• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN-PERATURAN BARU YANG TELAH DITERBITKAN

KEUANGAN - BERSIH

44. PERATURAN-PERATURAN BARU YANG TELAH DITERBITKAN

Terdapat peraturan-peraturan baru yang telah terbit dan dapat memberikan pengaruh terhadap kegiatan usaha Bank dan Entitas Anak:

x PBI No. 15/12/PBI/2013 tanggal 12 Desember 2013 mengenai Kewajiban Penyediaan Modal

Minimum Bank Umum.

Bank Indonesia mewajibkan bank-bank untuk memenuhi penyediaan modal minimum dengan persentase minimal yang diwajibkan secara bertahap sebagai berikut:

2014

Ͳ Rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,50% dari ATMR baik secara individual

maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio modal inti paling rendah sebesar 6,00% dari ATMR baik secara individual maupun

secara konsolidasi.

Ͳ Pemenuhan rasio modal inti utama dan rasio modal inti masih menggunakan komponen yang

mengacu pada PBI No. 14/18/PBI/2012 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.

x PBI No. 15/12/PBI/2013 tanggal 12 Desember 2013 mengenai Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum (lanjutan).

2015

Ͳ Rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,50% dari ATMR baik secara individual

maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio modal inti paling rendah sebesar 6,00% dari ATMR baik secara individual maupun

secara konsolidasi.

Ͳ Pemenuhan rasio modal inti utama dan rasio modal inti menggunakan komponen yang

mengacu pada PBI No. 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.

2016

Ͳ Rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,50% dari ATMR baik secara individual

maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio modal inti paling rendah sebesar 6,00% dari ATMR baik secara individual maupun

secara konsolidasi.

Ͳ Rasio Capital Conservation Buffer sebesar 0,625% dari ATMR.

Ͳ Rasio Countercyclical Buffer ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam kisaran 0% - 2,50% dari

ATMR*).

Ͳ Rasio Capital Surcharge untuk Domestic Systematically Important Bank (“D-SIB”)

ditetapkan oleh otoritas yang berwenang dalam kisaran 1% - 2,50% dari ATMR bagi bank

yang ditetapkan berdampak sistemik**).

2017

Ͳ Rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,50% dari ATMR baik secara individual

maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio modal inti paling rendah sebesar 6,00% dari ATMR baik secara individual maupun

secara konsolidasi.

Ͳ Rasio Capital Conservation Buffer sebesar 1,25% dari ATMR.

Ͳ Rasio Countercyclical Buffer ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam kisaran 0% - 2,50% dari

ATMR*).

Ͳ Rasio Capital Surcharge untuk D-SIB ditetapkan oleh otoritas yang berwenang dalam kisaran

1% - 2,50% dari ATMR bagi bank yang ditetapkan berdampak sistemik**).

2018

Ͳ Rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,50% dari ATMR baik secara individual

maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio modal inti paling rendah sebesar 6,00% dari ATMR baik secara individual maupun

secara konsolidasi.

Ͳ Rasio Capital Conservation Buffer sebesar 1,875% dari ATMR.

Ͳ Rasio Countercyclical Buffer ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam kisaran 0% - 2,50% dari

ATMR*).

Ͳ Rasio Capital Surcharge untuk D-SIB ditetapkan oleh otoritas yang berwenang dalam kisaran

1% - 2,50% dari ATMR bagi bank yang ditetapkan berdampak sistemik**).

*) Berdasarkan perkembangan kondisi makroekonomi Indonesia dan penilaian Bank Indonesia terhadap kondisi tersebut, Bank Indonesia dapat menetapkan:

1. besarnya kisaran persentase Countercyclical Buffer yang berbeda dari kisaran 0% - 2,5%; 2. pemberlakuan Countercyclical Buffer lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

x PBI No. 15/12/PBI/2013 tanggal 12 Desember 2013 mengenai Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum (lanjutan).

2019

Ͳ Rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,50% dari ATMR baik secara individual

maupun secara konsolidasi.

Ͳ Rasio modal inti paling rendah sebesar 6,00% dari ATMR baik secara individual maupun

secara konsolidasi.

Ͳ Rasio Capital Conservation Buffer sebesar 2,50% dari ATMR.

Ͳ Rasio Countercyclical Buffer ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam kisaran 0% - 2,50% dari

ATMR*).

Ͳ Rasio Capital Surcharge untuk Domestic Systematically Important Bank (D-SIB) ditetapkan

oleh otoritas yang berwenang dalam kisaran 1% - 2,50% dari ATMR bagi bank yang

ditetapkan berdampak sistemik**).

Penyediaan modal minimum di atas adalah sesuai dengan profil risiko, yaitu ditetapkan paling rendah sebagai berikut:

Ͳ 8% dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 1 (satu).

Ͳ 9% sampai dengan kurang dari 10% dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 2

(dua).

Ͳ 10% sampai dengan kurang dari 11% dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 3

(tiga).

Ͳ 11% - 14% dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 4 (empat) atau peringkat 5

(lima).

*) Berdasarkan perkembangan kondisi makroekonomi Indonesia dan penilaian Bank Indonesia terhadap kondisi tersebut, Bank Indonesia dapat menetapkan:

1. besarnya kisaran persentase Countercyclical Buffer yang berbeda dari kisaran 0% - 2,5%; 2. pemberlakuan Countercyclical Buffer lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

**) Otoritas yang berwenang dapat menetapkan persentase Capital Surcharge untuk D-SIB yang lebih besar dari kisaran 1% - 2,5%.

x PBI No. 18/3/PBI/2016 tanggal 10 Maret 2016 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Bank

Indonesia Nomor 15/15/PBI/2013 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum Dalam Rupiah Dan Valuta Asing Bagi Bank Umum Konvensional.

Bank Indonesia menurunkan rasio kewajiban GWM dalam Rupiah dari 7,5% menjadi 6,5%. Penurunan rasio kewajiban GWM tersebut atas bagian giro yang remunerated. Oleh karena itu, bagian saldo rekening giro Rupiah yang mendapat jasa giro ditetapkan sebesar 1,5% dari dana pihak ketiga dalam Rupiah.

x PBI No. 18/14/PBI/2016 tanggal 18 Agustus 2016 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan

Bank Indonesia Nomor 15/15/PBI/2013 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing Bagi Bank Umum Konvensional.

x PBI No. 18/16/PBI/2016 tanggal 26 Agustus 2016 tentang Rasio Loan to Value untuk Kredit Properti, Rasio Financing to Value untuk Pembiayaan Properti, dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor.

Bank Indonesia menetapkan Rasio Loan to Value (“LTV”) untuk Kredit Properti (“KP”) apabila rasio kredit bermasalah dari total kredit secara bersih (net) dan rasio KP bermasalah dari total KP secara bruto (gross) < 5% sebagai berikut:

Tipe Properti (m2) Fasilitas Kredit Properti dan Pembiayaan Properti I II III

Rumah Tapak Tipe > 70 m2 85% 80% 75% Tipe 22 - 70 m2 - 85% 80% Tipe ” 21 m2 - - - Rumah Susun Tipe > 70 m2 85% 80% 75% Tipe 22 - 70 m2 90% 85% 80% Tipe ” 21 m2 - 85% 80% Ruko/Rukan - 85% 80%

Selain itu, Bank Indonesia juga menetapkan beberapa hal sebagai berikut:

Ͳ Perhitungan rasio kredit bermasalah (non-performing loan - NPL) dari total kredit dilakukan

dengan membagi hasil penjumlahan kredit yang dikategorikan sebagai kurang lancar, diragukan, dan macet kepada pihak ketiga bukan bank setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai kredit bermasalah terhadap total kredit kepada pihak ketiga bukan bank setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai kredit bermasalah.

Ͳ Kredit tambahan (top up) oleh bank, baik kepada nasabah bank yang bersangkutan maupun

dari pengambilalihan, dapat menggunakan rasio LTV yang sama dengan saat pemberian KP, sepanjang kualitas kreditnya lancar.

Ͳ KP untuk pemilikan properti yang belum tersedia secara utuh/inden diperbolehkan sampai

dengan urutan fasilitas kedua dengan pencairan bertahap.

x POJK No. 32/POJK.03/2016 tanggal 8 Agustus 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Otoritas

Jasa Keuangan No. 6/POJK.03/2015 tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank.

POJK ini antara lain mewajibkan bank menambahkan informasi kuantitatif eksposur risiko pada Laporan Publikasi Triwulanan posisi akhir bulan Juni, mengungkapkan permodalan sesuai kerangka Basel pada Laporan Publikasi Triwulanan untuk Bank BUKU 3 dan BUKU 4, menyusun dan mempublikasikan laporan rasio kecukupan likuiditas (Liquidity Coverage Ratio/LCR), mengungkapkan LCR pada Laporan Publikasi Triwulanan, dan mengumumkan dalam situs web Bank secara triwulanan, dalam hal terdapat perubahan informasi yang cenderung bersifat cepat (prone to rapid change) atas pengungkapan eksposur risiko dan hal terkait lainnya yang telah dipublikasikan pada Laporan Publikasi Tahunan.

x POJK No. 38/POJK.03/2016 tanggal 1 Desember 2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko dalam Penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank Umum

Peraturan ini mengatur hal-hal sebagai berikut:

Ͳ Tambahan tanggung jawab Direksi dan Komite Pengarah Teknologi Informasi.

Ͳ Penyelenggaraan teknologi informasi dapat dilakukan oleh bank sendiri dan/atau pihak

penyedia jasa Teknologi Informasi.

Ͳ Bank wajib menempatkan sistem elektronik pada pusat data dan pusat pemulihan bencana di

wilayah Indonesia. Penempatan di luar wilayah Indonesia wajib mendapat persetujuan OJK terlebih dahulu.

Ͳ Bank dapat memberikan penyediaan jasa teknologi informasi berupa penyelenggaraan pusat

data dan/atau pusat pemulihan bencana kepada lembaga jasa keuangan lain yang diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan dan/atau di luar wilayah Indonesia.

Ͳ Bank wajib menyampaikan laporan rencana pengembangan teknologi informasi yang akan

(Dalam jutaan Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

Informasi keuangan tambahan PT Bank Central Asia Tbk (entitas induk saja) berikut ini, dimana tidak termasuk saldo dari Entitas Anak, telah disusun dan disajikan sesuai dengan kebijakan akuntansi yang konsisten dengan yang diterapkan pada laporan keuangan konsolidasian Bank dan Entitas Anak, kecuali untuk investasi pada Entitas Anak, yang disajikan sebesar harga perolehan.

31 Desember

2016 2015

ASET

Kas 15.925.338 17.833.851

Giro pada Bank Indonesia 40.401.814 37.624.875

Giro pada bank-bank lain 12.372.442 8.362.474

Penempatan pada Bank Indonesia dan bank-bank lain 33.877.454 54.218.932

Aset keuangan untuk diperdagangkan 5.124.193 1.777.924

Tagihan akseptasi - setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 178.528 pada tanggal

31 Desember 2016 (31 Desember 2015: Rp 433.339) 7.167.392 7.367.389

Wesel tagih - setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 3.019 pada tanggal 31 Desember 2016

(31 Desember 2015: Rp 858) 3.759.809 2.498.940

Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali 2.196.231 515.099

Kredit yang diberikan - setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 12.504.607 pada tanggal 31 Desember 2016 (31 Desember 2015: Rp 9.025.674)

Pihak berelasi 3.481.625 1.537.717

Pihak ketiga 400.292.704 377.444.335

Efek-efek untuk tujuan investasi - setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 741.066 pada tanggal

31 Desember 2016 (31 Desember 2015: Rp 730.645) 107.489.692 50.490.598

Aset tetap - setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp 8.070.163 pada tanggal 31 Desember 2016 (31 Desember

2015: Rp 6.895.790) 16.666.747 9.409.581

Aset pajak tangguhan - bersih 3.349.886 3.077.393

Penyertaan saham - setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 23.335 pada tanggal 31 Desember

2016 (31 Desember 2015: Rp 23.229) 2.249.825 2.239.289

Aset lain-lain - setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 4.937 pada tanggal 31 Desember 2016

(31 Desember 2015: Rp 654) 8.239.434 7.843.178

dari Entitas Anak, telah disusun dan disajikan sesuai dengan kebijakan akuntansi yang konsisten dengan yang diterapkan pada laporan keuangan konsolidasian Bank dan Entitas Anak, kecuali untuk investasi pada Entitas Anak, yang disajikan sebesar harga perolehan.

31 Desember

2016 2015

Dokumen terkait