• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG ELECTRONIC BANKING

D. Peraturan yang Mengatur tentang Electronic Banking

Sebagaimana diketahui, penggunaan internet dalam aktivitas perbankan antara lain sebagai sarana mempermudah transfer, enquiries, informasi produk, sarana komunikasi serta sarana iklan, dan lain sebagainya, di mana semua transaksi melalui internet yang dilakukan oleh nasabah perbankan semata-mata berdasarkan hukum perjanjian yang konvensional dan belum didukung adanya hukum publik yang representatif.

Sekalipun berbagai transaksi melalui sarana internet belum didukung oleh ketentuan perundang-undangan yang memadai. Tetapi transaksi melalui internet merupakan salah satu bentuk transaksi yang sudah umum digunakan oleh masyarakat, sehingga secara nonformal atau secara kebiasaan, hukum internet telah diterima sebagai bagian dari hukum kebiasaan dengan segala keterbatasan dan kelemahannya.

Bank Indonesia melakukan antisipasi dengan memberlakukan Surat Keputusan (SK) Direksi Nomor 27/164/KEP/DIR pada tanggal 31 Maret 1995 tentang Penggunaan Teknologi Sistem Informasi oleh Bank.46 Surat Keputusan tersebut memuat mengenai kewajiban melapor oleh bank kepada bank Indonesia

46

apabila bank yang bersangkutan memanfaatkan atau mengembangkan teknologi informasi.

Namun demikian, peraturan mengenai internet bankingbaru diterbitkan pada tanggal 20 April 2004 berupa Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/18/DPNP perihal Manajemen Risiko pada Aktivitas Pelayanan Jasa Bank Melalui Internet (Internet Banking). Surat Edaran tersebut diterbitkan sehubungan dengan semakin berkembangnya pelayanan jasa perbankan melalui internet bankingdan sebagai pelaksana lebih lanjut dari Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/PBI/2003 tanggal 19 Mei 2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum (Lembaran Negara Nomor 4292).47

Kemudian, Bank Indonesia sebagai lembaga pengawas kegiatan perbankan di Indonesia mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/15/PBI/2007 tentang Penerapan Manajemen Resiko Dalam Penggunaan Teknologi Informasi Pada Bank Umum agar setiap bank yang menggunakan teknologi informasi khususnya internet bankingdapat meminimalisir risiko-risiko yang timbul sehubungan dengan kegiatan tersebut sehingga mendapatkan manfaat yang maksimal dari internet banking. Dengan diberlakukannya peraturan baru ini, maka Surat Keputusan (SK) Direksi Nomor 27/164/KEP/DIR pada tanggal 31 Maret 1995 tentang Penggunaan Teknologi Sistem Informasi oleh Bank dan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/18/DPNP perihal Manajemen Risiko pada

47

Aktivitas Pelayanan Jasa Bank Melalui Internet (Internet Banking) dinyatakan tidak berlaku lagi bagi umum.48

Dalam pasal 24 Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/15/PBI/2007 tentang Penerapan Manajemen Resiko Dalam Penggunaan Teknologi Informasi Pada Bank Umum disebutkan bahwa Bank wajib menyampaikan kembali Laporan Penggunaan Teknologi Informasi paling lambat 6 (enam) bulan sejak berlakunya Peraturan Bank Indonesia dan menyampaikan Laporan Tahunan Penggunaan Teknologi Informasi paling lambat 1 (satu) bulan sejak akhir tahun pelaporan.

Dalam pasal 30 disebutkan mengenai sanksi yang diberikan kepada Bank yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia yaitu berupa:

a. teguran tertulis;

b. penurunan tingkat kesehatan berupa penurunan peringkat faktor manajemen dalam penilaian tingkat kesehatan;

c. pembekuan kegiatan usaha tertentu;

d. pencantuman anggota pengurus dalam daftar tidak lulus melalui mekanisme uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test).

Dan dalam pasal 31 disebutkan, apabila bank tidak memenuhi ketentuan pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4), Pasal 23 ayat (2) dan ayat (7), Pasal 24 dan Pasal 25 Peraturan Bank Indonesia ini dikenakan sanksi berupa:

48

a. kewajiban membayar sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) per hari keterlambatan per laporan;

b. kewajiban membayar sebesar Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) per laporan, bagi Bank yang belum menyampaikan laporan setelah 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampaian laporan.

Bank yang menyampaikan laporan yang tidak sesuai dengan kondisi Bank yang sebenarnya dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) setelah Bank diberikan 2 (dua) kali surat teguran oleh Bank Indonesia dengan tenggang waktu 7 (tujuh) hari kerja untuk setiap teguran dan Bank tidak memperbaiki laporan dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah surat teguran terakhir. (pasal 32 Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/15/PBI/2007)

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juga berkaitan dengan electronic banking karena transaksi yang dilakukan secara elektronik pada dasarnya adalah perikatan ataupun hubungan hukum yang dilakukan secara elektronik dengan memadukan jaringan sistem elektronik berbasiskan komputer dengan sistem komunikasi, yang selanjutnya difasilitasi oleh keberadaan jaringan komputer global atau internet (pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik).

Undang-Undang lain yang juga berkaitan dengan pembuktian data elektronik adalah Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang

Telekomunikasi dan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi.49

Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 disebutkan bahwa tujuan dari telekomunikasi adalah untuk mendukung persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata, mendukung kehidupan ekonomi dan kegiatan pemerintahan, serta meningkatkan hubungan antarbangsa.

49

BAB IV

PERLINDUNGAN HUKUM YANG DIBERIKAN OLEH BANK KEPADA NASABAH

A. Bentuk Perlindungan Hukum dan Tanggung Jawab yang Diberikan oleh Bank BNI 46 kepada Nasabah

Nasabah bank adalah konsumen jasa perbankan, artinya nasabah bank adalah pihak yang menggunakan produk pelayanan jasa perbankan. Konsumen secara harfiah dapat dimaknai sebagai seseorang yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa, atau seseorang atau perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu.50

Menurut pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/ atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Berdasarkan pasal tersebut, maka nasabah bank juga merupakan konsumen.

Dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dalam Pasal 1 angka 16 disebutkan nasabah adalah pihak yang menggunakan jasa bank.

Berdasarkan Pasal 1 angka 17 dan angka 18 Undang-undang tersebut menyatakan bahwa terdapat dua jenis nasabah, yaitu:

50

1. Nasabah penyimpan adalah nasabah yang menempatkan dananya di bank dalam bentuk simpanan berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan.

2. Nasabah debitur adalah nasabah yang memperoleh fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan.

Dari praktek-praktek perbankan, setidaknya dikenal tiga macam nasabah51:

1. Nasabah deposan, yaitu nasabah yang menyimpan dananya pada suatu bank, misalnya dalam bentuk deposito dan tabungan lain.

2. Nasabah yang memanfaaatkan fasilitas kredit perbankan, misalnya kredit usaha kecil, kredit kepemilikan rumah, dan sebagainya,

Nasabah yang melakukan transaksi dengan pihak lain melalui bank, misalnya antara importer sebagai pembeli dan eksportir di luar negeri untuk transaksi semacam ini biasanya importit membuka letter of credit (L/C) pada suatu bank demi kelancaran dan keamanan pembayar.

Lembaga perbankan adalah lembaga yang mengandalkan kepercayaan masyarakat. Dengan demikian, guna mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap bank, pemerintah haruslah melindungi masyarakat dari tindakan lembaga maupun pegawai bank yang tidak bertanggung jawab. Apabila kepercayaan masyarakat terhadap bank menurun, maka hal tersebut dapat menjadi bencana bagi ekonomi negara yang akan sulit untuk dipulihkan kembali.

51

Dikutip dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26345/3/Chapter%20II.pdf , diakses tanggal 27 Februari 2012, pukul 21.00 WIB.

Dalam rangka melindungi konsumen secara umum, saat ini telah diatur melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Undang-Undang ini dimaksudkan menjadi landasan hukum yang kuat baik bagi pemerintah maupun masyarakat.

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen memberikan konsekuensi logis terhadap pelayanan jasa perbankan. Dalam pasal 7 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 disebutkan kewajiban dari pelaku usaha adalah sebagai berikut:

a. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;

b. memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/ atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;

c. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

d. menjamin mutu barang dan/ atau jasa yang diproduksi dan/ atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/ atau jasa yang berlaku;

e. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/ atau mencoba barang dan/ atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/ atau garansi atas barang yang dibuat dan/ atau yang diperdagangkan;

f. memberi kompensasi, ganti rugi dan/ atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/ atau jasa yang diperdagangkan;

g. memberi kompensasi, ganti rugi dan/ atau penggantian apabila barang dan/ atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Bahwa berdasarkan Peraturan Perbankan Indonesia hukum memberikan tempat nasabah untuk melindungi dirinya dengan cara:52

1. Perlindungan secara implisit (implicit deposit protection), yakni perlindungan yang diperoleh melalui:

a. Peraturan perundang-undangan di bidang perbankan (Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 dan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan);

b. Perlindungan yang dihasilkan oleh pengawasan dan pembinaan yang efektif yang dilakukan oleh Bank lndonesia;

c. Upaya menjaga kelangsungan usaha bank sebagai suatu lembaga pada khususnya dan perlindungan terhadap sistem perbankkan pada umumnya; d. Memelihara tingkat kesehatan bank;

e. Melakukan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian;

f. Cara pemberian kredit yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah;

g. Menyediakan informasi risiko pada nasabah.

2. Perlindungan secara eksplisit (explicit deposit protection), yaitu perlindungan yang diperoleh melalui pembentukan lembaga yang menjamin simpanan

52

Yahya Ahmad Zein, Perlindungan Hukum Hak-Hak Nasabah Bank, dikutip dari http://fh.borneo.ac.id/?p=44, diakses tanggal 27 Februari 2012, pukul 20.45 WIB.

masyarakat (sebagaimana yang diamanatkan pasal 37B (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998).

Beberapa mekanisme yang dipergunakan dalam rangka perlindungan nasabah bank adalah sebagai berikut53:

1. Pembuatan peraturan baru

Lewat pembuatan peraturan baru di bidang perbankan atau merevisi peraturan yang sudah ada merupakan salah satu cara untuk memberikan perlindungan kepada nasabah suatu bank. Banyak peraturan yang secara langsung maupun tidak langsung yang bertujuan melindungi nasabah. Akan tetapi lebih banyak lagi diperlukan seperti itu dari apa yang terdapat dewasa ini.

2. Pelaksanaan peraturan yang ada

Salah satu cara lain untuk memberikan perlindungan kepada nasabah adalah dengan melaksanakan peraturan yang ada di bidang perbankan secara lebih ketat oleh pihak otoritas moneter, khusunya peraturan yang bertujuan melindungi nasabah sehingga dapat dijamin law enforcement yang baik. Peraturan perbankan tersebut harus ditegakkan secara objektif tanpa melihat siapa direktur, komisaris atau pemegang saham dari bank yang bersangkutan. 3. Perlindungan nasabah deposan lewat lembaga asuransi deposito

Perlindungan nasabah, khususnya nasabah deposan melalui lembaga asuransi deposito yang adil dan predictable ternyata dapat juga membawa hasil yang positif.

53

4. Memperketat perizinan bank

Memperketat pemberian izin untuk suatu pendirian bank baru adalah salah satu cara agar bank tersebut kuat dan kualified sehingga dapat memberikan keamanan bagi nasabahnya.

5. Memperketat pengaturan di bidang kegiatan bank

Ketentuan-ketentuan yang menyangkut dengan kegiatan bank banyak juga yang bertujuan secara langsung atau tidak langsung bertujuan untuk melindungi pihak nasabah.

6. Memperketat pengawasan bank

Dalam rangka meminimalkan risiko yang ada dalam bisnis bank, maka pihak otoritas, khususnya Bank Indonesia (juga dalam hal tertentu Menteri Keuangan) harus melakukan tindakan pengawasan dan pembinaan terhadap bank-bank yang ada, baik terhadap bank-bank pemerintah maupun terhadap bank swasta.

Peraturan perundang-undangan yang memberikan perlindungan terhadap nasabah adalah sebagai berikut:

1. Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan

Undang-Undang ini memberikan perlindungan kepada nasabah yang berkaitan dengan:

a. Hak preferen nasabah penyimpan dana

Hak preferen adalah suatu hak yang diberikan kepada seorang kreditor untuk didahulukan dari kreditur-kreditur lain, yang dalam hal ini

mempunyai arti bahwa nasabah penyimpan harus didahulukan dalam menerima pembayaran dari bank yang mengalami kegagalan dalam memenuhi kewajibannya.54

Pasal 29 ayat 4 menyebutkan “Untuk kepentingan nasabah, bank wajib menyediakan informasi mengenai kemungkinan timbulnya risiko kerugian sehubungan dengan transaksi nasabah yang dilakukan melalui bank. b. Lembaga asuransi deposito

Jaminan perlindungan bagi nasabah penyimpan dana mutlak diperlukan sehubungan dengan dihentikannya kegiatan usaha bank.

Pasal 37 B

(1) Setiap bank wajib menjamin dana masyarakat yang disimpan pada bank yang bersangkutan.

(2) Untuk menjamin simpanan masyarakat pada bank sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibentuk Lembaga Penjamin Simpanan.

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Mengenai kalusula baku yang banyak digunakan pelaku usaha yang bergerak di bidang jasa, termasuk bank. Ketentuannya terdapat pada pasal 18 ayai 1 sampai 3, yaitu:

Pasal 18

(1) Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/ atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/ atau perjanjian apabila:

54

a. menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha;

b. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen;

c. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen;

d. menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran;

e. mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen;

f. memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa;

g. menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan dan/ atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya;

h. menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.

(2) Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas, atau yang pengungkapannya sulit dimengerti.

(3) Setiap klausula baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dinyatakan batal demi hukum.

3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Mengenai tersedianya informasi yang lengkap, ketentuannya terdapat dalam pasal 9 yang menyebutkan “Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan.”

Beberapa peraturan lain mengenai perlindungan nasabah adalah sebagai berikut:55

1. Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/7/PBI/2005 tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah

2. Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/5/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang Mediasi Perbankan

Dalam memberikan produk simpanan maupun layanan jasa perbankan, Bank BNI berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi para nasabahnya, termasuk dalam hal perlindungan terhadap para nasabah.

55

Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia,Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006, hal. 343.

Perlindungan yang diberikan oleh BNI kepada nasabahnya adalah sebagai berikut:

1. Perlindungan terhadap nasabah dalam penggunaan fasilitas BNI Card

a. BNI Card dan nomor PIN diberikan oleh BNI kepada nasabahnya di kantor cabang BNI dimana nasabah tersebut mengisi formulis penggunaan BNI Card. BNI memberika BNI Card dan nomor PIN langsung kepada nasabah, hal ini dimaksudkan agar BNI Card berada pada tangan pemegang kartu dan nomor PIN-nya tidak dapat diketahui oleh orang lain selain pemegang BNI Card tersebut.

b. Pembuatan nomor PIN oleh BNI hasilnya dicetak dalam amplop khusus dimana pegawai BNI yang melayani nasabah tersebut tidak mengetahui nomor PIN tersebut dan diberikan kepada nasabah dalam kondisi masih tertutup sehingga kerahasiaan PIN tetap terjaga.

2. Perlindungan terhadap nasabah dalam penggunaan fasilitas ATM

a. Fasilitas ATM hanya dapat digunakan oleh nasabah yang mempunyai BNI Card dengan cara menggunakan BNI Card tersebut beserta nomor PIN yang diberikan oleh BNI,

b. BNI dapat melakukan pemblokiran BNI Card atas permintaan nasabah pemegang BNI Cardsehingga melindungi nasabah dari pengambilan dana yang tidak diinginkan pada ATM.

c. BNI Card yang dinyatakan hilang atau dicuri oleh nasabah akan dibatalkan aksesnya di ATM oleh BNI setelah menerima pemberitahuan dari nasabah.

d. BNI menempatkan ATM pada suatu ruangan khusus yang dilengkapi dengan kamera dengan maksud memberikan perlindungan kepada nasabah dalam melakukan transaksi di mesin ATM sehingga nasabah akan merasa nyaman dan aman.

3. Perlindungan terhadap nasabah dalam penggunaan fasilitas SMS Banking a. Nasabah harus melakukan registrasi atau pendaftaran BNI SMS Banking

secara langsung dan tidak dapat diwakilkan kepada pihak lain dh alasan apapun serta harus mendaftarkan nomor telepon selular/ handphone milik pribadi dan dilarang untuk meregister atau mendaftarkan nomor telepon selular/ handphone milik orang lain untuk layanan ini. Hal ini bertujuan agar kerahasiaan data-data pribadi nasabah yang menggunakan fasilitas ini tetap terjaga dan tidak diketahui oleh orang lain.

b. Setiap perintah yang telah disetujui oleh nasabah pengguna yang tersimpan pada pusat data bank merupakan data yang benar yang diterima sebagai bukti perintah nasabah pengguna kepada bank untuk melaksanakan transaksi finansial yang diinginkan. Sebagai bukti bahwa transaksi finansial yang diperintahkan oleh nasabah pengguna telah berhasil dilakukan oleh bank, nasabah pengguna akan mendapatkan notofikasi sukses berupa nomor referensi transaksi finansial yang dikirim ke nomor nomor telepon selular/ handphonenasabah.

c. Nasabah pengguna fasilitas BNI SMS Banking diberi kebebasan untuk membuat PIN-nya sendiri dan dapat melakukan perubahan PIN melalui

nomor telepon selular/ handphone apabila ada kecurigaan PIN tersebut diketahui oleh orang lain.

4. Perlindungan terhadap nasabah dalam penggunaan fasilitas Mobile Banking a. PIN yang digunakan untuk mengakses layanan BNI Mobile Banking

adalah PIN yang ditentukan sendiri oleh user BNI Mobile Banking pada saat melakukan registrasi melalui BNI ATM. Hal ini dimaksudkan agar nasabah terhindar dari kerugian.

b. Nasabah pengguna BNI Mobile Bankingdiberi kebebasan untuk membuat PIN-nya sendiri dan dapat melakukan perubahan PIN melalui nomor telepon selular/ handphone apabila ada kecurigaan PIN tersebut diketahui oleh orang lain.

5. Perlindungan terhadap nasabah dalam penggunaan fasilitas Internet Banking a. Nasabah membuat sendiri user ID dan password BNI Internet Banking

yang berupa alpha numeric, sehingga tidak ada duplikasi dan hanya nasabah yang mengetahuinya. Setiap kali login, nasabah hanya diperkenankan mengulang password BNI Internet Banking yang salah sebanyak tiga kali sebelum akses tersebut diblokir untuk mencegah penyalahgunaan yang tidak bertanggung jawab.

b. Menggunakan sistem kemanan standard internasional dengan enkripsi SSL 128 bit oleh Verisign yang akan mengacak data transaksi yang dilakukan pengguna. SSL 128 bit (Secure Socket Layer) adalah lapisan pertama sistem pengamanan BNI Internet Banking yang lazim digunakan dalam dunia perbankan. Dengan menggunakan SSL ini, semua data yang dikirim

dari server BNI Internet Banking ke komputer nasabah dan sebaliknya selalu melalui proses enkripsi (acak secara sistem) dengan menggunakan sandu 128-bit yang hanya diketahui oleh komputer nasabah dan server BNI Internet Banking. Dengan demikian, pihak-pihak lain tidak akan dapat mengartikan transmisi data tersebut apabila menerimanya.

c. Pengamanan pintu akses BNI Internet banking dengan menggunakan firewall.

d. Setiap transaksi finansial menggunakan alat pengaman tambahan yang disebut BNI e-Secure dimana setiap transaksi akan diberikan nomor referensi yang digunakan apabila ada pertanyaan atau terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan transaksi tersebut. BNI e-Secure berfungsi menghasilkan PIN yang selalu berganti (Dynamic PIN) setiap kali nasabah melakukan transaksi finansial. PIN dibuat setiap kali mengaktifkan BNI e-Secure dan akan otomatis mati apabila tidak digunakan dalam 45 detik untuk mencegah penyalahgunaan yang tidak berwenang.

Bentuk tanggung jawab BNI 46 terhadap nasabah yang kehilangan dana simpanannya adalah setelah menerima laporan tersebut BNI akan melakukan identifikasi dan verifikasi apakah memang terjadi pengurangan saldo pada rekening tersebut dengan cara yang tidak wajar. Jika hal tersebut terbukti bukan disebabkan oleh faktor kelalaian nasabah dan disebabkan oleh faktor-faktor yang berada di luar nasabah itu sendiri, maka BNI akan mengganti dana nasabah yang

hilang tersebut setelah adanya hasil verifikasi dalam waktu 2x24 jam setelah hasil verifikasi tersebut keluar.

B. Alternatif Penyelesaian Sengketa yang Dilakukan oleh Bank BNI 46 Apabila Timbul Permasalahan dalam Penggunaan Electronic Banking

Setiap pelaksanaan transaksi bisnis maupun hubungan hukum antara nasabah penyimpan dengan bank berpotensi menyebabkan terjadinya perselisihan atau konflik. Konflik ini dapat berubah menjadi sengketa bilamamana pihak yang merasa dirugikan telah menyatakan rasa tidak puas, baik secara langsung kepada pihak yang dianggap sebagai penyebab kerugian atau kepada pihak lain.56Konflik tersebut dapat diawali dengan adanya complain dari nasabah yang tidak ditanggapi oleh bank.

Sebagai bank yang telah dipercayai oleh masyarakat, Bank BNI 46 selalu berusaha mendengar dan menyelesaikan komplain yang dialami oleh nasabahnya.

Komplain layanan BNI Internet Banking dari pengguna dapat disampaikan ke kantor cabang atau BNI Call. Cabang dan Divisi Operasional membuat registrasi penyelesaian komplain, serta progress report pending komplain untuk dipantau penyelesiannya dan dilaporkan secara periodic ke Divisi Layanan.

Komplain bersifat non finansial diselesaikan oleh Customer Service

Dokumen terkait