• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam bab ini berisi kesimpulan dan saran. DAFTAR PUSTAKA

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Pengetahuan a. Definisi

Pengetahuan adalah hasil dari proses pembelajaran dengan melibatkan indra penglihatan, pendengaran, penciuman dan pengecap. Pengetahuan akan memberikan penguatan terhadap individu dalam setiap mengambil keputusan dan dalam berperilaku (Setiawati, 2008).

Sedangkan menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan merupakan hasil “tahu” pengindraan manusia terhadap suatu obyek tertentu. Proses pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra pengelihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba melalui kulit. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior).

b. Tingkat Pengetahuan didalam domain kognitif

Menurut Notoatmodjo (2010), dalam domain kognitif berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat intelektual (cara berpikir, berintraksi, analisa, memecahkan masalah dan lain-lain) yang berjenjang sebagai berikut :

1) Tahu (Knowledge)

Menunjukkan keberhasilan mengumpulkan keterangan apa adanya. Termasuk dalam kategori ini adalah kemampuan mengenali atau

mengingat kembali hal-hal atau keterangan yang pernah berhasil di himpun atau dikenali (recall of facts).

2) Memahami (Comprehension)

Pemahaman diartikan dicapainya pengertian (understanding) tentang hal yang sudah kita kenali. Karena sudah memahami hal yang bersangkutan maka juga sudah mampu mengenali hal tadi meskipun diberi bentuk lain. Termasuk dalam jenjang kognitif ini misalnya kemampuan menterjemahkan, menginterpretasikan, menafsirkan, meramalkan dan mengeksplorasikan.

3) Menerapkan (Aplication)

Penerapan diartikan sebagai kemampuan menerapkan hal yang sudah dipahami ke dalam situasi dan kondisi yang sesuai.

4) Analisa (Analysis)

Analisis adalah kemampuan untuk menguraikan hal tadi menjadi rincian yang terdiri unsur-unsur atau komponen-komponen yang berhubungan antara yang satu dengan lainnya dalam suatu bentuk susunan berarti.

5) Sintesis (Syntesis)

Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun kembali bagian-bagian atau unsur-unsur tadi menjadi suatu keseluruhan yang mengandung arti tertentu.

9

6) Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk membandingkan hal yang bersangkutan dengan hal-hal serupa atau setara lainnya, sehingga diperoleh kesan yang lengkap dan menyeluruh tentang hal yang sedang dinilainya (Notoatmodjo, 2010).

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan

Menurut Mubarak (2007), faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang adalah:

1) Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain terhadap suatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikannya rendah, akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan informasi dan nilai – nilai yang baru diperkenalkan.

2) Pekerjaan

Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

3) Umur

Bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental) pertumbuhan pada fisik secara garis besar ada empat kategori perubahan yakni: perubahan ukuran, perubahan proporsi, hilangnya ciri – ciri lama dan timbulnya ciri – ciri baru. Ini terjadi akibat pematangan fungsi organ pada aspek psikologis atau mental taraf berfikir seseorang makin matang dan dewasa. 4) Minat

Diartikan sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu minat menjadikan seseorang untuk memenuhi suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.

5) Pengalaman

Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman yang kurang baik seseorang akan berusaha untuk melupakan, namun jika pengalaman terhadap objek tersebut menyenangkan maka secara psikologisakan timbul kesan yang sangat mendalam dan membekas dalam emosi kejiwaannya, dan akhirnya dapat pula membentuk sikap positif dalam kehidupannya. 6) Kebudayaan Lingkungan Sekitar

Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila dalam suatu

11

wilayah mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan maka akan sangat mungkin masyarakat mempunyai sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, karena lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi atau sikap seseorang. 7) Informasi

Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru. d. Proses penyerapan ilmu pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003), bahwa suatu pesan setiap individu akan melalui 5 tahapan yaitu :

1)Awarnees (kesadaran)

Yaitu suatu keadaan dimana seseorang sadar bahwa ada suatu peranan yang disampaikan dan pesan yang disampaikan.

2) Interest (merasa tertarik)

Adalah seseorang mulai tertarik akan isi pesan yang disampaikan.

3) Evaluation (menimbang – nimbang)

Merupakan suatu tahap dimana penerima pesan mulai mengadakan penilaian keuntungan dan kerugian dari isi pesan yang disampaikan.

4) Trial (mencoba)

Merupakan tahapan dimana penerima pesan mencoba mempraktikan isi pesan dalam kehidupan sehari – hari.

4)

Formatted: Indent: First line: 0.41", Line spacing: Double

Formatted: Indent: Left: 0.59", Hanging: 0.2", Line spacing: Double, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 1.25" + Indent at: 1.5"

5) Adaption (adapsi)

Merupakan tahap dimana penerima pesan mempraktikan dan melaksanakan isi pesan dalam kehidupan sehari – hari.

e. Cara Memperoleh Pengetahuan

Menurut Notoadmojo (2010), ada beberapa cara untuk memperoleh pengetahuan, yaitu:

1) Cara Coba-Salah (Trial and Error)

Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal pula, maka dicoba dengan kemungkinan ketiga, dan apabila kemungkinan ketiga gagal dicoba kemungkinan keempat dan seterusnya, sampai masalah tersebut dapat dipecahkan. Itulah sebabnya maka cara ini disebut metode trial (coba) and error

(gagal atau salah) atau metode coba salah coba-coba. 2) Secara kebetulan

Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja oleh orang yang bersangkutan.

3) Cara Kekuasaan atau Otoritas

Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui

Formatted: Indent: Left: 0.79", Line spacing: Double

13

penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak. Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya, dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli-ahli ilmu pengetahuan. Prinsip ini adalah, orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa terlebih dulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri. Hal ini disebabkan karena orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa yang dikemukannya ádalah benar.

4) Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan.

5) Cara akal sehat

Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat menemukan teori atau kebenaran. Sebelum ilmu pendidikan ini berkembang, para orang tua zaman dahulu agar anaknya mau menuruti nasehat orang tuanya, atau agar anak disiplin menggunakan cara hukuman fisik bila anaknya berbuat salah, misalnya dijewer telinganya atau dicubit. Ternyata cara menghukum anak ini sampai

sekarang berkembang menjadi teori kebenaran bahwa hukuman merupakan metode untuk mendidik anak.

6) Kebenaran melalui wahyu

Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan melalui para Nabi. Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut-pengikut agama yang bersangkutan.

7) Kebenaran secara intuitif

Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia secara cepat sekali melalui proses diluar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau berpikir. Kebenaran yang diperoleh melalui intuitif sukar dipercaya karena kebenaran ini tidak menggunakan cara-cara yang rasional dan yang sistematis.

8) Melalui Jalan Pikiran

Sejalan dengan perkembangan umat manusia, cara berpikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi.

9) Induksi

Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyatan-pernyataan khusus ke pernyataan yang bersifat umum. Hal

15

ini berarti dalam berfikir induksi pembuatan kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman empiris yang ditangkap oleh indra. Bahwa induksi beranjak dari hal konkret ke hal abstrak.

10)Deduksi

Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyatan umum ke khusus. Silogisme yaitu suatu bentuk deduksi yang memungkinkan seseorang untuk dapat mencapai kesimpulan yang lebih baik.

2. Masa Nifas

a. Definisi

1) Masa nifas adalah masa (kira – kira 6 minggu) setelah kelahiran bayi, selama tubuh ibu beradaptasi ke keadaan sebelum hamil, disebut juga puerperium (Bahiyatun, 2009).

2) Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu postpartum (Saleha, 2009).

b. Periode Masa Nifas

Periode nifas menurut Wulandari (2009), dibagi menjadi 3 periode, yakni :

1)Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan

berdiri dan berjalan – jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

2)Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6 – 8 minggu.

3)Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan pulih dan sehat

sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

c. Tujuan Asuhan Masa Nifas

Menurut Mitayani (2009), tujuan asuhan kebidanan selama masa postpartum :

1)Mencegah hemoragi.

2)Memberikan kenyamanan fisik, nutrisi, hidrasi, keamanan dan eliminasi.

3)Memberikan motivasi pada ibu dan keluarga untuk mulai mengintregasikan proses kelahiran menjadi pengalaman hidup mereka.

4)Memelihara proses kedekatan dengan neonatus.

d. Perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi pada masa nifas 1) Tanda Vital

Suhu badan pada 24 jam post partum akan naik 37,5ºC – 38ºC sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan, apabila keadaan normal suhu badan akan biasa lagi. Denyut nadi normal pada orang dewasa 60 – 80 kali permenit. Sehabis melahirkan biasanya nadi akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100 kali permenit adalah

17

abnormal dan hal ini mungkin disebabkan oleh infeksi atau perdarahan post partum yang tertunda. Tekanan darah biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada post partum dapat menandakan terjadinya preeklamsi post partum. Sedang pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi (Wulandari, 2009).

2) Involusi

Involusi merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat berkisar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot – otot polos uterus. Pada akhir kala III persalinan, uterus berada di garis tengah, kira – kira 2 cm dibawah umbilicus dengan bagian fundus bersandar pada promotorium sakralis. Pada saat ini uterus kira – kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu dengan berat 1000 gram (Wulandari, 2009).

3) Perubahan tinggi dan berat uterus masa nifas

Tabel 2. 1. Perubahan tinggi dan berat uterus masa nifas. Involusio uteri Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus Diameter uterus Palpasi servik Placenta lahir

Setinggi pusat 1000 gr 12,5 cm Lembut, lunak 7 hari (1 minggu) Pertengahan antara simpisis pusat 500 gr 7,5 cm 2 cm 14 hari (minggu 2) Tidak teraba 350 gr 5 cm 1cm

(Wulandari, 2009). 4) Lochea

Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama nifas (Wulandari, 2009). Pengeluaran lochea dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya sebagai berikut :

a) Lochea rubra / merah : lochea ini muncul pada hari 1 sampai hari ke 4 masa postpartum. Cairan yang keluar warna merah karena berisi darah segar, jaringan sisa – sisa placenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi) dan mekonium.

b) Lochea sanguilenta : Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan berlendir. Berlangsung dari hari ke 4 sampai hari ke 7 post partum.

c) Lochea serosa : Lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit dan robekan / laserasi placenta. Muncul pada hari ke 7 sampai hari ke 14 post partum.

d) Lochea alba : Mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir servik dan serabut jaringan mati. Lochea alba bisa berlangsung selama 2 sampai 6 minggu post partum. e) Lochea purulenta, terjadi infeksi keluar cairan seperti nanah

19

f) Lochiostasis : lochea yang tidak lancar keluarnya. (Wulandari, 2009).

5) Perubahan vagina dan perineum a) Vagina

Pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rugae (lipatan- lipatan atau kerutan – kerutan ) kembali.

b) Perubahan pada perineum

Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut

arkus pubis terlalu kecil daripada biasa, kepala janin melewati

pintu panggul bawah dengan ukuran yang lebih besar daripada

sirkumferensia suboksipito bregmatika. Bila ada laserasi jalan

lahir atau luka bekas episiotomi (penyayatan mulut serambi kemaluan untuk mempermudah kelahiran bayi) lakukan penjahitan dan perawatan dengan baik (Suherni, 2009).

6) Perubahan pada sistem pencernaan

Sering terjadi obstipasi pada ibu setelah melahirkan. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong, dehidrasi, kurang makan, haemoroid, laserasi jalan lahir. Supaya buang air besar kembali teratur dapat diberikan diit atau makanan yang mengandung serat dan pemberian makanan yang

mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila usaha ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong dengan pemberian huknah gliserin spuit (Wulandari, 2009).

7) Perubahan perkemihan

Saluran kencing normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu tergantung pada keadaan status sebelum persalinan, lamanya partus kala 2 yang dilalui, besarnya tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan (Suherni, 2009).

e. Perawatan atau kebutuhan masa nifas 1) Mobilisasi

Merupakan suatu kebijakan untuk selekas mungkin membimbing ibu keluar dari tempat tidur dan membimbingnya mungkin berjalan. Dengan mobilisasi mempunyai keuntungan sebagai berikut:

a) Melancarkan pengeluaran lochea. b) Mempercepat involusio alat kandungan.

c) Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan.

d) Meningkatkan kelancaran dan pengeluaran sisa metabolisme.

2) Diit

Seorang ibu yang selama masa nifas memerlukan makanan yang bergizi dan cukup kalori. Karena sangat penting dalam membantu penyembuhan ibu dan produksi ASI, yaitu dengan:

21

a) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori.

b) Makanan dengan diit berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.

c) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari dan dianjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui.

d) Zat besi untuk menambah zat gizi selama 40 hari pasien persalinan.

e) Minum kapsul Vitamin A (200.000 unit yang bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASInya. 3) Eliminasi

Kesulitan kencing bagi ibu post partum ini dikarenakan spingter uretra tertekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi muscular spingter ani selama persalinan atau adanya oedema kandung kemih selama proses persalinan. Kesulitan kencing ini bisa mencapai 3 hari namun bila kandung kencing penuh dilakukan kateterisasi. Untuk defekasi pada ibu post partum sama halnya dengan miksi mengalami kesulitan yang diakitbatkan oleh tekanan saat persalinan. Jika hari ketiga atau keempat ibu belum buang air besar maka dilakukan klisma gliserin.

4) Perawatan mammae

Perawatan mammae atau payudara dimulai sejak hamil supaya puting susu lemas dan tidak keras.

Begitupun perawatan dalam masa nifas sangatlah penting dalam membantu memperlancar pengeluaran ASI, yaitu dengan: a) Menjaga payudara tetap bersih, terutama puting susu. b) Menggunakan BH yang menyokong payudara.

c) Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar puting susu setiap kali selesai menyusui. Dan menyusui tetap dilakukan dari puting yang tidak lecet. Apabila puting lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI di keluarkan dan diberikan dengan menggunakan sendok.

d) Apabila payudara bengkak akibat bendungan ASI, lakukanlah pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat setiap 5 menit dan urut payudara dari arah pangkal menuju putting, kemudian keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting susu menjadi lunak.

e) Susukan bayi setiap 2 – 3 jam, apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI sisanya dikeluarkan dengan tangan (Pusdiknakes, 2003).

5) Perawatan Perineum

Perawatan luka perineum adalah membersihkan daerah vulva dan perineum pada ibu setelah melahirkan sampai 42 hari postpartum dan masih menjalani rawat inap dirumah sakit (Wikjosastro, 2005).

23

Menurut Hamilton (2006), perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran plasenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.

6) Komplikasi yang Terjadi pada Masa Nifas a) Perdarahan

Yaitu perdarahan lebih dari 500 – 600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir. Menurut Eny dan Diah (2009), perdarahan dibagi menjadi dua, yaitu :

(1)Perdarahan post partum primer (Early postpartum hemorrhage) yang terjadi pada 24 jam pertama.

(2)Perdarahan post partum sekunder (Late postpartum hemorrhage) yang terjadi setelah 24 jam.

Penyebab perdarahan post partum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, laserasi jalan lahir dan inversion uteri. Sedangkan penyebab perdarahan sekunder adalah sub involusio uteri, retensi sisa plasenta, infeksi nifas. b) Infeksi

Infeksi nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh kuman yang masuk ke dalam organ genital pada saat persalinan dan masa nifas (Sulisyawati, 2009).

3. Perawatan Luka Perineum

a. Definisi

Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Hidayat, 2004).

Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus (Danis, 2002).

Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran plasenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil (Hidayat, 2004). b. Tujuan Perawatan Luka Perineum

Tujuan perawatan perineum menurut Hamilton (2002), adalah mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan.

c. Bentuk luka perineum

1) Rupture

Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh

rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture

biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan (Hamilton, 2002).

25

Episiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anestasi lokal, kecuali bila pasien sudah diberi anestasi epidural. Insisi episiotomi dapat dilakukan di garis tengah atau mediolateral. Insisi garis tengah mempunyai keuntungan karena tidak banyak pembuluh darah besar dijumpai disini dan daerah ini lebih mudah diperbaiki (Derek, 2002).

d. Faktor – faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum menurut Suwiyoga (2004), yakni:

1) Gizi

Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan sangat membutuhkan protein.

2) Keturunan

Sifat genetik seseorang akan mempengaruhi kemampuan dirinya dalam penyembuhan luka. Salah satu sifat genetik yang mempengaruhi adalah kemampuan dalam sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat. Dapat terjadi penipisan protein-kalori.

Kemampuan ibu dalam menyediakan sarana dan prasarana dalam perawatan perineum akan sangat mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kemampuan ibu dalam menyediakan antiseptik.

4) Budaya dan Keyakinan

Budaya dan keyakinan akan mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kebiasaan makan telur, ikan dan daging ayam, akan mempengaruhi asupan gizi ibu yang akan sangat mempengaruhi penyembuhan luka.

e. Cara Perawatan Luka Perineum

Pengamatan dan perawatan khusus diperlukan untuk menjamin agar daerah tersebut sembuh dengan cepat dan mudah. Pencucian daerah perineum memberikan kesempatan untuk melakukan inspeksi secara seksama pada daerah tersebut dan mengurangi rasa sakitnya (Farrer, 2001). Waktu perawatan menurut Farrer (2001) adalah sebagai berikut : 1) Saat Mandi, Pada saat mandi ibu postpartum pasti melepas pembalut

setelah terbuka maka kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut demikian pula pada perineum ibu untuk itu diperlukan pembersihan perineum.

2) Setelah BAK (Buang Air Kecil), pada saat buang air kecil kemungkinan besar bisa terjadi kontaminasi air seni pada rectum

27

akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum.

3) Setelah BAB (Buang Air Besar), pada saat buang air besar diperlukan pembersihan sisa – sisa kotoran disekitar anus untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum secara keseluruhan.

Perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi dengan posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki terbuka. Alat yang digunakan adalah botol, baskom dan gayung atau shower air hangat dan handuk bersih. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air hangat, sabun dan waslap, handuk kering dan basah, pembalut nifas baru dan celana dalam yang bersih (Nurhayati, 2010).

Perawatan khusus perineal bagi wanita setelah melahirkan anak mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan dengan prosedur pelaksanaan menurut Hamilton (2002), adalah sebagai berikut:

a) Mencuci tangannya.

b) Mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat.

c) Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan ke bawah mengarah ke rektum dan letakkan pembalut tersebut ke dalam kantung plastik.

d) Berkemih dan BAB ke toilet.

e) Guyur perineum dengan air dan bersihkan dengan sabun khusus genetalia.

f) Keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang.

g) Pasang pembalut dari depan ke belakang. h) Cuci kembali tangan.

Ataupun Langkah langkah yang dapat di lakukan untuk menjaga kebersihan diri ibu post partum adalah sebagai berikut:

Dalam dokumen GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS T (Halaman 20-64)

Dokumen terkait