BAB III ANALISIS PERANAN WANITA SEBAGAI TOKOH DALAM
3.2. Peranan Yamamoto Yayoi
…Bekas tonjokan itu peka sekali, sehingga cairan atau angin semilir saja membuatnya kesakitan, dan menurutnya tak seorangpun bisa membuat sakitnya berkurang.
Anak-anaknya yang tidur di kasur-kasur kecil mereka di dekat sana bergerak-gerak, mungkin karena merasakan gerakan Yayoi. Yayoi berdiri, menyeka air mata dari wajahnya dan membungkus tubuhnya dengan handuk. Dia tak ingin anak-anaknya melihat memar itu, atau air matanya
Analisis:
. (OUT : 68)
Dari cuplikan diatas dapat dilihat bahwa sesungguhnya memar akibat kekerasan yang dilakukan suaminya terasa amat menyakitkan. Akan tetapi, perannya sebagai seorang ibu yang ingin tetap memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak-anaknnya membuat Yayoi berusaha untuk tetap tabah. Ia sangat
berhati-hati dan tidak ingin anaknya mengetahui dan khawatir terhadap derita fisik dan batinnya.
Cuplikan 2 :
…Lalu, yang lebih parah lagi, tiga bulan yang lalu Kenji berhenti membawa pulang gajinya, dan Yayoi terpaksa mencoba memberi makan dirinya dan anak-anaknya dengan gaji kecil yang diperolehnya dari pabrik
Analisis:
. (OUT : 69)
Berdasarkan cuplikan dapat dilihat indeksikal bahwa karena suaminya tak lagi memberikan nafkah kepada dirinya dan anak-anaknya, Yayoi mengambil peran sebagai kepala rumah tangga. Meskipun gajinya kecil, Yayoi giat bekerja demi menghidupi dirinya dan anak-anaknya
Cuplikan 3 :
…”Kenapa cepat sekali?”
“Tidak ada uang,”jawab suaminya.
“Mana mungkin? Sudah berbulan-bulan kau tak pernah memberi kami uang.” Walaupun sekarang Yayoi membelakanginya lagi, dia tahu suaminya itu mencibir.
“Kau apa?” ujar Yayoi dengan suara serak. Mereka berdua sudah berhasil “Tidak, aku betul-betul bangkrut. Dan aku sudah menghabiskan seluruh tabungan kita.”
menabung lima juta yen lebih—hampir cukup untuk uang muka sebuah kondominium. Untuk apa lagi dia bekerja membanting tulang di pabrik? “Kenapa
kau tega sekali? Seluruh gajimu sudah kau pakai untuk dirimu sendiri; kenapa kau menghabiskan tabungan kita juga?”
“Judi,” jawab suaminya. “Permainan bernama bakarat.”
“Kuharap kau bercanda.” Yayoi begitu syok sehingga tak tahu harus berkata apa lagi.
“Aku tidak bercanda,” kata Kenji. “Tapi tabungan itu bukan milikmu saja.” “Juga bukan milikmu saja.”
Analisis:
Biasanya dia tak pernah mengatakan apa-apa pada Yayoi, tapi malam ini dia bisa begitu tangkas menimpali semua perkataan istrinya itu. (OUT : 70-71)
Dalam Ie, pria sebagai kepala rumah tangga memiliki kekuasaan yang besar. Kepala rumah tangga memiliki kekuasaan untuk memberikan keputusan tentang semua hal yang berhubungan dengan milik keluarga, misalnya terhadap kekayaan yang diperoleh dan dikelola keluarga. Hal ini pula lah yang terjadi pada keluarga Yayoi. Dilihat dari cuplikan, Yayoi yang memiliki peran sebagai istri harus pasrah terhadap tindakan suaminya. Yayoi merasa sangat menderita karena tidak dapat berbuat apa-apa. Tanpa sepengetahuannya, suaminya yang tidak bertanggung jawab telah menghabiskan seluruh tabungan keluarga mereka untuk berjudi.
Cuplikan 4 :
Jadwal harian Yayoi memang tidak lazim: setelah tiba di rumah pagi-pagi seusai shift malam, dia menyiapkan sarapan untuk Kenji dan anak-anak,
mengantar anak-anak ke tempat penitipan, dan baru setelah itu dia bisa tidur. Dia tadinya tidak ingin bekerja malam hari, tapi tidak banyak tempat yang mau menerima ibu dengan anak-anak yang masih kecil, yang mungkin sekali-sekali harus cuti mendadak. Sebelum mulai bekerja di pabrik makanan kotakan itu, dia bekerja paruh waktu sebagai petugas pemeriksaan di supermarket; tapi karena tak mau bekerja pada hari Minggu dan sering harus tidak masuk kerja karena anaknya sakit, dia tidak bertahan lama disana. Pekerjaan shift malam yang sekarang memang amat melelahkan fisiknya, tapi bayarannya lebih tinggi daripada pekerjaan pagi dan dia bisa menidurkan anak-anaknya sebelum berangkat ke pabrik
Analisis:
(OUT : 132)
Dari cuplikan diatas dapat dilihat peranan Yayoi sebagai ibu rumah tangga yang baik. Sama seperti Masako, sepulangnya dari shift malam walaupun lelah ia tetap melaksanakan kewajibannya. Meskipun sudah tidak akur dengan suaminya, Yayoi tetap menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya, kemudian mengurus anak-anaknya. Setelah semua kewajibannya selesai barulah ia merasa tenang dan dapat beristirahat. Sebenarnya Yayoi merasa bahwa pekerjaan shift malam sangatlah berat karena ia harus meninggalkan anaknya di malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa perannya sebagai seorang ibu membuatnya mementingkan anak melebihi apapun.
Alasan ia memilih pekerjaan shift malam yang sangat berat itu juga adalah demi anak-anaknya. Ia pernah bekerja di tempat lain, namun ia tidak ingin bekerja pada hari Minggu ia ingin melewati hari Minggu bersama anak-anaknya. Dengan
bekerja shift malam ia dapat cuti sesuka hati, karena bila ia tidak datang maka gajinya hanya akan dipotong sesuai lamanya ia tidak masuk kerja.
Cuplikan 5 :
Yayoi tidak tahu berapa lama dia berdiri di sana, tapi akhirnya kesadarannya kembali ketika mendengar tangisan Milk.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Milk?” gumamnya. “Aku telah membunuhnya.” Kucing itu mengeluarkan suara seperti pekikan pendek, dan Yayoi balas mengeluarkan suara yang sama. Dia telah melakukan sesuatu yang tak bisa diubah lagi, tapi dia sama sekali tidak merasa menyesal. Biarlah, dia berbisik pada dirinya sendiri. Dia tak punya pilihan tadi
Dia kembali ke ruang tamu dan dengan tenang memandang jam di dinding. Baru pukul sebelas. Hampir waktunya berangkat ke pabrik. Dia menelpon rumah Masako.
.
“Halo?” untungnya Masako yang menerima. Yayoi menghela nafas panjang.
“Ini aku, Yayoi.,” katanya.
“Hai,” sahut Masako. “Ada apa? Kau mau absen malam ini?” “Tidak, aku hanya tidak tahu harus bagaimana.”
“Tentang apa?” Masako kedengarannya seperti sunggguh-sungguh kuatir. “Apakah ada yang terjadi?”
“Ya.” Sudah kepalang basah, dituntaskan saja. “Aku membunuhnya
“Kau serius?”
.” Hening sejenak, lalu Masako berbicara lagi dengan tetap tenang.
“Benar-benar serius,” jawab Yayoi. “Aku mencekiknya.” Hening sekali lagi, kali ini mungkin sampai semenit; tapi entah kenapa Yayoi tahu keheningan ini bukan karena Masako terkejut, melainkan karena dia sedang mempertimbangkan situasi. Pertanyaan Masako yang berikutnya membuktikan firasatnya ini benar.
“Tapi kau mau bagaimana?” Tanya Masako. Yayoi terdiam sesaat karena tidak mengerti pertanyaan ini. “Maksudku, coba katakana apa yang ingin kau lakukan. Aku bersedia membantu.”
“Aku? Aku ingin segalanya terus berjalan seperti biasa. Anak-anakku masih kecil, dan…” Sewaktu dia berbicara, air matanya menggenang dan tiba-tiba dia tersadar betapa gawatnya situasi itu.
“Aku mengerti,” kata Masako. (OUT: 74-75) Analisis:
Dari cuplikan diatas dapat dilihat bahwa Yayoi berperan sebagai pembunuh. Ia membunuh suaminya berdasarkan atas kebencian yang mendalam sebagai akibat tindakan kekerasan yang selama ini banyak dilakukan suaminya kepada dirinya. Keadaan lah yang membuat Yayoi berperan sebagai pembunuh. Akan tetapi, setelah melakukan aksinya, Yayoi sama sekali tidak merasakan penyesalan, karena menurutnya Kenji pantas menerimanya. Meskipun tidak menyesal, Yayoi tetap merasa cemas terhadap gawatnya situasi yang telah ditimbulkannya. Untuk itu, dia menghubungi Masako; sahabat yang selalu bisa diandalkannya untuk membantunya.
3.3. Peranan Azuma Yoshie Cuplikan 1 :
“Aku butuh uang.” Pikiran ini telah menjadi semacam obsesi. Dia sudah menghabiskan uang asuransi jiwa dari kematian suaminya yang jumlahnya tidak seberapa untuk mengurus ibu mertuanya, dan sekarang tabungan mereka sudah hampir habis juga. Dia sendiri hanya lulusan sekolah menengah dan bertekad ingin menyekolahkan Miki paling tidak sampai tingkat akademi,
Analisis:
tapi dia tidak tahu apakah dia akan sanggup. (OUT : 36)
Dari cuplikan diatas dapat dilihat bahwa meskipun hidup dalam kemiskinan, Yoshie yang memiliki peran sebagai menantu tetap mengabdi kepada ibu mertuanya. Seluruh uang asuransi suaminya telah dihabiskannya untuk mengurus ibu mertuanya yang sakit-sakitan, padahal untuk melangsungkan hidup sehari-hari saja sudah sangat sulit. Selain sebagai menantu yang berbakti, dari cuplikan diatas juga dapat dilihat peranan Yoshie sebagai seorang ibu. Sebagai seorang ibu, ia ingin Miki putrinya dapat melanjutkan sekolah, walaupun hanya sampai tahap akademi saja. Meskipun ia tidak tahu apakah ia akan sanggup, tetapi ia telah bertekad untuk mewujudkan hal tersebut.
Cuplikan 2 :
…Dia sudah lama lupa betapa jahat ibu mertuanya dulu selama tahun-tahun pertama pernikahannya. Sekarang dia hanyalah wanita tua yang mengibakan, yang tidak bisa apa-apa tanpa Yoshie.
Tak seorang pun dari mereka bisa berbuat apa-apa tanpa Yoshie—kalau dipikir-pikir, memang itulah makna hidupnya. Di pabrik juga begitu. Mereka menyebutnya Kapten, dan kenyataannya memang dialah yang mengomando barisan. Peran itu terus membuat semangatnya terus berkobar, membuatnya mampu terus menjalani pekerjaan menjemukan itu; peran itulah satu-satunya yang membuatnya bangga.
Analisis:
(OUT : 37)
Dari cuplikan diatas dapat dilihat indeksikal bahwa peran Yoshie sangat penting bagi keluarganya. Dengan kata lain, Yoshie memiliki peran sebagai kepala rumah tangga. Yang dimaksud dengan peran wanita sebagai kepala rumah tangga adalah wanita yang dianggap bertanggung jawab terhadap rumah tangga tersebut. Adapun sebab yang melatarbelakangi wanita sehingga dapat mengepalai rumah tangga, salah satunya adalah berakhirnya perkawinan karena suami yang telah meninggal. Yoshie menjadi tumpuan keluarga yang bekerja banting tulang untuk kelangsungan hidup keluarga mereka. Terhadap ibu mertuanya yang dulu jahat kepadanya pun ia melupakan seluruh dendamnya dan mengabdi sebagai menantu yang baik. Ternyata pentingnya peranan Yoshie tidak hanya dirasakan oleh keluarganya saja, tetapi juga oleh rekan-rekan kerjanya. Yoshie berperan sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan dan selalu menjadi pemimpin barisan yang dapat mengorganisir rekan-rekan kerjanya.
Cuplikan 3 :
…Dari pengalamannya sendiri, dia tahu walaupun laki-laki mungkin senang mempunyai istri pekerja keras, laki-laki pemalas mungkin justru sebal punya istri seperti itu. Suaminya dulu begitu. Yoshie berpikir tentang pria yang lima tahun lalu meninggal karena penyakit lever. Tak peduli seberapa kerasnya Yoshie bekerja mengurus ibu mertuanya, atau menerima bermacam-macam pekerjaan serabutan untuk membantu keuangan keluarga, suaminya malah makin depresi saja
Analisis:
. (OUT : 38)
Dari cuplikan diatas dapat dilihat bahwa semasa suaminya hidup dulu pun Yoshie memang memiliki peran yang penting dalam keluarganya. Karena semasa suaminya hidup dulu suaminya lah yang berperan sebagai kepala rumah tangga, Yoshie berkonsentrasi terhadap perannya sebagai seorang istri yang rela bekerja apapun demi membantu keuangan keluarga. Namun tampaknya hubungan Yoshie dengan suaminya tidak harmonis. Tanpa alasan yang jelas suaminya merasa tidak suka dan depresi melihat semua usaha kerja keras Yoshie.
Cuplikan 4 :
Setelah selesai mencuci pembalut dan membersihkan tangannya dengan disinfektan, Yoshie memandang Miki yang sedang menyikat rambut dan memerhatikan bayangan wajahnya di cermin lekat-lekat.
“Kau mengecat rambut?” tanyanya.
“Kau jadi kelihatan seperti anak-anak berandal yang ditangkap polisi karena kenakalan remaja.” (OUT : 40)
Analisis:
Dari dialog diatas dapat dilihat bahwa Yoshie menegur anaknya karena khawatir. Dengan perannya sebagai seorang ibu, sudah sepantasnya Yoshie memperhatikan perkembangan putrinya. Apabila ada perilaku putrinya yang tidak disukainya, maka Yoshie tidak segan-segan dalam menegurnya. Sungguh suatu tindakan yang harus dilakukan setiap wanita yang berperan sebagai seorang ibu.
Cuplikan 5 :
Begitu Yayoi sudah tak tampak, Yoshie berbisik tak sabar, “Ada apa, sih? Cepat ceritakan, aku sudah tidak tahan.”
“Dengarkan dulu, dan jangan kelihatan terlalu kaget,” kata Masako sambil menatap matanya lurus-lurus. “Yayoi telah membunuh suaminya.” Mulut Yoshie ternganga sejenak, bibirnya yang kering gemetaran.
“Jangan kelihatan kaget…?” akhirnya dia berbisik.
“Aku tahu,” sela Masako. “Tapi ini sungguh-sungguh terjadi, dan sudah tidak bisa diubah lagi. Aku sudah memutuskan akan membantunya, dan aku ingin tahu apakah kau mau membantu juga.”
“Kau sudah gila?!” Yoshie terpekik, tapi begitu sadar ada orang lain disekitar mereka, dia mengecilkan suaranya. “Dia harus menyerahkan diri ke polisi sekarang juga.”
“Tapi dia punya anak-anak yang masih kecil, dan suaminya memukulinya. Dia melakukannya untuk melindungi diri. Kau lihat sendiri, kan, betapa lega wajahnya.”
“Tapi dia membunuh suaminya,” ujar Yoshie sambil menelan ludah. “Karena itulah aku akan membantunya sebisaku.”
“Membantu bagaimana?!” Kali ini suara Yoshie menggema diruangan itu, dan hampir semua orang disana menoleh. Kelompok pria-pria Brazil yang duduk bersama ditempat mereka yang biasa didekat tembok memandangnya dengan rasa ingin tahu. “Tak ada yang bisa kau lakukan,” lanjutnya. Dia seperti menciut. “Tidak ada.”
“Aku tetap mau mencoba,” kata Masako.
“Tapi kenapa? Dan kenapa aku harus membantu juga? Aku jadi merinding mendengar ini semua—kita akan jadi kaki-tangan pembunuhan.”
“Bukan kaki-tangan,” tukas Masako. “Kita kan tidak membunuhnya.” “Tapi mereka pasti juga memenjarakan orang yang membuang mayatnya “Ya, mungkin,” jawab Masako. “Membuang… atau memeretelinya sedikit, salah satu.”
.”
“Apa maksudmu?” Tanya Yoshie. Lidahnya mengusap-usap bibirnya sementara dia berusaha memahami teka-teki baru ini. “Apa yang kau rencanakan?”
“Aku akan memotong-motongnya, lalu membuangnya. Setelah itu Yayoi bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Mereka akan menganggap suaminya hilang, dan selesai sudah.”
“Ya sudah,” tukas Masako sambil mengulurkan telapak tangannya yang terbuka diatas meja. “Kalau begitu, kembalikan uang yang kupinjamkan padamu kemarin malam. Sekarang.”
“Lupakan saja,” kata Yoshie sambil menggeleng dengan keras kepala. “Aku tak sanggup. Yang itu aku tak sanggup.”
Yoshie duduk diam beberapa lama dengan mimik pilu, sementara Masako menjentik ujung rokoknya di cangkir kopi yang sudah kosong. Bau tak enak campuran gula, kopi instant, dan abu sekejap mengisi rongga hidung mereka, tapi Masako tidak mengacuhkannya dan menyulut sebatang rokok lagi.
“Baiklah kalau begitu,” kata Yoshie akhirnya, seperti sudah mengambil keputusan. “Aku tak bisa mengembalikan uangmu, jadi rasanya aku harus membantu.”
Terima kasih. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu, Kapten.”
“Tapi ada satu hal yang harus kau katakan padaku,” kata Yoshie sambil menatapnya. “Aku melakukan ini karena kau pernah membantuku
“Aku sendiri tidak tahu,” jawab Masako. “Tapi satu hal aku tahu: seandainya kau yang mengalami kesulitan seperti ini, aku pasti akan berbuat sama untukmu.” Sepertinya tak ada lagi yang bisa diucapkan, dan Yoshie pun terdiam.
, tapi kenapa kau mau membantu Yayoi?”
(OUT : 95-97) Analisis:
Dalam cuplikan diatas, dapat dilihat tiga peran Yoshie sekaligus, yaitu sebagai seorang warga negara, sebagai seorang pribadi, dan juga sebagai seorang teman. Sebagai seorang warga negara yang baik, Yoshie sangat takut terhadap
hukum yang berlaku. Saat mengetahui Yayoi; temannya melakukan pembunuhan, ia merasa bahwa Yayoi harus segera menyerahkan diri kepada polisi secepatnya. Pada awalnya Yoshie juga tidak bersedia menuruti permintaan Masako untuk ikut membantu Yayoi karena tidak ingin ikut serta sebagai kaki-tangan pembunuh. Alasan Yoshie tidak ingin membantu Masako dalam menjalankan rencananya juga didorong oleh perannya sebagai seorang pribadi, yang tidak sanggup melakukan pekerjaan memotong-motong mayat. Sebagai seorang pribadi/individu yang menggunakan akal sehatnya, Yoshie tidak sanggup bila harus memutilasi mayat, karena selain merupakan tindakan kriminal, hal ini juga merupakan tindakan hal yang asosial dan sangat menjijikkan. Akan tetapi perasaan dan perannya sebagai seorang teman membuat ia kehilangan akal sehat. Desakan dari Masako membuatnya berpikir kembali mengenai hutang budi yang dirasakannya kepada sahabatnya itu. Dengan terpaksa ia memutuskan untuk membantu Masako dalam memutilasi dan membuang mayat Kenji; suami Yayoi.
Cuplikan 6 :
…”Kapten,” kata Masako akhirnya, sambil tetap mengarahkan mata ke jalanan. “Maukah kau melakukannya sekali lagi?”
“Melakukan apa?” Tanya Yoshie, berpaling menatap Masako dengan kaget.
“Kurasa mungkin akan ada order pekerjaan.”
“Pekerjaan? Maksudmu melakukan itu lagi? Untuk siapa?” Yoshie ternganga.
“Kuniko membocorkan rahasia, dan kabar tersiar. Sekarang sepertinya hal ini bisa menjadi semacam usaha.”
“Dia membocorkan rahasia? Berarti ada orang yang memerasmu?” Yoshie menekankan tangannya ke dasbor, seakan dia tiba-tiba ngeri melihat cara Masako mengemudikan mobilnya.
“Bukan, mereka mau membayar kita untuk pekerjaan seperti itu. Kau tidak perlu tahu detail-detailnya; serahkan saja itu padaku. Aku hanya perlu tahu apakah kau mau membantuku kalau betul-betul ada pekerjaan. aku bisa membayarmu.”
“Berapa?” Suara Yoshie sedikit gemetar, tapi juga ada setitik rasa penasaran.
“Satu juta,” jawab Masako. Yoshie mendesah, lalu diam. “Untuk pekerjaan yang sama?” dia bertanya sesaat kemudian.
“Kita tidak perlu membuangnya setelahnya. Kita hanya harus memotong-motongnya dirumahku
“Baiklah,” ujar Yoshie sambil terbatuk-batuk.
.” Yoshie menelan ludah. Masako menyulut sebatang rokok dan mobil itupun dipenuhi asap rokok.
“Sungguh? Masako meliriknya. Yoshie tampak pucat dan bibirnya bergetar.
“Aku setengah mati memerlukan uang
Analisis:
,” katanya. “Dan aku bersedia maju ke neraka asal mengikutimu.” (OUT: 379-380)
Dari cuplikan diatas dapat dilihat indeksikal peran Yoshie sebagai pemotong mayat. Pengalaman pertamanya dalam memotong mayat Kenji tidak membuatnya jera. Kemiskinan adalah keadaan yang mendorongnya mengambil
peran ini. Bersama Masako ia akan melakukan pekerjaan memotong mayat. Apapun akan dilakukan Yoshie yang sangat membutuhkan uang, bahkan peran sebagai pemotong mayat sekalipun.
3.4. Peranan Jonouchi Kuniko Cuplikan 1 :
…Sewaktu menggigigit sepotong daging babi yang berlumuran saus coklat, dia teringat Yayoi yang menjatuhkan panci semalam. Wanita itu kacau sekali sepagian, pikirnya, begitu bingung sehingga tak membantu sama sekali. Malahan dia memperlambat seluruh tim. Memangnya kenapa kalau suaminya memukuli dia; kalau Kuniko, pasti dia akan balas memukul
Analisis:
. (OUT : 29)
Dari cuplikan di atas, dapat dilihat bahwa walaupun memiliki peran sebagai seorang istri, Kuniko tak akan tinggal diam bila dipukul suaminya. Berbeda dengan Yayoi yang menerima semua perlakuan kasar suaminya, Kuniko adalah tipe wanita yang memiliki harga diri yang tinggi. Perannya sebagai seorang istri tidak lantas membuatnya menjadi wanita lemah yang pasrah bila suaminya melakukan kekerasan terhadapnya.
Cuplikan 2 :
…Kalau saja dirinya secantik Yayoi, dia takkan mau bekerja shift malam di pabrik, dia pasti akan mencari pekerjaan di bar atau pub, atau tempat tak senonoh juga boleh—tidak masalah asal bayarannya bagus. (OUT : 29)
Analisis:
Dari cuplikan diatas dapat dilihat indeksikal bahwa Kuniko tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap peran yang diembannya, yakni sebagai seorang istri. Ia lebih mengutamakan perannya sebagai seorang pribadi yang ingin melakukan semua hal dengan bebas. Sebagai seorang wanita yang sudah memiliki suami tidak seharusnya dia menginginkan untuk bekerja di tempat semacam bar atau pub, apalagi di tempat yang tak senonoh hanya karena uang.
Cuplikan 3 :
“Pasti kau ya, yang memakan salad ku?” kata Kuniko. “Ayo ngaku, dan minta maaf.” Dan sekonyong-konyong dia melompat ke atas Tetsuya, berat badannya membuat Tetsuya tak bisa bergerak.
“Sudah kubilang, jangan begitu!” pekik Tatsuya. “Akan kulepaskan kalau kau sudah mengaku.”
“Ya sudah, memang aku yang memakannya. Maafkan aku. Tapi tidak ada lagi yang bisa kumakan waktu aku tiba dirumah
Analisis:
.” (OUT : 27)
Cuplikan diatas kembali memuat tentang kelalaian Kuniko dalam menjalankan perannya sebagai seorang istri. Hanya karena saladnya dimakan Tatsuya dia sudah menjadi sangat marah, padahal Tatsuya memakan saladnya itu karena sebagai seorang istri Kuniko tidak ada menyiapkan masakan apapun untuk suaminya. Kuniko hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa menjalankan peranannya sebagai seorang istri.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Melihat dari uraian sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Meskipun dahulu wanita Jepang hanya memegang peran dalam keluarga, dewasa ini banyak sekali wanita Jepang yang memainkan peran dalam dunia kerja untuk mendapatkan nafkah.
2. Dalam dunia kerja, wanita dengan perannya sebagai seorang karyawan juga berhak untuk mendapatkan kesetaraan dengan karyawan pria. Akan tetapi dalam kenyataannya, di Jepang, meskipun sudah ada Undang-Undang yang mengatur persamaan dan kesejahteraan bagi pekerja wanita, masih terdapat banyak diskriminasi yang dilakukan karyawan pria kepada para karyawan wanita. Misalnya dalam hal pembagian tugas, pembagian gaji, dan dalam hal peningkatan jenjang karier.
3. Empat orang tokoh utama wanita dalam novel ini adalah Katori Masako, Yamamoto Yayoi, Azuma Yoshie dan Jonouchi Kuniko. Dalam keluarga, Masako, Yayoi, Yoshie dan Kuniko memiliki peran sebagai istri, menantu, dan ibu rumah tangga, sedangkan dalam dunia kerja, mereka memiliki peran sebagai pekerja shift malam, bawahan, dan rekan kerja.. Hal ini menunjukkan, bahwa dalam kehidupannya, wanita memiliki berbagai macam peran yang harus dijalaninya sesuai dengan situasi dan kondisinya. Dalam keadaan yang berbeda, maka berbeda pula lah peran yang harus