• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI TENTANG PERDAGANGAN EFEK BERAGUN A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STUDI TENTANG PERDAGANGAN EFEK BERAGUN A"

Copied!
200
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI TENTANG

PERDAGANGAN EFEK BERAGUN ASET

Oleh:

Tim Studi Perdagangan Efek Beragun Aset

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS PASAR MODAL

(2)

Abstraksi

Terganggunya iklim usaha dan investasi akibat dari krisis ekonomi membawa dampak bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam memperoleh pendanaan atas kegiatan usahanya. Untuk itu, ada salah satu cara untuk mendapatkan suntikan pendanaan secara eksternal, yakni melalui proses sekuritisasi. Sekuritisasi merupakan suatu proses transformasi aset yang tidak likuid menjadi surat berharga yang dapat diperdagangkan sesuai dengan kebutuhan investor. Dan dalam praktek istilah sekuritisasi diidentikkan dengan Asset Backed Securities (Efek Beragun Aset). Adapun piutang yang dapat dijadikan underlying meliputi: piutang hipotek rumah, kredit mobil, kartu kredit, sewa guna usaha dsb.

Perkembangan Efek Beragun Aset di Indonesia terbilang sangat baru yakni dimulai dengan penerbitan sekuritisasi aset kartu kredit oleh City Bank pada tahun 1995, dan inipun dilakukan di luar negeri. Di pasar modal Indonesia, sampai saat Bapepam telah memiliki perangkat peraturan yang berkaitan dengan Efek Beragun Aset ini, namun belum ada satupun perusahaan yang memanfaatkan instrumen ini sebagai sarana pendanaan di pasar modal. Dalam peraturan-peraturan Bapepam inipun mencakup proses penerbitan Efek Beragun Aset dan pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatannya termasuk peran Kreditur awal/originator, penyedia jasa/serviser, Manajer Investasi, Bank Kustodian, Konsultan hukum, Akuntan Publik, pemeringkat efek, dsb. Lebih lanjut, keunggulan, resiko, sarana peningkatan kredit serta permasalahan-permasalahan yang muncul dari Efek Beragun Aset layak diketengahkan, dengan asumsi dapat diperoleh gambaran dan posisi yang jelas dari instrumen dimaksud.

(3)

mengenai ketentuan persyaratan pernyataan pendaftaran, persyaratan keterbukaan, dan ketentuan tentang proses pelaksanaan Efek Beragun Aset itu sendiri. Disamping itu, juga mempelajari praktek dan ketentuan Efek Beragun Aset yang ada di Indonesia. Dipaparkan pula hasil pengiriman kuisioner dengan populasi yang terdiri dari berbagai macam pihak yang terlibat. Sehingga pada akhirnya dapat disampaikan beberapa rekomendasi yang berkaitan dengan Efek Beragun Aset.

(4)

KATA PENGANTAR

Setelah krisis moneter tahun 1997, telah membukakan mata dunia usaha yang dihadapkan pada kenyataan bahwa dunia perbankan bukanlah satu-satunya motor penggerak di sektor rill. Karena itu harus ada upaya lain untuk mencari sumber dana lain yang bisa diandalkan untuk keperluan jangka panjang. Salah satu yang bisa diharapkan adalah melalui pasar modal. Nah, dari bidang pasar modal ini yang belum banyak digali dan dimanfaatkan oleh para pelaku pasar yakni produk yang bernama Efek Beragun Aset (Asset Backed Securities).

Berkaitan dengan produk investasi tersebut diatas, maka dipandang perlu untuk melakukan studi perdagangan Efek Beragun Aset. Studi ini dimaksudkan untuk mempelajari segala aspek berkenaan dengan Efek Beragun Aset, praktek-praktek perdagangan Efek Beragun Aset di negara lain, dan respon para pelaku pasar terhadap keberadaan produk ini.

Dalam melakukan studi tentang perdagangan Efek Beragun Aset ini dilakukan dengan dua cara. Pertama melalui studi pustaka, yaitu melakukan pengumpulan literatur yang terkait dengan konsep dan praktek Efek Beragun Aset di beberapa negara yang telah mempunyai ketentuan khusus tentang Efek Beragun Aset. Kedua melalui studi lapangan yang dilakukan dengan metode survey melalui kuisioner kepada pihak yang berkaitan dengan penerbitan Efek Beragun Aset, yakni Manajer Investasi, Bank Kustodian, Originator/kreditur awal, Lembaga Pemeringkat Efek, Penjamin Emisi Efek, Bursa Efek, Konsultan Hukum, dan Akuntan Publik. Selain itu kuisioner ditujukan kepada investor institusional yang meliputi: lembaga asuransi dan lembaga dana pensiun. Studi lapangan juga dilakukan lewat diskusi dengan narasumber yang berkompeten dalam Efek Beragun Aset.

(5)

Akhir kata, perlu kami sampaikan “Tiada gading yang tak retak”

demikian pula dengan studi tentang Efek Beragun Aset ini kami menganggap banyak kekurangannya. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun demi perbaikan hasil studi terbuka dan kami harapkan.

Wassalam,

(6)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar...iii

Daftar Isi ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

I. LATAR BELAKANG... 1

II. STRUKTUR TIM STUDI ... 4

III. TUJUAN STUDI... 5

IV. METODE STUDI... 5

V. RUANG LINGKUP STUDI ... 6

VI. OBYEK STUDI... 6

VII.WAKTU STUDI ... 7

BAB II STUDI PUSTAKA... 8

I. DEFINISI DAN JENIS... 8

II. KONSEP... 9

III. SEJARAH ... 10

IV. PROSES DAN PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT... 12

1. Fungsi Manajer Investasi berkaitan dengan Efek Beragun Aset ... 15

2. Fungsi Bank Kustodian berkaitan dengan Efek Beragun Aset ... 16

3. Proses Penerbitan Efek Beragun Aset... 17

4. Pihak-pihak yang terlibat ... 19

V. KEUNGGULAN, RISIKO, DAN SARANA PENINGKATAN KREDIT... 21

VI. PERMASALAHAN STRATEGIS... 24

1. Aspek Hukum ... 24

2. Aspek Akuntansi... 26

3. Aspek Perpajakan ... 27

(7)

I. AMERIKA SERIKAT ... 29

1. Master Trust ... 32

2. Struktur EBA kartu kredit... 33

II. PERANCIS ... 35

1. Sekuritisasi Sintetis ... 36

2. Future Receivables ... 37

3. Export Receivable (Piutang Ekspor) ... 37

4. Mekanisme Cash Flow ... 38

5. Kustodian ... 39

III. JEPANG ... 39

1. Produk Keuangan yang dapat disekuritisasi di Jepang .. 41

a. Commercial Paper ... 41

b. Mortgage Deeds... 42

c. Sertifikat Residential Mortgage ... 42

d. Residential Mortgage Trusts ... 43

e. Pinjaman Bank (Bank Loans) ... 43

f. Kepentingan Kepemilikan (Ownership Interests) yang terbagi di commercial real property... 43

g. Leasing dan Kredit Mobil ... 44

h. Sekuritisasi Aset lainnya ... 44

2. Karakteristik Pasar ... 45

a. Fragmentasi Pasar dan Industri ... 45

b. Ketiadaan Aset Keuangan ... 45

IV. KOREA SELATAN... 46

V. JERMAN ... 51

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN ... 54

I. PERBANDINGAN EFEK BERAGUN ASET DI INDONESIA DENGAN DI NEGARA-NEGARA LAIN ... 54

1. Peraturan... 54

(8)

3. Special Purpose Vehicle ... 58

5. Transaksi... 59

6. Keterbukaan Informasi ... 59

7. Persetujuan Pengalihan Aset Keuangan ... 60

8. Perlakuan Di Bidang Pajak... 60

9. Pelaporan Keuangan... 61

II. HASIL DAN PEMBAHASAN... 62

1. Presentasi Nara Sumber dan Kunjungan ke Surabaya .. 62

2. Populasi, Sampel dan Responden ... 64

3. Pembahasan dan Hasil Tabulasi Survey ... 67

a. Hasil Tabulasi Kuisioner untuk Bursa Efek ... 67

b. Hasil Tabulasi Kuisioner untuk Penjamin Emisi Efek 68 c. Hasil Tabulasi Kuisioner untuk Pemeringkat Efek .... 81

d. Hasil Tabulasi Kuisioner untuk Originator... 82

e. Hasil Tabulasi Kuisioner untuk Investor Institusi... 88

f. Hasil Tabulasi Kuisioner untuk Manajer Investasi .... 95

g. Hasil Tabulasi Kuisioner untuk Bank Kustodian ... 118

h. Hasil Tabulasi Kuisioner untuk Akuntan Publik... 125

i. Hasil Tabulasi Kuisioner untuk Konsultan Hukum .. 133

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 140

I. KESIMPULAN... 140

1. Teknik Perhitungan ... 140

2. Perlindungan Investor ... 141

3. Perlakuan Pajak ... 141

4. Perdagangan di Pasar Sekunder ... 142

5. Hasil Survey ... 142

II. SARAN ... 144

1. Perencanaan proses yang baik dan dukungan... 144

2. Penyesuaian Peraturan... 145

(9)

4. Perlunya adanya permulaan yang dapat dilakukan oleh

pemerintah ... 148

5. Perlunya sosialisasi tentang Efek Beragun Aset... 148

Daftar Kepustakaan ... 149

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Sebagai akibat dari krisis ekonomi yang melanda negara Indonesia pada tahun 1997, yang ditandai dengan terpuruknya nilai tukar mata uang Rupiah dan terganggunya iklim usaha dan investasi, maka banyak pihak yang kesulitan mendapatkan pendanaan atas kegiatan usahanya dan di sisi lain banyak investor yang kehilangan kepercayaan untuk melakukan investasi. Hal tersebut menyebabkan terjadinya capital flight dalam skala yang sangat besar dan banyaknya dunia usaha yang melakukan

outsourcing ke luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan alternatif sumber pendanaan atas kegiatan usahanya yang relatif masih prospektif. Karena pada saat itu, investor luar negeri juga kurang yakin dalam memberikan pinjaman maupun berinvestasi pada perusahaan-perusahaan di Indonesia, maka jual beli atas aset/aktiva perusahaan yang masih bisa diharapkan memberikan suntikan pendanaan eksternal bagi kegiatan usaha suatu perusahaan untuk menghindari kemacetan usaha yang bisa berakibat pada proses likuidasi atau penghentian kegiatan usaha.

(11)

tercatat melakukan proses sekuritisasi atas aset keuangannya di luar negeri.

Sekuritisasi merupakan suatu proses transformasi aset yang tidak likuid menjadi surat berharga yang dapat diperdagangkan sesuai dengan kebutuhan para investor. Dengan demikian, perusahaan akan mendapatkan dana dengan jaminan atau menyerahkan aset keuangan yang dimilikinya dan kemudian diterbitkan suatu surat berharga oleh pihak lain yang dikenal dengan sebutan sebagai special purpose vehicle atau entitas yang bertindak sebagai mediator antara pihak yang membutuhkan dana dengan investor (pihak-pihak yang bersedia menyerahkan dana). Walaupun sekuritisasi banyak ragamnya, namun seringkali istilah sekuritisasi diidentikkan dengan Asset Backed Securities yang di bahasa Indonesia dikenal dengan nama Efek Beragun Aset.

Dari istilahnya, Efek Beragun Aset sudah dapat dipahami bahwa efek yang diterbitkan dijamin dengan adanya agunan aset, lebih tepatnya adalah efek yang menggunakan agunan aset keuangan (financial assets). Para pemegang efek akan mendapatkan pelunasan atas efek yang dipegangnya berasal dari pelunasan atas aset keuangan yang menjadi agunannya. Biasanya nilai dari agunan lebih besar daripada jumlah dana yang diserahkan untuk mendapatkan efek tersebut. Dengan demikian Efek Beragun Aset dikategorikan sebagai fixed income instrument.

Dalam era tahun 2003 yang oleh pemerintah juga dicanangkan sebagai era Investment Year 20031 dengan pertumbuhan ekonomi selama semester pertama menunjukkan tingkat pertumbuhan yang cukup menggembirakan, sehingga kesempatan bagi dunia usaha untuk melakukan ekspansi dan atau era dimulai suatu usaha baru. Dengan demikian, dimungkinkan sekali akan dibutuhkannya sumber pendanaan

1

(12)

eksternal bagi dunia usaha yang antara lain dapat dilakukan melalui sarana di pasar uang dan di pasar modal.

Dengan adanya trauma krisis ekonomi yang dampaknya masih dirasakan oleh semua pihak hingga saat ini, maka kalangan perbankan maupun investor akan sangat berhati-hati dalam mengucurkan dananya. Fenomena pertumbuhan investasi pada Reksa Dana yang sangat pesat, menunjukkan sikap kehati-hatian para investor yang tersirat dari prinsip diversifikasi portofolio efek yang ditawarkan oleh vehicle2 tersebut. Di sisi lain pemberian kredit oleh pihak perbankan juga lebih diarahkan kepada kredit yang ada jaminannya atau kepada kegiatan usaha yang benar-benar sudah terbukti kelayakan prospeknya.

Kenyataan tersebut sebenarnya sangat mendukung munculnya alternatif investasi baru yaitu investasi yang ada jaminannya atau investasi yang resikonya terdiversifikasi. Efek Beragun Aset dapat mempunyai kedua kriteria tersebut yaitu adanya agunan aset keuangan dan banyaknya jumlah obligor (debitur awalnya). Belum lagi kalau dilihat dari bentuk penerbitnya yang berdasarkan ketentuan peraturan pasar modal di Indonesia diharuskan melalui suatu bentuk yang disebut Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset.

Beberapa ketentuan yang secara langsung berkaitan dengan Efek Beragun Aset di Indonesia:

1. Peraturan Bapepam Nomor V.G.5 tentang Fungsi Manajer Investasi berkaitan dengan Efek Beragun Aset;

2. Peraturan Bapepam Nomor VI.A.2 tentang Fungsi Bank Kustodian berkaitan dengan Efek Beragun Aset;

3. Peraturan Bapepam Nomor IX.C.9 tentang Pernyataan Pendaftaran Dalam Rangka Penawaran Umum Efek Beragun Aset;

2

(13)

4. Peraturan Bapepam Nomor IX.C.10 tentang Pedoman Bentuk Dan Isi Prospektus Dalam Rangka Penawaran Umum Efek Beragun Aset; 5. Peraturan Bapepam Nomor IX.K.1 tentang Pedoman Kontrak Investasi

Kolektif Efek Beragun Aset; dan

6. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-147/PJ/2003 tanggal 13 Mei 2003 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Yang Diterima Atau Diperoleh Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset Dan Para Investornya.

Dengan melihat adanya potensi diterbitkannya Efek Beragun Aset di Indonesia dan ketentuan yang berkaitan dengan Efek Beragun Aset sudah ada sejak tahun 1997, seharusnya Indonesia sudah memiliki instrumen investasi yang disebut Efek Beragun Aset. Akan tetapi pada kenyataannya, hingga saat ini tidak ada satupun pihak yang menerbitkan Efek Beragun Aset dan atau melakukan penawaran umum melalui pasar modal Indonesia.

II. STRUKTUR TIM STUDI

Studi ini dilakukan oleh Tim Studi Perdagangan Efek Beragun Aset yang merupakan bagian dari Proyek Peningkatan Efisiensi Pasar Modal Bapepam. Tim studi ini dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 189/KM.1/2003 tanggal 28 April 2003 tentang Pembentukan Tim Studi Perdagangan Efek Beragun Aset, dan Surat Keputusan Ketua Pelaksana Tim Studi Perdagangan Efek Beragun Aset Nomor: Kep-01/PPEPM.5/2003 tanggal 12 Mei 2003 tentang Pengangkatan Anggota Pembantu Pelaksana dan Sekretariat Tim Studi Perdagangan Efek Beragun Aset.

Tim Studi yang melakukan penelitian ini terdiri dari pegawai Bapepam dengan susunan sebagai berikut:

1. 2 (dua) orang Pengarah;

(14)

3. 10 (sepuluh) orang Anggota Pelaksana;

4. 4 (empat) orang Anggota Pembantu Pelaksana; dan 5. 2 (dua) orang Anggota Sekretariat.

III. TUJUAN STUDI

Studi ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:

1. Mempelajari pengertian/jenis Efek Beragun Aset yang dilakukan oleh

Special Purpose Vehicle di negara lain;

2. Mempelajari ketentuan-ketentuan yang terkait dengan proses penerbitan Efek Beragun Aset di Indonesia dan di negara lain. Antara lain mengenai ketentuan persyaratan pernyataan pendaftaran (registration requirement), persyaratan keterbukaan (disclosure requirement), dan ketentuan pelaporan selanjutnya, baik yang bersifat periodik maupun yang insidentil;

3. Mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan dan resiko terjadinya gagal bayar dalam proses sekuritisasi dengan penerbitan Efek Beragun Aset;

4. Mempelajari faktor-faktor yang mendorong originator untuk melakukan sekuritisasi atas aset keuangannya yang kemudian diterbitkan suatu Efek Beragun Aset;

5. Mempelajari minat investor atas instrumen Efek Beragun Aset;

6. Meneliti faktor-faktor yang menjadi kendala dan yang diperlukan dalam rangka mendukung diterbitkannya Efek Beragun Aset di Indonesia; 7. Memberikan bahan referensi untuk pengambil kebijakan berkaitan

dengan pengaturan Efek Beragun Aset.

IV. METODE STUDI

(15)

1. Studi Kepustakaan dilakukan dengan mengumpulkan literatur yang terkait dengan konsep dan praktek penerbitan Efek Beragun Aset di beberapa negara yang telah mempunyai ketentuan khusus untuk Efek Beragun Aset;

2. Studi Lapangan dilakukan dengan metode survey melalui kuisioner kepada pihak yang akan terlibat dengan proses penerbitan Efek Beragun Aset yaitu Originator, Investor Institusi, Manajer Investasi, Bank Kustodian, Akuntan Publik, Konsultan Hukum, Penjamin Emisi Efek, Lembaga Pemeringkat Efek, dan Bursa Efek. Sebagai informasi tambahan bahwa kuisioner juga ditujukan kepada perusahaan yang telah melakukan sekuritisasi atas aset keuangannya di luar negeri. Metode sampling digunakan dalam menentukan responden lainnya. 3. Studi Lapangan juga dilakukan lewat diskusi dengan narasumber yang

berkompeten dalam bidang Efek Beragun Aset, yaitu Dr. Roy Sembel dan kunjungan ke Bursa Efek Surabaya.

V. RUANG LINGKUP STUDI

Studi ini mencakup pengkajian terhadap ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan Efek Beragun Aset yang ada di Indonesia dan di beberapa negara yang telah mempunyai instrumen serupa dengan Efek Beragun Aset dan identifikasi permasalahan penerapannya di Indonesia. Disamping itu, studi juga melakukan pengkajian terhadap pendapat atau masukan dari para responden, khususnya yang berhubungan dengan kendala sehingga belum pernah ada penerbitan Efek Beragun Aset di Indonesia.

VI. OBYEK STUDI

(16)

1. Teori dan filosofi tentang penerbitan Efek Beragun Aset di berbagai negara;

2. Pola konsep Efek Beragun Aset di beberapa negara yang telah memiliki ketentuan dan melakukan penerbitan Efek Beragun Aset;

3. Pendapat para responden yang bersedia memberikan jawaban atas kuisioner yang dikirimkan oleh tim dan pendapat nara sumber.

VII. WAKTU STUDI

(17)

BAB II

STUDI PUSTAKA

I. DEFINISI DAN JENIS

Beberapa definisi efek beragun aset adalah sebagai berikut:

1. Dalam Knowledge Bank dari Lyons Financial Solutions Holdings Ltd khususnya yang berkaitan dengan penelitiannya yang berjudul

Securitization Explained

“Asset-backed securities are securities that are primarily serviced by cash flows of a securitised assets that attracts interest on the basis of either being fixed or variable for maturities that can be fixed, revolving, either long term or short term, that by their own terms convert into cash over the duration attached to them”.

2. Ian H. Giddy, Professor of Finance New York University, memaparkan dalam situsnya 3

“Asset-backed securities are securities which are based on pools of underlying assets”.

3. Dalam slide Dr. Tsui Kai Chong berjudul Asset Backed Securities4 “Bonds or notes that are backed by financial assets”.

Berdasarkan ketentuan peraturan di pasar modal Indonesia, telah di definisikan secara jelas bahwa Efek Beragun Aset (Assets Backed Securities) merupakan Efek yang diterbitkan oleh Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset yang portofolionya terdiri dari aset keuangan berupa tagihan yang timbul dari surat berharga komersial, tagihan kartu kredit, tagihan yang timbul di kemudian hari (future receivables), pemberian kredit

3

http://www.absresearch.com/ 4

(18)

termasuk kredit pemilikan rumah atau apartemen, Efek bersifat hutang yang dijamin oleh Pemerintah, Sarana Peningkatan Kredit (Credit Enhancement)/Arus Kas (Cash Flow), serta aset keuangan setara dan asset keuangan lain yang berkaitan dengan aset keuangan tersebut 5. Dengan pemaparan definisi dari peraturan Bapepam tersebut berarti ada beberapa macam jenis aset keuangan yang dapat diproses menjadi efek beragun aset.

Secara umum ada 2 jenis efek beragun aset yang sesuai dengan ketentuan di pasar modal Indonesia yaitu:

1. Efek Beragun Aset Arus Kas Tetap adalah Efek Beragun Aset yang memberikan pemegangnya penghasilan tertentu seperti kepada pemegang Efek bersifat hutang.

2. Efek Beragun Aset Arus Kas Tidak Tetap adalah Efek Beragun Aset yang menjanjikan pemegangnya suatu penghasilan tidak tertentu seperti kepada pemegang Efek bersifat ekuitas.

II. KONSEP

Pada saat ini, sekuritisasi di dunia telah berkembang pesat. Aset yang dapat disekuritisasi tidak hanya terbatas pada aset keuangan, namun telah meluas pada aset lainnya seperti pesawat terbang, bangunan dan disisi lain telah pula diterapkan sekuritisasi atas resiko, seperti resiko asuransi, resiko cuaca dan lain sebagainya.

Pembentukan efek beragun aset sebagaimana proses sekuritisasi lazimnya merupakan suatu proses pembentukan efek, yang merupakan instrumen pasar modal, dari sekumpulan aset yang biasanya merupakan

5

(19)

aset keuangan dan berupa tagihan yang nantinya secara legal akan berada di bawah pengendalian pemegang efek beragun aset (investor) yang diwakili oleh suatu Special Purpose Vehicle, di Indonesia dalam bentuk kontrak investasi kolektif. Pengembalian atas investasi dalam efek beragun aset berasal dari likuidasi atas sekumpulan aset yang menjadi jaminan (asal) pembentukannya, yang dapat juga berasal dari peningkatan kredit (credit enhancement) yang disediakan baik secara internal maupun eksternal.

Konsep pengembalian investasi dalam efek beragun aset pada prinsipnya ada 2, yaitu:

1. Pengembalian pokok dan bunganya dilakukan secara bersamaan dengan tempo yang teratur dalam kurun waktu tertentu atau lazim disebut dengan Amortizing Assets Backed Securities;

2. Pembayaran bunga (return investasi) dilakukan secara periodik sedangkan pelunasan atas pokoknya dilakukan pada akhir periode atau disebut Non-amortizing Assets Backed Securities.

Dalam perkembangannya, metode pengembalian dapat merupakan kombinasi dari ke dua metode tersebut, dimana dalam kurun waktu tertentu hanya dibayar bunganya saja, selanjutnya pembayaran mencakup unsur pokok dan bungannya.

III. SEJARAH

(20)

Di Asia, sekuritisasi aset baru berkembang pada tahun 1990-an, seperti yang terjadi di Jepang, Hong Kong, Thailand, Philipina, Taiwan, Malaysia dan Singapura. Di Indonesia masalah sekuritisasi aset baru dimulai kurang lebih sembilan tahun yang lalu dengan diperkenalkannya transaksi sekuritisasi aset untuk kartu kredit pada tahun 1995 dan untuk auto loan oleh Astra Sedaya Finance pada tahun 1996.

Berdasarkan data yang diungkapkan oleh Michael Steven, presiden direktur PT Kresna Graha Sekurindo Tbk6 dan data dari ABS Finance, perusahaan-perusahaan di Indonesia yang telah menjadi originator namun disekuritisasi di luar negeri, antara lain:

- Citibank NA, Cabang Jakarta telah melakukan sekuritisasi atas tagihan kartu kreditnya pada tahun 1995 sampai dengan 1997;

- PT Astra Sedaya Finance melakukan sekuritisasi tagihan kredit kendaraan bermotornya pada bulan Juni 1996;

- PT Bunas Finance Indonesia Tbk melakukan sekuritisasi tagihan kredit kendaraan bermotornya pada bulan Februari 1997;

- PT Astra International Tbk melakukan sekuritisasi tagihan kredit mobilnya pada bulan Juni 1997;

- PT Bank Bira Tbk melakukan sekuritisasi tagihan kredit kendaraan bermotornya pada bulan Maret 1997;

- PT Bank International Indonesia melakukan sekuritisasi tagihan kartu kredit mendatangnya pada bulan Juli 1997; dan

- PT Putra Surya Multidana Tbk melakukan sekuritisasi tagihan kredit mobil dan sepeda motornya pada bulan Oktober 1997.

6

(21)

IV. PROSES DAN PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT

Efek beragun aset merupakan salah satu instrumen Pasar Modal yang mempunyai latar belakang aspek hukum yang cukup kompleks dan perlu memperoleh perhatian, terutama mengenai bentuk hukum yang dapat dipakai sebagai SPV dan pengalihan hak atas aset. Secara umum Efek Beragun Aset mempunyai konstruksi yang sama di semua negara, namun peraturannya terutama mengenai bentuk Special Purpose Vehicle-nya dapat berbeda untuk masing-masing negara. Di Amerika Serikat bentuk hukum dari Special Purpose Vehicle dalam Efek Beragun Aset adalah Trust atau Corporation. Namun bentuk hukum Trust ini tidak dikenal dalam sistem hukum di Indonesia, oleh karena itu perlu ditetapkan bentuk hukum lain yang sesuai untuk suatu SPV.

Banyak pihak mengajukan agar SPV dalam Efek Beragun Aset mempunyai bentuk hukum Perseroan Terbatas (PT). Dengan bentuk hukum PT, hubungan hukum antara Orginator dengan SPV tidak menjadi masalah karena keduanya memenuhi kriteria sebagai subyek hukum. Bapepam selaku pemegang otoritas Pasar Modal di Indonesia mengajukan bentuk hukum SPV dalam Efek Beragun Aset ini berupa Kontrak Investasi Kolektif. Bentuk hukum ini diintrodusir oleh Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dalam kaitannya dengan Reksa Dana dan mempunyai karakteristik hampir sama dengan Trust di Amerika Serikat.

(22)

portofolio investasi kolektif dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan Penitipan Kolektif.

Kontrak Investasi Kolektif dianggap sebagai bentuk hukum SPV yang paling cocok, karena bentuk hukum ini lebih fleksibel atau luwes serta dibuat berdasarkan azas kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam pasal 1338 KUH Perdata. SPV juga tidak seperti bentuk hukum PT yang mempunyai organ-organ yang terdiri atas Komisaris, Direksi dan Rapat Umum Pemegang Saham. Disamping itu biasanya PT dibentuk untuk melakukan kegiatan bisnis seperti memproduksi atau menjual produk-produk tertentu, sedangkan Special Purpose Vehicle dalam Efek Beragun Aset tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan bisnis.

Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset yang dibuat antara Manajer Investasi dengan Bank Kustodian memenuhi persyaratan sebagai SPV, karena mempunyai karakteristik sebagai berikut:

- Adanya pemisahan yang tegas antara kekayaan organ Pengurus dengan kekayaan SPV;

- Sifat mobilitas atas Efek Beragun Aset;

- Prinsip pengurusan melalui suatu organ (Manajar Investasi dan Bank Kustodian);

- Adanya kewenangan dan tanggung jawab mewakili kepentingan pemegang Efek Beragun Aset di dalam maupun di luar Pengadilan bila terjadi perkara; dan

- Mempunyai keberadaan yang kontinyu (kesinambungan).

(23)

Beragun Aset wajib menandatangani pernyataan bahwa yang bersangkutan telah menerima dan membaca Dokumen Keterbukaan Efek Beragun Aset, sebelum membeli Efek Beragun Aset. Pengalihan aset tersebut dilakukan mengacu pada pasal 613 Kitab Undang-undang Hukum (KUH) Perdata. Untuk mengikat debitur, originator perlu melakukan pemberitahuan/notifikasi kepada si berutang/debitur mengenai penyerahan piutang sesuai pasal 613 KUH Perdata. Dengan pengalihan aset dimaksud, kepentingan pemegang Efek Beragun Aset dilindungi dan sekaligus terhindar dari ketentuan pasal 1131 KUH Perdata yang menentukan bahwa segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya tidak termasuk aset/piutang yang telah dialihkan dalam rangka Efek Beragun Aset.

Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset wajib mencantumkan:

- nama penyedia jasa (servicer) yang memberikan jasanya atas aset keuangan tertentu dalam portofolio Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset dan menetapkan tanggung jawabnya;

- nama Lembaga Pemeringkat Efek dalam hal Efek Beragun Aset ditawarkan melalui Penawaran Umum;

- nama Akuntan yang terdaftar di Bapepam yang ditunjuk untuk memeriksa laporkan keuangan sekurang-kurangnya setiap tahun;

- nama Konsultan Hukum yang terdaftar di Bapepam yang ditunjuk untuk membuat pendapat hukum mengenai peralihan aset keuangan ke dalam portofolio Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset;

- ketentuan tentang penggantian Manajer Investasi, Bank Kustodian, Akuntan, Penyedia Jasa, Lembaga Pemeringkat, Konsultan Hukum, Notaris dan Pihak lain yang berkaitan dengan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset; dan

(24)

1. Fungsi Manajer Investasi berkaitan dengan Efek Beragun Aset

Dalam Peraturan Nomor V.G.5 mengenai Fungsi Manajer Investasi Berkaitan Dengan Efek Beragun Aset (Asset Backed Securities) Lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor Kep-46 /PM/1997, tanggal 26 Desember 1997 diatur mengenai persyaratan dan kewajiban untuk menjadi Manajer Investasi dalam Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset. Manajer Investasi adalah Pihak yang kegiatan usahanya mengelola portofolio Efek untuk para nasabah atau mengelola portofolio investasi kolektif untuk sekelompok nasabah, kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank yang melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Manajer Investasi atas Efek Beragun Aset wajib mempunyai Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) sekurang-kurangnya 25 milliar rupiah. Jumlah ini kiranya cukup menunjukkan kemampuan permodalan terutama pada awal pengembangan Efek Beragun Aset sekarang ini. Selain itu, dipersyaratkan pula bagi Manajer Investasi untuk mempunyai kurangnya 2 orang pegawai yang mempunyai pengalaman kerja sekurang-kurangnya 6 bulan dalam kegiatan perorganisasian, strukturisasi, dan pengelolaan aset yang mendukung Efek Beragun Aset.

Manajer Investasi wajib mengembangkan likuiditas Efek Beragun Aset dan Membantu pemegang Efek Beragun Aset untuk menjual Efek Beragun Asetnya. Selain itu agar terjadi obyektivitas dalam tugas Manajer Investasi, maka dipersyaratkan pula untuk tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Kreditur Awal/Originator yaitu Pihak yang telah mengalihkan asetnya.

(25)

Investor berdasarkan kontrak. Berkaitan dengan fungsi tersebut maka Manajer Investasi wajib:

- mengelola Efek Beragun Aset sebagaimana ditentukan dalam Kontrak Investasi Kolektif;

- bertanggung jawab atas pengelolaan Efek Beragun Aset sesuai dengan ketentuan dalam kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset; - melaporkan hasil pemantauan terhadap Bank Kustodian dan Penyedia

Jasa sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali kepada Bapepam; - melaporkan kepada setiap pemegang Efek Beragun Aset setiap bulan; - mengganti Bank Kustodian dengan pemberitahuan tertulis terlebih

dahulu kepada Bank Kustodian tersebut dan melaporkan kepada Bapepam selambat-lambatnya 5 (lima) hari sesudah penggantian sesuai dengan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset; dan

- mewakili kepentingan pemegang Efek Beragun Aset di dalam dan di luar pengadilan sehubungan dengan aset dalam portofolio Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset atau berkaitan dengan fungsi Bank Kustodian dan Penyedia Jasa.

Dalam peraturan tersebut juga ditentukan bahwa guna melindungi kepentingan masyarakat investor, maka Bapepam mempunyai kewenangan untuk mengganti Manajer Investasi dalam hal Manajer Investasi tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Fungsi Bank Kustodian berkaitan dengan Efek Beragun Aset

(26)

Fungsi Bank Kustodian berkaitan dengan Efek Beragun Aset antara lain: - Melaksanakan penitipan kolektif;

- Memisahkan aset Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset dari aset Bank Kustodian dan atau kekayaan nasabah lain dari Bank Kustodian;

- Melaporkan hasil pelaksanaan tugas sebagaimana ditentukan dalam Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset kepada Bapepam;

- Memenuhi instruksi dari Manajer Investasi sesuai ketentuan dalam Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset; dan

- Melaporkan secara tertulis kepada Bapepam apabila Manajr Investasi melakukan kegiatan yang merugikan pemegang Efek Beragun Aset selambat-lambatnya akhir hari kerja berikutnya.

Dalam pelaksanaan Efek Beragun Aset Bank Kustodian wajib memenuhi instruksi Manajer Investasi sesuai ketentuan dalam Kontrak Investasi Kolektif. Sedangkan apabila instruksi tersebut bertentangan dengan Kontrak Investasi Kolektif atau bertentangan dengan tanggung jawabnya untuk melindungi aset keuangan portofolio Kontrak Investasi Kolektif, maka Bank Kustodian wajib melaporkan instruksi tersebut secara tertulis kepada Bapepam dan selanjutnya Bank Kustodian dapat melaksanakan instruksi tersebut jika ada persetujuan terlebih dahulu dari Bapepam.

3. Proses Penerbitan Efek Beragun Aset

(27)

dokumen kepada Bapepam paling lambat 10 hari sejak ditandatangani Kontrak Investasi Kolektif berupa dokumen keterbukaan, Kontrak Investasi Kolektif yang bersangkutan dan spesimen sertifikat Efek Beragun Aset.

Originator sebagai Kreditur Awal mengadakan transaksi jual beli aset dengan Manajer Investasi untuk kemudian dicatatkan atas nama Bank Kustodian berdasarkan kontrak Investasi kolektif. Selanjutnya Kreditur Awal dapat melaksanakan fungsi sebagai Penyedia Jasa. Penyedia Jasa adalah Pihak yang bertanggung jawab untuk memproses dan mengawasi pembayaran yang dilakukan debitur, melakukan tindakan awal berupa peringatan atau hal-hal lain karena debitur terlambat atau gagal memenuhi kewajibannya, melakukan negosiasi, menyelesaikan tuntutan terhadap debitur dan jasa lain yang ditetapkan dalam kontrak. Untuk hal tersebut penyedia jasa mendapat fee atas jasanya tersebut.

Dalam hal penerbitan Efek Beragun Aset dilakukan melalui Penawaran Umum, Manajer Investasi wajib menyampaikan Pernyataan Pendaftaran kepada Bapepam dengan menyertakan dokumen antara lain: - Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset yang dibuat dalam akta

notariil oleh Notaris yang terdaftar di Bapepam;

- Rancangan akhir propektus (diberi materai dan ditandatangani para Pihak);

- Sertifikat Efek Beragun Aset;

- Contoh formulir pemesanan pembelian Efek Beragun Aset; - Perjanjian berkaitan dengan Efek Beragun Aset;

- Laporan pemeriksaan hukum (legal Audit) dan pendapat hukum (legal opinion);

- Proyeksi arus kas Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset;

- Laporan Keuangan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset yang telah diaudit Akuntan;

(28)

- Dokumen tentang Manajer Investasi; - Dokumen Bank Kustodian; dan

- Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal.

Adapun dokumen yang harus disampaikan dengan cara private placement dalam penerbitan Efek Beragun Aset adalah sebagai berikut: - Dokumen Keterbukaan Efek Beragun Aset;

- Kontrak Investasi Kolektif; dan

- Spesimen sertifikat Efek Beragun Aset.

Dana yang terkumpul dari penerbitan Efek Beragun Aset digunakan untuk membeli aset keuangan berupa tagihan yang timbul dari surat berharga komersial, sewa guna usaha, perjanjian jual beli bersyarat, perjanjian pinjaman cicilan, tagihan kartu kredit, pemberian kredit termasuk kredit pemilikan rumah atau apartemen, Efek bersifat hutang yang dijamin oleh Pemerintah, Sarana Peningkatan Kredit/Arus Kas, serta aset keuangan setara dengan aset lain yang berkaitan dengan aset keuangan tersebut dari pihak Kreditur Awal (Originator).

4. Pihak-pihak yang terlibat

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam proses penerbitan efek beragun aset adalah sebagai berikut:

(29)

b. Originator (kreditur awal) merupakan pihak yang mengalihkan aset keuangannya atau yang melakukan sekuritisasi atas aset keuangannya. Setelah aset keuangannya dijual kepada Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (yang diwakili oleh Manajer Investasi selaku pengelola portofolionya), maka originator berhak atas pembayaran dari Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (yang berasal dari para pemegang Efek Beragun Aset). Pelunasan dari debitur menjadi hak dari Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset yang akan diterima melalui servicer untuk selanjutnya disalurkan kepada para pemegang Efek Beragun Aset.

c. Servicer (penyedia jasa) merupakan pihak yang bertanggung jawab untuk memproses dan mengawasi pembayaran yang dilakukan debitur, termasuk melakukan tindakan awal apabila terjadi keterlambatan/kegagalan pembayaran dari debitur hingga negosiasi sesuai dengan kontrak. Apabila dikehendaki dimungkinkan ada back-up servicer atau penyedia jasa pendukung dan originator dapat saja menjadi servicer.

d. Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset merupakan pihak yang dapat menerbitkan Efek Beragun Aset di Indonesia yaitu kontrak antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang mengikat pemegang Efek Beragun Aset dimana Manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio investasi kolektif dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan kolektif. d. Profesi Penunjang Pasar Modal meliputi Akuntan dan Konsultan

Hukum yang melakukan penelaahan terhadap Efek Beragun Aset dari aspek akuntansi (keuangan) dan aspek hukum, serta Notaris yang berfungsi sebagai pembuat akta atas kontrak-kontrak yang berkaitan dengan Efek Beragun Aset.

(30)

aspek hukumnya, Perusahaan Pemeringkat Efek akan memperhatikan karakter portofolio aset keuangan yang menjadi agunan (Efek Beragun Aset) dalam proses pemeringkatan, dan biasanya ditinjau dari aspek-aspek:

- record pembayaran masa lalu

- jaminan dari debitur yang melekat pada hutang - analisa cash flow projection

- struktur layer Efek Beragun Aset - credit enhancement, serta

- dalam hal aset keuangannya berupa future receivable maka originator juga diperhitungkan.

Disamping itu, kredibilitas servicer dan juga Manajer Investasi akan menjadi faktor yang tak kalah pentingnya mengingat fungsinya sebagai pihak yang mewakili para pemegang Efek Beragun Aset dalam proses pembayaran dari debitur.

f. Investor adalah para pemegang Efek Beragun Aset yang akan menerima pembayaran yang berasal dari debitur awal sesuai dengan jadual dan ketentuan yang tertera dalam sertifikat Efek Beragun Aset. g. Pihak-pihak lain sesuai dengan kebutuhan seperti underwriter jika

dibutuhkan untuk menjamin proses penjualan Efek Beragun Aset, Biro Administrasi Efek untuk mendukung proses administrasi Efek Beragun Aset, credit enhancer untuk menanggung kerugian tingkat tertentu, dan Bursa Efek sebagai tempat pasar sekunder Efek Beragun Aset.

V. KEUNGGULAN, RISIKO, DAN SARANA PENINGKATAN KREDIT

Beberapa keunggulan dari efek beragun aset:

(31)

terjaminnya pasokan arus kas dari Efek Beragun Aset sehingga dapat ditawarkan dengan tingkat pengembalian rendah untuk investor dan investornya menyukainya karena investasinya lebih aman.

2. Efisiensi penggunaan modal dengan adanya Efek Beragun Aset maka struktur neraca perusahaan akan semakin besar leverage-nya dan hal tersebut dapat ditolerir oleh para investor. Dalam arti pengelolaan manajemen keuangan perusahaan akan semakin pruden, taat azas dan efisien dalam menggunakan dana yang dimiliki karena relatif tingginya leverage structure sebagai akibat dari adanya Efek Beragun Aset tersebut.

3. Diversifikasi sumber pembiayaan bukan hanya bisa dilakukan oleh perusahaan besar tetapi juga oleh perusahaan kecil atau perusahaan non-investasi.

4. Source of Liquidity khususnya untuk perusahaan menengah kecil yang sering menghadapi masalah peminjaman secara tradisional, securitisasi sangat membantu perkembangan perusaahaan tersebut. 5. Less public disclosure than competing methods of financing meskipun

Efek Beragun Aset ditawarkan untuk umum, sisi keterbukaan dari penerbit (issuer) tidak dituntut seperti halnya emiten dari efek yang lain. Prinsip kehati-hatian terhadap analisa sekuritisasi bukan pada perusaahaannya tetapi kepada struktur dari transaksi yaitu karakteristik dari underlying asset dan kemampuan daripada perusahaan untuk memelihara asetnya.

Adapun risiko yang mungkin ditimbulkan oleh Efek Beragun Aset adalah: 1. Suku bunga

Efek Beragun Aset mengalami fluktuasi dengan adanya perubahan suku bunga, harga Efek Beragun Aset akan turun bila terjadi peningkatan suku bunga.

(32)

3. Default, pemegang Efek Beragun Aset akan mengalami kerugian apabila debitur dari asset jaminan mengalami kebangkrutan atau tidak mampu membayar tepat pada waktunya atas bunga dan pinjaman pokok.

Sarana peningkatan kredit/arus kas adalah sarana yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas asset keuangan dalam portofolio investasi kolektif dalam rangka pembayaran kepada pemegang Efek Beragun Aset yang dapat dikelompokkan menjadi:

1. Sarana Peningkatan Kredit Secara Internal terdiri dari:

1). Subordinasi dari kelas Efek Beragun Aset tertentu terhadap Efek Beragun Aset lainnya sehubungan dengan Kontrak Investasi Kolektif yang sama, dimana efek yang lebih senior dilindungi oleh efek kelas di bawahnya (subordinate).

2). Over Collateralization nilai portofolio asset yang lebih besar menjamin nilai asset dari Efek Beragun Aset yang lebih kecil.

3). Excess Servicing

4). Excess Spread karena terdapat perbedaan nilai kupon diberikan untuk underlying asset/asset jaminan dengan kupon untuk efek yang diemisikan. Selisih bersih, setelah pembayaran untuk pemegang Efek dan pengeluaran lainnya, dibayarkan untuk menutupi kerugian yang terjadi. Jika masih tersisa maka dana tersebut dapat dimasukan kedalam Reserve Fund untuk lebih meningkatkan kualitas kredit.

5). Reserve Fund

Dana yang digunakan untuk mengganti kerugian yang terjadi sampai batas dana tersebut tersedia. Dana ini biasanya digunakan dengan mengkombinasikannya dengan metode peningkatan lainnya.

(33)

1). Surety Bonds; kerugian yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi. Efek Beragun Aset yang diasuransikan mendapat rating yang sama dengan rating klaim pembayaran asuransi tersebut. 2). Letter of Credit (L/C); biasanya dilakukan oleh bank untuk

membayar kerugian yang ditimbulkan oleh Efek Beragun Aset. 3). Third Party or Parental guarantees; perusahaan induk dari seller

atau servicer menjamin kerugian dari Efek Beragun Aset sampai batas tertentu.

4). Cash Collateral Account; dalam hal ini penerbit meminjam sejumlah peningkatan kredit yang diinginkan umumnya bari bank komersial dan menginvestasikannya pada nilai yang paling tinggi pada efek jangka pendek.

VI. PERMASALAHAN STRATEGIS

1. Aspek Hukum

Pada saat ini, di Indonesia belum ada suatu Undang-undang yang secara khusus mengatur tentang Sekuritisasi ataupun special purpose vehicle, kecuali yang tersurat dan tersirat dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dan Peraturan Pelaksanaannya.

(34)

Beragun Aset ini juga mengikat pihak lain selain pihak yang ada di dalam kontrak itu sendiri. Oleh karena investor (pemegang Efek Beragun Aset) dengan membeli Efek Beragun Aset menjadi pihak dalam Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset berdasarkan asas “aksesi” dan karenanya terikat oleh semua ketentuan sebagaimana di atur dalam Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset.7

Apabila ditinjau dari sudut pandang terbebas dari masalah kepailitan pihak-pihak yang terkait, terdapat 2 hal sangat penting yang mendukung hal tersebut yaitu:

a. Bentuk Special Purpose Vehiclenya

Bahwa aset keuangan yang menjadi portofolio Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset akan terbebas dari kasus kepailitan penerbitnya karena yang menerbitkan Efek Beragun Aset adalah Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset yang bukan merupakan badan hukum akan tetapi suatu kontrak yang tidak dapat dinyatakan pailit. Disamping itu, karena adanya pengaturan khusus dalam UUPM, aset keuangan juga terbebas dari masalah kepailitan pihak-pihak dalam kontrak tersebut karena seluruh aset keuangan dalam portofolio Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset di catat atas nama Bank Kustodian, dan bukan atas nama Manajer Investasi selaku pengelolanya, untuk kepentingan para investor Efek Beragun Aset. Sebagaimana diatur dalam Pasal 56 (3) UUPM bahwa:

Apabila Efek dalam Penitipan Kolektif pada Bank Kustodian merupakan bagian dari Portofolio Efek dari suatu kontrak investasi kolektif dan tidak termasuk dalam Penitipan Kolektif pada Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, maka Efek tersebut dicatat dalam buku daftar pemegang Efek Emiten atas nama Bank Kustodian untuk

7

(35)

kepentingan pemilik Unit Penyertaan dari kontrak investasi kolektif tersebut.

Dan diperkuat dengan pasal 44 (3) yang menyatakan:

Efek yang disimpan atau dicatat pada rekening Efek Kustodian bukan merupakan bagian dari harta Kustodian tersebut.

b. Bentuk Transaksinya

Bahwa aset keuangan yang menjadi portofolio Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset akan terbebas dari kasus kepailitan originator maupun pemegang Efek Beragun Asetnya karena:

- Bentuk transaksi pengalihan aset keuangan dari originator kepada Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset harus dalam bentuk jual lepas tanpa syarat untuk memastikan bahwa aset keuangan tersebut adalah milik originator yang dicatatkan atas nama Bank Kustodian di bawah pengelolaan Manajer Investasi yang dibantu oleh Penyedia Jasa (servicer). Selain ketentuan peraturan pasar modal, yang terkait dengan bentuk transaksi pengalihan ini adalah Pasal 1458 dan pasal 1459 KUH Perdata jis. Pasal 612 dan 613 KUH Perdata.8

- Para pemegang Efek Beragun Aset terikat dengan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset yang harus mengikuti ketentuan dalam kontrak tersebut dalam hal kepemilikannya atas Efek Beragun Aset.

2. Aspek Akuntansi

Di Indonesia, belum ada PSAK atau pedoman akuntansi yang mengatur tentang cara dan metode penyusunan laporan keuangan sehubungan dengan efek beragun aset, khususnya untuk Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset. Namun demikian, prinsip akuntansi Indonesia menganut pada prinsip akuntansi yang berlaku umum, sehingga apabila

8

(36)

tidak ada PSAK atau pedoman akuntansi yang mengatur suatu industri, dapat mengacu pada standar yang sudah ada dan mempunyai kemiripan dengan pembukuan sekuritisasi aset, atau standar akuntansi negara-negara lain.

3. Aspek Perpajakan

Ketentuan perpajakan yang berkaitan dengan efek beragun aset dituangkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-147/PJ/2003 tanggal 13 Juni 2003 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Yang Diterima atau Diperoleh Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset dan Para Investornya. Untuk kepentingan perpajakan Indonesia maka Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset dikelompokkan sebagai Subyek Pajak Badan walaupun bukan merupakan badan hukum dengan rincian sebagai berikut:

a. Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset diperlakukan sama dengan perkumpulan modal yang tidak terbagi atas saham;

b. Pemegang unit penyertaan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset Arus Kas Tidak Tetap diperlakukan sama dengan anggota perkumpulan modal; dan

c. Pemegang unit penyertaan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset Arus Kas Tetap diperlakukan sama dengan kreditor obligasi perkumpulan modal.

Oleh karena Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset dikelompokkan sebagai Subyek Pajak Badan, maka:

(37)

- Dalam memenuhi kewajiban perpajakannya atas penghasilan tersebut di atas, Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset diwakili oleh Bank Kustodian.

Dengan demikian perhitungan Penghasilan Kena Pajak Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset dapat ditegaskan sebagai berikut:

- Penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh dikurangi dengan biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk pembayaran imbalan bunga kepada pemegang Efek Beragun Aset Arus Kas Tetap, imbalan jasa yang dibayarkan atau terutang kepada manajer investasi, bank kustodian, auntan, penyedia jasa, lembaga pemeringkat, konsultan hukum, notaris, dan pihak lainnya, serta keuntungan atau kerugian selisih kurs dari portofolio investasi dalam valuta asing.

(38)

BAB III

EFEK BERAGUN ASET DI BEBERAPA NEGARA

Berikut ini adalah paparan mengenai perkembangan Efek Beragun Aset di beberapa negara, seperti di Amerika Serikat, Perancis, Korea Selatan, Jepang dan Jerman dengan berdasarkan kriteria tertentu seperti: bentuk maupun susunan peraturannya dan perubahan-perubahannya, mekanisme sekuritisasi yang berlangsung, dan sebagainya.

I. AMERIKA SERIKAT

Sekuritisasi dari aset berbasis kartu kredit merupakan salah satu pionir dalam perkembangan sekuritisasi aset di Amerika Serikat. Bersama-sama dengan EBA berbasis kredit mobil, kedua EBA tersebut mendominasi pasar pada saat pertama kali instrumen EBA muncul di pertengahan tahun 1980-an. Hingga akhir tahun 2000, penerbitan EBA berbasis kartu kredit menyumbang 26 persen dari total penerbitan EBA. Kelompok EBA kartu kredit merupakan yang terbesar di atas EBA home equity loan maupun EBA tagihan pembiayaan mobil.

Ada dua hal yang membuat EBA kartu kredit berbeda dengan EBA-EBA lainnya: Pertama, patut diingat bahwa piutang kartu kredit adalah piutang tanpa jaminan (unsecured), sedikit berbeda dari kelaziman EBA yang umumnya dilakukan atas piutang dengan adanya jaminan (secured). Sehingga dalam hal ini, piutang kartu kredit adalah piutang/tagihan yang tidak memiliki jaminan.

(39)

perpindahan risiko kredit dari originator awal ke investor baru. Perpindahan tagihan secara "true sale" secara otomatis menyebabkan beralihnya klaim legal atas jaminan yang menyertai tagihan tersebut.

Masalah perpindahan jaminan tidak menimbulkan masalah dalam perekonomian di negara-negara maju karena sistem hukum dan administrasi telah secara jelas menata kepemilikan secara legal atas "every piece of asset" dalam perekonomiannya. Sebagai implikasinya, ongkos transaksi dari setiap perpindahan tagihan dapat ditekan. Dalam hal ini, kartu kredit merupakan piutang unsecured-yang notabene tidak memiliki underlying asset/jaminan-maka perpindahan jaminan bukan merupakan masalah yang besar di Amerika Serikat.

Kedua, karakteristik dari piutang kartu kredit adalah piutang yang sifatnya bergulir (revolving)-tidak memiliki pembayaran prinsipal melainkan pembayaran cicilan bulanan. Kartu kredit tidak memiliki risiko pembayaran dipercepat (prepayment) sebagaimana halnya tagihan kredit pemilikan rumah (KPR). Yang ada adalah risiko repayment, yaitu manakala pemegang kartu kredit membayar lebih besar dari tagihan bulannya. Dengan demikian, struktur EBA kartu kredit tidak bersifat pass through-mengikuti skedul pembayaran dari piutang orisinalnya. Pemilihan struktur menjadi suatu hal yang sangat krusial di sini.

Meski risiko kredit dari piutang kartu kredit tergolong rendah-dan hal ini sejalan dengan cirinya sebagai unsecured debt-namun pemilihan struktur yang tepat justru bisa membuat peningkatan rating. Hal ini dapat mengurangi risiko kredit atas instrumen secara keseluruhan.

(40)

pemegang kartu kredit tidak dikenakan bunga manakala ia membayar lunas seluruh tagihannya dalam suatu tenggang waktu "grace period" tertentu. Bagi pemegang kartu kredit yang memilih untuk memperpanjang/me-revolve utangnya akan dikenakan bunga atas saldo utang beserta sejumlah porsi pembayaran prinsipal secara bulanan-dikenal sebagai pembayaran minimum.

Pada dasarnya tidak ada penalti yang dikenakan bagi pemegang kartu yang menghendaki pembayaran di atas pembayaran minimum yang ditetapkan. Besarnya pembayaran minimum ditetapkan secara bervariasi-umumnya 8 persen hingga 20 persen dari saldo tersisa. Hal ini diperhitungkan sesuai dengan karakter nasabah pemegang kartu kredit yang bersangkutan dan tentunya setelah mempertimbangkan risiko kredit nasabah. Pembayaran minimum akan menentukan siklus penagihan dalam arti berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi nasabah untuk melunasi seluruh saldo tersisa.

(41)

1. Master Trust

Salah satu elemen yang sangat penting dalam sekuritisasi kartu kredit adalah master trust. Yang dimaksud master trust adalah master dari portofolio piutang kartu kredit yang diisolasi oleh penjual dan servicer piutang kartu kredit untuk kemudian dijadikan basis buat penerbitan EBA. Karena jumlah saldo piutang di dalam master trust dapat berubah ubah sewaktu-waktu, dibutuhkan mekanisme untuk menambah piutang ke dalam trust guna mengganti piutang lama yang disekuritisasi.

Penambahan saldo ke dalam master trust dapat dilakukan secara statis atau pun dinamis. Di dalam pendekatan statis, penambahan saldo piutang dilakukan secara sekali-sekali dalam jumlah tertentu, sementara dalam pendekatan dinamis, penambahan dilakukan secara berkesinambungan sesuai dengan origination yang dihasilkan oleh perusahaan kartu kredit tersebut.

Perusahaan pemeringkat (rating) biasanya membatasi jumlah piutang yang bisa ditambah ke dalam master trust dengan pertimbangan demi menjaga konsistensi standar penjaminan (underwriting) terhadap piutang di dalam master trust. Penambahan statis maupun dinamis sama sama memiliki dampak yang berbeda terhadap kinerja pool dari piutang tersebut. Penambahan secara statis/satu kali cenderung menurunkan kinerja deliquencies dan losses karena adanya kesenjangan (time lag) dari suatu piutang untuk mengalami masa deliquencies. Secara teoretis tidak mungkin piutang yang baru dipindahkan langsung mengalami gagal bayar seketika.

(42)

Untuk memastikan bahwa saldo piutang yang dijaminkan kepada investor tersebut tidak pernah lebih kecil dari jumlah surat berharga (EBA) yang diterbitkan (yang menjadi hak investor/"investor interest") maka biasanya pihak penerbit kartu kredit menjaminkan piutang dalam jumlah yang lebih besar dari sertifikat EBA yang diterbitkan. Kelebihan piutang yang dijaminkan dalam master trust tadi disebut sebagai hak penjual (seller’s interest).

Kinerja piutang dalam master trust tercermin dari berbagai indikator yang terdapat di dalam master trust tersebut. Di antara indikator-indikator yang penting adalah pool yield, pembayaran minimal bulanan, deliquencies, losses, dan excess spread. Adapun informasi mengenai indikator-indikator kinerja master trust secara berkala dapat diperoleh dari Bloomberg.

2. Struktur EBA kartu kredit

Struktur dari EBA berbasis kartu kredit di Amerika Serikat biasanya dibedakan atas dua kelompok (tranches) berdasarkan periode, yaitu tranch revolving yang mencerminkan periode nonamortisasi dan tranch amortisasi yang mencerminkan periode amortisasi. EBA kartu kredit tidak memiliki pembayaran cicilan (bersifat revolving) sampai satu waktu tertentu, biasanya antara 18 sampai 36 bulan. Selama periode tersebut, arus kas yang diperoleh dari pembayaran cicilan bulanan oleh pemegang kartu kredit langsung digunakan untuk reinvestasi dalam bentuk penambahan piutang kartu kredit baru. Di akhir periode revolving, pembayaran cicilan bulanan dari pemegang kartu kredit akan digunakan sebagai pembayaran prinsipal kepada investor. Metode untuk melakukan pembayaran prinsipal kepada investor bervariasi tergantung ekspektasi atas panjang atau pendeknya periode amortisasi.

(43)

1. Amortisasi terkendali (controlled amortization). Besarnya jumlah yang dikendalikan umumnya satu per dua belas dari besarnya surat utang/EBA yang diterbitkan dan dibayarkan ke investor setiap bulan. 2. Rapid amortization. Pada dasarnya investor menerima pembayaran

cicilan bulanan yang dihitung berdasarkan porsi hak investor terhadap total saldo piutang kartu kredit. Besarnya porsi investor ditentukan berdasarkan rasio antara hak investor dengan total saldo piutang dalam master trust pada saat periode revolving berakhir. Dengan metode ini, investor akan menerima sejumlah porsi dari seluruh pembayaran bulanan yang dilakukan pemegang kartu kredit dalam master trust tersebut. Dengan demikian, umur dari periode amortisasi lebih pendek dari amortisasi terkendali.

3. Pembayaran dipercepat (accelerated amortization), di mana investor menerima seluruh pembayaran bulanan dari seluruh obligor/account dalam master trust tersebut. Dengan demikian investor tersebut menerima 100 persen pembayaran cicilan bulanan dari seluruh pemegang kartu kredit di dalam master trust (mencakup porsi yang seharusnya menjadi bagian dari seller’s interest) sehingga menyebabkan amortisasi lebih cepat dari pembayaran amortisasi berdasarkan metode rapid amortisation.

(44)

II. PERANCIS

Perancis adalah negara pertama di benua Eropa yang menerapkan Undang-undang mengenai efek beragun aset yang dikenal dengan nama “the Securitization Law”, pada akhir tahun 1988. Undang-undang tersebut adalah: Undang-undang No. 88-1201 tertanggal 23 Desember 1988, dan berkat undang-undang tersebut lahirlah apa yang kemudian dikenal sebagai Special Purpose Vehicle (SPV) Perancis, yang dalam bahasa Perancis disebut dengan Founds Comune de Crěances (FCC). Adanya amandemen dari negara Perancis pada tahun 1999 terhadap peraturan sekuritisasi yang berlaku di negara tersebut ditujukan lebih kepada peningkatan kualitas SPV, hal ini karena sebelum amandemen dilakukan, keadaan iklim sekuritisasi di Perancis sendiri sudah memuaskan.

Amandemen terhadap Undang-undang ini dilaksanakan berdasarkan peraturan Keuangan dan Moneter Perancis (Code Monětaire et Financier)

nomor L. 214-5 dan nomor L. 214-43 s/d nomor L. 214-49 9.

Sebelum dilaksanakannya amandemen, situasi pasar modal di Perancis sebenarnya sudah cukup semarak dan berhasil menarik minat dari pemodal domestiknya maupun asing (sebagian besar berbasis di London), untuk menjalankan transaksi tidak hanya bagi efek beragun aset tetapi juga bagi produk lainnya, seperti RMBS atau CMBS. Keadaan sebelum amandemen sudah cukup kondusif bagi perkembangan minat terhadap sejumlah aset kelas tertentu seperti: Future Receivable, Mortgage Backed Receivable, Export Receivable maupun Collateralized Debt Obligations.

Dalam memanfaatkan situasi yang ada tersebut, dan guna lebih menarik investor, maka dilakukanlah amandemen undang-undang

9

(45)

sekuritisasi yang dimaksudkan untuk mendukung perubahan kategori tertentu dari receivable, penerbitan instrumen keuangan baru, dan penerapan mekanisme cashflow yang aman, serta mempermudah beberapa praktek terkait dimasa yang akan datang. Dan berkat amandemen ini pulalah, Perancis kembali menjadi salah satu pemimpin dalam peringkat pasar sekuritisasi Eropa ke Lima (fifth European securitization market) setelah Italia dan Jerman.

Dalam penerapannya, unit yang dikeluarkan oleh SPV hanya mewakili hak kepemilikan bersama (co-ownership) dalam akumulatif pendapatan (pool of receivable) dan oleh Parlemen Perancis tidak dibedakan apakah sebagai instrumen ekuitas atau hutang. Hal ini tidak menguntungkan karena menghambat pemasaran kepada para investor dengan kategori tertentu (perusahaan asuransi Jerman dalam menghitung rasio kehatia-hatian maupun perusahaan asuransi di Perancis sendiri untuk tujuan regulator dan finansial) sehingga menyulitkan posisi SPV itu sendiri.

1. Sekuritisasi Sintetis

(46)

2. Future Receivables

Future receivables merupakan hasil dari (i) Perjanjian yang akan berjalan dengan jumlah dan jatuh temponya belum ditentukan; (ii) Perjanjian yang telah berjalan dimana barang/jasa belum diberikan. Undang-undang sekuritisasi di Perancis ini menjelaskan secara eksplisit dimungkinkannya perpindahan future receivables yang telah memenuhi syarat tertentu, seperti: jenis bisnis, periode referensinya, debiturnya dan zona geografis-nya.

Amandemen dari undang-undang sekuritisasi di Perancis ini juga ditujukan untuk mendukung penegakan pelaksanaan transfer future receivables (tetapi bukan untuk membuka celah bagi kerugian yang harus diterima karena bangkrutnya originator), dengan menggugurkan keputusan terdahulu yang dikeluarkan oleh parlemen Perancis dari seksi komersial. Penyempurnaan undang-undang ini sejalan dengan makna asal dari undang-undang sekuritisasi serta pengertiannya bahwa transferee / investor berhak untuk mendapatkan penghasilan dari cashflow yang berasal dari perpindahan piutang sepanjang waktu yang disepakati tanpa terpengaruh oleh kebangkrutan dari originator.

3. Export Receivable (Piutang Ekspor)

(47)

Konvensi Roma menyatakan bahwa undang-undang perpindahan piutang mengatur persyaratan dan kewajiban debitur tertunjuk. Jika perpindahan piutang tersebut diatur dalam undang-undang Perancis, maka tidak ada formalitas tertentu yang persyaratkan. Namun demikian, Konvensi Roma tidak dapat diterapkan pada kewajiban terhadap pihak ketiga. Dengan demikian peradilan Perancislah yang berwenang dalam mengatur hal tersebut dimana bagi pihak ketiga, persyaratan-persyaratan yang berlaku dapat berasal dari undang-undang domisili dari debiturnya (substantive law). Jika originator Perancis memindahkan piutangnya dari debitur Spanyol kepada pihak ketiga, maka undang-undang Spanyol-lah yang berlaku dalam persyaratan proses perpindahan piutang ke pada pihak ketiganya tersebut.

4. Mekanisme Cash Flow

(48)

Dalam amandemen undang-undang sekuritisasi dijelaskan bahwa manajemen perusahaan dan servicer dapat membuat persetujuan bahwa sejumlah tagihan akan dibayarkan kepada akun tagihan terpisah dengan menggunakan SPV yang terdaftar sebagai beneficiary. Kreditur dari servicer tidak dapat mengklaim pembayaran pada sejumlah tagihan, termasuk didalamnya seandainya servicer mengalami kebangkrutan. Akun tagihan terpisah akan menjadi lebih efisien dibandingkan dengan jaminan akun bank tertentu, karena hal ini sesuai dengan standar yang diterapkan oleh pihak lembaga pemeringkat sehubungan dengan kemungkinan timbulnya resiko gabungan.

5. Kustodian

Amandemen terhadap undang-undang sekuritisasi Perancis memungkinkan Kustodian berasal dari institusi kredit berlisensi di Perancis, cabang dari institusi kredit yang dibiayai oleh paspor Eropa maupun institusi lain yang diberikan kewenangan oleh Menteri Ekonomi Perancis. Kustodian tidak lagi diharuskan untuk menyimpan dokumen kontrak yang terhubung dengan piutang berdasarkan peraturan yang diterapkan. Untuk tujuan praktis, kewajiban ini kemudian secara kontrak diserahkan kepada originator atau servicer. Peraturan perundang-undangan yang berlaku kemudian di sesuaikan dengan keperluan praktis.

III. JEPANG

(49)

Secara khusus ada 3 kendala hukum yang melingkupi sekuritisasi di Jepang. Pertama, Proses transfer asset dari sekuritisasi aset ini biayanya sangat mahal. Pemenuhan transfer pinjaman dan tagihan mensyaratkan akta notariil atas pinjaman dan tagihan dari individu dimaksud satu per satu. The Law for Regulating Business for Specific Claims (MITI Law) mengijinkan perusahaan leasing dan perkreditan untuk melakukan transfer asset dengan vehicle yang bernama “Special Purpose Entity”/SPE.

Kedua, undang-undang perusahaan di Jepang mengkondisikan sekuritisasi menjadi sesuatu hal yang mahal dalam membentuk SPE sebagai vehicle atas sekuritisasi asset dimaksud. Contoh, SPE dalam bentuk perusahaan mensyaratkan modal minimum 10 juta yen, sekurang-kurangnya 3 direksi, dan seorang auditor.

(50)

mereka sendiri pada saat efek tersebut diterbitkan dibawah kondisi penawaran terbatas (private offering).

Selanjutnya, pada bulan November 1995, Perdana Menteri Hashimoto mengumumkan rencana reformasi secara drastis atas peraturan perundang-undangan di bidang keuangan yang dikenal dengan Japan’s Big Bang. Sebagai bagian dari program ini, perubahan sektor hukum membawa dampak pula bagi sekuritisasi. Sehingga dampaknya dua dari tiga kendala hukum tersebut diatas dapat teratasi pada tahun 1998.

1. Produk Keuangan yang dapat disekuritisasi di Jepang

Di Jepang, yang dapat di-sekuritisasi adalah instrumen-instrumen yang masuk dalam definisi efek sebagaimana yang tertuang dalam the Japanese Securities and Exchange Law / SEL (Law No.25 Tahun 1948) atau bukan. Adapun dalam perkembangannya undang-undang SEL tersebut diamandemen tahun 1992. Dibawah ini dijabarkan beberapa jenis instrumen yang dapat dijadikan underlying bagi sekuritisasi aset di pasar modal Jepang.

a. Commercial Paper

(51)

b. Mortgage Deeds

A mortgage deed atau teito shoken, adalah instrumen negotiable yang diterbitkan oleh kantor Pendaftaran Pertanahan (the Land Registry Office) yang ada dibawah Mortgage Deeds Act tahun 1931, tetapi bukan termasuk pengertian efek yang ada dibawah SEL. Secara teoritis, apakah residential atau commercial real estate mortgage dapat disekuritisasi dibawah sistem teito shoken, namun pada kenyataan dalam praktek menunjukkan commercial real estate mortgages dapat disekuritisasi. Sekuritisasi Mortgage deed belum begitu populer sampai awal tahun 1980. Dibawah skema yang ada saat ini, perusahaan mortgage menerbitkan sertifikat mortgage yang bukan instrumen negotiable maupun kriteria efek yang ada dibawah the SEL. Sertifikat ini diback-up oleh mortgage deeds yang dilakukan oleh perusahaan mortgage, dan sertifikat ini kemudian dipasarkan kepada publik.

Pertumbuhan yang cepat dari pasar sekuritisasi mortgage deed sejak tahun 1980 mendorong pemerintah Jepang menerbitkan Mortgage deeds Business Act tahun 1987. Hasilnya sampai saat ini, ada kira-kira 90 perusahaan mortgage deed yang terdaftar sesuai peraturan tersebut diatas, termasuk sejumlah bank dan afiliasi perusahaan efek. Mortgage deed dipandang sebagai instrumen yang menarik karena nilai suku bunganya lebih baik dibandingkan deposito perbankan.

c. Sertifikat Residential Mortgage

(52)

tahun 1974, namun sampai saat ini belum mendapatkan perhatian yang luas.

d. Residential Mortgage Trusts

Residential mortgage trust atau jutaku loan saiken shintaku melibatkan bentuk trust dan pemindahan residential mortgage yang dilakukan oleh institusi keuangan terhadap bank wali amanat (trustee bank). Dalam hal ini, trustee menerbitkan sertifikat yang mewakili kepentingan yang menguntungkan (beneficial interests) dalam trust tersebut. Sertifikat semacam ini bukan instrumen negotiable dan bukan masuk dalam kategori efek dalam SEL sampai tahun 1992.

e. Pinjaman Bank (Bank Loans)

Sekuritisasi pinjaman bank diperkenalkan bagi pinjaman terhadap badan hukum publik (municipal bodies) sejak tahun 1989 dan bagi pinjaman-pinjaman lain sejak tahun 1990. Pinjaman Bank disekuritisasi dengan tugas terpisah (partial assignment), and transferee dalam transaksi ini harus institusi keuangan. Instrumen ini bukan termasuk sebagai instrumen negotiable atau efek sesuai SEL.

f. Kepentingan Kepemilikan (Ownership Interests) yang terbagi di

commercial real property

(53)

g. Leasing dan Kredit Mobil

Pada saat ini, perusahaan leasing dan perkreditan menciptakan produk keuangan dengan men-sekuritisasi tagihan leasing dan kredit mobil. Beberapa dari perusahaan ini menggunakan struktur trust yang mana pool dari kredit mobil atau tagihan leasing ditransfer kepada trustee. Produk semacam ini bukan instrumen negotiable ataupun efek. Selanjutnya, pada permulaan Juni 1993, Kedua instrumen tersebut diatur dalam MITI Law, dengan pengecualian kalau keduanya dipasarkan hanya kepada investor institusional. Pada 1996, vehicle yang berbentuk corporate menerbitkan efek yang bersifat hutang atau commercial paper. Dan sejak itu pasar sekuritisasi leasing dan perkreditan lainnya berkembang dengan pesat.

h. Sekuritisasi Aset lainnya

(54)

2. Karakteristik Pasar

a. Fragmentasi Pasar dan Industri

Fragmentasi pasar ada pada seluruh sektor keuangan. Secara tradisional, uang yang berputar di pasar modal Jepang sebagaian besar ada pada perusahaan industri, seperti, Toyoto, Honda dsb. Hal ini dimaksudkan bagi investasi jangka panjang. Pembiayaan perusahaan jangka pendek selalu melalui pinjaman perbankan. Perusahaan menengah dan kecil belum mempunyai akses yang lebar di pasar modal. Pihak seperti peminjam residential mortgage juga mempunyai sedikit akses di pasar modal Jepang. Hasilnya, dana yang demikian besar yang berputar di pasar modal jepang selama masa ekspansi ekonomi saat ini banyak berada di perusahaan industri besar. Namun demikian, banyak dana ini yang keluar dari jepang dan membanjiri pasar luar negeri.

Karakteristik tradisional semacam ini di pasar keuangan Jepang terhubung dengan sistem pengawasan birokratis. Karena pembagian kewenangan diantara berbagai kementerian, maka aspek pengaturan sektor keuangan dibagi dan diatur secara terpisah antara satu dengan yang lain.

b. Ketiadaan Aset Keuangan

Karakteristik lainnya dari sektor keuangan dan pasar modal jepang adalah ketiadaan piutang atas asset. Pihak yang meminjami menghabiskan dana atas dasar nilai kredit dari yang meminjam, bukan atas dasar asset dari pihak yang meminjam. Kelemahan atas piutang atas asset yang demikian menjadi kendala dalam pengembangan sekuritisasi asset di Jepang.

(55)

seperti yang terjadi di Negara lain yakni: sangat kompleks dan sulit untuk dimengerti secara terpisah. Bagaimanapun, perhatian dalam negeri rasanya menjadi pendorong utama bagi peraturan keuangan di Jepang. Pasar Sekuritisasi Jepang mungkin tumbuh dan berkembang sebagai hasil dari program reformasi secara drastis.

Mungkin, akan fair untuk mengatakan bahwa setiap reformasi pengaturan pasar modal di jepang akan berlanjut pada kepemimpinan birokrasi. Namun demikian, pengembangan yang ada saat ini dipandang secara menyeluruh, dan hal ini dimengerti sebagai indikasi trend jangka panjang yang akan berakibat pada pasar modal Jepang. Dan pada akhirnya akan menjadi penggerak permintaan pasar (demand-driven) daripada hanya sebagai pengerak pemerintah (government-driven). Jika pengembangan yang ada pada saat ini dipandang sebagai pusat dari pasar, maka isu kunci ini menjadi perubahan dasar bagi peran pemerintah di pasar modal Jepang. Perubahan dasar dalam lingkungan pengaturan harus dilakukan, membawa dampak bagi persaingan di percaturan internasional. Dan Sekuritisasi/Asset Backed Securities ini menjadi faktor penting dalam melakukan perubahan dasar di Jepang.

IV. KOREA SELATAN

Efek Beragun Aset telah banyak dibicarakan di Korea Selatan sebelum tahun 1997. Namun pembicaraan tidak berlanjut pada perkembangan yang nyata karena situasi ekonomi saat itu yang mana tidak adanya kerangka hukum yang jelas dan masih mudahnya mendapatkan kredit dari perbankan. Pada saat tersebut, Efek Beragun Aset telah berkembang dengan pesat dikawasan Asia dimotori oleh Jepang, Hongkong, dan Thailand.

(56)

juga sekaligus memperkenalkan konsep Efek Beragun Aset dan reksa dana. Paket undang-undang ini dibuat dengan mengacu pada model yang dipraktekkan di Amerika yang mendorong terciptanya transaksi antar negara secara cepat dan mudah. Beberapa bulan kemudian Korea Selatan juga mengadopsi standar akuntansi yang baru yang mengacu pada Internasional Accounting Standards. Ini ditujukan untuk memudahkan pihak luar untuk melakukan transaksi dengan para pelaku bisnis di Korea Selatan.

Tidak lama setelah dikeluarkannya undang-undang tentang Efek Beragun Aset, pada akhir 1998 Korean Export Import Bank (KEXIM) melakukan sekuritisasi atas asetnya. KEXIM adalah bank yang bergerak dibidang pembiayaan atas ekpor impor perusahaan-perusahaan di Korea Selatan. KEXIM melakukan sekuritisasi atas tagihannya senilai total USD 265 juta yang terdiri dari wesel tagih (promissory notes) yang diterbitkan oleh nasabahnya. Efek Beragun Aset yang diterbitkan ini mendapatkan rating AAA dengan suku bunga 1.5% diatas London Inter Bank Offered Rate (LIBOR).

Referensi

Dokumen terkait

apabila kegiatan usaha, cara pengelolaan, kekayaan Reksa Dana, dan/atau kekayaan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset dari Pihak yang menerbitkan Efek

Dasar hukum prosedural terhadap penerbitan suatu asset backed securities /efek beragun aset adalah ketentuan perundang-undangan di bidang pasar modal. Dasar hukum

Adapun dari penulisan ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hak kebendaan yang melekat pada efek beragun aset pada pembiayaan sekunder perumahan yang dimiliki oleh

Adapun dari penulisan ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hak kebendaan yang melekat pada efek beragun aset pada pembiayaan sekunder perumahan yang dimiliki oleh

 JSMR tengah mengkaji bentuk dari rencana sekuritisasi ruas tol Jagorawi, salah satunya kontrak investasi kolektif efek beragun aset (KEK EBA), sementara di ruas Semarang

35/2017 Penerbitan dan Persyaratan Efek Beragun Aset EBA Syariah Akad yang Digunakan dalam Penerbitan Efek Syariah di Pasar Modal Dana Investasi Real Estate Syariah

20/POJK.04/2015 tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Beragun Aset Syariah, Efek beragun aset syariah EBA syariah yang diterbitkan di pasar modal Indonesia terdiri dari dua jenis,

Pasal 2 Setiap Pihak yang melakukan penerbitan Efek Beragun Aset Syariah dan EBAS-SP wajib mematuhi ketentuan Prinsip Syariah di Pasar Modal sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas