VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.15 Peraturan Nagari di Nagari Sumpur
Pengaturan terhadap sumberdaya ikan telah diatur melalui UU No, 31 tahun 2004 (Bab IV, pasal 6 ayat 1) yaitu tercapainya manfaat optimal dan berkelanjutan serta terjaminnya kelestarian ikan. Hal ini mendorong terbentuknya peraturan lokal yang berasal dari masyarakat. Kearifan lokal ini telah ada di masyarakat nagari Sumpur sejak dulu, namun sebelumnya hanya merupakan kesepakatan antar nelayan. Pemerintahan nagari, masyarakat dan instansi terkait bekerjasama untuk menggali kembali aturan tersebut dan aturan ini mulai disahkan sejak tahun 2006 menjadi Peraturan Nagari (Perna).
Perubahan bentuk kesepakatan ini menjadi aturan nagari disebabkan oleh adanya dorongan dari masyarakat akan perlunya kekuatan hukum dari aturan tersebut dengan adanya sangsi yang kuat dan jelas. Tujuan dari pembentukan aturan tersebut antara lain: pertama, secara sosial dapat menimbulkan efek jera terhadap nelayan. Kedua, secara ekologis dapat melestarikan sumberdaya ikan Bilih, serta ketiga mencakup tujuan ekonomi untuk mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang karena ikan Bilih merupakan komoditas utama dalam menunjang perekonomian masyarakat Sumpur. Peraturan Nagari (Perna) ini tidak hanya berlaku bagi nelayan di kenagarian Sumpur tetapi
juga bagi nelayan lainnya yang melakukan penangkapan di wilayah perairan Sumpur. Sangsi dari peraturan ini ditindak tegas tanpa pandang bulu. Pelaporan terhadap pelanggaran dapat dilakukan oleh masyarakat yang bertindak langsung sebagai pengawas (POKMASWAS). Bentuk peraturan nagari ini dapat dilihat pada Lampiran 8.
6.16 Implikasi Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Singkarak.
Berdasarkan hasil pengkajian stok (stock assessment), saat ini kondisi aktual
sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak diduga telah mengalami overfishing
baik secara biologi maupun ekonomi. Kondisi overfishing ini disebabkan oleh
jumlah penangkapan ikan Bilih yang melebihi kondisi maksimum yang sustainable secara biologi, tingkat effort yang lebih tinggi dari kondisi open access, serta rasio biaya yang lebih besar dibandingkan harga ( >p).Jika kondisi ini terus berlangsung maka dikhawatirkan stok ikan Bilih terus mengalami penurunan.
Selain itu dari hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan diperoleh faktor-faktor yang rata-rata mempengaruhi pendapatan nelayan untuk ketiga alat tangkap adalah hasil tangkapan. Hasil tangkapan berpengaruh positif terhadap pendapatan. Hal ini berarti bahwa untuk meningkatkan pendapatan nelayan harus meningkatkan hasil tangkapan. Jika kondisi
sumberdaya ikan Bilih mengalami overfishing maka ketersediaan stok akan
berkurang sehingga nelayan tidak dapat meningkatkan kesejahteraannya. Hal ini menjadi acuan perlunya pengelolaan terhadap sumberdaya ikan Bilih yang berkelanjutan.
Pengelolaan sumberdaya ikan Bilih dapat diarahkan pada kondisi MEY
(Maximum Economic Yield) dan kondisi MSY (Maximum Suistanable Yield). Jika
pengelolaan diarahkan pada kondisi MEY maka effort harus ditekan sampai pada
angka 630,40 unit standar alat tangkap. Artinya jumlah effort aktual harus
dikurangi sebesar 2.861,68 unit sandar alat tangkap atau 392,3 unit langli, 35,48 unit alahan, dan 107,46 unit jala. Pada kondisi ini rente ekonomi yang diperoleh mencapai tingkat maksimum. Namun jika kebijakan ini diterapkan maka tenaga kerja yang dapat diserap lebih sedikit sehingga akan meningkatkan jumlah pengangguran. Menurut Widodo dan Suadi (2006), pada kenyataannya orang akan lebih mudah diajak untuk menangkap lebih banyak ikan daripada mengejar nilai ekonomi yang abstrak. Sehingga kebijakan ini sulit untuk dilakukan.
Pengelolaan sumberdaya ikan Bilih membutuhkan pertimbangan ekonomi
untuk menghindari terjadinya over exploitation dan pertimbangan biologis untuk
menjaga mortalitas penangkapan agar tidak melampaui kemampuan populasi untuk bertahan serta untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan Bilih. Oleh
karena itu jika kebijakan pengelolaan diarahkan pada kondisi MSY (Maximum
Suistanable Yield) dengan menekan effort sampai pada angka 815,76 unit standar
alat tangkap. Hal ini berarti bahwa effort harus dikurangi sebanyak 2.676,32 unit
standar alat tangkap atau 258 unit langli, 23 unit alahan, dan 70,82 unit jala. Nilai ini lebih kecil jika dibandingkan dengan kondisi MEY. Penurunan penangkapan ke tingkat MSY tidak akan mengakibatkan kerugian besar, sebab kelebihan tenaga kerja yang lebih sedikit dapat diarahkan ke bentuk usaha lainnya yang lebih produktif. Pertanian dan pariwisata merupakan usaha yang potensial untuk dikembangkan di Danau Singkarak. Sektor ini juga dapat menyerap lebih banyak
tenaga kerja. Kelebihan dan kekurangan kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan Bilih tersebut disajikan pada Tabel 31.
Tabel 31.Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Singkarak
Kebijakan Kelebihan Kekurangan
MEY 1. Rente sumberdaya yang
diperoleh maksimum.
1. Penyerapan tenaga kerja rendah
2. Mengurangi 392,3 unit langli,
35,48 unit alahan, dan 107,46 unit jala.
MSY
1. Penyerapan tenaga kerja
tinggi.
2. Mengurangi 258 unit
langli, 23 unit alahan, dan 70,82 unit jala.
1. Tingkat keuntungan yang
diperoleh tidak maksimum.
Sumber: Widodo dan Suadi (diolah), 2006
Menurut Kusumastanto (2007), untuk mewujudkan pengelolaan yang mempertimbangkan keberlanjutan stok, keberlanjutan pendapatan, dan kesejahteraan nelayan ada tiga langkah yang dapat dilakukan yaitu langkah teknis, pengendalian masukan, dan pengendalian keluaran. Tapi dalam kasus ini strategi
yang dapat dilakukan adalah: Langkah Teknis. Kebijakan langkah teknis yang
dapat dilakukan dalam pengelolaan sumberdaya ikan Bilih dapat dilakukan melalui:
1. Pembatasan ukuran jaring langli minimum yaitu 1 inci. Tujuan dari
pembatasan ini adalah mengurangi dampak dari penggunaan alat tangkap terhadap ukuran ikan dan habitatnya serta mengurangi mortalitas penangkapan. Pembatasan ukuran jaring minimum ini telah dilakukan pemerintah provinsi mulai tahun 2007 namun belum ditetapkan menjadi peraturah yang jelas. Akibatnya masih banyak masyarakat yang tetap menggunakan jaring langli dengan ukuran ¾ inci.
2. Pembatasan penggunaan alat tangkap. Tujuan pembatasan ini adalah untuk
mengurangi jumlah effort ke tingkat MSY. Tingginya jumlah effort saat ini
yaitu mencapai tingkat 3.492,08 unit standar alat tangkap mengakibatkan
kondisi perikanan berada pada kondisi open access. Pada kondisi ini terjadi
inefisiensi dalam perikanan. Dimana tingkat biaya yang dikeluarkan nelayan tinggi namun rente yang diperoleh tidak ada. Hal ini dapat menurunkan kesejahteraan nelayan ikan Bilih.
3. Pembatasan terhadap kawasan dan waktu penangkapan untuk alat tangkap jala
dan alahan. Hal ini dilakukan karena kegiatan penangkapan kedua alat tangkap ini dilakukan di muara-muara sungai pada waktu-waktu pemijahan. Sehingga kegiatan penangkapan perlu dibatasi beberapa meter dari muara sungai. Pembatasan waktu penangkapan untuk alat tangkap jala dapat dilakukan
melalui sistem shift.
4. Pembatasan ukuran minimum ikan yang ditangkap. Tujuan pembatasan ini
adalah mengurangi mortalitas penangkapan.
Kebijakan pengelolaan tersebut disesuaikan dengan keadaan sosial masyarakat, topografi, dan alat tangkap yang dominan digunakan. Selain itu kebijakan pengelolaan memerlukan aturan/regulasi yang jelas. Perikanan yang tidak diatur
(unregulated) akan cenderung menempatkan upaya penangkapan pada tingkat
yang melebihi tingkat optimal, sehingga over investasi akan terjadi dan perikanan
berada pada tingkat yang tidak efisien secara sosial dan ekonomi. Regulasi ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas serta bobot dan ukuran ikan. Hasil analisis persepsi diketahui bahwa keberadaan aturan berperan sangat penting dalam upaya menjaga kelestarian ikan Bilih. Oleh karena itu perlu adanya regulasi
terhadap penangkapan yang memiliki hukum dan sanksi yang jelas seperti Perda. Selain itu, peraturan nagari yang berlaku di Kenagarian Sumpur dapat dijadikan sebagai acuan bahwa aturan sangat penting sehingga masyarakat Sumpur cenderung lebih ramah lingkungan dalam kegiatan penangkapan ikan Bilih. Namun keberhasilan dari peraturan sangat ditentukan oleh dukungan semua
stakeholders dan pengawasan terhadap aturan yang dilakukan oleh berbagai
VII. KESIMPULAN DAN SARAN