• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Analisis Regresi Linear dengan Analisis Kategori

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.4 Perbandingan Analisis Regresi Linear dengan Analisis Kategori

Dari hasil analisa model regresi linear dan pengujian model, didapat model persamaan perjalanan keluarga Perumahan Nasional Simalingkar Medan dengan maksud berbelanja ke luar zona perumahan adalah: Y = 1,417 + 0,139 X1 + 0,239 X5 sehingga apabila nilai X1 dan X5 di ganti uji diperoleh jumlah perjalanan keluarga Y = 174,73 perjalanan/minggu. Sedangkan untuk metode analisa kategori diperoleh jumlah perjalanan Y= 202,875 perjalanan/minggu.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari 100 keluarga perumahan nasional Simalingkar Medan sebagai sampel terdapat 90 keluarga yang melakukan perjalanan berbelanja ke luar zona perumahan dengan 340 anggota keluarga dengan jumlah perjalanan yang terjadi 230 perjalanan/minggu dengan karakteristik sebagai berikut:

a. Jumlah anggota dalam keluarga paling dominan adalah 3-5 orang (66%). b. Tingkat pendapatan keluarga per bulan adalah Rp2-5jt (54%).

c. Usia anggota keluarga termasuk usia produktif 19-55 tahun (68%). d. Keluarga dominan memiliki kendaraan sepeda motor 1 unit 43% dan 1

unit mobil 41% .

e. Satatus pekerjaan pegawai negeri 59 orang, wiraswasta 46 orang dan pegawai swasta 44 orang.

2. Karakteristik perjalanan keluarga dengan tujuan berbelanja ke luar zona perumahan adalah sebagai berikut:

a. Puncak perjalanan terjadi pada minggu 1 yaitu 34,08% dan diikuti minggu 4 sebesar 22,47% dari total perjalanan yang terjadi tiap minggunya.

b. Tempat tujuan perjalanan berbelanja adalah Medan Fair (41,11%) dan Carefour Padangbulan (36,67%).

c. Moda transportasi yang digunakan adalah sepeda motor 36,83% dan angkutan umum 35,08%.

3. Hal yang mendasari perjalanan berbelanja ke luar zona adalah tempat yang mampu menyediakan kebutuhan rumah tangga secara lengkap dengan harga ekonomis dan aksesibilats mudah serta suasana yang memberikan rasa nyaman.

4. Model analisa regresi linear berganda yang terbentuk adalah:

No. Model regesi linear berganda R R2

1 Y = 1,026 + 0,216 X5 0,553 0,305

2 Y = 1,417+ 0,139 X1 + 0,239 X5 0,563 0,317

3 Y = 0,911+ 0,118 X4 + 0,200 X5 0,522 0,272

4 Y = 1,440 – 0,188 X1+ 0,169 X4 + 0,223 X5 0,538 0,290

5. Model yang terbaik yang digunakan adalah:

Y = 1,417+ 0,139 X1 + 0,239 X5

Dengan nilai R= 0,563 menunjukkan hubungan variabel bebas cukup kuat dengan variabel terikat.

6. Faktor yang mempengaruhi bangkitan perjalanan keluarga dengan maksud berbelanja di luar zona perumahan adalah tingkat pendapatan keluarga (X5) dua kali lipat dari jumlah anggota dalam keluarga (X1).

7. Persamaan Y = 1,417+ 0,139 X1 + 0,239 X5 lulus uji t dan uji F.

8. Jumlah perjalanan yang diperoleh dari hasil model analaisa regresi adalah Y= 174, 73 perjalan/minggu, sedangkan untuk model analisa kategori diperoleh Y= 202,875 perjalanan/minggu.

V.2 Saran

1. Guna kesempurnaan penelitian mengenai bangkitan pergerakan, maka penelitian berikutnya perlu melakukan kajian yang lebih konfrehensif dengan memasukkan semua variabel yang dianggap memiliki pengaruh terhadap bangkitan pergerakan.

2. Diperlukan pengembangan sarana potensial di lokasi perumahan nasional Simalingkar Medan untuk tempat berbelanja keluarga yang lengkap menyediakan semua kebutuhan keluarga dan memberikan rasa nyaman guna menekan jumlah perjalanan yang timbul.

3. Model persamaan bangkitan perjalanan ini masih memodelkan perjalanan keluarga dengan maksud berbelanja, perlu ditambahkan lagi dengan model perjalanan dengan maksud yang berbeda sehingga dapat digunakan untuk lanjutan tahapan dari model perencanaan transportasi empat tahap pada Perumahan Nasional Simalingkar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Perkembangan Pemukiman dan Bangkitan Perjalanan

Pada awalnya manusia hidup secara nomad, berpindah-pindah dari suatu tempat ketempat lain untuk bertahan hidup dan mencari makanan. Mereka membawa serta kepunyaan mereka yang terbatas dengan bantuan alat transportasi yang primitif. Sebagai akibatnya mereka merasa tidak perlu mengembangkan diri untuk belajar membuat sesuatu, apakah itu secara materi, spiritual ataupun sistem nilai kebudayaan. Pada waktu transportasi makanan dan bahan bakar sudah mulai mudah dan makanan sudah dapat disimpan untuk beberapa waktu, maka pemukiman yang permanen mulai terbentuk. Pemukiman penduduk ini banyak berada pada titik-titik transportasi penting seperti di pinggir sungai atau laut dan yang akhirnya membuat kegiatan-kegiatan penduduk menjadi terpusat. Pemukiman terus berkembang menjadi kota-kota besar. Pemusatan kegiatan masyarakat ini seperti industri dan lain sebagainya membuat penduduk dalam pemenuhan kebutuhannya melakukan perjalanan dari tempat kediamannya. Model dan jumlah perjalanan inilah yang disebut bangkitan perjalanan.

Permukiman selain merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, juga mempunyai fungsi yang sangat strategis dalam perannya sebagai pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya, dan peningkatan kualitas generasi yang akan datang, serta merupakan pengejawantahan jati diri. Terwujudnya kesejahteraan rakyat dapat ditandai dengan meningkatnya kualitas kehidupan yang layak dan bermartabat, antara lain melalui pemenuhan kebutuhan papannya. Dengan demikian upaya menempatkan bidang perumahan dan permukiman sebagai salah satu sektor

prioritas dalam pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya adalah sangat strategis. Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional atau disingkat Perum Perumnas adalah Badan Usaha Milik Negara Indonesia yang bergerak di bidang perumahan dan pemukiman. Perusahaan yang didirikan pada 18 Juli 1974 ini telah melaksanakan pembangunan perumahan dan pemukiman lebih kurang 400 lokasi di Indonesia dengan total 500.000 unit rumah.

Perumnas mempunyai tugas pokok menyediakan perumahan dan permukiman bagi masyarakat menengah ke bawah. Diawal kiprahnya, Perumnas telah melakukan rintisan pembangunan kawasan baru di hampir semua kota besar di Indonesia. Perumnas menjadi pioneer pengembangan kawasan permukiman skala besar di perkotaan.

Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas) didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1974, yang kemudian penyempurnaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1988 tentang Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional.

Perumahan nasional (perumnas) merupakan suatu pemukiman yang perencanaannya dibangun oleh negara dimana dengan adanya pemukiman tersebut dapat berguna membantu masyarakat mendapatkan fasilitas rumah tempat tinggal yang layak dengan harga yang dapat dijangkau serta memiliki sistem pembayaran yang dapat diangsur.

Analisis Bangkitan

Bangkitan lalu-lintas (trip generation) merupakan fase pertama dalam proses perjalanan. Bangkitan lalu-lintas merupakan fungsi sosioekonomi, lokasi dan karakteristik tata guna lahan. Bangkitan lalu-lintas bertujuan meramalkan jumlah lalu-lintas yang dibangkitkan dan ditarik oleh suatu zona yang menjadi lokasi studi. Dengan kata lain, bangkitan lalu-lintas bertujuan untuk menjawab seberapa besar jumlah lalu-lintas yang dihasilkan oleh suatu kawasan berdasarkan data rumah tangga dan sosio-ekonomi. (Mathew and Rao, 2007) Bangkitan lalu-lintas digunakan untuk memperkirakan jumlah perjalanan yang berasal dari setiap kawasan (trip

origin) dan jumlah perjalanan yang berakhir pada suatu zona (trip end) untuk setiap

tujuan perjalanan. Maksud perjalanan menjadi penting untuk dipertimbangkan, bukan saja untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah perjalanan yang akan terjadi, melainkan juga akan mempengaruhi pemilihan moda yang sangat penting dalam perencanaan transportasi di masa datang. (Morlok, 1995). Sebagai tahap paling awal dalam pemodelan transportasi, model bangkitan lalu-lintas merupakan proses yang menterjemahkan tata guna lahan beserta intensitas kegiatannya ke dalam besaran transportasi.

a. Basis Perjalanan

Perjalanan merupakan pergerakan satu arah dari suatu titik asal menuju titik tujuan. Perjalanan biasanya memiliki makna pergerakan yang dilakukan dengan menggunakan alat (kendaraan), namun dalam konsep perencanaan transportasi, perjalanan yang dilakukan oleh pejalan kaki serta batas usia pelaku perjalanan juga

perlu dipertimbangkan. (Ortuzar, 1994). Perjalanan dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu:

1). Bangkitan perjalanan (trip production), merupakan pergerakan berbasis rumah yang memiliki tempat asal atau tujuan adalah rumah atau pergerakan yang dibangkitkan oleh pergerakan berbasis rumah (Tamin, 2000).

2). Tarikan pergerakan (trip attraction), merupakan suatu pergerakan berbasis rumah dengan tempat asal dan/atau tujuan bukan rumah atau pergerakan yang tertarik oleh pergerakan berbasis bukan rumah (Tamin, 2000).

Trip Production Trip Attraction

Gambar II.1. Trip Production Dan Trip Attraction

b. Bangkitan Perjalanan Kawasan Perumahan

The Puget Sound Regional Transportation Study, pada tahun 1964 pertama

kali menggunakan dan mengembangkan metode perjalanan berbasis rumah (home

based trip generation) untuk memperkirakan bangkitan perjalanan pada kawasan

perumahan. (Miro, 2005). Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah pergerakan, yaitu:

Merupakan sifat manusia bahwa apabila penghasilannya meningkat maka standar kebutuhan hidupnya juga akan meningkat. Kebutuhan yang meningkat dapat menyebabkan peningkatan jumlah perjalanan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 2). Kepemilikan kendaraan

Kepemilikan kendaraan pada suatu rumah tangga dapat menyebabkan kecenderungan peningkatan jumlah perjalanan pada suatu rumah tangga. Berdasarkan hasil penelitian di Detroit Area disebutkan bahwa peningkatan pemilikan kendaraan menyebabkan meningkatnya jumlah perjalaanan penduduk per orang per hari maupun jumlah perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi (Dickey, 1980)

3). Struktur rumah tangga

Struktur rumah tangga merupakan faktor yang tidak kalah penting dalam menentukan besarnya bangkitan yang terjadi di daerah pemukiman. Keluarga yang memiliki banyak jumlah anggota keluarga yang masih produktif (berusia antara 5 sampai batas akhir usia kerja) maka kecenderungan untuk meningkatnya jumlah perjalanan semakin besar.

4). Jarak pemukiman terhadap pusat kegiatan

Menurut penelitian dikatakan bahwa daerah pemukiman yang terletak di pusat kota (dimana merupakan pusat berbagai aktivitas sosial, ekonomi, politik dan lainnya) mempunyai jumlah perjalanan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah perjalanan dari kawasan pemukiman yang berada di pinggiran kota, (Dickey, 1980).

5). Kepadatan daerah permukiman

Semakin padat jumlah penduduk di suatu daerah pemukiman maka cenderung semakin besar jumlah perjalanan yang terjadi

6). Aksesibilitas

Semakin mudah aksesibilitas dari daerah pemukiman ke daerah tujuan pusat-pusat kegiatan, maka akan semakin besar pula jumlah perjalanan yang terjadi.

II.2 Konsep dan Ruang Lingkup Perencanaan Transportasi

Perencanaan transportasi adalah suatu perencanaan rasional terkait prasarana transportasi seperti jalan, terminal, pelabuhan, pengaturan serta sarana untuk mendukung sistem transportasi yang efisien, aman dan lancar serta berwawasan lingkungan meskipun dibatasi oleh faktor waktu, ruang dan sumber daya.

Tujuan dasar perencanaan transportasi adalah untuk memperkirakan jumlah dan lokasi kebutuhan akan transportasi yang baru (jumlah perjalanan, baik untuk angkutan umum ataupun angkutan pribadi) pada masa yang akan datang (tahun rencana) untuk kepentingan kebijaksanaan investasi perencanaan transportasi sehingga efektif, efisien dan ekonomis. Prosesnya, diawali dengan identifikasi awal mengapa perencanaan diperlukan, dilanjutkan dengan pengumpulan informasi mengenai pola perjalanan melalui survai asal tujuan beserta pengumpulan data sekunder, modelling dan dilanjutkan dengan membuat perkiraan permintaan dimasa yang akan datang. Selanjutnya dirumuskan kebijakan untuk menghadapi masa yang akan datang dan sebagai tahapan terakhir adalah penyusunan rumusan rencana yang akan dikembangkan pada masa yang akan datang beserta jadwal waktunya.

II.2.1 Konsep Perencanaan Transportasi

Empat langkah berurutan dalam model perencanaan yaitu bangkitan perjalanan, distribusi perjalanan, pemilihan moda dan pemilihan rute. Empat tahap ini disebut model agregat karena menerangkan perjalanan dari kelompok orang atau barang.

Tahapan yang harus dilakukan dalam penerapan konsep interaksi transportasi menurut Ofyar Z. Tamin dalam Perencanaan & Pemodelan Transportasi, 2003 adalah sebagai berikut :

a. Bangkitan dan tarikan pergerakan

Bangkitan pergerakan adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna lahan dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona.

b. Sebaran / distribusi pergerakan pola sebaran arus lalu lintas antara zona asal I ke zona tujuan D adalah hasil dari dua hal yang terjadi bersamaan yaitu lokasi dan identitas tata guna lahan yang akan menghasilkan arus lalu lintas dan pemisahan ruang. Interaksi antara dua buah guna lahan akan menghasilkan pergerakan manusia dan barang.

c. Pemilihan moda

Jika terjadi interaksi antara dua tata guna lahan maka seseorang akan memutuskan interaksi tersebut dilakukan, yaitu salah satunya adalah pemilihan alat angkut moda. d. Pemilihan rute

Pemilihan moda transportasi antara zona A ke zona B didasarkan pada perbandingan antara berbagai karakteristik operasional moda transportasi yang tersedia (misalnya waktu tempuh, tarif, waktu tunggu, dan lain-lain). Begitu juga halnya rute, pemilihan rute didasarkan pada perbandingan karakteristik operasional setiap alternatif rute untuk setiap moda transportasi yang tersedia.

II.2.2 Bangkitan Pergerakan (Trip Generation)

Model bangkitan pergerakan bertujuan mempelajari dan meramalkan besarnya tingkat bangkitan pergerakan dengan mempelajari beberapa variasi hubungan antara ciri pergerakan dengan lingkungan tata guna lahan.

Pergerakan dibagi menjadi dua bagian yaitu:

a. Pergerakan berbasis rumah yaitu pergerakan yang salah satu atau kedua zona asal dan atau tujuan pergerakan tersebut adalah rumah.

b. Pergerakan berbasis bukan rumah yaitu pergerakan yang baik asal atau tujuan pergerakan adalah bukan rumah.

Beberapa kajian transportasi berhasil memperoleh hubungan korelasi antara besarnya pergerakan dengan berbagai peubah dan setiap peubah tersebut juga saling berkorelasi.

II.3 Model Bangkitan Perjalanan

Model dapat didefenisikan sebagai alat bantu atau media yang dapat digunakan untuk mencerminkan dan menyederhanakan suatu realita (dunia sebenarnya) secara terukur (Tamin, 1997), termasuk diantaranya:

1. Model fisik

2. Peta dan diagram (grafis)

3. Model statistika dan matematika (persamaan)

Semua model tersebut merupakan penyederhanaan realita untuk tujuan tertentu, seperti memberikan penjelasan, pengertian, serta peramalan. Pemodelan transportasi hanya merupakan salah satu unsur dalam perencanaan transportasi.

Lembaga, pengambil keputusan, masyarakat, administrator, peraturan dan penegak hukum adalah beberapa unsur lainnya.

Model merupakan penyederhanaan dari keadaan sebenarnya dan model dapat memberikan petunjuk dalam perencanaan transportasi. Model memungkinkan untuk mendapatkan penilaian yang cepat terhadap alternatif-alternatif transportasi dalam suatu daerah (Morlok, 1991).

II.3.1 Model Regresi Linear

Sistem pemodelan yang biasa dipakai dalam hal bangkitan perjalanan adalah model analisis regresi linear berganda. Dengan metode analisis regresi liiear ini dapat dilakukan pemodelan untuk menjelaskan hubungan fungsional antara variabel bebas (X) dan tak bebas (Y). Dalam kasus paling sederhana dapat dinyatakan dengan :

Y = A + B1X1 +B2X2+ … +BnX

n ... ... (2.0) Dimana: Y = peubah tidak bebas (Jumlah perjalanan)

X

1 …Xn = peubah bebas (faktor-faktor berpengaruh) A = Intersep atau konstanta regresi

B

1 …Bn = koefisien regresi.

Beberapa kaidah statistika harus kita penuhi jika kita memakai metode analisis regresi linear ini untuk penelitian dan peramalan berupa prosedur pengujian keabsahan hasil peramalan. Prosedur dimaksud adalah

1. Uji hubungan linear variable terikat Y yang diramalkan dengan variabel bebas x. Ada dua alat uji yang digunakan untuk mengetahui hubungan linear antara 2 variabel yang kita asumsikan apakah keterikatan yang kuat atau tidak

yaitu koefisien korelasi dan koefisien determinasi. Untuk regresi linear berganda nilai koefisien korelasi (R) berada pada -1 ≤ R ≤ +1 dan nilai koefisien determinasi (R2) berada pada 0 ≤ R2.

2. Uji T adalah uji untuk mengetahui apakah parameter (b1, b2,…bn) yang

melekat pada variable bebas cukup berarti terhadap suatu konstanta (a) nol atau sebaliknya.

3. Uji F dilakukan untuk melihat apakah seluruh koefisien regresi dan variabel bebas yang ada dalam model regresi linear berganda berbeda dari nol atau nilai konstanta tertentu.

II.3.2 Model Kategori

Metode analisis kategori dikembangkan pertama sekali pada The Puget Sound Transportation Study pada tahun 1964. Metode analisis kategori ini didasarkan pada adanya keterkaitan antara terjadinya pergerakan dengan atribut rumah tangga. Asumsi dasarnya adalah tingkat bangkitan pergerakan dapat dikatakan stabil dalam waktu untuk setiap stratifikasi rumah tangga tertentu (Tamin, 1997). Analisis kategori merupakan metode yang digunakan untuk mengidentifikasikan hubungan antar berbagai variabel yang berpengaruh terhadap aspek penentuan tujuan (destination). Konsep dasarnya sederhana, dan variabel yang umum digunakan dalam analisis kategori adalah:

1. Ukuran rumah tangga (jumlah orang) 2. Kepemilikan kendaraan

Kategori pada umumnya ditetapkan menjadi tiga dan kemudian rata-rata tingkat bangkitan pergerakan (dari data empiris) dibebankan untuk setiap kategori. Kategori ini kemudian digunakan untuk menentukan sifat ketergantungan antar variabel. Persamaan analisis kategori yang digunakan untuk bangkitan pergerakan dengan tujuan p‗ yang dilakukan oleh orang berjenis ‗n‗ di zona i‗ adalah berikut ini (Tamin

1997):

Qpi = =1 kategori Tci HC (i) ... (2.1)

Dimana:

Qpi = perkiraan jumlah perjalanan yang diproduksi oleh zona pemukiman i yang tengah kita teliti per hari pada tahun rencana.

� = rata-rata tingkat perjalanan per rumah tangga yang ada dalam kategori ci

� (�) = perkiraan jumlah rumah tangga yang ada dalam kelas/kategori ci yang berlokasi di zona pemukiman i yang tengah kita teliti pada tahun rencana. ( Miro, 2004)

II.4 Penentuan Jumlah Sampel

Populasi adalah keseluruhan unit atau individu dalam ruang lingkup yang ingin diteliti, sedangkan sampel bagian dari populasi yang ciri-ciri dan keberadaannya diharapkan mampu mewakili atau menggambarkan ciri-ciri dan keberadaan populasi yang sebenarnya.

Secara umum metode penarikan sampel dapat dipilah menjadi dua, yaitu pemilihan sampel dari populasi secara acak (random atau probability sampling) dan

sampel tidak acak atau non-random sampling yang biasanya digunakan pada populasi yang sifatnya homogen.

Dalam penelitian ini metode penarikan sampel adalah metode Slovin (Umar Husein 2004) dengan rumus

n

=

1 + ��2

...(2.2) dimana :

n = ukuran sampel (pada penelitian ini yang menjadi sampel adalah jumlah responden dari masing masing pelaku transportasi yang akan disurvei).

N= ukuran populasi

e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Umum

Bangkitan perjalanan adalah tahap pertama dalam perencanaan transportasi yang menghitung jumlah perjalanan yang berasal atau bertujuan di suatu zona, kemudian diikuti oleh distribusi perjalanan, pemilihan moda dan pembebanan jaringan. Permasalahan yang terjadi di semua negara berkembang termasuk di Indonesia pada umumnya seragam, yaitu kota-kota mengalami tahap pertumbuhan urbanisasi yang tinggi seiring laju pertumbuhan ekonomi yang pesat sehingga kebutuhan penduduk untuk melakukan perjalanan juga semakin meningkat, namun kota memiliki lahan terbatas untuk menampung perkembangan penduduk dan kebutuhannya. Hal lain, perkotaan di Indonesia tak terbatas lagi sebagai pusat pemukiman masyarakat karena kota semakin berkembang menjadi pusat pemerintahan, sentral hierarki dan pusat pertumbuhan ekonomi.

Sebagai dampak pertumbuhan penduduk dan perekonomian beberapa perencanaan perkotaan untuk menciptakan kenyamanan kota harus dicapai untuk mendorong warga berproduktivitas tinggi. Perencanaan transportasi merupakan hal penting untuk mengantisipasi permasalahan yang timbul akibat pergerakan penduduk dan kebutuhan perjalanan yang terus berkembang. Bangkitan perjalanan merupakan awal dari tahap perencanaan transportasi yang digunakan untuk memperkirakan jumlah perjalanan yang berasal atau bertujuan di suatu zona dalam analisis lalu lintas. Fokus utama dalam model analisis bangkitan perjalanan adalah di pemukiman dan bahwa bangkitan perjalanan adalah fungsi dari kegiatan sosial dan ekonomi keluarga.

Model merupakan penyederhanaan dari keadaan sebenarnya dan model dapat memberi petunjuk dalam perencanaan transportasi. Model memungkinkan untuk memperoleh penilaian yang cepat terhadap alternatif-alternatif transportasi dalam suatu daerah (Morlok, 1991).

Medan sebagai pusat kota di provinsi Sumatera Utara merupakan kota yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yang diharapkan terus berkembang di masa yang akan datang. Salah satu dukungan sistem jaringan prasarana untuk menghubungkan pusat – pusat kegiatan adalah jaringan jalan arteri primer, yang menghubungkan kota antar kabupaten, pusat kegiatan wilayah (kota Medan), dengan pusat – pusat kegiatan lokal (ibukota kabupaten lainnya).

I.2 Latar Belakang

Perumahan nasional Simalingkar yang dipilih dalam penelitian bangkitan perjalanan terletak di kecamatan Medan Tuntungan tepatnya kelurahan Mangga dan desa Perumnas Simalingkar, Kecamatan Pancur Batu dengan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik dalam angka 2013 mempunyai jumlah keseluruhan populasi 8.965 kepala keluarga. Penduduk atau masyarakat perumahan pada umumnya memiliki kendaraan bermotor serta banyaknya pekerjaan dan kegiatan masyarakat yang berada di luar kawasan perumahan merupakan salah satu parameter yang mempengaruhi banyaknya trip. Kawasan perumahan ini juga merupakan rute banyak angutan kota yang melayani penduduk perumahan.

Pada dasarnya pembangunan komplek perumahan apabila tidak diperhatikan penempatannya dapat menimbulkan bangkitan yang mempengaruhi lalu lintas dan transportasi disekitarnya. Menurut Darmosudiharjo (1993) tranportasi merupakan

persoalan yang paling penting, karena transportasi adalah alat penunjang terlaksanannya kegiatan penduduk sehari-hari. Transportasi timbul karena adanya pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, peningkatan kepemilikan kendaraan dan fasilitas lainnya. Hal yang harus diperhatikan juga adalah semakin banyak jumlah dan jenis kendaraan yang beroperasi, akibatnya tingkat pelayanan jalan semakin rendah dan menimbulkan kemacetan yang merupakan pemborosan yang sangat mahal. Waktu dan bahan bakar minyak terbuang secara tidak efisien karena kendaraan beroperasi dibawah kecepatan optimum (Warpani, 1981).

Perjalanan keluarga adalah pergerakan yang terjadi akibat adanya proses pemenuhan kebutuhan keluarga yang dapat terjadi pada kurun waktu tertentu seperti setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detiknya. Terdapat bermacam-macam jenis pemenuhan kebutuhan seperti pergerakan untuk pemenuhan pekerjaan, rekreasi dan lain-lain ( Ismadarni, 2010). Menurut Tamin, O.Z, klasifikasi pergerakan dalam kasus Home-Based, dapat dibagi atas lima kategori tujuan/maksud pergerakan, yaitu pergerakan kerja, pergerakan sekolah, pergerakan belanja, pergerakan sosial dan rekreasi, serta pergerakan lainnya

Untuk mengantisipasi dan berdasarkan pertimbangan di atas maka diperlukan studi penelitian bangkitan pergerakan keluarga pada perumahan yang diharapkan dapat memberi jalan keluar terhadap hal-hal yang telah diuraikan di atas. Pada prakteknya, sering dijumpai bahwa model bangkitan pergerakan yang lebih baik bisa didapatkan dengan memodelkan secara terpisah pergerakan yang mempunyai maksud/tujuan yang berbeda.

I.3 Rumusan Masalah

Dengan adanya pertambahan kepadatan penduduk, ekonomi, dan sosial serta politik membuat pertambahan jumlah perjalanan yang melebihi daya tampung jalan. Kegiatan masyarakat untuk beraktifitas menyebabkan timbulnya bangkitan-bangkitan perjalanan yang membebani jalur jaringan jalan menuju pusat-pusat kegiatan. Permasalahan tidak hanya terbatas pada jalan raya saja, akan tetapi pertumbuhan ekonomi juga dapat menyebabkan mobilitas seseorang meningkat sehingga kebutuhan pergerakan meningkat melebihi kapasitas prasarana transportasi yang ada. Hal ini disebabkan oleh beberapa kondisi seperti terbatasnya sarana jalan untuk keluar dari dalam perumahan menuju pusat kota yang hanya satu ruas jalan saja dan pertumbuhan pemukiman-pemukiman yang baru. Tidak sebandingnya peningkatan jumlah penduduk, jumlah kendaraan bermotor dan terbatasnya jaringan jalan meningkatkan jumlah perjalanan dengan sistem transportasi yang ada menjadi permasalahan dari perkembangan kota yang dinamis.

Dokumen terkait