆s ❇❊✾✵ ✻ ❂✽✻✷ ✵ ✾ ✸✾✵ ❚❅✺ ❁❈✺✵✺ ❅✽ ✶✽ ❀✺❈✺ ❆✶ ✽ ❊✾✵ ✻ ❂ ✽✷ ✵ ✻ ✸✾❈✸ ✾✵ ❚❅✺ ❁ ❃❤✽ ❅✺ ❀& ✐✷ ✿✺ ❆ ✹✾✵) . ❞❂ ✾ ✶ ✽✻ ✾❀✷ ✿ ❈❆❚ ❀✺ ❀ ❊✾✸✵✽, ❆✺❂ ✷ ✸ ❀ ✽ ❂ ✾ ✶✾, ❈✺✵❊✾ ✼✽✾✵❂✾✶✾❂✾✵ ❈✺✵✾❆✽✸ ✾✵ ✸✺ ❀ ✽✹❈✷❅✾✵❳ ❦❆❚❀✺ ❀✽✵ ✽❂ ✽ ❅✾✸✷✸✾✵ ❀✺✿ ✺ ❅✷✹ ✶✾❁ ✾❈ ❈✺✵ ✻✷ ✹❈✷❅✾✵ ❂ ✾ ✶✾, ❈✺ ❆❀ ✽❀✵❊✾ ❈✾❂✾ ❀✾ ✾✶ ✹✺✵✺✵✶✷✸✾✵ ❆✾✵❙ ✾✵ ✻ ✾✵ ❂✾✵ ❈✺ ❆✺✵ ❙ ✾✵✾✾✵ ❈✺✵ ✺ ❅✽✶ ✽✾✵ ❧ ❀✺❋ ✾✸ ✶✷ ❈❆❚❀✺ ❀ ❈✺✵ ✻✷ ✹❈✷❅✾✵ ❂ ✾ ✶✾ ❀✺ ✹✺✵✶✾❆ ✾ ❂ ✾✵ ✾✵✾❅✽❀ ✽❀✾❋ ✾❅❧ ❀✺ ❆ ✶✾❀✺ ✶✺ ❅✾❁✶✾❁ ✾❈❈✺✵✻✷✹❈✷ ❅✾✵❂✾✶ ✾✾✸ ❁✽ ❆. ❦✾❂✾ ❭❲ ❭t p ❭❭❫w , ✶ ✾❁✾❈ ✽✵✽ ❈✺✵ ✺ ❅✽✶✽ ✹✺✵ ✻✷ ✹❈✷ ❅✸ ✾✵ ❀✺ ✹✷ ✾ ❂✾✶✾ ❊✾✵ ✻ ❂ ✽✶✺ ✹✷✸✾✵ ❂ ✽ ❅✾❈✾✵✻✾✵ ✿✾✽✸ ✹✺ ❅✾❅✷✽ ❚✿❀✺ ❆❄ ✾❀ ✽, ❋ ✾❋ ✾✵ ❙ ✾❆ ✾ ❊✾✵✻ ✹✺✵❂✾❅✾✹ ❀✺ ❆ ✶✾❂❚✸✷✹✺✵✶✾❀ ✽✶✾✵❈✾❂ ✽ ❅✾ ✸✷✸✾✵❈✺ ✹✽ ❅✾❁✾✵❳ ♥♦♣qrs t✉, ✈✇ ✉①② ✉ & ③. ④ ②⑤q⑥ ✉, ⑦⑧ q ✉✉ t (✇ ⑨),⑩❶❷noo o❹❺❻ ❶❼ ❽❾ ❶❾❽v❿➀ ❿s❿❶r➁➂ ➃(⑥ q✉⑨ q✉➄③ t➅✇ ➆ ➇➈⑥ ②⑤ t➉② q ✉➊, ➋ ➌ ➌➍),➎ ➌➏.

➓➔→ ➔➣ ↔ ↕➙➛ ➔➜ ➝➞ ➝➟➝➠ ➡➞ ➢➤ ➥➦r ➞ ➝➝ ➧t ➨➝➞ ➝ t➝➠ ➝p ➦ ➩➦ ➨➡ ➩➡➟➦➦t ➝ ➤➝ ➩ ➫➡➫ ➭➢➝ ➩➯ ➞ ➝➝t ➲➝ ➩➯ t➦➞➝➤ ➞ ➦ ➨➡➟ ➢➤➝➩r ➞ ➝ ➩ ➠➝➩➲➝ ➫➡➫ ➳➵➤ ➢ ➥➤➝ ➩ ➞ ➝➝t s➡ ➥➢➝➦ ➞➡ ➩➯➝ ➩ ➳➵➤ ➢ ➥➫➝ ➥➝➟➝➠ y➝ ➩➯➞➦➯➝➟➦ ➲➝➤➩➦ t➡ ➩➸➝ ➩➯➺ ➫➡ ➩➯➢➩➯➤ ➝p ➦➫➨➟➡➫➡ ➩ts ➫➢➟t➦➤ ➢➟tur➝➟➦ ➥➫➡ ➤➦➝ ➦ ➻➠➵➟➡➠ ➼➝➠ ➽ ➢➞➞ ➦ ➩ ➞➝ ➟➝➫ ➥➦st➡➫ ➨➡ ➩➞ ➦➞ ➦➤➝ ➩ ➞ ➦ ➾➩➦➚➡➥➦r ts ➪➢➞ ➠➝➝rt ➶➝➢➝ ➩ ➧sur ➭➡➯➦tu u➯➝ ➳➝➤➸or ➨➡ ➩➞ ➢➤ ➢ ➩➯ ➞➝ ➩ ➨➡ ➩➯➠ ➝➫➭➝t ➦➫➨➟➡➫➡ ➩ ➸➝ ➥➦➫➢➟➦➤ ➢➟t tur➝➟➦ ➥➫➡➥➡➝rt ➥➵➟ ➢➥➦ ➲➝ ➩➯➞ ➦➝➫ ➭➦➟ ➓➔→ ➔➣↔↕➴ ➷➬➔➜ ➝➞➝➟➝ ➠ ➨➡ ➩➲➝➹➦➝ ➩➞ ➝➝ ➧t ➥➡➡➟➝➠t ➞➦➟➝➤➢➤ ➝ ➩➝➠ ➝t p ➦ ➩➦ ➨➡ ➩➡➟➦➦t ➫➡➫➝ ➨➝r➤➝ ➩➸➡➫➢➝ ➩➞➦➟ ➝ ➨➝ ➩➯➝ ➩➥➡ ➥➢➝➦➞➡ ➩➯➝ ➩➳ ➵➤➢➥➫➝ ➥➝➟➝➠ ➘ ➓➔→ ➔➣ ➴↕➮➔↔ →➷➮➜ ➝➞ ➝➟➝➠ ➨➡ ➩➝➦➤ ➝ ➩r ➤➡ ➥➦➫➨ ➢➟➝➩➘ ➻➡t➡➟➝➠ ➞➦ ➟➝➤ ➢➤➝➩ ➨➡ ➩➯➡➱➡➤ ➝ ➩ ➥➡➹➝➝wt tr➦➝➩➯➢➟➝ ➥➦ ➞➝t➝ ➧ ✃❐❒ ➞➝ ➩ ➨➡ ➩➦ ➩➞➝ ➤ ➟➝ ➩➹➝➩ut t➠➝➞ ➝r p t ➡➫➢➝ ➩ ❮ ➸➡➫➢➝ ➩ ➫➝ ➤➝ ➧ ➨➡ ➩➡➟➦ ➸➦ ➝ ➤➝ ➩ ➫➡ ➩➞ ➡ ➥➤➽➦➨➥➦➤ ➝ ➩ ➸➡➫➢➝ ➩ ➤ ➡ ➞ ➝➟➝➫ ➥➡➭➢➝ ➠ ➤ ➡ ➥➦➫➨ ➢➟➝ ➩➘ ❰➡ ➥➦➫➨➢➟➝ ➩ ➲➝ ➩➯ ➞ ➦➝➫ ➭➦➟ ➝ ➤➝ ➩ ➫➡ ➩➹➝➞ ➦ ➸➡➫➢➝ ➩ ➤➵➩➥➡ ➨➸ ➢➝ ➟➲➝➩➯➭➡➽➨➡➞➵➫➝ ➩➨➝ ➞➝ ➩➦➟➝ ➦➽➡➝ ➟➦➸➝ ➥➞ ➝ ➩➭➡➽➥➦➳➝ ➸➡➫➨➦➽➦➤ ➘

Ï ÐÏÑÒ ÓÑÐÑÔÕÖ ×ÑÓÕÖ×ÑÓÕÖ ×Õ ØÐÖ ÓÙÔ.Ú ÙÛÖÜÙ ÏÐÙØÕ Ý ÝÑÞÝÐÞÑÔßÖÜÔÜÞ ×ÐÚÑ ÔÕÖ ×ÑÓÕÖ ×Õ ØÐÖÑÚÔÜÝÐÖÐÔÚÑÚ×ÜÔßÜÞÝÑÝÑÓÐÞ ÝÑ ÕÞÑÒÜØÚ Ñ×ÐÚàÕ ÝÙÐØ ×ÐßÐÚÕ ØÕÐÞ Ð. Ï áâ ãäå æáÚ áç ãèåt ÓÙÔéÚêâ ë ìêÏ åêä í î îáç

Tokoh yang khas dan unik ini adalah putra pertama dari pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Yayasan Darut Taqwa Carat Gempol Pasuruan yaitu Mbah KH. Bahruddin Kalam (alm) dan Ny. Hj. Siti Shofurotun. Ia dilahirkan di desa Carat Gempol Pasuruan, pada hari Sabtu tanggal 25 Sya ban tahun 1372 H atau bertepatan pada tanggal 09 Mei tahun 1953 M dan mempunyai 10 saudara, yaitu :

1. KH M. Sholeh Bahruddin (kiai Sholeh) 2. Muhammad Anshori (alm)

3. KH M Mansyur (Gus Mansyur) 4. Muhammad Ghufron (alm) 5. Siti Maryam

6. Muhammad Dhofir 7. Muhammad Ridwan 8. Ahmad Fatah 9. Siti Habibah (alm) 10. Muhammad Misbah 11. Siti Munifah. (alm)1

Sejak kecil beliau sudah menunjukkan ciri-ciri seorang pemimpin yang berjiwa besar, hal ini terbukti pada ketegasan beliau dalam menentukan sikap dan tindakannya. Pada masa kecilnya beliau belajar di rumahnya sendiri dan dididik langsung oleh ayahnya sendiri dan para ustadz yang

ï

lainnya. Selanjutnya ketika menginjak dewasa beliau di suruh ayahandanya untuk menuntut ilmu kepada kiai Syamsuddin Ngoro Mojokerto, yang merupakan paman dari kiai Sholeh sendiri. Setelah dirasa cukup beliau berguru pada beberapa kiai, dimulai pada tahun 1965 M 1973 M diantaranya sebagai berikut :

1. KH. Qusairi: Sawahan Mojosari-Mojokerto-Jawa Timur 2. KH. Bahri: Sawahan-Mojosari-Mojokerto-Jawa Timur 3. KH. Musta in: Peterongan-Jombang-Jawa Timur 4. KH. Jamal: Batho an-Mojo-Kediri-Jawa Timur

5. KH. Iskandar: Kandangan-Ngoro-Jombang-Jawa Timur 6. KH. Muslih: Mranggen-Semarang-Jawa Tengah

7. KH. Munawir: Tegal Arum-Kertosono-Nganjuk-Jawa Timur2

Setelah menempuh pendidikan dari perbagai Pesantren, beliau mempunyai ide untuk mendirikan sekolah formal (Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah) di Pondok Pesantren milik Ayahandanya, ide tersebut beliau usulkan dan dimusyawarahkan kepada Ayahandanya, tetapi usul tersebut tidak disetujui oleh ayahandanya karena beliau adalah ulama salaf yang selalu menjaga kemurnian. Dan pada usia 22 tahun, tepatnya pada tahun 1975, beliau menikah dengan Ny. Hj. Siti Sa adah dari Krandon-Kerjo-Karangan-Trenggalek, yang mana kalau ditelusuri dari garis keturunan antara keduanya, menjadi satu saudara ada garis keturunan Nyai Salimah. Hingga sekarang dari hasil perkawinan, beliau dikaruniahi 10 anak, sebagai berikut :

1. Siti Muthoharoh

2. Atik Hidayatin 3. Ahmad Syaikhu 4. Siti Faiqoh 5. Luluk Nadhiro

6. Ahmad Faishol (almarhum) 7. Siti Khurotin

8. M. Bustomi (almarhum) 9. Siti Hajar

10. Siti Nuronia3

Kiai Sholeh merupakan keturunan ke-32 dari Rosulullah SAW, sehingga secara spirit keagamaan terdapat nasab yang sama yakni menyebarkan Islam dengan bentuk✪ ✫✬✭✮ ✫✯ ✫✰✱✲ ✱✳ ✫>✱✫✮ ✲>✰✴

Berikut silsilah atau garis keturunan kiai Sholeh: 1. KH M. Sholeh Bahruddin

2. KH M Bahruddin Kalam bin 3. Kiai Kalam Arfi bin

4. Ny. Salimah binti 5. Kiai Sulaiman bin 6. Kiai Hasan Besari bin 7. Kiai Ya qub bin

8. Kiai Muhammad Besari bin 9. Kiai Anom Besari bin

10. Kiai Ageng Abdur Rosyid bin 11. Kiai Pangeran Santri bin 12. Joko Tingkir bin

13. Pangeran Pandan Arum (Sulton Hadi Abdullah) bin 14. Sayyid Maulana Ishaq bin

15. Sayyid Jamaluddin Khsain bin 16. Sayyid Abdullah Khon bin 17. Sayyid Amar Abdullah bin

18. Sayyid Alwi bin

19. Sayyid Muhammad bin 20. Sayyid Alwi bin

21. Sayyid Muhammad bin 22. Sayyid Alwi bin

23. Sayyid Abdullah bin 24. Sayyid Ahmad Muhajir bin 25. Sayyid Hasan Bisri bin 26. Sayyid Tsakifirumi bin 27. Sayyid Ali Uroidi bin 28. Sayyid Ja far Shodiq bin 29. Sayyid Muhammad Bakir bin 30. Sayyid Jainul Abidin bin 31. Sayyid Hasan bin

32. Saidatina Fatimatuz Zahroh binti 33. Sayyidina Muhammad SAW4

Perjuangan kiai Sholeh mengemuka di masyarakat mulai tahun 1985 dengan mendirikan lembaga pendidikan Pondok Pesantren Ngalah, dan hingga saat ini berkembang pesat menaungi berbagai lembaga pendidikan yang terdiri dari: pendidikan formal (RA, MI, MTs, SMP Bhinneka Tunggal Ika, MA-SMK, SMA dan Universitas Yudharta Pasuruan), dan pendidikan non-formal (❍■❏ ❑■▲ ■▼ ◆❖P ❖◗ ■▼ ❘ ❍ ■❏ ❑ ■▲ ■▼ ❍❙❚ ■❯❖❱ ❖>P ❍❙❚ ■❯❖❱ ■❲ ❘ dan

J■ ❱❚ ❖ ◗■▼ ❳■❑❨❩■❲ ■❯❬❭❪ ❫❏❖❑❖◗ ■▼ ❴■ ■❯❬❵■❛▲❜■❝■P❏ ❖ ◗■▼❘ ■❯❬❍❙❞■❏❏■>❏ ❖ ◗■▼ ❴■

■❯❬K▼❪❯❖❏❖◗ ■▼). Dari sekian banyaknya lembaga pendidikan yang didirikan, beliau mempunyai tujuan dan harapan besar untuk mencerdaskan bangsa dan

mempertahankan nilai-nilai Pancasila sekaligus mencetak santri yang ber-otak Jepang dan ber-hati Madinah.

Selain itu, kiai Sholeh sebagai Pendiri dan pembina Yayasan Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan. Dalam menjalankan amanah, beliau sebagai pendiri dan pengasuh mempunyai prinsip atau motto

❶ ❷❸❹ ❺❻ ❼ ❽❸❶ ❶❷❸ ❹ ❾❻❼ terhadap sesama. Prinsip ini sangat pluralis dan multikulturalistik yang menjadi paradigma hidupnya. Kemudian paradigma tersebut dijadikan spirit dan diartikulasikan menjadi jargon Universitas Yudharta dengan sebutan❿➀ ❾➁➂ ❽➃ ❼➄➂❽➃➂ ➅❸ ❽➆❶ ❼➇ ❾➅➈ ❼ ➃❹ ➉

Dalam hidup seseorang, tidak banyak orang yang mampu berguru kepada bermacam-macam guru yang berbeda.Rupanya inilah yang membentuk jiwa Kiai Sholeh menjadi sosok Kiai yang berpandangan luas dan luwes.Luas artinya ilmu yang di dalami bukan hanya ilmu Fiqih saja, tetapi juga ilmu

➃❸➂ ➀ ❼➊ (kalam), dan ilmu ❿❸➈ ❸ ➋➋➂ ➌, di samping itu juga ilmu kemasyarakatan (sosial).Dikatakan luwes karena paham agamanya yang fleksibel, dan cermin tindakan-tindakannya atau prilakunya yang mencerminkan sikap A➀ ❽➂ ➈➈ ➂ ❶❶ ❸➀ sejati dengan prinsip-prinsip ➃❸ ➈❸ ❻➂ ➀➍

➃❸ ➋❸➎➂❶ ➍➃❸ ➋❸➈ ➂ ➃➏dan❼➐➃ ❼➊❸❽➉

Dalam sejarah hidupnya, wawasan pluralistik dan multikultural KH M. Sholeh Bahruddin sejak awal telah dibentuk oleh ayahnya sendiri. Kemudian diperdalam dengan beragam ajaran yang ia dapat dari guru-gurunya. Kiai

Bahruddin pernah berpesan Sak temene dek pasar, dek masjid, dek dalan, kabeh iku dulurmu (diulang tiga kali).

Ungkapan ini sangat bernuansa pluralistik.Lebih-lebih dikontekskan dalam kehidupan umat beragama di Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai falsafah hidupnya. Dari sini, prinsip Kiai Sholeh ingin membumikan ajaran Islam yang rah}matan lil a>lami>n itu dengan sungguh-sungguh. Makanya ia selalu berpesan kepada para santrinya: jangan pilih-pilih kalau bergaul dan mencari teman, karena dengan banyak teman akan banyak rezeki .

Semua itu dikembangkan dan dipraktikkan kiai Sholeh dengan senyuman, kesabaran dan kebijaksanaan. Seperti yang pernah dilakukan dengan bergandengan tangan terhadap para tokoh lintas agama untuk menunjukkan bahwa mereka adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari kepribadian bangsa Indonesia.5

. →➣ ↔➣ ↕➙ ➛➣➜Tarekat ➝➞➟➠→➜ ➡ ➢➤➜➔➣➜ ➥ ➦ ↕↕➙ ↔

1. Tarekat an-Naqsabandiyah>al-Kholidiyahkiai Sholeh Bahrudin 1) Allah SWT. Turun kepada:

2) Malaikat Jibril, Turun kepada:

3) Nabi Muhammad SAW turun kepada:

M. Anang Sholikhudin, Penerapan Konsep Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren Ngalah Purwosari Pasuruan (Tesis: UNISMA, Malang, 2011), 106-107.

4) Sayyidina Abu Bakar S}iddiq r.a.6turun kepada : 5) Sayyidina Salman Al-Fa>risi r.a.7turun kepada :

6) Sayyidina Qa>sim bin Muh}ammad bin Abu Bakar As S}iddiq r.a. Turun kepada:

7) Sayyidina Ja far As-Sha>diq r.a.8Turun kepada:

8) Shaikh Abu Yazid Al-Bust}a>mi quddu>sa sirruhu> (q.s.).9 Turun kepada:

9) Shaikh Abul Hasan Ali bin Abu Ja far Al-Kharqa>ni q.s. dari beliau turun kepada:

10) Shaikh Abu Ali Al-Fadhal q.s. Turun kepada wali Allah, yaitu: 11) Shaikh Abu Yakub Yusuf AI-Hamdani bin Ayyub bin Yusuf bin

AI-Husain q.s.10Turun kepada wali Allah, yaitu:

12) Shaikh Abdul Kha>liq AI-Fajdawa>ni> Ibnu Al-Imam Abdul Jamil q.s.11Turun kepada:

13) Shaikh A>rif Ar-Riwikari> q.s. turun kepada:

14) Shaikh Mahmud Al-Anjir Faghu>ni q.s.12turun kepada: 15) Shaikh Ali Ar-Ra>mi>tani> q.s.13Turun kepada:

16) Shaikh Muhammad Ba>ba> As Sama>si> q.s.14Turun kepada:

6Gelar As-S>>}iddiq yang berarti benar dan membenarkan kebenaran, dan melaksanakan kebenaran itu dalam perkataan dan perbuatan, lahir maupun batin. Beliau adalah khalifah pertama dari Khulafaur ar-Rashidin.

7 Beliau adalah murid utama Sayyidina Abu Bakar dan terkenal sebagal tokoh sufi dan tokoh ilmu alam, ilmu falak yang kenamaan.

8 Imam Ja far adalah anak cucu Sayyidina Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Siddik ra. Beliau terkenal sebagai ahli kesusasteraan dan ahli hukum dan karena keahliannya itu, serta kebenaran dan kesuciannya, menyebabkan dia sangat dihormati.

9 Gelar Sultanul Arifin berarti imam besar, orang yang mengatahui, imam tasawuf, pemimpin besar yang pertama dalam tarekat keturunan Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a.

➭ ➯

Nama lain beliau adalah Abu Ali As Samadani ➭➭

Beliau itu nasabnya sampai kepada Al-Imam Malik bin Anas ra.

12Beliau adalah aulia Allah yang mempunyai sifat dan perangai sempurna dalam menuntut ridla Allah dan sempurna abdinya kepada Allah azza wajalla.

➭ ➲

Beliau mashur dengan nama Asy-Syekh Azizan

14Beliau adalah seorang aulia Allah dari keturunan Tionghoa. Beliau senantiasa mujahadah dan musyahadah kepada Tuhan dan beliau adalah penghulu dari sekalian wali-wali Allah. Syakh Muhammad Baba As Samasi q.s hidup dalam satu zaman dengan Asy Syakh Ali Ar Ramitani dan dengan Syekh Abdul Qadir Jaelani q.s.

17) Shaikh Sayyid Amir Kulal bin Sayyid Hamzah q.s.15turun kepada: 18) Shaikh As Sayyid Baha>udi>n an-Naqshabandi> bin Muhammad Asy

Syarif Al Husaini Al Hasani Al Uwaisi Al Bukhari q.s.16 Turun kepada:

19) Shaikh Muhammad Al-Bukhari Al-Khawarizumi q.s.17 Turun kepada:

20) Shaikh Ya qub Al-Jurkhi q.s. Turun kepada:

21) Shaikh Nashiruddin Ubaidullah Al-Ahrari As-Samarqandi bin Mahmud bin Sihabuddin q.s. Turun kepada:

22) Shaikh MuhammadAz Za>hid q.s. Turun kepada anak saudara perempuannya, yaitu :

23) Shaikh Darwis Muhammad Samarqandi q.s. Turun kepada anaknya, yaitu :

24) Shaikh Muhammad Al-Khawajaki Al-Amkani As Samarqandi q.s. Turun kepada;

25) Shaikh Muayyiddin Muhammad Al-Ba>qi Billah q.s. Turun kepada anak cucu Amirul Mukminin Sayyidina Umar Al Faruq r.a, yaitu ; 26) Shaikh Akhmad Al-Fa>ru>qi As Sirhindi q.s18Turun kepada anaknya,

yaitu;

15 Shaikh Sayyid Amir Kulal adalah raja di tanah Arab yang besar dan dia bergelar sayyid mempunyai keturunan bangsawan, dan beliau adalah guru hakikat dan makrifat.

16 Beliau sebagai imam ➺➻➼➽➾➻➺ A➚ ➪➶➻➹ ➘➴ ➻➷ ➻➚ ➬➮ yang terkenal namanya dengan Syah ➶➻➹ ➘➴ ➻➷ ➻➚ ➬➮, beliau meletakkan dasar-dasar zikir➹ ➻➱➷➮ yang ➘➮➼➼➮, zikir batin qalbi yang tidak berbunyi dan tidak bergerak, dan beliau meletakkan kemurnian ibadat semata-mata➱➮➱ ➱➻>➴➮➺➻✃➻➱➻>, tergambar dalam do a beliau yang diajarkan kepada murid-muridnya "I➱➻>➴➮➮ ➻➚ ➺➻ ❐ ➻➾➘❒❮>➬➮>❰ ➻ ➼➮ ➬ ❒➻➾> ❐ ➻➺ ❒➱❮>➷➮>". Secara murni meneruskan ibadah Ï❒➻➼➮➹➻➺❮➘ Ð➮➼➼➮Ñ➻➴ zaman Rasulullah, Ï❒➻➼➮➹ ➻ ➺❮➱Ò➷ ❮➬➮Ñ➻➴zaman Abu Bakar Siddiq danÏ❒➻➼➮➹➻➺❮ ➘Ð❒➮ ➬➬➮➹➮Ñ➻➴zaman Salman al Farisi. Beliau amat masyhur dengan keramat-keramatnya dan makmur dengan kekayaannya, lagi terkenal sebagai wali akbar dan wali quthub yang afdhal, yang amat tinggi hakikat dan makrifatnya. Dari murid-muridnya dahulu sampai dengan sekarang, banyak melahirkan wali-wali besar di Timur maupun di Barat, sehingga ajarannya meluas ke seluruh pelosok dunia. Beliau pulalah yang mengatur pelaksanaan iktikaf atau suluk dari 40 (empat puluh) hari menjadi 10 (sepuluh) hari, yang dilaksanakan secara efisien dan efektif, dengan disiplin dan adab suluk yang teguh.

Ó Ô

Beliau lebih mashur dengan namanya Saikh Alaudin AI-At}a>ri q.s. ÓÕ

27) Shaikh Muhammad Ma s}um q.s. Turun kepada anaknya, yaitu: 28) Shaikh Muhammad Saifuddin q.s. Turun kepada:

29) Shaikh Asy Syarif Nur Muhammad Al-Badwani q.s. Turun kepada: 30) Shaikh Habibullah Syamsuddin q.s. Turun kepada:

31) Shaikh Abdullah Ad Dahlawi q.s.19Dari beliau turun kepada; 32) Shaikh Maulana Khalid al-Baghdadi q.s. Turun kepada; 33) Shaikh Abdullah Al Afandi qori>n q.s. Turun kepada: 34) Shaikh Isma>il al-buru>si q.s.20Dari beliau turun kepada:

35) Sayyidi Shaikh Sulaiman Afandi Jabal Qubais q.s. Dari beliau turun kepada:

36) Shaikh Muhammad Sholeh, Kutoharjo Jawa tengah. Dari beliau turun kepada:

37) Shaikh Minhaj, Kebonsari Trenggalek. Dari beliau turun kepada menantunya yang alim lagi Saleh, yaitu:

38) Shaikh Mustofa, Tegal Arum Kertosono. Dari beliau turun kepada: 39) Shaikh Amnan, Talok Ngawi. Dari beliau turun kepada:

40) Shaikh Munawir, Tegal Arum Kertosono. Dan Shaikh Bahruddin Kalam, Carat Gempol Pasuruan. Dari beliau turun kepada putra: 41) Kiai M. Sholeh Bahruddin, Sengonagung Pasuruan. Dari beliau

turun kepada:

42) H. Agus Saikhu dan H. Agus Fadlan, Sengonagung Pasuruan.21 2. ØÙÚÛÜ ÙÝÙÞßàá âãä Úä å Ùæç ÙÙÞß èÙéê ë Ùì Ùí ãä åÙ ækiai Sholeh Bahrudin

1) Allah SWT. Turun kepada:

î ï

Syekh Abdullah nasabnya sampai kepada Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhahu.

ð ñ

ò óô õö ÷ö øö ôöù orang yang alim lagi Saleh, yang Senantiasa tafakkur dan muraqabah, baqa billah siang dan malam kepada Tuhan khaliqul alam, dan dari beliau nyata kebesarannya serta kemuliaannya, dan adalah penghulu sekalian khalifah dan ikutan sekalian orang yang suluk. ðî

Data diambil dari Wawancara, Dr. H. Saifulah, MHi, selasa 20 september 2016 dan KH. Imam Hambali,ú ûü ûý þÿ> û✁Iûýþ✂ ûý> , (Sukorejo-Blitar,û✁ý✄ û>☎ þúúûú ✆✝ ✝þ✞> , tth), 38-41.

2) Malaikat Jibril, turun kepada:

3) Sayyidina Nabi Muhammad SAW, turun kepada: 4) Sayyidina Ali bin Abi Thalib, turun kepada: 5) Sayyidina Khusein bin fatimah, turun kepada: 6) Sayyid Imam Zainul Abidin, turun kepada: 7) Sayyid Muhammad Baqir, turun kepada: 8) Sayyid Ja far Shodiq, turun kepada: 9) Sayyid Musa al-Kaz}im, turun kepada:

10) Sayyid Abi Hasan Ali bin Musa, turun kepada: 11) Sayyid Ma ruf al-Karh}i, turun kepada:

12) Sayyid Sirri as-Saqot}i, turun kepada:

13) Sayyid Abi al-Qasim al-Juanid, turun kepada: 14) Sayyid Abi Bakri al-Sibli, turun kepada: 15) Sayyid Abdul Wahid al-Tami>mi, turun kepada: 16) Sayyid Abi al-Faraj al-t}urt}usi>, turun kepada:

17) Sayyid Abi al-H}asan Ali a-Muhakari, turun kepada: 18) Sayyid Abi Said al-Muba>rok, turun kepada:

19) Sayyid Abdul Qodir al-Jaelani, turun kepada: 20) Sayyid Abd al-Azizi, turun kepada:

21) Sayyid Muhammad al-Hattak, turun kepada: 22) Sayyid Shamsudin, turun kepada:

23) Sayyid Sarofuddin, turun kepada: 24) Sayyid Nuruddin, turun kepada: 25) Sayyid Waliyuddin, turun kepada: 26) Sayyid h}isamuddin, turun kepada: 27) Sayyid Yahya, turun kepada: 28) Sayyid Abi Bakar, turun kepada: 29) Sayyid Abdurrah}i>m, turun kepada: 30) Sayyid Usman, turun kepada:

31) Sayyid Abdul Fattah, turun kepada: 32) Sayyid Muhammad Mura>d, turun kepada: 33) Sayyid Shamsudin, turun kepada:

34) Sayyid Khotib Sambas, turun kepada: 35) Shaikh Abdul Karim, turun kepada: 36) Shaikh Zarkasi Barja>n, turun kepada: 37) Shaikh Umar Payaman, turun kepada: 38) Shaikh Ali Sempu, turun kepada: 39) Shaikh Izuddin, turun kepada:

40) Shaikh Munawir, Tegal Arum Kertosono. Dan Shaikh Bahruddin Kalam, Carat Gempol Pasuruan. Dari beliau turun kepada putra: 41) Kiai M. Sholeh Bahruddin, Sengonagung Pasuruan.22

. r✏ ✑✒✓ ✔✕ ✒v✖✗ ✒r ts ✙✚ ✛✜ ✘rt✘✎ ✘✚✘✕sur

1. Visi, Misi dan Tujuan Universitas

V✒✗ ✒

Menjadikan Universitas sebagai wahana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, humaniora dan/atau seni yang berlandaskan tata nilai kehidupan masyarakat religius pluralistik untuk mengupayakan sarjana profesional, berdaya saing dan bermartabat .

Visi tersebut menggambarkan kondisi masa depan yang diharapkan oleh seluruh pemangku kepentingan yaitu Universitas Yudharta Pasuruan di masa yang akan datang menjadi perguruan tinggi yang memiliki kelebihan dalam hal kelembagaan dan pengelolaannya, serta menghasilkan lulusan yang profesional, berdaya saing, bermartabat. Visi

Dokumen terkait