III. METODE PENELITIAN
4.4. Pergeseran Penyerapan Tenagakerja secara Sektoral
4.4.1. Peranan Sektor Pertanian, Industri dan Jasa-jasa dalam
Tabel 6 menunjukkan bahwa jumlah angkatan kerja yang terserap dalam lapangan pekerjaan utama mengalami peningkatan selama periode tahun 2003-2010. Pada tahun 2003 jumlah angkatan kerja yang terserap sebesar 1,1 juta orang dari seluruh angkatan kerja dan meningkat menjadi 1,48 juta orang pada tahun 2010. Lebih sepertiga dari seluruh angkatan kerja yang terserap itu tertampung pada Sektor Pertanian yaitu sebesar 40,37 persen pada tahun 2003 dan menurun menjadi 30,80 persen pada tahun 2010.
Hal ini, menunjukkan bahwa Kalimantan Timur masih termasuk daerah agraris, yaitu nampak dari besarnya penduduk yang bekerja di Sektor Pertanian. Sebenarnya Sektor Jasa-jasa yang paling banyak menyerap tenagakerja yaitu 42,51 persen pada tahun 2003 dan meningkat menjadi 49,38 persen pada tahun 2010. Namun, bila dilihat dari subsektor dalam Sektor Jasa-jasa yang paling
40
banyak menyerap tenagakerja adalah Subsektor Perdagangan, Hotel dan Restauran yaitu sebesar 18,20 persen pada tahun 2003 dan meningkat menjadi 22,09 persen pada tahun 2010.
Tabel 6. Persentase penyerapan tenagakerja menurut lapangan pekerjaan utama di Kalimantan Timur tahun 2003-2010
Lapangan pekerjaan utama Tahun
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Pertanian 40,37 30,87 34,28 35,70 33,87 36,28 35,01 30,80
Agriculture 40,37 30,87 34,28 35,70 33,87 36,28 35,01 30,80
Pertambangan, Penggalian,
Listrik dan Air Bersih 4,29 3,67 5,01 7,24 6,13 5,98 6,28 8,25
Industri Pengolahan 7,85 10,32 8,64 6,84 7,60 6,66 5,81 5,61
Bangunan 4,98 8,74 7,08 6,13 6,34 6,45 6,49 5,96
Manufacture 17,12 22,73 20,73 20,21 20,07 19,10 18,58 19,82
Perdagangan, Hotel dan
Restauran 18,20 21,11 20,97 19,91 21,29 20,54 21,71 22,09
Pengangkutan dan Komunikasi 4,49 7,66 7,36 6,05 6,80 6,66 5,63 5,28
Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan 2,72 2,42 1,01 4,33 2,38 1,91 1,90 2,96
Jasa-Jasa 17,10 15,19 15,65 13,78 15,59 15,51 17,17 19,04
Services 42,51 46,40 44,99 44,08 46,06 44,62 46,41 49,38
Total 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Kesempatan Kerja (Ribuan) 1104,16 1041,49 1078,09 1146,88 1091,63 1259,59 1302,77 1481,90
Sumber : BPS Kalimantan Timur, 2011.
Sektor Industri yang paling dominan dalam pembentukan PDRB (Lihat Tabel 1), hanya mampu menyerap tenagakerja yang lebih kecil dari Sektor Pertanian maupun Sektor Jasa-jasa yaitu sebesar 17,12 persen pada tahun 2003 dan meningkat menjadi 19,82 persen pada tahun 2010 dari seluruh angkatan kerja. Sedangkan Subsektor Pertambangan dan Penggalian yang menjadi andalan dalam membentuk Sektor Industri hanya mampu menyerap tenagakerja 4,29 persen pada tahun 2003 dan meningkat menjadi 7,82 persen pada tahun 2010. Hal ini terjadi karena biasanya Subsektor Pertambangan dan Penggalian membutuhkan tenagakerja dengan tingkat pendidikan dan ketrampilan yang tinggi.
Pembangunan yang terus berlangsung diharapkan akan membuat penyerapan tenagakerja di Sektor Pertanian mengalami penurunan. Sedangkan, penyerapan tenagakerja di Sektor Nonpertanian diharapkan lebih berkembang, terutama Subsektor Industri Pengolahan dan Subsektor Perdagangan, karena Sektor Nonpertanian ini lebih berperan dalam pembentukan PDRB. Disamping itu, penyerapan tenagakerja di Sektor Industri di daerah perkotaan diharapkan lebih baik perkembangannya daripada di perdesaan. Sedangkan, penyerapan tenagakerja di Sektor Jasa-jasa akan sedikit berkurang sebagai akibat dari proses pembangunan yang terus berlangsung.
4.4.2. Laju Pertumbuhan Kesempatan Kerja di Sektor Pertanian, Industri dan Jasa-jasa
Penyerapan tenagakerja yang mengalami pertumbuhan terbesar selama periode tahun 2003-2010 terjadi pada Subsektor Pertambangan, Penggalian, Listrik dan Air Bersih yaitu sebesar 126,94 persen. Pertumbuhan terbesar terjadi pada tahun 2005-2006 sebesar 53,63 persen. Sedangkan, yang mengalami penurunan terbesar terjadi pada Subsektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan yaitu sebesar 12,37 persen selama periode 2003-2010 dengan penurunan terbesar terjadi pada tahun 2004-2005 yaitu sebesar 57,01 persen.
Sektor Pertanian pertumbuhannya mengalami fluktuasi yang cukup besar dimana pada tahun 2003-2004, tahun 2006-2007 dan tahun 2008-2009 pertumbuhannya negatif, masing-masing sebesar 27,86 persen, 9,71 persen dan 0,19 persen. Pertumbuhan Sektor Pertanian yang mengalami penurunan paling
42
drastis terjadi pada tahun 2003-2004, hal ini berkaitan mulai diberlakukannya moratorium pelarangan penebangan kayu oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Sedangkan, Sektor Industri pertumbuhannya menunjukkan keanehan pada tahun 2004-2005 dan tahun 2006-2007 dimana pada tahun tersebut mengalami pertumbuhan yang negatif sebesar 5,58 persen dan 5,48 persen, sedangkan pada tahun lainnya mengalami pertumbuhan yang positif. Sektor Jasa-jasa justru mempunyai pertumbuhan penyerapan tenagakerja yang lebih baik karena hanya pada tahun 2006-2007 saja yang mengalami pertumbuhan negatif, selebihnya pertumbuhannya positif.
Tabel 7. Tingkat pertumbuhan penyerapan tenagakerja menurut lapangan pekerjaan utama di Kalimantan Timur Tahun 2003-2010
Lapangan pekerjaan utama 2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007 2007-2008 2008-2009 2009-2010 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Pertanian -27,86 14,94 10,80 -9,71 23,60 -0,19 0,07
Agriculture -27,86 14,94 10,80 -9,71 23,60 -0,19 0,07
Pertambangan, Penggalian, Listrik dan Air
Bersih -19,39 41,56 53,63 -19,38 12,50 8,57 49,45
Industri Pengolahan 23,99 -13,41 -15,71 5,75 1,17 -9,83 9,88
Bangunan 65,58 -16,11 -7,93 -1,59 17,48 3,97 4,50
Manufacture 25,22 -5,58 3,71 -5,48 9,78 0,60 21,37
Perdagangan, Hotel dan Restauran 9,43 2,82 1,02 1,75 11,31 9,32 15,79 Pengangkutan dan Komunikasi 60,87 -0,66 -12,47 6,99 12,92 -12,49 6,63 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan -16,00 -57,01 35,75 -47,69 -7,26 2,95 76,89
Jasa-Jasa -16,18 6,63 -6,31 7,62 14,85 14,46 26,16
Services 2,94 0,37 4,24 -0,55 11,79 7,58 21,02
Total -5,68 3,51 6,38 -4,82 15,39 3,43 13,75
Sumber : BPS Kalimantan Timur Tahun, 2011.
Sektor Pertanian mengalami kenaikan penyerapan tenagakerja sebesar 11,65 persen selama periode 2003-2010, akan tetapi struktur penyerapan tenagakerjanya turun sebesar 9,56 persen (Tabel 6). Sedangkan, Subsektor Pertambangan dan Penggalian yang mengalami kenaikan penyerapan tenagakerja sebesar 126,94 persen, perubahan struktur penyerapan tenagakerja hanya
mengalami kenaikan sebesar 3,96 persen. Hal ini terjadi karena biasanya Subsektor Pertambangan dan Penggalian membutuhkan tenagakerja dengan tingkat pendidikan dan ketrampilan yang tinggi.
Peningkatan yang terjadi di Kalimantan Timur selama periode tahun 2003-2010 pada Sektor Jasa-jasa lebih tinggi bila dibandingkan peningkatan Sektor Industri. Oleh Squire (1981) lebih lanjut dikatakan bahwa kecilnya proporsi angkatan kerja di Sektor Industri seringkali diperkirakan sebagai suatu kegagalan di dalam proses pembangunan ekonomi. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa Sektor Pertanian dan Sektor Jasa-jasa pada umumnya mempunyai produktivitas yang rendah. Dalam keadaan jumlah pengangguran yang meningkat dengan disertai produktivitas tenagakerja yang rendah (karena keterbatasan pendidikan dan ketrampilan), maka tenagakerja yang berlebih tidak akan tertampung dalam sektor modern (Sektor Industri). Sektor informal pada Sektor Jasa-jasa menjadi pilihan utama dalam penyerapan tenagakerja karena tidak terlalu mementingkan pendidikan dan ketrampilan selain kemudahannya untuk keluar masuk pada sektor informal.
4.4.3. Hubungan antara Pertumbuhan Ekonomi dan Penciptaan Kesempatan Kerja
Gambaran penyerapan tenagakerja antar sektor yang terjadi selama periode tahun 2003-2010 akan lebih jelas terlihat menggunakan koefisien kesempatan kerja atau elastisitas kesempatan kerja. Koefisien kesempatan kerja ini merupakan
44
rasio antara persentase perubahan kesempatan kerja dengan persentase perubahan output PDRB.
Koefisien elastisitas penyerapan tenagakerja bisa bernilai positif maupun negatif. Jika bernilai positif, maka terjadi hubungan yang sebanding yaitu kenaikan dari pertumbuhan nilai produk nyata akan diikuti oleh kenaikan dalam penyerapan tenagakerja. Namun, juga bisa terjadi sebaliknya yaitu penurunan nilai produk nyata yang diikuti oleh penurunan dalam penyerapan tenagakerja. Sedangkan bila bernilai negatif, maka terjadi hubungan yang terbalik antara pertumbuhan nilai produk nyata dan pertumbuhan kesempatan kerja. Yaitu, kenaikan nilai produk nyata justru diikuti oleh penurunan dalam penyerapan tenagakerja, bisa juga sebaliknya penurunan nilai produk nyata akan diikuti oleh kenaikan dalam penyerapan tenagakerja.
Tabel 8. Koefisien penyerapan tenagakerja menurut lapangan pekerjaan utama
Lapangan pekerjaan utama 2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007 2007-2008 2008-2009 2009-2010 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Pertanian -9,71 5,85 3,04 -5,44 8,12 -0,12 0,02
Agriculture -9,71 5,85 3,04 -5,44 8,12 -0,12 0,02
Pertambangan, Penggalian, Listrik dan
Air Bersih -1,71 3,36 7,20 -2,97 1,89 1,23 7,49
Industri Pengolahan -31,07 23,83 6,29 -1,49 0,36 2,47 -3,31
Bangunan 6,52 -1,45 -1,29 -0,30 3,28 0,70 0,85
Manufacture 3,72 -1,02 0,47 -0,44 1,17 0,06 2,10
Perdagangan, Hotel dan Restauran 23,04 1,32 1,06 -8,32 2,40 9,29 3,97
Pengangkutan dan Komunikasi 35,35 -0,15 -2,87 1,87 2,19 -2,85 0,82
Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan -1,96 -7,59 26,39 -5,40 -2,04 0,52 7,31
Jasa-Jasa -1,77 0,50 -0,60 0,87 1,89 1,97 2,84
Services 0,26 0,05 0,46 -0,03 1,21 0,85 2,29
Total -1,62 0,68 1,60 -1,03 2,02 0,65 1,83
Tabel 8 menggambarkan hasil perhitungan elastistitas kesempatan kerja selama periode tahun 2003-2010. Selama periode ini terlihat bahwa elastisitas penyerapan tenagakerja secara total mengalami peningkatan sebesar 3,45 yaitu
pada tahun 2004 sebesar minus 1,63 dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 1,83. Hal ini, menunjukkan bahwa setiap kenaikan nilai tambah yang digambarkan oleh nilai PDRB sebesar satu persen maka kesempatan kerja akan berkurang sebesar 1,62 persen pada tahun 2004 dan meningkat sebesar 1,83 persen pada tahun 2010. Bisa dikatakan bahwa pada tahun 2004 dengan kenaikan nilai tambah sebesar satu persen akan mampu menampung tambahan angkatan kerja sebesar 3,45 persen.
Koefisien penyerapan tenagakerja secara agregat bernilai positif, yang berarti penambahan nilai tambah akan diikuti dengan penambahan kesempatan kerja. Namun, pada tahun 2003-2004 dan tahun 2006-2007 nilai koefisiennya bertanda negatif sebesar 1,62 persen dan 1,03 persen yang berarti penambahan nilai tambah satu persen dibarengi dengan pengurangan kesempatan kerja sebesar 1,62 persen dan 1,03 persen. Hal ini, mungkin dikarenakan pada periode tahun 2003-2004 dan tahun 2006-2007 penambahan nilai tambah dikarenakan penambahan modal berupa investasi atau penerapan teknologi, bukan semata-mata karena penambahan tenagakerja. Sehingga, dalam pelaksanaannya tidak menyerap tambahan tenagakerja yang baru masuk pada pasar tenagakerja.
Sektor Industri yang dianggap mewakili sebagai sektor modern pada periode 2004-2005 dan 2006-2007 menunjukkan bahwa peningkatan nilai tambah sebesar satu persen akan menurunkan kesempatan kerja sebesar 1,02 persen dan 0,44 persen. Hal ini, dimungkinkan terjadi karena dalam pengembangan Sektor Industri lebih mengarah pada padat modal bukan padat karya.
46
Sektor yang cukup baik dalam proses penyerapan tenagakerja adalah Sektor Jasa-jasa, karena koefisien elastistitasnya positif yang menunjukkan bahwa kenaikan nilai tambah akan diikuti dengan penambahan kesempatan kerja, walaupun penambahannya tidak terlalu besar. Pada tahun 2004 penambahan nilai tambah sebesar satu persen diikuti dengan penambahan penyerapan tenagakerja sebesar 0,26 persen, tapi pada tahun 2010 dengan meningkatkan nilai tambah satu persen akan dibarengi dengan penambahan penyerapan tenagakerja sebesar 2,29 persen.
Dengan memperhatikan peranan masing-masing sektor utama dalam pembentukan nilai PDRB (Tabel 1), laju pertumbuhan nilai NTB untuk setiap sektor (Tabel 2) dan juga peranan masing-masing sektor dalam penyerapan tenagakerja, maka untuk Kalimantan Timur pada periode 2003-2010 mulai terjadi pergeseran penyerapan tenagakerja dari Sektor Pertanian menuju Sektor Industri dan Sektor Jasa-jasa.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN