BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan dipaparkan pembahasan dan hasil penelitian fenomena beauty bullying terhadap minat mengekspresikan diri seseorang yang pernah mengalami beauty bullying di Instagram. Analisis pada sisi komunikasi yakni komunikan/si penerima pesan dan media/channel.
5.1 Fenomena Beauty Bullying Terhadap Minat Seseorang Dalam Mengekspresikan Dirinya Di Instagram.
5.1.1 Beauty Bullying
Untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini yakni bagaimana fenomena beauty bullying berpengaruh terhadap minat mengekspresikan diri mahasiswa UKSW yang pernah mengalami beauty bullying di Instagram maka peneliti telah melakukan wawancara terhadap 5 informan mahasiswa UKSW yang pernah mengalami beauty bullying di instagram. Peneliti akan menjabarkan proses awal informan mendapat /mengalami beauty bullying di instagram hingga minat mengekspresikan diri.
Beauty bullying adalah perundungan kecantikan dimana seseorang diganggu secara online yakni make up, gaya rambut dan fisik/
kegiatan dimana ia berkomentar baik secara verbal maupun melalui media sosial kepada orang lain dan isinya mengejek bentuk tubuh atau wajah serta memberikan opini-opini yang negatif dan pelaku menggunakan beragam bentuk komentar di instagram, yakni mengejek, menyindir, menghina, mengatakan kata-kata kasar, mengintimidasi, dan menyebarkan gossip.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa informan mengalami beauty bullying dalam bentuk mengejek,
menyindir, dan menghina. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan- pernyataan para informan :
“Ya benar benar adek, Ehmm dia masuk dikategori ada mengejek, menghina, sama menyindir bentuk fisik dek, karna kk kan badannya ehm rada-rada kurus kan, jadi mereka bilang kaka kurus. kek pernah dibilang kaya gini. Hati-hati tu kalo jalan ntar kebawa angin, kaya nyindir begitu dang” (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 Oktober 2020).
“Benar sekali pernah kak, kalo bentuk lebih spesifiknya kaya mengejek trus menyindir. kalo yang diejek itu biasanya bagian hidungku karna besar bulat jadi biasanya nyindir kaya ih yaampun idungnya hidung tomat, hidung badut, gitu. Trus selain hidung tu biasanya bagian perut tuh, perutnya tolong dikondisikan atau tolong dong lemaknya, kaya gitu” (Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 Oktober 2020).
“Iya pernah sering, bentuknya tu lebih ke menghina gitu sih. Kalo aku bentuk tubuh bagian bawah yah lebih tepatnya, jadi full badan sama wajah juga gara-gara tidak menggunakan make up, kaya norak gitu”(Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 Oktober 2020)
“Benar pernah, Bentuk bullying seperti mengejek, jadi waktu itu memotong dengan model gaya rambut yang berbeda, mereka menghina bentuk rambut, ih kok kurang bagus yah, kok tampilannya kaya aneh, itu tidak sesuai, kok jelek yah, tidak cocok skali, tidak baik, pokoknya kaya gitu. Mereka mengejek bahwa itu tidak bagus. (Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 Oktober 2020).
Peneliti juga menemukan salah satu informan mengalami beauty bullying dengan mendapat bentuk komentar lain yakni makian/kata-kata kasar, hal ini dapat dilihat dari pernyataan dibawah ini :
“Ya benar sekali, aku sering kak. Kebanyakan tu kaya nyindir sama ejek gitu sih, tapi hina juga masuk sih itu, ada juga yang kaya komen makian-makian daerah gitu. Kalau bentuk, wajah sih lebih tepatnya, tapi badan juga”. (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 Oktober 2020).
Dari pernyataan kelima informan diatas, dapat disimpulkan bahwa kelima informan mengalami beauty bullying dengan mendapat bentuk komentar seperti mengejek, menyindir, menghina pada bentuk wajah seperti hidung, bentuk tubuh seperti perut, tangan, bentuk proporsi badan seperti kurus dan berlemak, serta informan juga mendapatkan makian/kata-kata kasar.
- Hal ini juga diperkuat dengan pendapat sumber Psikolog Nuran Abdat :
“Bullying sendiri adalah bentuk dari tingkah laku yang agresif, perilaku yang mengintimidatif yang dilakukan oleh seseorang baik individu maupun kelompok yang bertujuan untuk menimbulkan rasa takut dan rasa terintimidasi dari si korban. Nah kalau beauty itu sendiri adalah perundungan kecantikan yakni suatu sikap dan tingkah laku dimana seseorang itu mengejek, menghina, menyindir dan mengintimidasi dalam ranah kecantikan. Kecantikan disini relasinya yakni dalam ranah wajah, tubuh, bentuk tubuh dari atas sampai bawah masuk. Beauty bullying ini kalau masuk dalam tipe- tipe perundungan itu masuknya ke ranah verbal bullying dan cyberbullying. Jadi pakaian, tubuh, wajah, make up yang disalurkan dengan bentuk hinaan/menghina”.
- Jika dikaitkan dengan komunikasi, hal ini sejalan dengan model komunikasi yang dikemukakan oleh aristoteles dimana komunikator memberikan pesan kepada komunikan dengan tujuan mempersuasi. Dalam hal ini komunikator/sumber pesan yakni pelaku yang melakukan beauty bullying, dimana ia memberikan
pesan/komentar beauty bullying seperti mengejek, menyindir dalam ranah kecantikan, juga bentuk tubuh fisik kepada komunikan/penerima pesan dalam hal ini orang yang mendapatkan/mengalami beauty bullying.
Beauty Bullying kerap kali dilakukan oleh siapapun baik teman, atau sahabat, orang yang tidak dikenal, bahkan musuh sekalipun sehingga memiliki efek yang bisa menghancurkan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa beauty dilakukan oleh orang-orang terdekat yakni teman- teman dekat/baru kenalan, teman kampus juga teman sepulau.
Hal ini dapat dilihat dari pernyataan ketiga para informan :
“Teman teman dek, tapi temen yang tidak terlalu dekat juga.(Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Biasanya temen sih, temen ada keluarga juga ada.
(Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 Oktober 2020).
“Oh itu waktu itu pernah ada teman, jadi kenalnya juga di instagram. Gara-gara postingan lambe turah kan, ya trus saling follow-follow an, nah trus dia tu langsung komen, foto kamu tu kenapa kamu ngak make up? Norak, gitu. (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 Oktober 2020).
Peneliti juga menemukan bahwa beauty bullying bukan hanya dilakukan oleh teman, namun keluarga dan saudara pun turut melakukan beauty bullying dan kebanyakan yang melakukannya antar sesama perempuan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan kedua informan dibawah ini:
“Ada keluarga, ada teman, ada sodara juga sodara perempuan dong. maksudnya dari sekian banyak orang dan ini
masalahnya orang-orang terdekat pula, trus teman-teman, dan maksudnya keluarga apalagi yang mengatakan itu tidak bagus, itu tidak baik. (Wawancara dengan Immanuella Kbarek, pada 16 oktober 2020).
“Ada keluarga, ada sepupu, trus biasanya temen-temen cewek, ada yang temen-temen sepulau, temen-temen di kampus juga kadang kak. (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020).
Dari pernyataan kelima informan diatas dapat disimpulkan bahwa orang yang melakukan beauty bullying kebanyakan dari orang- orang terdekat seperti teman dekat, sahabat, juga orang yang baru berkenalan, dan beauty bullying juga kerap dilakukan oleh keluarga dan saudara, bahkan dilakukan antar sesama perempuan.
- Hal ini juga diperkuat dengan pendapat sumber Psikolog Nuran Abdat : “Ya dan benar sekali kerabat/keluarga/orang- orang terdekat yang kebanyakan melakukan hal itu. Jadi memang merka berpikir dan merasa bahwa ini hal yang lumrah, ini bentuk kritikan yang bisa membangun atau merubah, namun cara untuk menyampaikan nya tentu harusnya berbeda. Ditemukan bahwa sebenarnya kebanyakan perempuan yang membeautybullying kan perempuan lain. Dan berdasarkan riset juga bahwa fisik dan kecantikan itu dilakukan oleh sesama perempuan. Tapi bukan berarti antara laki-laki tidak terjadi, karena beauty itu bukan hanya perempuan namun laki-laki pun termasuk, karna beberapa penelitian dan riset yang saya lakukan juga terdapat beberapa laki-laki juga bersuara, tapi kebanyakan perempuan”.
- Jika dikaitkan dengan komunikasi, pesan dalam hal ini yakni komentar-komentar beauty bullying yang disampaikan oleh komunikator/pelaku yang mengomentari yakni teman, sahabat,
saudara, keluarga, orang tidak dikenal melalui bentuk komentar mengejek, menyindir, menghina, mengatakan kata kasar kepada komunikan/orang yang mendapat komentar beauty bullying tersebut.
Ketika seseorang mendapat komentar beauty bullying, muncul perasaan tidak mengenakan yang dirasakan oleh korban. Perasaan tersebut seperti kecewa, marah, malu, kesepian, emosi, sedih dll.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa ketika mendapat komentar beauty bullying, muncul perasaan tersinggung, sakit hati, tidak percaya diri/insecure, hilang percaya diri, kesal, dan sedih. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan ketiga informan:
“Kaka sih tersinggung sih dek, maksudnya sakit hati lah, siapa sih yang gak sakit hati dibilang kaya gitu. Maksudnya badannya kan udah dari sononya begini trus dibilang kaya gitu ya sakit lah”. (Wawancara dengan Adel Crisye Kawoawode, pada 24 Oktober 2020)
“Lebih ke gak percaya diri sih, kadang buat kita kaya tambah insecure gitu loh kak, hilang percaya diri. (Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 Oktober 2020).
“Kadang kesal, kesalnya itu karna mereka mengkritik dan komen itu tu langsung di foto kita gituloh. Trus sedih, kecewa, kadang juga mau nangis gitu kalo dibully kaya sedih aja, trus tersinggung lah. (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 Oktober 2020).
Peneliti juga menemukan perasaan lain yang timbul yakni perasaan marah terhadap diri sendiri, kecewa, putus asa juga shock serta rasa malu. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan kedua informan dibawah ini:
“Ia sejauh ini ada perasaan marah sama diri sendiri ada perasaan kecewa, trus kaya tanya sama diri sendiri ini kenapa pilihan saya trus kenapa orang lain langsung menjudge. Jadi kecewa, sedih, putus asa itupun ada, sangat down. (Wawancara dengan Immanuella Kbarek, pada 16 oktober 2020)
“Sedih, marah, shock tu pasti, karna yang komenin juga teman-teman sendiri. Trus kaya aku tu pas dikomen gitu tu kaya langsung pasrah aja gitu loh kak, kadang malu juga sih sebenarnya. (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020)
Dari pernyataan kelima informan diatas, dapat disimpulkan bahwa ketika mendapat komentar beauty bullying, muncul perasaan- perasaan dari dalam diri kelima informan seperti tersinggung/sakit hati, tidak percaya diri, insecure, hilang percaya diri, juga perasaan kesal, sedih, marah terhadap diri sendiri, kecewa, putus asa, shock dan juga rasa malu.
- Hal ini juga diperkuat dengan pendapat sumber psikolog Nuran Abdat :
Ya benar tentu ada perpaduan perasaan-perasaan yang muncul karena bullying itu sendiri sehingga ini memunculkan rasa khawatir, insecure, cemas, takut, sehingga mungkin saja jadi notes buat diri sendiri, jadi bahwa ini kesalahan kita sendiri, menyalahkan diri sendiri begitu. rasa bersalah ini adalah poin dimana mereka akan membenarkan dan menyalahkan diri. Efeknya membuat mereka merasa tidak berharga sehingga berdampak pada kepribadian mereka, merasa seperti cantik/ngak cantik itu dilihat dari kurus atau gendut, hitam atau putih, giginya bagus/ngak, payudaranya besar atau ngak, pantatnya besar atau
kecil, nah akhirnya merasa tidak berharga sehingga berdampak pada kepribadian mereka.
Ketika seseorang mendapatkan komentar beauty bullying, hal ini dapat membawa dampak-dampak yang berpengaruh besar dalam diri korban baik dampak dari mental, psikologis maupun fisik seperti mental yang down, rasa takut, stress, depresi, gangguan makan, ingin melukai diri sendiri, bahkan sampai ingin bunuh diri.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa dampak-dampak yang dialami korban yakni stress, depresi, mental down sehingga tidak pede, dan cemas. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan kedua informan:
“Stress juga sebenarnya dek, oh tapi gak sampai tahap bunuh diri juga sih dek, kaya langsung oh harus gemukin badan ni.
Jadi stress dan depresi banget sih, secara orang ngomong fisik kan, Mental tu kaka tentu down ya dek, ehm jadi kaya kk ngak percaya diri begitu loh dek. Jadi kaya semisal mau pake baju tuh kadang ngak pede banget takut bikin terlihat kurus to, nah ditambah komenan orang bikin kaka gak percaya diri dang”.
(Wawancara dengan Adel Crisye Kawawode, pada 24 oktober 2020). “Jujur mentalku ni ngak kuat gitu loh kak, duh mentalnya down banget, cepet sakit hati dan kepikiran aku tuh.
Trus sampe kaya aku nyalahin diriku sendiri kaya, astaga kenapa aku lahirnya jelek gini ya, kenapa gak tinggi gitu, kenapa gak body goals, kaya gitu, kadang tu kaya nangis juga sih kak, parah aku tuh, tingkat percaya diriku tu langsung turun. Pernah juga kak aku tu sampe di tahap depresi ia, stress, kaya cemas juga kak, tapi kalo untuk sampai ke tahap melukai diri sendiri tu puji tuhan ngak sih kak”. (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020)
Peneliti juga menemukan dampak lain yakni ketika mendapat komentar beauty bullying, informan selalu kepikiran, membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, juga menyalahkan diri sendiri bahwa tidak secantik yang lain dan juga bertanya-tanya kepada diri sendiri dengan kekurangan yang dimiliki. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan ketiga informan dibawah ini:
“Segi mental sama psikologis ya kadang ya itu secara gak langsung ngebanding bandingin diri aku dengan orang lain kaya ih enak ya orang lain tu punya proporsi badan seperti itu, trus maksudnya cantik gituloh, jadi kaya langsung membandingkan secara psikis aku ya kaya merasa gitu, puji tuhan ngak ada sampe kaya stress, depresi atau sampai bunuh diri tuh ngak gitu”.
(Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamonto, pada 16 oktober 2020).
“Kalo aku ya kadang bisa stress gitu lo sampe kaya kepikiran aduh aku kok kenapa ya gendut, kenapa ya aku gak bisa makeupan kaya orang orang. Kepikiran terus jadinya gitu sih. Ia juga sampai pada tahap menyalahkan diri sendiri. sampai mikir ih kenapa sih, aku ni kenapa gak diet. Selebihnya gitu sih, mental tu tentu down. Trus kalo sampe ke tahap depresi atau melukai diri sendiri tu tidak sih”. (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020).
“Memang merasa tertekan juga, jadi kaya kenapa sih tidak ada yang menerima. Dan mungkin tidak sampai ke titik bunuh diri yah. Trus dampak nya juga kaya kadang ditengah-tengah orang, semisal jalan kemana begitu trus ketemu orang yang nantinya tanya mengenai rambut dan sebagainya itu nanti aku pura pura
senyum saja padahal dalam hati tu hancur sebenarnya”.
(Wawancara dengan Immanuella Kbarek, pada 16 oktober 2020).
Dan dari pernyataan-pernyataan diatas, peneliti menemukan bahwa kelima informan tidak sampai pada tahap melukai diri sendiri dan bunuh diri.
Dari pernyataan-pernyataan kelima informan diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat dampak-dampak yang berpengaruh dari segi mental,psikologis, maupun psikis ketika seseorang mengalami beauty bullying yakni informan mengalami stress, depresi, tidak pede dan hilang rasa percaya diri, cemas, mental juga down, juga informan selalu kepikiran, secara tidak langsung membandingkan dirinya dengan dengan orang lain, menyalahkan diri, serta bertanya-tanya kepada diri sendiri terkait kekurang yang dimiliki. Dari kelima informan ditemukan bahwa informan tidak sampai pada tahap melukai diri sendiri dan tidak sampai titik bunuh diri.
- Hal ini juga diperkuat dengan pendapat sumber psikolog Nuran Abdat :
“Kalau dampak secara psikologisnya kadang berbeda.
Berdasarkan infomasi yang diterima, 60% orang yang mengalami cyber, verbal juga beauty bullying mengalami insecure yang drastic. Jadi tingkat insecurenya tinggi, mengapa insecurenya bisa tinggi, karna mereka tidak memiliki semacam pertahanan/defence mechanism. Dan benar tentu pastinya peningkatan insecurity mengalami gejolak yang pada akhirnya membuat seseorang merasa lemah. Nah kemudian dari hasil riset 40% remaja Indonesia yakni korban bullying ini meninggal karna beuaty bullying. 40% itu dapat dikisarkan berapa ratus/juta yang terdampak. Dan benar yang dikatakan bahwa dampak yang
dirasakan dari teman-teman akhirnya membuat mereka merasa bersalah. Sehingga mereka akan membenarkan dan menyalahkan diri bahwa ia sih memang aku tuh jelek, mending rambut aku diginiin, dll akhirnya membuat mereka merasa malu. Yang pasti terjadi peningkatan kecemasan, peningkatan stress, peningkatan insecure betul, dan apalagi kalau tidak ada support system”.
- Jika dikaitkan dengan komunikasi, hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Lasswell dimana komunikator menyampaikan pesan melalui channel kepada komunikan dan menimbulkan efek. Komunikator/pelaku yang melakukan beauty bullying mengirimkan pesan berupa komentar-komentar beauty bullying, komunikator menggunakan channel yakni media sosial instagram kepada komunikan/orang yang mendapat komentar beauty bullying sehingga menimbulkan efek. Efek yang dimaksud yakni muncul perasaan-perasaan tidak mengenakan serta dampak- dampak dalam diri komunikan karna komentar tersebut.
Ketika seseorang mendapatkan komentar beauty bullying dalam bentuk apapun, tentu akan memunculkan respons dari korban atau sikap/apa yang di lakukan entah hal itu mengundang respons peduli atau tidak peduli.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa terdapat tiga informan yang memberikan respons peduli yakni mereka menerima dan memendam bullyingan tersebut dalam hati. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan informan :
“Kaka sih tipe orang yang mendam loh dek, ia jadi kaya dikomen begitu ya senyum saja, diam saja tapi dalam hati tu sebenarnya sakit skali”. (Wawancara dengan Adel Crisye Kawawode, pada 24 Oktober 2020).
“Kalo aku sih kaya nerima aja hmm, marah itu gak, paling aku cuma bilang dalam hati kaya, ya ini kan diri aku, ya hak aku , aku berhak atas tubuh aku. Aku tersinggung itu kan wajar yah manusiawi.” (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020).
“Aku terima aja kak, aku pasrah aja, aku bales tapi ya balesnya tu iyain aja udah. Sempet kaget sih waktu pertama posting haduh”. (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, Pada 16 oktober 2020)
Peneliti juga menemukan bahwa terdapat respons berbeda yakni respons tidak peduli/tidak memusingkan bullyingan tersebut, dimana informan berusaha untuk menyadarkan dan meningkatkan kepercayaan diri. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan kedua informan dibawah ini:
“Respon yang aku lakukan kaya yaudah bodo amat gitu loh, maksudnya kaya mencoba ngak peduli, karena dilain sisi kan kaya yaudah dengan diriku yang seperti ini justru ya aku ada saat ini, gitu aja sih kaya lebih lebih yaudah (Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamonto, pada 16 oktober 2020).
“Saya berusaha untuk masa bodoh pertama, saya berusaha untuk menyadarkan, meningkatkan kepercayaan diri lagi, tekankan dalam diri bahwa terserah orang mau bilang apa, semakin banggakan diri, tetap berusaha kaya dengan apa yang telah saya putuskan potong rambut sesuai bentuk dan model yang saya inginkan saya akan tetap cantik dan wow gitu”. (Wawancara dengan Immanuella Kbarek, pada 16 oktober 2020).
Dari pernyataan kelima informan diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 respons berbeda yang ditimbulkan dari komentar beauty bullying yang diterima. Respons pertama yakni sikap yang dilakukan korban adalah pasrah dan hanya menerima saja, merasa
tersinggung dan memendam dalam hati walaupun hal tersebut menyakitkan. Sedangkan respons yang kedua yakni sikap yang dilakukan adalah bersikap tidak peduli dan bodoh amat, berusaha untuk menyadarkan dan meningkatkan kepercayaan diri dan tetap bangga dengan diri sendiri.
- Jika dikaitkan dengan komunikasi, hal ini sejalan dengan model teori stimulus-respons DeFleur yakni pengaruh/dampak yang terjadi pada pihak penerima merupakan reaksi yang timbul dari stimulus yang diberikan. Ketika komunikan mendapatkan stimulus dalam hal ini pesan/komentar-komentar beauty bullying tersebut maka komunikan akan bereaksi sehingga memunculkan respons.
-
5.1.2 New Media & Media Sosial Instagram
Kehadiran New Media sangatlah berpengaruh terhadap perubahan dan kemudahan manusia dalam melakukan komunikasi dan interaksi. New Media adalah sebuah proses digitalisasi terbaru yang dapat digunakan dengan sangat mudah dan ringkas.
Salah satu contoh media baru yakni media-media sosial yang bermunculan, salah satunya instagram, yang adalah salah satu aplikasi yang sering digunakan para penggunanya untuk membagikan foto, gambar, juga video dan juga dapat mengambil atau membagikan sesuatu kepada teman-teman mereka. (Budiargo, 2015:48).
Jika dikaitkan dengan penelitian mengenai beauty bullying Media sosial instagram merupakan salah satu media yang sering digunakan sebagai sarana untuk mengekspresikan dirinya melalui postingan foto ataupun video baik di feeds maupun instastory dan membagikannya sehingga sesama pengguna dapat memberikan feedback berupa like bahkan komentar. Ketika seseorang menggunggah foto lewat postingan feeds atau story maka hal ini
memungkinkan siapapun itu dapat secara bebas berkomentar yakni komentar positif maupun negatif. Belakangan ini instagram mulai sering disalahgunakan untuk hal-hal yang dirasa dapat memberikan dampak negatif untuk para penggunannya. Salah satu contohnya yakni Perilaku beauty bullying ini, dimana hal ini dilakukan oleh pelaku dengan cara memanfaatkan beberapa fitur-fitur Instagram.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa informan menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mengekpresikan diri dan mendapat komentar beauty bullying dengan beragam bentuk ejekan seperti tubuh yang kurus terlihat tulang, tidak bisa make-up, kulit hitam, rambut jelek, tidak cantik lewat fitur instagram Story khususnya replay story DM. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan informan :
“Iya benar, balas story begitu. Ia kalau kk posting story kan dek di dm langsung tu biasanya. Di komen begini, ih kok kurus banget sih, itu tulangnya udah pada timbul, kelihatan loh. Trus ih banyakin makan lah biar gak kurus-kurus amat.”. (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020).
“Betul salah satunya. Biasanya replay story gituloh kak, jadi aku upload stoy trus dia replay gitu”. Yang paling sakit bilangnya gini, astaga perempuan kok apa namanya gak bisa make up, kulitnya item, gimana cowo mau suka, kaya gitu (Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020).
“Benar, terkait kasus yang aku sendiri memang mereka gunakan fitur di instastory jadi balas cerita itu. Jadi pas upload langsung di komen disitu mereka bilang hi kenapa potong rambut seperti itu,ih jelek skali loh, sudah tidak bagus, sudah tidak cantik, tidak manis lagi, hi rambut kritingnya sudah tidak ada.
(Wawancara dengan Immanuela Kbarek pada 16 oktober 2020).
Peneliti juga menemukan bahwa bukan pada fitur instastory saja namun informan juga mendapat komentar tersebut pada postingan feeds miliknya dengan contoh komentar seperti difilter saja wajahnya, terlihat kekanak-kanakan dll. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan kedua informan:
“Ia benar, Itu langsung di komen di feeds, langsung di foto kita.
makanya aku langsung hapus kan fotonya. Oh dikomentar begini, ih kamu ni makeupan dikit dong, masa fotonya juga gak full badan? yaudah kalau kamu gak make up mending di filter aja fotonya., trus dibilang juga ih kaya anak kecil, kamu tu udah kuliah, udah dewasa, foto kamu tu identitas diri kamu, kamu tu kaya kekanak-kanakan. (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Ia kak. kalo aku di feeds ig nya kak, jadi kalo ku posting trus langsung komennya disitu tuh, tapi di story juga ada sih kak, tapi lebih banyak di feeds” pada komen yaulah make up dikit napa, cantik kamu tuh tapi kalo tambah make bagus pasti. make up dikit biar ada yang mau hahha maksudnya buat nembak gitu kak, di fillter say mukanya, kaya gitu, kaya ngejek gitu, kek nyindir gitu, trus badan kurus banget sih, makan banyak napa, kek gitu (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020).
Dari pernyataan kelima informan diatas, dapat disimpulkan bahwa kelima informan mendapatkan komentar-komentar beauty bullying yang dilontarkan oleh pelaku lewat fitur-fitur instagram yakni postingan/feeds dan instastory dengan membalas cerita/DM juga terdapat beragam komentar-komentar mulai dari ejekan bentuk tubuh seperti kurus, hitam kemudian wajah seperti make up, filter, jelek, tidak cantik, seperti anak kecil, tidak dewasa dan di ikuti dengan sindiran-sindiran yang membuat korban merasa insecure.
- Hal ini juga diperkuat dengan pendapat sumber psikolog Nuran Abdat :
“Di instagram, media sosial. Nah bisa dikatakan bahwa dari beberapa riset 90% atau berapa persen itu terjadi peningkatan bullying dimedia sosial. Karna sikap yang ditunjukan dari pelaku itu beragam, tidak serta merta hanya menulis komentar yang menghina saja tapi bisa juga menyindir dengan konteks kata-kata yang tidak mengenakan yang mungkin menurut mereka biasa saja tapi menurut korban itu something wrong gitu. akhirnya timbul rasa amarah, rasa iri, rasa tidak berhasil, nah akhirnya basic dari perpaduan dari rasa-rasa yang tadi disalurkan lewat media itu.
Dan apalagi benar bahwa media sosial instagram itu digunakan sebagai salah satu ya untuk ekspresi diri. Nah jadi ketika mengupload atau mengeksplore dan kemudian ada yang iri, atau dengki dsb, penyalurannya ya kesitu. Nah kemudian dari hasil riset 40% Belum juga yang sekarang, tentu akan meningkat. Apalagi dengan kondisi sekarang ini covid19 dimana semua WFH sehingga pemanfaatan medsos itu tentu berpengaruh untuk melakukan beauty bullying”.
- Jika dikaitkan dengan komunikasi, hal ini sejalan dengan teori komunikasi Self Disclosure/pengungkapan diri (Wrightsman, 1987) dimana teori ini merupakan sebuah proses menyampaikan informasi tentang diri sendiri kepada orang lain. Seseorang dapat mengungkapkan dirinya melalui perasaan, emosi, bahkan pengalaman. Kelima infoman menggunakan instagram yang berperan untuk mengungkapkan dan mengekpresikan diri di instagram.
5.1.3 Minat Mengekpresikan Diri
Minat merupakan dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan suatu hal yang di ingini dan menghasilkan respons tertarik pada situasi atau sebuah objek. Menurut Mappiare (Sulilowati 2010:32) berpandangan bahwa minat merupakan sekumpulan mental yang bercampur emosi, perasaan, keinginan, harapan, pendirian, firasat dan hal lainnya dan dapat membawa seseorang kepada sebuah pilihan. Pengertian Ekspresi Diri menurut Young dan Kloko (2010:47) adalah kebebasan seseorang untuk mengekspresikan dirinya baik berupa kebutuhan diri, perasaan dan sifat-sifat alami kita. Ekpresi diri yang dimaksudkan dapat berupa emosi, sedih, marah bahagia dan sebagainya selama tidak menyakiti orang lain. Maka minat mengekspresikan diri adalah sumber motivasi dari dalam diri yang mendorong seseorang untuk mengekspresikan diri lewat pengalaman, emosi dll.
Jika dikaitkan dengan penelitian mengenai beauty bullying dengan merujuk pada pengertian minat menurut Mappiare yakni sekumpuan mental yang bercampur emosi, perasaan, keinginan, harapan, pendirian dll, yang dapat membawa ke sebuah pilihan.
Dalam hal ini ketika seseorang mengekspresikan dirinya di instagram dan ia mengalami atau mendapatkan komentar beauty bullying lewat psotingan feeds/story maka hal itu dapat berdampak pada pilihan yang dimaksud yakni minat, dengan komentar- komentar beauty bullying tersebut dapat berpengaruh terhadap minatnya untuk mengekpresikan diri masih ada atau sudah tidak ingin lagi. Terdapat tiga faktor yang dapat mempengaruhi minat seseorang :
1. Faktor Dari Dalam
Faktor ini berkaitan dengan dorongan fisik atau niat seseorang, bisa menahan dirinya dari rasa ketakutan maupun kesakitan dll hingga dapat membangkitkan minat.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa ketiga informan tidak dipengaruhi oleh faktor dari dalam, yakni ketiga informan tidak dapat menahan semua perasaan tidak mengenakan, sehingga sudah tidak ingin mengekpresikan diri lagi. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan ketiga informan:
“Emm gini dek, kaka tu gak bisa nahan, jadi untuk ekpresikan lagi nyanda, sudah tidak lagi. Jadi gak bisa nahan emosi atau perasaan tidak mengenakan itu, mau ekpresikan diri lagi nyanda”. (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020).
“Aku gak bisa nahan, jadi untuk skarang antisipasi aja gak upload dulu yang full badan sama wajah.”. (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020).
“oh aku gak bisa nahan kak, awalnya aku nahan sampe nonaktifkan ig, tapi pas aktifin lagi trus pada komen lagi aku ngak nahan makanya gak ada minat-minat itu lagi sampai sekarang”.
(Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020)
Peneliti juga menemukan bahwa kedua informan dipengaruhi oleh faktor dari dalam, yakni dapat menahan semua perasaan tidak mengenakan/emosi ketika mendapat komentar beauty bullying sehingga muncul dorongan fisik dari dalam diri untuk tetap mengekspresikan diri. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan dibawah ini:
“Ya ada perasaan itu, bisa tahan dan masih mau expresi diri”. (Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020).
“Ya dapat menahan, karna memang berusaha kuat untuk menahan emosi, marah dan sakit hati itu. Jadi tetap ada minat”. ( Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020).
Dari pernyataan kelima informan diatas, tiga diantaranya tidak dapat menahan emosi/perasaan tidak menyenangkan sehingga dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mendapatkan komentar beauty bullying, hal itu membuat mereka tidak dapat menahan perasaan/emosi yang tidak mengenakan itu sehingga minat untuk mengekpresikan diri sudah tidak ada lagi.
2. Faktor Motif Sosial
Faktor Motif Sosial, adalah faktor yang bisa membangkitkan minat seseorang untuk melakukan aktifitas agar dapat memenuhi kebutuhan sosialnya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa kedua informan dipengaruhi oleh faktor motif sosial yakni muncul minat untuk tetap mengekspresikan diri untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan dibawah ini:
“Ya ada perasaan itu jadi iya tetap muncul minat karna betul ada kebutuhan sosial yang harus dipenuhi hehehe”.
(Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020)
“Minat tentu pasti ada, tetap ada minat, ketertarikan ada dan berusaha menumbuhkan kekuatan seperti yasudah ini pilihan saya, saya sudah memutuskan untuk berpenampilan seperti ini, jadi kalaupun komen ya sudah itu terserah kalian gitu. Jadi kekutan ini tumbuh sehingga kepercayaan diri ini kembali lagi dan tetap mengekpresikan diri” (Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020)
Peneliti juga menemukan bahwa faktor motif sosial tidak berpengaruh terhadap ketiga informan yakni mereka tidak peduli dengan kebutuhan sosial sehingga minat untuk mengekpresikan diri dengan menunjukan wajah/full badan sudah tidak ada lagi. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan dibawah ini :
“Tidak ada minat lagi dek, bodo amat sama kebutuhan sosial hahaha”. (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Ya, pasti terkait bercocok tanam itu loh ya ehm pokoknya tu ada minat untuk ekpresi diri tapi gak sekarang, namun kalo full badan untuk saat ini gak dulu”. (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Tidak kak, sudah ngak, aku sudah ngak peduli dengan kebutuhan sosial, kebutuhan sosial dimedia gak menjamin kesehatan hidupku juga sih soalnya, intinya gak”. (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020)
Dari pernyataan kelima informan, tiga diantaranya tidak peduli terhadap kebutuhan sosial, sehingga dapat disimpulkan bahwa bahwa ketika seseorang mendapatkan komentar beauty bullying di instagram, tidak muncul niat untuk melakukan aktifitas demi memenuhi kebutuhan sosialnya sehingga minat untuk mengekpresikan diri sudah tidak ada lagi.
3. Faktor Emosional/Perasaan
Faktor ini bisa memicu minat seseorang jika mengeluarkan perasaan/emosi. Dengan perasaan itu tentu akan membangkitkan minat baru seseorang.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa kedua informan mengeluarkan perasaan senang dan tidak emosi sehingga hal itu dapat memunculkan minat untuk mengekspresikan diri. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan- pernyataan informan:
“hm gak emosi juga sih, jadi kaya mengeluarkan perasaan senang aja, jadi minat tetap masih, maksudnya ada saat kaya maksudnya kaya kita kasih waktu untuk sebentar untuk rehat kaya yaudah deh untuk beberapa saat mungkin kita gak upload atau ngak ini muncul dulu di instagram, tapi kalau untuk sampe di tahap yang tidak mau untuk mengekpresikan diri lagi tu ngak ada sih kak”. (Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020)
“gak emosi. Jadi tetap ada itu ya karena berusaha untuk tetap menahan semua saja, trus pikir senang saja kaya yasudah lah mau sampe kapan juga termakan orang punya kata-kata, nantinya juga malah menyalahkan diri sendiri akhir mencoba minat itu ditumbuhkan lagi sehingga dia kembali lagi”.
(Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020) Peneliti juga menemukan bahwa ketiga informan megeluarkan perasaan tidak enak/emosi sehinggal hal tersebut membuat keinginan mereka untuk mengekpresikan diri sudah tidak ada lagi. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan:
“Ya exactly ade, ya emosi dan jadi gak percaya diri buat mengekpresikan diri”. (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Benar ada perasaan tidak enak itu, emosi sih, Jadi intinya tu minat ku tetap ada untuk ekpresikan yang lain, tapi untuk full badan sama wajah tidak ada. mungkin nanti ada.” (Wawancara den gan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Ya benar, emosi ini kan dalam artian perasaan yang kita rasakan ya, perasaan tidak enak, nah itu emang muncul kak jadinya niat ku gak muncul lagi heheh”. (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020).
Dari pernyataan kelima informan diatas, tiga diantaranya mengeluarkan perasaan tidak mengenakan dan emosi sehingga hal tersebut membuat mereka tidak ingin mengekpresikan diri.
Sehingga dapat di simpulkan bahwa ketika seseorang mendapat komentar beauty bullying, terdapat perasaan/faktor emosi tidak mengenakan yang dikeluarkan sehingga minat untuk mengekpresikan diri sudah tidak ada lagi.
- Hal ini dapat diperkuat dengan pendapat sumber Psikolog Nuran Abdat :
“ya, karna memang ketika kita mendapat tekanan seperti komentar-komentar yang bersifat menghina, kita merasa terintimidasi dan merasa sendirian. Nah manusia itu mempunyai 4 interpower, ada 4 kekuatan dalam diri, jadi ada physical power atau kekuatan fisik, intelligence power atau kekuatan intelektual, emotional power atau kekuatan emosional dan spriritual power atau kekuatan spiritual. Nah kecil kemungkinan kita akan terperangkap atau terpengaruh dengan komenan dan bullyian itu jika ke empat interpower ini bekerja. Tentu kecil kemungkinan untuk ada perasaan malu, perasaan takut, perasaan terintimidasi, karna kita punya pegangan yang kuat, dengan ke empat interpower itu kita tau kapasitas kita, keunikan kita, kecantikan versi kita.
kalau keempat interpower ini tidak digunakan maka besar kemungkinan minat tidak akan muncul.
- Jika dikaitkan dengan komunikasi, hal ini sejalan dengan teori penggunaan dan kepuasan yakni teori ini menjelaskan mengenai kapan dan bagaimana audiens sebagai konsumen media menjadi lebih aktif atau kurang aktif dalam menggunakan media karna akibat yang timbulkan dari penggunaan media itu. Dalam hal ini ketika menggunakan instagram dan mendapat komentar beauty bullying maka terdapat komunikan selaku orang yang mendapatkan komentar masih memunculkan minat untuk tetap menggunakan dan mengekpresikan diri di instagram, dan ada juga informan yang sudah tidak menggunakan dan minat mengekpresikan diri sudah tidak ada lagi.
5.1.4 Indikator Minat
Terdapat 4 indikator minat yakni keinginan, perasaan senang, perhatian dan perasaan tertarik.
1. Keinginan
Ketika seseorang punya rasa ingin akan suatu hal tentu ia akan bertindak untuk melakukan sesuatu berdasarkan keinginannya itu.
Dalam hal ini keinginan adalah niat seseorang untuk menunjukan /mengekspresikan dirinya di instagram.
• Dengan mendapat komentar beauty bullying di instagram membuat seseorang tidak ingin/tetap ingin mengekpresikan diri diri/ memposting&story di instagram.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa ketiga informan sudah tidak ingin mengekpresikan diri lagi di instagram karena takut dibully, tidak ingin memancing dan takut terkena penyakit mental. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan dibawah ini:
“Ya benar kk di posisi itu dek. Jadi pas dari 2017 itu sudah tidak ada niat buat posting lagi karna takutnya kan nanti di bully lagi bilang kurus le, jadi kemarin kaka langsung hapus akun dek.
Biar tidak dapat komentar-komentar yang bia membuat kaka stress lagi”. (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Iya benar, udah gak mau lagi, ya malu lah, Malah nanti memancing lagi komen beauty bullying itu lagi, justru kita menghentikan saja. aku akan tetap menggunakan, karna sosial media itu kan penting kan, kaya aku ngeshare tanaman, tumbuhan.
tetap pake tapi uploadnya ya kata-kata, gambar, tanaman, bunga gitu” (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Ya benar, tidak ingin lagi kak, aku kalo masih bertahan di ig bisa kena penyakit mental kayanya, makanya untuk sekarang aku gak upload lagi, ngak ada niat lagi sih kalo sekarang. “Aku masih pake kak tapi untuk mau ekpresikan lagi aku gak dulu, (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020)
Peneliti juga menemukan bahwa kedua informan masih ingin mengekpresikan diri di instagram karna merupakan hak yang dimiliki serta wujud ekpresi diri. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan informan:
“Masih ingin kok, Ehm mikir kaya kan aku kan punya instagram, dan itu kan hak aku untuk upload apa aja, kaya gitu sih jadi lebih kaya ehm mencoba untuk yang kaya biasa aja.
Menghapus instagram ya ngak sih kak, cuman kadang main apa gitu untuk mengalihkan aku, gitu sih, jadi masih kok” (Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020)
“Masih ingin, bukan tidak mau lagi tapi lebih was-was, dipikiran kaya yasuda ini kan wujud ekpresi diri saya. cuman butuh pemikiran dan pertimbangan kalau mau mengekpresikan
diri di instagram. Tetap masih ingin menggunakan instagram.
(Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020) Dari pernyataan kelima informan diatas, tiga diantaranya sudah tidak memiliki keinginan untuk mengekpresikan diri/mengekspos wajah/tubuhnya di instagram karna takut di bully sehingga bentuk ketakutannya sampai menghapus akun instagram, kemudian informan juga takut terkena penyakit mental dan malu dijelek- jelekan di instagram. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mengalami beauty bullying di instagram, minat untuk mengekpresikan diri sudah tidak ada lagi.
- Jika dikaitkan dengan komunikasi, hal ini sejalan dengan teori tindakan beralasan, dimana sikap atau tindakan yang diambil disebabkan oleh adanya niat. Jadi sikap seseorang untuk melakukan sesuatu dipengaruhi oleh niat sehingga dapat bertindak.
Dalam hal ini ketika mendapatkan komentar beauty bullying, komunikan/orang yang terkena beauty bullying masih memiliki niat/minat untuk mengekpresikan diri atau tidak memiliki minat/niat tersebut lagi.
2. Perasaan Senang
Orang yang memiliki rasa suka akan suatu hal, tentu akan memunculkan minat untuk melakukan suatu aktivitas. Dalam hal ini perasaan senang adalah rasa suka yang dimiliki seseorang untuk melakukan sesuatu/mengekspresikan dirinya di instagram.
• Dengan mendapat komentar beauty bullying di instagram membuat seseorang masih senang/tidak senang menggunakan instagram untuk mengekpresikan diri.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa ketiga informan sudah tidak memiliki perasaan senang untuk mengekpresikan diri di instagram lagi karena membuat tidak
percaya diri, tidak mau insecure dan senang menggunakan instagram untuk mengekpresikan hal lain saja dan tidak untuk full badan/wajah. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan ketiga informan:
“No, ndak lagi ade, karna itu bikin kaka ngak percaya diri banget asli dek”. (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Ya masih senang pake ig, untuk upload yang bercocok tanam, jadi udah ngak bully fisik lagi karna udah gak upload fisik lagi kan. Jadi senang upload yang lain, kalo full badan/wajah gak senang lagi”. (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Tentu tidak senang kak, makanya udah gak upload lagi, saking gak mau insecure lagi, dengan keadaan ku sekarang tanpa upload-upload aku aman sih kak, udah gak mikirin-mikirin itu lagi” (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020)
Peneliti juga menemukan bahwa kedua informan masih senang menggunakan instagram untuk mengekpresikan diri karna ingin berbagi momen, ingin memunculkan tulisan lewat caption dan berbagi kebahagiaan lewat foto. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan informan:
“Ehm aku masih senang dan masih mau, apayah senang sih soalnya soal mengekspresikan diri di instagram gak sendiri jatohnya, tapi lebih kaya ehm apa, momen yang sama-sama dengan temen-teman gitu. Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020)
“Sangat sangatlah suka, senang karna disaat bahagia, dalam keadaan apapun atau ingin memunculkan tulisan yang bagus kita ekplore itu di medsos instagram gitu biar orang juga
tau oh ini saya punya karya tulis kaya gitu“Nah walaupun dapat komen-komen begitu tetapi kaya tetap upload saja begitu, jadi memang masih senang. (Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020).
Dari pernyataan kelima informan diatas, tiga diantaranya sudah tidak senang untuk menggunakan instagram sebagai sarana mengekpresikan diri karna komentar beauty bullying yang didapatkan sehingga membuat insecure, takut dibully dan tidak percaya diri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mengalami beauty bullying di instagram, minat untuk mengekpresikan diri sudah tidak ada lagi karna perasaan senang yang sudah tidak dirasakan.
3. Perhatian
Indikator ini seperti aktifitas jiwa seseorang dalam mengamati, mengerti dan mengesampingkan hal-hal yang tidak penting.
Perhatian dalam hal ini adalah konsentrasi/aktivitas jiwa seseorang fokus terhadap diri sendiri dan peduli/tidak terhadap komentar beauty bullying.
• Seseorang peduli/tidak peduli ketika mendapatkan komentar beauty bullying di instagram.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa ketiga informan benar-benar peduli dan menaru perhatian terhadap isi komentar beauty bullying tersebut karena selalu kepikiran dengan omongan orang dan overthinking. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan dibawah ini:
“Oh ia dek kaka peduli skali dan kaya langsung ambil hati begitu, soalnya kk baperan dek, jadi kk tu kalo ada orang yang ngomongin sesuatu kk langsung kaya overthinking gitu, masukin ke hati” (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Ya peduli, pastinya peduli” (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Ya aku tipe orang yang sangat sangat peduli dengan pendapat orang lain kak, apalagi menyangkut pribadi dan fisik aku tu aku peduli banget makanya pas dikomen gitu langsung pikiran (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020) Peneliti juga menemukan bahwa kedua informan tidak peduli/tidak menaru perhatian terhadap komentar beauty bullying tersebut. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan:
“Ehm peduli sih ngak yah. (Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020)
“Sekarang sudah mencoba tidak peduli. (Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020)
• Dengan mendapat komentar beauty bullying membuat seseorang semakin lebih memperhatikan dirinya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa kelima informan menjadi semakin lebih memperhatikan dirinya ketika mendapat komentar beauty bullying di instagram yakni lebih was-was, ingin gendut, mengurangi makan, diet, menggemukan badan dan berdandan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan-pernyataan berikut :
“Ia dek benar, kaya kaka langsung pengen gendut, kaya oh harus gendut sih ini” (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Ya haha, Ia biasanya kaya gitu kak, lebih was was”
(Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020)
“Oh kalo aku ya, jadi kaya aku mulai mengurangi makan tapi gak yang sampe gila-gilaan, paling diet aja, setidaknya agak berkurang makannya gitu lah, jadi ya benar lebih memperhatikan diri”. (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Benar sekali, tepat, Iya benar skali. Jadi memang semakin lebih memperhatikan lagi sih”. (Wawancara dengan Immanuela Kbarek pada 16 oktober 2020)
“Ya tentu, jadi kaya mereka komen gitu tu secara langsung kaya menghantarkan aku untuk berpenampilan seperti apa yang mereka inginkan gitu loh kak, kaya langsung mikir beli obat penggemuk badan,. Tapi aku sekarang makannya agak dibanyakin sih kak kaya pengen gemuk gitu loh, kaya gituu sih”. (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020).
Dari pernyatan kelima informan diatas, tiga diantaranya sangat mempedulikan komentar beauty bullying yang dilontarkan dan tanpa disadaripun dengan mendapat komentar beauty bullying membuat seseorang semakin lebih memperhatikan dirinya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mendapat komentar beauty bullying di instagram, informan menaru perhatian dan peduli terhadap isi komentar itu dan menyebabkan minat untuk mengekpresikan diri sudah tidak ada lagi.
4. Perasaan Tertarik
Minat berhubungan dengan gerakan yang dapat menarik/mendorong seseorang untuk cenderung merasa tertarik pada orang, benda/hal apapun, bisa berupa pengalaman yang efektif. Perasaan tertarik dalam hal ini adalah perasaan yang mendorong seseorang untuk tertarik mengekspresikan diri di instagram.
• Dengan mendapat komentar beauty bullying, seseorang masih tertarik untuk mengekspresikan diri lewat postingan/story di instagram.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa ketiga informan sudah tidak tertarik untuk mengekpresikan diri di instagram karna takut, insecure dan karna komentar beauty bullying yang di dapat. Informan juga tidak tertarik untuk mengekpresikan full badan/wajah karna komentar tersebut. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan informan:
“Udah gak adek, gara-gara kejadian itu kaka udah gak minat, gak tertarik, karna itu, takut, insecure, takut nanti dibilang yang macem macem lagi kaya gitu, Tidak juga untuk kepentingan lain, kak tidak pakai lagi. (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Hm tidak, udah ngak lagi, jadi kaya cuman kata-kata atau gambar dll” sekarang tertariknya cuman buat ekpresikan keseharian aja kaya bercocok tanam gitu, jadi udah gak buat nunjukin kalo aku cantik, atau untuk ekpresi diri dan sebagainya gak,. dan kata kata gitu” (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020).
“Sudah sangat tidak tertarik lagi sih kak, padahal dulu aku anaknya aktif banget dan rajin upload loh, tapi pas kejadian dapat komen tu langsung gak lagi, langsung putuskan untuk yaudah bye dulu lah, ngak usah upload-upload lagi lah” (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020)
Peneliti juga menemukan bahwa kedua informan masih memiliki perasaan tertarik untuk mengekpresikan diri di instagram, namun lebih memperhatikan dan lebih was was lagi. Hal ini dapat dilihat dari peernyataan dibawah ini :
“Itu iya masih, biasanya kalo misalkan udah di tahap kaya kemarin dapat komentar buruk, jadi kaya pas mau ngupload lagi kaya rapihin dulu jadi lebih memperhatikan jadi tertarik masih”
(Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020).
“Kalau tertarik untuk mengekspresikan lagi ya tertarik, cuman memang waktu yang rambut di komen itu tahan sedikit jadi lebih was was” (Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020).
Dari pernyataan kelima informan diatas, tiga diantaranya sudah tidak memiliki perasaan tertarik untuk mengekpresikan diri di instagram, karna takut insecure, dan takut dibuli lagi, dan hanya mengekspresikan kata/gambar saja namun untuk wajah atau full badan sudah tidak lagi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mendapatkan komentar beauty bullying, ia sudah tidak memiliki perasaan tertarik lagi untuk mengekspresikan diri di instagram.
- Hal ini juga diperkuat dengan pendapat sumber psikolog Nuran Abdat:
Ketika seseorang dibully tentu menghasilkan banyak campuran perasaan, perpaduan dari perasaan-perasaan tersebut memunculkan keinginan untuk tetap ekplore atau tidak, tetap ingin/tidak, senang/tidak senang, peduli/tidak, perhatian/tidak/
tertarik/tidak, semua hal itu dapat dilihat jika mengandalkan ke empat kekuatan dalam diri. belajar untuk meningkatkan 4 kekuatan dalam diri. Tentu ketika seseorang dibuli ada yang sangat peduli, ada pula yang tidak. Benar bahwa down dan overthingking pasti hadir, jika 4 kekuatan itu digunakan hal itu dapat diminimalisir.
Ketika seseorang merasa terintimdasi dengan komentar atau pesan orang lain atau bullyian bisa secara tidak langsung mereka menggiring kita untuk menjadi seperti yang diinginkan, contohnya dengan semakin lebih memperhatikan diri tadi, gemukin badan, diet dsb. Belajar menanamkan dalam diri, berbicara menginformasikan kepada diri sendiri, mencoba berkaca dan dan temukan suatu bagian paling cantik dari dirimu versi dirimu sendiri. Lakukan hal tersebut terus menerus, tingkat percaya diri akan bertambah karna yang anda tanamkan dalam diri anda bahwa anda cantik”.
- Jika dikaitkan dengan komunikasi, hal ini sejalan dengan teori keseimbangan Fritz Heider (1946) dalam bukunya “the psychology of interpersonal relations”. Teori ini membahas mengenai hubungan antar individu yang memusatkan perhatiannya pada daya tarik, berhubungan dengan perasaan suka atau tidak suka terhadap seseorang, objek lain, dan keadaan lainnya. Dalam hal ini komunikan akan memunculkan perasaan tertarik atau tidak terhadap pesan/komentar beauty bullying yang dilontarkan di intagram sehingga dapat dilihat antara ada dan tidak adanya lagi minat mengekpresikan diri.
5.2 Analisis Fenomena Beauty Bullying Menggunakan Teori SR
Dari hasil analisis fenomena beauty bullying, peneliti juga melakukan analisis berdasarkan teori S-R (Stimulus Respons). Menurut Morissan (2008:49) dalam teori S-R ini hanya ada 2 komponen sederhana yang terlibat yaitu media massa dan komunikan atau khalayak. Jadi media memberikan stimulus dan si penerima akan menanggapi dengan menunjukan respon.
Jika dikaitkan dengan penelitian komunikasi mengenai beauty bullying, pesan/stimulus yakni berupa pesan-pesan verbal berisi bullyan yang diberikan oleh si pembuli dengan menggunakan instagram sebagai medianya melalui komentar-komentar beauty bulying dalam sebuah postingan foto maupun fitur instagram berupa story. Sedangkan respon merupakan sikap yang muncul dari pesan tersebut. Media massa dalam hal ini dapat dikatakan sebagai media sosial yakni Instagram sebagai wadah untuk mengeluarkan stimulus/pesan. Stimulus yang dimaksudkan adalah pesan dalam bentuk komentar beauty bullying yang berisikan komentar mengejek, menyindir, menghina, mengintimidasi, menyebarkan gosip atau memberikan opini negatif. Sedangkan penerima pesan dalam hal ini adalah orang yang terkena pesan/komentar beauty bullying tersebut kemudian muncul respon dari si penerima.
McQuail merumuskan tiga komponen utama dalam teori S-R ini yakni Pesan (Stimulus), Seorang Penerima (Receiver), dan Efek (Respons). Terdapat 3 variabel penting dalam stimulus yakni perhatian, pengertian dan penerimaan. Berikut paparan hasil wawancara dengan kelima informan :
1. Perhatian
Pada proses ini, ketika seseorang mendapat pesan/komentar beauty bullying, ia akan memberikan /menaruh perhatian penuh dan peduli terhadap isi komentar tersebut.
Dari hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, ditemukan bahwa ketiga informan peduli dan menaruh perhatian terhadap komentar
tersebut dikarenakan informan adalah tipe yang kepikiran, tipe tepengaruh, informan juga sangat peduli sehingga tidak ingin hal tersebut terulang lagi. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan :
“Ia dek bener-benar perhatikan, kepikiran dek. Kk peduli skali, karna kk tipe orang yang bakalan kepikiran terus sama omongan orang tentang kk entah itu positif atau negatif”. (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawowode, pada 24 oktober 2020).
“Ia, peduli banget, saking pedulinya tu sampe kaya aduh biar ini hanya terjadi di aku gitu loh jangan terjadi di orang lain lagi.”
(Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Ya peduli banget kak, aku sangat peduli sama komentar orang, mau itu baik atau jelek aku terima, soalnya aku tipe yang terpengaruh gitu sih kak” (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020)
Peneliti juga menemukan bahwa kedua informan tidak menaru perhatian dan berusaha tidak peduli terhadap komentar beauty bullying tersebut. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan:
“Awal awal peduli, sekarang sudah tidak. Berusaha tidak peduli”.
(Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020)
“Ehm tidak peduli sama sekali sih kak kalo aku” (Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020)
Dari pernyataan kelima informan, terdapat tiga informan menyatakan bahwa mereka sangat peduli dan menaru perhatian dengan isi komentar tersebut, Maka dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mendapat komentar beauty bullying, mereka menaru perhatian dan peduli terhadap komentar tersebut.
2. Pengertian
Pada proses ini, ketika seseorang mendapatkan pesan/komentar beauty bullying, ia akan mengartikan dan mengerti maksud dari isi pesan tersebut.
Dari hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, ditemukan bahwa ketiga informan mengartikan dan mengerti makna dari pesan/komentar beauty bullying tersebut sebelum diterima. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan :
“Ia kaya paham dulu artinya apa ni, maksudnya bgmana jadinya terima ade” (Wawancara dengan Adel Chisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Kalo aku ya aku artikan dulu sih, kaya oh dia ngatain aku maksudnya gini, jadi terima deh” (Wawacara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Aku artiin sih kak, kaya aduh ini maksudnya gimana,mikir kaya aduh emang gini yah aku, jadi ya aku langsung down dan terima-terima aja” (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020).
Peneliti juga menemukan bahwa kedua informan tidak mengartikan serta mengerti maksud dari komentar beauty bullying tersebut karna kedua informan berusaha untuk tidak peduli dan bodo amat . Hal ini dapat dilihat dari pernyataan:
“Tidak sih. tidak berpikir lagi untuk memikirkan alasan kira kira kenapa ya mereka berkomentar seperti itu.. tidak lagi jadi yaudah berusaha bodo amat” (Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020)
“Gak aku pikir lagi sih kak, tetap kaya ah yaudalah bodoamat”
(Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020) Dari pernyataan kelima informan, terdapat tiga informan menyatakan bahwa informan mengartikannya dahulu dan mengerti maksudnya, Maka dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mendapat komentar beauty
bullying, mereka melalui proses mengerti, mengartikan dan memahami maksud komentar beauty bullying tersebut sebelum diterima nantinya.
3. Penerimaan
pada proses ini, ketika seseorang mendapatkan pesan/komentar beauty bullying, ia akan sampai pada tahap penerimaan pesan/isi komentar beauty bullying tersebut.
Dari hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, ditemukan bahwa ketiga informan menerima komentar tersebut secara lapang dada walaupun sakit hati, sehingga informan langsung insecure, stress dan kepikiran. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan :
“Ia adek, Ehmm terima dan sakit hati, jadi pas dikomen k kok kurus banget, tulangnya kelihatan, trus kaka balasnya kaya gini, ia lagi stress lagi banyak pikiran tapi dalam hati tu sakit dek, sakit hati, jadi terima sa” (Wawancara dengan Adel Chrisye Kawawode, pada 24 oktober 2020)
“Ia aku terima aja, tapi ada jengkel. Tapi kaya aku harus tetap terima gitu loh” (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Ya benar langsung aku terima, makanya aku langsung insecure itu kan kak, kaya rada stress juga karna kaya kepikiran sih” (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020)
Peneliti juga menemukan bahwa kedua informan tidak menerima komentar tersebut dan kedua informan berusaha sabar. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan:
“Gak terima sih cuman kaya oh iya sudah dan berusaha untuk sabar dan tahan saja. (Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020).
“Gak terima sih secara lapang dada, kalo terima haha jadinya emang bener dong. Jadi aku kaya hmm yaudah iain aja udah”
(Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020) Dari pernyataan kelima informan, terdapat tiga informan menyatakan bahwa informan menerima komentar tersebut secara lapang dada walau merasa sakit hati. Maka dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mendapat komentar beauty bullying, mereka menerima komentar tersebut sehingga memungkinkan terjadi perubahan.
Berdasarkan ketiga proses diatas, berubahnya individu tergantung dalam proses pesan itu disampaikan. Jadi stimulus yang diberikan itu akan menimbulkan 2 kemungkinan yakni pesan itu diterima atau ditolak. Yakni proses awal perhatian dimana si penerima pesan menaruh perhatian/peduli terhadap isi komentar tersebut, kemudian ia mulai mengartikan isi pesan itu dan memampukan si penerima pesan untuk mengerti makna dari pesan sehingga sampai pada tahap penerimaan pesan, sehingga hal ini yang memungkinkan terjadi perubahan sikap. Dari kelima informan, peneliti menemukan bahwa ketiga informan menaru perhatian kemudian mengartikan serta mengerti kemudian menerima pesan/isi komentar tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mendapatkan komentar beauty bullying dan melewati ketika proses ini maka pesan tersebut diterima dan terjadi perubahan sikap yakni sudah tidak memiliki minat lagi untuk mengekpresikan diri.
5.3 Analisis Fenomena Beauty Bullying Menggunakan Teori Perubahan Sikap
Dari hasil analisis fenomena beauty bullying, peneliti juga melakukan analisis berdasarkan teori Perubahan Sikap. Teori yang digagas oleh Carl Hovlan ini menjelaskan mengenai bagaimana sikap/tingkah laku seseorang terbentuk dan bagaimana sikap tersebut bisa berubah lewat proses komunikasi serta bagaimana sikap itu dapat mempengaruhi sikap atau tingkah laku seseorang. Teori ini berpandangan bahwa seseorang dapat mengalami mental discomfort atau sebuah ketidaknyamanan/ perasaan tidak mengenakan dalam diri ketika ia dihadapkan pada pesan/informasi yang berlawanan dengan keyakinannya. Ketika seseorang mendapat sebuah pesan/isi media, ia akan menyeleksi pesan/informasi yang didapat/ia akan menyaring isi media tersebut sehingga pesan dari media tidak mengakibatkan perubahan sikap yang signifikan.
Jika teori ini dikaitkan dengan penelitian komunikasi mengenai fenomena beauty bullying, dalam hal ini yang dimaksud dengan pesan/informasi adalah pesan pesan bullyan berupa komentar beauty bullying yang dilontarkan kepada korban melalui media instagram dan hal tersebut akan diseleksi dengan ketiga proses selektif diatas. Dan sikap atau tingkah laku yang dimaksud adalah minat mengeksresikan dirinya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan tiga proses selektif. Berikut paparan hasil wawancara dengan kelima informan:
1. Penerimaan Informasi Selektif
Dalam proses ini seseorang hanya akan menerima pesan/informasi yang sesuai dengan sikap atau kepercayaan yang telah dimiliki.
Dari hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, ditemukan bahwa kedua informan tidak peduli dan tetap percaya bahwa tubuhnya tidak seperti yang dikomentari sehingga tetap mempertahankan diri dan tidak memusingkan hal itu tersebut. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan informan:
“Ya benar berusaha untuk menerima diri lagi, berusaha mempertahankan diri lagi. Jadi masih tetap ada minat untuk mengekpresikan diri. Jadi berusaha untuk memuaskan diri sehingga dapat mengekpresikan diri”. (Wawancara dengan Immanuela Kbarek, pada 16 oktober 2020)
“Ehm biasanya iya jadi ngak peduli gitu, kaya lebih nurut aja kaya iyain ajalah udah, tetap pertahanin diri aja. Ya tapi tetap ada minat, tetap ada” (Wawancara dengan Clarita Sintikhe Mamontho, pada 16 oktober 2020)
Peneliti juga menemukan bahwa ketiga informan sangat peduli dan tidak menerapkan keyakinan tersebut dalam diri sehingga pertahanan diri mereka tidak ada dan kurang maka hal itu membuat minat mengekpresikan diri ketiga informan sudah tidak ada lagi. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan informan :
“Sebaliknya dek karna kaka peduli to, jadi itu yang bikin kaka punya minat ekpresikan diri sudah tidak ada lagi ya karna itu ade”
(Wawancara dengan Adel Chrisye, pada 24 oktober 2020)
“Kalo aku tetap percaya tapi ya hmm minat nya itu kemungkinan ada tapi tidak untuk sekarang. Sekarang tidak dulu untuk full badan sama wajah. sekarang ya itu untuk ekspresi yang lain aja” (Wawancara dengan Jenny Maria Kristanthy, pada 27 oktober 2020)
“Aku sebaliknya kak, aku pas di komen kaya gitu aku gak mikir kaya gitu, mikir kaya oh tubuhku gak gitu kok, aku cantik kok, nah aku ngak gitu, aku malah langsung tu aduh emang iya, emang gitu, yatuhan aku kaya gitu” (Wawancara dengan Cantika Watunglawar, pada 16 oktober 2020)
Dari pernyataan kelima informan, dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mendapat komentar beauty bullying, mereka sangat peduli dan