• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERANAN PERUSAHAAN JASA PENILAI BAGI

A. Peranan Perusahaan Jasa Penilai bagi Perbankan dalam

Menurut Bapak Dodi Ansharri ST.MAPPI Pimpinan Perusahaan Cabang Medan bahwa Peranan Perusahaan Jasa penilai hasil-hasil laporan penilaian merupakan salah satu tujuan yang digunakan sebagai dasar pengeluaran kredit pihak bank50

Proses melakukan penilaian sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 7 Surat Keputusan Menteri Keuangan No.57/KMK.017/1996 bahwa Usaha Jasa Penilai mempunyai kegiatan pokok penilaian. Untuk melakukan kegiatan penilaian, seorang penilai harus melalui beberapa tahap yaitu :

.

51

a. Identifikasi semua unsur yang berkaitan dengan kegiatan penilaiaan : 1) Identifikasi Aktifa/Barang

Dalam hal ini si penilai akan melakukan penelitian berupa pemeriksaan terhadap semua barang yang menjual objek penilaian, apakah barang tersebut berbentuk barang bergerak, barang tidak bergerak berupa

50

Wawancara dengan Bapak Dodo Ansharri ST.MAPPI Pimpinan Perusahaan Cabang Medan, Tgl 2 Agustus 2011.

51

Aspek-Aspek Hukum Perusahaan Jasa Penilai, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2000), Hal 27

gedung tanah, peralatan perkantoran, mesin-mesin dan lain-lain, semua diidentifikasi secara rinci.

b. Identifikasi Hak/Status

Setelah semua aktifa/barang diidentifikasi diteliti bagaimana status hukum barang-barang tersebut, misalnya status hukum tanah/gedung (hak milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, atau Hak Pakai), dan demikian juga barang-barang lainnya, sehingga jelas.

c. Nilai Per Tanggal

Dalam melakukan penilaian harus dipastikan kapan dilakukan, karena suatu barang apabila dilakukan penilaian pada kondisi yang berbeda pula, misalnya, penilaian yang dilakukan pada 5 tahun yang lalu akan berbeda dengan penilaian 5 tahun mendatang, karena barang yang akan dinilai tersebut akan terpengaruh dengan kondisi fisik, fungsi, bentuk dan model (misalnya berbentuknya tidak utuh seperti semula atau modelnya tidak sesuai dengan keadaan saat itu dan sebagainya).

d. Tujuan Penilaian

Jasa penilai dapat digunakan oleh perorangan, Badan Usaha, Pemerintah, dengan tujuan penilaian yang berbeda-beda, seperti :

1) Pemerintah :

a) Pengenaan taraf pajak

b) Menghitung kekayaan nasional c) Mengetahui kekayaan Negara

e) Hibah termasuk bantuan dari pihak lain

f) Penilaian peroyek sebelum diserahkan kepada Pemerintah g) Penutup Asuransi

h) Jual beli

i) Pembebasan Tanah dan lain sebagainya

j) Penilaiaan sarana umum (public utilities) untuk penentuan tariff yang wajar seperti PLN,Perumtel, Jalan Tol, dll

2) Bank :

a) Dasar pengeluaran kredit atau pinjaman b) Jaminan Hipotek

c) Dasar perhitungan untuk dijual bila harus dilelang d) Menghitung kekayaan Bank atau Nasabah dll 3) Asuransi :

a) Dasar pengenaan tarif polis

b) Dasar untuk menetapkan ganti rugi c) Jaminan dan lain sebagainya 4) Perusahaan

a) Pengabungan pemecahan usaha

b) Mengetahui posisi keuangan perusahaan c) Keperluan manajemen

d) Permodalan kredit e) Menutup asuransi

g) Dasar penetapan harga bila aktifa tersebut akan dijual beli dan lain sebagainya

5) Badan Pelaksana Pasar Modal :

a) Penentu nilai aktifa perusahaan yang go public b) Penentu nilai saham, dan lain sebagainya 6) Lembaga Lelang :

a) Menetapkan dasar harga lelang, dan lain sebaginya 7) Pribadi Peroragan Masyarakat :

a) Hibah

b) Pengabungan pendirian pembagian usaha dan harta c) Pembagian harta dan warisan

d) Jual beli/lelang e) Menutup asuransi

f) Menetapkan kredit/jaminan hipotek

g) Pengenaan tarif pajak bumi dan bagunan dan lain sebagainya 8) Pihak-pihak lain yang berkepentingan seperti prusahaan Leasing

dan lain-lain :

Dengan demikian tergantung keperluan si pemohon untuk apa penilaiaan tersebut. Oleh karena itu hasil penilaian akan memberikan hasil yang berbeda sesuai dengan tujuan penilaian. 9) Batasan Nilai yaitu meliputi bagaimana nilai pasar wajar dan nilai

b. Melakukan survey pendahuluan dan rencana penilaian

Pada tahap ini si penilai akan melakukan kegiatan antara lain : 10) mencari data yang dibutuhkan

11) mencari sumber data 12) kebutuhan tenaga kerja 13) melakukan penjadwalan

14) membuat bagan harus penyelesaian c. Tahap pengumpulan data

Setelah melakukan survei pendahuluan dan penyusunan rencana kerja penilaian, si penilai melakukan pengumpulan data ke lapangan dan menganalisanya. Data yang dicari dan dianalisis adalah :

a) Data umum meliputi :

1) Lokasi yaitu wilayah kota lingkungan objek penilaian : 2) Ekonomis yaitu melakukan :

i. Analisis pasar ii. Finansial

iii. Pertimbangan ekonomis iv. Arah perkembangan b) Data khusus yaitu :

1) Jenis Kekayaan Hak Milik

i. tempat kedudukan aktiva barang fisik ii. Penggunaan maksimal

2) Perbandingan i. Biaya

ii. Harga jual, sewa iii. Pengeluaran iv. Dan lain-lain

d. Tahap melakukan penerapan tiga pendekatan yaitu : 1) Bagaimana dengan pendekatan biaya

2) Bagaimana dengan pendekatan data pasar 3) Bagaimana dengan pendekatan pendapatan. e. Melakukan pemaduan indikasi nilai

f. Melakukan penaksiran akhir atas nilai aktiva yang bersangkutan

Keenam tahapan diatas merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap penilai agar apa yang dilakukan tidak merugikan pihak yang memberikan amanat untuk dinilai. Untuk lebih jelas, perhatikan skema proses penilaian di bawah ini.

PROSES PENILAIAN BATASAN MASALAH Identifikasi Aktiva/barang Identifikasi Hak/status Nilai Per tanggal Tujuan penilaian Batasan nilai

SURVEY PENDAHULUAN DAN RENCANA PENILAIAN Data yang dibutuhkan Sumber data Kebutuhan tenaga kerja

Jadual Bagan arus

penyelesaian

PENGUMPULAN DATA DAN ANALISIS

Data Umum Data Khusus

Lokasi Ekonomis Jenis kekayaan

Hak milik

Perbandingan

Wilayah Analisa pasar Tempat Biaya

Kota Finansial Kedudukan Harga jual

Lingkungan Pertimbangan Ekonomis Aktiva barang Fisik Penggunaan Sewa Pengeluaran DST Arah perkembangan

Maksimal Lain -lain

Sumber : Aspek-Aspek Hukum Perusahaan Jasa Penilai. PENERAPAN TIGA PENDEKATAN

Biaya Data Pasar Pendapatan

PEMANDUAN INDIKASI NILAI

TAKSIRAN AKHIR ATAS NILAI AKTIVA BARANG YANG BERSANGKUTAN

Agar tidak terjadi penilaian yang sifatnya subjektif dan salah, maka penilaian dilakukan berdasarkan pedoman penilaian yang telah disepakati bersama yaitu Standar Penilaian Indonesia (SPI). SPI adalah pedoman dasar pelaksanaan tugas penilaian secara profesional yang sangat penting artinya bagi seorang penilai untuk menghasilkan kajian berupa analisis, pendapat dan saran-saran dengan menyajikannya dalam bentuk laporan penilaian, sehingga tidak akan terjadi salah tafsir bagi seorang pemakaia jasa dan masyarakat pada umumnya. Untuk itu dalam melaksanakan tugasnya, seorang penilai harus memiliki integritas, objektivitas, idenpendensi, dan perilaku yang etis dan tunduk kepada Kode etik Penilaian Indonesia (KEPI).

Dalam standar penilaian indonesia (SPI) ada 5 macam standar penilaian yang harus diikuti oleh setiap penilai, yaitu :

1. Standar Penilaian tentang Metode Penilaian

1. Penilaian wajib menggunakan pendekatan penilaian yang ada. Apabila menggunakan suatu pendekatan penilaian diluar yang telah ditetapkan, maka harus dijelaskan alasannya.

2. Bilamana menggunakan pendekatan Perbandingan Data Pasar, maka penilai harus meneliti, menganalisis dan merekonsiliasi hal-hal sebagai berikut :

a. Data pasar yang digunakan sebagai perbandingan

b. Data perbandingan yang tersedia harus cukup, sesuai peruntukan dan dapat diterapkan dalam penilaian

c. Perjanjian jual-beli, harga permintaan dan penawaran yang diajukan dari properti lain yang relevan untuk properti yang dinilai.

3. Bilamana menggunakan Pendekatan Kalkulasi Biaya maka penilai harus meneliti, menganlisis dan merekonsiliasi hal-hal sebagai berikut :

a. Bangunan dan sarana perlengkapan lainya.

1) Data-data biaya yang tersedia dan dapat diperbandingkan untuk mengestimasikan biaya reproduksi baru dari semua pengembangan yang ada di tempat itu.

2) Data yang tersedia yang dapat diperbandingkan guna menentukan selisih antara biaya reproduksi baru dan nilai kini dari pengembangan tersebut.

b. Tanah dinilai dengan menggunakan pendekatan perbandingan data pasar sebagaimana dikemukakan dalam butir-butir tersebut diatas. 4. Bilamana menggunakan pendekatan kapitalisasi pendekatan, maka penilai

harus meneliti, menganalisa dan merekonsiliasi hal-hal sebagai berikut : a. Data sewa dari properti yang sebanding yang dapat dipakai untuk

mengestimasi pasaran sewa properti yang dinilai :

b. Data tingkat hunian (occupancy rate) dari properti sejenis untuk mengestimasi tingkat hunian dari properti yang dinilai

c. Biaya-biaya operasional dari properti lain yang sebanding yang dapat dipakai untuk memperkirakan biaya operasional dari properti yang dinilai

d. Data pembanding yang dipakai untuk menentukan angka kapitalisasi.

5. Bilamana digunakan pendekatan lain atau kombinasi dari pendekatan yang disebut diatas, harus dijelaskan alasan menggunakan pendekatan tersebut dan harus didukung oleh data pasar.

2. Standar Penilaian tentang Asumsi dan Syarat Pembatasan

Agar pemakai jasa dapat dengan jelas mengetahui batasan dan tanggung jawab seorang. Penilaia, maka dalam laporan penilaian perlu dicantumkan asumsi dan syarat pembatasan sebagai berikut :

1) Semua pernyataan dan data yang tercantum dalam laporan adalah benar adanya dan sesuai dengan pengetahuan dan itikad baik penilai.

2) Semua tuntutan gugatan sengketa dan hiptek yang masih berjalan dapat diabaikan jika properti yang dinilai seolah-olah bersih di bawah tanggung jawab pemilik.

3) Penilai telah melakukan inspeksi atau penelitian fisik secara langsung atas properti yang dinilai.

4) Penilai sama sekali tidak mempunyai kepentingan finansial atau apapun terhadap properti yang dinilai untuk sekarang dan masa mendatang.

5) Biaya untuk penilaian ini tidak tergantung pada besarnya nilai properti yang diperoleh atau yang tercantum dalam laporan

6) Mesin dan/atau perlengkapan didaftar sebagai kesatuan unit yang lengkap. Daftar mesin dan/atau perlengkapan tersebut termasuk alat-alat dan perlengkapan yang secara teknis meliputi satu kesatuan unit.

7) Nilai dicantumkan dalam mata uang rupiah, dan atau equivalennya atas permintaan pemberi tugas

8) Penilai yang melakukan penilaian atas properti tertentu tidak otomatis wajib memberikan kesaksian dan kehdairan dalam pengadilan atau instansi lainnya lainnya yang berhubungan dengan properti tersebut kecuali telah ada perjanjian sebelumnya.

9) Laporan tidak sah apabila tidak dibubuhi tanda tangan penilai.

3. Standar Penilaian tentang penilaian Real Estat

Dalam melakukan penelitian, pemeriksaan properti dan mempersiapkan laporannya, seorang penilaia wajib mengikuti prosedur berikut :

a. Prosedur penilaian

1) Penilai harus mengidentifikasi sebaik-baiknya real estat yang dinilai 2) Penilai harus mempertimbangkan jangka waktu proses pengumpulan data 3) Penilai harus mengidentifikasi status hukum dan hak-hak real estat yang

dinilai

4) Penilai harus mempertimbangkan tujuan dan rencana penggunaan laporan penilaian

5) Penilai harus mengidentifikasi tanggal efektif penilai- penilaian.

6) Penilai harus melakukan pemeriksaan secara fisik dan mengidentifikasi properti yang dinilai dengan menunjuk tanda-tanda batas-batas lokasi yang tampak.

7) Penilai harus mengidentifkasi dan menegaskan pemeriksaan atas lingkungan yang dipandang relevan bagi penilaian.

8) Penilai bertanggung jawab atas keakuratan pemeriksaannya

9) Penilai yang melaksanakan penelitian properti dan lingkungannya harus menandatangani dan membubuhkan tanggal atas laporan inspeksinya/ penelitiannya

10) Penilai harus menentukan nilai atas dasar tunai.

11) Penilai harus mempertimbangkan akibat-akibat dari berlakunya peruntukan tanah dan peraturan-peraturan serta rencana tata kota yang ada 12) Penilai harus mempertimbangkan kondisi lingkungan di mana real estat

yang dinilai berada.

13) Penilai harus mempertimbangkan pemanfaatan optimum dan terbaik 14) Penilai harus mempertimbangkan kondisi hunian atas properti yang ada,

apakah kosong, disewakan atau ditempatkan sendiri.

15) Dalam pemeriksaan bangunan, penilai harus benar-benar meyakini bahwa semua kondisi bangunan dilaporkan secara rinci dan akurat.

16) Jika penilai tidak dapat melakukan pemeriksaan terhadap struktur bangunan maupun peralatan yang melengkapi, maka ia harus mempertimbangkan semua kerusakan-kerusakan fisik yang terlihat dengan jelas dan harus memperhitungkannya dalam hasil penilaiannya. 17) Penilai harus menggunakan cara-cara pengukuran yang umum berlaku di

indonesia.

b. Pendekatan Penilaian

Dalam melakukan penilaian, penilai harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut;

1) Penilai Harus menggunakan pendekatan perbandingan data pasar, kalkulasi biaya atau kapitalisasi pendapatan apabila datanya tersedia.

2) Pendekatan penilaian harus ditetapkan secara konsisten dalam suatu proses penilaian.

3) Dalam hal penilaia tidak dapat mempergunakan salah satu pendekatan tersebut diatas, maka penilaia memberikan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

4. Standar Penilaian tentang laporan penilaian real estat.

Dalam setiap laporan penilaian real estat penilaia harus menjelaskan, mencantumkan, dan melampirkan hal-hal sebagai berikut :

1) Pemberi tugas dan /atau pemilik real estat yang dinilai 2) Tanggal penilaian dan tanggal laporan

3) Identifikasi real estat yang dinilai 4) Tujuan dan ruang lingkup penilai 5) Defenisi yang digunakan

6) Uraian mengenai identifikasi lokasi, peruntukan tanah dan rencana-rencana tata kota, data lingkungan serta fasilitas-fasilitas yang tersedia. 7) Pendekatan penilaian yang digunakan

8) Uraian teknis estat yang dinilai meliputi

a. Tanah : surat bukti pemilikan, luas, bentuk, ukuran, evaluasi

b. Bangunan : jenis/ penggunaan, struktur, bahan yang dipakai, luas, tahun bangunan, pemeliharaan, kondisi, izin mendirikan bangunan.

9) Hasil penilaian akhir, termasuk nilai-nilai indikasi yang didapat dari penggunaan pendekatnya dan metode penilaian yang ada

10) Asumsi dan syarat pembatasan

11) Foto-foto , gambar situasi dan peta lokasi properti yang dinilai

5. Standar Penilaian tentang penilaian Mesin dan Peralatan

a. Prosedur Penilaian

Dalam melakukan pemeriksaan atas mesin dan peralatan seorang penilai wajib mengikuti prosedur sebagai berikut :

1) Penilai harus mengidentifikasi sebaik-baiknya mesin dan peralatan yang dinilai

2) Penilai harus mengidentifikasi status kepemilikan mesin dan peralatan tersebut.

3) Penilai harus mempertimbangkan tujuan dan rencana penggunaan laporan pernilaian

4) Penilai harus menentukan jangka waktu proses pengumpulan data 5) Penilai harus mengidentifkasi tanggal efektif penilaian

6) Penilai harus melakukan pemeriksaan secara fisik mengidentifkasi dan menguraikan spesifikasi teknis mesin dan peralatan secara garis besar 7) Penilai bertanggung jawab atas keakuratan pemeriksaan

8) Penilai yang melakukan pemeriksaan lapangan harus menandatangani dan membubuhkan tanggal pada laporan hasil pemeriksaannya.

10) Penilai harus mempertimbangkan kondisi lingkungan dimana mesin dan peralatn dan dinilai berada.

11) Penilai harus mempertimbangkan produktivitas dan efisiensi srta pemeliharaan mesin dan peralatan

12) Dalam pemeriksaan mesin dan peralatan, penilai harus meyakini bahwa semua kondisi mesin dan peralatan yang secara rinci terlihat dilaporkan dengan akurat.

b. Pendekatan Penilaian

Penilaian harus mempergunakan pendekatan perbandingan data pasar, kecuali jika data pembanding tidak tersedia, penilaia dapat mempergunakan pendekatan kalkulasi biaya.

Dari kode etik penilaian Indonesia dan SPI terdapat beberapa pokok pikiran yang perlu diperhatikan oleh setiap penilai adanya perusahaan jasa penilai yaitu :

1) Etik profesional dalam dunia penilaian yang mengutamakan kepentingan masyarakat konsumenya.

2) Etik Profesional juga mengandung maksud menjamin bahwa pengalaman profesi yang dilakukan harus senantiasa dilandasi niat yang luhur dan dengan cara yang benar

3) Dengan etik tersebut perlindungan dan penjagaan terhadap citra suatu profesi penilai ikut menentukan keberhasilan suatu upaya pelayanan kepada klien.

4) Etik profesional bertujuan memelihara kelestarian dari profesi penilai sendiri.

Dengan demikian pentingnya kode etik dan SPI tersebut, tidak saja untuk melindungi masyarakat dari perbuatan penilaia yang tidak bertanggun gjawab tetapi juga melindungi penilai dan perusahaan jasa penilai sendiri.

B. Tanggung Jawab Hukum Perusahaan Jasa Penilai yang Melanggar Kode Etik Penilaian, apabila Melawan Hukum dan Wanprestasi sehingga Menimbulkan Kredit Macet pada Pihak Bank.

Dalam peraktek Usaha Jasa Penilai, terbuka kemungkinan Penilai atau Perusahaan Penilai melakukan perbuatan tidak sesuai dengan kode etik dan cara penilaiaan. Orang-orang seperti itu dapat dimintai pertanggungjjawaban hukum seandainya masyarakat dirugikan. Pertanggungjawaban tersebut tidak saja terhadap masyarakat, tetapi juga terhadap integritas penilaiaan,asosiasi, dan sesama penilai. Mengenai dalam pertanggungjawaban ini kita dapat mengetahui dari kode etik GAPPI. Kode etik adalah kaedah profesi yang dibuat oleh anggota profesi melalui consensus dan berlaku untuk anggota kelompok. Yang menjadi kekuatan mengikat kode etik terhadap anggota yang melakukan pelanggaran maka dari itu anggota GAPPI memiliki beberapa pertanggungjawaban berdasarkan kode etik..

a. Tanggung Jawab terhadap Integritas Perusahaan Penilai yaitu :

1. Perusahaan penilai harus cukup mempunyai penilai dengan keahlian khusus yang diperlukan untuk melakukan perkerjaan penilaiaan,

seperti yang dikehendaki oleh pelanggan, apabila perusahaan penilai merasa bahwa ruang lingkup keahliannya tidak mencukupi untuk melakukan pekerjaan yang di tugaskan kepadanya seharusnya perusahaan penilai menolak pekerjaan ini.

2. Perusahaan penilai harus berusaha untuk meningkatakan pengetahuan, keahlian dan keterampilan penilaiaan dalam pekerjaan penilaiaan. 3. Perusahaan penilai harus mampu mengekang diri untuk membatasi

kepentingan pada upah jasa yang menjadi haknya. Perusahaan penilai sekali-kali tidak akan mempunyai kepentingan lain di luar upah yang ditentukan bersama antara Perusahaan Penilai dan Pelanggan.

b. Tanggung Jawab terhadap Pelanggan

1. Tanggung jawab utama dari Perusahaan Penilai terhadap pelanggannnya adalah memberikan penilaiaan yang lengkap dan teliti dan bertanggungjawab tanpa menghiraukan keinginan –keinginnan pelanggan yang sifatnya mengubah hasil penilaiannya yang objektif. Hubungan antara Perusahaan Penilaia dan Pelanggan bukanlah hubungan antara principal dan agen, meningatkan tanggung jawab Perusahaan Penilai yang lebih luas lagi terhadap masyarakat dan pihak ketiga.

2. Perusahaan Penilai harus merahasiakan hasil penilainnya kepada pihak mana pun. Laporan Penilaiannya adalah hak milik pelanggan. Oleh karenanya, perusahaan penilai tidak dapat menggunakan laporan ini

sebagai referensi atas kemampuan pekerjaan dan tidak dapat mengumumkannya tanpa persetujuan dari pelanggan.

3. Apabila jasa penilai diperlukan dalam rangka suatu perselisihan, perusahaan penilai tidak akan menyembuyikan kenyatan-kenyataan data dan pendapat-pendapat dengan maksud menguntungkan pelanggan.

4. Apabila dua pihak minta bantuan jasa penilai untuk melakukannya pada proyek yang sama, perusahaan penilai hanya menerima penguasa dari salah satu pihak saja, kecuali apabila kedua belah pihak menyetujui bahwa perusahaan penilai bekerja untuk kedua belah pihak. 5. Perusahaan penilai harus dapat memeberikan penjelasan kepada

pelanggan mengenai luasnya ruang lingkup pekerjaan yang akan dilakukannya sesuai dengan tujuan pelanggan-pelanggan atas dasar ini perusahaan penilai harus dapat memberikan perkiraaan upah jasa yang dikehendakinya.

6. Upah jasa semata-mata harus didasarkan atas jumlah jam yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan penilaian. Ini tidak mengurangi kemungkinan bahwa penugasan pekerjaan diterima oleh kedua belah pihak, asal perkiraan besarnya upah ini didasarkan atas perkiraan jumlah jam yang diperlukan dan tarif yang lazim berlaku.

c. Tanggung Jawab terhadap Masyarakat

1. Perusahaan penilai mempunyai tanggung jawab mutlak untuk tidak memberikan angka-angka penilaiaan yang keliru angka-angka sebagai hasil pekerjaan penilaiaan dapat keliru dua kali :

a) Penilaiaan keliru karena angka-angka yang diperkirakan adalah keliru, yang antara lain disebabkan karena tidak cermatnya meneliti angka-angka yang akan dipakai dalam penilaiannya dan tidak cermatnya menyaring informasi yang diperolehnya sebagai bahan-bahan peneliti.

b) Penilaiannya keliru karena titik tolak berpikirannya dalam pendekatan persoalan penilaian adalah keliru sekalipun data informasi dan angka-angka adalah tepat.

Kedua macam kekeliruan ini tidak tanggung jawab mutlak dari Perusahaan Penilai.

2. Perusahaan Penilai harus kompeten untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan penilaiaan seperti yang ditawarkan olehnya kepada calon-calon pelanggan.

3. Perusahaan Penilai harus menjunjung tinggi tanggung jawabnya terhadap masyarakat yang telah membrikan kepercayaan kepadanya, bahwa dia akan bertindak jujur dan objektif dalam melakukan profesinya.

4. Apabila pelanggan menggunakan laporan penilaiaan sebagai dasar dari tindakan-tindakan dan transaksi-transaksi, dan oleh karenanya laporan

penilaian ini jatuh pula ke tangan pihak ketiga, kejujuran dan objektivitas laporannya di jamin sekalipun terhadap pihak yang bukan pelanggannya dan bukan pemberi tugas kepadanya.

5. Kecuali tanggung jawabnya terhadap pihak ketiga seperti yang tercantum pada nomor 4 di atas, perusahaan penilai bertanggung jawab atas laporan penilaiaannya kepada masyarakat luas.

a) Tanggung Jawab terhadap Sesama Perusahaan Penilai

b) Perusahaan Penilai tidak dibenarkan untuk mencemarkan atau mencoba mencemarkan nama baik perusahaan penilai lainnya dengan memberikan ucapan-ucapan atau pernyataan-pernyataan yang tepat merugikan nama baik perusahaan penilai lainnya. c) Perusahaan penilai tidak dibenarkan untuk mnawarkan upah yang

lebih rendah kapada calaon pelanggan tertentu yang telah memperoleh penawaran dari perusahaan lain dengan harga tertentu yang kebetulan diketahui.

d) Perusahaan penilai tidak dibenarkan untuk mencoba menggeser penugasan perusahaan penilai lain dengan mengajukan dirinya sendiri dengan cara dan dalih apa pun.

Apabila kita analisis kode etik GAPPI yang terdapat 4 macam pertanggungjawaban penilai dan perusahaan penilai yaitu pertanggungjawaban terhadap integritas perusahaan penilai, Pelanggan, Masyarakat dan sesama Perusahaan Penilai. Namun kode etik hanya merupakan pedoman moral bagi penilai dalam melakukan praktek kegiatan penilai. Kode etik ini merupakan aturan

yang disepakati bersama untuk dipedomani dan ditaati oleh penilai dan perusahaan jasa penilai dan apabila terjadi pelanggaran, maka mereka akan mendapat sanksi, paling tidak mereka dikeluarkan dari asosiasi. Oleh sebab itu ketentuan hukum yang ditegaskan adalah untuk memberikan sanksi kepada pelaku malpraktek penilaian, namun dengan demikian malpraktek penilaiaan ini terjadinya di sebabkan oleh Penilai tetapi dapat juga disebabkan oleh orang yang memiliki barang melalui kerja sama ( kolusi).

Dari pengertian pertanggung jawab di atas terdapat perbuatan lanjutan yang berbeda dengan perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya. Perbuatan lanjutan tadi membawa akibat baru, akibat tersebut pada umumnya diwujudkan dalam bentuk ganti rugi material berupa :

a. Ganti rugi dalam bentuk uang.

b. Ganti kerugian dalam bentuk natura yang dilakukan atau pengembalian pada keadaan semula.

c. Pernyataan bahwa perbuatan yang dilakukan bersifat melawan hukum. d. Larangan untuk melakukan perbuatan.

e. Meniadakan sesuatu yang diadakan secara melawan hukum. f. Pengumuman keputusan atau dari sesuatu yang telah diperbaiki.

Dalam kaitannya dalam perbuatan hukum, pertanggungjawaban hukum dapat dibagi dalam beberapa macam yaitu :

a. Pertanggungjawaban Perdata. b. Pertanggungjawaban Pidana. c. Pertanggungjawaban Administrasi.

Dalam kegiatan Prusahaan Jasa Penilai, ketiga pertanggungjawaban hukum di atas dapat dikenakan kepada Perusahaan Jasa Penilai seandainya pemakai jasa merasa hasil penilaiaan tersebut pihaknya merugikan pihaknya. Pada dasarnya subjek hukum dikenakan pada ketiga pertanggungjawaban hukum tersebut. Pertanggungjawaban perdata akan selalu berhubungan dengan tindakan

Dokumen terkait