Orang yang memiliki rasa suka akan suatu hal, tentu akan memunculkan minat untuk melakukan suatu aktivitas. Dalam hal ini perasaan senang adalah rasa suka yang dimiliki seseorang untuk melakukan sesuatu/mengekspresikan dirinya di instagram.
• Dengan mendapat komentar beauty bullying di instagram membuat seseorang masih senang/tidak senang menggunakan instagram untuk mengekpresikan diri.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa ketiga informan sudah tidak memiliki perasaan senang untuk mengekpresikan diri di instagram lagi karena membuat tidak
percaya diri, tidak mau insecure dan senang menggunakan instagram untuk mengekpresikan hal lain saja dan tidak untuk full badan/wajah. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan ketiga informan:
“No, ndak lagi ade, karna itu bikin kaka ngak percaya diri banget asli dek”. (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Ya masih senang pake ig, untuk upload yang bercocok tanam, jadi udah ngak bully fisik lagi karna udah gak upload fisik lagi kan. Jadi senang upload yang lain, kalo full badan/wajah gak senang lagi”. (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Tentu tidak senang kak, makanya udah gak upload lagi, saking gak mau insecure lagi, dengan keadaan ku sekarang tanpa upload-upload aku aman sih kak, udah gak mikirin-mikirin itu lagi” (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020)
Peneliti juga menemukan bahwa kedua informan masih senang menggunakan instagram untuk mengekpresikan diri karna ingin berbagi momen, ingin memunculkan tulisan lewat caption dan berbagi kebahagiaan lewat foto. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan informan:
“Ehm aku masih senang dan masih mau, apayah senang sih soalnya soal mengekspresikan diri di instagram gak sendiri jatohnya, tapi lebih kaya ehm apa, momen yang sama-sama dengan temen-teman gitu. Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020)
“Sangat sangatlah suka, senang karna disaat bahagia, dalam keadaan apapun atau ingin memunculkan tulisan yang bagus kita ekplore itu di medsos instagram gitu biar orang juga
tau oh ini saya punya karya tulis kaya gitu“Nah walaupun dapat komen-komen begitu tetapi kaya tetap upload saja begitu, jadi memang masih senang. (Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020).
Dari pernyataan kelima informan diatas, tiga diantaranya sudah tidak senang untuk menggunakan instagram sebagai sarana mengekpresikan diri karna komentar beauty bullying yang didapatkan sehingga membuat insecure, takut dibully dan tidak percaya diri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mengalami beauty bullying di instagram, minat untuk mengekpresikan diri sudah tidak ada lagi karna perasaan senang yang sudah tidak dirasakan.
3. Perhatian
Indikator ini seperti aktifitas jiwa seseorang dalam mengamati, mengerti dan mengesampingkan hal-hal yang tidak penting.
Perhatian dalam hal ini adalah konsentrasi/aktivitas jiwa seseorang fokus terhadap diri sendiri dan peduli/tidak terhadap komentar beauty bullying.
• Seseorang peduli/tidak peduli ketika mendapatkan komentar beauty bullying di instagram.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa ketiga informan benar-benar peduli dan menaru perhatian terhadap isi komentar beauty bullying tersebut karena selalu kepikiran dengan omongan orang dan overthinking. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan dibawah ini:
“Oh ia dek kaka peduli skali dan kaya langsung ambil hati begitu, soalnya kk baperan dek, jadi kk tu kalo ada orang yang ngomongin sesuatu kk langsung kaya overthinking gitu, masukin ke hati” (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Ya peduli, pastinya peduli” (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Ya aku tipe orang yang sangat sangat peduli dengan pendapat orang lain kak, apalagi menyangkut pribadi dan fisik aku tu aku peduli banget makanya pas dikomen gitu langsung pikiran (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020) Peneliti juga menemukan bahwa kedua informan tidak peduli/tidak menaru perhatian terhadap komentar beauty bullying tersebut. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan:
“Ehm peduli sih ngak yah. (Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020)
“Sekarang sudah mencoba tidak peduli. (Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020)
• Dengan mendapat komentar beauty bullying membuat seseorang semakin lebih memperhatikan dirinya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa kelima informan menjadi semakin lebih memperhatikan dirinya ketika mendapat komentar beauty bullying di instagram yakni lebih was-was, ingin gendut, mengurangi makan, diet, menggemukan badan dan berdandan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan-pernyataan berikut :
“Ia dek benar, kaya kaka langsung pengen gendut, kaya oh harus gendut sih ini” (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Ya haha, Ia biasanya kaya gitu kak, lebih was was”
(Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020)
“Oh kalo aku ya, jadi kaya aku mulai mengurangi makan tapi gak yang sampe gila-gilaan, paling diet aja, setidaknya agak berkurang makannya gitu lah, jadi ya benar lebih memperhatikan diri”. (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Benar sekali, tepat, Iya benar skali. Jadi memang semakin lebih memperhatikan lagi sih”. (Wawancara dengan Immanuela Kbarek pada 16 oktober 2020)
“Ya tentu, jadi kaya mereka komen gitu tu secara langsung kaya menghantarkan aku untuk berpenampilan seperti apa yang mereka inginkan gitu loh kak, kaya langsung mikir beli obat penggemuk badan,. Tapi aku sekarang makannya agak dibanyakin sih kak kaya pengen gemuk gitu loh, kaya gituu sih”. (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020).
Dari pernyatan kelima informan diatas, tiga diantaranya sangat mempedulikan komentar beauty bullying yang dilontarkan dan tanpa disadaripun dengan mendapat komentar beauty bullying membuat seseorang semakin lebih memperhatikan dirinya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mendapat komentar beauty bullying di instagram, informan menaru perhatian dan peduli terhadap isi komentar itu dan menyebabkan minat untuk mengekpresikan diri sudah tidak ada lagi.