BAB III EFEK BERAGUN ASET DI BEBERAPA NEGARA
II. PERANCIS
Perancis adalah negara pertama di benua Eropa yang menerapkan Undang-undang mengenai efek beragun aset yang dikenal dengan nama “the Securitization Law”, pada akhir tahun 1988. Undang-undang tersebut adalah: Undang-undang No. 88-1201 tertanggal 23 Desember 1988, dan berkat undang-undang tersebut lahirlah apa yang kemudian dikenal sebagai Special Purpose Vehicle (SPV) Perancis, yang dalam bahasa Perancis disebut dengan Founds Comune de Crěances (FCC). Adanya amandemen dari negara Perancis pada tahun 1999 terhadap peraturan sekuritisasi yang berlaku di negara tersebut ditujukan lebih kepada peningkatan kualitas SPV, hal ini karena sebelum amandemen dilakukan, keadaan iklim sekuritisasi di Perancis sendiri sudah memuaskan.
Amandemen terhadap Undang-undang ini dilaksanakan berdasarkan peraturan Keuangan dan Moneter Perancis (Code Monětaire et Financier)
nomor L. 214-5 dan nomor L. 214-43 s/d nomor L. 214-49 9.
Sebelum dilaksanakannya amandemen, situasi pasar modal di Perancis sebenarnya sudah cukup semarak dan berhasil menarik minat dari pemodal domestiknya maupun asing (sebagian besar berbasis di London), untuk menjalankan transaksi tidak hanya bagi efek beragun aset tetapi juga bagi produk lainnya, seperti RMBS atau CMBS. Keadaan sebelum amandemen sudah cukup kondusif bagi perkembangan minat terhadap sejumlah aset kelas tertentu seperti: Future Receivable, Mortgage Backed Receivable, Export Receivable maupun Collateralized Debt Obligations.
Dalam memanfaatkan situasi yang ada tersebut, dan guna lebih menarik investor, maka dilakukanlah amandemen undang-undang
9
Sumber: Gide Loyrette Novel: “Amendments to the French Securitisation Law: Modernising and Securing the French Securitisastion Market”, 13 May 2003
sekuritisasi yang dimaksudkan untuk mendukung perubahan kategori tertentu dari receivable, penerbitan instrumen keuangan baru, dan penerapan mekanisme cashflow yang aman, serta mempermudah beberapa praktek terkait dimasa yang akan datang. Dan berkat amandemen ini pulalah, Perancis kembali menjadi salah satu pemimpin dalam peringkat pasar sekuritisasi Eropa ke Lima (fifth European securitization market) setelah Italia dan Jerman.
Dalam penerapannya, unit yang dikeluarkan oleh SPV hanya mewakili hak kepemilikan bersama (co-ownership) dalam akumulatif pendapatan (pool of receivable) dan oleh Parlemen Perancis tidak dibedakan apakah sebagai instrumen ekuitas atau hutang. Hal ini tidak menguntungkan karena menghambat pemasaran kepada para investor dengan kategori tertentu (perusahaan asuransi Jerman dalam menghitung rasio kehatia-hatian maupun perusahaan asuransi di Perancis sendiri untuk tujuan regulator dan finansial) sehingga menyulitkan posisi SPV itu sendiri. 1. Sekuritisasi Sintetis
Di Perancis, sebuah SPV bisanya di tujukan untuk credit default swap guna menjamin resiko timbulnya kegagalan kredit (bagi pembeli). Amandemen dari Undang-undang Sekuritisasi Perancis ditujukan untuk mendayagunakan SPV sebagai alat untuk sekuritisasi sintetis / synthetic securitisation vehicle. Sehingga, SPV tidak hanya digunakan dalam credit default swap sebagai penjamin resiko bagi pembeli tetapi juga sebagai penjamin resiko bagi penjual. Dengan demikian, SPV menjadi sarana yang ideal untuk sintetis transaksi sekuritisasi di Perancis sebagai hasil dari perpaduan antara amandemen Undang-undang dan penerbitan SPV bagi sekuritisasi hutang.
2. Future Receivables
Future receivables merupakan hasil dari (i) Perjanjian yang akan berjalan dengan jumlah dan jatuh temponya belum ditentukan; (ii) Perjanjian yang telah berjalan dimana barang/jasa belum diberikan. Undang-undang sekuritisasi di Perancis ini menjelaskan secara eksplisit dimungkinkannya perpindahan future receivables yang telah memenuhi syarat tertentu, seperti: jenis bisnis, periode referensinya, debiturnya dan zona geografis- nya.
Amandemen dari undang-undang sekuritisasi di Perancis ini juga ditujukan untuk mendukung penegakan pelaksanaan transfer future receivables (tetapi bukan untuk membuka celah bagi kerugian yang harus diterima karena bangkrutnya originator), dengan menggugurkan keputusan terdahulu yang dikeluarkan oleh parlemen Perancis dari seksi komersial. Penyempurnaan undang-undang ini sejalan dengan makna asal dari undang-undang sekuritisasi serta pengertiannya bahwa transferee / investor berhak untuk mendapatkan penghasilan dari cashflow yang berasal dari perpindahan piutang sepanjang waktu yang disepakati tanpa terpengaruh oleh kebangkrutan dari originator.
3. Export Receivable (Piutang Ekspor)
Dalam Pan-Eropa atau transaksi sekuritisasi internasional, portofolio yang dipegang oleh originator-originator yang berasal dari Perancis cenderung terdiri dari piutang ekspor (piutang yang dipegang oleh originator-originator Perancis terhadap debitur asing). Dalam hal ini, adalah suatu keharusan untuk menentukan terlebih dahulu apakah perpindahan piutang kepada SPV memungkinkan untuk dilaksanakan terhadap debitur yang telah ditetapkan dan pihak ketiganya (kreditur dari originator).
Konvensi Roma menyatakan bahwa undang-undang perpindahan piutang mengatur persyaratan dan kewajiban debitur tertunjuk. Jika perpindahan piutang tersebut diatur dalam undang-undang Perancis, maka tidak ada formalitas tertentu yang persyaratkan. Namun demikian, Konvensi Roma tidak dapat diterapkan pada kewajiban terhadap pihak ketiga. Dengan demikian peradilan Perancislah yang berwenang dalam mengatur hal tersebut dimana bagi pihak ketiga, persyaratan-persyaratan yang berlaku dapat berasal dari undang-undang domisili dari debiturnya (substantive law). Jika originator Perancis memindahkan piutangnya dari debitur Spanyol kepada pihak ketiga, maka undang-undang Spanyol-lah yang berlaku dalam persyaratan proses perpindahan piutang ke pada pihak ketiganya tersebut.
4. Mekanisme Cash Flow
Akun beneficiary pihak ketiga sering digunakan dalam sekuritisasi transaksi di Perancis guna meringankan resiko gabungan yang timbul dari kebangkrutan originator tanpa merubah prosedur penagihan pada originator. Akun beneficiary pihak ketiga membedakan pemegang nominal akun tersebut dari beneficiary pihak ketiga yang seseungguhnya atau kreditur dari tiap-tiap jumlah yang dikredit terhadap akun tersebut. Seandainya sebuah akun dibuka atas nama originator dan menggunakan SPV yang terdaftar sebagai beneficiary pihak ketiga, SPV tersebut dapat digunakan untuk mengklaim tiap tagihan yang akan jatuh tempo dari akun walaupun originatornya mengalami kebangkrutan. Di Perancis saat ini, penggunaan akun beneficiary pihak ketiga hanya didasarkan pada kasus tertentu dalam undang-undang Perancis. Berdasarkan atas kurangnya peraturan dan undang-undang yang berkaitan dengan penggunaan akun beneficiary pihak ketiga, lembaga-lembaga pemeringkat bersepakat untuk tidak menggunakan akun beneficiary pihak ketiga sebagai suatu mekanisme perlindungan yang efisien.
Dalam amandemen undang-undang sekuritisasi dijelaskan bahwa manajemen perusahaan dan servicer dapat membuat persetujuan bahwa sejumlah tagihan akan dibayarkan kepada akun tagihan terpisah dengan menggunakan SPV yang terdaftar sebagai beneficiary. Kreditur dari servicer tidak dapat mengklaim pembayaran pada sejumlah tagihan, termasuk didalamnya seandainya servicer mengalami kebangkrutan. Akun tagihan terpisah akan menjadi lebih efisien dibandingkan dengan jaminan akun bank tertentu, karena hal ini sesuai dengan standar yang diterapkan oleh pihak lembaga pemeringkat sehubungan dengan kemungkinan timbulnya resiko gabungan.
5. Kustodian
Amandemen terhadap undang-undang sekuritisasi Perancis memungkinkan Kustodian berasal dari institusi kredit berlisensi di Perancis, cabang dari institusi kredit yang dibiayai oleh paspor Eropa maupun institusi lain yang diberikan kewenangan oleh Menteri Ekonomi Perancis. Kustodian tidak lagi diharuskan untuk menyimpan dokumen kontrak yang terhubung dengan piutang berdasarkan peraturan yang diterapkan. Untuk tujuan praktis, kewajiban ini kemudian secara kontrak diserahkan kepada originator atau servicer. Peraturan perundang-undangan yang berlaku kemudian di sesuaikan dengan keperluan praktis.