• Tidak ada hasil yang ditemukan

FORM BASELINE DATA

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Mojokerto, pada tanggal 28 Juli 1992. Penulis merupakan anak ke empat dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Slamet Yudha dan Ibu Mahviva. Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada tahun 2004 di SDN 2 Wonokusumo, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Kemudian pada tahun 2007 menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertama di SMPN 1 Mojosari. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas di SMAN 1 Mojosari dan lulus pada tahun 2010. Pada tahun yang sama, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan Mayor Manajemen Sumberdaya Lahan, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).

Penulis pernah mengikuti kegiatan lapangan yaitu IPB Goes to Field di

Kabupaten Klaten dengan tema “Pengamanan Padi Melalui Pengelolaan

Kesuburan Tanah dan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu di Kabupaten Klaten”, pada tanggal 25 Juni-21 Juli 2012. Selain itu penulis melaksanakan Kuliah Kerja Profesi bekerjasama dengan PT. Arutmin Indonesia, Perusahaan tambang batu bara di Kalimantan Selatan, selama 2 bulan dari tanggal 1 Juli sampai 23 Agustus 2013.

Selama menjalani pendidikan di Perguruan Tinggi, penulis aktif di dalam organisasi lembaga kemahasiswaan kampus. Diantaranya aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Pertanian sebagai ketua komisi II periode 2011-2012, Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (HMIT) sebagai ketua umum periode 2012-2013, dan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) sebagai menteri lingkungan hidup periode 2013-2014. Selain itu penulis juga aktif terlibat sebagai asisten praktikum mata kuliah Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra pada tahun 2012/2013, dan mata kuliah Geomorfologi Analisis Lanskap pada tahun 2013/2014.

FARIK ABSOR. Karakteristik Hubungan Infrastruktur Pertanian dan Pola Ruang Terhadap Neraca Pangan (Studi Kasus Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut). Dibimbing oleh BABA BARUS dan LA ODE SYAMSUL IMAN.

Menurut administrasi Kabupaten Garut, Kecamatan Tarogong Kidul merupakan bagian dari kawasan perkotaan Garut. Dengan masuknya Kecamatan Tarogong Kidul menjadi kawasan perkotaan Garut dan berdekatan dengan Kota Garut, ini bisa menjadi ancaman tersendiri bagi lahan pertanian pangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan lahan dan sebaran spasial lahan sawah, pengaruh infrastruktur pertanian terhadap perkembangan lahan pertanian pangan, dan kemandirian dan status pangan di Tarogong Kidul. Teknik untuk mengetahui penggunaan lahan tahun 2007 dan 2014 adalah proses dijitasi penggunaan lahan tahun 2007, interpretasi dan dijitasi penggunaan lahan aktual tahun 2014 melalui citra Ikonos tahun 2012. Pengaruh infrastruktur pertanian dihitung dari luas sawah tahun 2007 dan 2014 berdasarkan sempadan jalan 50 sampai 800 meter, dan identifikasi jaringan irigasi serta pengaruhnya terhadap produktivitas. Analisis hirarki proses dan tumpang tindih hasil analisis peta sebelumnya digunakan untuk mengetahui lahan sawah yang berpotensi rawan konversi dan kemandirian pangan lokal. Penggunaan lahan Kecamatan Tarogong Kidul didominasi oleh sawah (60.12 persen) dan pemukiman (26.33 persen). Sawah menyebar di bagian selatan dan barat. Pemukiman menyebar di bagian utara dan timur, berdekatan dengan Kota Garut yang merupakan bagian dari Kawasan Perkotaan (KP) Garut. Hasil proses analisis hirarki menunjukkan faktor sempadan jalan, status jalan, irigasi, dan produktivitas mempunyai bobot berturut-turut dari besar ke kecil adalah 0.48, 0.47, 0.04, dan 0.01. Dari peta potensi rawan didapatkan status sangat rawan terkonversi berada di dekat Garut Kota. Lokasi ini menyebar diseluruh kecamatan. Berdasarkan neraca pangan, terdapat 6 desa/kelurahan yang berstatus defisit dan 6 desa/kelurahan yang berstatus surplus. Dengan ini keadaan ketahanan pangan Tarogong Kidul berstatus surplus sampai tahun 2016.

Kata kunci : Analisis Hirarki Proses, Infrastruktur Pertanian, Lahan Sawah, Neraca Pangan

FARIK ABSOR. Characteristics of The Relationship Between Agricultural Infrastructure and Pattern Space to Food Balance Sheet (Case Study Sustainable Agricultural Land of Tarogong Kidul, Garut). Supervised by BABA BARUS and LA ODE SYAMSUL IMAN.

The availability of agricultural land in Tarogong Kidul District is threatened because Tarogong Kidul belongs to urban area of Garut. The purposes of this research are to determine, (a) the spatial distribution of land use and paddy fields, (b) the influence of agricultural infrastructure on the agricultural land development, and (c) the level of food security and status in Tarogong Kidul. The techniques to determine spatial distribution of land use in 2007 and 2014 are by digitizing process and interpretation based on IKONOS imagery in 2007 and 2012. The influence of agricultural infrastructure were measured by paddy fields area in 2007 and 2014 based on road border 50 – 800 metres, identification of irrigation network and its effect on the productivity. Hierarchy analysis process and overlay results from the previous maps were used to determine rice fields which are vulnerable to conversion and the level of local food security. Land use of Tarogong Kidul is dominated by paddy fields and settlements. Paddy fields spread out at the south and west while settlements spread out at north and east that is adjacent with urban of Garut. The results showed that road border, road status, irrigation and productivity has consecutive weights of 0.48, 0.47, 0.04, and 0.01. Based on the map, the highly vulnerable status of conversions are located near urban Garut and spread out through out the district. Based on food balance sheets, there are six villages deficit status and 6 villages surplus status. Theory this analysis of the food security status of South Tarogong will be surplus until 2016.

Keywords : Agricultural Infrastructure, Food Balance Sheet, Hierarchy Analysis

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sektor pertanian pangan memegang peran penting dalam stabilitas suatu negara, salah satunya Indonesia. Indonesia merupakan negara agraris dengan potensi hasil pertanian pangan yang besar, terutama padi sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia. Sangat krusialnya sektor pertanian di Indonesia terutama untuk mencukupi kebutuhan makanan lebih dari 200 juta orang. Tambunan (2010) menyebutkan bahwa Indonesia bukan hanya negara agraris, tetapi juga sebuah negara pertanian yang besar. Ukuran besar tidak hanya dalam arti lahan pertaniannya yang sangat luas, tetapi juga variasi komoditasnya yang sangat banyak.

Kabupaten Garut merupakan salah satu kabupaten penyangga ibukota Bandung. Dengan potensi pertanian pangan padi yang begitu besar, Kabupaten Garut menjadi salah satu daerah dengan komoditi pertanian pangan terbesar di Provinsi Jawa Barat. Tambunan (2010) mengatakan walaupun dalam beberapa tahun belakangan ini, fungsi pulau Jawa sebagai pusat utama produksi padi sudah terancam, bukan hanya karena jumlah penduduk yang membesar (sebagian besar dari jumlah penduduk di Indonesia berada di Pulau Jawa) dan laju urbanisasi meningkat pesat, tetapi juga disebabkan semakin tidak mempunyai air waduk di Jawa sebagai irigasi.

Luas sawah di Kabupaten Garut adalah 45 221 Ha, dengan penduduk sebanyak 2.345.108 orang (BPS 2012), dan standar konsumsi lokal 106 kg per kapita, maka berdasarkan neraca kebutuhan pangan diketahui Kabupaten Garut berstatus surplus, jika kebutuhan pangan tersebut dikonversikan kebutuhan lahan maka neraca kebutuhan lahan sawah di Garut saat ini termasuk surplus sebanyak 13 ribu Ha lahan sawah atau dengan prediksi pertumbuhan 25 tahun mendatang juga masih surplus sebesar 7 ribu Ha. Secara total Kabupaten Garut berstatus surplus lahan sawah, tetapi jika dilihat kondisi setiap wilayah administratif kecamatan maka terdapat beberapa wilayah yang berstatus defisit pangan saat ini dan ke depannya (Barus et al. 2012b).

Infrastruktur pertanian mempunyai pengaruh terhadap perkembangan lahan pertanian. Menurut Kalsim (2010) infrastruktur pertanian merupakan suatu bangunan fisik (struktur) pendukung pengembangan pertanian. Sarana pendukung tersebut berupa bangunan penyedia air irigasi (dam, sumur pompa), saluran irigasi dan drainase serta jalan pertanian. Irigasi mempunyai peranan penting untuk produktivitas padi. Keadaan irigasi yang tidak lagi berfungsi efektif akan berdampak pada produktivitas padi dan keberadaan lahan sawah.

Menurut Barus et al. (2012b) secara spasial, lahan P2B utama di Kabupaten

Garut berlokasi di sekitar Kota Garut. Menurut administrasi Kabupaten Garut, Kecamatan Tarogong Kidul merupakan bagian dari kawasan perkotaan Garut bersama dengan Kecamatan Tarogong Kaler, Garut Kota, Banyuresmi, dan Karangpawitan. Masuknya Kecamatan Tarogong Kidul menjadi kawasan perkotaan Garut dan berdekatan dengan Kota Garut bisa menjadi ancaman tersendiri mengingat perkembangan Kota Garut sebagai tempat peristirahatan dan turisme. Sebagai konsekuensinya Kecamatan Tarogong Kidul akan berkembang

dengan dibangunnya sarana infrastruktur jalan untuk menunjang penggunaan lahan baru berupa pemukiman dan perindustrian. Infrastruktur jalan di Kecamatan Tarogong Kidul yang semestinya digunakan sebagai sarana penunjang untuk pertanian, sehingga akan menjadi faktor penentu terjadinya alih fungsi lahan pertanian. Apabila kondisi tersebut ditambah dengan keadaan irigasi sawah yang sudah tidak berjalan efektif, maka akan berpengaruh pada produktivitas padi dan tingkat alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian akan semakin tinggi.

Dalam perencanaan LP2B yang telah dilaksanakan sebelumnya, lahan P2B seharusnya mendapatkan perlindungan sesuai dengan amanat UU 41 Tahun 2009 tentang perlindungan lahan pangan. Faktor infrastruktur pertanian mepunyai peran penting terhadap produktivitas padi, oleh karena itu karakteristik hubungan tersebut harus menjadi perhatian karena mempunyai pengaruh terhadap kamandirian pangan dan ketahanan pangan di Kecamatan Tarogong Kidul.

Tujuan

1. Analisis penggunaan lahan dan sebaran spasial lahan sawah.

2. Analisis pengaruh infrastruktur pertanian terhadap perkembangan lahan

pertanian pangan.

Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

Dalam UU No 41 tahun 2009 menyebutkan bahwa Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional (UU No 41 2009).

Barus, et al. (2012a) menyebutkan bahwa secara umum untuk menetapkan lahan

pertanian pangan di kedua studi diawali dengan penentuan prioritas lahan yang akan dilindungi dengan melihat (a) keberadaan sawah, (b) produktivitas (IP, produksi), (c) kemampuan / kesesuaian lahan, dan (d) tipe irigasi.

Ancaman konversi lahan sawah ke penggunaan non sawah sebagai dampak semakin intensifnya pembangunan permukiman dan jaringan infrastruktur, akan mengancam keberlanjutan lahan untuk produksi pangan tersebut. Kabupaten Garut sebagai salah satu kabupaten di Jawa Barat yang berkontribusi besar dalam produksi pangan tidak terlepas dari ancaman konversi sawah tersebut, Barus, et al. (2012b).

Infrastruktur Pertanian

Berdasarkan pasal 24 ayat 2 UU 41 tahun 2009 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ketersediaan infrastruktur adalah perencanaan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LCP2B) yang memperhatikan ketersediaan infrastruktur pendukung pertanian pangan antara lain sistem irigasi, jalan usaha tani, dan jembatan. Ramelan (1997) menyebutkan bahwa dalam perkembangan sifat

infrastruktur sebagai pure public good mengalami pergeseran terutama dengan

meningkatnya permintaan. Jalan raya di kota yang padat penduduk tidak dapat

lagi digolongkan sebagai pure public good karena untuk memanfaatkannya, setiap

orang harus bersaing satu sama lain untuk dapat menggunakan ruas jalan yang terbatas.

Domiri (2003) menyatakan bahwa pengaruh akses terhadap jalan lebih kuat dari akses terhadap pusat kegiatan dalam memicu terjadinya konversi lahan sawah atau lahan pertanian lainnya. Aksesibilitas jalan memiliki peran signifikan dalam mendukung semakin dinamisnya perubahan lahan. Perluasan jalan tol dan jalan provinsi mempercepat proses perubahan luas sawah ke penggunaan non sawah (Barus et al. 2012a)

Irigasi (termasuk waduk sebagai sumber air) merupakan bagian terpenting dari infrasruktur pertanian. Ketersediaan jaringan irigasi yang baik, dalam pengertian tidak hanya kualitas tetapi juga kuantitas, dapat meningkatkan volume produksi dan kualitas komoditas pertanian, terutama tanaman pangan, secara signifikan. Jaringan irigasi yang baik akan mendorong peningkatan indeks pertanaman (IP) (Tambunan 2010).

IP adalah tingkat keterseringan atau kemungkinan penanaman komoditas tertentu, seperti padi, dalam satu kalender musim tanam pada lahan sawah

setahun (umur panen padi sekitar 110 hari). Beda dengan sawah beririgasi golongan III (tiga), atau terletak di ujung jaringan irigasi sehingga hanya dapat ditanami 1 atau 2 kali musim tanam, sehingga setelah menanam padi (periode I), lalu padi (periode II), maka hanya dapat ditanami palawija (periode III).

Sistem irigasi bagi lahan-lahan pertanaman yang terdiri dari jaringan irigasi utama dan jaringan irigasi tersier. Jaringan irigasi utama meliputi bangunan-bangunan utama dan pelengkap, saluran pembawa dan saluran pembuang. Sedangkan jaringan irigasi tersier merupakan jaringan air di petak tersier, mulai air ke luar dari bangunan ukur tersier, terdiri dari saluran tersier dan kuarter, termasuk bangunan pembagi tersier dan kuarter, beserta bangunan pelengkap lainnya yang terdapat di petak tersier (Kartasapoetra dan Sutedjo 1994).

Kalsim (2010) menyatakan bahwa selama ini sarana irigasi difokuskan untuk tanaman pangan terutama padi sawah sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia. Kendala utama pada sistim irigasi padi sawah di Indonesia sekarang ini adalah biaya OP (Operasi dan Pemeliharaan) yang tersedia dari pemerintah, kurang dari biaya OP seharusnya, sehingga terjadi penurunan kemampuan irigasi yang dinyatakan dengan penurunan indek pertanaman.

Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau (UU no. 7 tahun 1996). Keberhasilan pembangunan di sektor pertanian di suatu negara harus tercermin oleh kemampuan negara tersebut dalam swasembada pangan, atau paling tidak ketahanan pangan. Walaupun prinsipnya ketahanan pangan tidak harus berarti swasembada pangan, impor yang terjamin juga menentukan ketahanan pangan. Namun demikian, idealnya, ketahanan pangan didukung sepenuhnya oleh kemampuan sendiri dalam memproduksi pangan yang dibutuhkan oleh pasar domestik (Tambunan 2010).

Suswono (2008) menyatakan sebagaimana yang diketahui bahwa

paradigma ketahanan pangan di launching pertama kali secara internasional oleh

FAO pada tahun 1996. Suatu negara, wilayah atau daerah dinyatakan memiliki ketahanan pangan jika tiga cakupan pengertian yang dikandung dalam terminologi ketahanan pangan tersebut eksis pada suatu negara, wilayah atau daerah yakni;

Pertama aspek ketersediaan (availability) dimana suplai pangan dalam suatu

negara memenuhi kebutuhan atau permintaan domestiknya, kedua, accessibility

(aksesibilitas) dimana suatu negara dikatakan memiliki ketahanan pangan yang prima jika penduduk negara tersebut memiliki akses pangan yang tinggi terhadap pangan.

Sistem Informasi Geografis

Sistem informasi geografis adalah suatu teknologi baru yang pada saat ini menjadi alat bantu (tools) yang sangat esensial dalam menyimpan, memanipulasi,

kedalam (1) cara manual, yang beroperasi memanfaatkan peta cetak (kertas/transparan), bersifat data analog, dan (2) cara terkomputer atau lebih sering disebut cara otomatis, yang prinsip kerjanya sudah dengan menggunakan komputer sehingga datanya merupakan data digital. SIG manual biasanya terdiri dari beberapa unsur data termasuk peta-peta, lembar material transparansi untuk tumpang tindih, foto udara dan foto lapangan, laporan-laporan statistik dan laporan-laporan survei lapangan. Saat ini prosedur analisis manual masih banyak dilakukan, akan tetapi dengan berjalannya waktu mungkin akan berangsur-angsur hilang. Pada kondisi di negara kita saat ini beberapa aplikasinya SIG secara manual masih sesuai, bahkan dari segi efisiensi lebih sesuai disebabkan masih banyaknya kendala pada sumberdaya manusia, peralatan, terutama biaya menggunakan sistem terkomputerkan. Disamping itu, SIG otomatis selain membutuhkan peralatan-peralatan khusus, membutuhkan keterampilan yang khusus pula, biayanya cukup mahal, terutama pada tahap awal pembentukannya. Keuntungan SIG otomatis akan terasakan pada tahap analisis dan penggunaan data yang berulang-ulang, terutama bila melakukan analisis yang kompleks dan menggunakan data yang sangat besar jumlahnya. Untuk memahami SIG otomatis, sebaiknya dilakukan bertahap melalui pemahaman SIG manual, karena sebagian besar prosedur kerjanya masih relevan (Barus dan Wiradisastra 1996).

Pengembangan model spasial lahan pertanian pangan berkelanjutan sejauh ini dilakukan dengan menggunakan data spasial, yang mempertimbangkan a) unsur aktual sawah, b) kesesuaian lahan, c) infrastruktur, dan d) produktivitas yang semuanya dapat digambarkan secara spasial. Sedangkan unsur sosial seperti e) persepsi, dan f) status neraca kebutuhan lahan, dibangun dalam unit administrasi (Barus, et al. 2012a).

Analisis Hirarki Proses

Analisis Hirarki Proses (AHP) pada dasarnya didisain untuk menangkap secara rasional persepsi orang yang berhubungan sangat erat dengan permasalahan tertentu melalui prosedur yang didesain untuk sampai pada suatu skala preferensi diantara berbagai set alternatif. Analisis ini ditujukan untuk membuat suatu model permasalahan yang tidak mempunyai struktur, biasanya ditetapkan untuk memecahkan masalah yang terukur (kuantitatif), masalah yang memerlukan pendapat maupun pada situasi yang kompleks atau tidak terkerangka, pada situasi dimana data informasi statistik sangat minim atau tidak ada sama sekali dan hanya bersifat kualitatif yang didasari oleh persepsi, pengalaman ataupun intuisi. AHP banyak digunakan pada keputusan untuk banyak kriteria, perencanaan, alokasi sumberdaya dan penentuan prioritas dari strategi-strategi yang dimiliki dalam situasi konflik.

AHP menggunakan struktur hirarkis kriteria dan kedua fungsi transformasi aditif dan perbandingan berpasangan kriteria untuk menetapkan bobot criteria (Jankowski 1995). AHP merupakan analisis yang digunakan dalam pengambilankeputusan dengan pendekatan sistem, dimana pengambil keputusan berusaha memahami suatu kondisi sistem dan membantu melakukan prediksi

diselesaikan menjadi unsur-unsur yang terpisah-pisah ; 2) penetapan prioritas, pembedaan prioritas dan sintesis; dan (3) konsistensi logis (Saaty 1991)

Waktu, Lokasi, dan Data Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penelitian berlangsung pada bulan Maret sampai bulan Agustus 2014, yang meliputi pengumpulan data, baik data primer maupun sekunder, analisis dan interpretasi data, dan survei lapangan. Pengumpulan data primer dan survei lapangan dilaksanakan di Kecamatan Tarogong Kidul, sedangkan pengumpulan data sekunder dan analisa interpretasi data dilaksanakan di Divisi Penginderaan Jauh dan Informasi Spasial, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Metode 1. Tahap Persiapan dan Pengumpulan Data

Pengumpulan data meliputi data primer dan data sekunder. Data primer terdiri dari:

a. Kuesioner Analisis Hirarki Proses

b.Dokumentasi penggunaan lahan aktual

Data sekunder disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 Data Sekunder yang Digunakan

No Data Sekunder Sumber

1 Citra Ikonos Kecamatan Tarogong Kidul

Tahun 2012 (0,5 m)

Pusdatin Kementan via Distanhort, Kab Garut

2 Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Tarogong

Kidul Tahun 2007 (Skala 1:50.000)

Dinas Tata Ruang dan Pemukiman, Kab Garut

3 Peta Administrasi Kecamatan Tarogong Kidul

(Skala 1:50.000).

Badan Informasi Geospasial

4

Data Jaringan Irigasi di Kabupaten Garut (Skala 1:50 000). Modifikasi dan Pembaruan data ke skala 1:100.000 Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Kab Garut 5

Peta dan Data Jalan di Kabupaten Garut. Diekstrasi dari data RBI Provinsi Jawa Barat (Skala 1:50.000)

Dinas Bina Marga, Kab Garut

6 Peta RTRW Kabupaten Garut Tahun

2011-2031 (Skala 1:50.000)

Dinas Tata Ruang dan Pemukiman, Kab Garut

Dari peta penggunan lahan yang telah dibuat, diidentifikasi kembali penggunaan lahan aktual tahun 2014 dengan mengacu pada citra Ikonos Kecamatan Tarogong Kidul dan Peta Administrasi Kecamatan Tarogong Kidul. Selain itu untuk mendapatkan informasi mengenai perubahan penggunaan lahan, dilakukan proses dijitasi penggunaan lahan tahun 2007 dengan mengacu pada peta penggunaan lahan tahun 2007. Dari hasil proses dijitasi penggunaan lahan pada tahun 2014, diketahui sebaran spasial lahan sawah di Kecamatan Tarogong Kidul. Terdapat delapan penggunaan lahan dilokasi penelitian berdasarkan hasil generalisasi yaitu hutan, kebun campuran, ladang, lahan terbangun, lahan terbuka, pemukiman, sawah, dan tubuh air. Informasi terkait generalisasi penggunaan lahan tahun 2007 dan 2014 disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Generalisasi Penggunaan Lahan Tahun 2007 dan 2014

No Klasifikasi Generik Tematik 2007 Ikonos 2012

1 Hutan Hutan Hutan

Pepohonan Pohon

2 Kebun Campuran Perkebunan Kebun

Campuran

3 Ladang Tegalan Ladang

Ladang

4 Lahan Terbangun Jalan Jalan

Jembatan

5 Lahan Terbuka Tanah Kosong Tanah

Kosong Pemakaman

Tambang Pasir Padang Rumput Semak

6 Pemukiman Pemukiman Pemukiman

Pendidikan dan Fasilitas Sosial

8 Tubuh Air Kolam/tambak Empang Kolam

Sungai Sungai

Sumber : Standar Nasional Indonesia Neraca Sumberdaya Alam Skala 1:25.000

3. Analisa pengaruh infrastruktur pertanian terhadap perkembangan lahan pertanian pangan

a. Analisa Sebaran Sawah Aktual

Hasil interpretasi penggunaan lahan selanjutnya diproses untuk mendapatkan sebaran sawah aktual. Berdasarkan peta sawah diketahui luas penggunaan sawah di Kecamatan Tarogong Kidul, dan informasi

mengenai luas sawah pada masing-masing desa/kelurahan.

b. Analisa Sempadan Jalan

Untuk mengetahui pengaruh jalan terhadap perubahan lahan sawah, dilakukan analisis sempadan jalan. Sempadan jalan merupakan jarak antara penggunaan lahan dari bahu jalan. Sempadan jalan pada jarak 50 dan 100 dilakukan untuk mendapatkan informasi terkait perubahan sawah dan pemukiman pada tahun 2007 dan 2014 berdasarkan status jalan. Sempadan 50 dan 100 meter merupakan alokasi lahan yang direncanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Garut untuk dialih fungsikan. Untuk mengetahui luasan sawah berdasarkan jarak dari jalan, dilakukan analisis sempadan jalan dari 50 sampai 800 m. Dari proses yang dilakukan akan diketahui pada jarak berapa luas sawah paling besar.

c. Analisa Jaringan Irigasi dan Produktivitas

Data yang dianalisa adalah data jaringan irigasi pada lahan sawah di Kecamatan Tarogong Kidul yang meliputi koneksi irigasi dengan lahan sawah. Sebaran irigasi ini berasal dari titik dibangunnya saluran-saluran

yang menghubungkan saluran input dan output di wilayah

desa/kelurahan. Analisa pengaruh sungai dan jaringan irigasi yang berada di desa/kelurahan dihubungkan dengan produktivitas padi di tempat tersebut untuk mengetahui tingkat pengaruh dan efektivitas jaringan irigasi.

d. Perhitungan Analisis Persepsi Lahan Rawan Konversi

Untuk mengetahui potensi lahan sawah terkonversi dilakukan dengan metode Analisis Hirarki Proses (AHP). AHP merupakan analisis yang digunakan dalam pengambilan keputusan dengan pendekatan sistem, dimana pengambil keputusan berusaha memahami suatu kondisi sistem dan membantu melakukan prediksi dalam mengambil keputusan. Faktor yang digunakan dalam metode AHP adalah sempadan jalan, status jalan, sistem irigasi, dan produktivitas. Untuk menentukan bobot faktor

Dokumen terkait