V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Perbandingan Berpasangan
Untuk mempelajari pendekatan dalam penentuan bobot dan skor menggunakan nilai eigenvektor utama yang merupakan kepentingan relatif tertentu, maka matriks perbandingan berpasangan serta nilai eigenvektor utama dari setiap faktor dan kriteria penentuan lokasi STA yaitu lereng, jarak dari jalan, jarak dari perkebunan manggis, jarak dari permukiman, dan penggunaan lahan pada bagian berikut akan disajikan dengan menggunakan tabel.
Faktor lereng merupakan salah satu pertimbangan dalam penentuan lokasi STA. Faktor tersebut menjadi penting mengingat kemiringan lereng yang ada pada kawasan Cendawasari tidak homogen. Penempatan lokasi STA akan semakin baik apabila berada pada lereng yang semakin datar. Skala penilaian setiap kriteria dan nilai eigenvektor utamanya (E) disajikan pada Tabel 5 dan Tabel 6.
Tabel 5. Matriks perbandingan berpasangan setiap kriteria pada faktor lereng Lereng Baik Sedang Buruk
Baik 1 3 5
Sedang 1/3 1 3
Buruk 1/5 1/3 1
JUMLAH 1,53 4,33 9
Tabel 5 menunjukkan skala penilaian setiap kriteria pada faktor lereng dengan menggunakan matriks perbandingan berpasangan, penilaian lereng baik terhadap lereng buruk mendapat skala tertinggi dengan nilai 5 : 1 (Sangat penting). Hal itu berarti bahwa nilai berkebalikannya (1 : 5) merupakan penilaian lereng buruk terhadap lereng baik. Sedangkan skala penilaian lereng baik terhadap lereng sedang mendapat perbandingan 3 : 1 (sedikit lebih penting).
Tabel 6. Nilai eigenvektor utama setiap kriteria pada faktor lereng
Lereng Baik Sedang Buruk E
Baik 0,6522 0,6923 0,5556 0,6333 Sedang 0,2174 0,2308 0,3333 0,2605 Buruk 0,1304 0,0769 0,1111 0,1062
JUMLAH 1 1 1 1
Tabel 6 menyajikan nilai eigenvektor utama dari setiap kriteria pada faktor lereng, dapat dilihat bahwa lereng baik merupakan prioritas utama penempatan lokasi STA dengan nilai eigenvektor utama tertinggi 0.6333. kemudian lereng sedang dengan nilai eigenvektor utama 0.2605 dan lereng buruk dengan nilai eigenvektor utama 0.1062. Dari jumlah yang dihasilkan, yaitu bernilai 1 pada kolom 5, dapat disimpulkan bahwa nilai tersebut merupakan nilai persentasenya terhadap 1.
Kepentingan relatif dari setiap kriteria pada faktor lereng antara lain dipertimbangkan dengan perkiraan biaya, tingkat kesukaran dalam pembangunan, serta kemungkinan resiko bencana seperti longsor. Oleh karena itu, kriteria lereng baik (0 – 8%) dijadikan prioritas utama dalam penempatan lokasi STA agar hal-hal tersebut dapat diminimalkan.
Faktor selanjutnya dalam pertimbangan penentuan lokasi STA adalah jarak dari jalan (JDJ) dengan kriteria dekat, sedang, dan jauh. Skala penilaian dari matriks perbandingan berpasangan serta nilai eigenvektor utamanya (E) disajikan pada Tabel 7 dan Tabel 8.
Tabel 7. Matriks perbandingan berpasangan setiap kriteria pada faktor jarak dari jalan JDJ Dekat Sedang Jauh
Dekat 1 3 5
Sedang 1/3 1 2
Jauh 1/5 1/2 1
JUMLAH 1,53 4,5 8
Tabel 7 menunjukkan bahwa penilaian kriteria dekat terhadap jauh mendapat skala tertinggi dengan perbandingan 5 : 1 (sangat penting), sedangkan
nilai 2 menunjukkan skala penilaian kriteria sedang (sangat sedikit lebih penting) terhadap jauh dengan perbandingan 2 : 1. Untuk kriteria dekat terhadap sedang mendapat nilai 3, dimana nilai berkebalikannya yaitu 1/3 adalah penilaian sedang terhadap dekat.
Tabel 8. Nilai eigenvektor utama setiap kriteria pada faktor jarak dari jalan
JDJ Dekat Sedang Jauh E
Dekat 0,6522 0,6667 0,625 0,6479 Sedang 0,2174 0,2222 0,25 0,2299 Jauh 0,1304 0,1111 0,125 0,1222
JUMLAH 1 1 1 1
Dari Tabel 8, dapat dilihat bahwa kriteria dekat menjadi prioritas utama penempatan lokasi STA dengan nilai eigenvektor utama tertinggi 0.6479. Sedangkan kriteria buruk mendapatkan nilai eigenvektor utama terendah 0.1222.
Salah satu faktor penting lainnya yang dapat mempermudah pengangkutan dan distribusi komoditas manggis adalah jarak dari jalan. Kemudahan pengangkutan dan distribusi manggis tersebut diasumsikan akan semakin baik apabila lokasi STA berada dekat dengan jalan. Oleh karena itu, maka jarak yang dekat dengan jalan adalah prioritas utama penempatan lokasi STA.
Faktor yang ketiga dalam penentuan lokasi STA adalah jarak dari perkebunan manggis (JDPM). Jarak dari perkebunan manggis ditetapkan berdasarkan 3 kriteria yaitu dekat, sedang, dan jauh. Matriks perbandingan berpasangan serta nilai eigenvektor utamanya berturut-turut disajikan pada Tabel 9 dan Tabel 10.
Tabel 9. Matriks perbandingan berpasangan setiap kriteria pada faktor jarak dari perkebunan manggis
JDPM Dekat Sedang Jauh
Dekat 1 3 5
Sedang 1/3 1 3
Jauh 1/5 1/3 1
Perbandingan berpasangan kriteria dekat terhadap jauh pada Tabel 9 adalah 5 : 1 (kriteria dekat sangat penting atas kriteria jauh), sedangkan kriteria dekat terhadap kriteria sedang dan kriteria sedang terhadap kriteria jauh sama-sama memperoleh nilai 3 (sedikit lebih penting) dengan nilai berkebalikannya adalah 1/3.
Tabel 10. Nilai eigenvektor utama setiap kriteria pada faktor jarak dari perkebunan manggis
JDPM Dekat Sedang Jauh E
Dekat 0,6522 0,6923 0,5556 0,6333
Sedang 0,2174 0,2308 0,3333 0,2605
Jauh 0,1304 0,0769 0,1111 0,1062
JUMLAH 1 1 1 1
Jarak dari perkebunan manggis dengan kriteria dekat mendapat prioritas utama penempatan lokasi STA dengan nilai eigenvektor utama 0.6333 yang ditunjukkan pada Tabel 10, kemudian kriteria sedang memperoleh nilai eigenvektor utama 0.2605 dan kriteria jauh dengan nilai eigenvektor utama 0.1062.
Asumsi bahwa semakin dekat lokasi STA dengan perkebunan manggis akan mengakibatkan akses pengumpulan hasil produksi manggis juga akan semakin baik, maka kriteria dekat pada faktor jarak dari perkebunan manggis ditentukan sebagai prioritas utama penempatan lokasi STA.
Faktor keempat dalam penentuan lokasi STA adalah penggunaan lahan. Faktor tersebut terbagi menjadi 9 tipe penggunaan lahan berbeda yang ditetapkan sebagai kriteria. Kriteria-kriteria tersebut adalah hutan sekunder (HS), kebun campuran (KC), kebun produksi (KP), ladang (L), lahan terbuka (LT), permukiman (P), perkebunan manggis (PM), sawah (S), dan semak belukar (SB). Skala penilaian diberikan oleh masing-masing responden dari jumlah responden 12 orang dengan nilai eigenvektor utama masing-masing dan eigenvektor utama rata-ratanya disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Nilai eigenvektor utama setiap kriteria pada faktor penggunaan lahan
Tabel 11 menunjukkan nilai eigenvektor utama dari 12 responden dan eigenvektor utama rata-ratanya (E). Masing masing responden memberikan penilaian sebagai hasil dari perbandingan berpasangan. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar responden memberikan prioritas utama penempatan lokasi STA pada penggunaan lahan LT (lahan terbuka) terkecuali responden H.Sayuti, Manan, dan Sarpani yang memprioritaskan pada penggunaan lahan SB (semak belukar). Responden H.Sayuti, Manan, Saripudin, dan Sarpani memilih sawah sebagai prioritas terendah, sedangkan responden lainnya memilih permukiman. Dari nilai rata-rata eigenvektor utama 12 responden, dapat dilihat bahwa penggunaan lahan LT (lahan terbuka) menjadi prioritas utama penempatan lokasi STA dengan nilai eigenvektor utama rata-rata (E) tertinggi 0.2748. Sedangkan penggunaan lahan S (sawah) menjadi prioritas terendah dengan nilai E adalah 0.0366. Dari Tabel 11 tersebut dapat dilihat bahwa nilai E antara penggunaan lahan LT (lahan terbuka), SB (semak belukar), dan HS (hutan sekunder) terhadap nilai E yang lebih rendah dibawahnya memiliki nilai yang cukup jauh berbeda. Sedangkan selang nilai E yang paling berdekatan adalah antara penggunaan lahan P (permukiman) dengan S (sawah).
Skala penilaian pada faktor penggunaan lahan dari masing-masing individu memiliki kemungkinan penilaian yang berbeda terhadap yang lainnya,
HS KC KP L LT P PM S SB JUMLAH Arnawi 0,151 0,048 0,076 0,057 0,316 0,035 0,068 0,037 0,212 1 Atria 0,16 0,046 0,07 0,066 0,272 0,034 0,085 0,037 0,23 1 Bakri 0,163 0,044 0,086 0,065 0,267 0,034 0,07 0,037 0,234 1 H.asta 0,151 0,041 0,079 0,062 0,274 0,033 0,072 0,036 0,252 1 H.sayuti 0,126 0,046 0,08 0,052 0,273 0,038 0,069 0,029 0,287 1 Manan 0,144 0,037 0,078 0,053 0,242 0,042 0,065 0,03 0,309 1 Marwa 0,165 0,047 0,078 0,057 0,297 0,035 0,066 0,036 0,219 1 Masum 0,154 0,048 0,082 0,057 0,305 0,035 0,063 0,038 0,218 1 Rusdi 0,161 0,046 0,091 0,065 0,269 0,035 0,072 0,039 0,222 1 Saripudin 0,131 0,042 0,065 0,047 0,303 0,035 0,062 0,031 0,284 1 Sarpani 0,15 0,032 0,073 0,043 0,226 0,048 0,065 0,024 0,339 1 Udin jalu 0,152 0,056 0,101 0,05 0,254 0,041 0,084 0,065 0,197 1 E 0,1507 0,0444 0,0799 0,0562 0,2748 0,0371 0,0701 0,0366 0,2502 1
karena pertimbangan nilai/fungsi lahan yang ada pada kawasan Cendawasari secara subjektif dapat berbeda. Secara keseluruhan tampak bahwa fungsi penggunaan lahan sawah dan permukiman merupakan yang paling utama dengan nilai eigenvektor utama rata-rata yang lebih rendah dibandingkan dengan yang lainnya. Fungsi dari lahan terbuka saat ini secara keseluruhan sangat rendah dan hanya berupa tanah yang tidak bervegetasi. Pada Dusun Sumberjaya, terdapat lahan kosong yang digunakan sebagai lapangan.
Faktor yang kelima dalam penentuan lokasi STA adalah jarak dari permukiman (JDP). Jarak dari permukiman ditentukan dengan tiga kriteria yaitu dekat, sedang, dan jauh. Matriks perbandingan berpasangan serta nilai eigenvektor utamanya berturut-turut disajikan pada Tabel 12 dan Tabel 13.
Tabel 12. Matriks perbandingan berpasangan setiap kriteria pada faktor jarak dari permukiman
JDP Dekat Sedang Jauh Dekat 1 3 5 Sedang 1/3 1 2
Jauh 1/5 1/2 1
JUMLAH 1,53 4,5 8
Skala penilaian antara kriteria dekat terhadap kriteria jauh yang ditunjukkan oleh Tabel 12 adalah 5, dengan perbandingan 5 : 1. Sedangkan kriteria sedang tehadap kriteria jauh ditentukan dengan nilai 2. Kemudian kriteria dekat terhadap kriteria sedang ditentukan dengan skala penilaian 3 yang berarti merupakan nilai berkebalikan (1/3) atas kriteria sedang terhadap kriteria dekat.
Tabel 13. Nilai eigenvektor utama setiap kriteria pada faktor jarak dari permukiman
JDP Dekat Sedang Jauh E
Dekat 0,6522 0,6667 0,625 0,6479 Sedang 0,2174 0,2222 0,25 0,2299 Jauh 0,1304 0,1111 0,125 0,1222
Pada Tabel 13, prioritas tertinggi penempatan lokasi STA berada pada nilai E 0.6479 dengan kriteria dekat, dan pioritas terendah ditunjukkan dengan nilai E 0.1222 dengan kriteria jauh.
Salah satu fungsi STA sebagai wadah berbagai informasi misalnya harga, lokasi STA selayaknya berada dekat dengan permukiman. Asumsinya adalah bahwa arus informasi, keamanan, serta kemudahan manajemen STA akan lebih baik berada pada/dekat dengan permukiman.
Setelah pada setiap kriteria ditetapkan nilai eigenvektor utamanya, maka tahapan selanjutnya adalah perbandingan berpasangan dari setiap faktor yang telah ditentukan. Sumber penilaian dari perbandingan berpasangan terdiri dari dua, yaitu peneliti dan responden. Skala penilaian melalui matriks perbandingan berpasangan disajikan pada Tabel 14 dengan sumber dari peneliti serta Tabel 15 yang bersumber dari responden (masyarakat).
Tabel 14. Matriks perbandingan berpasangan setiap faktor
Faktor Penggunaan lahan Lereng JDP JDPM JDJ
Penggunaan lahan 1 1/4 3 1/2 1/3 Lereng 4 1 3 2 2 JDP 1/3 1/3 1 1/3 1/3 JDPM 2 1/2 3 1 1/3 JDJ 3 1/2 3 3 1 JUMLAH 10,33 2,58 13 6,83 4 Sumber : peneliti
Tabel 15. Matriks perbandingan berpasangan setiap faktor
Faktor Penggunaan lahan Lereng JDP JDPM JDJ
Penggunaan lahan 1 1/3 1/3 1/3 1/3 Lereng 3 1 3 2 2 JDP 3 1/3 1 2 1/2 JDPM 3 1/2 1/2 1 1/3 JDJ 3 1/2 2 3 1 JUMLAH 13 2,67 6,83 8,33 4,17 Sumber : responden
Pada Tabel 14, peneliti menetapkan skala penilaian faktor lereng terhadap penggunaan lahan dengan nilai 4 (lebih penting), sedangkan responden pada Tabel 15 menetapkan nilai 3 (sedikit lebih penting) untuk skala penilaian faktor lereng terhadap penggunaan lahan. Yang paling membedakan skala penilaian dari dua sumber tersebut adalah bahwa peneliti menetapkan penilaian penggunaan lahan sedikit lebih penting dengan skala 3 dibandingkan dengan jarak dari permukiman, sebaliknya responden memilih faktor jarak dari permukiman yang sedikit lebih penting dibandingkan penggunaan lahan dengan skala penilaian 3.
Selanjutnya ditentukan nilai eigenvektor utama dari setiap faktor, yaitu penggunaan lahan, lereng, jarak dari permukiman (JDP), jarak dari perkebunan manggis (JDPM), serta jarak dari jalan (JDJ) dengan 2 sumber penilaian yaitu peneliti yang disajikan pada Tabel 16 serta sumber dari responden yang disajikan pada Tabel 17.
Tabel 16. Nilai eigenvektor utama setiap faktor
Faktor Penggunaan lahan Lereng JDP JDPM JDJ E
Pengunaan lahan 0,0968 0,0968 0,2308 0,0732 0,0833 0,1162 Lereng 0,3871 0,3871 0,2308 0,2927 0,5 0,3595 JDP 0,0323 0,129 0,0769 0,0488 0,0833 0,0741 JDPM 0,1935 0,1935 0,2308 0,1463 0,0833 0,1695 JDJ 0,2903 0,1935 0,2308 0,439 0,25 0,2807 JUMLAH 1 1 1 1 1 1 Sumber : peneliti
Tabel 17. Nilai eigenvektor utama setiap faktor
Faktor Penggunaan lahan Lereng JDP JDPM JDJ E Penggunaan lahan 0,0769 0,125 0,0488 0,04 0,08 0,0741 Lereng 0,2308 0,375 0,439 0,24 0,48 0,3529 JDP 0,2308 0,125 0,1463 0,24 0,12 0,1724 JDPM 0,2308 0,1875 0,0732 0,12 0,08 0,1383 JDJ 0,2308 0,1875 0,2927 0,36 0,24 0,2622 JUMLAH 1 1 1 1 1 1 Sumber : responden
Pada Tabel 16, terlihat bahwa faktor lereng menjadi prioritas utama penempatan STA dengan nilai eigenvektor utama 0.3595. dan yang paling rendah adalah faktor jarak dari permukiman (JDP) dengan nilai eigenvektor utama 0.0741. Prioritas tersebut berturut-turut dari nilai tertinggi sampai terendah adalah faktor lereng, jarak dari jalan, jarak dari perkebunan manggis, penggunaan lahan, dan jarak dari permukiman.
Sedangkan pada Tabel 17 yang bersumber dari responden, prioritas utama penempatan lokasi STA adalah pertimbangan faktor lereng dengan nilai eigenvektor utama 0.3529 serta prioritas terendah dengan nilai eigenvektor utama 0.0741 adalah faktor penggunaan lahan. Urutan dari prioritas tertinggi sampai terendah adalah faktor lereng, jarak dari jalan, jarak dari permukiman, jarak dari perkebunan manggis, dan penggunaan lahan. Bobot serta skor untuk setiap faktor maupun kriteria yang bersumber dari penilaian responden disajikan pada Tabel 18.
Tabel 18. Bobot dan skor untuk setiap faktor dan kriteria hasil perbandingan berpasangan
Faktor Bobot Kriteria Skor JUMLAH
Penggunaan lahan 0,0741 HS 0,1507 1 KC 0,0444 KP 0,0799 L 0,0562 LT 0,2748 P 0,0371 PM 0,0702 S 0,0366 SB 0,2503 Lereng 0,3529 baik 0,6333 1 sedang 0,2605 buruk 0,1062
Jarak dari permukiman 0,1724
dekat 0,6479
1 sedang 0,2299
jauh 0,1222
Jarak dari perkebunan manggis 0,1383
dekat 0,6333
1 sedang 0,2605
jauh 0,1062
Jarak dari jalan 0,2622
dekat 0,6479 1 sedang 0,2299 jauh 0,1222 JUMLAH 1 Sumber : Responden
Pada Tabel 18, dapat dilihat bahwa bobot terbesar dengan nilai 0.3529 adalah faktor lereng. Sedangkan bobot terendah adalah faktor penggunaan lahan dengan bobot 0.0741. Selanjutnya bobot dan skor dari setiap faktor dan kriteria penentuan lokasi STA yang bersumber dari penilaian responden dan peneliti sebagai rekomendasi penentuan lokasi STA disajikan pada Tabel 19.
Tabel 19. Bobot dan skor untuk faktor dan kriteria penentuan area rekomendasi lokasi STA
Faktor Bobot Kriteria Skor JUMLAH
Lereng 0,3595
Baik 0,6333
1 Sedang 0,2605
Buruk 0,1062
Jarak dari jalan 0,2807
Dekat 0,6479
1 Sedang 0,2299
Jauh 0,1222
Jarak dari perkebunan manggis 0,1695
Dekat 0,6333 1 Sedang 0,2605 Jauh 0,1062 Penggunaan lahan 0,1162 LT 0,2748 1 SB 0,2503 HS 0,1507 KP 0,0799 PM 0,0702 L 0,0562 KC 0,0444 P 0,0370 S 0,0366
Jarak dari permukiman 0,0741
Dekat 0,6479
1 Sedang 0,2299
Jauh 0,1222
JUMLAH 1
Sumber : Peneliti & responden
Tabel 19 memperlihatkan bahwa bobot tertinggi yang merupakan prioritas utama dalam pertimbangan penentuan area rekomendasi lokasi STA adalah 0.3595 yaitu faktor lereng, sedangkan bobot terendah berada pada faktor jarak dari permukiman dengan nilai 0.0741 yang merupakan prioritas terendah.
Masyarakat Desa Karacak khususnya pada kawasan Cendawasari yang juga sependapat dengan peneliti, menilai bahwa faktor lereng lebih diutamakan dalam penempatan lokasi STA, pertimbangan tersebut ternyata lebih penting
daripada faktor jaraknya dari jalan, jarak dari permukiman, jarak dari perkebunan manggis maupun faktor penggunaan lahannya. Penempatan lokasi STA pada kelas lereng sedang maupun buruk tidak hanya berpengaruh terhadap kemudahan akses, tetapi juga terhadap kemudahan pembangunan fisiknya. Lahan untuk menopang bangunan fisik STA haruslah berbentuk datar, sehingga untuk mendatarkan bidang dengan kemiringan lereng lebih dari 8 % akan dapat mengorbankan massa tanah, tenaga, serta biaya yang lebih besar. Berdasarkan pengamatan lapang pada salah satu area di Dusun Cengal, terdapat area yang tidak memungkinkan untuk penempatan bangunan STA bahkan untuk perkiraan luasan mínimum 10 m2 disebabkan karena lerengnya terlalu curam.
Prioritas penentuan lokasi STA pada faktor jarak dari jalan sama-sama berada pada urutan kedua berdasarkan sumber penilai dari peneliti maupun responden. Faktor tersebut mempertimbangkan bahwa lokasi STA yang fungsi utamanya adalah sebagai infrastruktur sentralisasi komoditas dan pemasaran hasil produksi, akan lebih banyak melibatkan alat transportasi darat bermotor. Selain itu akan semakin menyulitkan apabila lokasi STA jika harus berada semakin jauh dari jalan dan bahkan ada kemungkinan diperlukannya pembangunan jalan baru sebagai aksesnya terhadap STA. Pertimbangan tersebut ternyata lebih diutamakan daripada faktor jarak dari perkebunan manggis, jarak dari permukiman, maupun penggunaan lahan.
Prioritas ketiga dalam penentuan lokasi STA menurut penilaian rata-rata keseluruhan responden adalah faktor jarak dari permukiman, hal tersebut didasarkan pada pertimbangan dari segi manajemen atau kepengurusan. Fungsi STA dikhawatirkan akan buruk apabila didukung oleh kepengurusan yang juga buruk. Fungsi STA tidak akan berarti apabila manajemen/kepengurusannya buruk walaupun lokasinya ternyata akan berada dekat dengan lahan manggis maupun berada pada penggunaan lahan dengan fungsi terpenting sekalipun.
Berbeda dengan penilaian yang mengutamakan prioritas ketiga tersebut sebagai faktor jarak dari perkebunan manggis dengan pertimbangan dari segi fungsi STA bahwa selayaknya kemampuan akses terhadap lahan komoditas itu lebih penting. Hal tersebut juga mempertimbangkan aspek biaya, waktu dan tenaga yang harus diperhitungkan apabila sulit diakses karena akan dikorbankan
lebih besar daripada aspek manajemen/kepengurusan. Bahkan dikhawatirkan akan tidak berfungsinya STA tersebut sebagai infrastruktur sentralisasi komoditas. Walaupun ternyata lokasinya harus berada jauh dari permukiman, hal tersebut akan masih dapat diatasi dengan kesadaran dan kedisiplinan terhadap tanggung jawab.
Prioritas keempat dari penilaian responden adalah faktor jarak dari perkebunan manggis. Hal tersebut lebih penting apabila dibandingkan dengan penggunaan lahan. Pertimbangannya adalah bahwa seluruh penggunaan lahan yang ada saat ini pada kawasan Cendawasari masih memungkinkan untuk digunakan sebagai penempatan lokasi STA, sedangkan akses terhadap komoditas menjadi lebih penting dikarenakan pertimbangan jarak yang semakin jauh akan menyulitkan dalam distribusi komoditas. Prioritas keempat selayaknya ditempati oleh faktor penggunaan lahan, karena apabila dibandingkan dengan faktor jarak dari permukiman, hal tersebut lebih penting. Terdapat penggunaan lahan yang selayaknya tetap harus dipertahankan antara lain lahan pertanian khususnya perkebunan manggis. Sedangkan jaraknya dari permukiman yang ditinjau dari aspek kemudahan informasi maupun kepengurusan/manajemen STA, saat ini masih dapat diantisipasi seperti dengan penggunaan teknologi, alat komunikasi, serta sistem kepengurusan dengan meningkatkan kedisiplinan.
Faktor terendah dalam prioritas penentuan lokasi STA berdasarkan penilaian responden adalah penggunaan lahan dengan pertimbangan bahwa seluruh penggunaan lahan yang ada saat ini masih memungkinkan untuk alih fungsi lahan dengan ganti rugi yang layak. Nilai tersebut dianggap tidak lebih besar dibandingkan dengan pertimbangan kondisi topografi, aksesibilitas, kemudahan akses informasi, serta kemudahan manajemen/kepengurusan, dan keamanan STA. Sedangkan jarak dari permukiman sebagai prioritas terendah dengan asumsi bahwa aspek kemudahan arus informasi, keamanan, serta kepengurusan STA masih dapat diantisipasi dengan nilai yang tidak lebih besar dari pertimbangan kondisi topografi, aksesibilitas, maupun penggunaan lahan.