BAB V ANALISA DATA
5.2. Peranan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) di Desa Hilimo’asio
Pelaksanaan sebuah program akan dikatakan berperan apabila memberikan dampak atau hasil kepada si penerima program dan juga pelaksana program, hasil positif dari sebuah program akan dijadikan ukuran keberhasilan program dalam hal pelaksanaanya.
PNPM Mandiri Perdesaan yang berlangsung di Desa Hilimo’asio telah menunjukkan hasil yang positif. Hasil dari program PNPM Mandiri Perdesaan yang dilaksanakan di Desa Hilimo’asio yaitu pembangunan sarana dan prasarana jalan. Sarana dan prasarana jalan yang telah direalisasikan akan meningkatkan mobilitas masyarakat yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi dari masyarakat di Desa Hilimo’asio baik itu sandang, pangan dan papan.
5.3. Kondisi Kehidupan Masyarakat di Desa Hilimo’asio
Masyarakat di Desa Hilimo’asio sebagian besar mengandalkan tanah ladang di desanya dan tanah sawah di desa lain sebagai sumber mata pencahariannya. Oleh karena itulah, Desa Hilimo’asio memiliki wilayah seluas 987 ha yang diperuntukkan untuk perladangan. Selain tanah ladang, sebagian masyarakat lain mengandalkan tanah sawah yang berada di luar desa hilimo’asio yang dikarenakan kontur tanah di Desa Hilimo’asio tidak sesuai untuk menggarap sawah yang berada di daerah pegunungan sehingga mayoritas dari penduduk tersebut bergantung pada hasil pertanian sebagai sumber mata pencaharian. Hanya sedikit masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari pekerjaan sebagai buruh atau pegawai di desa ini. Sebagian besar penduduk desa Hilimo’asio juga mempunyai pekerjaan sampingan yakni memelihara ternak untuk mengisi waktu senggangnya di rumah jika tidak ada kegiatan penting. Walaupun demikian, dengan berbagai usaha yang dilakukan oleh masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya masih saja tingkat ekonomi dari masyarakat Desa Hilimo’asio masih jauh di bawah rata-rata. Peneliti dalam observasinya melihat bahwa dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan masyarakat sangat
susah dalam memenuhinya. Masih banyak dari masyarakat yang kekurangan dalam pemenuhan gizi, perumahan masyarakat yang sebagian besar berupa rumah semi permanen dan beratap rumbia bahkan ada yang masih berlantai tanah yang dihuni lebih dari satu keluarga.
Di Desa Hilimo’asio ini tingkat pendidikan masyarakat sangat rendah yang dapat dilihat dari responden dari peneliti yang sebanyak 50 orang sebanyak 24 orang atau sekitar 48 % masih berpendidikan SD dan Cuma segelintir orang saja yang sampai pada tingkatan sarjana dan itupun di bidang pendidikan. Kondisi ini dikarenakan tidak adanya sarana penunjang dalam pendidikan dan terutama motivasi dari masyarakat itu sendiri pada bidang pendididkan. Di Desa Hilimo’asio berdiri satu Sekolah Dasar (SD) dan baru pada tahun 2010 didirikan bangunan SMP di lingkungan SD itu juga tetapi SMP ini masih dalam bentuk gedung saja dan belum di operasionalkan. Ironisnya, walaupun telah berdiri cukup lama, SD di Desa Hilimo’asio Cuma memiliki 3 orang guru yang berstatus pegawai negeri dan salah satunya adalah Kepala Sekolah sendiri itupun kadang-kadang gurunya tidak datang ke sekolah di sebabkan faktor cuaca dan kondisi jalan yang tidak mendukung. Jadi, dapat di pastikan mutu dan taraf pendidikan di desa ini sangat rendah.
Untuk menjaga kesehatan dari masyarakat desa, pemerintah telah mendirikan pusat pelayanan terpadu (POSYANDU) di desa. Namun, kesehatan masyarakat tidak dapat di dukung sepenuhnya oleh program pemerintah tersebut disebabkan kedatangan petugas kesehatan ke Posyandu tersebut cuma sekali dalam dua minggu yang berakibat pada tidak berfungsinya Posyandu sesuai dengan fungsinya untuk menjaga kesehatan masyarakat desa. Apabila ada masyarakat yang sakit keras dan petugas kesehatan tidak berada di Posyandu maka masyarakat akan menuju ke Puskesmas yang ada di kecamatan untuk berobat dan sebagian besar masyarakat desa lebih memilih berobat dengan mengunakan obat-obatan
tradisional dikarenakan biaya untuk berobat ke Puskesmas ataupun ke Rumah Sakit tidak terjangkau olh masyarakat.
Negara terbentuk karena ada masyarakat, masyarakat membentuk komunitas dalam suatu kelembagaan yang di motori oleh segelintir orang sebagai pemimpin dan pengayom mereka. Di Desa Hilimo’asio lembaga resmi yang ada di desa adalah Kepala Desa dan aparat-aparat di bawahnya yang didukung oleh badan permusyawaratan desa (BPD) yang berfungsi sebagai mitra pemerintahan desa yang terdiri dari tokoh adat, tokoh masyarakat dan warga yang di tokohkan dalam desa tersebut yang berfungsi mengayomi adat istiadat, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat desa serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa. Di desa ini tidak ada lembaga atau organisasi masyarakat resmi selain dari pemerintahan desa dan BPD sendiri.
Kehidupan masyarakat di Hilimo’asio tidak lebih baik dibandingkan desa lainnya di Kecamatan Idanogawo. Hal ini disebabkan Desa Hilimo’asio merupakan desa yang bisa dikatakan sedikit terisolir yang disebabkan tidak adanya moda transportasi yang bisa melewati desa ini untuk menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat. Masalah ini disebabkan oleh faktor alam dan kondisi wilayah dimana desa ini berada. Untuk masuk ke wilayah Desa Hilimo’asio ini harus melewat sungai yang cukup lebar dengan arus yang cukup deras dan tidak adanya jembatan yang menyambungkan desa ini ke desa lainnya. Sehingga dapat peneliti simpulkan bahwa masyarakat di Desa Hilimo’asio masih berada di bawah garis kemiskinan karena tidak adanya geliat ekonomi yang signifikan. Namun, seiring dengan adanya program PNPM Mandiri Perdesaan yang telah menjalankan fungsinya yang salah satunya dengan pembangunan infrastruktur berupa pengerasan jalan sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat desa
PNPM Mandiri Perdesaan adalah program untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan. Pendekatan PNPM Mandiri Perdesaan merupakan pengembangan dari Program Pengembangan Kecamatan (PPK), yang selama ini dinilai berhasil. Beberapa keberhasilan PPK adalah berupa penyediaan lapangan kerja dan pendapatan bagi kelompok rakyat miskin, efisiensi dan efektivitas kegiatan, serta berhasil menumbuhkan kebersamaan dan partisipasi masyarakat.
Masyarakat desa terutama dari rumah tangga miskin merupakan sasaran dari PNPM Mandiri Perdesaan sekaligus juga sebagai pelaku utama dari setiap tahapan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan. Mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian. Sedangkan pelaku-pelaku lainnya dari aparat dan konsultan di tingkat desa, kecamatan, kabupaten dan seterusnya lebih berperan sebagai fasilitator, pembimbing dan pembina agar tujuan, prinsip, kebijakan, prosedur dan mekanisme PNPM Mandiri Perdesaan dapat tercapai dan dilaksanakan secara benar dan konsisten.
PNPM Mandiri Perdesaan dilaksanakan oleh masyarakat, artinya keberadaan masyarakat dalam program merupakan hal yang utama. Masyarakat ikut terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan hingga pengendalian program. Dimana azas Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan adalah Dari , Oleh, Untuk, Masyarakat (DOUM).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dari hasil wawancara dan juga angket, dapat dilihat dari jawaban para informan seperti jawaban yang dikatakan oleh penanggung jawab operasional kegiatan di Kecamatan bahwa pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan adalah berasal dari usulan masyarakat. Pelaksaan PNPM Mandiri Perdesaan dimulai dari Sosialisasi dan penyebaran informasi program. Baik secara langsung melalui fórum-forum pertemuan maupun dengan mengembangkan/ memanfaatkan media/ saluran informasi masyarakat di berbagai tingkat pemerintahan. Selanjutnya Masyarakat melakukan
musyawarah untuk menentukan daftar usulan kegiatan/ kebutuhan desa, musyawarah ini dilakukan oleh masing-masing desa yang ada di Kecamatan Idanogawo. Tim penulis Usulan Desa akan membuat laporan gagasan-gagasan kegiatan yang telah ditetapkan dalam musyawarah desa dan musyawarah desa khusus perempuan menjadi usulan desa. Selanjutnya hasil musyawarah tersebut diberikan kepada Tim Pelaksana Kegiatan (TPK). Dalam pelaksanan PNPM Mandiri Perdesaan untuk menentukan program apa yang diproritaskan, maka dilakukan rembuk warga ( musyawarah). Selain itu juga dilakukan Musyawarah Antar Desa (MAD) untuk dapat mendengarkan saran-saran serta pendapat masyarakat terhadap kegiatan yang dilaksanakan dari PNPM Mandiri Perdesaan ini. Penentuan lokasi atau desa yang di prioritaskan untuk menerima program PNPM ini juga atas usulan masyarakat yang hadir pada MAD.
Dalam forum musyawarah, masyarakat memilih anggotanya sendiri untuk menjadi Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) di setiap desa untuk mengelola kegiatan yang diusulkan desa yang bersangkutan dan mendapat prioritas pendanaan program. Fasilitator Teknis PNPM Mandiri Perdesaan akan mendampingi TPK dalam mendesain sarana/ prasarana (bila usulan yang didanai berupa pembangunan infrastruktur perdesaan), penganggaran kegiatan, verifikasi mutu dan supervisi. Para pekerja yang terlibat dalam pembangunan sarana/ prasarana tersebut berasal dari warga desa penerima manfaat
Setelah menentukan prioritas usulan kegiatan desa, maka Tim Pelaksana Kegiatan akan membuka pelelangan dalam pembangunan sarana dan prasarana usulan kegiatan desa. Peserta dari pelelangan ini dapat berasal dari badan usaha, LSM, Koperasi ataupun perorangan yang memiliki kesanggupan dalam penyediaan barang dan jasa yang dibutuhkan dalam pembangunan sarana dan prasarana.
Selama pelaksanaan kegiatan, TPK harus memberikan laporan perkembangan kegiatan minimal dua kali dalam pertemuan terbuka desa, yakni sebelum program mencairkan dana
tahap berikutnya dan pada pertemuan akhir, dimana TPK akan melakukan serah terima kegiatan kepada desa, serta badan operasional dan pemeliharaan kegiatan atau Tim Pengelola dan Pemelihara Prasarana (TP3).
Pembangunan sarana dan prasarana akan di pantau langsung oleh Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK). Dan setiap bulannya PJOK akan memberikan laporan kepada PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Nias mengenai pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di Kecamatan Idanogawo.
Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan yang berlangsung di Kecamatan Idanogawo khususnya Desa Hilimo’asio adalah pembangunan fisik. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan para informan, dapat dikatakan bahwa proses pelaksanaan kegiatan di Desa Hilimo’asio telah berlangsung dengan baik. Pemberdayaan adalah bagian dari tujuan PNPM Mandiri Perdesaan. Sebagai proses, pemberdayaan merupakan serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan. Sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial seperti kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencarian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.
Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan para informan, dapat dikatakan bahwa proses pemberdayaan itu sudah terlaksana. Seperti yang dikatakan oleh informan yakni ketua tim pelaksana kegiatan yang mengatakan bahwa yang menjadi sasaran dalam PNPM ini adalah masyarakat yang perekonomiannya lemah, rumah tangga miskin. Begitu juga dengan keikutsertaan masyarakat yang menjadi sasaran program, dapat dilihat dari peran serta masyarakat Desa Hilimo’asio yang berpartisipasi dalam pelaksanaan PNPM
dan hal itu sudah terarah artinya sudah langsung ditujukan kepada yang memerlukan dan sesuai dengan kebutuhannya. PNPM Mandiri Perdesaan telah melaksanakan proses pemberdayaan dengan memberikan pendampingan, penyuluhan serta pelayanan melalui pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur pada proses pembangunan fisik berupa jalan.
Dengan adanya pembangunan fisik dari PNPM Mandiri Perdesaan berupa infrastruktur akan sangat membantu proses masyarakat agar lebih berdaya. Karena pada intinya, menyelesaikan suatu permasalahan yang merupakan masalah umum akan lebih gampang bila dibahas dan diselesaikan secara bersama-sama. Walaupun dalam pelaksanaan kegiatan PNPM di desa ini hanya sebagian masyarakat yang turut serta dalam pelaksanaannya tetapi mereka sudah dapat menikmati hasilnya dengan adanya PNPM Mandiri Perdesaan tersebut dalam hal mencari kebutuhan yang mereka perlukan dan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan mereka tersebut.
5.5. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Administrasi Pembangunan
1. Mengembangkan pendapatan masyarakat dan desa. Kesejahteraan masyarakat selalu
memiliki porsi terbesar dari sisi pendapatan masyarakat. Untuk mengembangkan pendapatan masyarakat perlu dukungan dari pihak-pihak lain yang memiliki kemampuan di bidang tersebut misalnya Kepala Desa sebagai pemimpin dalam masyarakat. Seorang pemimpin harus memperhatikan dan mengayomi kehidupan warganya, dengan demikian Kepala Desa harus memikirkan bagaimana mengembangkan pendapatan warganya misalnya dengan memelihara serta mengembangkan potensi yang ada di desa. Karena masyarakat di Desa Hilimo’asio sebagian besar adalah petani, maka Kepala Desa mengajak penyuluh pertanian untuk meningkatkan hasil pertanian dan melakukan inivasi baru dengan bercocok tanam dengan berbagai varian tanaman sehingga lebih
memperkaya masyarakat untuk meningkatkan pendapatannya. Cara lain dalam meningkatkan pendapatan adalah dengan mengadakan kegiatan kerajinan masyarakat desa misalnya perabotan rumah tangga dan sebagainya dengan memanfaatkan sumber daya alam di desa yang harus terus di pantau oleh Kepala Desa dan mendatangkan orang-orang yang ahli dalam kerajinan tersebut untuk membimbing pengrajin serta mempromosikan hasil kerajinan.
2. Membina, mengayomi dan melestarikan nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat.
Sebagai pemimpin yang mengetahui kedudukan, tugas pokok dan wewenangnya, Kepala Desa sangat berperan dalam kegiatan kemasyarakatan dengan membina masyarakat dalam kehidupan yang harmonis dalam komunitasnya serta mengayominya dan turut serta menghimbau masyarakat dalam berperan aktif dalam kegiatan keagamaan, organisasi sosial dan politik. Bangsa yang besar harus menghargai budayanya, dengan menghargai budaya masyarakat akan mengetahui sisi sejarah kehidupan masyarakat terdahulu dengan berbagai hal yang istimewa dan unik yang dapat menjadi tolak ukur dalam kehidupan sekarang ini. Kepala Desa dan perangkat desa yang lain harus mendorong masyarakat dalam melestarikan budaya dengan menerapkan di dalam kehidupan sehari-hari dan mendirikan sanggar-sanggar seni serta pementasan budaya untuk selalu mengingatkan masyarakat tentang budaya bangsanya.
3. Memberdayakan masyarakat dan kelembagaan desa. Pemberdayaan masyarakat desa
dapat dilakukan dengan memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memenuhi kehidupan dengan menumbuhkembangkan segenap kemampuan dan kepercayaan diri masyarakat yang menunjang kemandirian mereka, melindungi masyarakat terutama kelompok-kelompok
lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari terjadinya persangan yang tidak seimbang apalagi tidak sehat, penghapusan segala jenis diskriminasi yang tidak menguntungkan rakyat kecil, menyokong masyarakat agar tidak terjatuh kedalam keadaan dan posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan serta menjamin keselarasan dan keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha. Itu semua bisa dilaksanakan oleh pemerintah desa dengan selalu membeikan pelayanan yang baik kepada masyarakat, membimbing, menyuluh, mengayomi serta mengawasi masyarakat yang dilaksanakan dengan memperbaiki kelembagaan yang lebih transparan dan berpihak kepada masyarakat.
4. Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup. Kepala
desa sebagai pimpinan tertinggi dalam organisasi pemerintahan desa harus memiliki inovasi dalam mengembangkan sumber daya alam yang ada di wilayahnya. Khusus di desa Hilimo’asio, potensi sumber daya alam yang sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat adalah dari hasil pertanian. Sebagai pemimpin masyarakat, Kepala Desa Hilimo’asio bekerja sama dengan penyuluh-peyuluh pertanian dari kecamatan memberikan bimbingan dan arahan kepada para masyarakat tentang tata cara dalam bercocok tanam yang baik serta bagaimana memasarkannya di dalam ataupun di luar daerah di desa. Kepala Desa juga melakukan musyawarah dengan mengundang warga dan orang yang berkepentingan dalam membicarakan pemanfaatan potensi yang ada dan yang belum dimanfaatkan oleh masyarakat dalam memenuhi kesejahteraan masyarakat desa. Untuk menjaga ekosistem lingkungannya, pemerintah desa juga selalu melaksanakan sosialisasi pelestarian lingkungan misalnya mengajak masyarakat bergotongroyong secara berkala untuk membersihkan desa dan mengganti tanaman baru setelah menebang pohon dan lain sebagainya.
Pemberdayaan masyarakat dalam perspektif administrasi pembangunan di Desa Hilimo’asio berjalan dengan baik. Hal ini juga didukung oleh pendapat Wisnu Sudibjo dalam
Mencermati Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Tak Cukup Hanya Tambah Anggaran (2009) yang mengatakan bahwa Adanya PNPM bukan berarti mengambil tugas dari instansi atau departemen yang selama ini mempunyai program penanggulangan kemiskinan, melainkan berkoordinasi. Sebab, selama ini ada masalah penanggulangan kemiskinan yang menumpuk di satu daerah ataupun di satu bidang serta masalah yang tidak tertanggulangi. Untuk itu, perlu dikoordinasikan. Implementasi dari program-program penanggulangan kemiskinan tersebut tetap akan dilaksanakan departemen dan instansi tersebut. Hanya, perencanaan dilakukan secara terkoordinasi. Selain itu, pengentasan kemiskinan tidak hanya dilakukan dengan menggelontorkan dana kepada masyarakat. Lebih dari itu, masyarakat justru dituntut lebih aktif dan mandiri. Memilik dari prinsip yang ada dalam PNPM, memang masyarakat diberi keleluasaan dalam mengembangkan potensinya. Dengan menentukan kegiatannya sendiri (open menu), masyarakat akan lebih bebas untuk berkreasi.
BAB VI PENUTUP
Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka pada bab ini penulis akan mengambil beberapa kesimpulan dari hasil penelitian lapangan yang telah dilakukan selama ini serta memberikan saran sebagai langkah terakhir dalam penulisan hasil penelitian ini
6.1Kesimpulan
1. Penerapan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan di
Desa Hilimo’asio Kecamatan Idanogawo pelaksanaannya berlangsung pada tahun 2009. Pendekatan PNPM Mandiri Perdesaan merupakan pengembangan dari Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang telah dilaksanakan sejak tahun 2007, yang selama ini dinilai telah berjalan dengan baik. Pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan telah terealisasi dalam bentuk bangunan fisik berupa jalan sehingga membantu masyarakat desa dalam melakukan berbagai aktivitas.
2. Dari hasil penelitian yang dilakukan , maka terdapat pengaruh yang positif antara
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan dengan administrasi pembangunan. Hal ini sejalan dengan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan yang bekerja sama dengan perangkat pemerintahan desa untuk melaksanakan program ini sehingga berjalan sesuai dengan petunjuk operasional yang ada. Pemerintahan desa juga menerima manfaat secara langsung dengan adanya berbagai pelatihan dan bimbingan yang dilaksanakan dalam pemberdayaan masyarakat dan terlebih dengan adanya pembangunan infrastruktur yang sangat membantu aktifitas masyarakat desa.
3. Dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan ini dilakukan pola perencanaan partisipatif
berperan serta dalam perencanaan program, pelaksanaan bahkan sampai pada tahap pengendaliannya. Dalam kegiatan musyawarah yang dilakukan di desa atau kecamatan, masyarakat banyak yang ikut berperan serta.
4. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan dalam
mengentaskan kemiskinan di Desa Hilimo’asio Kecamatan Idanogawo dapat dikatakan sudah berperan dengan baik karena telah membawa pengaruh atau dampak yang positif terhadap masyarakat di daerah tersebut.
6.2 Saran
Adapun saran-saran yang ingin penulis sampaikan sebagai bahan masukan dalam peningkatan mutu dan manfaat dari penelitian ini khususnya bagi Desa Hilimo’asio, Kecamatan Idanogawo, Kabupaten Nias sebagai objek penelitian antara lain sebagai berikut :
1. Perlunya pemberian informasi yang dilakukan secara terus-menerus kepada masyarakat
mengenai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) tersebut secara menyeluruh. Pemberian informasi dapat dilakukan melalui media elektronik dan media cetak maupun secara langsung pada pertemuan-pertemuan masyarakat baik pada pertemuan desa yang melibatkan perangkat pemerintahan desa, acara keagamaan dan acara adat, sehingga masyarakat dapat mengetahui program tersebut.
2. Mempermudah pelaksanaan penyuluhan kepada masyarakat dengan cara pembagian buku
pedoman atau selebaran-selebaran yang mengarahkan masyarakat supaya lebih mengetahui tujuan dari PNPM Mandiri Perdesaan, kegiatan-kegiatan serta cara melaksanakan kegiatan yang ada dalam PNPM Mandiri Perdesaan yang bertujuan untuk meningkatkan interaksi masyarakat sehingga tidak hanya menjadi objek semata tetapi dapat mengetahuinya lebih dalam tentang PNPM Mandiri Perdesaan.
3. Pelatihan dan bimbingan perlu lebih di intensifkan dengan pelatih dan pembimbing yang profesional dan berkompeten mengenai program pemberdayaan dan orang-orang yang ahli dalam PNPM Mandiri Perdesaan dengan turut mengikut sertakan perangkat pemerintahan desa dalam kegiatan pelatihan dan bimbingan karena perangkat pemerintahan desa merupakan orang-orang yang lebih dekat dengan masyarakatnya. Manajemen waktu juga perlu dipertimbangkan sehingga pelatihan dan bimbingan yang diberikan dapat dimengerti oleh peserta dengan baik.
4. Dengan keberhasilan program PMPN Mandiri Perdesaan di Desa Hilimo’asio dalam
kegiatan pemberdayaan masyarakat, maka sebaiknya program ini terus di tingkatkan dan di dukung karena sangat bermanfaat bagi masyarakat.