PELAKSANAAN BIMBINGAN PERKAWINAN DI KUA KECAMATAN SOBANG
D. Peraturan pelaksanaan bimbingan perkawinan
Ada sejumlah peraturan dan program yang bertujuan membangun ketahanan keluarga Indonesia. Peraturan dan program ini sejak kemerdekaan dapat dikelompokan menjadi 4 gelombang. Pertama, gelombang tahun 1954 dengan lahirnya BP4. Kedua, gelombang tahun 1974 dengan lahirnya UU No.1 tahun 1974 tentang perkawinan.
Ketiga, gelombang tahun 1999 dengan lahirnya Peraturan Pembinaan Gerakan keluarga Sakinah. Keempat, gelombang tahun 2009 dan tahun 2013 dijadikan satu gelombang karena produknya sama, yakni sama-sama mengatur kursus perkawinan.114 Bimbingan perkawinan dibuat setelah ada nya kursus perkawinan yang mana
114Khoiruddin Nasution dan Syamruddin Nasution, Peraturan dan Program Membangun Ketahanan Keluarga: Kajian Sejarah Hukum, Vol. 51, No.1, Juni 2017, hal. 2
bimbingan perkawinan dibuat sebagai penyempurna dari kursus calon pengantin.
Peraturan yang dikeluarkan pemerintah dalam kaitannya dengan usaha membangun ketahanan keluarga Indonesia. Dalam UU No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Pasal 1 ayat (2) ada istilah peraturan perundang-undangan, yang diartikan peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.115
Kemudian dalam Pasal 8 ayat (1) disebutkan, “Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, Badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat.
Peraturan yang berkaitan dengan dan mengatur mengenai pembangunan ketahanan keluarga Indonesia dan di bawah kendali pokok Kementrian Agama R.I, Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Bersama Menteri, Keputusan Menteri, Peraturan Menteri, Keputusan Bersama Dirjen, Peraturan Dirjen, Surat Edaran Dirjen, dan Surat Edaran Kepala/ Ketua Lembaga, seperti Surat Edaran Ketua BP4.116
Sementara maksud program adalah seluruh program yang lahir sebagai akibat dari keluarnya sejumlah peraturan dibidang pembangunan ketahanan keluarga, seperti program Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah sebagai akibat dari lahirnya Peraturan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah.
Menghadapi fenomena lemahnya lembaga perkawinan, dalam berbagai kesempatan Menteri Agama telah menyampaikan perlunya penguatan lembaga perkawinan melalui revitalisasi pelaksanaan Kursus Calon Pengantin (Sucatin).
Kementrian agama juga mengeluarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang
115Pasal 1 ayat (2) UU No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;
116Khoiruddin Nasution dan Syamruddin Nasution, Peraturan dan Program Membangun Ketahanan Keluarga: Kajian Sejarah Hukum, Vol. 51, No.1, Juni 2017, hal. 3
Bimbingan Perkawinan Sebagai Penyempurna Sucatin. Jika sebelumnya pelaksanaan sucatin hanya dilaksanakan di Kantor Urusan Agama dalam durasi waktu yang singkat, hanya dua sampai tiga jam saja, maka dalam PMA tersebut dijelaskan bahwa bimbingan perkawinan dilaksanakan selama 16 jam pelajaran dan merupakan satu keharusan/persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon pengantin.117
Berangkat dari Peraturan Perundang-undangan yang mengatur tentang perkawinan yaitu UU No.1 Tahun 1974 dan Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975 tentang pelaksanaan UU No.1 Tahun 1974 terutama pasal 1. Menyatakan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa. Untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa maka perlu dilakukan upaya-upaya dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Bimbingan perkawinan merupakan program yang dikeluarkan oleh PMA sebagai upaya dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawadah warahmah bagi calon pengantin yang didalamnya memuat materi-materi tentang keluarga sakinah, mawadah warahmah. Pelaksanaan bimbingan perkawinan diatur dalam Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 379 tahun 2018 tentang petunjuk pelaksanaan bimbingan perkawinan pranikah bagi calon pengantin yang mana dalam pelaksananaannya bimbingan perkawinan terdiri dari bimbingan tatap muka dan bimbingan mandiri.118
Peraturan Presiden Nomor 83 tahun 2015 tentang kementrian agama. Bahwa Kementrian Agama berada dibawah dan bertanggug jawab kepada Presiden. Dalam bab II tentang organisasi bagian kesatu sususunan organisasi di pasal 4 poin d bahwa susunan kemetrian agama terdiri atas Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam.119
Dalam PMA Nomor 20 tahun 2019 tentang Pencatatan Pernikahan tercantum adanya PMA Nomor 34 tahun 2016 tentang Organisasi dan tata kerja Kantor Urusan Agama Kecamatan. Pada Bab 1 Pasal 1 menyebutkan bahwa Kantor Urusan Agama
117Direktorat Bina KUA, dkk, Modul Bimbingan Perkawinan: Untuk Calon Pengantin, Jakarta: Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama RI, Cet ke1h. VIII
118 https://dki.kemenag.go.id/berita/peraturan-perundang-udangan-pelaksanaan-bimbingan-perkawinan-di-kua, di akses pada 11 Desember 2020
119Peraturan Presiden Nomor 83 tahun 2015
Kecamatan yang selanjutnya disingkat KUA Kecamatan adalah unit pelaksanaan teknis pada Kementrian Agama, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan secara operasional dibina oleh Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten/Kota. Dan pada PMA Nomor 34 tahun 2016 juga disebutkan adanya Keputusan menteri Agama Nomor 3 tahun 1999 tentang Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah.
Keputusan Menteri Agama Nomor 3 tahun 1999 menjelaskan tentang Pembinaan Gerakan keluarga Sakinah, dan tahun 2009 serta tahun 2013 dengan lahirnya peraturan kursus perkawinan. Bimbingan perkawinan, Adapun penyelenggaraannya bisa dilakukan oleh lembaga pemerintah yang berkekuatan hukum, diantaranya : Kementrian Agama Kabupaten/Kota, Kantor Urusan Agama Kecamatan, dan lembaga lain yang telah memenuhi persyaratan dan mendapat izin penyelenggaraan dari Kementrian Agama Islam/Bimbingan Masyarakat Islam pada Kantor Kementrian Agama Kabupaten/Kota.
Adapun petunjuk mengenai pelaksanaan bimbingan perkawinan yaitu ada pada Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 379 tahun 2018. Dimana dalam pelaksanaannya ada dua macam, yaitu, bimbingan mandiri dan bimbingan tatap muka.
Di KUA Kecamatan Sobang pelaksanaan bimbingan perkawinan pernah dilaksanakan dengan cara bimbingan tatap muka. Bimbingan Tatap Muka dilaksanakan selama 16 jam pelajaran (JPL) sesuai dengan modul yang diterbitkan oleh Kementrian Agama.
dan dilaksanakan selama 2 (dua) hari berturut-turut atau berselang satu hari, dan bilamana diperlukan, dapat memanfaatkan hari Sabtu dan/atau Ahad. Materi pre tes dilakukan sewaktu peserta bimbingan calon pengantin melakukan registrasi. Dalam hal peserta bimbingan perkawinan kurang dari 50 orang/25 pasang, pelaksanaannya dapat digabung dengan beberapa kecamatan dan dikoordinasikan oleh Kepala Seksi Bimas Islam Kabupaten/Kota setempat.120
Adapun Bimbingan Mandiri hanya dilaksanakan pada KUA tipologi D1 dan D2 (KUA terdalam, terluar dan berada di kepulauan). Bimbingan mandiri dilaksanakan sebanyak 4 jam pelajaran (JPL). Materi sebagian disampaikan saat mendaftar nikah dan sebagian di sampaikan di tempat tinggal atau wilayah yang dapat dijangkau oleh calon pengantin.121
120 Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 379 tahun 2018 Bab II Penyelenggaraan
121Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 379 tahun 2018
Dalam menunjang pelaksanaan bimbingan perkawinan maka Kementrian Agama menerbitkan Modul Bimbingan Perkawinan tentang pondasi keluarga sakinah atas kerjasama antara Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam, dengan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat. Modul tersebut sebagai landasan dalam menyampaikan materi bimbingan perkawinan. Adapun asumsi yang menjadi dasar dalam penyusunan modul ini adalah sebagai berikut:122
1. Peserta Bimbingan berjumlah 10 hingga 15 pasang calon pengantin
sehingga setidaknya terdiri dari 10 sampai 15 calon pengantin laki- laki dan 10 sampai 15 calon pengantin perempuan,
2. Proses bimbingan dikawal penuh dari awal hingga akhir oleh Tim Bimbingan Calon Pengantin dari Kantor Urusan Agama dan atau Kantor Kementrian Agama Setempat,
3. Durasi bimbingan secara keseluruhan adalah 16 jam, yang terbagi dalam dua hari, masing-masing 8 jam,
4. Hari pertama proses bimbingan sepenuhnya dikelola oleh Tim Bimbingan dari KUA dan atau Kemenag setempat, baik fasiliator maupun narasumber.
5. Hari kedua proses bimbingan di kelola oleh Tim Bimbingan dari KUA dan atau Kemenag setempat sebagai fasiliator, sedangkan narasumber berasal dari kementrian atau lembaga lain.
Berdasarkan asumsi di atas maka modul ini disusun berdasarkan 2 prioritas utama, yaitu (1) penguatan cara pandang calon pengantin terhadap perkawinan dan keluarga, dan (2) pelatihan keterampilan tertentu untuk mengelola perkawinan dan keluarga.
Berdasarkan wawancara dengan kepala KUA Sobang:
“Bimbingan perkawinan di KUA Sobang bisa dilaksanakan ketika masyarakat atau calon pengantin faham akan aturan yang sudah ditentukan dan mau mengikuti peraturan tersebut. Aturan tentang petunjuk pelaksanaan bimbingan perkawinan di KUA Sobang masih merujuk pada aturan dirgen Bimas Islam nomor 379 tahun 2018
122Direktorat Bina KUA, dkk, Modul Bimbingan Perkawinan: Untuk Calon Pengantin, Jakarta: Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama RI, Cet ke1 h. XII
dan belum terdapat perubahan didalamnya. Adapun materi bimbingan perkawinan yaitu melihat pada modul bimbingan perkawinan yang dibuat atas kerjasama Badan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Kementrian Agama.123
Dalam hal ini peraturan pelaksanaan bimbingan perkawinan di KUA Sobang Kepala KUA mengatakan bahwa pelaksanaannya sudah diterapkan sesuai dengan peraturan Dirjen Bimas Islam nomor 379 tahun 2018 tentang petunjuk bimbingan perkawinan. Dan materi perkawinan nya melihat pada modul bimbingan perkawinan yang diberikan oleh Kemenag. Namun masyarakat masih sulit mengikuti peraturan tersebut, sehingga bimbingan perkawinan masih sulit dilaksanakan.
Kedudukan Dirjen Bimas Islam Nomor 379 tahun 2018 berada dibawah Peraturan Menteri Agama, dan Kekuatan hukumnya masih mengikat selama peraturannya tidak bertentangan dengan peraturan yang ada diatasnya. Namun Dirjen Bimas Islam peraturannya tidak bersifat memaksa. Ada baiknya disamping memberikan perhatian berimbang, juga perhatian kursus perkawinan atau bimbingan perkawinan dapat diangkat ke peringkat peraturan yang memaksa.
Dengan peraturan yang memaksa semua calon pengantin mempunyai bekal persiapan pengetahuan dan skill dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Dengan pengetahuan dan skill diharapkan akan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidup berumah tangga dan karenanya dapat menggapai tujuan perkawinan dan terhindar dari perceraian.