• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBAIKAN SISTEM TATA KELOLA ( GOVERNANCE SYSTEM )

Perbaikan sistem tata kelola pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta BUMN/BUMD menjadi fokus pengawasan BPKP yang dilakukan dalam rangka membantu memperbaiki tata kelola organisasi, pengelolaan risiko, dan sistem pengendalian intern pemerintah.

1. Kualitas Sistem Tata Kelola (Governance System)

Beberapa indikator yang dapat menggambarkan perbaikan kualitas tata kelola kepemerintahan antara lain tercermin dari tingkat kematangan (maturity) dalam penyelenggaraan SPIP, perolehan skor sistem akuntabilitas kinerja/SAKIP, perolehan opini atas

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta 19 laporan keuangan pemerintah daerah maupun BUMD, tingkat leveling APIP, dan peningkatan indeks persepsi korupsi, dengan uraian sebagai berikut :

a. Tingkat Kematangan/maturitas Penyelenggaraan SPIP

Kualitas penyelenggaran SPIP pemerintah daerah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dapat diukur menggunakan tingkat kematangan penyelenggaraan SPIP. Tingkat kematangan dinilai berdasarkan keberadaan sistem pengendalian intern yang telah dibangun oleh instansi pemerintah, dengan simpulan sebagai berikut :

Tingkat Tingkat Maturitas Klasifikasi Interval Nilai

1 Belum Ada 0 Nilai < 1,0

2 Rintisan 1 1,0 < Nilai < 2,0

3 Berkembang 2 2,0 < Nilai < 3,0

4 Terdefinisi 3 3,0 < Nilai < 4,0

5 Terkelola dan terukur 4 4,0 < Nilai <4,5

6 Optimum 5 Nilai > 4,5

Penjelasan masing-masing tingkat sebagai berikut :

- Tingkat 1 (belum ada) berarti K/L/Pemda sama sekali belum memiliki kebijakan dan prosedur yang diperlukan untuk melaksanakan praktek-praktek pengendalian intern. - Tingkat 2 (rintisan) berarti telah ada praktik pengendalian intern, namun pendekatan risiko

dan pengendalian yang diperlukan masih bersifat ad-hoc dan tidak terorganisasi dengan baik, tanpa komunikasi dan pemantauan sehingga kelemahan tidak diidentifikasi.

- Tingkat 3 (berkembang) berarti K/L/Pemda telah melaksanakan praktik pengendalian intern, namun tidak terdokumentasi dengan baik dan pelaksanaannya sangat tergantung pada individu dan belum melibatkan semua unit organisasi. Efektivitas pengendalian belum dievaluasi sehingga banyak terjadi kelemahan yang belum ditangani secara memadai.

- Tingkat 4 (terdefinisi) berarti K/L/Pemda telah melaksanakan praktik pengendalian intern dan terdokumentasi dengan baik. Namun evaluasi atas pengendalian intern dilakukan tanpa dokumentasi yang memadai.

- Tingkat 5 (terkelola dan terukur) berarti K/L/P telah menerapkan pengendalian internal yang efektif, masing-masing personel pelaksana kegiatan yang selalu mengendalikan kegiatan pada pencapaian tujuan kegiatan itu sendiri maupun tujuan K/L/Pemda. Evaluasi formal dan terdokumentasi.

- Tingkat 6 (optimum) berarti K/L/Pemda telah menerapkan pengendalian intern yang berkelanjutan, terintegrasi dalam pelaksanaan kegiatan yang didukung oleh pemantauan otomatis menggunakan aplikasi komputer.

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta 20 Penilaian maturitas SPIP baru dilakukan pada dua pemerintah daerah yaitu Kabupaten Sleman dengan nilai 2,83 (berkembang) dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dengan nilai 1,44 (rintisan), sedangkan empat Pemda yang lain belum dilakukan penilaian.

b. Skor Sistem Akuntabilitas Instansi Pemerintah (SAKIP)

Tingkat kualitas akuntabilitas kinerja instansi pemerintah tercermin dari hasil evaluasi/penilaian yang dilakukan oleh Kementerian PAN dan RB terhadap Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP).

Hasil penilaian menunjukkan bahwa SAKIP Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2014 memperoleh nilai sangat baik dengan level A. Nilai tingkat akuntabilitas kinerja instansi pemerintah daerah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dapat digambarkan dalam Tabel 2.14. berikut :

Tabel 2.14

Nilai Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Daerah Di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

Tahun 2014

No Pemeintah Daerah Skor/Nilai Keterangan

1. Daerah Istimewa Yogyakarta A Sangat Baik

2. Kota Yogyakarta B Baik

3. Kab. Bantul B Baik

4. Kab. Sleman B Baik

5. Kab. Kulon Progo B Baik

6. Kab. Gunungkidul CC Cukup

Sumber : Bagian Organisasi masing-masing Pemda

Perkembangan perolehan skor hasil evaluasi sistem sistem akuntabilitas kinerja sampai dengan tahun 2014 tampak pada tabel 2.15 di bawah ini.

Tabel 2.15

Perkembangan Skor Hasil Evaluasi SAKIP Pemerintah Daerah di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

Tahun 2012 – 2014

No Pemerintah Daerah 2012 2013 2014

1. Daerah Istimewa Yogyakarta CC B A

2. Kota Yogyakarta C CC B

3. Kab. Bantul CC B B

4. Kab. Sleman C C B

5. Kab. Kulon Progo C C B

6. Kab. Gunungkidul CC CC CC

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta 21 c. Opini atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

Hasil audit BPK terhadap laporan keuangan pemerintah daerah tahun 2014 di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, lima LKPD atau 83,33% dari total enam LKPD memperoleh opini WTP. Perolehan opini WTP atas LKPD tahun 2014 sama dengan tahun 2013. Perkembangan opini BPK atas LKPD Tahun 2011-2014 dapat dilihat pada Tabel 2.16 di bawah ini.

Tabel 2.16

Perkembangan Opini BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

Tahun 2012 – 2014

No Pemerintah Kabupaten/Kota Opini LKPD

2011 2012 2013 2014

1. Daerah Istimewa Yogyakarta WTP WTP WTP WTP

2. Kota Yogyakarta WTP WTP WTP WTP

3. Kabupaten Bantul WDP WTP WTP WTP

4. Kabupaten Sleman WTP WTP WTP WTP

5. Kabupaten Kulon Progo WDP WDP WTP WTP

6. Kabupaten Gunungkidul WDP WDP WDP WDP

Sumber : Website BPK RI

d. Opini Laporan Keuangan BUMD

Kewajaran penyajian informasi keuangan pada laporan keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/D) menjadi salah satu indikator kualitas tata kelola organisasi. Hasil audit oleh auditor eksternal atas laporan keuangan BUMN/D menjadi salah satu faktor penting dalam mengukur good corporate governance BUMN/D.

Dari 16 BUMD di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sebanyak 5 BUMD (PDAM) telah diaudit oleh auditor eksternal dan seluruhnya memperoleh opini WTP. Perkembangan opini auditor eksternal atas Laporan Keuangan BUMD tahun 2012-2014 disajikan pada Tabel 2.17.

Tabel 2.17

Perkembangan Opini Auditor Eksternal atas Laporan Keuangan BUMD di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

Tahun 2012 – 2014

No Jenis Opini Jumlah BUMD

2012 2013 2014 1. WTP 16 100% 16 100% 5 31,25% 2. WDP 0 0 0 0 0 0 3. TMP 0 0 0 0 0 0 4. TW 0 0 0 0 0 0 5. Belum diaudit 0 0 0 0 11 68,75% Jumlah 16 100% 16 100% 5 100%

Sumber : Ikhtisar Hasil Audit Kantor Akuntan Publik

Dari 16 BUMD di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sampai dengan semester I tahun 2015 baru lima Laporan Keuangan BUMD tahun 2014 yang telah dilakukan audit.

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta 22 e. Level Kapabilitas Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP)

Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang berperan secara efektif, sekurang-kurangnya mampu :

- memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah - memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam

penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah

- memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah.

APIP memiliki kemampuan berbeda-beda dalam melaksanakan peran dan fungsinya sesuai dengan kapabilitas masing-masing. Kapabilitas APIP dapat diukur menggunakan pendekatan Internal Audit Capability Model (IACM) yang mengelompokkan kapabilitas APIP dalam lima level yaitu level 1 (initial), level 2 (infrastructure), level 3 (integrated), level 4 (managed), dan level 5 (optimazing).

Hasil assessment/evaluasi terhadap leveling tata kelola APIP di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2015 menunjukkan, dari enam APIP dua APIP berada pada level 2 penuh dan lima APIP berada pada level 2 dengan catatan perbaikan sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2.18 di bawah.

Tabel 2.18

Hasil Assessment/Evaluasi Leveling APIP di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

s.d. Tahun 2015

No Inspektorat Leveling APIP Tahun

Assessment 1. Inspektorat Daerah Istimewa

Yogyakarta

2 (infrastructure) dengan catatan

2012 2. Inspektorat Kota Yogyakarta Level 2 (infrastructure)

dengan catatan

2014 3. Inspektorat Kabupaten Bantul Level 2 (infrastructure) penuh 2014 4. Inspektorat Kabupaten Sleman Level 2 (infrastructure)

dengan catatan

2014

5. Inspektorat Kabupaten Kulon Progo Level 2 (infrastructure) penuh 2014

6. Inspektorat Kabupaten Gunungkidul Level 2 (infrastructure) dengan catatan

2014

Sumber : Database Hasil Pengawasan Perwakilan BPKP DIY

APIP yang berada pada level 2 penuh, telah membangunan infrastruktur yang diperlukan, proses audit telah dilakukan secara tetap dan berulang namun belum seluruhnya selaras dengan standar audit. Dilihat dari sisi hasil pengawasan, APIP yang berada pada level 2 penuh mampu menjamin proses tata kelola pemerintah daerah sesuai peraturan perundang-undangan dan mampu mendeteksi terjadinya korupsi.

Perkembangan leveling APIP di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sampai dengan semester I tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 2.19 di bawah ini.

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta 23 Tabel 2.19

Perkembangan Leveling APIP di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

Tahun 2013 – 2015

No Leveling APIP Jumlah APIP

2013 2014 2015 1. Level 1 1 16,67 - - - - 2. Level 2 5 83,33 6 100% 6 100% 3. Level 3 - - - - - - 4. Level 4 - - - - - - 5. Level 5 - - - - - - Jumlah 6 6 100% 6 100%

Sumber : Database Hasil Pengawasan Perwakilan BPKP DIY

Selain uraian di atas, hasil Survei Integritas Sektor Publik Tahun 2013 oleh KPK, Kota Yogyakarta mendapatkan skor 7,28 dan menempati peringkat 10 nasional dari 60 pemerintah kota yang disurvei. Survei Integritas Sektor Publik dilakukan dalam rangka memberikan penilaian terhadap integritas layanan yang diberikan oleh lembaga pemerintah kepada masyarakat. Hasil penilaian merupakan cerminan bagaimana masyarakat sebagai pengguna layanan memberikan penilaian yang didasarkan pada pengalaman pengguna layanan dalam mengurus layanan di lembaga tersebut.

2. Peningkatan Kualitas Sistem Tata Kelola (Governance System)

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta berperan dalam peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan menuju good governance and clean government. Tata kelola pemerintahan yang baik perlu segera diwujudkan guna mendukung peningkatan daya saing dan kinerja pembangunan nasional di berbagai bidang, khususnya di lingkungan pemerintah daerah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta telah melakukan berbagai kegiatan konsultatif berupa pendampingan dan bimbingan teknis kepada pemerintah daerah dan badan usaha terkaitan peningkatan kualitas tata kelola.

Dalam semester I tahun 2015 Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan berbagai upaya perbaikan sistem tata kelola (governance system) terdiri dari :

a. Pembinaan Penyelenggaraan SPIP

Penyelenggaraan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP) yang baik merupakan salah satu dasar untuk terwujudnya penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik. Komitmen Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mendorong perbaikan kualitas penyelenggaraan SPIP pada pemerintah daerah diwujudkan melalui kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP.

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta telah memberikan pemahaman dan membangun komitmen penyelenggaraan SPIP kepada seluruh Pemerintah Daerah dan Satker Kementerian/Lembanga (K/L) melalui sosialisasi, workshop, dan diklat SPIP. Sebagai hasil upaya pemahaman tersebut telah diterbitkan Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota tentang penyelenggaraan SPIP dan telah dibentuk Satuan Tugas Penyelenggaraan SPIP di lingkungan Pemerintah Daerah se-Daerah Istimewa Yogyakarta dan K/L.

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta 24 Perkembangan penyelenggaraan SPIP untuk memperoleh gambaran penyelenggaraan SPIP dari Pemda dan SKPD berdasarkan tahapan penyelenggaraan SPIP yaitu dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap pelaporan dan evaluasi oleh APIP. Pemda umumnya telah menyelenggarakan SPIP pada tahap persiapan namun belum seluruh Pemda menyelenggarakan tahap pelaksanaan dan tahap selanjutnya, sebagaimana disajikan pada Tabel 2.20 di bawah ini.

Tabel 2.20

Penyelenggaraan SPIP pada Pemerintah Daerah Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

No Nama Pemda Penyelenggaraan

SPIP Tingkat Tahap Persiapan Tahap Pelaksanaan Tahap Pelaporan Evaluasi SPIP oleh APIP

1 D.I. Yogyakarta Pemda Sudah Sudah Belum Belum SKPD Sudah Belum

Sepenuhnya

Belum Belum

2 Kota Yogyakarta Pemda Sudah Sudah Sudah Sudah SKPD Sudah Sudah Sudah Sudah

3 Kabupaten Sleman Pemda Sudah Sudah Sudah Sudah SKPD Sudah Sudah Sudah Sudah

4 Kabupaten Bantul Pemda Sudah Belum Belum Belum SKPD Sudah Belum Belum Belum

5 Kabupaten Kulonprogo

Pemda Sudah Sudah Belum Belum SKPD Sudah Belum Belum Belum

6 Kabupaten Gunungkidul

Pemda Sudah Sudah Belum Sudah SKPD Sudah Belum Belum Belum

Sumber : Database Hasil Pengawasan Perwakilan BPKP DIY

Dalam rangka peningkatan penyelengaraan sistem pengendalian intern pemerintah yang baik pada kegiatan utama SKPD/Unit Kerja, Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta telah menyarankan kepada masing-masing pemerintah daerah sebagai berikut:

- Satgas SPIP Kabupaten untuk ikut terlibat dan proaktif dalam menerapkan SPIP di tingkat Kabupaten dan SKPD.

- Menyusun Rencana Tindak Pengendalian (RTP) SPIP atas kegiatan utama sehingga setiap kegiatan mempunyai pengendalian yang memadai.

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta 25 b. Perbaikan Sistem Akuntabilitas Kinerja Intansi Pemerintah (SAKIP)

Dalam mendorong peningkatan kualitas AKIP Pemda, dalam semester I tahun 2015 Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta telah melaksanakan pendampingan penyusunan laporan kinerja tahun 2014 di Pemerintah Kabupaten Sleman dan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Selain itu dilakukan focus group discussion (FGD) reviu laporan kinerja pada Pemerintah Kota Yogyakarta.

Permasalahan yang masih dijumpai dalam penyelenggaraan AKIP adalah pemahaman yang keliru mengenai konsep penilaian dalam evaluasi LKjIP, yaitu evaluasi dipahami terbatas pada penilaian kualitas pelaporannya saja padahal mencakup evaluasi Sistem AKIP secara keseluruhan.

Hal-hal yang perlu peningkatan dalam penyusunan LAKIP di masa mendatang antara lain masih terdapat sasaran yang belum sepenuhnya berorientasi hasil, rumusan indikator kinerja sasaran belum sepenuhnya memenuhi indikator yang baik, Indikator Kinerja Utama (IKU) belum mengacu pada Permen PAN Nomor PER/20M.PAN/11/2008, IKU belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam dokumen perencanaan, penganggaran dan pengukuran kinerja, penetapan kinerja belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk mengarahkan dan menilai keberhasilan unit kerja, belum tersedia sistem/mekanisme pengumpulan data kinerja, dan laporan kinerja belum dimanfaatkan untuk perbaikan perencanaan, pelaksanaan program dan kegiatan.

Dalam upaya peningkatan kualitas penyelenggaraan AKIP, Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta telah merekomendasikan perbaikan pengelolaan AKIP kepada Pemerintah Kabupaten agar :

- Menyiapkan dokumentasi tindak lanjut atas hasil evaluasi tahun 2014 dengan lengkap dan valid, sehingga tindak lanjut tersebut nantinya dengan mudah dan segera dapat diberikan kepada evaluator AKIP Pemerintah Kabupaten Tahun 2015;

- Membangun budaya kerja sehingga ada peningkatan capaian kinerja yang mendekatkan pada pencapaian visi/misi/cita-cita masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Sleman

- Melakukan reviu terhadap RPJMD dan Renstra SKPD secara kontinyu, untuk perbaikan berkelanjutan.

- Menampilkan indikator tujuan dalam RPJMD dengan memasukkan indikator tujuan pada indikator kinerja utama.

- Hasil evaluasi LKjIP yang dilaksanakan oleh Inspektorat untuk seluruh SKPD akan dimanfaatkan untuk memberikan reward and punishment bagi SKPD.

- Pengembangan e-SAKIP tahun 2015 untuk memantau pencapaian kinerja setiap triwulan dan sinergi antara perencanaan. penganggaran, pelaksanaan dan pelaporan kinerja.

- Realisasi atas penetapan kinerja maupun indikator kinerja utama tahun yang lalu dijadikan salah satu pertimbangan untuk memberikan anggaran terhadap SKPD.

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta 26 - Menyusun perbaikan pengukuran dan mekanismne pengumpulan data kinerja yang

relevan.

c. Peningkatan Kualitas Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta secara proaktif telah bekerja sama dengan Pemda dalam upaya mendorong menuju perolehan opini WTP. Mengingat opini WTP merupakan pintu masuk menuju tata kelola kepemerintahan yang baik, maka terhadap LKPD yang belum memperoleh opini WTP perlu terus didorong untuk meningkatkan upaya agar memperoleh opini WTP dari BPK.

Lingkup kegiatan pembinaan terhadap Pemerintah Daerah yang dilaksanakan antara lain dalam bentuk pendampingan penyusunan laporan keuangan Pemerintah Daerah, pendampingan atas reviu laporan keuangan yang dilakukan oleh Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota, pendampingan penataan Barang Milik Daerah, peningkatan SDM pengelola keuangan daerah, dan peningkatan kapasitas APIP Daerah.

Kegiatan pembinaan oleh Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta sampai dengan semester I tahun 2015 tampak pada Tabel 2.21 di bawah ini.

Tabel 2.21

Kegiatan Upaya Peningkatan Kualitas Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2015

Sumber : Database Hasil Pengawasan Perwakilan BPKP DIY

Masing-masing kegiatan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan

Dalam penyusunan laporan keuangan tahun 2014, dari enam Pemerintah Daerah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, dua Pemerintah Daerah didampingi oleh Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Pemerintah Kabupaten Bantul dan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.

Pada lingkup instansi vertikal di wilayah Daerah Istimewa Yogyakart, Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta telah melakukan pendampingan penyusunan laporan keuangan pada Kejaksaan Tinggi DIY, Polda, Kanwil KUMHAM, Bawaslu, KPU, Balai Besar Latihan Ketransmigrasian, Dinas PU Perumahan dan ESDM DIY, dan STTN Yogyakarta.

Dalam rangka penguatan tata kelola pemerintahan di lingkungan KPUD Daerah Istimewa Yogyakarta telah dilakukan penanda tanganan Nota Kesepahaman Kerjasama antara KPU Daerah Istimewa Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul,

No Kegiatan

Jumlah Pemerintah Daerah

Jumlah %

1. Pendampingan penyusunan laporan keuangan 2 33,33%

2. Pendampingan reviu laporan keuangan 1 16,67%

3. Penguatan penataan Barang Milik Daerah 1 16,67%

4. Peningkatan Kapasitas SDM Pengelola Keuangan 5 87,33%

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta 27 Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Gunungkidul, dan Kabupaten Sleman dengan Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta. Lingkup kerjasama tersebut adalah membangun dan menerapkan sistem pengendalian intern pemerintah yang meliputi : - Pendampingan dalam rangka peningkatan akuntabilitas keuangan negara dan

akuntabilitas kinerja

- Pendampingan dalam proses pengadaan barang dan jasa - Kegiatan pendampingan lainnya.

Untuk membantu Pemerintah Daerah agar dalam menyusun laporan keuangan dapat dilakukan secara lebih mudah, cepat, dan akurat, BPKP telah mengembangkan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Keuangan Daerah (SIMDA). Penerapan SIMDA yang berbasis teknologi informasi ini mendukung program e-government yang sedang digalakkan oleh pemerintah dan pelaksanaan e-audit oleh Badan Pemeriksan Keuangan (BPK).

Periode sampai dengan semester I tahun 2015, dua Pemerintah Daerah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta telah menggunakan aplikasi SIMDA Keuangan secara penuh meliputi penganggaran, penatausahaan dan pelaporan yaitu Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dan Pemerintah Kabupaten Bantul.

2) Pendampingan Reviu Laporan Keuangan

Pendampingan reviu laporan keuangan dilakukan untuk membantu Pemda dalam upaya meningkatkan kualitas LKPD. Pendampingan reviu dilakukan terhadap Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota. Pada periode sampai dengan semester I tahun 2015, pendampingan reviu dilakukan pada satu pemerintah daerah yaitu Pemerintah Kabupaten Sleman.

Manfaat yang diperoleh dari pendampingan reviu adalah berupa perbaikan kualitas penatausahaan dan pengelolaan keuangan yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas LKPD melalui peningkatan kompetensi para auditor APIP, perumusan strategi mencapai opini WTP, dan percepatan penyelesaian tindak lanjut atas temuan pemeriksaan BPK atau APIP.

3) Penguatan Penataan Barang Milik Daerah

Kelemahan dalam pengelolaan aset Barang Milik Daerah (BMD) merupakan salah satu penyebab belum diperoleh opini WTP, menjadi perhatian BPKP dalam upaya peningkatan tata kelola barang milik daerah melalui pendampingan dan pelatihan pengelolaan BMD.

Pendampingan pengelolaan aset dilakukan pada Pemerintah Kabupaten Bantul. Beberapa permasalahan dalam penataan BMN/D antara lain masih kurangnya pemahaman para pengguna tentang pentingnya pengelolaan BMD; belum berjalannya mekanisme rekonsiliasi antara pengurus barang dengan bendahara pengeluaran maupun dengan Dinas terkait; perbedaan pemahaman mengenai status barang yang diperoleh dari pihak ketiga; barang inventaris yang tidak diketahui keberadaannya; barang yang tidak diketahui identitasnya.

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta 28 Atas permasalahan tersebut, Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta telah merekomendasikan agar dilakukan inventarisasi terhadap fisik barang oleh tim terpadu kabupaten, pengurus dan penyimpan barang sekolah agar ditetapkan dengan SK sebagai penyimpan dan pengurus barang, dan pemahaman lebih lanjut SIMDA BMD.

4) Peningkatan Kapasitas SDM Pengelola Keuangan

Kompetensi SDM pengelola keuangan dan barang milik daerah serta penyusun laporan keuangan memegang peranan yang sangat menentukan untuk mewujudkan tata kelola penatausahaan keuangan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta tersusunnya laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan. Oleh karena itu, Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan perhatian yang besar dalam upaya peningkatan kompetensi SDM pengelola keuangan dan barang milik daerah dengan melakukan sosialisasi, workshop, maupun pelatihan mengenai pengelolaan dan penyusunan laporan keuangan.

Dalam periode sampai dengan semester I tahun 2015 dilakukan peningkatan kapasitas SDM pengelola keuangan berupa pelatihan dan pembekalan mengenai penatausahaan dan penyusunan laporan keuangan dengan menggunakan aplikasi SIMDA Keuangan pada Pemerintah Kabupaten Sleman, Pemerintah Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo, pelatihan SAP berbasis akrual pada Pemerintah Kabupaten Bantul dan Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, pembekalan Reviu LKPD pada Pemerintah Kota Yogyakarta dan narasumber Sosialisasi Perwal dan Keputusan Walikota Yogyakarta tentang Penghapusan Piutang Daerah dan SOP Penghapusan Piutang Daerah pada Pemerintah Kota Yogyakarta, pengelolaan BMD pada Pemerintah Kabupaten Bantul. Selain itu, juga memberikan masukan dalam FGD pengembangan kurikulum dan silabus Diklat pengelolaan keuangan berbasis akrual pada Badan Diklat DIY.

d. Peningkatan Kualitas Pelaporan Keuangan BUMD

Peran aktif Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta dalam upaya peningkatan kualitas laporan keuangan BUMN/D melalui kegiatan peningkatan tata kelola dan akuntansi yang telah dilakukan selama ini telah membuahkan hasil. Seluruh PDAM di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta telah mampu menyusun laporan keuangan secara mandiri.

e. Peningkatan Kualitas Laporan Keuangan dan Kapasitas SDM BLUD

Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) merupakan bentuk pola pengelolaan keuangan pada SKPD dan unit pelayanan teknis pada Pemerintah Daerah yang memberikan fleksibilitas kepada BLUD untuk mengelola keuangannya berbeda dari tata kelola keuangan yang berlaku umum pada pemerintahan. Peningkatan layanan melalui fleksibilitas pengelolaan keuangan menjadi salah satu pertimbangan pemerintah daerah dalam pembentukan BLUD.

Guna mendorong keberhasilan dalam penerapan pola pengelolaan keuangan BLUD, Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta telah memberikan bimbingan teknis peningkatan kualitas pelaporan keuangan BLUD dan peningkatan kapasitas SDM penglola keuangan BLUD. Dalam periode sampai dengan semester I tahun 2015, kegiatan peningkatan kapasitas SDM dan kualitas pelaporan keuangan BLUD terlihat dalam Tabel 2.22 berikut.

Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta 29 Tabel 2.22

Kegiatan Peningkatan Kualitas Pelaporan Keuangan BLUD di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

Tahun 2015

No Kegiatan Jumlah (Keg)

1. Bimtek/reviu penyusunan Laporan Keuangan BLUD 2 2. Workshop/sosialisasi SIA BLUD 3

Jumlah 5

Sumber : Database Hasil Pengawasan Perwakilan BPKP DIY

Untuk membantu meningkatkan kualitas laporan keuangan BLUD, selain melakukan reviu atas laporan keuangan BLUD, BPKP juga telah mengembangkan aplikasi Sistem Informasi Akuntansi (SIA) BLUD.

Dalam semester I tahun 2015 Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta telah mendampingi 96 Unit Pengelola Teknis Daerah (UPTD) dalam pengelolaan keuangan dan penerapan SIA BLUD dengan rincian sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2.23.

Tabel 2.23

Unit Pelaksana Teknis Daerah – BLUD Yang Didampingi

Dokumen terkait