• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBENTUKAN UNDANG UNDANG SEKURITISASI U

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBENTUKAN UNDANG UNDANG SEKURITISASI U"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG SEKURITISASI

UNTUK MENINGKATKAN PEMBANGUNAN

INFRASTRUKTUR DI INDONESIA

Oleh:

Sabrina Vanissa Rizki Hilaihi 110620170040

Dosen:

Prof. Dr. H. Rukmana Amanwinata, S.H., M.H. Dr. Hernadi Affandi, S.H., LL.M.

Diajukan untuk memenuhi syarat Ujian Akhir Semester dari mata kuliah Politik Hukum

PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG

(2)

i

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Tujuan Penulisan ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

A. Pembentukan Undang-Undang ... 6

B. Sekuritisasi... ... 8

1. Pengertian Sekuritisasi ... 8

2. Manfaat Sekuritisasi ... 9

C. Pembangunan Infrastruktur ... 10

III. PEMBAHASAN ... 11

A. Urgensi Pembentukan Undang-Undang Sekuritisasi ... 11

B. Pengaturan Sekuritisasi Aset Untuk Pembangunan Infrastruktur .... 15

1. Dasar Hukum .. ... 15

2. Prosedur Pengisuan Sekuritisasi Aset ... 18

IV. PENUTUP ... 20

A. Kesimpulan ... 20

B. Rekomendasi ... 20

(3)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyediaan infrastruktur yang baik merupakan salah satu syarat bagi

pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan dan peningkatan

kesejahteraan masyarakat. Pembangunan infrastruktur juga dinilai dapat

memberikan multiplier effect positif ke berbagai sektor sehingga meningkatkan aktivitas ekonomi yang pada akhirnya mendorong daya saing

Indonesia.

Pemerintahan di era Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla sangat

masif dalam pembangunan infrastruktur dalam negeri yang ditujukan untuk

membangun konektivitas guna meningkatkan daya saing, membangun dari

pinggiran, mendukung ketahanan pangan dan air, serta meningkatkan kualitas

hidup masyarakat. Di tahun 2015, Pemerintah telah giat menyusun dan

menerbitkan Paket Kebijakan Ekonomi yang mencakup perbaikan kebijakan

dan peraturan untuk mendorong perekonomian Indonesia, termasuk di

dalamnya perumusan Peraturan Presiden tentang Proyek Strategis Nasional

dan Peraturan Presiden tentang Pengembangan dan Pembangunan Kilang

Minyak di Dalam Negeri. Dalam sisi kebijakan fiskal, Pemerintah telah

menyediakan fasilitas direct lending ke BUMN dan fasilitas availability payment dari APBN yang diharapkan dapat meningkatkan kelayakan proyek. Selain itu, perbaikan di sisi kelembagaan dapat dilihat dengan adanya

peleburan antara PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) dengan Pusat

Investasi Pemerintah disertai dengan pengembangan mandat PT Penjaminan

Infrastruktur Indonesia (PT PII).

Meskipun upaya-upaya Pemerintah tersebut telah memberikan

dampak positif untuk penyediaan infrastruktur dan menarik investasi Badan

(4)

2

dan kelembagaan masih sangat dibutuhkan. Dalam melaksanakan

pembangunan infrastruktur tidak mudah karena memerlukan waktu dan

biaya yang tidak sedikit dan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja

Negara) tidak akan mungkin sanggup untuk menutup semua biaya

pembangunan infrastruktur.

Berdasarkan studi Mandiri Sekuritas, pemerintah membutuhkan dana

untuk investasi di sektor infrastruktur sekitar Rp5.500 triliun untuk lima

tahun ke depan atau Rp1.100 triliun per tahun. Dari kebutuhan dana per

tahun itu, sekitar Rp900 triliun dapat dibiayai oleh pembiayaan konvensional

yaitu menggunakan APBN dan perbankan. Terdapat potensi sebesar Rp200

triliun per tahun kebutuhan investasi untuk infrastruktur yang dapat dibiayai

dari non APBN dan non perbankan, yaitu melalui pasar modal baik dalam

negeri maupun "offshore funding".

Dalam mendanai proyek infrastruktur juga harus dibuat skema

pembiayaan yang lebih luwes sehingga sektor BUMN termasuk swasta yang

terlibat bisa semakin lebih luas. Di sisi lain, peran perusahaan penjamin

pelaksana emisi (under writer) juga dibutuhkan dalam mempertemukan

investee (tempat investor melakukanan penanaman modal) dan investor jangka panjang. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio

mengatakan, terdapat satu cara untuk mengisi kekurangan dana infrastruktur,

yakni dengan menggunakan potensi dana di pasar modal secara maksimal.1

Sekuritisasi menjadi solusi dalam pembiayaan infrastruktur yang

merupakan mekanisme baru di pasar modal. Sekuritasasi aset mampu

menghimpun dana lebih besar dari pasar dibandingkan dengan instrumen

lainnya seperti surat utang. Sekuritisasi adalah transformasi aset yang tidak

liquid menjadi liquid dengan cara penjualan aset keuangan oleh kreditor asal

kepada penerbit yang selanjutnya menerbitkan sekuritas beragun aset kepada

pemodal yang diwakili Wali Amanat. Sekuritisasi aset BUMN mampu

menghimpun dana untuk percepatan proyek pembangunan sebagaimana yang

(5)

diharapkan Pemerintah.2 Konversi aset perusahaan BUMN menjadi instrumen

Efek Beragunan Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) di pasar modal

diharapkan membantu percepatan proyek infrastruktur pemerintah.

Mekanisme ini pertama kali muncul di Amerika Serikat pada tahun

1970 dalam bentuk Mortgage Backed Securities (MBS) oleh Government National Mortgage Association (Ginnie Mae3). Di tahun-tahun berikutnya, menyusul aset-aset non-real estate ABSs, seperti Efek Beragunan Aset (EBA)

berbasis kartu kredit, kredit mobil, kredit usaha kecil, dan lain sebagainya

yang disekuritisasi. Meskipun pasar ABS (Asset Backed Securities)/EBA kurang berkembang jika dibanding MBS namun beberapa tahun terakhir

perkembangannya melaju cepat. Akumulasi nilai EBA pun terus meningkat,

27 M dolar S ditahun 1988, 380 M dolar AS ditahun 1988, hingga akhir tahun

2003 mencapai 1590,8 M. Perkembangan positif EBA di Amerika Serikat ini

diikuti oleh berbagai negara lain seperti Prancis, Jerman, Korea Selatan,

Filipina, dan Jepang.

Untuk kawasan Asia Pasifik nilai penerbitan EBA mencapai 54 M

dollar AS. Di Indonesia sendiri, EBA mulai dikenal dalam transaksi pasar

modal pada akhir tahun 1997. Dengan keluarnya Surat Keputusan Bapepam

No.: Kep-53/PM/1997, tentang Peraturan No IX.K.1 tentang Pedoman

Kontrak Investasi Kolektif. Dalam pelaksanaannya, keputusan ini mengalami

dua kali revisi, yaitu melalui Keputusan Bapepam No. 19/PM/2002, dan

Kep-No.28/PM/2003 tentang (KIK EBA) Pedoman Kontrak Investasi Kolektif

Beragunan Aset. Kehadiran produk EBA ini sebenarnya diharapkan dapat

memberi jalan keluar bagi perusahaan-perusahaan, baik BUMN (Badan

Usaha Milik Negara) maupun swasta yang membutuhkan dana melalui proses

sekuritas aset.4 Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidatonya saat meninjau salah satu proyek infrastruktur Bandara Soekarno Hatta menilai

2 Gainscope, “BEI Jelaskan Manfaat Sekuritisasi Aset BUMN”, 2017, <http://www.gainscope.co.id/bei-jelaskan-manfaat-sekuritisasi-aset-bumn/>, [16/12/2017].

3 GNMA atau “Ginnie Mae” merupakan salah satu unit di Departemen Perumahan dan Pemukiman Amerika Serikat. MBS merupakan ABS yang dijamin dengan piutang-piutang jaminan Mortgage atas bidang tanah tertentu (hipotek/hak tanggungan).

(6)

4

sekuritisasi dapat menjadi jalan keluar bagi pembiayaan proyek infrastruktur.

Sayang, selama ini, sejumlah perusahaan masih enggan melakukan

sekuritisasi lantaran tak ingin kehilangan cuan dari aset yang disekuritisasi.

Ambil contoh, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang banyak memiliki

proyek jalan tol. Menurut Jokowi, akan lebih baik jika salah satu proyek

tersebut dilepas ke publik setelah proses konstruksi selesai dan mulai

beroperasi. Sebab, dengan dijual ke pihak swasta, maka Waskita Karya akan

mendapatkan tambahan dana untuk menjalankan proyek selanjutnya.

Perusahaan seharusnya tak perlu khawatir akan kehilangan aset yang

disekuritisasi, terutama aset-aset, seperti jalan tol atau pembangkit listrik.

Toh, aset tersebut tak dapat dipindahkan ke tempat lain.5

Sejak era Susilo Bambang Yudhoyono, isu sekuritisasi sudah

dihimbau dari dunia usaha dengan mendorong pemerintah memfokuskan isu

sekuritisasi. Hal ini terlihat dari Program Legislasi Nasional tahun

2006-2009, Rancangan Undang – Undang Sekuritisasi menjadi salah satu dari 231

Rancangan Undang – Undang Program Legislasi Nasional. Sayangnya,

hingga saat ini, Undang – Undang Sekurtisasi belum juga diterbitkan. Dengan

tidak adanya payung hukum mengenai sekuritisasi, prosesnya pun masih

mengalami banyak kendala.

Maka, berdasarkan pemaparan di atas, penulis tertarik untuk mengkaji

dan menuangkan dalam bentuk penulisan hukum yang berjudul

"Pembentukan Undang – Undang Sekuritisasi Untuk Meningkatkan Pembangunan Infrastruktur Di Indonesia”.

B. Identifikasi Masalah

1. Bagaimana urgensi dari diperlukannya pembentukan Undang –

Undang Sekuritisasi ?

2. Bagaimana pengaturan sekuritisasi aset untuk pembangunan

infrastruktur ?

(7)

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penulisan ini

adalah untuk memahami dan menganalisis secara lengkap, jelas, rinci dan

sistematis tentang:

1. Urgensi dari diperlukannya pembentukan Undang – Undang

Sekuritisasi.

2. Pengaturan dari sekuritisasi aset untuk pembangunan infrastruktur.

(8)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembentukan Undang – Undang.

Peraturan perundang-undangan tidak akan lahir dengan sendirinya

tanpa ada lembaga pembentuknya. demikian pula halnya, lembaga pembentuk

peraturan perundang-undangan juga tidak akan berperan penting apabila tidak

membentuk peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, antara

pembentukan peraturan perundang-undangan dengan lembaga pembentuknya

akan selalu berkaitan.

Dalam buku-buku lama, selalu ditulis bahwa lembaga pembentuk

undang-undang adalah Presiden dengan DPR. Undang-undang selalu

merupakan produk hasil kerja sama antara Presiden dengan DPR. Rancangan

undang-undang dapat berasal dari Presiden atau DPR. Suatu RUU tidak akan

jadi undang-undang tanpa ada kerja sama antara Presiden dan DPR. Kerja

sama tersebut dalam arti Presiden mengajukan RUU dan DPR menyetujui

atau DPR mengajukan inisiatif RUU dan Presiden mengesahkan RUU

tersebut. mekanisme tersebut cukup sederhana karena hanya melibatkan dua

lembaga.

Sebaliknya, dalam buku-buku baru setelah perubahan UUD 1945

muncul persoalan terkait dengan lembaga pembentuk undang-undang di

Indonesia. Sebagian pendapat menyatakan bahwa pembentuk undang-undang

adalah DPR dan Presiden dengan penekanan lebih berat kepada DPR karena

telah terjadi pergeseran pemegang fungsi legislasi dari Presiden kepada DPR.

(9)

pergeseran tersebut bukan hanya dari Presiden kepada DPR, tetapi juga dari

Presiden ke DPD.6

Penguatan kedudukan dan fungsi DPR antara lain tampak dari

ketentuan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945 yang menegaskan bahwa DPR

memegang kekuasaan membentuk undangundang (UU). Sebelum terjadi

perubahan UUD 1945, Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 menyebutkan bahwa

kekuasaan membentuk UU berada pada Presiden. Kini, setelah perubahan

Pasal 5 ayat (1) UUD 1945, Presiden hanya berhak mengajukan rancangan

undang undang (RUU) kepada DPR. Tuntutan reformasi atas perubahan Pasal

5 ayat (1) dan kaitannya dengan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945, bukan sesuatu

hal yang berlebihan. Menurut Bagir Manan7 bahwa rumusan Pasal 5 ayat (1)

UUD 1945 lama sangatlah berlebihan. Bahkan muncul penilaian ekstrim dari

Bagir Manan,8 bahwa Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 lama, bukan saja

membingungkan, tetapi juga mengandung anomali. Bukankah menjadi

sesuatu yang diterima umum bahwa kekuasaan membentuk undang-undang

tetap berada pada badan perwakilan rakyat sebagai pemegang kekuasaan

legislatif.

Berhubung karena kekuasaan membentuk undang-undang telah berada

pada DPR (Pasal 20 ayat (1) UUD 1945), sementara Presiden hanya berhak

mengajukan rancangan undang-undang (Pasal 5 ayat (1) UUD 1945), maka

timbul pertanyaan: apakah setiap RUU yang diajukan oleh Presiden wajib

atau serta merta harus diterima oleh DPR untuk dibahas dalam persidangan di

6 Hernadi Affandi (et.al.), Program Legislasi Nasional Dalam Pembangunan Hukum

Nasional, Bandung: Mujahid Press, 2017, hlm. 25.

(10)

8

DPR? UUD 1945 yang telah mengalami perubahan empat kali selama ini

tidak menyebutkan adanya kewajiban bagi DPR untuk menerima RUU yang

diajukan oleh Presiden untuk dibahas dalam persidangan di DPR. Praktik

yang berlangsung selama ini menunjukkan bahwa RUU yang diajukan oleh

Presiden pada umumnya diterima oleh DPR untuk dibahas dalam persidangan

di DPR.9

B. Sekuritisasi.

1. Pengertian Sekuritisasi

Black’s Law Dictionary, 7th edition memberikan definisi mengenai sekuritisasi, yaitu sebagai berikut :

Securititization is the process of homogenizing and packaging financial instruments into a new fungible one. Acquisition, classification, collateralization, composition, pooling, and distribution are functions within this process.

(Terjemahan bebas: Sekuritisasi ialah proses penggabungan dan

pengemasan instrumen keuangan menjadi sesuatu yang baru. Akuisisi,

klasifikasi, kolateralisasi, komposisi, penyatuan, dan distribusi

merupakan fungsi dalam proses ini.)

Securitization, menurut Dictionary of Financial Risk Management, adalah :

The process of converting assets which would normally serve as collateral for a bank loan into securities which are more liquid and can be traded at a lower cost than the underlying assets. The largest category of securitized assets is real estate mortgage loans which serve as collateral for mortgage-backed securities.

9 Aminuddin Kasim, "Proses Pembentukan Undang-Undang Pasca Pergeseran Kekuasaan Legislatif Dari Presiden ke DPR”,

<http://download.portalgaruda.org/article.php?article=167052&val=6113&title=PROSES%20PE

(11)

Menurut Peraturan Presiden No. 19 Tahun 2005 tentang Perusahaan

Sekunder Perumahan. Pengertian sekuritisasi dalam Pasal 1 huruf 14 adalah:

“transformasi aset yang tidak likuid menjadi likuid dengan cara pembelian

aset keuangan dari kreditor asal dan penerbitan Efek Beragun Aset.” Ini

berarti sekuritisasi aset terjadi atau dilaksanakan melalui suatu transformasi

dari aset-aset keuangan (berupa piutang/tagihan) yang tidak dapat segera

diubah menjadi dana yang likuid dengan cara kreditor asal melepaskan

kepemilikannya, dimana transformasi tersebut dilakukan dengan cara

menerbitkan efek yang dapat dijual (marketable securities) kepada investor dengan dijamin oleh aset keuangan yang bersangkutan.10

2. Manfaat Sekuritisasi

Terdapat beberapa alasan yang merupakan alasan pokok dilakukannya

sekuritisasi aset oleh bank atau lembaga keuangan. Beberapa alasan yang

penting tersebut adalah:

a. Untuk mengubah aset yang kurang likuid menjadi lebih likuid.

b. Untuk mengubah aset yang tadinya kurang menarik menjadi mudah

untuk diperdagangkan di pasar.

c. Agar terjadi perluasan investor terhadap suatu aset.11

Ketiga hal tersebut diatas menunjukkan pentingnya sekuritisasi aset

tidak hanya bagi kalangan bank dan lembaga keuangan (originator), tetapi juga bagi kalangan investor. Sekuritisasi aset tidak hanya mengurangi

mismatch funding bagi lembaga keuangan, tetapi bisa juga menjadi alternatif investasi yang menarik bagi para investor pasar uang dan pasar modal.

a. Manfaat Bagi Investor

1) Alternatif produk investasi dengan tingkat risiko yang lebih baik

karena berbasis portfolio aset.

2) Produk investasi dengan rating idAAA.

3) Underlying aset portfolio yang kuat sesuai kriteria sehat dari SMF.

10 Gunawan Widjaja dan E. Paramitha Sapardan, Asset Securitization (Pelaksanaan SMF

(12)

10

4) Struktur transaksi yang solid dengan adanya Dukungan Kredit dan

Subordinasi.

b. Manfaat bagi Pasar Modal

1) Pengembangan produk investasi di pasar modal yang berbasis

portfolio aset.

2) Ketersediaan produk investasi bagi Investor yang menginginkan

produk jenis ini.12

C. Pembangunan Infrastruktur.

Pembangunan merupakan suatu proses perubahan yang terjadi secara

terus menerus. Menurut Pasal 1 butir 4 Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun

2015 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan

Infrastruktur, mengatakan bahwa :

“infrastruktur adalah fasilitas teknis, fisik, sistem, perangkat keras,

dan lunak yang diperlukan untuk melakukan pelayanan kepada

masyarakat dan mendukung jaringan struktur agar pertumbuhan

ekonomi dan sosial masyarakat dapat berjalan dengan baik”.

Sedangkan pembangunan infrastruktur dikatakan sebagai bagian dari

pembangunan nasional. Pembangunan nasional merupakan usaha yang

dilakukan sebagai langkah untuk membangun manusia Indonesia. Hal ini

mengandung arti bahwa setiap kebijakan yang akan diambil yang berkaitan

dengan pembangunan harus tertuju pada pembangunan yang merata di

seluruh wilayah Indonesia dan diselenggarakan untuk kepentingan

masyarakat agar hasil pembangunan tersebut benar-benar dapat dirasakan

oleh masyarakat sehingga pada akhirnya dapat berdampak terhadap perbaikan

dan peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia.13

12 PT Sarana Multigriya Finansial (Persero), <smf-indonesia.co.id/layanan-produk/sekuritisasi/>, [16/12/2017].

(13)

11 BAB III PEMBAHASAN

A. Urgensi Pembentukan Undang – Undang Sekuritisasi.

Pemerintah saat ini sangat menggadang-gadangkan terkait

pembangunan infrastruktur untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan

mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah. Tantangan yang

dihadapi melalui pembangunan infrastruktur adalah urbanisasi yang tinggi,

belum optimalnya pemanfaatan sumber daya dalam mendukung kedaulatan

pangan dan energi , serta daya saing nasional masih belum kuat. Tantangan

berikutnya soal pendanaan pembangunan infrastruktur jalan, perumahan,

sumber daya air, energi, listrik, telekomunikasi, transportasi darat,

transportasi laut, dan kereta api selama 2015-2019 diperkirakan mencapai Rp

4.796 triliun. Dari jumlah tersebut rencana sumber pembiayaan pemerintah

melalui APBN dan APBD sebesar Rp 1.978,6 triliun (41 persen), namun

selama 3 tahun terakhir (2015-2017) baru dapat dipenuhi Rp 960,7 triliun.

Sebagian besar lainnya melalui pembiayaan dari BUMN dan swasta termasuk

skema kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU).14

Dukungan APBN yang terbatas dalam infrastruktur, pemerintah

merasa memerlukan keterlibatan mitra-kerjasama yang dapat ikut serta untuk

mendukung pembiayaan pembangunan infrastruktur, termasuk swasta. Untuk

itu mekanisme Sekuritisasi dianggap menjadi solusi yang cukup efektif untuk

memperoleh pembiayaan pembangunan infrastruktur dengan menjual

sebagian aset kepada pihak swasta untuk ikut memilikinya.

Sekuritisasi pada hakekatnya adalah teknik pembiayaan dengan mana

dikumpulkan dan dikemas sejumlah aset (aktiva) keuangan berupa piutang

(tagihan) yang lahir dari transaksi keuangan atau transaksi perdagangan, yang

biasanya kurang likuid menjadi Efek yang likuid karena mudah diperjual

belikan. Sekuritisasi aset infrastruktur, pertama kali di Indonesia,

(14)

12

melibatkan PT Mandiri Manajemen lnvestasi dan PT Bank Rakyat lndonesia

(Persero) Tbk bertindak selaku Manajer investasi dan Bank Kustodian. PT

Mandiri Sekuritas bertindak selaku Arranger melalui skema KIK-EBA (Efek Beragun Aset) pada Tol Jagorawi yang didukung oleh OJK, Kementerian Keuangan dan BEI serta para investor.

Kelayakan (jalan tol Jagorawi) dinilai memiliki aset dan

disekuritisasikan ditunjukkan melalui jaminan yang memiliki nilai dan

manfaat tinggi bagi debitur, diprediksi meningkatkan permintaan hingga Rp

5,1 triliun atau setara dengan 2,7 kali dari total nilai penerbitan. Begitupun

infrastruktur lain, sehingga sesuai apabila infrastruktur layak untuk

disekuritisasikan. Kedua,dari transaksi sekuritisasi aset, kelayakan tol jagorawi

telah melibatkan berbagai pihak dari penerbit (badan hukum), mekanisme

penjualan/pengalihan aset dan aliran kas arus kas. Pada sekuritisasi tol

jagorawi, Jasa Marga selaku Originator transaksi juga bertindak sebagai

Collection Manager, bertugas mengumpulkan pendapatan tol jagorawi yang di sekuritisasikan dan mendistribusikannya.15

Mengenai isu sekuritisasi sebenarnya sudah menjadi perhatian

pemerintah sejak lama, hal ini terlihat dari Rancangan Undang-Undang

(RUU) Program Legislasi Nasional tahun 2006-2009, Rancangan Undang –

Undang Sekuritisasi menjadi salah satu dari 231 Rancangan Undang –

Undang Program Legislasi Nasional (Proglegnas) yang berjalan di Direktorat

Jenderal Peraturan Perundang-undangan, Kementerian Hukum dan HAM.

Regulasi terkait sekuritisasi saat ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 8

Tahun 1995 tentang Pasar Modal, khususnya Pasal 5 butir p dan Pasal 30 ayat

(2) (lihat Lampiran). Peraturan yang berkaitan dengan sekuritisasi di

Indonesia pertama kali dikeluarkan oleh Bapepam (saat ini berubah nama

menjadi Otoritas Jasa Keuangan) pada tahun 1997 yang dikenal dengan nama

Kontrak Investasi Kolektif–Efek Beragun Aset (KIK-EBA) dimana yang

telah mengalami revisi pada tahun 2002 dan 2003. Berdasarkan keputusan

(15)

Ketua Bapepam No. KEP- 28/PM/2003 disebutkan bahwa KIK-EBA adalah

kontrak antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang mengikat Efek

Beragun Aset, yaitu Manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola

portofolo investasi kolektif dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk

melaksanakan penitipan kolektif.16

Kehadiran Prolegnas sebagai suatu perencanaan di bidang

pembentukan peraturan perundang-undangan lebih menunjukkan urgensinya

dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang

Program Pembangunan Nasional (Propenas) Tahun 2000-2004. Di dalam

lampiran Undang-Undang Propenas tersebut ditegaskan berbagai program

pembangunan dimana salah satunya adalah terkait dengan program

pembentukan peraturan perundang-undangan.

Dalam bagian huruf C Program-program Pembangunan angka 1 yang

berisi tentang Program Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

ditegaskan tujuan dan sasaran sebagai berikut:

“Program ini bertujuan untuk mendukung upaya-upaya dalam rangkaa

mewujudkan supremasi hukum terutama penyempurnaan terhadap peraturan perundang-undangan warisan kolonial dan hukum nasional

yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat.”

“Sasaran program ini adalah terciptanya harmonisasi peraturan

perundang-undangan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat dan kebutuhan pembangunan.”17

Diunduh dari laman www.djpp.kemenkumham.go.id, naskah RUU

Sekuritisasi terdiri dari enam bab dan 32 pasal. Namun, RUU tersebut tidak

berlanjut ke parlemen, dan bahkan tidak tercantum dalam daftar Program

Legislasi Nasional 2015-2019. Menurut hemat penulis, banyaknya RUU yang

diajukan ke DPR tidak menjamin bahwa RUU tersebut akan dikabulkan

menjadi Undang-Undang. Kendala yang menyebabkan tidak efektifnya

penyusunan Prolegnas seperti:

16 Sri Liani Suselo (et.al.), “Sekuritisasi Aset Lembaga Pembiayaan Dan Pengembangan Pasar Secondary Mortgage Facility Dalam Rangka Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia”, 2013,

<http://www.bi.go.id/id/publikasi/wp/Documents/Sekuritisasi%20Aset-Revisi-revisi-%20final%20juni-5-2013.pdf>, [16/12/2017].

(16)

14

1. Tidak maksimal memperdayakan masyarakat

Dalam hal pengaturan, partisipasi masih tidak mendapat tempat, sebab

UU No. 10/2004 hanya mengatur mengenai tahap perencanaan yang

dituangkan dalam bentuk Prolegnas serta lembaga yang terlibat dalam proses

pembuatannya. Untuk proses di DPR, Pasal 8 Perpres No. 61 tahun 2005

mengatur adanya forum konsultasi. Di dalam forum konsultasi ini,

pemerintah dapat mengundang ”para ahli dari lingkungan perguruan tinggi

dan organisasi di bidang sosial, politik, profesi atau kemasyarakatan lainnnya

sesuai dengan kebutuhan.

2. Prosedur Birokrasi

Pada tingkat Departemen/LPND penyusunan peraturan

perundangundangan berada ditangan Kepala Biro atau satuan

menyelenggarakan fungsi bidang peraturan perundang-undangan. 54 Akan

tetapi tidak setiap Departemen/LPND memiliki pemahaman tersebut, hal ini

terbukti sangat dominannya Direktorat Jenderal atau Badan dalam menyusun

rancangan peraturan perundang-undangan sendiri tanpa konsultasi atau

menyerahkan pada biro hukum bahkan pada tingkat Antardep yang

seharusnya sekretaris adalah Biro Hukum sesuai dengan UU No. 10 tahun

2004 tidak dilakukan.

3. Prosedur pembuatan RUU

Berbicara tentang prosedur legislasi, menurut Bivitri, berarti berbicara

tentang pembentukan Undang-undang dari awal sampai akhir. Mulai dari

tahap perencanaan, perancangan, pembahasan, hingga pengundangan,

sebagaimana diatur dalam UU No. 10 tahun 2004. Salah satu penyebab tidak

tercapainya target Prolegnas selama ini merupakan akibat dari menumpuknya

beban kerja pembahasan RUU pada sejumlah anggota DPR. Ini terlihat dari

hasil kinerja DPR 2004-2009 yang secara kuantitas baru mengesahkan 44 UU

dari 284 RUU yang ditargetkan. Adapun akar penyebab penumpukan beban

kerja pada anggota adalah sistem pengelompokan berdasarkan Fraksi.

(17)

menyepakati substansi undang-undang. Sedangkan Undang-Undang disahkan

bila disetujui fraksi-fraksi dan pemerintah. Keberatan individu hanya dicatat

dan diistilahkan sebagai catatan minor, yaitu catatan yang tidak penting.

Belum lagi, kerap rapat tersebut tidak memenuhi kuorum, yang juga sering

disebabkan tak sinkronnya jadwal rapat antar alat kelengkapan Dewan.18

B. Pengaturan Sekuritisasi Aset Untuk Pembangunan Infrastruktur. 1. Dasar Hukum

Tentang dasar hukum dari penerbitan suatu asset backed securities

dibagi dalam enam kategori yaitu:

a. Dasar Hukum Prosedural

Dasar hukum prosedural terhadap penerbitan suatu asset backed securities/efek beragun aset adalah ketentuan perundang-undangan di bidang pasar modal. Dasar hukum prosedural yang utama terhadap

penerbitan suatu asset backed securities adalah Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995. Selanjutnya untuk mewujudkan pelaksanaan

efek ke dalam kenyataan khususnya yang menyangkut dengan a sset backed securities ini, maka Bapepam telah mengeluarkan aturan-aturan sebagai berikut:

1) Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-46/PM/1997, yang dikenal

dengan Peraturan No. V.G.5. tentang fungsi manajer investasi

berkaitan dengan Efek Beragun Aset.

2) Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-47/PM/1997, yang dikenal

dengan Peraturan No. IV.A.2. tentang fungsi Bank Kustodian

berkaitan dengan Efek Beragun Aset.

3) Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-50/PM/1997, yang dikenal

dengan Peraturan No. IX.C.9. tentang Pernyataan pendaftaran

dalam rangka Penawaran Umum Efek Beragun Aset.

(18)

16

4) Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-51/PM/1997, yang dikenal

dengan Peraturan No. IX.C.10. tentang Pedoman bentuk dan isi

Prospektus dalam rangka Penawaran Umum Efek Beragun Aset.

5) Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-53/PM/1997, yang dikenal

dengan Peraturan No. IX.K.1. tentang Pedoman Kontrak Investasi

Kolektif Efek Beragun Aset.

b. Dasar Hukum Surat Berharga

Sebagaimana kita ketahui bahwa terdapat pengaturan dalam Kitab

Undang-Undang Hukum Dagang mengenai surat berharga ini. Salah satu

pengaturannya adalah berkenaan dengan surat berharga dalam bentuk

“surat aksep”. Yaitu mulai dari Pasal 174 sampai dengan Pasal 177

KUHD. Asset backed securities ini, yang merupakan suatu surat hutang juga mempunyai ciri-ciri dari surat sanggup. Karena itu, sejauh tidak diatur

secara lain dalam ketentuan di bidang Pasar Modal, maka ketentuan

tentang surat sanggup dalam KUHD tersebut secara yuridis formal berlaku

juga terhadap asset backed securities ini.

c. Dasar Hukum Perkreditan

Ketentuan-ketentuan mengenai perkreditan juga berlaku bagi suatu

asset backed securities. Sebab, kedudukan dari debitur tetap merupakan debitur yang mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu. Hanya yang

berubah adalah pihak krediturnya, dari kreditur asal kepada pihak investor

dari asset backed securities. Sementara posisi debitur tetap tidak berubah dan tetap harus membayar hutang-hutangnya sesuai hukum yang berlaku.

Masalah lain yang juga merupakan persinggungan yuridis dengan

perundang-undangan di bidang perkreditan/perbankan adalah berkenaan

dengan adanya kewajiban untuk menjaga rahasia bank. Hal ini terdapat

ketentuannya dalam Undang-Undang Perbankan No. 10 Tahun 1998 Pasal

40 sampai dengan Pasal 45. Akan tetapi, ketentuan perbankan seperti

(19)

pembukaan rahasia bank dalam hal penerbitan asset backed securities. Karenanya, jika menyangkut dengan nasabah bank, jalan yang paling

aman adalah jika peralihan aset atau tagihan dalam konstruksi asset backed securities tersebut dilakukan dengan mendapat persetujuan dari pihak debitur. Akan tetapi hal ini tentu tidak mudah dilakukan dalam praktek

mengingat kemungkinan untuk tidak setuju dari pihak debitur tentu sangat

besar.

d. Dasar Hukum Hak Tanggungan

Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan.

e. Dasar Hukum Keperdataan

Selain dari ketentuan KUHPerdata yang berkenaan dengan hukum

kontrak, ketentuan KUHPerdata di seputar peralihan piutang (cessie) mesti

dianggap berlaku pada saat dialihkannya piutang dari kreditur lama kepada

investor melalui suatu pooling tagihan/asset. Selanjutnya ketentuan

KUHPerdata tentang cessie tersebut juga mesti dianggap berlaku ketika

seorang investor (pemegang) asset backed securities mengalihkan efeknya kepada investor yang lain. Dalam KUHPerdata, ketentuan yang berkenaan

dengan pengalihan piutang (cessie) tersebut pada prinsinya diatur dalam

Pasal 613.

f. Dasar Hukum Kontrak

Hukum perjanjian juga tersangkut jika suatu asset backed securities

diterbitkan. Sebab, ketentuan perundang-undangan mensyaratkan

dibuatnya suatu kontrak yang disebut dengan Kontrak Investasi Kolektif

Efek Beragun Aset (“KIK EBA”). KIK EBA ini memainkan peran yang

sangat sentral dalam penerbitan suatu asset backed securities ini.

Karena begitu sentralnya posisi dari asset backed securities

tersebut, maka hukum kontrak dalam KUHPerdata, khususnya buku

(20)

18

KUHPerdata. KIK ABS tersebut tidaklah dapat dikategorikan ke dalam

salah satu dari kontrak khusus (kontrak bernama) dari buku ketiga

tersebut. karena itulah maka yang berlaku hanyalah ketentuan-ketentuan

hukum kontrak yang umum saja. Di samping itu, karena asset backed

securities tersebut dapat juga diagunkan, maka ketentuan-ketentuan

tentang gadai dari KUHPerdata tetap berlaku bagi suatu asset backed securities tersebut, khususnya jika efek yang bersangkutan dijadikan jaminan hutang.19

2. Prosedur Pengisuan Sekuritisasi Aset

Di Indonesia, penerbitan/pengisuan dari sutu asset backed

securities ini dilakukan lewat suatu proses sebagai berikut:

a. Manajer Investasi dan Bank Kustodian membuat Kontrak Investasi

Kolektif.

b. Manajer Investasi membeli aset-aset keuangan (tagihan) dari pihak

kreditur awal.

c. Manajer Investasi mencatat aset-aset keuangan untuk dan atas

nama Bank Kustodian.

d. Bank Kustodian melakukan pembayaran kepada pihak kreditur

awal sebagai harga dari pembelian aset keuangan.

e. Bank Kustodian menyimpan aset-aset keuangan dalam rekening

Kontrak Investasi Kolektif dari asset backed securities.

f. Manajer Investasi mengisukan asset backed securities kepada pihak investor.

g. Bank Kustodian menerima pembayaran atas pembelian asset backed securities dari pihak investor.

(21)

h. Sebagai penyedia jasa (servicer), pihak kreditur awal

mengumpulkan angsuran tagihan-tagihan dari debitur.

i. Penyedia jasa (kreditur awal) membayar angsuran dari

tagihan-tagihan tersebut kepada Bank Kustodian.

j. Bank Kustodian membayar pokok dan bunga dari asset backed securities kepada pihak investor.20

(22)

20 BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Terbatasnya dana APBN membuat Pemerintah merasa memerlukan

keterlibatan mitra-kerjasama yang dapat ikut serta untuk mendukung

pembiayaan pembangunan infrastruktur, termasuk swasta. Untuk itu

mekanisme Sekuritisasi bisa menjadi solusi untuk menjawab

permasalahan tersebut. Naskah RUU Sekuritisasi sendiri sebenarnya

sudah diajukan pada Program Legislasi Nasional tahun 2006-2009,

namun nampaknya RUU Sekuritisasi tersebut tidak menjadi prioritas

dalam legislasi nasional, hal ini terbukti dengan belum adanya

Undang-Undang mengenai Sekuritisasi hingga saat ini.

2. Sembari menanti UU Sekuritisasi itu sendiri, Bapepam telah

mengeluarkan beberapa peraturan terkait prosedural penerbitan suatu

asset backed securities/efek beragun aset. Serta dasar hukum lain yang mendasari sekuritisasi di Indonesia diantaranya terdapat Dasar Hukum

Surat Berharga, Perkreditan, Hak Tanggungan, Keperdataan, dan Dasar

Hukum Kontrak.

B. Rekomendasi

Sekuritisasi memang menjadi solusi yang tepat untuk pembiayaan

infrastruktur, namun masih banyak perusahaan yang enggan untuk

melakukannya karena takut akan kehilangan cuan dari aset yang

disekuritisasi. Oleh sebab itu, perlu dibentuknya Undang-Undang Sekuritisasi

agar bisa melindungi hak-hak perusahaan apabila aset tersebut nantinya akan

(23)

21

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-buku

Affandi, Hernadi (et.al.). Program Legislasi Nasional Dalam Pembangunan Hukum Nasional. Bandung: Mujahid Press. 2017. Fuady, Munir. Pa sar Modal Modern (Tinjauan Hukum). Bandung: PT

Citra Aditya Bakti. 2003.

Manan, Bagir. DPR, DPD, dan MPR Dalam UUD 1945 Baru. Yogyakarta: FH UII Press. 2003.

---. Perkembangan UUD 1945. Yogyakarta: FH-UII Press. 2004.

Rahardjo, Adisasmita. Teori-Teori Pembangunan Ekonomi. Yogyakarta: Graha Ilmu. 2013.

Widjaja, Gunawan dan E. Paramitha Sapardan, Asset Securitization (Pelaksanaan SMF di Indonesia). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2006.

B. Perundang-Undangan

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.

Undang-Undang Nomor Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) Tahun 2000-2004.

Keputusan Ketua Bapepam No. KEP-28/PM/2003 tentang Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset.

(24)

22

C. Jurnal, Makalah

Aminuddin Kasim, "Proses Pembentukan Undang-Undang Pasca

Pergeseran Kekuasaan Legislatif Dari Presiden ke DPR”, diakses dari

Andi Irman Putra, “Penulisan Kerangka Ilmiah Tentang Peran Prolegnas

Dalam Perencanaan Pembentukan Hukum Nasional Berdasarkan

Uud 1945 (Pasca Amandemen)”, 2008, diakses dari

http://www.bphn.go.id/data/documents/peran_prolegnas_dalam_pe rencanaan_pembentukan_hukum_nasional.pdf pada tanggal 16 Desember 2017.

Paripurna P. Sugarda, “Sekuritisasi Aset Dalam Kontrak Investasi Kolektif

Beragun Aset Di Indonesia”, MIMBAR HUKUM, Volume 20

Nomor 1, Februari 2008.

Sri Liani Suselo (et.al.), “Sekuritisasi Aset Lembaga Pembiayaan Dan

Pengembangan Pasar Secondary Mortgage Facility Dalam Rangka Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia”, 2013, diakses dari http://www.bi.go.id/id/publikasi/wp/Documents/Sekuritisasi%20As et-Revisi-revisi-%20final%20juni-5-2013.pdf pada tanggal 16 Desember 2017.

D. Sumber Lain

Agan Wayang, “Sekuritisasi Aset Sebagai Strategi Alternatif Pembiayaan

Infrastruktur di Indonesia”, 2017, diakses dari

https://medium.com/@musafir/sekuritisasi-aset-sebagai-strategi-alternatif-pembiayaan-infrastruktur-di-indonesia-50e1dfb967dc pada tanggal 16 Desember 2017.

Ant, "Kontribusi Pasar Modal Bagi Pembangunan Infrastruktur Nasional

Perlu Didukung”, 2017, diakses dari

(25)

Eduardo Simorangkir, “Gencar Bangun Infrastruktur, Jokowi Genjot

Pertumbuhan Ekonomi RI”, 2017, diakses dari

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3565161/gencar-bangun-infrastruktur-jokowi-genjot-pertumbuhan-ekonomi-ri pada tanggal 16 Desember 2017.

Gainscope, “BEI Jelaskan Manfaat Sekuritisasi Aset BUMN”, 2017,

diakses dari http://www.gainscope.co.id/bei-jelaskan-manfaat-sekuritisasi-aset-bumn/ pada tanggal 16 Desember 2017.

Sid Kusuma, “Jokowi: Sekuritisasi Jadi Solusi Pembiayaan Infrastruktur”,

2017, diakses dari http://sekuritisasi.co.id/jokowi-sekuritisasi-jadi-solusi-pembiayaan-infrastruktur/ pada tanggal 15 Desember 2017.

www.indoproperty.com

smf-indonesia.co.id/layanan-produk/sekuritisasi/

Referensi

Dokumen terkait

Christina, Y., 2010, Perbandingan Harapan dan Kenyataan Terhadap Kualitas Pelayanan untuk Menggambarkan Kepuasan Konsumen dengan Resep Obat di Apotek Kimia Farmas Area Manajer

bahwa dengan adanya perkembangan teknologi dalam Sistem Informasi Manajemen Perpajakan Daerah dalam kegiatan pemungutan pajak dapat dilakukan secara elektronik dan

Bagi Warga Jemaat yang membutuhkan Pelayanan Khusus atau berkeinginan terlibat dalam kegiatan Sektor, Ibadah Rutin dapat menghubungi Koordinator Sektor masing

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa runtun waktu erupsi Gunung Merapi pada tahun 1780 hingga tahun 2000 memiliki karakteristik stokastik acak dengan cacah erupsi sebagai

Desain stator dan rotor dari generator linier ini masih sama dengan desain yang digunakan pada penelitian sebelumnya namun terdapat perubahan pada sisi spesifikasi

Sistem pendidikan dan kecerdasan berpengaruh pada sistem akuntansi suatu negara.Pengguna informasi akuntansi yang terdidik baik dapat memahami informasi akuntansi

Sabina (17) merupakan siswi kelas 12 di salah satu SMA negeri di Bandung. Sabina merupakan remaja perempuan yang santai. Ia memiliki penyakit lambung dan terkadang mengalami

Berdasarkan dapatan analisis pemerhatian dan temu bual, kajian ini telah berjaya mencapai objektif yang pertama iaitu mengenalpasti kelebihan kaedah T-Trace dalam