Peradangan baik ringan maupun berat merupakan sumber infeksi penyakit – penyakit pada tubuh. Sebagaimana umumnya
dalam bidang kedokteran gigi, perawatan untuk peradangan gingiva harus menekankan penjagaan oral higiene. Pembuangan plak dan semua faktor retensinya harus diutamakan dan dituntaskan segera.15
Berikut perawatan yang dapat dilakukan pada peradangan gingiva yaitu :
1. Skeling dan Root Planing
Skeling adalah suatu proses membuang plak dan kalkulus dari permukaan gigi, baik supragingiva maupun subgingiva. Sedangkan root planing adalah proses membuang sisa – sisa kalkulus yang terpendam dan jaringan nekrotik pada sementum untuk menghasilkan permukaan akar gigi yang licin dan keras. Tujuan utama skeling dan root planing adalah untuk mengembalikan kesehatan gusi dengan cara membuang semua elemen yang menyebabkan radang gusi baik plak maupun kalkulus dari permukaan gigi.12
Prosedur skeling dan root planing perlu dilakukan dan banyak menggunakan waktu. Penelitian menunjukkan pada kondisi yang klinis terjadi peningkatan secara umum setelah root planing. Namun demikian, terdapat beberapa daerah yang tidak memberikan respon terhadap terapi ini. Faktor berikut dapat membatasi keberhasilan perawatan root planing
yaitu : anatomi akar gigi, furkasi, dan kedalaman
probing.25 Beberapa minggu setelah root planing, evaluasi ulang harus dilakukan untuk melihat respon perawatan.25
Instrumen skeling, root planning, dan kuretase digunakan untuk pembersihan plak dan deposit yang terkalsifikasi pada mahkota dan akar gigi, dan pembersihan jaringan lunak yang membentuk poket. Instrument skeling dan kuretase diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Skeler sickle merupakan instrumen berat yang digunakan untuk membersihkan kalkulus supragingiva.
b. Kuret merupakan instrumen yang digunakan untuk skeling subgingiva, root planning, dan pengangkatan jaringan lunak yang membentuk poket.
c. Skeler hoe, chisel, dan file digunakan untuk membersihkan kalkulus subgingiva yang keras, dan sementum yang mengalami perubahan. Instrumen ultrasonik dan sonik digunakan untuk skeling dan pembersihan permukaan gigi, dan kuretase dinding jaringan lunak pada poket periodontal.4 2. Penyikatan gigi
Dalam suatu penelitian mengenai kebiasaan menyikat gigi di Amerika menunjukkan hanya 60% masyarakat melakukannya dengan ketat. Hasil ini menunjukkan pentingnya motivasi dan penyuluhan tentang penjagaan kebersihan mulut. Selain itu kesempurnaan hasil penyikatan lebih penting daripada teknik penyikatannya.22
3. Flossing
Hasil penelitian di Amerika menunjukkan bahwa hanya 25% masyarakat terbiasa melakukannya. Flossing bermanfaat untuk membuang plak dari daerah proksimal yang tidak dapat dicapai oleh penyikatan gigi. Telah terbukti bahwa flossing daerah proksimal dapat mengurangi terjadinya peradangan dan perdarahan gingiva pada orang dewasa.22
Flossing sebagai alat yang berguna untuk menentukan status peradangan gingiva interproksimal pada anak, khususnya pada kondisi kesehatan gingiva.26 4. Berkumur dengan obat
Berbagai obat kumur hanya sedikit yang berisi bahan kimia yang mampu mematikan bakteri plak, sehingga hanya obat kumur tertentu yang mendapatkan pengakuan dari American Dental Assosiation. Keunggulan obat kumur adalah dapat menyerap ke daerah subgingiva walaupun hanya beberapa milimeter
saja. Jadi obat kumur tetap paling efektif terhadap plak supragingiva.22
5. Irigasi gingiva
Air yang digunakan sebagai irigator selain berhasil membuang partikel makanan, juga dapat membuang produk bakteri sehingga lebih efektif daripada berkumur. Irigasi ini bermanfaat karena dapat dilakukan ke dalam sulkus maupun poket sehingga ditemukan jumlah spesies Actinomyces maupun Bacteroides dapat berkurang.22
Selain itu Peradangan gingiva juga dapat dihilangkan dengan penggunaan irigasi subgingiva tunggal selama empat minggu berupa klorheksidin atau larutan saline.27
6. Pengurutan gingiva
Mengurut gingiva dengan sikat gigi menyebabkan penebalan epitel, peningkatan keratinisasi dan aktivitas mitotik dalam epitel dan jaringan ikat, serta terbuangnya plak. Semua keadaan ini meningkatkan kesehatan gingiva sehingga dapat dianjurkan untuk melakukan terapi pada gingiva yang mudah berdarah.22 2.12. INDEKS YANG DIGUNAKAN PADA GINGIVITIS
Banyak index yang dapat digunakan untuk menilai gingivitis oleh King tahun 1945, master dan Schour tahun 1949, dan Muhlemen dan Mazor tahun 1958.
Sulcus bleeding index oleh Muhlemen & Son tahun 1971
SBI merupakan perdarahan pada sulkus setelah probing seperti terjadi eritema, pembengkakan dan edema. Hal ini umumnya menunjukkan secara terpisah antara papilla (P) dan gingival margin (M). SBI telah digunakan pada berbagai studi tetapi berlaku juga untuk pasien dalam praktik.19
Gingival index oleh Loe dan Silness tahun 1963
Indeks gingiva oleh Loe H dan Silness J tahun 1963 digunakan untuk memeriksa keparahan gingivitis pada gigi indeks 16, 12, 24, 36, 32, 44. Jaringan sekitar tiap gigi dibagi ke dalam empat unit penilaian gingiva, papilla distal-fasial, margin fasial, papilla mesial-fasial, dan margin gingiva lingual keseluruhan. Probe poket periodontal dapat digunakan untuk memeriksa perdarahan pada jaringan.28
Gingival indeks adalah indeks kesehatan gigi. Indeks gingival diusulkan pada tahun 1963 sebagai metode untuk menilai keparahan dan kuantitas peradangan gingiva pada pasien. Hanya gingiva yang dapat dinilai dengan Gingival Indeks. Menurut metode ini, bagian dari facial, mesial, distal dan lingual dinilai untuk peradangan dan diberi skor 0 sampai 3. Untuk menilai tingkat keparahan peradangan gingiva dapat dilakukan dengan menjalankan probe periodontal sepanjang dinding jaringan lunak dari celah gingival.4
1. Gingiva normal; tidak ada keradangan, tidak ada perubahan warna, dan tidak ada perdarahan.
2. Inflamasi ringan; sedikit perubahan warna, sedikit edema. Tidak ada perdarahan waktu penyondean.
3. Inflamasi sedang; kemerahan, edema, dan mengkilat. Perdarahan pada waktu penyondean.
4. Inflamasi parah; kemerahan yang nyata dan edema, ulserasi. Kecenderungan perdarahan spontan.12
Penilaian total skor untuk Gingival Indeks sebagai berikut : 28
1. Gingivitis ringan = 0,1 – 1,0 2. Gingivitis moderat = 1,1 – 2,0 3. Gingivitis parah = 2,1 -3,0 Papilla Bleeding Index oleh Muhlemann tahun 1975.
PBI merupakan indikator peradangan gingiva pada pasien dan telah terbukti berguna untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan selama terapi periodontal. PBI juga dapat berfungsi sangat baik untuk memotivasi pasien terhadap OH yang baik. Perdarahan pada saat probing menunjukkan bahwa probe menembus poket dan mencapai vaskularisasi dibawah jaringan epitel.19
Papillary Bleeding Score (PBS)
Penilaian ini dilakukan oleh Stim-U-dent® Loesche tahun 1979. PBS dibagi berdasarkan Indeks Gingiva menurut Löe dan Silness tahun 1963 menjadi :
Kriterianya adalah :
1 =Edema, gingiva memerah, tidak terjadi perdarahan pada bagian interproksimal.
2 = Perdarahan pada daerah interproksimal. 3 = Perdarahan sepanjang margin gingiva.
4 = Perdarahan berkelanjutan pada bagian interproksimal.
5 = Peradangan parah, kemerahan, edema, dan cenderung terjadi perdarahan yang spontan.29
BAB III
KERANGKA KONSEP