• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan dan Penyebaran Kuesioner 2

Dalam dokumen BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA (Halaman 38-46)

A. Level Sigma Total (Januari-Agustus 2013) Unit yang diproduksi (U) : 575,928,349

4.5 Tahap Analisa (Analyze)

4.5.2 Perancangan dan Penyebaran Kuesioner 2

Berdasarkan diagram sebab akibat pada gambar di atas, diketahui terdapat penyebab-penyebab terjadinya kecacatan can body 330 ml yang menjadi CTQ prioritas yaitu kotor tinta. Langkah selanjutnya adalah merancang kuesioner kedua yang terdapat pada lampiran yang bertujuan untuk mengetahui tingkat Severity,

Occurence dan Detection dari faktor penyebab kegagalan mesin dan peralatan

yang akan digunakan pada tahap analisis pengaruh potensial kegagalan sumber-sumber variasi dengan menggunakan tool Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). FMEA dalam penelitian ini membahas khusus pada bagian mesin dan peralatan yang sebelumnya telah diketahui dalam diagram sebab akibat pada gambar di atas.

4.5.3 Analisis Pengaruh Potensial Kegagalan Sumber-Sumber Variasi Pada tahap ini dilakukan analisis pengaruh potensial kegagalan sumber-sumber variasi dengan menggunakan salah satu tool six sigma yaitu FMEA dengan melakukan brainstorming dan wawancara dengan para responden. Hasil wawancara disajikan dalam lampiran. Selanjutnya diperoleh perbaikan dan peningkatan kualitas yang secara jelas terangkum dalam FMEA. Untuk selanjutnya, FMEA digunakan sebagai dasar untuk menetapkan urutan prioritas alternatif solusi yang ditawarkan.

Pada mode FMEA, setiap masalah akan diberi bobot dengan cara mengklasifikasikan secara kualitatif berdasarkan severity (S), occurence (O) dam

detection (D) kemudian ditentukan nilai Risk Priority Number (RPN). Adapun

Identifikasi Sistem (System’s Function)

Yang dimaksud sistem di sini adalah mesin Decorator yang berfungsi untuk memberikan aplikasi dekorasi pada can body 330 ml sesuai dengan design yang sudah ditentukan.

Identifikasi Kegagalan Potensial (Potential Failure Mode)

Pada tahap ini diidentifikasi masalah-masalah potensial yang menyebakan mesin Decorator tidak memenuhi atau tidak mencapai fungsi utamanya yaitu untuk memberikan aplikasi dekorasi pada can body 330 ml dengan baik sehingga menyebakan kotor tinta.

 Identifikasi Akibat Kegagalan

Pada tahap ini dianalisis akibat atau dampak yang timbul pada masing-masing masalah kegagalan yang telah diidentifikasi pada potential failure

mode. Akibat atau dampak yang timbul pada masing-masing masalah

kegagalan tersebut akan disajikan pada tabel di bawah ini. Tabel 4.11 Potential Effect of Failure

Potential Failure Mode Potential Effect of Failure Fountain bocor Tinta menetes pada area dekorasi Tinta splash (encer) Cipratan tinta pada dekorasi

kaleng Presspin belt over varnish

problem

Serpihan kotoran menempel pada plate image

Blanket problem Dekorasi tidak sempurna Plate image tertekuk Dekorasi tidak merata

Rubber roll inker problem Terdapat bercak pada dekorasi kaleng

Analisis Tingkat Keseriusan Kegagalan (Severity of Effect)

Pada tahap ini dianalisis seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh kegagalan-kegagalan yang muncul pada mesin Decorator sehingga menyebabkan kotor tinta. Efek kegagalan dianalisis berdasarkan dampak dampak terhadap konsumen. Skala severity yang digunakan adalah skala 1 hingga 5 dengan perincian pada tabel 4.12 sebagai berikut :

Tabel 4.12 Skala Severity

Skala Keterangan

1 Tidak berpengaruh 2 Tidak terlalu serius

3 Cukup serius

4 Serius

5 Sangat serius

Cara menganalisis severity failure mode yaitu dengan terlebih dahulu menganalisis severity masing-masing akibat (effect) dari tiap-tiap potential failure mode. Selanjutnya, severity tertinggi dari setiap effect of failure akan dipilih menjadi severity dari failure mode. Severity kegagalan mesin decorator hingga menyebabkan kotor tinta akan ditampilkan pada Tabel 4.13 berikut ini

Tabel 4.13 Severity Failure Mode

Potential Effect of Failure Skala Potential Failure Mode Skala Dekorasi kaleng tidak

sempurna 5

Fountain bocor

5 Cipratan tinta pada dekorasi

kaleng 5

Tinta splash (encer)

5 Serpihan kotoran menempel

pada plate image 4

Presspin belt over varnish

problem 4

Dekorasi tidak sempurna 2 Blanket problem 2 Dekorasi tidak merata 2 Plate image tertekuk 2 Terdapat bercak pada

dekorasi kaleng 2

Rubber roll inker problem

2

 Identifikasi Sebab-Sebab Kegagalan (Potential Causes of Failure)

Pada tahap ini dilakukan identifikasi sebab-sebab apa saja yang menyebakan defect Kotor tinta pada mesin Decorator. Diperlukan identifikasi yang lengkap agar dapat terungkap akar masalah (root cause) dari kegagalan dengan menggunakan fishbone diagram. Selanjutnya, sebab-sebab potensial dari mesin Decorator dengan menggunakan fishbone diagram akan disajikan pada gambar berikut ini.

Gambar 4.11 Fishbone Diagram Kegagalan Decorator yang menyebabkan Kotor Tinta

Pa rt Boco r Bu ild u p tin ta k erin g Sp las h (enc er) Pa rt au s Se rp ih an k o to ra n m en ep el p ad a p lat e image Pa rt au s Se rp ih an k o to ra n m en ep el p ad a p lat e image U ju n g p lat e terteku k Ku ra n g m ain ten an c e Op era to r ce ro b o h Pa rt au s Ku ra n g m ain ten an ce

Berdasarkan bagan fishbone diagram, rincian sebab-sebab defect Kotor tinta disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.14 Potential Causes of Failure Potential Failure Mode Potential Cause of Failure Fountain bocor 1. 1. Kurang maintenace

2. 2. Part bocor

Tinta splash (encer) 1. 1. Build up tinta kering pada inker 2. 2. Kekentalan tinta terlalu encer Presspin belt over varnish problem 1. 1. Part aus

2. 2. Jarang dibersihkan Blanket problem 1. 1. Part aus

2. 2. Tidak dibersihkan secara teratur Plate image tertekuk 1. 1. Kecerobohan operator

Rubber roll inker problem

1. 1. Part aus

2. 2. Kurang maintenance 3. 3. Umur rubber roll inker

Analisis Frekuensi Kegagalan (Failure Mode of Occurance)

Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap seberapa sering kegagalan terjadi. Skala occurance yang digunakan yaitu 1 hingga 5, dengan perincian yang lengkap pada tabel berikut ini.

Tabel 4.15 Skala Occurance

Skala Keterangan

1 Sangat jarang terjadi 2 Jarang terjadi

3 Kadang-kadang terjadi 4 Sering terjadi

Cara menganalisis frekuensi frekuensi kegagalan (Failure mode of

occurance) yaitu dengan menganlisis potential causes of failure dari setiap failure mode. Occurance terbesar (yang paling sering terjadi) dari potential causes of failure mode. Analisis frekuensi kegagalan dari setiap potential cause of failure selengkapnya ditampilkan pada tabel berikut.

Tabel 4.16 Occurance Failure Mode

Potential Cause of Failure Skala Potential Failure Mode Skala 3. 1. Kurang maintenace

4. 2. Part bocor

4

2 Fountain bocor 4

3. 1. Build up tinta kering pada inker 4. 2. Kekentalan tinta terlalu encer

3

2 Tinta splash (encer) 3 3. 1. Part aus

4. 2. Jarang dibersihkan

2 2

Presspin belt over varnish

problem 2

3. 1. Part aus

4. 2. Tidak dibersihkan secara teratur 2

4 Blanket problem 4

2. 1. Kecerobohan operator 3 Plate image tertekuk 3 4. 1. Part aus

5. 2. Kurang maintenance 6. 3. Umur rubber roll inker

2 3 2

Rubber roll inker problem 3

Metode Deteksi Kegagalan (Detection Mode)

Pada tahap ini dilakukan identifikasi metode untuk mendeteksi kegagalan (failure mode) Decorator mencapai performansinya. Terdapat gejala-gejala yang mengidentifikasi kegagalan Decorator. Dari gejala yang muncul tersebut, dapat diduga komponen yang mengalami kegagalan. Untuk membutktikan gejala tersebut, maka diperlukan metode pendeteksian komponen. Cara mendeteksi failure mode yang terjadi yaitu dengan menganalisis semua metode pada detection method. Semakin kita tidak

yakin terhadap metode yang ada, maka semakin besar rating detection, karena semakin kita harus waspada. Semakin sulit cara pendeteksian maka

rating detection juga semakin tinggi. Tingkat deteksi dengan rating

tertinggi menjadi rating detection failure mode. Analisis lengkap mengenai tingkat pendeteksian ditampilkan pada tabel berikut.

Tabel 4.17 Skala Detection

Skala Keterangan

1 Pasti terdeteksi

2 Kemungkinan besar terdeteksi 3 Mungkin terdeteksi

4 Kemungkinan kecil terdeteksi 5 Tidak terdeteksi

Tabel 4.18 Detection Rating

Detection Method Skala Potential Failure Mode Skala Metode visual untuk

melakukan pengecean berkala

3 Fountain bocor 3

Metode visual untuk mengidentifikasi saat penggunaan tinta

3 Tinta splash (encer) 3

Melakukan pengecekan

visual secara berkala 3 Presspin belt over varnish problem 3 Pengecekan secara

visual 3 Blanket problem 3

Diperhatikan secara

visual posisi plate 1 Plate image tertekuk 1 Metode visual untuk

pengecekan berkala 3 Rubber roll inker problem 3

Perhitungan Risk Priority Number (RPN)

Pada tahap ini dilakukan perhitungan risk priority number (RPN) untuk mengidentifikasi failure mode yang perlu diprioritaskan untuk dianalisis dan ditindaklanjuti, karena dianggap menjadi sumber kegagalan utama

pada Decoraor. Penghitungan RPN yaitu dengan cara mengalikan tingkat

severity dengan tingkat occurance dan dengan tingkat detection.

Penghiungan selengkapnya ditampilkan pada tabel berikut ini. Tabel 4.19 Risk Priority Number

Potential Failure Mode S O D RPN Priotitas

Fountain bocor 5 4 3 60 1

Tinta splash (encer) 5 3 3 30 2

Presspin belt over varnish problem 4 2 3 24 4

Blanket problem 2 4 3 24 3

Plate image tertekuk 2 3 1 6 6

Rubber roll inker problem 2 3 3 18 5

Dalam dokumen BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA (Halaman 38-46)

Dokumen terkait