• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN-PERATURAN BARU YANG TELAH DITERBITKAN

Dalam dokumen PT BANK CENTRAL ASIA Tbk DAN ENTITAS ANAK (Halaman 137-144)

Terdapat peraturan baru yang telah terbit pada tahun 2014 dan 2013 yang dapat memberikan dampak signifikan terhadap kegiatan usaha Bank mulai tahun 2014 hingga 2019:

x PBI No. 15/12/PBI/2013 tanggal 12 Desember 2013 mengenai Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.

Bank Indonesia mewajibkan bank-bank untuk memenuhi penyediaan modal minimum dengan persentase minimal yang diwajibkan secara bertahap sebagai berikut:

2014

Ͳ Rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,50% dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio modal inti paling rendah sebesar 6,00% dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi.

Ͳ Pemenuhan rasio modal inti utama dan rasio modal inti masih menggunakan komponen yang mengacu pada PBI No. 14/18/PBI/2012 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.

2015

Ͳ Rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,50% dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio modal inti paling rendah sebesar 6,00% dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi.

Ͳ Pemenuhan rasio modal inti utama dan rasio modal inti menggunakan komponen yang mengacu pada PBI No. 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.

488

488

x PBI No. 15/12/PBI/2013 tanggal 12 Desember 2013 mengenai Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum (lanjutan).

2016

Ͳ Rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,50% dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio modal inti paling rendah sebesar 6,00% dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio Capital Conservation Buffer sebesar 0,625% dari ATMR.

Ͳ Rasio Countercyclical Buffer ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam kisaran 0% - 2,50% dari ATMR*).

Ͳ Rasio Capital Surcharge untuk Domestic Systematically Important Bank (D-SIB) ditetapkan oleh otoritas yang berwenang dalam kisaran 1% - 2,50% dari ATMR bagi bank yang ditetapkan berdampak sistemik**).

2017

Ͳ Rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,50% dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio modal inti paling rendah sebesar 6,00% dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio Capital Conservation Buffer sebesar 1,25% dari ATMR.

Ͳ Rasio Countercyclical Buffer ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam kisaran 0% - 2,50% dari ATMR*).

Ͳ Rasio Capital Surcharge untuk Domestic Systematically Important Bank (D-SIB) ditetapkan oleh otoritas yang berwenang dalam kisaran 1% - 2,50% dari ATMR bagi bank yang ditetapkan berdampak sistemik**).

2018

Ͳ Rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,50% dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio modal inti paling rendah sebesar 6,00% dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio Capital Conservation Buffer sebesar 1,875% dari ATMR.

Ͳ Rasio Countercyclical Buffer ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam kisaran 0% - 2,50% dari ATMR*).

Ͳ Rasio Capital Surcharge untuk Domestic Systematically Important Bank (D-SIB) ditetapkan oleh otoritas yang berwenang dalam kisaran 1% - 2,50% dari ATMR bagi bank yang ditetapkan berdampak sistemik**).

*) Berdasarkan perkembangan kondisi makroekonomi Indonesia dan penilaian Bank Indonesia terhadap kondisi tersebut, Bank Indonesia dapat menetapkan:

1. besarnya kisaran persentase Countercyclical Buffer yang berbeda dari kisaran 0% - 2,5%; 2. pemberlakuan Countercyclical Buffer lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

**) Otoritas yang berwenang dapat menetapkan persentase Capital Surcharge untuk Domestic Systematically Important Bank (D-SIB) yang lebih besar dari kisaran 1% - 2,5%.

489

489

x PBI No. 15/12/PBI/2013 tanggal 12 Desember 2013 mengenai Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum (lanjutan).

2019

Ͳ Rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,50% dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio modal inti paling rendah sebesar 6,00% dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio Capital Conservation Buffer sebesar 2,50% dari ATMR.

Ͳ Rasio Countercyclical Buffer ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam kisaran 0% - 2,50% dari ATMR*).

Ͳ Rasio Capital Surcharge untuk Domestic Systematically Important Bank (D-SIB) ditetapkan oleh otoritas yang berwenang dalam kisaran 1% - 2,50% dari ATMR bagi bank yang ditetapkan berdampak sistemik**).

PBI No. 15/12/PBI/2013 tanggal 12 Desember 2013 mengenai Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum (lanjutan).

Penyediaan modal minimum diatas adalah sesuai dengan profil risiko, yaitu ditetapkan paling rendah sebagai berikut:

Ͳ 8% dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 1 (satu).

Ͳ 9% sampai dengan kurang dari 10% dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 2 (dua).

Ͳ 10% sampai dengan kurang dari 11% dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 3 (tiga).

Ͳ 11% - 14% dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 4 (empat) atau peringkat 5 (lima).

x POJK No. 16/POJK.03/2014 tanggal 18 Nopember 2014 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.

Ͳ Bank wajib menghitung dan membentuk Penyisihan Penghapusan Aset (“PPA”) terhadap Aset Produktif dan Aset Non-Produktif. PPA tersebut berupa cadangan umum dan cadangan khusus untuk Aset Produktif dan cadangan khusus untuk Aset Non-Produktif. Dalam perhitungannya, agunan dapat diperhitungkan sebagai pengurang dalam perhitungan PPA. Agunan yang akan digunakan sebagai faktor pengurang PPA paling kurang harus dinilai oleh penilai independen atau penilai internal bank. Nilai agunan tersebut dilarang melebihi nilai pengikatan agunan.

Ͳ Bank wajib menghitung dan membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (“CKPN”) sesuai standar akuntansi keuangan yang berlaku.

*) Berdasarkan perkembangan kondisi makroekonomi Indonesia dan penilaian Bank Indonesia terhadap kondisi tersebut, Bank Indonesia dapat menetapkan:

1. besarnya kisaran persentase Countercyclical Buffer yang berbeda dari kisaran 0% - 2,5%; 2. pemberlakuan Countercyclical Buffer lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

**) Otoritas yang berwenang dapat menetapkan persentase Capital Surcharge untuk Domestic Systematically Important Bank (D-SIB) yang lebih besar dari kisaran 1% - 2,5%.

490

490

x POJK No. 16/POJK.03/2014 tanggal 18 Nopember 2014 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah (lanjutan).

Ͳ Dalam menghitung rasio KPMM, Bank wajib memperhitungkan PPA atas Aset Produktif dan CKPN yang dibentuk. Dalam hal hasil perhitungan PPA wajib dibentuk atas Aset Produktif lebih besar dari CKPN yang telah dibentuk, Bank wajib memperhitungkan selisih perhitungan PPA dengan CKPN sebagai pengurang modal dalam perhitungan rasio KPMM. Dalam hal hasil perhitungan PPA wajib dibentuk terhadap Aset Produktif sama dengan atau lebih kecil dari CKPN yang telah dibentuk, Bank tidak perlu memperhitungkan selisih lebih PPA dalam perhitungan rasio KPMM.

Ͳ Bank wajib menerapkan perlakuan akuntansi Restrukturisasi Pembiayaan sesuai dengan ketentuan standar akuntansi keuangan yang berlaku.

Ͳ POJK ini mulai berlaku pada tangga 1 Januari 2015.

x POJK No. 17/POJK.03/2014 tanggal 18 Nopember 2014 tentang Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi Bagi Konglomerasi Keuangan.

Ͳ Konglomerasi Keuangan terdiri dari Lembaga Jasa Keuangan (“LJK”) yang berada dalam satu grup atau kelompok karena keterkaitan kepemilikan dan/atau pengendali, wajib menerapkan Manajemen Risiko Terintegrasi secara komprehensif dan efektif. Dalam rangka menerapkan Manajemen Risiko Terintegrasi, Konglomerasi Keuangan memiliki struktur yang terdiri dari Entitas Utama dan perusahaan anak dan/atau perusahaan terelasi beserta perusahaan anaknya.

Ͳ Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi mencakup paling sedikit: a. Pengawasan Direksi dan Dewan Komisaris Entitas Utama;

b. Kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit Manajemen Risiko Terintegrasi; c. Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, pengendalian risiko secara

terintegrasi, dan sistem informasi Manajemen Risiko Terintegrasi; dan

d. Sistem pengendalian internal yang menyeluruh terhadap penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi.

Ͳ Entitas utama wajib membentuk Komite Manajemen Risiko Terintegrasi dan Satuan Kerja Manajemen Risiko Terintegrasi dan menyusun laporan profil risiko terintegrasi setiap semester untuk posisi akhir bulan Juni dan Desember. Laporan tersebut disampaikan kepada OJK paling lambat pada tanggal 15 (lima belas) bulan kedua setelah berakhirnya bulan laporan yang bersangkutan.

Ͳ Kewajiban penyampaian laporan profil risiko terintegrasi pertama kali dilakukan untuk posisi laporan sebagai berikut :

a. Juni 2015, untuk Entitas Utama yang merupakan Bank Umum Berdasarkan Kegiatan Usaha (“BUKU”) 4;

491

491

x POJK No. 18/POJK.03/2014 tanggal 18 Nopember 2014 tentang Penerapan Tata Kelola Terintegrasi Bagi Konglomerasi Keuangan.

Ͳ Entitas Utama wajib menerapkan Tata Kelola Terintegrasi. Penerapan tersebut paling sedikit mencakup persyaratan Direksi Entitas Utama dan Dewan Komisaris Entitas Utama, tugas dan tanggung jawab Direksi Entitas Utama dan Dewan Komisaris Entitas Utama, tugas dan tanggung jawab Komite Tata Kelola Terintegrasi, tugas dan tanggung jawab satuan kerja kepatuhan terintegrasi, tugas dan tanggung jawab satuan kerja audit internal terintegrasi, penerapan manajemen risiko terintegrasi, dan penyusunan dan pelaksanaan Pedoman Tata Kelola Terintegrasi. Direksi Entitas Utama wajib memastikan penerapan Tata Kelola Terintegrasi dalam Konglomerasi Keuangan.

Ͳ Entitas Utama wajib menyampaikan laporan mengenai LJK yang menjadi Entitas Utama dan LJK yang menjadi anggota Konglomerasi Keuangan kepada OJK. Laporan tersebut disampaikan paling lambat 20 (dua puluh) hari kerja sejak terjadinya Konglomerasi Keuangan baru disertai penunjukkan Entitas Utama, perubahan Entitas Utama, perubahan anggota Konglomerasi Keuangan dan/atau pembubaran Konglomerasi Keuangan.

Ͳ Laporan mengenai LJK yang menjadi Entitas Utama dan LJK yang menjadi anggota Konglomerasi Keuangan disampaikan pertama kali paling lambat 31 Maret 2015.

x POJK No. 21/POJK.03/2014 tanggal 18 Nopember 2014 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum Syariah.

Ͳ Bank wajib menyediakan modal minimum sesuai profil risiko. Penyediaan modal minimum tersebut dihitung dengan menggunakan rasio KPMM. Penyediaan modal minimum ditetapkan paling rendah sebagai berikut:

a. 8% (delapan perseratus) dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 1 (satu); b. 9% (sembilan perseratus) sampai dengan kurang dari 10% (sepuluh perseratus) dari

ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 2 (dua);

c. 10% (sepuluh perseratus) sampai dengan kurang dari 11% (sebelas perseratus) dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 3 (tiga); atau

d. 11% (sebelas perseratus) sampai dengan 14% (empat belas perseratus) dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 4 (empat) atau peringkat 5 (lima).

Ͳ OJK berwenang menetapkan modal minimum lebih besar dari modal minimum sebagaimana yang disebutkan di atas, dalam hal OJK menilai Bank menghadapi potensi kerugian yang membutuhkan modal lebih besar. Perhitungan penyediaan modal minimum sesuai profil risiko sebagaimana yang disebutkan di atas untuk pertama kali menggunakan peringkat profil risiko posisi Desember 2014.

Ͳ POJK ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2015.

x POJK No. 30/POJK.05/2014 tanggal 19 Nopember 2014 tentang Tata Kelola yang Baik Bagi Perusahaan Pembiayaan.

Ͳ Perusahaan pembiayaan harus mengikuti prinsip-prinsip dasar tata kelola perusahaan yang baik, termasuk transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan fairness. Sebuah pedoman dan prosedur operasi standar harus dibuat untuk melaksanakan prinsip-prinsip ini. Selain itu, pihak-pihak utama perusahaan pembiayaan, yaitu, pemegang saham pengendali, direksi, komisaris, tenaga kerja asing, dan dewan pengawas syariah (jika ada) diwajibkan untuk menyelesaikan fit and proper test yang diselenggarakan oleh OJK sebelum menduduki posisinya.

492

492

x POJK No. 30/POJK.05/2014 tanggal 19 Nopember 2014 tentang Tata Kelola yang Baik Bagi Perusahaan Pembiayaan (lanjutan).

Ͳ Sebuah perusahaan pembiayaan yang memiliki aset lebih dari Rp 200 miliar setidaknya harus memiliki 3 (tiga) Direksi, 2 (dua) Komisaris, 1 (satu) Komisaris Independen, Komite Audit, dan fungsi yang membantu Komisaris dalam memantau dan memastikan efektivitas sistem pengendalian internal dan pelaksanaan tugas auditor internal dan eksternal. Untuk perusahaan pembiayaan yang memiliki aset kurang dari Rp 200 miliar, perusahaan pembiayaan setidaknya memiliki 2 (dua) Direktur.

Ͳ POJK ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2015.

Bank dan Entitas Anak masih dalam proses menganalisis dampak yang akan ditimbulkan dari penerapan ketentuan-ketentuan ini.

493

493

31 DESEMBER 2014 DAN 2013

(Dalam jutaan Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

Informasi keuangan tambahan PT Bank Central Asia Tbk (entitas induk saja) berikut ini, dimana tidak termasuk saldo dari Entitas Anak, telah disusun dan disajikan sesuai dengan kebijakan akuntansi yang konsisten dengan yang diterapkan pada laporan keuangan konsolidasian Bank dan Entitas Anak, kecuali untuk investasi pada Entitas Anak, yang disajikan sebesar harga perolehan.

31 Desember

2014 2013

ASET

Kas 19.564.217) 16.273.604)

Giro pada Bank Indonesia 38.767.135) 35.187.679)

Giro pada bank-bank lain 4.566.349) 3.430.762)

Penempatan pada Bank Indonesia dan bank-bank lain 9.806.171) 11.298.869) Aset keuangan untuk diperdagangkan 1.669.705) 1.035.791) Tagihan akseptasi - setelah dikurangi cadangan kerugian

penurunan nilai sebesar Rp 396.343 dan Rp 89.740 pada

tanggal 31 Desember 2014 dan 2013 7.569.364) 6.434.376)

Wesel tagih - setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 1.286 dan Rp 580 pada tanggal 31 Desember 2014

dan 2013 3.226.980) 2.632.832)

Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali 26.289.663) 41.056.171) Kredit yang diberikan - setelah dikurangi cadangan kerugian

penurunan nilai sebesar Rp 6.703.233 dan Rp 5.610.545 pada

tanggal 31 Desember 2014 dan 2013 )

Pihak berelasi 1.027.340) 674.447)

Pihak ketiga 339.231.697) 306.095.154)

Efek-efek untuk tujuan investasi - setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 674.229 dan

Rp 660.328 pada tanggal 31 Desember 2014 dan 2013 71.512.942) 47.829.262) Aset tetap - setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar

Rp 5.759.794 dan Rp 4.882.884 pada tanggal 31 Desember

2014 dan 2013 8.648.481) 7.365.886)

Aset pajak tangguhan - bersih 1.876.844) 1.721.031)

Penyertaan saham – setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 17.948 dan Rp 13.265 pada

tanggal 31 Desember 2014 dan 2013 1.702.476) 1.238.849)

Aset lain-lain - setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 1.929 dan Rp 158 pada tanggal 31 Desember

2014 dan 2013 6.525.059) 6.223.529)

494

494

31 DESEMBER 2014 DAN 2013

(Dalam jutaan Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

Informasi keuangan tambahan PT Bank Central Asia Tbk (entitas induk saja) berikut ini, dimana tidak termasuk saldo dari Entitas Anak, telah disusun dan disajikan sesuai dengan kebijakan akuntansi yang konsisten dengan yang diterapkan pada laporan keuangan konsolidasian Bank dan Entitas Anak, kecuali untuk investasi pada Entitas Anak, yang disajikan sebesar harga perolehan.

31 Desember 2014 2013

Dalam dokumen PT BANK CENTRAL ASIA Tbk DAN ENTITAS ANAK (Halaman 137-144)